Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia namun dapat hadir, tumbuh,
dan berkembang dengan baik di wilayah Indonesia. Kelapa sawit mempunyai
produk olahan (out put) berupa minyak sawit yang menjadi salah satu komoditas
perkebunan yang handal. Minyak sawit mempunyai pangsa pasar yang besar baik
di dalam maupun luar negeri.
Minyak sawit atau yang dikenal dengan Crude Palm Oil (CPO) merupakan
minyak nabati berwarna jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari proses
ekstraksi daging buah tanaman Elaeis guinneensis (kelapa sawit). Pada umumnya,
varietas yang digunakan adalah varietas tenera yang mempunyai cangkang yang
tipis dan daging buah yang tebal. Proses tahapan ekstraksi minyak sawit ini
meliputi tahapan perebusan, perontokan buah dari tandan, pengolahan minyak
dari daging buah, dan pemurnian.
Dalam perkembangannya, CPO yang dihasilkan dapat diolah kembali
menjadi produk-produk turunan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Produk-produk yang dapat dihasilkan yaitu minyak goreng, sabun, biodiesel,
margarin, gliserol dan produk-produk lainnya. Produk yang menjadi pembahasan
adalah sabun yang merupakan hasil dari reaksi saponifikasi yang terjadi akibat
pencampuran minyak sawit dengan larutan basa.
Sabun merupakan komoditi hasil olahan minyak kelapa sawit yang populer
yang berfungsi sebagai zat yang mampu membersihkan dan mengangkat benda
asing. Reaksi yang terjadi pada saat pembuatan sabun dari minyak kelapa sawit
disebut saponifikasi.
Saponifikasi dilakukan dengan mereaksikan minyak kelapa sawit
(triglisrida) dengan alkali (biasanya menggunakan NaOH atau KOH) sehingga
menghasilkan gliserol dan garam alkali Na (sabun). Saponifikasi juga dapat

1
dilakukan dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali sehingga menghasilkan
sabun dan air. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang
karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah
meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu
permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah
dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, detergen sintetik telah
menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci. Sabun yang telah berkembang
sejak zaman Mesir kuno berfungsi sebagai alat pembersih. Keberadaan sabun
yang hanya berfungsi sebagai alat pembersih dirasa kurang, mengingat pemasaran
dan permintaan masyarakat akan nilai lebih dari sabun mandi.

1.2 Rumusan Praktikum


Pada dasarnya, yang menjadi pokok permasalahan adalah
1. Bagaimanakah proses pembuatan sabun dari minyak sawit atau
CPO ?
2. Katalis apa yang harus digunakan dan berapakah kadarnya ?
3. Bagaimanakah hasil dari proses yang dilakukan ?

1.3 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum yang dilakukan, antara lain:
1. Mempelajari proses pembuatan sabun dari CPO.
2. Untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada proses pembuatan
sabun dari CPO.

1.4 Manfaat Praktikum


Adapun manfaat praktikum yang dilakukan, antara lain:
1. Dengan adanya praktikum ini mahasiswa mampu melakukan
proses pembuatan sabun minyak kelapa sawit (CPO).
2. Mahasiswa mengetahui hal-hal yang dibutuhkan pada pembuatan
sabun.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Saponifikasi
Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang
berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali
yang menghasilkan gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun
merupakan garam (natrium) yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang.
Reaksi dibawah ini merupakan reaksi saponifikasi tripalmitin / trigliserida.

CH2OC[CH 2]14CH 3 CH2OH

CH 2OC[CH 2]14CH 3 + 3 NaOH CHOH + 3CH3[CH 2]14 CO2Na

CH 2OC[CH 2]14CH 3 CH2OH

Tripalmitin Larutan Basa Gliserol Natrium Palmitat


(minyak dari sawit ) (alkali ) (Sabun)

Gambar 2.1 Reaksi Saponifikasi tripalmitin

Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasi Fatty
Acid (FA), namun disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin (Glycerol),
karena saat proses pembuatan Fatty Acid, glycerol sudah dipisahkan tersendiri.

