Anda di halaman 1dari 34

BAB 1

PENDAHULUAN
A. PENDAHULUAN
Dalam rangka membina hubungan baik dengan lembaga Institusi Pendidikan yang
terkait dalam proses pembelajaran para mahasiswanya untuk praktik di Rumah Sakit
Islam Surabaya, diperlukan adanya pedoman pengelolaan pembelajaran klinik
keperawatan untuk menunjang dan memperlancar proses praktik klinik keperawatan.
Pengelolaan pembelajaran klinik dapat diartikan sebagai proses membelajarkan
peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan sesuai dengan
kewenangan tingkat pendidikannnya. Pembelajaran klinik merupakan satu kesatuan
proses pembelajaran yang dimulai dikelas dan dilanjutkan diklinik dimana klien berada
yakni meliputi pemahaman pengetahuan, ketrampilan dan sikap keperawatan dan proses
sosialisasi keprofesian ( Marifin Husin 1999 )
Komponen yang terkait dalam pembelajaran klinik adalah pembimbing klinik
( CE : Clinikal Edukator ), Lahan praktek, panduan praktek klinik, mahasiswa, evaluasi
praktek klinik.
Berikut ini akan dibahas tentang Pedoman Pengelolaan Pembelajaran Klinik, yang
didalamnya akan dibahas diantaranya : Pengertian pengertian istilah, Tujuan Bimbingan
Praktik Klinik, Persiapan Pembelajaran Klinik, Pembimbing klinik, Konsep Rancangan
Praktik Klinik, Metode Penugasan praktik Klinik, Evaluasi Pembelajaran Klinik, dan
Ketentuan di Lahan praktek yakni di RSIS.
B. TUJUAN
Program praktek merupakan kelanjutan dari belajar di kelas yang berupa teori dan
laboratorium, untuk itu praktek yang dilaksanakan harus bisa mengakomodasi tujuan
instruksional pembelajaran yang ditetapkan oleh institusi pendidikan seoptimal mungkin.
Sehingga tujuan dari bimbingan klinik pada saat peserta didik menjalani praktek klinik
diantaranya sebagai berikut :

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-1-

1. Tujuan Umum
Setelah melaksanakan kegiatan praktik klinik keperawatan peserta didik diharapkan
mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien sesuai dengan tujuan yang telah
ditentukan.
2. Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan praktik klinik keperawatan, peserta didik mampu membuat
asuhan keperawatan sesuai dengan tujuan yang meliputi :
1. Melaksanakan pengkajian.
2. Merumuskan diagnosa keperawatan.
3. Menyusun rencana tindakan keperawatan
4. Melaksanakan rencana keperawatan / Implementasi
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan
C. SASARAN
Seluruh pembimbing klinik di RS Islam Surabaya

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-2-

BAB 2
KONSEP DASAR
PEMBIMBING KLINIK KEPERAWATAN
2.1 PENGERTIAN PENGERTIAN ISTILAH
a. Pembelajaran Klinik atau Pengajaran klinik adalah suatu proses belajar mengajar
untuk mencapai kompetensi klinik sesuai dengan kurikulum
b. Instruktur klinik / Clinikal Edukator ( CE ) adalah
Model yang akan dicontoh oleh peserta didik selama masa praktek di klinik
dan merupakan

seseorang yang bertanggungjawab dan berkewajiban

melaksanakan pengajaran klinik. Idealnya ratio pembimbing dan peserta didik


adalah 1 : 1 yang disebut preceptor.
Seseorang yang melaksanakan bimbingan pembelajaran klinik dalam bentuk
tindakan edukatif untuk memberikan pengalaman nyata dan membantu peserta
didik secara optimal agar mereka dapat mencapai kompetensi

yang

ditetapkan.
c. Bimbingan praktek klinik adalah segala bentuk tindakan edukatif yang dilaksanakan
oleh instruktur klinik untuk memberikan pengalaman nyata secara optimal dan
membantu peserta didik agar mereka dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.
d. Sarana Pembelajaran klinik adalah tempat mahasiswa mengaplikasikan teori kedalam
pengalaman belajar klinik yang sering disebut lahan praktik, adapaun dalam pedoman
ini yang di maksud lahan praktik adalah di Rumah Sakit Islam Surabaya.
e. Mahasiswa atau Peserta didik adalah seorang yang sudah dinyatakan boleh mengikuti
praktek klinik dilahan praktek sesuai persyaratan yang sudah ditentukan oleh pihak
institusi pendidikan dan lahan praktik.
f. Pedoman pembelajaran klinik adalah sebuah buku yang berisi tuntunan pembelajaran
dan kompetensi kompetensi yang akan dicapai oleh mahasiswa selama proses
pembelajaran klinik. Pedoman pembelajaran disusun oleh pembimbing dan
disesuaikan dengan kompetensi serta kewenangan lulusan keperawatan. Buku
pedoman dibawa oleh mahasiswa pada saat praktik klinik
g. Rancangan Praktik Klinik.
Adalah suata perencanaan yang harus dilakukan oleh pembimbing klinik (CE)
sebelum peserta didik melakukan kegiatan di rumah sakit atau tatanan pelayanan
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-3-

lainnya agar saat pembimbingan pembimbing klinik sudah mempunyai konsep yang
jelas dalam melakukan pembimbingan pada peserta didik.
h. Metode Penugasan
Suatu bentuk bimbingan yang diberikan kepada peserta didik dengan memberikan
kegiatan mandiri. Peserta didik melaksanakan kegiatan memberikan askep sesuai
dengan kasus yang ditunjuk serta sesuai dengan target pencapaian tujuan.
i. Evaluasi adalah proses perubahan pendidikan pada diri peserta didik yang yang
dinamis, terus menerus dan saling terkait dengan proses belajar mengajar yang yang
menekankan pada adanya hubungan perkembangan peserta didik. Evaluasi dapat juga
kumpulan keterangan atau data yang sistematis untuk menetapkan apakah terjadi
perubahan tertentu pada individu yang akan diambil data sesuai dengan tingkat
perubahan yang telah ditetapkan ( Reilly, D.E dan Oermann, M.H, 1985 ).

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-4-

BAB 3
PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KLINIK KEPERAWATAN
DI RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA
3.1 PERSIAPAN ADMINISTRASI
3.1.1

Kesepakatan Kerja Sama (Memorandum of Understading)

Untuk dapat mengakomodasikan tujuan praktek yang sudah ditetapkan oleh institusi
pendidikan maka lahan praktek (RSIS) perlu membuat nota kesepakatan dengan institusi
pendidikan untuk menyepakati hal-hal yang berkaitan dengan program praktek yang
meliputi :
1.

Hak dan Kewajiban.

2.

Program praktek yang diselenggarakan.

3.

Instrumen-instrumen yang disepakati.

4.

Surat pemberitahuan tentang praktik klinik dari pendidikan ( 1 bulan sebelum


pelaksanaan praktik klinik ).

