Anda di halaman 1dari 13

BAB III

Radang dan Kesembuhan Luka

Oleh :

Dhirgo Adji

Radang

Radang adalah reaksi alamiah yang berupa respon vaskuler dan seluler dari
jaringan tubuh sebagai reaksi terhadap adanya stimuli. Adanya rangsang/ iritasi
akan menyebabkan munculnya respon neurogenik dan humoral (Celloti dan Laufer,
2001).

Kemampuan

tubuh

dalam

membuat

reaksi

radang

bertujuan

untuk

mendukung jaringan pada proses kerusakan, pertahanan terhadap serangan


mikroorganisme dan memperbaiki jaringan yang rusak serta proses kesembuhan
luka (NN, 2003). Walaupun efek inflamasi sering digambarkan menyebabkan
beberapa kerugian, namun proses tersebut tetap menguntungkan, antara lain
adalah pengaruhnya dalam menanggulangi pengaruh stres yang selalu ada dalam
kehidupan sehari-hari. Penyebab radang sangat banyak dan bervariasi, namun
pada umumnya radang merupakan proses respon imun terhadap mikroorganisme
penyebab infeksi. Beberapa penyebab radang lainnya adalah : trauma, operasi,
bahan kimia kaustik, pangs dan dingin yang ekstrem dan iskhemia (Baratawidjaja,
2002 ;NN. 2003).
Terdapat 2 tipe radang : (1) Akut (eksudatif): merupakan respon awal
terhadap gangguan, merupakan reaksi non spesifik dan mungkin menimbulkan pengaruh
yang fatal. Durasi biasanya pendek, umumnya terjadi sebelum respon immun menjadi jelas
dan ditujukan terutama untuk menghilangkan agen penyebab gangguan dan membatasi
jumlah jaringan yang rusak (2) Kronis (proliferatif): Berlangsung selama berminggu-minggu,
berbulan-bulan bahkan bisa bertahuntahun. Radang kronis bisa merupakan hasil
perkembangan radang akut. Ciri radang kronis adalah adanya infiltrasi sel mononuklear
(makrofag). limfosit dan proliferasi fibroblas. Agen penyebab biasanya merupakan iritan
yang mengganggu secara persisten namun tidak mampu melakukan penetrasi lebih dalam
atau menyebar secara cepat. Contoh konkret penyebab radang kronis antara lain : benda
asing, talk, silikon, asbes dan benang jahit operasi.

Universitas Gadjah Mada

Tujuan dari adanya keradangan secara umum adalah untuk mengeluarkan,


membuang dan menetralkan agen iritan. Efek samping keradangan adalah hipersensitif
akut, deformitas fibrotik, pembentukan keropeng, obstruksi dan pembatasan mobilitas.
Komponen reaksi keradangan berupa plasma, sei-sel darah dalam sirkulasi berupa
neutrofil, monosit, eosinofil, limfosit, basofil, platelet, komponen jaringan konektivus
seperti sel Mast ; Fibroblas dan makrofag dan jaringan ekstraseluler seperti : protein
penyusun jaringan fibrosa; kolagen; elastin; fibronektin; laminin dan pembuluh darah
(Celloti dan Laufer, 2001).

Gambar 1. Sebab-sebab keradangan akut (Baratawiwidjaja, 2002)

Tanda-tanda keradangan
Menurut Celloti dan Laufer (2001), keradangan akut ditandai dengan adanya warna
merah (rubor), sebagai hasil peningkatan aliran darah pada daerah radang/hiperemi; panas
(kalor) sebagai hasil hiperemi vaskuler; bengkak (tumor), sebagai hasil eksudasi seluler
dan cairan; sakit (dolor) disebabkan oleh adanya iritasi akibat tekanan dan adanya
produk metabolisme serta Kehilangan fungsi (functio laesa), karena fungsi jaringan
berjalan secara tidak normal. Gejala tersebut merupakan gejala umum sebagai
manifestasi yang berkaitan dengan proses konstriksii arteriola diikuti dengan dilatasi
yang melanjut dengan dilatasi kapiler dan venula; kongesti venula; peningkatan
permeabilitas pembuluh darah kecil; eksudasi cairan radang kaya protein (eksudat);
hemokonsentrasi , marginasi dan adesi sel darah, transmigrasi menembus venula,
kemotaksis, agregasi dan fagositosis.