R– O– C – H + NaOH R – COONa + H2 O

Asam lemak alkali Sabun Air

3
Gambar 2.2 Reaksi saponifikasi Asam lemak
Selain dari minyak atau lemak dan NaOH pada pembuatan sabun
dipergunakan bahan-bahan tambahan sebagai berikut:
a. Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.
b. Zat pewarna
c. Parfum, agar baunya wangi.
d. Zat pemutih, misal natrium sulfat

2.2 Sabun
2.2.1 Sejarah Sabun

Produk sabun sebenarnya tidak pernah ditemukan, tetapi secara


berkesinambungan dapat dikembangkan dari campuran alkali kuat dan bahan
berlemak (fatty material). Sekitar tahun 1800, sabun dipercaya sebagai hasil
campuran mekanis untuk memperoleh sabun kasar dan sabun lunak telah
dikembangkan pada abad pertama melalui suatu proses. Bahan mentah yang
tersedia dalam perang dunia I membuat jerman mengembangkan sabun sintesis
dan deterjen (detergent). Proses ini dilaksanakan dengan mengkomposisi reaksi
sulfonasi naftalena yang mengandung rantai alkil pendek yang merupakan zat
pembasah (wetting agent).

2.2.2 Pengertian Sabun

Sabun adalah salah satu karbon yang sangat komersial baik dari sisi
penggunaan dalam kehidupan sehari-hari maupun persaingan harga produk yang
memberikan pengembangan yang cukup baik. Sabun merupakan surfaktan yang
digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya
berbentuk padatan yang tercetak seperti batangan.
Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari
reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya
basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol.
Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat.

4
Gambar 2.3 Struktur Asam Laurat

Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air.
Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk
mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh.
Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak
jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam
palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak
goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak
lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih
dari 6).

Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia
H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara
kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan
tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and
temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena
air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh
dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya
intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.

Bahan baku pembuatan sabun, antara lain:


a. Minyak kelapa sawit
Mengandung asam palmitat, asam oleat, asam stearat, dan asam myfistat.
b. Minyak Zaitun
Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.
c.Minyak Kelapa
Mengandung asam palmitat, asam oleat dan asam stearat.

5
Mengapa minyak dapat larut dengan bantuan sabun dalam media
air?

Dari penjelasan di atas, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah.


Fenomena tersebut tidak lepas dari gaya tarik menarik molekul. Gaya tarik antara
dua molekul polar ( gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan polar larut dalam
larutan polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen sehingga
menginduksi awan elektron non polar sehingga terbentuk dipol terinduksi, maka
larutan nonpolar dapat larut dalam non polar. Hal tersebut dapat menjelaskan
proses yang terjadi saat kita mencuci tangan. Saat pencucian tangan, air yang
merupakan senyawa polar menginduksi awan elektron sabun sehingga dapat
membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan senyawa non polar. Maka
dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunkan sabun, lemak yang
menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air.

2.3 Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi
kehidupan makhluk hidup.
Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk
golongan lipida. Salah satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah
daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya ether, benzene, chloroform) atau
sebaliknya ketidak-larutannya dalam pelarut air.
Kelompok lipida dapat dibedakan berdasarkan polaritasnya atau berdasarkan
struktur kimia tertentu.
a. Kelompok Trigliserida ( lemak,minyak,asam lemak dan lain-lain ).
b. Kelomok turunan asam lemak ( lilin,aldehid asam lemak dan lain-lain ).
c. Fosfolipida dan serebrosida ( termasuk glikolipida ).
d. Sterol-sterol dan steroida.
e. Karotenoida.

6
f. Kelompok lipida lain.
Trigliserida merupakan kelompok lipida yang paling banyak dalam jaringan
hewan dan tumbuhan. Trigliserida dalam tubuh manusia bervariasi jumlahnya
tergantung dari tingkat kegemukan seseorang dan dapat mencapai beberapa
kilogram.
Fosfolipida, glikolipida, sterol dan steroida terdapat dalam jaringan hewan
dan tumbuhan dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada trigliserida. Dalam tubuh
manusia, kelompok ini hanya merupakan beberapa persen saja dari bahan lipida
seluruhnya.
Karotenoida dalam tubuh manusia lebih sedikit lagi jumlahnya, biasanya
dalam seluruh tubuh manusia hanya terdapat kurang dari 1 gram. Dalam jaringan
tanaman, karotenoida terdapat dalam jumlah lebih banyak.
Secara Dentitif, lipida diartikan sebagai semua bahan organik yang dapat
larut dalam pelarut organik yang mempunyai kecenderungan nonpolar.
Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan
bagian terbesar dari kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil
kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak.

CH2 – O – C – R1
O CH2 – OH O

3 R– O – C – H CH – OH CH – O – C – R2 + 3H20
+
O
CH2 – OH
CH2 – O – C – R3

TRIGLISERIDA AIR
ASAM LEMAK GLISEROL (cpo)

Gambar 2.4 Reaksi kimia asam lemak dengan gliserol

Secara umum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu
ruang berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang
dalam suhu ruang berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas
untuk membedakan minyak dan lemak.

