Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

A.
1.
2.
3.

Hari/tanggal

: Senin, 25 Mei 2014

Kelompok

: III (Tiga)

Nama

: Amanda Alif Habibie

NIM

: 123711008

Judul Praktikum

: TEKNIK DASAR DESTILASI: PEMBUATAN

TUJUAN
Mengetahui macam-macam destilasi serta perbedaannya
Dapat menggunakan destilasi untuk memurnikan atau memisahkan campuran
Mengetahui gugus alkena dengan reaksi eliminasi

B. DASAR TEORI
1. Destilasi
a. Prinsip dasar

Destilasi atau penyulingan adalah proses yang didahului dengan


pemanasan, penguapan kemudian kondensasi kembali ke uap yang
terbentuk. Dengan kata lain, destilasi merupakan proses pemisahan yang
didasarkan pada perbedaan titik didih antara komponen-komponen yang
akan dipisahkan. Makin besar perbedaan titik didih zat yang akan
dipisahkan makin murni hasil destilasi yang diperoleh. Proses ini
digunakan untuk menarik senyawa organik yang titik didihnya dibawah
2500C. Jika suhunya terlalu tinggi dikhawatirkan dapat merusak senyawa
yang akan dipisahkan karena teroksidasi dan terjadi dekomposisi
(perurayan).1
Pada destilasi suatu senyawa komponen yang diinginkan dididihkan
dan uapnya dilewatkan melalui suatu pendingin (kondensor) sehingga
mencair kembali. Proses pendidihan berhubungan dengan kehadiran udara
dipermukaan. Apabila suatu cairan dipanaskan, maka pendidihan akan
terjadi pada suhu dimana tekanan uap dari cairan yang akan didestilasi
sama dengan tekanan uap dipermukaan. Tekanan udara dipermukaan
terjadi oleh adanya udara di atmosfir. Bila pendidihan terjadi pada 760
mmHg atau 1 atm maka pendidihan ini disebut pendidihan normal dan
titik didihnya disebut titik didih normal. Selanjutnya bila kedalam cairan
yang akan didistilasi diberikan tekanan tambahan melalui pengiriman uap,
maka tekanan uap dalam cairan yang akan didistilasi adalah gabungan
tekanan uap cairan sendiri ditambah dengan tekanan uap yang
1 Sanusi Ibrahim & Marham Sitorus, Teknik Laboratorium Kimia Organik, (Yogyakarta :
GRAHA ILMU , 2013), hlm 11

ditambahkan. Dengan demikian pendidihan akan terjadi pada suhu yang


lebih rendah dari titik didih normalnya. Cara ini digunakan untuk
mendistilasi komponen yang titik didihnya tidak stabil seperti yang di
gunakan pada distilasi uap (steam distilation). Kemudian bila udara
dipermukaan dikeluarkan (direduksi) maka akan terjadi pemvakuman.
Pendidihan pada kondisi vakum akan terjadi pada suhu yang lebih rendah
dibandingkan dengan titik didih normalnya dan konsep ini digunakan
pada destilasi vakum (pengurangan tekanan).
Permasalahan yang sering di temui dalam proses destilasi adalah
terbentuknya azeotrop yang merupakan campuran yang sulit dipisahkan
karena akan menguap secara bersama-sama dengan komposisi tertentu.
Cara mengatasi azeotrop adalah dengan menambahkan zat ketiga sehingga
terbentuk campuran azeotrop baru. Alkohol dengan air walaupun titik
didihnya berbeda sekitar 35 0C, namun tidak akan pernah diperoleh
alkohol mutlak dengan cara destilasi. Untuk memperoleh alkohol mutlak,
maka azeotrop harus diatasi dengan menambahkan benzena sehingg akan
berturut-turut terdistilasi tripel azeotrop (alkoho-air-benzena), doubel
azeotrop (alkohol-air) dan yang terakhir akan terdistilasi alkohol absolut.
Teknik destilasi senyawa organik beragam tergantung dari sifat fisik dan
sifat kimia senyawa yang akan dipisahkan.2
b. Macam-macam destilasi
Destilasi Normal (sederhana)
Destilasi normal (sederhana) digunakan untuk memisahkan
senyawa-senyawa yang dapat menguap di bawah 130C. Pada
destilasi sederhana pendidihan akan terjadi bila tekanan uap dari
cairan yang dipanaskan sudah sama dengan tekanan udara
dipermukaan cairan. Dalam proses destilasi yang menggunakan
cairan sebagai media panas, maka permukaan cairan yang akan
didestilasi harus lebih rendah agar pemanasan merata sehingga
penguapan akan sempurna.3
Cara melakukan destilasi sederhana :
Air pendingin dimasukkan dari ujung yang paling dekat
dengan adaptor, dan air keluar melalui ujung pendingin yang lain.
Termometer dipasang sedemikian rupa sehingga dapat
menunjukkan titik didih senyawa yang sedang dipisahkan. Ujung
termometer diletakkan tepat pada posisi ujung pendingin.4

