Anda di halaman 1dari 31

ANALYTIC HIERARCY PROCESS

(AHP)
Oleh :
Sri Widaningsih, MT

AHP merupakan salah satu teknik yang sangat terkenal

yang dimanfaatkan untuk membantu pengambilan


keputusan yang melibatkan kriteria majemuk.
Metoda ini merupakan salah satu metoda pengambilan
keputusan dimana faktor-faktor logika, intuisi,
pengalaman, pengetahuan (data), emosi dan rasa coba
dioptimasikan melalui proses yang sistematis
Metoda AHP dikembangkan oleh Thoms L.Saaty, seorang
ahli matematika dari University of Pittsburgh di USA pada
tahun 1970an.

Metoda AHP berusaha mensistemasikan persoalan yang

dihadapi kedalam hierarki yang menjelaskan hubungan


antara komponen-komponen (tujuan, sub tujuan, kriteria,
sub kriteria dan alternatif)
Penentuan prioritas dilakukan dengan menghitung bobot
relatif antar variabel (elemen) sehingga dapat diketahui
bobot (tingkat kepentingan) setiap elemen terhadap suatu
kriteria (prioritas lokal) atau terhadap pencapaian tujuan
(prioritas global).
Penentuan prioritas dilakukan dengan menggunakan
metoda perbandingan berpasangan (pairwase comparison)
antar elemen pada tingkatan (level) yang sama dengan
menggunakan skala 1 smp dgn 9

Langkah-Langkah Metoda AHP


Identifikasi tujuan (goal) yang akan dibuat. Strukturkan

tujuan, kriteria, alternatif ke dalam suatu hirarki. Kriteria


bisa dibuat lebih dari 1 tingkat (level) tergantung kepada
tingkat kompleksitas permasalahan. Berikut ini contoh
dari hirarki

Melakukan perbadingan berpasangan (pariwise

comparison) untuk semua pasangan alternatif dengan


mengacu kepada setiap kriteria.
Pembandingan berpasangan dilakukan dengan
memberikan sebuah nilai pada setiap pasangan alternatif
menurut ketentuan sbb :

Skala

Arti

Keduanya sama penting

Salah satu sedikit lebih penting daripada yg lain

Salah satu lebih penting daripada yg lain

Salah satu jauh lebih penting dari pada yg lain

Salah satu mutlak lebih penting daripada yg lain

Nilai tengah :
2
4
6
8

Jika ada keraguan antara skala 1 dan 3


Jika ada keraguan antara skala 3 dan 5
Jika ada keraguan antara skala 5 dan 7
Jika ada keraguan antara skala 7 dan 9

Kebalikan
dari angkaangka di atas

Jika variabel i mendapat salah satu dari nilai2 di atas


pada saat dibandingkan dengan variabel j, maka
variabel j memiliki nilai kebalikan bila dibandingakn
dengan variabel i yaitu aij = 1/aij

Metoda AHP hanya menggunakan 1 nilai untuk satu

matriks perbandingan. Jika penilaian dilakukan oleh lebih


dari satu orang (kelompok) maka diambil rata-rata
geometriknya. :
aij (z1.z2.z3..... ..zn)1/n

Dimana :
N = banyaknya anggota penilai (partisipan)
zi = nilai perbandingan berpasangan antara suatu variabel dengan
variabel lainnya menurut partisipan ke i
aij = nilai rata-rata geometris perbandingan antara variabel i dengan
variabel j untuk n partisipan

Selanjutnya nilai-nilai tersebut ditempatkan pada matrik perbandingan berpasangan

(pairwise comparison matrix (PCM)).


Menghitung bobot prioritas (priority weight)
Apabila A adalah matriks perbandingan berpasangan , maka vektor bobot yang
berbentuk:

(A )( w T ) (n )( w T )
dapat didekati dengan cara:
menormalkan setiap kolom j dalam matriks A, sedemikian hingga:

ij

untuk setiap baris i dalam A, hitunglah nilai rata-ratanya:

1
wi aij'
n j

dengan wi adalah bobot tujuan ke-i dari vektor bobot.

