Anda di halaman 1dari 6

ROKOK TIDAK DIBUTUHKAN

Tulisan ini saya tujukan khusus pada pembuat kebijakan di negeri ini yang dalam beberapa aspek justru
mengiring Indonesia ke lembah kehancuran [rokok]. Bagaimana tidak, setiap tahun pemerintah
mengenjot pemasukan APBN melalui pajak bea cukai dari industri merusak kesehatan dan
menghabiskan dana masyarakat untuk membakar uangnya sendiri.Policy yang dibuat tiga
departemen Pemerintah SBY pada tahun 2007, sungguh merupakan kebijakan yang membantu
menggiring Indonesia masuk ke era lost generation. Depkeu (Sri Mulyani), Depnaker dan Deptan
(Anton P kader PKS) mengagendakan Road Map Industri Hasil Tembakau dan Kebijakan Cukai
tahun 2007 hingga 2020, dimana produksi rokok yang pada 2007 2010 mencapai 240 miliar
batang akan digenjot sampai 260 miliar batang pada tahun 2015 2020. (Ref : VHRMedia )
Sungguh ironis, Pemerintah menggunakan jalan ini untuk meraup sumber pendapatan APBN dengan
berbagai cara aneh secara etika dan kepepet. Padahal pemerintah Amerika saja telah berusaha
mengurangi angka rokok pada era 1960-an yang cukup berhasil hingga saat ini. Dengan kebijakan
mengenjot penerimaan APBN dari pajak rokok, pemerintah secara tidak langsung mendorong industri
rokok semakin bergairah dan dari pintu ini industri rokok mempromosikan rokok segila-gilanya. Dan
akibatnya adalah setiap tahun jumlah remaja Indonesia (the future leaders of Indonesia) yang
terperangkap candu nikotin dan terjerat unworthed value activity bertambah besar. Bayangkan saja,
sejak 2004-2008, tiap tahun produksi rokok Indonesia meningkat berturut-turut, 194 miliar, 202
miliar, 220 miliar, 226 miliar dan 230 miliar batang.
Dari hasil survei lembaga Global Youth Tobacco Society pada tahun 2006 untuk wilayah Jawa
saja, hasilnya cukup memprihatinkan. 13.2% total

siswa Indonesia di Jawa merupakan

perokok dan tentu angka ini merupakan hoki bagi industri rokok untuk mengalihkan modal/uang
masyarakat untuk dibakar dengan sebatang demi sebatang rokok. Angka perokok kaum generasi pelajar
Indonesia cenderung meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2004 hingga 2008,
pertumbuhan produksi rokok Indonesia tumbuh pesat hingga 4.6% per tahun, jauh melebihi
pertambahan penduduk Indonesia yang hanya 1.4% per tahun. (Pertumbuhan Industri Rokok).
Dari segi usia perokok, data survei Global Youth Tobacco Survey 2004, mencatat bahwa prevalensi
perokok anak usia 13-15 tahun laki-laki 24,5% dan perempuan 2% dari total populasi Indonesia.
Sementara itu, tren usia inisiasi merokok menjadi semakin dini, yakni usia 5-9 tahun. Perokok yang mulai
merokok pada usia 5-9 tahun mengalami lonjakan yang paling signifikan, dari0,4% pada tahun
2001 menjadi 1,8% pada tahun 2004. Angka ini bertambah besar masa periode 2004-2008 ini.
Relevansi Rokok dengan Ekonomi