Dengan penandatanganan nota kesepakatan ini diharapkan dapat terjalin kerjasama saling
menguntungkan antara institusi pendidikan dengan rumah sakit.
3.1.2 Penentuan kompetensi pembelajaran
a. Terdapat tujuan praktik klinik yang jelas dari pihak pendidikan.
b. Adanya target kompetensi berdasarkan skala yang ditetapkan oleh pihak pendidikan yang
disesuaikan dengan kondisi RSIS.
c. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan metode pembelajaran yang disepakati antara
pendidikan dan RSIS.
d. Kontrak waktu kegiatan praktik klinik disesuaikan dengan target kompetensi yang sudah
ditentukan .
e. Terdapat instrumen penilaian pencapaian kompetensi.
f. Adanya pengorganisasian pembelajaran klinik.
3.1.3

Persiapan peserta didik

a. Telah mendapatkan teori dan lulus ujian laboratorium.


b. Telah mengikuti kegiatan pembekalan dari pendidikan.
c. Memiliki buku panduan pembelajaran klinik dari pendidikan.
d. Menyusun kontrak belajar.
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-5-

3.1.4

Persiapan pembimbing klinik RSIS

Membuat rancangan praktek klinik yang meliputi diantaranya :


a. Menentukan tujuan yang akan dicapai oleh peserta didik
b. Membuat jadwal peserta didik
c. Menentukan jumlah peserta didik
d. Target pencapaian kompetensi berdasarkan skala kompetensi
e. Pengorganisasian peserta didik
f. Metoda yang digunakan dalam pembelajaran klinik
g. Mekanisme, strategi dan proses penilaian
3.2 PEMBIMBING KLINIK / CLINICAL EDUKATOR ( CE )
3.2.1

KRITERIA PEMBIMBING KLINIK / CLINICAL EDUKATOR ( CE ) RSIS


Perawat yang ditunjuk oleh pimpinan Rumah Sakit Islam Surabaya yang dianggap
mampu dalam membimbing praktik keperawatan di Rumah Sakit Islam Surabaya.
Persyaratan / kemampuan yang harus dimiliki pembimbing praktik ( CE ) adalah :
a). Persyaratan Profesional
-

Lulusan

S-I

Keperawatan

atau

D-III

Keperawatan/ Kebidanan
-

Dapat sebagai Role model yang baik

Memiliki kompetensi pada unit kompetensi


yang diujikan

Latar belakang profesi harus sesuai dengan


program / sesuai dengan bidang kerjanya

Berasal dari unit pelayanan yang digunakan


sebagai lahan praktik

Pengalaman klinik minimal 5 tahun termasuk


1 tahun di area klinik yang dikelola

Mempunyai Sertifikat Clinical Edukator ( CE )

Bersedia

mengembangkan

diri

untuk

mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan pelayanan keperawatan


b) Persyaratan Pribadi
-

Mempunyai minat sebagai CE

Mempunyai komitmen

Dapat memahami dan memotivasi mahasiswa dalam mencapai tujuan belajar.

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-6-

Mempunyai perhatian dan minat baik terhadap individu maupun terhadap


mahasiswa

Mempunyai sifat bersahabat dan penuh semangat

Bersedia menerima pendapat orang lain

Ada kemauan mengembangkan karier

Mempunyai etika baik / kepribadian yang menarik

c). Persyaratan Sosial


-

Mampu mengkomunikasikan bimbingannya dengan jelas

Dapat menjadi teladan bagi mahasiswa

Dapat menjalin hubungan baik dan dapat bekerja sama dengan tim kesehatan
lain

Mau menghadiri rapat koordinasi pembimbing klinik yang dilaksanakan oleh


Diklat maupun Asisten Wadir Klinik Bidang Keperawatan

3.2.2

PERAN PEMBIMBING KLINIK / CLINICAL EDUKATOR( CE ) RSIS


Peran merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang
sesuai dengan kedudukan dalam system, dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan
social baik profesi keperawatan maupun luar profesi keperawatan. Peran pembimbing
klinik dapat terdiri dari peran sebagai advokad, coordinator, educator, konsultan,
pembaharu. Pembimbing klinik keperawatan diharapkan dapat memfasilitasi
perkembangan kognitif, efektif dan psikomotor dari mahasiswa perawat dengan
menjalankan berbagai peran sebagai pembimbing klinik secara maksimal.
1. Peran sebagai advocad
Peran ini dilakukan pembimbing klinik dalam membantu mahasiswa
mempertahankan dan melindungi hak mahasiswa atas pelayanan yang baik

dan kesempatan melakukan praktek klinik keperawatan.


Menjembatani hubungan antara staf lahan praktik/perawat dan mahasiswa
untuk mempermudah mahasiswa mendapatkan kesempatan praktik.

2. Peran sebagai educator/fasilitator


Sebagai pengajar klinik yang berkualitas: memiliki pengetahuan yang
memadai; sikap yang sesuai; trampil dalam bidangnya; mampu berkomunikasi
secara efektif dan menggunakan dirinya sebagai role model yang tepat yang
sering kali ditiru oleh mahasiswa.

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-7-

Terlibat langsung dalam proses pendidikan baik di institusi pendidikan

keperawatan maupun institusi pelayanan kesehatan


Pembimbing perlu menjadi pengamat atau observer untuk mengumpulkan
informasi tentang bagaimana peserta didik mengunakan kelompoknya serta
memberikan umpan balik yang konkrit mengenai anggota kelompok secara

keseluruhan.
Melakukan evaluasi terhadap mahasiswa selama melakukan praktik klinik

keperawatan sesuai kondisinya.


Membantu mahasiswa mempertinggi pengetahuan dalam melakukan asuhan

keperawatan mulai dari tahap pengkajian-evaluasi


Mengikuti perkembangan keperawatan

3. Peran sebagai coordinator


Mengadakan pertemuan secara periodic dengan peserta didik dan pembimbing

dari institusi pendidikan


Mengatur dan member pengarahan secara langsung kepada mahasiswa

sebelum, selama dan sesudah praktik


Menguasai situasi yang ada dilahan praktik
4. Peran sebagai konsultan
Tempat konsultasi terhadap masalah yang dialami peserta didik dalam

melakukan asuhan keperawatan kepada pasien.


Tempat konsultasi terhadap masalah yang dialami peserta didik diluar maslah
pemberian asuhan keperawatan pada pasien sepanjang masih berhubungan
dengan praktik klinik keperawatan yang dilakukan mahasiswa serta masih
dalam lingkup wewenangnya. Peran ini dilakukan atas permintaan mahasiswa
terhadap informasi tentang praktik keperawatan yang dilakukan.

5. Peran sebagai pembaharu (change Agent)


Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan
ulang praktik klinik keperawatan berdasarkan pada hasil evaluasi praktik

klinik sebelumnya
Mengadakan kerja sama dengan institusi pendidikan yang membuat perubahan
dalam praktik klinik keperawatan untuk kepentingan mahasiswa dan lahan

praktik
Mengadakan perubahan yang sistematis dan terarah terhadap metode

bimbingan, evaluasi praktik yang di anggap kurang tepat


Melaukan penelitian yang sesuai dengan tujuan dan prioritas tatanan klinik
serta peningkatan kemampuan mahasiswa dilahan praktik

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-8-

3.2.3 METODE BIMBINGAN KLINIK


Bimbingan klinik dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan praktik
profesionalnya, untuk itu pembimbing klinik harus membekali diri dengan pengetahuan dan
keterampilan dalam melakukan metoda bimbingan yang efektif dan berkualitas. Penetapan
bimbingan klinik yang tepat akan memberikan kepuasan bagi peserta didik sehingga
termotifasi untuk menjalankan prinsip sehinggaa akhirnya dapat membantu meningkankat
kualitas dalam pemberian asuhan keperawatan.
Agar metoda pengajaran bimbingan berhasil diterapkan di klinik maka perlu pertimbangan
dalam memilih metoda bimbingan yaitu :
1. Waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan metoda bimbingan dan waktu untuk
mempersiapkan metoda tersebut.
2. Tempat dan perlengkapan alat-alat yang dibutuhkan.
3. Biaya yang dibutuhkan.
4. Jumlah peserta didik yang efektif untuk penerapan metoda.
Metode bimbingan yang umum dilakukan di Indonesia :
1.