7
Reaksi dan sifat kimia pada minyak atau lemak:
1. Esterifikasi
Proses Esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari
trigliserida, menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan
melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau penukaran estar yang
didasarkan pada prinsip trans-esterifikasi Fiedel-Craft.
2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-
asam lemak bebas dan gliserol, proses ini dibantu adanya asam, alkali, uap
air, panas, dan eznim lipolitik seperti lipase. Reaksi hidrolisis
mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak yaitu “hydrolytic rancidity”
yaitu terjadi flavor dan rasa tengik pada lemak atau minyak. Hal ini terjadi
karena terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.
O

C H2 – O – C – R1
C H2 – O H
O O

C H– O – C – R2 + 3H2 0 C H– O H 3 R – O – C– H
O
C H2 – O H
C H2 – O – C – R3

T R IG L IS ER ID A AIR ASAM LEM AK


G L IS E R O L
(cp o)

Gambar 2.5 Reaksi Hidrolisa pada trigliserida

3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada
trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung
gliserol dipisahkan dan kemudian gliserol dipulihkan dengan penyulingan.
4. Enzimatis
Enzim yang dapat menguraikan lemak atau minyak dan akan
menyebabkan minyak tersebut menjadi tengik, ketengikan itu disebut
“Enzimatic rancidity” Lipase yang bekerja memecah lemak menjadi

8
gliserol dan asam lemak serta menyebabkan minyak berwarna gelap.
Enzim peroksida membantu proses oksidasi minyak sehingga
menghasilkan keton.

Gambar 2.6 Reaksi Enzimatis

5. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen
dengan lemak atau minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan
mengakibatkan bau tengik kepada minyak atau lemak “Oxidative
rancidity”.
6. Hidrogenasi
Proses Hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai dari
karbon asam lemak pada lemak atau minyak. Setelah proses Hidrogenasi
selesai, minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan
penyaringan. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras,
tergantung pada derajat kejenuhan.

Sifat fisika lemak dan minyak :


1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil- amin
dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur
kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia
dan untuk pengujian kemurnian minyak.

9
4. Minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (Coaster oil),
sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon
disulfide dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang
rantai karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami juga terjadi
karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian
pada kerusakan minyak atau lemak
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak
atau minyak dengan pelarut lemak
8. Titik lunak dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan
minyak atau lemak
9. Shot Melting point adalah temperatur pertama saat terjadi tetesan pertama
dari minyak/lemak.
10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta
pengaruh kehadiran komponen-komponennya.
Senyawa lemak dan minyak merupakan senyawa alam penting yang dapat
dipelajari secara lebih dalam dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan
senyawa makro nutrien lain. Kemudahan tersebut diakibatkan oleh:
1. molekul lemak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan
karbohidrat atau protein.
2. molekul lemak dapat disintesis di laboratorium menurut kebutuhan.
Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan ,dapat digolongkan dalam
tiga kelompok tujuan berikut:
1. Penentuan kuantitatif atau penentuan kadar lemak yang terdapat dalam
bahan makanan atau pertanian.
2. Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan
dengan proses ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian
lanjutan misalnya penjernihan, penghilangan bau, penghilangan warna dan
sebagainya.

10
3. Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas atau mencirikan sifat
minyak tertentu.
Ekstraksi merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar lemak dalam
suatu bahan. Sebagai senyawa hidrokarbon, lemak dan minyak pada umumya
tidak larut air tatapi dalam pelarut organik.
Penentuan kadar lemak dengan pelarut, selain lemak juga terikut fosfolipida,
sterol, asam lemak bebas, karotenoid, dan pigmen lain. Karena itu hasil analisanya
disebut lemak kasar (crude fat).
Ada dua cara penentuan kadar lemak berdasarkan jenis bahan
1. Bahan Kering
Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dilakukan terputus-putus atau
berkesinambungan. Ekstraksi secara terputus dilakukan dengan soklet.
Sedangkan secara berkesinambungan dengan alat goldfish.
2. Bahan Cair
Penentuan kadar lemak dari bahan cair dapat menggunakan botol Babcock
atau dengan Mojoinner.