Universitas Gadjah Mada

Terdapat 3 komponen histologis dasar pada daerah keradangan : (1) vaskularisasi


yang disertai peningkatan namun statis dari aliran darah yang menyebabkan panas dan
kemerahan, (2) eksudasi seluler terutama sel fagosit (neutrofil dan monosit) yang
menyebabkan kebengkakan dan (3) eksudasi cairan yang mengandung protein tinggi
(fibrinogen) menyebabkan kebengkakan disertai iritasi nervus yang menyebabkan sakit dan
gangguan fungsi.

Manifestasi keradangan
1. Radang akut
Manifestasi keradangan akut dibedakan menjadi 2 kategori : (a) respon vaskuler
dan (b) respon seluler. Respon vaskuler atau respon hemodinamik terjadi scat
timbulnya vasokonstriksi pembuluh darah kecil didaerah radang. Vasokonstriksi
akan segera diikuti vasodilatasi arteriola dan venula yang mensuplai daerah
radang. Sebagai hasil dari reaksi tersebut, maka daerah radang menjadi kongesti
yang menyebabkan jaringan berwarna merah dan panas. Bersamaan dengan itu,
permeabilitas kapiler akan meningkat, yang menyebabkan cairan berpindah ke
jaringan dan menyebabkan kebengkakan, rasa sakit dan gangguan fungsi.
Respon seluler pada keradangan akut ditandai dengan adanya proses fagositosis
dari sel darah putih (Celloti dan Laufer ,2001) .

2. Radang kronis
Berbeda dengan radang akut, radang kronis menciri dengan adanya infiltrasi sel
mononuklear termasuk makrofag, limfosit dan plasma sel; jaringan yang terdestruksi,
proliferasi pembuluh darah kecil (angiogenesis) dan fibrosis (Cotran dkk, 1994).

Mediator dan efeknya


lnflamasi akut terjadi akibat pelepasan berbagai mediator yang berasal dari
jaringan yang rusak, sel mast, leukosit dan komplemen. Meskipun pemicu keradangan
dapat berbeda-beda, namun jalur keradangan tetap sama, kecuali radang yang
disebabkan oleh reaksi alergi (Ig-E-sel mast) yang terjadi Iebih cepat dan dapat menjadi
sistemik. Mediator-mediator tersebut menimbulkan edema, kebengkakan, merah, sakit
dan gangguan fungsi organ/ jaringan yang terkena.
Jaringan yang rusak akan mengeluarkan mediator seperti trombin, histamin dan
TNFa. Mikroba dapat melepaskan endotoksin dan/ atau eksotoksin, yang mana
keduanya dapat memacu pelepasan mediator pro-inflamasi. Komponen bakteri LPS
(lipopolisakarida) komponen dinding sel bakteri gram negatif, apabila diinjeksikan dap at
menyebabkan munculnya berbagai sitokin pro-inflamasi seperti Interleukin (IL)-1, 6, 12,
Universitas Gadjah Mada

18, TNF- dan TNF-. Toksin bakteri juga menimbulkan kerusakan jaringan dan
melepaskan trombin, histamin, sitokin dan merusak ujung-ujung saraf. Mikroba juga
dapat mengaktifkan komplemen jalur klasik atau alternatif. Kejadian pada tingkat
molekuler/ seluler yang terjadi pada keradangan adalah vasodilatasi, peningkatan
permeabilitas vaskuler dan infiltrasi seluler. Hal tersebut berkaitan dengan kerja mediator
kimia yang disebarkan keseluruh tubuh dalam bentuk aktif maupun non aktif. Mediator
akan diaktifkan ditempat keradangan itu terjadi. TNF- dan IL-1 yang diproduksi
makrofag dan diaktifkan oleh endotoksin mikroba, juga berperanan dalam perubahan
permeabilitas vaskuler (Baratawidjaja, 2002).