Konferensi

Konferensi adalah bentuk diskusi kelompok tentang beberapa aspek klinik yang bertujuan
untuk menyelesaikan masalah (Keliat,2003).
Manfaat :
- Peserta didik dapat mengemukakan pendapat melalui proses pemecahan masalah,
- Segera menerima umpan balik dari kelompok dan pembimbing.
Hubungan antara pembimbing dan peserta didik dalam kelompok sangat penting untuk
meningkatkan kelancaran diskusi, perasaan aman peserta didik dalam kelompok dengan
peserta lain.
Konferensi yang sesuai dengan metode bimbingan di klinik adalah :
a. Konferansi awal (Pre Conference)
Konferensi awal adalah diskusi tentang persiapan peserta didik untuk pengalaman
praktik di klinik, membantu peserta didik dalam pengenalan masalah dan evaluasi.
Konferensi awal dapat dilakukan secara individual atau kelompok tergantung kebutuhan
peserta didik, pilihan pembimbing dan keadaan lahan praktik.
b. Konferensi akhir (Post Confernce)
Konferensi akhir adalah diskusi tentang penyelesaian masalah klien, evaluasi
perkembangan klien dan pengalaman praktik.
Konferensi ini dilakukan pada akhir praktik.
Pelaksanaan konferensi adalah :
1. Konferensi dipimpin oleh satu pembimbing klinik, jika memungkinkan didampingi
oleh pembimbing klinik yang lain.
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

-9-

2. Upayakan pembimbing yang sama memimpin konferensi awal dan konferensi akhir.
3. Lama konferensi berkisar 30-60 menit disesuaikan dengan kondisi pembimbing klinik
dan ruangan praktik
4. Pembimbing mengidentifikasi masalah atau kebutuhan yang ingin didiskusikan oleh
peserta didik.
5. Pembimbing memotivasi peserta didik lain untuk member pendapat dan umpan balik
untuk pemenuhan kebutuhan atau penyelesaian masalah.
6. Pembimbing menyimpulkan dan menambah informasi sehingga peserta didik
mendapat informasi lengkap.
2. Bed side teaching
Bed side teaching adalah metode bimbingan klinik untuk meningkatkan kemampuan
psikomotor peserta didik pada praktik keperawatan.
Cara pelaksanaan :
a. Diskusikan tentang tindakan dan tujuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh
peserta didik. Umumnya dikaitkan dengan proses keperawatan yang ditetapkan.
b. Tentukan metode yang digunakan adalah observasi, kunjungan dan demonstrasi.
c. Pembimbing klinik memberikan contoh langsung pada situasi nyata, peserta didik
melihat kemudian melakukannya.
d. Pembimbing klinik mengobservasi kegiatan atau tindakan keperawatan yang dilakukan
oleh peserta didik.
e. Setelah selesai pembimbing klinik mengajak peserta didik mengevaluasi tindakan yang
telah dilakukan dan memberi umpan balik.

3. Penugasan klinik.
Penugasan adalah penempatan peserta didik pada tempat praktik dengan tujuan memberikan
pengalaman praktik klinik yang nyata sebagai tempat mengembangkan keterampilan
professional.
Manfaat penugasan klinik :
Membantu peserta didik menggunakan konsep-konsep dan teori-teori dalam praktik,
Mempelajari cara belajar,
Mengembangkan keterampilan untuk memprioritaskan tindakan,
Memecahkan masalah
Mengambil keputusan.
Pelaksanaan penugasan klinik adalah :
a. Membuat kontrak yang jelas dengan peserta didik tentang penugasan klinik yang akan
dilakukan seperti :
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 10 -

Lamanya waktu penugasan klinik,


Kompetensi yang harus dicapai (kehadiran, target, ceklist, laporan kasus),
Metode bimbingan dan
Metode evaluasi yang akan dilakukan.
Penugasan membuat laporan tertulis dapat dilakukan sebagi persiapan praktik klinik

atau bersamaan.
2) Setiap kelompok terdiri dari 8 orang peserta didik, masing-masing kelompok dibimbing
oleh satu orang pembimbing.
Metode yang digunakan dalam penugasan klinik adalah : Diskusi kelompok.
Tujuan : Untuk membahas masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan yang ditemukan
dalam praktik klinik keperawatan.
Pelaksanaan diskusi kelompok adalah :
a. Diskusi kelompok sebaiknya dilakukan pada pertengahan praktik klinik keperawatan
pada hari tersebut dan dipimpin oleh satu orang pembimbing yang berfungsi sebgai
fasilitator.
b. Mendiskusikan keberhasilan dan kesulitan dalam melakukan asuhan keperawatan kepada
klien maupun isu-isu yang terkait dan menstimulus peserta didik untuk mencari
penyelesaian.

3.2.4 KONSEP RANCANGAN PRAKTEK KLINIK


Sebelum melakukan bimbingan kepada peserta didik, Clinikal Edukator ( CE ) harus
mepersiapkan diri dengan membuat rancangan praktek klinik pada peserta didik,
adapun konsep dalam pembuatan rancangan klinik tersebut adalah sebagai berikut :
1

Fase Persiapan :
a.

Merencanakan ketrampilan & kompetensi yang

akan dicapai
b.

Menyiapkan alat evaluasi

c.

Menentukan kasus

d.

Perkenalan

2. Fase pelaksanaan
Kontrak belajar dan mengakaji kemampuan peserta didik
3. Fasse Kerja :
a. Orientasi
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 11 -

b. Memberi kasus sesuai target ketrampilan yang akan dicapai


c. Melaksanakan bimbingan ( bed side teaching )
d. Menggali masalah yang ada dan diskusi untuk penyelesaian masalah
keperawatan
e. Menjelaskan tekhnik Keperawatan yang sudah dan yang akan belum dicapai
f. Melaksanakan evaluasi pencapaian tujuan praktek klinik
4. Fase Evaluasi meliputi :
a. Merefleksi hasil praktek klinik
b. Menggali keunggulan dan kelemahan
c. Peer review dan self evaluation
3.2.5 FASE PELAKSANAAN BIMBINGAN KLINIK
1) Fase Persiapan
*

Memberikan informasi tentang kasus terpilih

Mengorientasikan peserta didik yang meliputi :


- Ruangan dan alat-alat perawatan
- Staf perawat, dokter, dan non perawat yang ada diruangan
- Lain-lain yang dianggap perlu dalam menunjang kegiatan praktik.

Menempatkan peserta didik dengan membuat jadwal penempatannnya, termasuk


menentukan dinas jaga diruang perawatan dengan memperhatikan tujuan
praktik.

2) Fase pelaksanaan
*

Memberikan bimbingan langsung kepada peserta didik

Menerapkan metode bimbingan bervariasi

Mendampingi peserta didik sesuai tingkat kemandiriannya

Memberi sanksi kepada mahasiswa yang melakukan kesalahan sesuai aturan


yang telah disepakati

Melaporkan ke Diklat bila ada masalah dalam pelaksanaan praktik termasuk


pelanggaran disiplin.

Melaksanakan pre conference conference - post conference

3) Fase Evaluasi
*

Menganalisa laporan peserta didik

Memberikan nilai terhadap target pencapaian kompetensi

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 12 -

Mengirimkan hasil penilaian, absensi mahasiswa ke Diklat melalui Asisten


Bidang keperawatan.

*
3.2.6

Memberikan umpan balik atau tindak lanjut dari hasil evaluasi.