2 Sanusi Ibrahim & Marham Sitorus.....hlm 11-12


3 Sanusi Ibrahim & Marham Sitorus,...hlm 12
4 Khamidinal, Teknik Laboratorium Kimia, (Yogyakarta:PUSTAKA PELAJAR,
2009), hlm 137

Destilasi Bertingkat (Fraksinasi)

Destilasi fraksional sangat bergantung pada kondisi campuran


yang akan dipisahkan. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan
campuran yang sempurna melarut. Dalam destilasi fraksional ada
kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap
dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap platnya. Pemanasan
yang berbeda ini bertujuan untuk pemurnian destilat yang lebih
dari plat-plat dibawahnya. Semakin keatas semakin tidak volatil
cairannya.
Destilasi Vakum
Pengggunaan destilasi vakum yaitu untuk memurnikan
senyawa-senyawa yang bertitik didih tinggi.dengan pengurangan
tekanan (vakum) maka pendidihan terjadi pada tekanan uap yang
rendah atau titik didihnya menjadi turun (rendah).5
Dalam penggunaannya distilasi vakum sebaiknya dilakukan
dengan cara distilasi bertingkat. Maksudnya setelah vakum
dihidupkan maka dilakukan pengamatan terhadap distilat yang
keluar. Jika tidak ada yang keluar naka naikan suhu sedikit demi
sedikit sampai adanya cairan yang keluar. Jika distilat selesai,
matikan pemanasan, buat tekanan luar sama dengan tekanan
didalam dan diikti dengan mematikan sestem vakum. Untuk
memudahkan pendidihn didalam cairan yang akan didistilasi
dimasukan batu didih. Tanpa adanya pipa kapiler dan anak stirarn
maka akan sulit terjadi pendidihan dan kemungkinan dapat terjadi
loncatan cairan.
Berikut rangkaian alat distilasi vakum:

Destilasi Uap
Distilasi uap dapat
digunakan
untuk
campuran yang tidak
larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan
air. Dan juga digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang
memiliki titik didih mencapai 200 C atau lebih. Distilasi uap dapat
menguapkan senyawa-senyawa dengan suhu mendekati 100 C
dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air
mendidih. Sifat yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat
mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masingmasing senyawa campurannya.
Berikut rangkaian alat distilasi uap:

5 Sanusi Ibrahim dan Marham Sitorus,...hlm 14


3

Destilasi Azeotropik

Tipe destilasi seperti ini biasa digunakan untuk campuran


azeotropik dimana komponen campuran yang dipanaskan bersamasama membentuk titik azeotropik karena sifat kimia yang berbeda
dari komponen-komponen yang ada dalam campuran.6
c. Hukum Roult