Mengalikan bobot-bobot prioritas alternatif dengan bobot-

bobot prioritas kriteria dan menjumlahkannya sehingga


menghasilkan keseluruhan urutan (Overall rangking)
UJI KONSISTENSI
Digunakan untuk menguji konsitensi pengambil keputusan
dalam melakukan berbadingan berpasangan.
Ukuran konsistensi menggunakan rasio konsistensi
(consistency ratio) yang bermanfaat untuk mengetahui
apakah perlu dilakukan revisi pada matrik pembandingan
berpasangan.

Perhitungan Consistency Ratio (CR) :

CI : consistency Index
RI : Random Index

10

RI

0,58

0,90

1,12

1,24

1,32

1,41

1,45

1,49

Nilai diperoleh dari hasil kali setiap kolom pada matriks

berpasangan yang asli dengan bobot (prioritas) relatif dari


elemen keputusan yang berkorespondensi dengan kolom
tersebut dan menjumlahkan hasilnya.
Nilai max merupakan nilai rata-rata dari semua nilai
kriteria.
Hasil nilai CR :
Jika nilai CR 0,10 : kriteria konsisten dan dapat diterima

(acceptable)
Jika CR > 0,10 : kriteria tidak konsisten maka pengambil
keputusan harus mengevaluasi kembali perbandingan
berpasangan.
Jika CR = 0 : kriteria konsisten

Contoh
Sebuah pemasok (supplier) akan dipilih dari tiga calon

pemasok yang memasukkan penawarannya. Pemilihan


pemasok terbaik dilakukan dengan menggunakan 3
kriteria : kualitas, harga penawaran, dan layanan. Buat
keputusan suplier mana yang akan dipilih dengan
menggunakan metoda AHP.
Langkah ke -1 : membuat hirarki masalah yaitu sbb :

Langkah ke-2 : melakukan pairwise comparison


Mengacu pada pemilihan suplier, berikanlah penilaian tingkat kepentingan ( bobot) dari
pasangan kriteria berikut ini :
Kriteria
Kualitas

9 8 7 6 5 4 3
2
Kualitas
9 8 7 6 5 4 3
2
Harga
9 8 7 6 5 4 3
2
Keterangan : Nilai berdasarkan skala

Penilaian
1
2

4 5

Kriteria
6 7 8 9 Harga

4 5

6 7 8 9 Layanan

4 5

6 7 8 9 Layanan

Mengacu pada kriteria kualitas, berikanlah penilaian tingkat kepentingan ( bobot) dari
pasangan alternatif berikut ini :
Kriteria
Penilaian
Kriteria
Pemasok A
9 8 7 6 5 4 3
1
2 3 4 5 6 7 8 9
Pemasok B
2
Pemasok A
9 8 7 6 5 4 3
1
2 3 4 5 6 7 8 9
Pemasok C
2
Pemasok B
9 8 7 6 5 4 3
1
2 3 4 5 6 7 8 9
Pemasok C
2
Keterangan : Nilai berdasarkan skala

Mengacu pada kriteria harga, berikanlah penilaian tingkat kepentingan ( bobot) dari
pasangan alternatif berikut ini :
Kriteria
Penilaian
Kriteria
Pemasok A 9 8 7 6 5 4 3 2
1
2 3 4 5 6 7 8
Pemasok B
9
Pemasok A 9 8 7 6 5 4 3 2
1
2 3 4 5 6 7 8
Pemasok C
9
Pemasok B 9 8 7 6 5 4 3 2
1
2 3 4 5 6 7 8
Pemasok C
9
Keterangan : Nilai berdasarkan skala
Mengacu pada kriteria layanan, berikanlah penilaian tingkat kepentingan ( bobot) dari
pasangan alternatif berikut ini :
Kriteria
Penilaian
Kriteria
Pemasok
9 8 7 6 5 4 3 2
1
2 3 4 5 6 7 8
Pemasok B
A
9
Pemasok
9 8 7 6 5 4 3 2
1
2 3 4 5 6 7 8
Pemasok C
A
9
Pemasok
9 8 7 6 5 4 3 2
1
2 3 4 5 6 7 8
Pemasok C
B
9
Keterangan : Nilai berdasarkan skala