Komplemen
Aktivasi komplemen terjadi melalui jalur klasik dan alternatif. Hal ini
berhubungan dengan tahap awal dari invasi bakteri Aktivasi komplemen akan
melepas

berbagai

mediator

seperti

C3a,

C4a

dan

C5a

yang

merupakan

anafilatoksin dan merangsang sel mast jaringan untuk melepas histamin dengan
efek pelebaran serta peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Cairan dan
protein

yang

keluar

dari

rongga

intravaskuler,

menimbulkan

edema

dan

kebengkakan. Vasodilatasi akan melambatkan aliran darah yang memungkinkan


timbulnya marginasi leukosit dan menempel pada endotel (Baratawidjaja, 2002).

Mediator

Asal

Histamin

Efek

Sel mast, basofil

Peningkatan permeabilitas

kontraksi

Otot polos, kemokinosis


1 5-Hidroksi triptamin
Platelet

activating

factor

Trombosit, mastosit

Permeabilitas vaskuler

Basofil,

Pelepasan

neutrofil,

makrofag

mediator

permeabilitas

dari trombosit,

vaskuler

meningkat,

kontraksi otot polos, aktivasi neutrofil


Neutrofil

Mastosit

Kemotaksis neutrofil

Chemokines

Leukosit

Merangsang kemotaksis

C3a

Komplemen C3

Degranulasi mastosit, kontraksi otot

chemotactic factor

polos
C5a

Komplemen C5

Degranulasi
neutrofil
neutrofil,

mastosit,

dan

kemotaksin

makrofag,

kontraksi

aktivasi

otot

polos,

permeabilitas vaskuler meningkat


Universitas Gadjah Mada

Bradikinin

Sistem kinin

Vasodilatasi,

kontraksi

otot

polos,

peningkatan permeabilitas, rasa sakit


Fibrinopeptida

dan

Sistem

penjendalan

Permeabilitas

vaskuler,

produk asal fibrin

darah

neutrofil dan makrofag

Prostaglandin E-2

Jalur siklooksigenase

Vasodilatasi,

kemotaksis

peningkatan

permeabilitas vaskuler oleh histamin


dan bradikinin
Leukotrin B4

Jalur Lipoksigenase

Kemotaksis
dengan

neutrofil,

prostaglandin

sinergistik
E2

dalam

meningkatkanpermeabilitas vaskuler
Leukotrin D4

Jalur lipoksigenase

Kontraksi otot polos,

permeabilitas

vaskuler meningkat
Tabel 1. Mediator pada inflamasi akut (Baratawidjaja, 2002).

Reaksi iaringan selama radang


Berdasarkan proses kimiawi dan kerjasama berbagai sel dan jaringan dalam
tubuh, penampakan perubahan jaringan selama keradangan dibedakan menjadi 3
stadium : (1). Stadium hiperemis : selama stadium ini, perubahan gambaran jaringan
disertai dengan aaanya dilatasi pembuluh darah setempat, peningkatan aliran darah
dan peningkatan aliran limfe. (2) Stadium stagnasi : Pada stadium ini aliran darah justru
menurun, namun tekanan setempat meningkat. Timbul eksudasi leukosit di jaringan
interseluler, perubahan sel menjadi fagosit dsan jaringan ikat setempat berubah
menjadi fibroblas. (3) Stadium Resolusi : Stagnasi sedikit demi sedikit berkurang,
sistem limfe kembali normal, deposit fibrin karena diserap leukosit dan munculnya
kapiler-kapiler darah yang baru.

Universitas Gadjah Mada

Gambar 2. Interaksi antara granulosit dan Kinin Pada keradangan (Thomson, 1978)

Kesembuhan Luka

Yang dimaksud dengan kesembuhan luka adalah proses pergantian sel-sel


atau jaringan rusak dan mati dengan jaringan yang sehat derivat parenkim at au
jaringan konektivus (Celluti dan Lauferb, 2001). Kesembuhan luka merupakan respon
alamiah terhadap jaringan yang rusak, merupakan interaksi dari cascade kompleks
dari sel-sel yang menghasilkan pembentukan jaringan baru sehingga jaringan yang
rusak akan kembali baik dan memiliki kekuatan seperti sedia kala (Romo, 2001).
Kesembuhan luka merupakan proses yang dinamis, interaktif yang melibatkan
mediator, sel-sel darah, matriks ekstraseluler dan sel-sel parenkim (Singer and Clarck,
1999). Proses kesembuhan luka ini secara umum dibedakan atas 3 fase (1)
Keradangan (2) Formasi jaringan dan (3) Pembentukan kembali jaringan luka (Singer
dan Ciarck, 1999) sedangkan Romo (2001) membedakan fase kesembuhan menjadi
(1) keradangan, (2) proliferasi dan (3) maturasi.