Jenis Minyak dan lemak dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan sifat-
sifatnya. Pengujian sifat-sifat minyak tersebut salah satunya adalah penentuan
angka penyabunan dan penentuan angka asam.
Angka penyabunan dapat diartikan sebagai banyaknya (mg) KOH yang
dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram asam lemak atau minyak. Angka
penyabunan sendiri dapat dipergunakan untuk menentukan berat molekul minyak
secara kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai C pendek berarti
mempunyai berat molekul relatif kecil akan mempunyai angka penyabunan yang
besar dan sebaliknya minyak dengan berat molekul besar mempunyai angka
penyabunan relatif kecil.
Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH atau NaOH yang
diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram
minyak atau lemak.

11
Angka asam besar menunjukan asam lemak bebas yang besar yang berasal
dari hidrolisis minyak atupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin
tinggi angka asam makin rendah kualitasnya.

2.4 Kelapa Sawit


Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak
masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya
menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama
dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak
kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah
Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar
serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga
terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun
berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak
mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan
tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah
umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan
menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon
(monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat
jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan
panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga
sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul
digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari
hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol
dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah.
Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase

12
matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan
buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
• Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
• Mesoskarp, serabut buah
• Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan
embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang
pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula)
dan bakal akar (radikula). Gambar kelapa sawit dapat dilihat dibawah ini.

Gambar 2.7 Kelapa sawit

2.4.1 Syarat Hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan
baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di
ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit
membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu
daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau.

13
Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi
buah sawit.

2.4.2 Tipe Kelapa Sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E.
oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali dan terluas dibudidayakan orang.
E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman
sumber daya genetik.
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan
cangkang, yang terdiri dari
• Dura,
• Pisifera, dan
• Tenera.

Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga


dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya
besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya
tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang
menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan
Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-
masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap
fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai
90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%. Untuk
pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

2.5 Minyak Kelapa Sawit


Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit (Elaeis
guinensis JACQ}. Secara garis besar buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah
(pericarp) dan inti (kernel). Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu
lapisan luar atau kulit buah yang diseb but pericarp, lapisan sebelah dalam disebut
mesocarp atau pulp dan lapisan paling dalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit

14
terdiri dari lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Mesocarp
mengandung kadar minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung
minyak sebesar 44%, dan endocarp tidak mengandung minyak (6).

Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya adalah


merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen
penyusunnya yang utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (7). Minyak
kelapa sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian
dari vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K
dan magnesium. Napalm namanya berasal dari naphthenic acid, palmitic acid dan
pyrotechnics atau hanya dari cara pemakaian nafta dan minyak kelapa sawit.

2.5.1 Trigliserida dalam Minyak Sawit

Seperti halnya lemak dan minyak lainnya, minyak kelapa sawit terdiri atas
trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul asam lemak
menurut reaksi sebagai berikut ( Gambar 2.4 ). Bila R, = RZ = R3 atau ketiga
asam lemak penyusunnya Sama maka trigliserida ini disebut trigliserida
sederhana, dan apabila salah satu atau lebih asam lemak penyusunnya tidak sama
maka disebut trigliserida campuran.
Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon; yang setiap atom karbonnya
mengikat satu atau dua atom hidrogen ; kecuali atom karbon terminal mengikat
tiga atom hidrogen, sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus
karboksil. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap
disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada
rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh. Secara umum
struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut.

H3C – CH 2 – CH2 – CH 2 …. – CH2 - COOH H3C – …. – CH2 – CH = CH – COOH


ASAM LEMAK JENUH ASAM LEMAK TAK JENUH

Gambar 2.8 Struktur kimia 2 jenis asam lemak

15
Makin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida, makin tinggi titik
beku atau titik cair minyak tersebut .Sehingga pada suhu kamar biasanya berada
pada fase padat. Sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul
trigliserida maka makin rendah titik helm atau titik.cair minyak tersebut sehingga
pada suhu kamar berada pada fase cair. Minyak kelapa Sawit adalah lemak semi
padat yang mempunyai komposisi yang tetap.
Berikut ini adalah tabel dari komposisi trigliserida dan tabel komposisi asam
lemak dari minyak kelapa sawit.

tabel. 2.1 Komposisi Trigliserida dalam minyak kelapa sawit

Tabel 2.2 komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit.

Tabel 2.3 komposisi asam lemak dan rumus kimia-nya

16
2.5.2 Senyawa Non Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit.