Langkah ke-3 : menghitung bobot prioritas

a.Membuat matrik perbadingan perpasangan


Memilih Pemasok Kualitas
Kualitas

Harga

Layanan

Harga
Layanan

Kualitas

Pemasok A Pemasok B Pemasok C

Pemasok A

Pemasok B

Pemasok C

Harga
Pemasok A

Pemasok A Pemasok B
1

Pemasok B

Pemasok C

Layanan
Pemasok A
Pemasok B
Pemasok C

Pemasok C

Pemasok A

Pemasok B

Pemasok C

5
1

b. Menghitung bobot prioritas


Memilih Pemasok
Kualitas
Harga
Layanan
Jumlah
Memilih
Pemasok

Kualitas
1
1/3
1/5
1,5333

Harga
3
1
1/3
4,3333

Layanan
5
3
1
9

Kualitas

Harga

Layanan

Jumlah

RataRata(Prioritas)

kualitas

0,6522

0,6923

0,5556

1,9001

0,6334

Harga

0,2174

0,2308

0,3333

0,7815

0,2605

Layanan

0,1304

0,0769

0,1111

0,3185

0,1062

Normalisasi :
Rata-rata :

Kualitas
Pemasok A
Pemasok B
Pemasok C
Jumlah

Kualitas

Pemasok A Pemasok B Pemasok C


1
1/2
1/6
2
1
1/5
6
5
1
9

6,5

1,3667

Pemasok A Pemasok B Pemasok C

Jumlah

Rata-rata

Pemasok A

0,11111

0,07692

0,12195

0,3100

0,1033

Pemasok B

0,22222

0,15385

0,14634

0,5224

0,1741

Pemasok C

0,66667

0,76923

0,73169

2,1676

0,7225

Harga
Pemasok A
Pemasok B
Pemasok C
Jumlah

Harga

Pemasok A Pemasok B Pemasok C


1
4
5
1/4
1
3
1/5
1/3
1
1,45
5,3
9

Pemasok A

Pemasok B Pemasok C

Jumlah

Rata-rata

Pemasok A

0,68966

0,75000

0,55556

1,9952

0,6651

Pemasok B

0,17241

0,18750

0,33333

0,6932

0,2311

Pemasok C

0,13793

0,06250

0,11111

0,3115

0,1038

Layanan
Pemasok A
Pemasok B
Pemasok C
Jumlah

Layanan

Pemasok A Pemasok B Pemasok C


1
2
4
1/2
1
5
1/4
1/5
1
1,75
3,2
10

Pemasok A

Pemasok B Pemasok C

Jumlah

Rata-rata

Pemasok A

0,57143

0,62500

0,40000

1,5964

0,5321

Pemasok B

0,28571

0,31250

0,50000

1,0982

0,3661

Pemasok C

0,14286

0,06250

0,10000

0,3054

0,1018

Langkah ke-4 : Menghitung Prioritas Global


Pemasok

Pembobotan
Kualitas

Pembobotan
Harga

Pembobotan
Layanan

Jumlah
Bobot

(0,1033)(0,6334)

(0,6651)(0,2605)

(0,5321)(0,1061)

0,2952

(0,1741)(0,6334)

(0,2311)(0,2605)

(0,3661)(0,1061)

0,2093

(0,7226)(0,6334)

(0,1038)(0,2605)

(0,1018)(0,1061)

0,4955

Dari hasil perhitungan disimpulkan bahwa pemasok C

merupakan pemasok yang paling diminati (preffered


supplier)