EVALUASI BIMBINGAN KLINIK

Evaluasi pembelajaran klinik keperawatan dimaksudkan sebagai proses untuk menentukan


apakah tahapan-tahapan kemampuan klinik keperawatan telah dicapai oleh peserta didik
sesuai dengan jenjangnya. Evaluasi klinik yang dilakukan secara tertulis, observasi,
wawancara dan penerapan OSCE (Objektif Struktural Clinical Evaluation)
A.

KONSEP EVALUASI BELAJAR PERFORMA KLINIK

Evaluasi hasil pendidikan adalah proses sistematis untuk mengetahui tingkat


pencapaian tujuan pendidikan yang terdiri dari kegiatan mengukur dan menilai.
Mengukur adalah kegiatan mengamati penampilan peserta didik berdasarkan indicator
yang telah ditetapkan, menggunakan alat dan metode pengukuran tertentu.
Menilai adalah membandingkan hasil pengukuran penampilan peserta didik dengan
kriteria keberhasilan yang ditetapkan.

Menurut W. Galo terdapat 4 ciri evaluasi dalam pengajaran :


1. Mengukur perubahan
Jika dihubungkan dengan tujuan pengajaran, maka perubahan yang diinginkan oleh
program pengajaran adalah meningkatkan kemampuan keterampilan motorik
2. Bukti-bukti yang dikumpulkan sebagai dasar penilaian dan evaluasinya. Bukti
tersebut perlu dideskripsikan secara jelas.
3. Pengukuran terhadap bukti-bukti yang dideskripsikan tersebut.pengukuran ini bersifat
kuantitatif dengan hasil pengukuran berupa skoring
4. Pengambilan keputusan
Berdasarkan hasil pengukuran, akhirnya perlu diambil suatu keputusan lulus dan tidak
lulus.
Evaluasi klinik adalah kegiatan hasil pendidikan yang dilaksanankan diklinik atau
tatanan tempat penbelajaran klinik mahasiswa untuk mengetahui pencapaian
kompetensi yang harus dimiliki.
B. TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 13 -

a.

Untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai ketrampilan atau pengetahuan


dasar tertentu

b.

Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam


belajar

c.

Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik

d.

Sebagai feedback
Siswa dapat :
Mengetahui kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan diwaktu
yang lampau, sehingga kelemahan-kelemahan tersebut dapat diperbaiki
dan kekuatan-kekuatan dapat ditingkatkan
Mengetahui apakah ia belajar sesuai dengan kemampuannya
Mengetahui apakah ia telah mempelajari apa yang seharusnya dipelajari
dan dalam mempelajarinya itu apakah menggunakan cara-cara yang
tepat

Macam Evaluasi dikelompokkan menurut tujuan instruksional : (Suciati, 1997)


1. Aspek kognitif
Adalah kemampuan berfikir mencakup intelektual yang sederhana sampai yang
kompleks. Kemampuan yang dinilai :
Mengetahui
Memahami,
Menerapkan,
Menganalisa,
Melakukan,
Sintesa
Evaluasi
2. Aspek afektif
Berhubungan dengan perasaan, emosi, system dan sikap yang menunjukkan
penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu.
Kememapuan yang dinilai adalah :
Proses sikap tertentu
Tingkah laku.
Respon
3. Aspek psikomotor
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 14 -

Psikomotor adalah ketrampilan motorik atau tindakan yang memerlukan koordinasi


antara syaraf dan otot.
C. CIRI-CIRI TES YANG BAIK
1. Sahih (valid)
Evaluasi dikatakan valid apabila dapat mengukur apa yang sebenarnya diukur.
Apabila yang diukur adalah sikap, tetapi evaluasi mengukur pengetahuan makan
evaluasi tersebut tidak valid. Untuk mendapatkan tes yang valid, isi dan
kedalaman tes perlu disesuaikan dengan tujuan atau sasaran belajar.
2. Dapat dipercaya (realibel)
Evaluasi dapat dikatakan realibel jika alat yang sama dilakukan tehadap kelompok
siswa yang sama beberapa kali dalam waktu yang berbeda-beda atau situasi yang
berbeda-beda akan memberikan hasil yang sama
3. Obyektif
Evaluasi dikatakan obyektif jika tidak mendapat pengaruh subyektif atau unsur
pribadi dari pihak penilai. Suatu tes dikatakan memiliki obyektifitas apabila dalam
melaksanakan tes ini tidak ada factor luar yang mempengaruhi.
4. Seimbang
Keseimbangan ini meliputi keseimbangan bahan, keseimbangan kesukaran dan
keseimbangan tujuan. Bahan harus seimbang diantara berbagai pokok bahasan.
Keseimbangan dalam kesukaran artinya antara yang mudah, sedang dan sukar
harus dalam proporsi yang tertentu. Keseimbangan tujuan adalah keseimbangan
dalam

berbagai

matra

dalam

kawasan

tertentu

antara

penngetahuan

pemahamana.,aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi dalam kawasan matra


kognitif yang harus disusun dalam proporsi tertentu.
5. Membedakan
Suatu evaluasi harus dapat membedakan prestasi individual diantara sekelompok
siswa. Evaluasi harus dapa membedakan siswa yang sangat berhasil, cukup
berhasil, kurang berhasil, gagal dan sebagainya.
6. Norma
Evaluasi yang baik, hasilnya mudah ditafsirkan. Hal ini menyangkut tentang
adanya ukuran atau norma tertentu untuk menafsirkan hasil evaluasi dari setiap
siswa.
7. Fair
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 15 -

Evaluasi yang fair mengemukakan persoalan-persoalan dengan wajar, tidak


bersifat jebakan dan tidak mengandung kata-kata yang bersifat menjebak.
Disamping itu terdapat keadilan untuk setiap siswa yang dievaluasi.
8. Praktis
Baik ditinjau dari segi pembiayaan maupun dari segi pelaksanaan, evaluasi harus
efisien dan mudah dilaksanakan.
D.

ASPEK YANG DINILAI


Menurut Bradshaw ( 1989 ), aspek yang perlu di evaluasi pada performan klinik
meliputi 4 ketrampilan :
1. Kemampuan Sosial
- Bekerja dengan sejawat
- kesadaran diri
2. Ketrampilan berkomunikasi
- Berbicara dan mendengar
- Membaca dan menulis
3. Ketrampilan praktek
- Menggunakan alat
- Teknik aseptic
- Pemberian Obat
4. Kemampuan mengambil keputusan
- Asuhan Keperawatan
- Manajemen
- Pendidikan kesehatan

E. METODA EVALUASI KLINIK


1. OBSERVASI
Untuk mengevaluasi penampilan psikomotor, sikap perilaku, interaksi baik verbal
maupun non verbal. Untuk mengurangi kecenderungan subyektivitas, metoda
observasi perlu didukung dengan perangkat evaluasi berupa :
- Kejelasan aspek yang dinilai dan pemberian nilai (score), alat evaluasi dapat
-

berupa chek list


Pemberian umpan balik dilakukan segera setelah observasi dilaksanakan disertai
proses diskusi. Hal ini dilakukan untuk validasi dan klarifikasi terhadap kwalitas
penampilan yang dievaluasi