Universitas Gadjah Mada

Keradangan

Jaringan yang mengalami kerusakan menyebabkan disrupsi pembuluh darah


dan ekstravasasi darah ketempat luka. Darah yang membeku sebagai hasil hemostasis
dipergunakan untuk migrasi sel matriks ekstraseluler. Platelet tidak hanya memfasilitasi
formasi

proses

hemostasis,

namun

jugs

mensekresikan

beberapa

mediator

kesembuhan luka seperti PDGF (Platelet Derived Growth factor), yang mengaktivasi
makrofag dan fibroblas. Dalam keadaan tidak ada hemoragi, platelet tidak akan
bermanfaat terhadap kesembuhan luka. Berbagai vasoaktif mediator dan kemotaktik
faktor yang dihasilkan melalui proses koagulasi dan jalur faktor kemotaksis dan sel
parenkim aktif atau luka. Substansi ini akan menarik leukosit pada daerah luka (Singer
dan Clarck, 1999).

Gambar 3: Luka pada kulit hari ke-3 setelah luka (Singer dan Clarck, 1999).

Infiltrasi neutrofil akan membersihkan daerah luka terhadap adanya partikel


asing dan bakteri kemudian dihancurkan oleh proses fagositosis makrofag. Sebagai
respon terhadap kemoatraktan spesifik (protein matriks ekstraseluler, Transforming
growth factor , dan monocyte chemoattracttant-1), monosit juga menginfiltrasi tepi luka
kemudian menjadi makrofag aktif yang mengeluarkan growth factor seperti PDGF dan
VEGF (vascular endothelial growth factor) yang menginisiasi formasi jaringan granulasi.
Makrofag berikatan dengan protein spesifik dari matriks ekatraseluler melalui reseptor
integrin, yang selanjutnya akan menstimulasi fagositosis mikroorganisme dan fragmen
dari matriks ekstraseluler. Sitokin Iainnya seperti : transforming Growth factor,
transforming growth factor , lnterleukin-1 dan Insulin-like growth factor 1 juga
Universitas Gadjah Mada

diekspresikan oleh monosit. Monocyte dan Makrophag derived growth factor selalu
diperlukan untuk inisisasi dan propagasi formasi jaringan Baru di daerah Iuka

Gambar 4. Luka kulit pada hari ke 5 setelah luka (Singer dan Clarck, 1999).

Epitelialisasi
Reepitelialisasi dimulai dalam beberapa jam setelah luka. Sel epidermis kulit akan
mengeluarkan jendalan darah dan stroma yang rusak dari permukaan luka. Pada waktu
yang sama, sel akan berubah termasuk retraksi tenofilamen intraseluler; terputusnya
kebanyakan desmosoma interseluler yang memungkinkan adanya hubungan antar sel; dan
formasi filamen aktin sitoplasma perifer yang menyebabkan sel-sel bergerak. Selanjutnya
sel-sel

epidermis

dan

dermis

akan

lepas,

disebabkan

terputusnya

hubungan

hemidesmosomal dengan membrana basalis, yang memungkinkan sel epidermis dapat


bergerak ke lateral.

Universitas Gadjah Mada

Gambar

Reepitelialisasi pada luka kulit babi (Snger dan Clarck, 1999)

Ekspresi
berinteraksi

reseptor

dengan

integrin

berbagai

pada

protein

sel

epidermis

matriks

memungkinkan

ekstraseluler

untuk

(fibronektin

dan

vitronektin) yang akan berselang seling dengan kolagen stromal tipe-1 pada tepi luka
dan menjalin dengan jendalan fibrin pada ruang luka. Migrasi epidermis akan
memotong luka, memisahkan dan mengeringkan keropeng dari jaringan hidup.
Degradasi matriks ekstraseluler, yang dibutuhkan jika sel epidermis bermigrasi
antara kolagen dermis dan fibrin keropeng tergantung pada produksi kolagenase
oleh sel epidermis sebagaimana aktivasi plasmin oleh aktivator plasminogen yang
diproduksi oleh sel epidermis. Aktivator epidermis juga mengaktifkan kolagenase
(matriks metalloproteinase-1) dan memfasilitasi degradasi kolagen dan protein
matriks ekstraseluler. Satu sampai dua hari setelah luka, sel epidermis tepi luka
mulai

berproliferasi.