Menghitung CI
Kualitas
0,6334
1
1/3
1/5

Harga
0,2605
3
1
1/3

Layanan
0,1061
5
3
1

Jumlah

Bobot

1,9454
0,7899
0,3196

0,6334
0,2605
0,1061

3,0714
3,0324
3,0124

Jumlah berkorespondensi dengan kualitas


1,9545 = (0,6334x1)+(0,2605x3)+(0,1061x5)
Jumlah berkorespondensi dengan harga
0,7899 = (0,6334x1/3)+(0,2605x1)+(0,1061x3)
Jumlah berkorespondensi dengan layanan
0,3196 = (0,6334x1/5)+(0,2605x1/3)+(0,1061x1)

Jadi pembandingan berpasangan yang dilakukan oleh

pengambil keputusan untuk kriteria dianggap konsisten


(acceptable), karena nilai CR 0,10

Menghitung CI kriteria kualitas


Pemasok A Pemasok B Pemasok C
0,1033
0,1741
0,7226
1
1/2
1/6
2
1
1/5
6
5
1

Jumlah

Bobot

0,3108
0,5252
2,2129

0,1033
0,1741
0,7226

3,0086
3,0168
3,0624

Jumlah berkorespondensi dengan pemasok A


0,3108 = (0,10334x1)+(0,1741x1/2)+(07226x1/6)
Jumlah berkorespondensi dengan pemasok B
0,5252 = (0,10334x2)+(0,1741x1)+(07226x1/5)
Jumlah berkorespondensi dengan pemasok C
2,2129 = (0,10334x6)+(0,1741x5)+(07226x1)

Jadi pembandingan berpasangan yang dilakukan oleh

pengambil keputusan untuk alternatif pemasok dengan


mengacu kepada kriteria kualitas dianggap konsisten
(acceptable), karena nilai CR 0,10

Menghitung CI kriteria harga


Pemasok A
0,6651
1
1/4
1/5

Pemasok B Pemasok C
0,2311
0,1038
4
5
1
3
1/3
1

Jumlah

Bobot

2,1085
0,7088
0,3139

0,6651
0,2311
0,1038

3,1702
3,0670
3,0236

Jumlah berkorespondensi dengan pemasok A


2,1085= (0,6651x1)+(0,2311x4)+(0,1038x5)
Jumlah berkorespondensi dengan pemasok B
0,7088= (0,6651x1/4)+(0,2311x1)+(0,1038x3)
Jumlah berkorespondensi dengan pemasok C
0,3139= (0,6651x1/5)+(0,2311x1/3)+(0,1038x1)

Jadi pembandingan berpasangan yang dilakukan oleh

pengambil keputusan untuk alternatif pemasok dengan


mengacu kepada kriteria harga dianggap konsisten
(acceptable), karena nilai CR 0,10

Menghitung CI kriteria layanan


Pemasok A Pemasok B Pemasok C
0,5321
0,3661
0,1018
1
2
4
1/2
1
5
1/4
1/5
1

Jumlah

Bobot

1,6715
1,1412
0,3080

0,5321
0,3661
0,1018

3,1413
3,1170
3,0260

Jumlah berkorespondensi dengan pemasok A


1,6715= (0,5321x1)+(0,3661x2)+(0,1018x4)
Jumlah berkorespondensi dengan pemasok B
1,1412= (0,5321x1/2)+(0,3661x1/5)+(0,1018x5)
Jumlah berkorespondensi dengan pemasok C
0,3080= (0,5321x1/4)+(0,3661x1/5)+(0,1018x1)

Jadi pembandingan berpasangan yang dilakukan oleh

pengambil keputusan untuk alternatif pemasok dengan


mengacu kepada kriteria layanan dianggap konsisten
(acceptable), karena nilai CR 0,10

Latihan
Suatu perusahaan berniat untuk membeli sebuah

software baru dengan kriteria harga dan keandalan. Ada 2


alternatif software baru yang dipertimbangkan untuk
dibeli.
Berikut ini adalah matrik pairwise comparison dari
pengambil keputusan
Memilih
Keandal
Software
Harga
an
Harga
1

Keandalan
7
1
Harga
Sofware A Software B
Sofware A
1

Sofware B
2
1
Keandalan
Sofware A
Sofware B

Sofware A Software B
1
5