Seperti di kalimat pembuka saya di atas, alibi harus mempertahankan Industri rokok lebih lama bukanlah
kebijakan yang moralis sekaligus ekonomis. Tidak moralis karena rokok menjerumus manusia pada
kecanduan yang [sengaja] dibentuk sejak remaja dan bisa dipastikan mereka sulit untuk terlepas dari
asap nikotin. Dari fakta di masyarakat, seseorang menjadi perokok cenderung dibentuk sejak remaja atau
masih di bangku sekolah. Sedangkan seorang yang telah dewasa, hanya memiliki kemungkinan sangat
kecil untuk menjadi perokok baru. Jadi, pemula terbesar sekaligus calon potensial terbesar perokok
adalah kaum muda yang mendapat ilham dari iklan-iklan dan teman.
Sedangkan secara ekonomis, benar bahwa pemerintah meraup antara Rp 45-55 triliun per tahun dari
bea dan cukai produk tembakau seperti rokok. Namun, angka pendapatan APBN 55 triliun tersebut
sangatlah kecil dibanding modal/uang yang harus diinvestasi masyarakat untuk membeli rokok yang
melebihi Rp 115 triliun per tahun. ( 230 miliar batang * Rp 500 per batang). *saya menggunakan
harga rata-rata per batang rokok yang harus dikeluarkan masyarakat sebesar Rp 500 saja per
batang.
Saya menggunakan kata investasi dan modal pada kalimat di atas bermakna bahwa jika kebiasaan
merokok dikalangan remaja saat ini dihentikan, maka dalam 30-50 tahun Indonesia akan menjadi
negara kaya dimana setiap tahun penduduknya memiliki dana lebih 100 triliun yang dapat
digunakan investasi dibidang pertanian, kerajinan, energi alternatif, pendidikan dan
sebagainya. Jika pertumbuhan produksi rokok ditekan (diturunkan 2-3%), tiap tahun Indonesia
bersama penduduknya dapat menghemat 2-3 triliun rupiah. Angka ini akan terus meningkat hingga 3050 tahun mendatang yang mencapai 30-50 triliun per tahun (dimana jumlah perokok akan berkurang
jumlah new smokers berkurang).
Uang penghematan 2-3 triliun dari masyarkat dapat digunakan untuk membuka usaha baru diluar
industri

rokok.

Sehingga

mereka

yang

pada

awalnya

bergantung

pada

industri

(bermata

pencaharian), sedikit demi sedikit dan bertahap beralih ke industri mandiri masyarakat (dari 2-3
triliun per tahun tersebut). Dengan pembinaan komprehensif dalam bisnis dan usaha pada masyarakat
ini, maka dalam 20-30 tahun mendatang, sangat mungkin Indonesia menjadi negara dengan kekuatan
ekonomi kerakyatan yang besar di Asia bahkan Dunia.
Analisis Solusi : Alihkan Rp 115 triliun ke sektor lain
Seperti saya paparkan sebelumnya, berkembangnya industri rokok akan mengurangi capital masyarakat
untuk melakukan investasi jangka panjang. Jika setiap remaja diproteksi, maka uang yang akan
dikeluarkan para remaja untuk membeli rokok dapat dialihkan dalam bentuk tabungan, dan tabungan
tersebut digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan baru atau melanjukan jenjang studi yang lebih
tinggi. Sehingga dalam hal ini, sangat dibutuhkan peran pemerintah dan sekolah untuk mengedukasi
siswa-siswi agar menabung, berkreasi dan berwiraswasta dengan menghindari perilaku konsumtif yang
merugikan seperti merokok.

Bila para remaja tidak menjadi perokok baru, maka setiap tahun industri rokok akan tumbuh negatif.
Permintaan akan turun, sehingga kebutuhan akan tembakau pun akan turun 1-2% per tahun. Penurunan
permintaan tembakau dapat diikuti dengan mengalihkan 1-2% petani tembakau ke usaha perkebunan
lainnya, misalnya coklat, vanila, atau menjadi peternak. Selama pergantian mata pencaharian ini,
pemerintah dapat mendampingin para petani ini. Penurunan angka permintaan rokok, akan diikuti
pemutusan hubungan kerja buruh pabrik rokok secara bertahap 1-2% per tahun. Masalah pemutusan
hubungan kerja ini dapat diantisipasi dengan menciptakan value added dari industri alternatif baik dari
perkebunan maupun pembangunan UKM mandiri di pedesaan.
Namun sayangnya, pemerintah tampaknya tidak berniat melakukan usaha seperti di atas. Justru pilarpilar utama memproteksi generasi muda dari konsumsi rokok ternyata bertolak belakang dengan regulasi
pemerintah. Pemerintah melegitimasi iklan-iklan dengan budget ratusan miliar bahkan triliunan rupiah
oleh industri rokok untuk menjerat remaja agar mau merokok.
Memang

sangat

disayangkan

dengan

langkah

yang

diambil

pemerintah Megawati yang

mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 dan Undang-undang Penyiaran