Stimulus

migrasi

dan

proliferasi

sel

epidermis

selama

reepitelialisasi mungkin berkaitan dengan tidak adanya sel tetangga p ada tepi luka
(the free edge effect) yang memberi sinyal untuk bermigrasi dan berproliferasi.
Keluarnya growth factor lokal dan meningkatnya ekspresi reseptor growth factor
kemungkinan juga akan menstimulasi proses ini. Menyebabkan persaingan termasuk
epidermal growth factor, transforming growth factor dan keratinocyte growth factor.
Seperti reepitelialisasi yang terjadi , protein membran basalis muncul kembali dengan
rangkaian yang urut dari tepi luka kearah dalam. Sel-sel epidermis kembali ke fenotipenya,
sekali lagi berada pada membrana basalis dan dermis.

Universitas Gadjah Mada

Formasi jarinqan granulasi

Stroma baru kemudian sering disebut sebagai jaringan granulasi, dimulai


dengan masuk ke ruang luka kira-kira 5 hari setelah luka. Berbagai kapiler
mendukung stroma baru dalam ujud jaringan granuler. Makrofag, fibroblas dan
pembuluh darah bergerak ke ruang luka dalam waktu yang sama. Makrofag menjadi
sumber grwoth factor yang perlu untuk stimulasi fibroplasia dan angiogenesis.
Fibroblas menghasilkan matriks ekstraseluler baru yang perlu untuk mendukung
pertumbuhan kedalam, dan pembuluh darah untuk mengangkut oksigen dan nutrisi
yang diperlukan untuk mendukung metabolisme sel. Growth factor, kususnya PDGF
dan TGF 1, bersama-sama dengan molekui matriks ekstraseluler memacu fibroblas
dari jaringan sekitar luka untuk berproliferasi, mengekspresikan reseptor integrin
yang sesuai dan berpindah kedalam ruang luka. Sebaliknya, PDGF mempercepat
kesembuhan luka pada kondisi radang kronis dan ulcer diabetes, sementara fibroblas
growth factor digunakan untuk menanggulangi gangguan kronis.
Struktur molekul yang baru dibentuk matriks ekstraseluler membentuk jaringan
granulasi yang berupa tangga-tangga atau pipa-pipa untuk migrasi sel. Molekul
tersebut termasuk fibrin, fibronektin dan asam hialuronat. Kenyataannya munculnya
fibronektin dan reseptor integrin yang sesuai akan mengikat fibronektin, fibrin atau
keduanya. Fibroblas bertanggung jawab untuk sintesis, deposisi dan remodelling
matriks ekstraseluler. Sel bergerak ke dalam jendalan darah atau melintasi fibrin atau
anyaman matriks ekstraseluler mungkin membutuhkan sistem proteolitik aktif yang
dapat memecah jalan untuk migrasi sel. Berbagai enzym derivat fibroblas sebagai
tambahan serum derivat plasmin juga merupakan kandidat yang berpotensi pada jalan
ini, termasuk aktivator plasminogen, kolagenase, gelatinase A dan stromelysin.
Setelah bermigrasi kedalam luka, fibroblas memulai sintesis matriks ekstraseluler.
Sedikit demi sedikit posisi matriks ekstraseluler diganti oleh matriks kolagen, kemungkinan
sebagai hasil aksi TGF 1. Fibroblas kemudian berhenti memproduksi kolagen, dan
fibroblas yang kaya jaringan granulasi ditempatkan oleh keropeng yaitu sel yang relatif
tanpa inti. Sel pada luka kemudian mengalami apoptosis yang dipacu oleh sinyal yang
tidak diketahui asalnya.

