Anda di halaman 1dari 11

SCIENCE IN SCHOOLING AND ITS EDUCATIONAL PURPOSES

(TUJUAN PENDIDIKAN SAINS DI SEKOLAH)


ISU PERTAMA DALAM SEBELAS ISU PENTING KEBIJAKAN PENDIDIKAN
DALAM UNESCO SCIENCE REPORT

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Problematika Pembelajaran Sains

Oleh:
Agustin Dwi Cahya Merdekawati

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN SAINS


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2015

DAFTAR ISI

BAB I

Pendahuluan ...........................................................................................
3

BAB II

ISI ...........................................................................................................
5

BAB III

Penutup ...................................................................................................
10

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................


11

BAB I
PENDAHULUAN

Kutipan quote dari ilmuwan fisika, Albert Einstein, diatas menggambarkan


bagaimana seharusnya belajar dan mengajar sains itu, just make it simple and it will be
well understood and interesting. Prof. Drs. Sentot Budi Rahardjo, Ph.D., dosen
pascasarjana pendidikan kimia UNS juga mengatakan hal yang demikian, jika kita tidak
mengerti akan sesuatu pasti jika menjelaskan sesuatu tersebut kepada orang lain juga tidak
akan sederhana). Sains, satu kata ringan tetapi membuat bising bagi orang ataupun siswa
yang tidak suka dengan pelajaran sains. Jika melihat dari artinya, sains sebenarnya berarti
ilmu-ilmu. Akan tetapi, kebanyakan orang secara umum menganggap sains hanya
mengenai ilmu-ilmu alam saja. Tidak dapat dipungkiri sains memang menjadi bukti
kemajuan suatu peradaban bangsa bagi masyarakat yang hanya meyakini sains adalah
segalanya. Pernyataan tersebut tidak salah jika melihat negara-negara dengan kebutuhan
sains tinggi terbukti lebih terkemuka daripada negara lain. Sebaliknya, ketika melihat
negara-negara yang belum menjadikan sains sebagai kebutuhan primer, cara pandang
masyarakatnya pun akan berbeda dan pola kehidupannya berbeda pula.

Mengamati kilas balik perkembangan sains dan teknologi dari tahun 2005-2010,
dalam UNESCO Science Report 2010 di Paris 10 November 2010, kunci kejayaan suatu
bangsa atau negara dalam era globalisasi terletak pada kualitas sumber daya manusia
yang menguasai saintek. Menurut Prof. de Solla Prince (dalam Baiquni, 1997), ada
hubungan kesebandingan antara jumlah pakar (saintis dan insinyur) yang melakukan riset
dan pengembangan atau R&D di suatu negara dengan besar GNP (Produk Nasional Bruto)
perkapita. Banyak negara-negara maju yang telah lama menginsafi perlunya sains dan
teknologi dalam pengembangan industrinya dan bagi dukungan ekonominya, karena
hubungan itu tampak amat jelas.
Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman dan Negara Eropa lainnya, Jepang
masih menjadi aktor penting dan mendominasi dalam penelitian dan pengembangan di
bidang sains dan teknologi. Mereka menjadi kiblat akan perkembangan sains dan
teknologi. Dewasa ini terjadi pergeseran pengaruh global karena banyak negara lainnya
yang turut berpartisipasi dalam perkembangan sains dan teknologi (saintek). Tiongkok
melebarkan jangkauan dengan penambahan jumlah penelitinya, dan sekarang menerbitkan
artikel ilmiah yang lebih banyak dari Jepang. Kemajuan saintek memungkinkan negaranegara tersebut menghasilkan lebih banyak pengetahuan dan berpartisipasi sacara lebih
aktif daripada sebelumnya dalam jaringan internasional dan kemitraan penelitian dengan
negara-negara di belahan dunia.
Indonesia tidak termasuk negara yang diperhitungkan dalam perkembangan saintek
tersebut. Ada apa dengan pendidikan saintek kita? Karena pendidikanlah yang sangat
berperan untuk menciptakan SDM yang mengusai saintek tersebut. Sukro Muhab,
Direktur Pusat Peragaan SAINTEK (PP SAINTEK dalam Workshop Science Club
Development di TMII Jakarta Kamis 14 Oktober 2010) (dalam La tansa, 2010),
menyatakan tantangan dunia pendidikan sains di Indonesia di era globalisasi dalam upaya
pengembangan saintek adalah kesenjangan kemajuan saintek dengan dunia pendidikan,
prestasi pendidikan kita tertinggal dan isu global pendidikan. Ada 11 isu penting kebijakan
pendidikan yang dipaparkan dalam Unesco Science Report 2008, Peter J.Fensham (2008).
Hal pertama yang menjadi isu adalah tentang science in schooling and its educational
purposes (tujuan pendidikan sains di sekolah).