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 16 -

- Dinilai lebih dari satu orang


2. TERTULIS
Metoda tertulis dilaksanakan untuk mengevaluasi kemampuan kognitif. Aplikasi dan
pemecahan masalah. Metoda ini diberikan dangan cara memberi penugasan pada
peserta didik.
Contoh penugasan mahasiswa yang dijadikan bahan evaluasi dapat berupa :
- Studi kasus
- Rencana keperawatan
- Laporan proses keperawatan
- Rencana pendidikan kesehatan
- Penugasan tertulis lain
3. LISAN
Metoda ini dimaksudkan untuk terjadinya Tanya jawab terhadap pertanyaan yang
diajukan oleh penguji, tetapi metoda ini perlu didukung oleh perangkat evaluasi yang
jelas untuk member pertanyaan dan member nilai.
Secara spesifik metoda ini digunakan pada:
Saat pembimbing melakukan validasi terhadap data yang dikumpulkan dalam
menyusun renpra
Menilai alasan yang digunakan mahasiswa untuk melakukan tindakan
Menilai kemampuan mahasiswa terhadap pembuatan kasus.
4. OSCE
OSCE (Obyektif struktur clinical evaluation) adalah metoda untuk menilai
penampilan / kemampuan klinik secara terstruktur dan bersifat objektif. Melalui
OSCE dapat dievaluasi secara bersamaan kognitif, psikomotor, sikap.
1. Pelaksanaan OSCE
b. Tempatkan secara terpisah diruang evaluasi (10
terminal), yang berisi:
-

Soal/instruksi
Klien
Alat
Staf (bila perlu)
c. Beri nomor urut setiap terminal, tambahkan 2
terminal untuk istirahat. Jadi jumlah terminal
keseluruhan adalah 12
d. Penanggung jawab memonitor pelaksanaan OSCE,
setiap terminal dilalui dalam waktu 5 menit. Jadi

waktu keseluruhan 12x5=60 menit.


e. Pelaksanaan :
Tahap awal tampakkan 12 orang mahasiswa menempati 121 terminal
Setiap 5 menit penanggung jawab member tanda untuk mahasiswa

berpindah terminal searah jarum jam


Sebelum meninggalkan ruangan, mahasiswa menyerahkan jawaban tertulis
kepada penganggung jawab

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 17 -

6) PEMBERIAN NILAI
Pemberian nilai dilakukan secara bertahap sepanjang kegiatan pengalaman belajar
klinik berlangsung. Patokan nilai dapat digunakan sesuai standar yang lazim
digunakan, selain itu perlu diperhitungkan pembobotan.
Pada dasarnya kegiatan evaluasi klinik harus didukung dengan sarana pencatatan yang
baik (lihat lampiran), sehingga memungkinkan bagi team pengajar mendapatkan data
tentang penampilan mahasiswa, menganalisanya dan menetapkan nilai atau tingkat
keberhasilan mahasiswa serta membuat keputusan.
7) KEPUTUSAN DAN PEMBERIAN PREDIKAT
Tahap akhir dari rangkaian evaluasi adalah membuat keputusan, apakah mahasiswa
dapat dikatakan berhasil atau tidak dan sejauh mana keberhasilannya. Untuk itu perlu
ditentukan nilai batas lulus. Pemberian predikat dari hasil penilaian dapat disesuaikan
dengan peraturan yang berlaku pada masing0masing institusi, mulai sangat
memuaskan atau sangat kurang.
8)PENCATATAN DAN PELAPORAN
-

Pencatatan hasil bimbingan ditulis pada lembar kerja untuk setiap peserta didik (
Biasanya disiapkan oleh pihak pendidikan, dan kalau tidak disiapkan maka CE harus
menyiapkan ), apakah pada tingkat bantuan penuh, dapat dilepas sedikit bantuan
atau sudah mandiri dengan mengerjakan tindakan Keperawatan sesuai standart

Hasil bimbingan dilaporkan kepada pembimbing institusi pendidikan dengan


beberapa catatan khusus apabila diperlukan.

3.3 PERSIAPAN MAHASISWA.


Proses keperawatan adalah : penerapan pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah yang
digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien, merencanakan secara sistematis
dan melaksanakannya serta mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan (Ann Marriner).
Asuhan keperawatan diberikan atas dasar ketidaktauan, ketidakmampuan dan ketidakmauan
klien memenuhi kebutuhan dasarnya. Seorang perawat dituntut memberi asuhan yang
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 18 -

komperhensif sehingga pelayanan yang bermutu dapat dirasakan oleh klien maupun perawat
itu sendiri.
Mahasiswa harus menyiapkan diri untuk mulai melaksanakan asuhan keperawatan paripurna.
Untuk mendapatkan asuhan keperawatan yang paripurna diperlukan kelengkapan data
kesehatan meliputi :
3.3.1 STANDAR I : Pengkajian Keperawatan
Adalah proses pengumpulan, pengorganisasian, validasi, dan pencatatan data tentang status
klien.
A. KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI :
1) KOGNITIF :
a. Mengetahui data apa yang diperlukan untuk mengembangkan rencana keperawatan
yang efektif sesuai dengan kebutuhan klien.
b. Mengetahui kebutuhan spesifik klien yang harus dikaji dan cara untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan tersebut.
c. Mengetahui bagaimana cara menggunakan tekhnik wawancara dan perkembangan
dari fase orientasi, kerja dan terminasi.
d. Mengetahui bagaimana menggunakan metode inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
untuk mengumpulkan data selama pemeriksaan fisik.
e. Mengetahui hubungan antara standart perawatan dengan peraturan institusi
2) TEKNIS
a. Kemampuan menggunakan dan melakukan teknik pengumpulan data dengan tepat.
3) INTERPESONAL
a. Mampu membina hubungan saling percaya P-K sesuai dengan tanggung jawab
perawatan.
b. Mampu berkomunikasi dengan klien dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan
klien.
c. Mampu bekerja sama dengan tim kesehatan yang terlibat untuk mengkaji kebutuhan
perawatan klien.

4) ETIKA

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 19 -

1. Komitmen untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mengumpulkan data dan
mencatat data dasar yang adekuat.
2. Mampu memberikan pelayanan yang dapat dipercaya dan memberikan dukungan
kepada klien dengan efektif.
B. TAHAPAN PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian keperawatan meliputi :
1. Pengumpulan data :
Kriteria :
a) Menggunakan format yang baku
b) Sistematis
c) Diisi sesuai item yang tersedia
d) Actual ( baru )
e) Abasah ( valid )
2. Pengelompokan Data
Kriteria :
a) Data biologis
b) Data psiklogis
c) Data social
d) Data spiritual
b. Perumusan masalah
Kriteria :
a) Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan.
b) Perumusan masalah di tunjang oleh data yang telah dikumpulkan
3.3.2 STANDAR II : Diagnose Keperawatan
Adalah : suatu penilaian klinis yang merupakan respon aktual atau potensial dari masalah
kesehatan atau proses kehidupan, yang meliputi individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat. Diagnose keperawatan menyediakan dasar bagi perawat untuk melaksanakan
tindakan keperawatan, yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Diagnose keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan pasien, dianalisa dan
dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien.
Tahap tahap diagnosis keperawatan:
1. Interpretasi dan anlisa data
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 20 -

2. Menyusun dan melakukan validasi diagnosis keperawatan.


A.

KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI:

1) KOGNITIF:
1. Mampu berpikir kritis dan menggunakan untuk alasan diagnostik.
2. Mampu untuk mengembangkan diagnosis keperawatan sesuai dengan masalah
kesehatan klien.
3. Mengetahui hubungan antara standard dan peraturan institusi.
2)

TEKNIS:
1. Mampu memilih literature yang diperlukan untuk mengembangkn daftar prioritas
diagnosis keperawatan.
2. Mampu menggunakan sistem pencatatan yang tepat untuk mencatat daftar prioritas
diagnosis keperawatan.