Nomor 32 Tahun 2002 yang melegitimasi iklan rokok di televisi. Kebijakan senada pun
dilakukan pemerintah SBY-JK yang terus menargetkan pertambahan pajak bea cukai rokok yang
disertai peningkatan produksi rokok 2007-2020. Baik Mega maupun SBY terkesan tidak peka
pada efek negatif dari iklan rokok yang memperburuk kehidupan ekonomi dan kesehatan sebagian besar
penduduk Indonesia. Mereka terkesan hanya menjalankan negaranya ini berlandaskan sisi ekonomi
[memimpin negara layaknya seperti pengusaha, saudagar atau toke]. Sisi moralitas, efek jangka
panjang, dan mental sosial masyarakat seolah-olah tidak menjadi prioritas. Seolah-olah tidak
perlu membiayai layanan kesehatan akibat merokok. Seolah-olah umur Indonesia hanya di masa
pemerintah mereka saja, sehingga mereka menganggap wajar membantu perusahaan rokok agar anakanak Indonesia menjadi pecandu rokok di masa mendatang. Ingatmasyarakat [konsumen yang
tercandu rokok] Indonesia harus mengeluarkan lebih Rp 115 triliun untuk membakar asap rokok dan
menyebarin ke lingkungan.
Pada tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia (sensus 2000) adalah 206 juta jiwa yakni 201 juta
[terdata] + 5 juta [eror dan toleransi]. Pada tahun 2004, jumlah penduduk Indonesia 215 juta jiwa.
Sedangkan pada tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 228 juta jiwa.
Dari

perbandingan

dua

penduduk4.3%, namun
Sedangkan

selama

angka

tersebut,

pertumbuhan
4

tahun

selama 2000-2004,

meskipun

rokok turun hingga 8.9% selama

berikutnya,

2004-2008,

pertumbuhan

pertumbuhan
4

tahun.
penduduk

sekitar 6.0%diimbangi meningkatnya produksi hingga 18.6% selama 4 tahun.


Kebijakan Pemerintah SBY-JK maupun Megawati sebenarnya jauh dari cita-cita Presiden BJ
Habibie. Pada tahun 1999, Habibie mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) 81/1999 tentang

Penanggulangan Masalah Merokok bagi Kesehatan. Melalui PP ini, industri rokok cukup lesu, karena
pemerintah membatasi maksimum kandungan tar dan nikotin pada rokok serta melarang iklan rokok di
media massa, baik cetak maupun elektronik.
Kebijakan Pemerintahan Habibie untuk menangulangi rokok semakin tergerus sejak Pemerintahan
Abdurrhaman Wahid melalui PP 32/2000 dan diperparah PP 19/2003 dimasa Megawati. Dengan PP
19/2003, Pemerintahan Megawati menyuburkan kembali industri rokok di negeri ini. Sebenarnya
Menkes Achmad Sujudi di masa Pres. Megawati mengusulkan agar Indonesia mendukung FCTC, tapi
ditentang oleh menteri dibidang ekonomi seperti Menkeu Boediono, Mentan, Men. Industri, Men. Naker.
Dengan tetap membawa tim ekonomi pro-pasar/pemodal, maka pemerintahan SBY tetap melanjutkan
kebijakan buruk dala
Solusi
Tulisan ini lebih ditujukan pada pemerintah untuk menanggani perokok pemula yang didominasi kaum
pelajar siswa dan siswi Indonesia. Sedangkan rekan-rekan atau orang Indonesia (di atas 20 tahun) yang
telah menjadi perokok, kita tetap memberikan rekan-rekan akses untuk merokok. Asalkan mereka tidak
merokok di tempat umum seperti terminal, bus, halte, dan tempat-tempat publik umumnya. [saya tidak
mewacanakan penutupan pabrik rokok, tapi pengurangan produksi rokok secara bertahap ]
Jadi, mulai saat ini, atau pemimpin baru 2009 [jika pemerintah saat ini lebih menjadi saudagar
daripada negarawan], wajib mengurangi target pajak bea cukai secara degresif yang disertai penurunan
produksi rokok. Negara tidak boleh bergantung pada industri rokok. Sehingga negara wajib melarang
iklan-iklan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah di stasiun TV, billboard, koran dan sejensinya. Selain
itu, perusahaan diwajibkan membayar kompensasi merusak kesehatan masyarakat dengan membangun
fasilitas kesehatan, pengobatan dan sejenisnya.
Sehingga dalam waktu 30-50 tahun mendatang [ingat bukan saat ini, tapi bertahap], perusaahaan
rokok akan digantikan dengan perusahaan energi alternatif dan pertanian alternatif yang akan menyerap
lebih banyak tenaga kerja [ingat, secara bertahap.. bukan ditutup sekarang]. Jika program-program
pencegahan ini tidak dijalankan, dan bahkan peningkatan produksi rokok terus ditingkatkan, bukanlah
hal mustahil jika Pemerintah juga tergolong pecandu rokok. Yahpemerintah akan menjadi
sangat tergantung [baca:pecandu] dengan perusahaan rokok karena menguasai pangsa pasar sebagian
besar penduduk Indonesia. Ditambah dengan banyaknya penduduk yang sudah dan akan terlibat dalam
bisnis rokok ini. Dan jika industri rokok benar-benar dibiarkan terus tumbuh seperti ini, bukanah
mustahil perusahaan rokok akan mudah menggertak kebijakan ekonomi pemerintah. Bukanlah mustahil
jika Industri rokok dapat mendikte kinerja ekonomi pemerintah dalam perihal kebijakan pertanian
tembakau, perdagangan rokok dan sejenisnya[soalnya sudah terlalu besar pengaruhnya].