Selain trigliserida masih terdapat senyawa non trigliserida dalam jumlah


kecil (7). Yang termasuk senyawa non trigliserida ini antara lain : motibgliserida,
diglisrida, fosfatida, karbohidrat, turunan karbonidrat., protein, beberapa mesin
dan bahan-bahan berlendir atau getah (gum) serta zat-zat berwarna yang
memberikan warna serta rasa dan bau yang tidak diinginkan (5,6,9,10).
Dalam proses pemurnian dengan penambahan alkali (biasanya disebut
dengan proses penyabunan) beberapa senyawa non trigliserida ini dapat
dihilangkan, kecuali beberapa senyawa yang disebut dengan senyawa yang tak
tersabunkan seperti tercantum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 2.4 Komposisi senyawa yang tak tersabunkan dalam minyak sawit

2.5.3 Warna dalam Minyak

Warna pada minyak kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang
mendapat perhatian khusus, karena minyak kelapa sawit mengandung warna-

17
warna yang tidak disukai oleh konsumen. Menurut Ketaren. S, zat warna dalam
minyak kelapa sawit terdiri dari dua golongan yaitu :
1. Zat warna alamiah.
2. Zat warna dari hasil degradasi zat warna almiah.

2.5.3.1 Zat Warna Alamiah

Yang termasuk golongan zat warna alamiah, ini adalah zat warna yang
terdapat secara alamiah didalam kelapa Sawit, dan ikut terekstraksi bersama
minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari α-ka-
roten, β-karoten, xanthopil, kloropil dan antosianin. Zat- zat warna tersebut
menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan dan
kemerah - merahan. Pigmen berwarna kuning disebabkan oleh karoten yang larut
didalam minyak. Karoten merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh, dan
jika minyak dihidrogenasi, maka karoten tersebut juga berikut terhidrogenasi
sehingga intensitas warna kuning berkurang (6).
Karetonoid bersifat tidak stabil pada asam (5,9), dan suhu tinggi dan jika
minyak dialiri uap panas, maka Warna kuning akan hilang, dan karetonoid juga
bersifat asseptor proton (5).

2.5.3.2 Zat Warna Dari Hasil Degradasi Zat Warna Alamiah

Zat warna dari hasil degradasi ini berupa:

2.5.3.2.1 Warna Gelap

Warna gelap ini disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin
E). Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat kloroifil yang berwarna
hijau turut terekstraksi bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit dipisahkan dari
minyak.
Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan,
yang disebabkan beberapa faktor yaitu :
1. Suhu pemanasan Yang terlalu tinggi pada waktu pengesan dengan cara
hidrolik atau ekspeller, sehingga sebahagian minyak teroksidasi. Disamping

18
itu minyak yang terdapat dalam suatu bahan dalam keadaan panas akan
mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam bahan tersebut..
2. Pengapresan bahan yang mengandung minyak dengan tenan dan suhu yang
tinggi akan menghasilkan minyak dengan warna yang lebih gelap.
3. Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu , misalnya
campuran pelarut petroleum - ben, zen akan menghasilkan minyak dengan.
warna lebih merah dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan
pelarut triklor etilen , benzol dan heksan.
4. Logam seperti Fe , Cu dan Mn akan menimbulkan warna- yang tidak
diingini dalam minyak.
5. Oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak, terutama oksidasi
tokoperol dan ,chroman 5,6 qoinon menghasilkan warna kecoklat - coklatan.

2.5.3.2.2 Warna Coklat

Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak yang berasal dari bahan
yang telah busuk atau memar. Hal ini dapat terjadi karena reaksi molekul karbohidrat
dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul protein dan
yang disebabkan oleh karena aktivitas enzim-enzim seperti phenol oxidase,
poliphenol oxidase dan sebagainya (6).

2.5.3.2.3 Warna Kuning

Warna kuning selain disebabkan oleh adanya karoten yaitu zat warna
alamiah juga dapat terjadi akibat proes absorbsi dalam minyak tidak jenuh. Warna
ini timbul selama penyimpanan dan intensitas warna bervariasi dari kuning
sampai ungu kemerah merahan.
Umumnya warna yang timbul akibat degradasi zat warna alamiah amat sulit
dihilangkan, timbulnya warna ini dapat diindentifikasikan bahwa telah terjadi
kerusakan pada minyak (6,9). Maka untuk mencegah hal ini, pada proses
umumnya ditambahkan zat anti oksidan sedangkan minyak kelapa sawit itu
sendiri telah mengandung zat anti oksidan walaupun dalam jumlah sedikit.
Berikut ini adalah gambar minyak kelapa sawit (CPO) yang telah mengalami
proses pemurnian.