3) INTERPERSONAL:
1. Mampu membina hubungan saling percaya P-K sesuai dengan pengetahuan yang
diperlukaan klien.
2. Mampu berkomunikasi dengan klien dengan tetap memperhatikan kesehatan klien.
4) ETIKA:
1. Komitmen menyusun apa saja yang diperlukan untuk mengembangkan dan
mengkomunikasikan daftar prioritas diagnosis keperawatan sesuai dengan kebutuhan
klien.
2. Mampu memberikan pelayanan yang dapat dipercaya dan memberikan dukungan kepada
klien dengan efektif.

3.
B.

TAHAPAN PERUMUSAN DIAGNOSA

Kriteria :
1. Diagnose keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan
kebutuhan pasien.
2. Dibuat sesuai dengan wewenang perawat.
3. Komponennya terdiri dari masalah, penyebab dan gejala / tanda ( PES ) atau terdiri dari
masalah dan penyeab ( PE )
4. Bersifat actual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi.
5. Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien kemungkinan besar akan terjadi.
6. Dapat ditangulangi oleh perawat.
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 21 -

3.3.3

STANDAR III : Perencanaan Keperawatan

Merupakan suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk
mencegah, menurunkan atau mengurangi masalah masalah klien.
LANGKAH PERENCANAAN
1.
2.
3.
4.

Menyusun prioritas
Menentukan tujuan dan kriteria hasil
Menentukan rencana tindakan keperawatan
Mengkomunikasikan perencanaan keperawatan

A. KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI:


1) KOGNITIF:
a. Mengetahui informasi apa saja yang diperlukan untuk menyusun perencanaan
keperawatan yang efektif sesuai dengan kebutuhan kesehatan klien (bagaimana
menyusun prioritas, menentukan tujuan / kriteria hasil dan strategi evaluasi,
menentukan

tindakan

keperawatan

dan

mengkomunikasikan

perencanaan

keperawatan).
b. Mengetahui hubungan standar perawatan dengan peraturan institusi.
c. Mampu berpikir kritis tentang kebutuhan klien terhadap asuhan keperawatan.
2) TEKNIS:
a. Mampu memilih literatur yang diperlukan untuk menyusun perencanaan keperawatan.
b. Mampu menggunakan sistem dokumentasi yang tepat untuk mengkomunikasikan
perencanaan keperawatan klien.
3) INTERPERSONAL:
a. Mampu membina hubungan saling percaya P K dengan tetap memperhatikan
tanggung jawab perawatan.
b. Mampu empati dengan klien, berusaha bersama dengan klien untuk mencapai tujuan
dan memberikan pujian pada klien bila tujuan tercapai.
c. Mampu bekerjasama dengan anggota tim kesehatan yang memberikan perawatan.
4) ETIKA:
a. Mampu melakukan komunikasi dengan tepat dan tetap menghargai klien.
b. Komitmen melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga kesehatan klien dengan
tetap memperhatikan tanggung jawab professional.
c. Mampu memberikan pelayanan yang dapat dipercaya dan memberikan dukungan
kepada klien dengan efektif.
C. TAHAPAN PERENCANAAN
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnose keperawatan.
Komponen perencanaan keperawatan meliputi :
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 22 -

1. Prioritas masalah :
Criteria :
a. Masalah masalah yang mengancam kehidupan merupakan prioritas pertama.
b. Masalah masalah yang mengancam kesehatan seseorang adalah prioritas kedua.
c. Masalah masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga.
2. Tujuan asuhan keperawatan
Criteria :
a. Spesifik
b. Bisa diukur
c. Bias dicapai
d. Realistic
e. Ada batas waktu
3. Rencana tindakan :
Criteria :
a. Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan
b. Melibatkan pasien / keluarga
c. Mempertimbangkan latar belakan budaya pasien / keluarga
d. Menentukan alternative tindakan yang tepat
e. Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku, lingkungan, sumber daya
dan fasilitas yang ada.
f. Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien
g. Kalimat instruksi, ringkas, tegas dengan bahasanya mudah dimengerti.
3.3.4 STANDAR IV : Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud
agar kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan,
pencegahan, pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dan
keluarga.
Implementasi / pelaksanaan adalah: inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik.
Implementasi di sesuaikan dengan RENPRA
LANGKAH LANGKAH
1. Melaksanakan rencana tindakan
2. Melanjutkan pengumpulan data dan modifikasi rencana tindakan
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 23 -

3. Dokumentasi tindakan keperawatan yang telah di lakukan.


A. KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI:
1) KOGNITIF:
1. Mengetahui apa yang diperlukan untuk melakukan perencanaan keperawatan yang
efektif sesuai dengan kebutuhan klien.
2. Mengetahui hubungan antara standar perawatan dan peraturan institusi.
2) TEKNIS:
1. Mampu menggunakan peralatan dan teknik yang tepat dalam melakukan perencanaan
keperawatan.
3) INTERPERSONAL:
1. Mampu membina hubungan saling percaya antara P K yang didasarkan pada
tanggung jawab perawatan.
2. Mampu berkomunikasi dengan klien dan tetap memperhatikan kesehatan klien.
3. Mampu bekerjasama dengan anggota tim pelayanan kesehatan yang terlibat dalam
perawatan klien.
4) ETIKA:
1. Komitmen untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk melaksanakn rencana
dengan sukses.
2. Mampu memberikan pelayanan yang dapat dipercaya dan memberikan dukungan
kepada klien dengan efektif.
3. Konsisten menggunakan tindakan yang aman saat melakukan tindakan keperawatan.
c. TAHAPAN PELAKSANAAN
1. Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan
2. Menyangkut keadaan bio psiko spiritual pasien
3. Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan dilakukan kepada pasien /
kelarga
4. Sesuai dengan waktu yang ditentukan
5. Menggunakan sumber daya yang ada
6. Menerapkan prinsip aseptic dan antiseptic
7. Menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonomis, privacy dan mengutamakan
keselamatan pasien
8. Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respon pasien
9. Merujuk dengan segera bila ada masalah yang mengancam keselamatan pasien
10. Mencatat semua semua tindakan yang sudah dilaksanakan
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 24 -

11. Menerapkan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan


12. Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur teknis yang telah
ditentukan.
Intervensi keperawatan berorientasi pada 14 komponen keperawatan dasar meliputi
:
a.

Memenuhi kebutuhan oksigen

b.

Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit

c.

Memenuhi kebutuhan eliminasi

d.

Memenuhi kebutuhan keamanan

e.

Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyaman fisik

f.

Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur

g.

Memenuhi kebutuhan gerak dan kegiatan jasmani

h.

Memenuhi kebutuhan spiritual

i.

Memenuhi kebutuhan emosional

j.

Memenuhi kebutuhan komunikasi

k.

Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis

l.