Neovaskularisasi
Formasi pembuluh darah baru sangat perlu untuk mendukung jaringan
granulasi yang baru. Angiogenesis merupakan proses yang kompleks berkaitan
dengan matriks ekstraseluler pada luka seperti halnya migrasi dan stimulasi mitogenik
sel endothel. lnduksi angiogenesis pada awalnya dilengkapi dengan fibroblas growth
Universitas Gadjah Mada

10

factor asam atau basa. Selanjutnya beberapa molekul akan ditemukan pada aktivitas
angiogenesis tersebut. Urutan kejadian angiogenesis adalah sebagai berikut : Luka
yang terjadi menyebabkan destruksi jaringan dan hipoksia. Faktor angiogenesis
seperti asam dan basa fibroblast growth factor selanjutnya dikeluarkan oleh makrofag
setelah sel rusak, dan produksi VEGF oleh sel epidermis yang distimulasi kondisi
hipoksia. Enzim proteolitik kemudian dikeluarkan kedalam jaringan konektif dari
protein matriks ekstraseluler terdegradasi. Fragmen dari protein ini akan menarik
monosit darah perifer ke tepi luka. Ketika monosit menjadi makrofag aktif, makrofag
akan mengeluarkan faktor angiogenesis. Makrofag-faktor angiogenesis menstimulasi
sel endotel untuk mengeluarkan aktivator plasminogen dan prokolagenase. Aktivator
plasminogen mengubah plasminogen menjadi plasmin, sedangkan prokolagenase
menjadi kolagenase aktif. Masing-masing protease kemudian bergerak ke membrana
basalis, fragmentasi membrana basalis memungkinkan sel endotel distimulasi oleh
faktor angiogenesis untuk berpindah dan membentuk pembuluh darah baru. Luka diisi
oleh jaringan granulasi baru, angiogenesis berhenti dan beberapa pembuluh darah
baru dihancurkan melalui proses apoptosis. Program kematian sel kemungkinan
diatur melalui berbagai molekul matriks seperti thrombospondins-1 dan 2, dan faktor
antiangiogenesis, seperti angiostatin, endostatin dan angiopoietin 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan luka.

Meskipun secara alamiah kesembuhan luka berjalan dengan sendirinya, banyak


faktor dapat mempengaruhi kesembuhan luka, sehingga mekanisme yang seharusnya
terjadi menjadi terhambat, sehingga kesembuhan berjalan lambat atau tidak terjadi
sama sekali. Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses kesembuhan luka antara
lain : (1) Faktor Umum : defisiensi protein, defisiensi vitamin A, defisiensi asam
askorbat, defisiensi Zn, obesitas, faktor genetik, anemia, leukopenia, hormon dan umur.
(2) faktor Lokal : Vaskularisasi lokal, trauma luka, hematoma, durasi operasi, infeksi,
adanya benda asing, jahitan yang tidak baik serta suplai nervus (Archibald, 1974).

Universitas Gadjah Mada

11

Gambar 6. Neovaskularisasi kulit babi (Singer dan Clarck, 1999)

Universitas Gadjah Mada

12

Pustaka Acuan

Archibald, J., 1974, Canine Surgery, 2 ed, 22-29.

Baratawidjaja, K.G., 2002, Imunologi Dasar, Edisi ke 5,Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta,314-325

Celloti, F and Laufer, S., 2001, Inflammation, Healing and Repair Synopsis, J. Phar. Res.,
Vol. 43, No. 5, 2001

Cotran, R.S., Kumar, V., and Robbins, S.L., 1994, Robbins Pathologic basis of
Disease, 5 ed, WB. Saunders Company, Philadelphia, London, toronto,
Montreal, Sydney, Tokyo,51-92.

NN,

2003,

Inflammation,

Tissue

repair

and

Fever

dalam

Connection.lww.com/go/porth, Chapter 9. halaman 150-167.

Romo III, T.,2001, Skin Wound Healing, JMS., sepetmber 10, 2001, Department of
Otolaryngology, Division of Plastic Surgery and reconstructive Surgery, New York
Eye and ear Infirmy,

Singer, A.J. and Clarck, R.A.F., 1999, Cutaneous Wound Healing, NEJM, Vol 341,
September 2, 1999, Number 10, pp. 738-746

Thomson, R.G., 1978, General Veterinary Pathology, W.B. Saunders Company,


Phyladelphia, London, Toronto, 152-211.

Universitas Gadjah Mada

13