19
Gambar 2.9 Minyak Kelapa Sawit (CPO) yang telah dimurnikan menjadi RBDPO

2.5.4 Standart Mutu Minyak Kelapa Sawit Yang Siap


Dipasarkan
Analisa mutu minyak kelapa sawit mentah (CPO) diperlukan untuk
menyamakan standar mutu minyak kelapa sawit yang diproduksi di Indonesia
dengan standar mutu CPO internasional. Crude Palm Oil yang tidak memenuhi
standar mutu internasional akan sulit bersaing di pasaran dunia.
Tabel 2.5 Standar Mutu yang harus dipenuhi
No Kriteria uji Satuan Persyaratan Mutu
1 Warna - Jingga kemerah-merahan
2 Kadar air dan kotoran % fraksi massa 0,5 maks
3 Asam lemak bebas % fraksi massa 0,5 maks
(sebagai asam palmitat)
4 Bilangan yodium g Iod/100 g 50 – 55
Untuk menentukan apakah mutu minyak itu termasuk baik atau tidak
diperlukan standar mutu. Ada beberapa faktor yang menentukan standard mutu
yaitu: kandungan air dan kotoran dalam minyak kandungan Asam lemak bebas
(ALB), warna dan bilangan peroksida. Faktor lain yang mempengaruhi standar
mutu adalah titik cair kandungan gliserida, refining loss, plastisitas dan
supreadability, kejernihan kandungan logam berat dan bilangan penyabunan.
Standar mutu Special Prime Bleach (SPB ) dibandingkan dengan mutu ordinari
dapat dilihat dalam table di bawah ini.

20
Tabel 2.6 Standar Mutu SPB dan Ordinary

Akan tetapi secara umum, mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan
menjadi dua arti, pertama, benar‐benar murni dan tidak bercampur dengan minyak
nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai
sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur titik lebur angka penyabunan dan
bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal
ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang
meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan
ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai
bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing berbeda. Oleh karena
itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya harus lebih
diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh
banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya,
penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit
tersebut, didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel

21
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j) Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal

Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:


a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975

BAB III
ALAT DAN BAHAN

22
3.1 Alat dan Fungsi
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan sabun, yaitu:
1. Wadah kaca, merupakan wadah yang terbuat dari dengan diameter
3 – 5 cm dan ketinggian 5 – 10 cm. Wadah ini berfungsi dalam pengamatan
sampel secara visual sehingga kita dapat mengetahui kadar warna sampel.
2. Beaker Glass, berfungsi dalam menampung sampel dan melakukan
penelitian sampel secara visual.
3. Gelas ukur 50 ml, merupakan tabung panjang yang terbuat dari kaca
maupun plastik (polimer) dan dilengkapi dengan indikator ukuran volume
pada dindingnya. Gelas ukur berfungsi sebagai wadah untuk mengukur
volume larutan dengan akurat.
4. Termometer, merupakan alat yang digunakan sebagai pengukur
suhu pada saat pemanasan maupun pendinginan sampel.
5. Neraca Analitik dengan ketelitian 0,1 mg, Merupakan timbangan
ukuran kecil yang berfungsi untuk mengukur massa sampel maupun bahan
percobaan yang akan digunakan.
6. Bunsen, merupakan Alat pemanas dengan bahan bakar spiritus yang
berfungsi untuk membakar atau mamanaskan wadah yang telah berisi
dengan sampel.
7. Kaki tiga (tripod), merupakan penyangga yang memiliki tiga kaki dan
berfungsi untuk menyangga wadah di atasnya serta sebagai tempat
meletakkan bunsen dalam proses pemanasan.
8. Pipet tetes, merupakan pipet yang terbuat dari kaca dan berfungsi
untuk meneteskan larutan maupun zat indikator pada sampel.

3.2 Bahan dan Fungsi


Bahan yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar asam lemak bebas pada
CPO yaitu:

23
1. Sampel CPO atau RBDPO 10 ml atau 10 gram
2. Bahan kimia, berupa:
a.5 ml Larutan Natrium hidroksida / sodium hidroksida (NaOH) 0,4 M.
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara melarutkan
16 gram NaOH dalam 1 liter air suling ataumenggunakan rumus
molaritas.
b. 5 ml Larutan Kalium hidroksida / potasium hidroksida (KOH)
1M
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara melarutkan
56 gram KOH dalam 1 liter air suling
c.Beberapa ml larutan HCl 0,37 M
Untuk mempercepat reaksi saponifikasi (katalis)
3. Akuades / air (H2O), berfungsi sebagai pelarut NaOH dalam membuat 5
ml larutan NaOH 1 M.