Memenuhi kebutuhan pengbatan dan membantu proses penyembuhan

m. Memenuhi kebutuhan penyuluhan


n.
3.3.5

Memenuhi kebutuhan rehabilitasi


STANDAR V : Evaluasi Keperawatan

Adalah: Tindakan yang intelektual untuk melengkapi proses keperawatan dengan


mengindikasikan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan
telah berhasil dicapai. Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodek, sistemis dan
berencana ntuk menilai perkembangan pasien.
TAHAP TAHAP EVALUASI:
1. Mengukur pencapaian tujuan
2. Mengidentifikasi faktor faktor yang mempengaruhi kegagalan dan pencapaian tujuan.
3. Memodifikasi rencana keperawatan, jika ada indikasi.
A. KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI:
1) KOGNITIF:
1. Mengetahui informasi apa saja yang diperlukan untuk evaluasi atau perencanaan
keperawatan yang tidak sesuai dengan kebutuhan kesehatan klien (mampu
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 25 -

mengukur kemampuan klien mencapai tujuan dan berpikir kritis tentang faktor
faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan)
2. Mengetahui bagaimana memodifikasi perencanaan keperawatan, jika ada indikasi
atau melihat kembali variable lain yang mempengaruhi pencapaian tujuan.
3. Mengetahui hubungan antara standar perawatan dengan peraturan intitusi.
2) TEKNIS:
1. Mampu menggunakan sistem pencatatan dengan tepat tentang perkembangan
pencapaian tujuan.
3) INTERPERSONAL:
1. Mampu mempertahankan hubungan saling percaya P K dengan tatap
memperhatikan tanggung jawab perawatan.
2. Mampu berkomunikasi dengan klien dan tetap memperhatikan kesehatan klien
serta memperhatiak pencapaian tujuan
3. Mampu bekerjasama dengan tim kesehatan yang mempengaruhi kemampuan
klien mencapai tujuan.
4) ETIKA:
1. Komitmen melakukan apapun yang diperlukan untuk mengevaluasi pencapain
tujuan.
2. Mampu memberikan pelayanan yang dapat dipercaya dan memberikan dukungan
kepada klien dengan efektif

B. TAHAPAN EVALUASI KEPERAWATAN:


1. Setiap tindakan keperawata dilakukan evaluasi
2. Evaluasi hasil menggunakan indicator yang ada pada rumusan tujuan
3. Hasil evaluasi seger dicatat dan di komunikaskan
4. Evaluasi hasil melibatkan pasien, kelarga Dan tim kesehatan
5. Evaluasi dilakukan sesuai denga standar
3.3.6 STANDAR VI : Catatan Asuhan Keperawatan
Catatan asuhan keperawatan dilakukan secara individual.
1. Dilakukan selama pasien dirawat nginap dan rawat jalan
2. Dapat digunakan sebagai bahan informasi, komunikasi dan laporan
3. Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan
4. Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang baku
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 26 -

5. Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan


6. Setiap pencatatan harus mencantumkan initial / paraf / nama perawat yan melaksanakan
tindakan dn waktunya
7. Menggunakan formulir yang baku
8. Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
3.4

KETENTUAN DILAHAN PRAKTIK : RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA


Ketentuan Pelaksanaan Mahasiswa Praktik Keperawatan di Rumah Sakit Islam
Surabaya, meliputi :
a. Ketentuan Pokok
1)

Adanya perjanjian kerjasama antara Rumah Sakit Islam


Surabaya dengan Institusi Pendidikan yang bersangkutan

2)

Institusi pendidikan yang bersangkutan mengajukan


surat permohonan kepada Direktur Rumah Sakit Islam Surabaya, dengan
melampirkan proposal tembusan kepada Diklat RSIS dan Bidang Keperawatan
Rumah Sakit Islam Surabaya .

3)

Permohonan diajukan sekurang-kurangnya 1 bulan


sebelumnya guna penyusunan jadwal.

4)

Sebelum

praktik

diruangan

mahasiswa

yang

bersangkutan wajib mengikuti pengarahan dari pimpinan Rumah Sakit Islam


Surabaya atau pejabat yang ditunjuk.
5)

Wajib mengikuti orientasi di Rumah Sakit Islam


Surabaya

6)

Rumah Sakit Islam Surabaya berhak memutuskan


hubungan dengan pihak Institusi pendidikan yang bersangkutan apabila tidak
mematuhi atau melanggar aturan atau ketentuan yang telah ditetapkan.

b. Ketentuan Khusus
Lama Praktik klinik disetiap ruangan minimal 2 minggu atau menurut waktu yang
disepakati dengan Institusi Pendidikan yang bersangkutan.
a.

Mahasiswa yang akan melaksanakan Praktik harus sudah mendapatkan teori


Praktik klinik dan teori laboratorium klinik dari institusi pendidikan sesuai
dengan ruangan yang akan digunakan untuk Praktik klinik.

b.

Pembimbing mahasiswa dari institusi yang bersangkutan melakukan bimbingan


dan secara aktif memantau mahasiswanya yang sedang Praktik dilapangan.

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 27 -

c.

Mahasiswa wajib menguasai dan memahami Tujuan Instruksi Umum dan .


Khusus ( TIU dan TIK ).

c. Kewajiban Rumah Sakit Islam Surabaya


a.

Memberikan fasilitas dan sarana berupa tempat Praktik klinik dan bantuan
pembimbing praktek klinik di lapangan.

b.

Mengatur mahasiswa dalam melaksanakan Praktik klinik di Rumah Sakit


Islam Surabaya.

c.

Memberikan pengarahan umum tentang kebijakan Rumah Sakit Islam


Surabaya.

d.

Memberikan bimbingan dan pengalaman praktek klinik kepada mahasiswa


yang menyangkut aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap sesuai dengan
tujuan praktek.

e.

Memberikan teguran/ sanksi kepada mahasiswa yang melakukan kesalahan


dalam praktik asuhan keperawatan atau mengembalikan mahasiswa praktek
kepada pihak pendidikan apabila telah melanggar disiplin dan ketentuan atau
tata tertib dari Rumah Sakit Islam Surabaya.

f.

Memberikan evaluasi kepada mahasiswa dan masukan untuk perbaikan sistem


bimbingan praktek kepada institusi pendidikan diakhir dinas/ praktek.

g.

Berhak menugaskan mahasiswa kapan saja apabila pada saat itu ada KLB
( Kejadian Luar Biasa ) di Rumah Sakit Islam Surabaya.

d. Kewajiban Pihak Institusi Pendidikan


a. Membekali mahasiswa yang akan praktik dengan teori dan praktik laboratorium
di kelas.
b. Mematuhi peraturan atau ketentuan tentang praktek klinik keperawatan yang
telah ditentukan oleh Pimpinan Rumah Sakit Islam Surabaya.
c. Memberikan bimbingan dan memantau secara aktif pada mahasiswanya yang
sedang menjalankan praktik dilapangan.
d. Memberikan evaluasi / masukan untuk perbaikan terhadap sistem bimbingan
praktek lapangan.
e. Kewajiban Mahasiswa Yang Menjalankan Praktek
a. Wajib mematuhi peraturan/ ketentuan yang telah ditetapkan oleh Rumah Sakit
Islam Surabaya.
b. Wajib mengikuti acara orientasi atau pengarahan dari Pimpinan Rumah Sakit
Islam Surabaya atau pejabat yang ditunjuk.
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 28 -

c. Wajib mengikuti bimbingan dari Kepala Ruangan, Clinical Instruction ( CI ) dan


perawat ruangan .
d. Wajib mematuhi tata tertib yang ada diruangan masing-masing.
e. Wajib mengikuti evaluasi akhir yang diberikan oleh pembimbing di ruangan.
f. Tata Tertib Mahasiswa
a. Menggunakan

pakaian dan identitas yang telah ditentukan dari Institusi

pendidikan ( khusus yang perempuan berbusana muslimah ) dan tidak boleh


memakai perhiasan, kecuali jam tangan.
b. Mengikuti kegiatan belajar mengajar atau diskusi, visite dan operan jaga
ditempat kerja.
c. Dapat membantu kelancaran pelaksanaan pelayanan keperawatan di Rumah
Sakit Islam Surabaya.
d. Dapat menjaga rahasia jabatan, berlaku sopan dan ramah, baik kepada staf
perawat, dokter, non perawat, teman sejawat, dan terutama pasien maupun
keluarga pasien yang ada di Rumah Sakit Islam Surabaya.
e. Harus menjaga kebersihan lingkungan, serta berpartisipasi dalam program
penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya.
f. Selalu menjaga dan menggunakan alat yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan
petunjuk yang ada.
g. Tidak diperkenankan meminjam alat-alat Rumah Sakit atau membawa
pulang/keluar Rumah Sakit tanpa seijin Kepala Ruangan atau Pembimbing
Praktik.
h. Mahasiswa yang sengaja atau tidak sengaja telah membuat rusak atau hilang alat
yang ada di tempat praktik diwajibkan menggantinya.
i. Wajib membuat laporan kegiatan sesuai denga ketentuan yang ada dan harus
diketahui dan diteliti Pembimbing Praktik atau Ruangan.
j. Mahasiswa yang melanggar tata tertib diatas akan mendapat sanksi sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
k. Datang dan pulang tepat pada waktunya serta mengisi daftar hadir / absensi di
komputer front ofice yang telah tersedia dengan jam dinas ditentukan sebagai
berikut :

