Anda di halaman 1dari 13

PERISTIWA ACEH

Jennifer Thian 2010-012-458


Cindy Dwi Mastura 2010-012-388
Chandy Lya Theresia2011-012Reinardus Bayu 2012-011-197
Edwin Kurniawan Handoyo 2012-012-399
Cherokee Dwisekti 2012-022-077

AWAL MULA
8 Agustus 1950:
Dewan menteri Republik indonesia Serikat (RIS)
menetapkan wilayah RIS dibagi kedalam 10 propinsi
dan Aceh tidak termasuk ke dalam salah satu propinsi.

Keputusan itu menggugurkan janji Sjarifuddin


Prawiranegara tentang pembentukan Propinsi Aceh.
Keputusan tersebut telah melukai perasaan seluruh
masyarakat Aceh dan menumbuhkan dendam serta
frustasi setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh
jawa (demikian orang Aceh menyatakan identitas
pemerintah Indonesia)
maka terbesitlah dibenak Daud Beuereueh untuk
melakukan perlawanan dengan membentuk sebuah
gerakan yang bernama DI/TI (sebelumnya NII)

April 1957:
Tuntutan masyarakat Aceh tentang hak
menerapkan syariat Islam serta daerah
otonomi
khusus
ditidaklanjuti
oleh
pemerintah Soekarno.
Kemudian ditanda tangani perjanjian atau
ikrar Lam Teh.

Sehingga mengakhiri pemberontakan


Muhammad Daud Beureueh.

30 September 1965 :
tak lama setelah Aceh kembali
bergabung kedalam NKRI dengan
pemberian status Daerah Istimewa,
terjadi kudeta politik yang dilakukan
oleh Soeharto terhadap Soekarno.
Setelah Soeharto berkuasa, Daerah
istimewa yang dijnjikan dulu tidak
pernah ditepati dan bahkan dilupakan.

Tahun 1971:
Ditemukannya sumber cadangan minyak dan gas
alam terbesar di Lhokseumawe.
Meskipun Aceh telah ditetapkan sebagai kawasan
ZIL (zona industri Lhokseumawe) namun
keuntungan tidak pernah dirasakan oleh rakyat
Aceh. Aceh tetap miskin dan masyarakatya tetap
hidup dalam kemelaratan.
Seluruh keuntungan mengalir ke pusat. Ekspansi
besar-besaran tenaga kerja asing terjadi. Sebagian
besar birokrat serta posisi-posisi penting didalam
pemerintahan di Aceh dikuasai dan didominasi oleh
orang Jawa maka semakin menumbuhkan
kebencian orang-orang Aceh terhadap orang Jawa.

Penentuan hak otonomi serta eksploitasi hasil


Alam yang timpang membuat orang-orang Aceh
tetap berada dibawah garis kemiskinan meskipun
kaya akan sumberdaya Alam
Janji pemerintah atas penerapan syariat Islam di
Aceh yang urung terealisasi.
Namun disamping itu, perjuangan ini didasarkan
atas kebencian terhadap etnis jawa. Bagi orang
Aceh, NKRI adalah milik bangsa Jawa. Karena fakta
politik dimasa orde baru etnis jawa mendominasi
struktur pemerintahan. GAM membangun rasa
benci dengan memanfaatkan sentimen entis
tersebut.Orang jawa merupakan musuh Historis
bagi rakyat Aceh.

4 Desember 1976:
lahirnya kembali sebuah gerakan
perlawanan yang diberi nama ASLNF
(Aceh Sumatera Liberation Front) atau
yang sering disebut Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) yang diproklamirkan
oleh Hasan Tiro.
Doktrin perlawanan yang disuarakan
adalah tentang ketidakadilan,
pengkhianatan, kekecewaan yang
diselimuti dengan kebangkitan
Nasionalisme orang Aceh

Disisi lain, pemerintah sedang giat-giatnya


merealisasikan program pembangunan serta
penyebaran Transmigrasi terutama yang
berasal dari pulau jawa yang kemudian
ditempatkan didaerah-daerah. Tak sedikit
Transmigaran yang berasal dari pulau jawa
membangun pemukiman-pemukiman baru
di Aceh. Hal ini semakin menambah
kemarahan orang Aceh terhadap Jawa dan
tak jarang selama kurun waktu tahun 80-90an para Transmigran menjadi sasaran
amarah masyarakat Aceh terutama sekali
GAM. Para transmigran banyak yang
mendapat perlakuan tidak manusiawai mulai
dari penganiayaan, penculikan terhadap

Hal ini yang kemudian membuat orang-orang


Jawa transmigran merasa terancam hidupnya
dan bahkan kebanyakan dari mereka memilih
keluar dari Aceh. Bagi orang Aceh, etnis jawa
adalah pengkhianat, meskipun sebenarnya
yang patut dibenci adalah oknum pemerintah
Indonesia.
Namun para transmigran pula tak luput dari
teror serta ancaman dan intimidasi. Karena
orang Aceh beranggapan, semua orang jawa
adalah penipu, sehingga orang-orang Aceh
terutama GAM, telah mempersepsikan atau
memaknai negatif secara umum terhadap
etnis Jawa.

TEORI MENGENAI PENYEBAB KONFLIK


Dalam kasus ini teori yang tepat adalah teori
transformasi konflik. Konflik ini disebabkan oleh
ketidak-setaraan dan ketidak-adilan yang muncul
sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi yang
dilakukan oleh pemerintah pusat yang dianggap oleh
orang Aceh adalah orang Jawa. Sehingga orang Aceh
melampiaskan
kemarahannya
kepada
para
transmigran Jawa. Dengan demikian dapat di
jelaskan konflik di Aceh adalah lebih menekankan
perjuangan masyarakat Aceh atas hak-hak yang
telah dieksploitasi oleh pemerintah terhadap
masyarakat Aceh, terutama dalam hal perebutan
basis-basis material, dimana pemerintah melakukan
eksploitasisumber daya alam yang ada di Aceh.

PENDEKATAN UNTUK MENGELOLA KONFLIK


konflik itu perlu dan penting untuk mewujudkan
perubahan social yang lebih baik, terkait konflik di
Aceh perlu adanya komunikasi yang dilakukan oleh
masyarakat Aceh dan Pemerintah Pusat (orang
Jawa) . Hal ini direalisasikan dengan adanya
perjanjian untuk berdamai yang berlangsung
Agustus 2005 lalu. Dengan adanya perjanjian ini,
diharapkan perubahan yang lebih baik terjadi di
Aceh. Paling tidak, pelanggaran HAM yang sering
terjadi saat konflik melanda kini mulai berkurang,
dan semoga kedepannya masyarakat Aceh dapat
hidup dengandamai dan sejahtera tanpa adanya
pertumpahan darah di bumi serambi Mekkah itu.

KESIMPULAN
Konflik ini dapat dihindari dengan adanya
komuniasi dari pemerintah pusat dengan
orang Aceh. Dengan adanya Komunikasi
yang baik, Pemerintah Pusat dapat
mengetahui apa yang diinginkan oleh
masyarakat Aceh. Dengan demikian dapat
timbul rasa Keadilan dan kesetaraan yang
diinginkan oleh masyarakat Aceh sehingga
konfilk Aceh vs Jawa dapat dihindari

Terima Kasih