Bagaimana pembelajaran sains di sekolah dan tujuan pendidikan sains di sekolah


saat ini? Khususnya di negara tercinta Indonesia, Apakah sesuai dengan yang diharapkan?
Atau malah tujuan itu sendiri yang harus diubah? Lets talk about it.

BAB II
ISI
Tujuan Pendidikan Sains di Sekolah
Sains di benak pemikiran anak-anak Indonesia merupakan ilmu-ilmu alam yang
hanya bisa didapatkan di lembaga instansi pendidikan atau sekolah-sekolah dan ilmu
tersebut sangat sulit untuk dipahami. Terlebih lagi jika dihubungkan dan diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, yang tertanam dalam benak siswa, ilmu alam merupakan ilmu kaku
atau ilmu pasti yang tidak bisa dipahami banyak orang.
Sebenarnya, ilmu alam tidak seperti yang siswa-siswa pikirkan, ilmu alam harusnya
menjadi salah satu ilmu yang menarik untuk dikaji dan dikembangkan karena ilmu tersebut
amat dekat dengan kehidupan manusia di samping adanya ilmu sosial yang mempelajari
tentang kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Jika dihubungkan dengan tujuan
pendidikan sains di Indonesia, pendidikan sains yang diajarkan di instansi pendidikan atau
di sekolah bertujuan mengembangkan potensi siswa di bidang sains guna memanfaatkan
dan mengembangkannya untuk kebermanfaatan umat. Hal tersebut berbalik dengan
kebenaran yang ada di lapangan. Walaupun sering terdengar siswa-siswa Indonesia yang
berhasil mendapatkan emas, perunggu, atau perak di negara lain dalam kompetisi
olimpiade sains baik di tingkat nasional maupun internasional, tetapi masih banyak siswasiswa yang berbalik kondisi dengan siswa-siswa berprestasi tersebut dengan bukti masih
banyak siswa yang takut menghadapi Ujian Nasional.
Bercermin pada permasalahan pendidikan sains yang ada di sekolah-sekolah,
sebagian besar guru sudah berusaha untuk mengajarkan pendidikan sains dengan harapan
detail hingga siswa memahami konsep-konsepnya. Namun ironinya, pendidikan sains yang
diajarkan tersebut hanya dapat ditangkap sebagaian kecil dari siswa saja. Memang,
memahami konsep-konsep dasar pendidikan sains terasa sulit jika guru hanya
5

menyampaikan konsep dengan gambaran angan-angan saja. Padahal, pada dasarnya sains
ada yang bersifat kasat mata (visible) atau dapat dilihat dari fakta konkretnya, dan
sebagian aspek yang lain bersifat abstrak atau tidak kasat mata (invisible) atau tidak
dapat dilihat fakta konkretnya. Oleh karena itu, pendidikan sains memerlukan penyegaran
dalam pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa karena tidak semua
siswa yang belajar ilmu sains mempunyai daya tangkap pemahaman yang sama dengan
latar keluarga, ekonomi, dan kebudayaan yang berbeda.
Mengutip Depdiknas, fungsi pendidikan sains adalah menanamkan keyakinan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa; mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilia ilmiah;
mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi; menguasai
konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi. Sementara tujuan pendidikan sains adalah:

Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan


keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.

Memberikan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, prinsip dan konsep
IPA, serta keterkaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat.

Memberikan pengalaman kepada siswa dalam merencanakan dan melakukan kerja


ilmiah untuk membentuk sikap ilmiah.

Meningkatkan kesadaran untuk memelihara dan melestarikan lingkungan serta


sumber daya alam.

Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang


selanjutnya.

Lebih jauh diungkapkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam pendidikan IPA
berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan apa yang akan
dipelajari ke bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar
siswa. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk
mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan
nara sumber lain.
Ada enam pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pendidikan

IPA, yaitu:

Empat pilar pendidikan (belajar untuk mengetahui, belajar untuk berbuat, belajar
untuk hidup dalam kebersamaan, dan belajar untuk menjadi dirinya sendiri).
6

Inkuiri IPA.

Konstruktivisme.

Sains (IPA), lingkungan, teknologi, dan masyarakat (Salingtemas).

Penyelesaian Masalah.

Pendidikan IPA yang bermuatan nilai.


Jadi seorang guru IPA seharusnya terbiasa memberikan peluang seluas-luasnya agar

siswa dapat belajar lebih bermakna dengan memberi respon yang mengaktifkan semua
siswa secara positif dan edukatif.
Kecenderungan pendidikan IPA/sains di Indonesia:

Pendidikan hanya beriorientasi pada tes/ujian.

Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi pada
tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Pendidikan lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai


produk dan peserta didik menghafal informasi faktual.

Peserta didik hanya mempelajari IPA pada domain kognitif yang terendah, peserta
didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya.

Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh


domain afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah
keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jum-lah peserta didik per kelas yang
terlalu banyak.

Evaluasi yang dilakukan hanya berorientasi pada produk belajar yang berkaitan
dengan domain kognitif dan tidak menilai proses.
Pada target pendidikan pemerintah, terutama jumlah mata pelajaran yang diajarkan
di sekolah, seakan sistem pendidikan Indonesia memaksa siswa-siswa untuk belajar
berbagai macam keilmuan dengan alokasi waktu pembelajaran yang terbatas. Padahal,
dengan karakteristik sains yang lebih sulit dipahami bagi siswa, justru tujuan pembelajaran
sains sering dikesampingkan dan guru pun lebih banyak mengejar target materi yang
disampaikan. Alhasil, tujuan pendidikan besar yang dicita-citakan hanya menjadi materimateri yang menumpuk di pikiran siswa saja tanpa pemahaman konsep dasar yang benar.
Jika dilakukan intropeksi proses pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah,
ternyata masih banyak praktik pembelajaran yang belum sesuai dengan prosedur
7

kurikulum yang diharapkan oleh pemerintah. Sebagian besar cara pembelajaran sains
masih bersifat TCL (Teacher Centered Learning). Pada pembelajaran tersebut, guru hanya
berceramah dan mendiktekan teori-teori sains yang diajarkan. Hakikatnya, pembelajaran
sains memerlukan strategi pembelajaran yang bersifat ilmiah (membangun pemahaman
siswa).

Jika

pembelajaran

sains

masih

menggunakan

metode

yang

sifatnya

memberitahukan dan bukan membangun pemahaman siswa, memang benar adanya bahwa
sains sulit untuk dipahami oleh siswa.
Membangun pemahaman siswa haruslah melalui guru yang mengajar dengan
memperhatikan

hakikat

pembelajaran.

Hakikat

pembelajaran

merupakan

proses

pengembangan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa,


serta dapat meningkatkan dan membangun pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan
penguasaan dan pengembangan yang baik terhadap materi sekolah (Isjoni dan Firdaus,
2008).
Disamping

memahami

hakikat

pembelajaran,

seorang

guru

harus

memiliki performance yang mantap dan cakrawala yang luas supaya terlihat wibawa di
depan siswa dan memberikan banyak inspirasi bagi siswanya. Seperti yang diungkapkan
oleh Arikunto dalam bukunya Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, Kompetensi
personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber
inspirasi bagi subjek didik dan patut diteladani oleh siswa. Aspek-aspek tersebut dapat
membuat pelajaran sains menjadi lebih menarik dan mudah dipahami siswa. Dengan
cakrawala guru yang luas guru dapat memberikan analogi konsep-konsep sains dengan
kehidupan sehari ataupun sifat yang ada pada manusia dan dengan menambahkan motivasi
kepada siswa. Selain itu, setiap materi yang disampaikan akan lebih terkesan bagi siswa
dan mudah untuk diingat.
Berikut ini kita uraikan beberapa contoh pengembangan pemahaman siswa
mengenai sains yang dapat diambil dari kehidupan sehari-hari. Pada pelajaran kimia,
ketika kita belajar mengenai reaksi, terdapat dua proses mendasar, yakni pemutusan ikatan
lama dan pembentukan ikatan baru. Pada proses pemutusan ikatan lama akan dibutuhkan
sejumlah energi, sedangkan pada pembentukan ikatan baru dibebaskan energi.
Dalam proses pembelajaran, guru dapat menganalogikan fenomena tersebut dengan
diri manusia. Fenomena pemutusan ikatan lama yang membutuhkan energi dapat
dianalogikan dengan manusia yang suka bertengkar ketika seseorang bertengkar dengan
temannya, dalam artian memutuskan tali pertemanan, maka yang terjadi adanya beban
8