Dinas Pagi

: Pukul 07.00 14.00

Dinas Sore

: Pukul 14.00 21.00

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 29 -

Dinas Malam : Pukul 21.00 07.00

12)

Bila berhalangan hadir, wajib membuat surat keterangan


yang syah kepada Pembimbing Praktik atau Kepala Ruangan yang telah
disyahkan oleh bagian pendidikan.

13)

Setelah selesai menjalankan praktik diwajibkan minta


ijin kepada pembimbing praktik, penanggungjawab ruangan yang ditempati,
serta diwajibkan menulis saran dengan jujur di buku yang telah disediakan untuk
perbaikan bimbingan selanjutnya.

g. Tugas Mahasiswa
a. Melaksanakan tugas praktik klinik keperawatan sesuai dengan jadwal yang
diberikan.
b. Memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan tujuan Praktik.
c. Melaksanakan prosedur keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien
d. Meminta bimbingan dan penilaian prosedur ketrampilan kepada pembimbing
klinik keperawatan di ruangan atau perawat senior yang ditunjuk sesuai target
yang dicapai.
e. Membuat studi kasus atau laporan kegiatan bimbingan praktik klinik
keperawatan.
f. Mengumpulkan hasil studi kasus atau laporan kegiatan praktik klinik
keperawatan.
h. Sanksi
a. Apabila mahasiswa tidak hadir praktik 1 hari tanpa pemberitahuan sebelumnya,
maka harus mengganti 2 hari praktik.
b. Apabila mahasiswa tidak masuk praktik dengan pemberitahuan sebelumnya,
maka harus mengganti sesuai dengan jumlah hari tidak masuk.
c. Apabila Mahasiswa tidak masuk karena sakit dengan melampirkan surat
keterangan dari dokter, maka harus mengganti sesuai dengan jumlah hari tidak
masuk.
d. Terlambat lebih dari 15 menit, wajib mengganti 1 hari kerja.
e. Apabila memecahkan alat, harus mengganti alat atau uang sesuai dengan harga
rumah sakit.
f. Apabila salah dalam pemberian tindakan baik berdampak ringan atau fatal,
maka akan diberikan sanksi lain yang akan ditentukan oleh pendidikan.
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 30 -

g. Apabila tugas dan praktik tidak tercapai pada waktu yang telah ditentukan, maka
harus melengkapinya pada waktu pengkayaan.
i. Lain Lain Yang Perlu Diperhatikan Mahasiswa
1) Bekerja sesuai etika keperawatan
2) Bekerja dengan serius
3) Mengetahui perasat ( Standar Prosedur ) yang harus dikerjakan atau bisa
menyebutkan secara benar
4) Dapat mengerjakan perasat atau prosedur kerja secara aktif dan didampingi CE
atau perawat ruangan.
h. Dilarang meningggalkan ruangan tanpa ijin kepala ruangan atau pembimbing
ruangan.
i. Apabila membuat kesalahan dalam mengerjakan perasat harus membuat surat
pernyataan diketahui kepala ruangan./ pembimbing ruangan.
j. Sesuai dengan kebijakan Direksi RSIS bahwasanya ruangan kelas I sampai
dengan diatasnya tidak diperkenankan untuk dipakai praktik klinik.
j.Perlu adanya penambahan dan pengadaan alat yang menunjang pelaksanaan
program bimbingan
Diusulkan oleh masing-masing kepala ruangan kepada Direktur RSIS melalui
manager keperawatan.

BAB 4
PENUTUP
Demikian buku pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan di Rumah Sakit
Islam Surabaya kami susun, semoga dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan
bimbingan kepada mahasiswa atau peserta didik yang ada di Rumah Sakit Islam Surabaya.
Adapun masukan dan saran untuk perbaikan buku pedoman pembelajaran klinik
keperawatan ini kami harapkan guna peningkatan pelaksanaan bimbingan yang ada di
Rumah Sakit Islam Surabaya dimasa mendatang.

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 31 -

Lampiran : 1 ( satu )
PETUNJUK ACARA PENERIMAAN / ORIENTASI
MAHASISWA PRAKTIK KEPERAWATAN
DI RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA
1. Pembukaan
2. Sambutan sambutan :
i.

Institusi Pendidikan yang mengirim mahasiswa ( acara penyerahan mahasiswa Praktik )

ii.

Pimpinan Rumah Sakit Islam Surabaya atau pejabat yang ditunjuk

3. Perkenalan staf dan pembimbing Praktik


4. Pengarahan / orientasi :
a. Penjelasan garis besar atau gambaran umum Rumah Sakit Islam Surabaya

yang

meliputi :
1)Struktur Organisasi Rumah Sakit Islam Surabaya
2)Visi, Misi, Motto dan Tujuan Rumah Sakit Islam Surabaya
3)Peran dan fungsi Diklat
4)Sistem pelayanan di Rumah Sakit Islam Surabaya
5)Lain-lain yang dianggap perlu
b. Penjelasan tata tertib praktik.
4. Penutup
5. Pengenalan lingkungan Rumah Sakit Islam Surabaya dengan melihat langsung ruangan
yang ada kaitannya dengan praktik ( sesudah penutup ).

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 32 -

Lampiran

: 2 ( dua )
PROGRAM BIMBINGAN
Waktu

No. Kegiatan
1.

Pelaksanaan
200 200
2006
7
8

Sasaran

Praktik

Klinik STIKES YARSIS

Keperawatan
2.

Praktik

5.

Klinik

Klinik Akper

Kebidanan
Pre Conference

Lain
Mahasiswa Praktik

perawatan
Presentasi kasus

unit

berjalan,

berjalan
MOU ada
Sudah

/ Institusi Pendidikan X

di

Akbid

Keperawatan

Conference

berjalan,

MOU ada
Sudah
X

Praktik

S1 STIKES YARSIS

Conference dan post Klinik Keperawatan

6.

MOU ada
Sudah
X

Keperawatan
4.

Klinik STIKES YARSIS

Kebidanan
3.

Sudah
X

Praktik

Keterangan

berjalan,
MOU ada

Pada saat
Pelaksanaan
Praktek Klinik

Mahasiswa Praktik Pada akhir


Klinik Keperawatan Praktek Klinik
Keperawatan

7.

Pelatihan CE

Perawat RSIS

Peruangan /
Bila ada jadwal
pelatihan

perunit
keperawatan
minimal
orang

8.

Pengadaan
keperawatan

buku Buku keperawatan


dan

kebidanan

sebagai pendukung
dalam

program

bimbingan
Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 33 -

Pedoman pengelolaan pembelajaran klinik keperawatan/S2P2/2010/BidKep

- 34 -