BAB IV

24
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Saponifikasi merupakan proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak khusunya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan
gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan garam (natrium)
yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang. Saponifikasi dilakukan dengan
mereaksikan minyak kelapa sawit (triglisrida) dengan alkali (biasanya
menggunakan NaOH atau KOH) sehingga menghasilkan gliserol dan garam alkali
Na (sabun). Saponifikasi juga dapat dilakukan dengan mereaksikan asam lemak
dengan alkali sehingga menghasilkan sabun dan air.

4.1.1 Prosedur Kerja

Tata cara atau prosedur kerja dalam pembuatan sabun dari bahan CPO, yaitu:
1. Larutkan 16 gram NaOH dalam 1 liter air suling (akuades) dalam
beaker glass untuk membuat larutan NaOH 0,4 M (larutan NaOH 40 %)
atau dengan menggunakan rumus massa molar dan molaritas pada
stoikiometri II.
2. Masukkan 10 minyak kelapa sawit ke dalam wadah kaca, cawan
porselin atau beaker glass dan kemudian panaskan minyak tersebut
menggunakan bunsen hingga pada suhu 70 oC sambil diaduk. Ingat, untuk
hasil yang biak gunakan RBDPO yang jernih seperti pada gambar 2.9.
3. Ke dalam minyak tambahkan 5 ml NaOH 0,4 M. Teruskan
pengadukan hingga terbentuk “trace”. Trace merupakan suatu kondisi pada
saat cairan yang diaduk (minyak sawit) mulai mengental. Pada saat ini
biasanya ditambahkan pengharum, peawarna dan zat-zat aditif lainnya.
4. Diamkan campuran hingga dingin (sesuai dengan suhu kamar). Hal ini
dilakukan agar campuran sabun dapat mengeras.
5. Agar dapat mempercepat proses trace (mengurangi lamanya
pengadukan), dapat kita tambahkan beberapa tetes HCL 0,37 M.

25
Gambar 4.1 campuran sabun yang telah didinginkan

4.1.2 Hasil Pengamatan

Setelah dilakukan proses pembuatan sabun, maka hasil percobaan yang


diperoleh yaitu terbentuk campuran berwarna coklat tua dan berbusa. Hal ini
berarti telah terjadi perpisahan antara garam alkali (sabun) dengan gliserol.
Lamanya pengadukan yang dilakukan adalah 40 menit. Pada dasarnya gliserol
tetap digunakan dalam campuran sabun (tidak dipisahkan) agar kandungan
gliserol dapat membantu sabun dalam mengangkat benda asing yang akan
dibersihkan.

4.2 Pembahasan
Ketika kita memasukkan NaOH/KOH ke dalam air untuk dilarutkan, pada
awalnya air akan menjadi keruh. Namun, setelah kita aduk berkali-kali hingga
larut, air yang semula keruh menjadi bening kembali. Hal ini menunjukkan bahwa
NaOH/KOH telah larut dalam air.
Pada saat kita mencampurkan larutan NaOH/KOH ke dalam minyak,
pastikan minyak tersebut sudah mendidih karena proses saponifikasi pada sabun

26
membutuhkan suhu sekitar 80–100 °C untuk menghasilkan gliserol dan sabun
mentah. Dalam proses saponifikasi, lemak akan terhidrolisis oleh basa,
menghasilkan gliserol dan sabun mentah.
Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan yang disebut
alkali - basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari asam). Karena dibuat
melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak) dengan sebuah
senyawa anorganik (alkali), molekul sabun mempertahankan beberapa ciri
keduanya. Molekul sabun mempunyai sebuah kaki organik yang senang
bergandengan dengan bahan-bahan organik berminyak, dan sebuah kaki
anorganik yang senang bergandengan dengan air. Itulah sebabnya sabun memiliki
kemampuan tiada banding dalam menarik kotoran berminyak dari tubuh atau
pakaian ke dalam air.
Cara kerja sabun adalah mengikat minyak kedalam air, sehingga akhirnya
minyak dan kotoran dapat dibilas dengan lebih mudah.
Molekul-molekul sabun berbentuk panjang dan tipis. Pada hampir seluruh
panjangnya (atau "ekornya") strukturnya tepat sama dengan molekul-molekul
minyak, karena itu memiliki afinitas atau keakraban dengan molekul-molekul
minyak. Tapi, pada salah satu ujungnya yang lain (atau "kepalanya") ada sepasang
atom yang muatan listriknya sedemikian hingga hanya senang bergabung dengan
molekul-molekul air, dan kepala inilah yang membuat seluruh molekul sabun
menyatu dengan air yang membuatnya dapat larut.