Sekian tulisan saya ini, jika ada kesalahan, tambahan dan masukan harap sampaikan di komentar artikel
ini. Saya tidak memberikan solusi bagi mereka [dewasa] yang menjadi perokok aktif. Bagi yang telah
menjadi perokok tetap, tentu tidak ada yang melarang Anda tetap merokok. Hanya saya berharap
mereka yang telah menjadi perokok aktif agar tidak mendorong orang lain untuk menjadi new smoker.
Biarlah kita [yang perokok] menjadi generasi terakhir merokok. Tanggung jawab kita bersama agar anakanak kita tidak merokok. Dan tujuan tulisan ini hanya lebih pada usaha mencegah generasi muda jatuh
dalam lingkaran rokok melalui instrumen pemerintah + sekolah + kesadaran menabung dan
berwiraswasta. Dan saya harapkan, semua dari kita dapat membantu sekeliling kita, kerabat kita, agar
tidak terjerumus ke lingkaran rokok. Baik dari segi kesehatan maupun ekonomi, merokok sangatlah rugi.
Bayangkan saja, seorang perokok menghabiskan lebih kurang 100 juta selama hidupnya
untuk membeli rokok(asumsi 1 bungkus per hari dengan Rp 7000 per bungkus dan merokok pada
usia 15-60 tahun ).
Akhir kata, tidaklah benar industri rokok sangat penting bagi negara jika ditinjau dari berbagai aspek baik
ekonomi, mental maupun kesehatan. Dengan pemberdayaan uang belanja (dialihkan dari belanja rokok),
maka masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang lebih makmur atau setidaknya angka kemiskinan
dapat turun. Dan saya berharap pemerintah lebih kreatif mencari sumber pendapatan negara, jangan
bergantung pada rokok. Langkah-langkah efektif dan cermat seperti optimalisasi sumber kekayaan laut
mampu menambahkan pemasukan hingga 50-100 triliun jauh diatas pajak cukai rokok. Bayangkan
saja, setiap tahun Indonesia mengalami kerugian hingga 20-30 triliun akibat illegal fishing, illegal
logging, dan pencurian hasil kekayaan laut lainnya oleh negara asing [Ref: DKP 2007]. Dan saat inilah,
pemerintah harus membuat kebijakan ekonomi kerakyatan dibidang pertanian,energi alternatif, dan
agrobisnis masyarkat sejak dini. Dan jangan lupa, pemerintah harus merevisi Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2003 dan Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002.
Jadi.kita tunggu, pemimpin yang berani dan berjiwa negarawan,bukan sekedar politis, saudagar
ataupun kekuasaan belaka.
Terima kasih Salam Perubahan,

1.
Nikotin
Zat ini mengandung candu bisa menyebabkan seseorang ketagihan untuk trus
menghisap rokok.
Pengaruh bagi tubuh manusia
a.
Menyebabkan kecanduan atau ketergantungan merusak jaringan otak
b.
Menyebabkan darah cepat membeku
c.
Mengeraskan dinding arteri

2.

Tar
Bahan dasar pembuatan aspal yang dapat menempel pada paru-paru dan bisa
menimbulkan iritasi bahkan kanker
Pengaruh bagi tubuh manusia
a.
Membunuh sel dalam saluran darah
b.
Meningkatkan produksi lendir diparu-paru
c.
Menyebabkan kanker paru-paru
3.

Karbon Monoksida
Gas yang bisa menimbulkan penyakit jantung karena gas ini bisa mengikat oksigen
dalam tubuh.
Pengaruh bagi tubuh manusia
a.
Mengikat hemoglobin, sehingga tubuh kekurangan oksigen
b.
menghalangi transportasi dalam darah
4.
a.
5.
a.
b.

Zat Karsinogen
Pengaruh bagi tubuh manusia
Memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh
Zat Iritan
Pengaruh bagi tubuh manusia
Mengotori saluran udara dan kantung udara dalam paru-paru
Menyebabkan batuk.

Sumber : http://infotercepatku.blogspot.com/2013/07/bahaya-dan-akibatmerokok-bagi-kesehatan.html#ixzz2wS19ilgk