pada diri seseorang tersebut dan dia membutuhkan energi banyak untuk melakukan
pertengkaran.
Lain halnya ketika pembentukan ikatan, yang terjadi adalah pembebasan energi.
Fenomena pembentukan ikatan dapat dianalogikan dengan seseorang yang apabila berada
pada suatu lingkungan baru dan bertemu dengan teman-teman baru, terjadi perkenalan atau
pembentukan ikatan pertemanan. Tanpa disadari, ketika seseorang bertemu dengan teman
baru yang dirasa nyaman, ia dapat dikatakan membebaskan energi dengan membuang
perasaan negatif terhadap teman-teman barunya. Hal tersebut menganalogikan bahwasanya
ketika pembentukan energi baru, maka yang terjadi adalah pembebasan energi.
Pemahaman konsep sains yang benar dan pengetahuan tentang hakikat sains pada
diri yang ada akan memudahkan tujuan pembelajaran yang telah diharapkan pemerintah.
Dengan demikian, akan terbentuk proses pembelajaran yang berkarakter. Dengan adanya
proses pendidikan yang berkarakter ini akan dapat membentuk pribadi siswa yang
berkarakter pula.
Sebagai prioritas utama, pembuat kebijakan pendidikan harus memikirkan tentang
apa tujuan pendidikan sains yang terbaik bagi siswa di setiap jenjang pendidikanya. Ketika
tujuan khusus telah teridentifikasi dan ditentukan, penggagas kurikulum haruslah
berkolaborasi dengan guru untuk menentukan materi, metode pembelajaran, dan model
penilaian untuk mencapai tujuan pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan. Pendidikan
sains harus bisa menjembatani antara sains itu sendiri dengan aktivitas masyarakat karena
hakikatnya pendidikan sains adalah berkelanjutan, bertanggung jawab dan mengarah pada
kemajuan global.
Di Jepang, (Helianti, 2001) menjelaskan, implementasi konsep sosiolisasi saintek
tampaknya telah begitu lekat dalam infra struktur masyarakat Jepang. Saintek telah
menjadi budaya yang telah menginternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Media massa,
industri, lembaga pendidikan (dari SD sampai universitas), dan lembaga penelitian
pemerintah membuat kerja sama sinergis tanpa gembar-gembor dalam sosialisasi saintek.
Pendidikan saintek sejak dini lewat pendidikan formal dari SD, SMP, SMA sampai
universitas. Semangat untuk meneliti telah mulai ditanamkan sejak SD. Karena masyarakat
yang mengerti dan sadar akan pentingnya saintek tidak dapat dihasilkan dalam waktu
instant, tetapi membutuhkan waktu bertahap serta usaha para peneliti untuk
memasyarakatkan sendiri sainstek. Budaya iptek Jepang adalah cerminan dari

perkembangan iptek Jepang sendiri yang maju begitu pesat sejak kekalahannya dalam
perang dunia kedua.

BAB III
PENUTUP
Untuk perwujudan pendidikan sains yang sukses diperlukan aksi kontribusi yang
besar dari tiap komponen pendidikan. Strategi pengajaran yang inovatif dan kreatif dengan
memperhatikan kebutuhan siswa dalam pembelajaran sangat mendukung juga kesuksesan
dalam proses pembelajaran. Semua itu seharusnya terangkum dalam sistem pendidikan
yang rapi dan strategis guna mencapai terget tujuan pendidikan yang ada.
Pembenahan sistem pendidikan yang ada terkhusus pada pembelajaran sains harus
dibangun dengan pemahaman konsep sains yang benar. Adanya perbaikan serta
pengoptimalan sistem pendidikan di Indonesia, semoga dapat membawa pendidikan
Indonesia ke arah yang yang lebih baik dan berkarakter kuat dan cerdas sebagai bangsa
yang bermartabat.

10

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Pendidikan Sains dalam Diri Kita. Rubrik Pendidikan Majalah 1000 Guru
Baiquni, Achmad. 1997. Al Quran dan Ilmu Pengetahuan Kelaman. Jakarta: Dana Bhakti
Prima Yasa.
Helianti. 2001. Memasyaratkan Iptek, Belajar dari Jepang. http://www.Beritasaintek.com.
Diakses 21 Maret 2015.
La Tansa. 2010. Visi Pendidikan Global. Tersedia di : http://www.pesantren-latansa.sch.id/
index.php /opini. Diakses 21 Maret 2015
Sari, Milya. 2012. Literasi Sains Di Era Globalisasi. Terdapat di kajianipa.wordpress.com
(diakses tanggal 21 Maret 2015)
Unesco. 2008. Science Education Policy-Making. Eleven Emerging Issue by Peter
J.Fensham. online at http://unesdoc.unesco.org/images/0015/001567/156700E.pdf
(diakses tanggal 21 Maret 2015)
http://quotesnsmiles.com (diakses tanggal 21Maret 2015)
https://laporanipa.wordpress.com/tag/fungsi-mata-pelajaran-ipa/ (diakses 21 Maret 2015)

11