BAB V
PENUTUP

27
5.1 KESIMPULAN
Dari pengolahan data diatas, kita dapat menyimpulkan:
1. Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan
membersihkan. Setiap sabun dibuat melalui reaksi antara lemak dengan bahan
yang disebut alkali --basa yang sangat kuat (basa adalah lawan dari asam).
Karena dibuat melalui pencampuran sebuah senyawa organik (asam lemak)
dengan sebuah senyawa anorganik (alkali), molekul sabun mempertahankan
beberapa ciri keduanya. Molekul sabun mempunyai sebuah kaki organik yang
senang bergandengan dengan bahan-bahan organik berminyak, dan sebuah
kaki anorganik yang senang bergandengan dengan air. Itulah sebabnya sabun
memiliki kemampuan tiada banding dalam menarik kotoran berminyak dari
tubuh atau pakaian ke dalam air.
2. Dalam proses saponifikasi, lemak akan terhidrolisis oleh basa,
menghasilkan gliserol dan sabun mentah.
3. Titik akhir proses saponifikasi adalah trace. Trace merupakan suatu
kondisi pada saat cairan yang diaduk (minyak sawit) mulai mengental. Pada
saat ini biasanya ditambahkan pengharum, peawarna dan zat-zat aditif lainnya.
4. Bahan baku pembuatan sabun dapat berupa senyawa tripalmitin, asam
oksalat, maupun asam stearat.
5. Hasil percobaan yang diperoleh yaitu terbentuk campuran berwarna coklat
tua dan berbusa. Hal ini berarti telah terjadi perpisahan antara garam alkali
(sabun) dengan gliserol. Pada dasarnya gliserol tetap digunakan dalam
campuran sabun (tidak dipisahkan) agar kandungan gliserol dapat membantu
sabun dalam mengangkat benda asing yang akan dibersihkan.

5.2 SARAN

28
1. Pada proses pembuatan sabun sebaiknya menggunakan sampel CPO yang
telah mengalami pemurnian atau RBDPO karena kadar pengotor dalam
CPO sudah dikurangi bahkan dihilangkan.
2. Sebelum melakukan pengujian sebaiknya menggunakan peralatan
keamanan seperti masker, sarung tangan karet dan kaca mata jika
diperlukan. Para praktikan harus disiplin pada peraturan dan petunjuk yang
ada untuk bekerja di laboratorium.
3. Sebelum sampel minyak digunakan sebaiknya dipanaskan terlebih dahulu
pada suhu 70 oC dengan tujuan kadar air pada sampel minyak berkurang
sehingga mutu sabun yang dihasilkan menjadi lebih baik.
4. Pada saat melarutkan NaOH, jangan menuangkan air ke dalam NaOH
akan tetapi masukkanlah NaOH ke dalam wadah yang berisi air.

DAFTAR PUSTAKA

29
Satyawibawa, Iman dan Yustina Erna Widyastuti. 1992. Kelapa Sawit Dan
Pengolahannya. Jakarta: Ganesha Exacta.
Irawan, wira. 2006. Laporan Praktikum : Proses Reaksi Saponifikasi. Medan:
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi
Medan.
Anonim. 2008. Minyak dan Kolesterol. http://www.halalguide.info. Diakses pada
tanggal 28 Oktober 2009.
Andry. 2008. Teknologi Lemak Dan Minyak. http://www.pdf-search-engine.com.
Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Julianty, riza. 2008. Analisis Kadar Lemak. http://www.pdf-search-engine.com.
Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Ika. 2008. Penentuan Sifat Fisika Dan Sifat Kimia Minyak Kelapa Sawit.
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Pasaribu, nurhida. Minyak Buah Kelapa Sawit. Medan: Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatra Utara.
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Kelapa Sawit. http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2009.
Noer, Alfian. 2009. Pembuatan Sabun. http://alfiannoer.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 07 Desember 2009.
Sajaya, Qomari. 2008. Pembuatan Sabun Mandi Dengan Bahan Minyak atau
Lemak. http://qomari-sajaya.blogs.friendster.com/share. Diakses pada
tanggal 07 Desember 2009.
Membuat Sabun. http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 07 Desember
2009.
Sabun. http://www.majarimagazine.com. Diakses pada tanggal 07 Desember
2009.

30