Hukum Roult adalah hukum yang di cetuskan oleh Francois M. Roult


(1830-1901). Hukum Roult sangat penting untuk mempelajari sifat
karakteristik fisik larutan seperti menghitung jumlah molekul dan
memprediksi masa molar suatu zat. Untuk larutan yang mengikuti hukum
Roult, interaksi antara molekul individual kedua komponen sama dengan
interaksi antara molekul dalam tiga komponen. Larutan seperti ini disebut
larutan ideal. Tekanan total campuran gas adalah jumlah tekanan parsial
masing-masing komponen sesuai dengan hukum Roult.7
Pada umumnya pemisahan dengan metode destilasi melibatkan
kesetimbangan cair-uap. Kesetimbangan cair-uap sangat bergantung pada
komposisi campuran yang hendak dipisahkan. Kesetimbangan fase cairuap ini dijadikan dasar untuk memisahkan komponen cairan. Jika terdapat
dua zat cair yang saling bercampur dipanaskan, masing-masing komponen
akan berubah fase menjadi uap walaupun titik didih keduanya belum

6 Surjani Wonorahardjo, Metode-metode Pemisahan Kimia, (Jakarta: INDEKS, 2013), hlm


92-94
7 Respati, Pengantar Kimia Organik, (Yogyakarta : RINEKA CIPTA,1980), hlm 123

tercapai. Uap dari kedua zat cair ini ada dalam bentuk campuran uap,
dengan perbandingan yang memenuhi hukum Roult pada sistem tertutup.
Bunyi hukum Roult:
Tekanan uap pelarut ( PA) pada permukaan larutan besarnya sama
dengan hasil kali tekanan uap pelarut murni (P0A ) dengan fraksi mol
pelarut tersebut didalam larutan (XA).
Adapun kesetimbangan cair-uap untuk campuran biner menurut
Hukum Roult dapat dituliskan sebagai berikut:
PA = XAP0A dan PB = XBP0B
dan
P = XAP0A + XBP0B
dimana P adalah tekanan total dan PA serta PB adalah tekanan parsial
masing-masing komponen A dan B yang bercampur sempurna. Sedangkan
P0A dan P0B adalah tekanan uap komponen A dan B murni tanpa campuran.
XA dan XB adalah fraksi mol masing-masing komponen campuran. Rumus
di atas berlaku untuk campuran-campuran sempurna tanpa penyimpangan
dari keadaan ideal.8
2. Reaksi Eliminasi Pembuatan Alkena

Alkena merupakan senyawa hidrokarbon yang mempunyai kekurangan dua


atom hidrogen dan mempunyai ikatan rangkap dua pada atom C = C. Alkena
mempunyai rumus umum CnH2n dan sering dinamakan senyawa hidrokarbon
tak jenuh.
Alkena dapat dibuat dengan reaksi yang melibatkan beberapa senyawa
berikut:
a) Alkil halida. Jika alkil halida direaksikan dengan KOH atau NaOH,
maka akan mengalami dehidrohalogenasi menjadi alkena. Urutan
kecepatan reaksi dehidrohalogenasi alkil halida sebagai berikut:
Alkil halida tersier > alkil halida sekunder > alkil alkil halida primer
b) Asetilena. Asetilena jika dihidrogenasi dengan adanya Pd dalam BaSo 4
akan menghasilkan alkena.
c) Alkohol. Alkohol akan mengalami reaksi dehidrasi jika ditambahkan
asam sulfat pekat, P2O5, Al2O3 atau asam fosfat. Urutan kecepatan reaksi
dehidrasi sebagai berikut:9
Alkil halida tersier > alkil halida sekunder > alkil alkil halida primer
Reaksi eliminasi adalah suatu reaksi dimana sebuah molekul kehilangan
atom-atom atau ion-ion dari dalam strukturnya. Dalam reaksi eliminasi ini,
unsur H dan X keluar dari dalam alkil halida; oleh karena itu dapat disebut
juga dengan reaksi dehidrohalogenasi.10 Reaksi i ni kebalikan dari reaksi adisi
dan terjadi bila suatu reakstan tunggal terseplit kedalam dua produk. Reaksi ini
dapat terjadi dalam suasana asam maupun basa. Dalam suasana asam peristiwa
eliminasi mengikuti mekanisme E1 sedangkan dalam suasana basa akan
mengikuti mekanisme dari E2.11
8 Surjani Wonorahardjo, Metode-metode Pemisahan Kimia......hlm 82-83
9 Riswiyanto, Kimia Organik, (Jakarta: ERLANGGA, 2009), hlm 19
10 Fessenden & fessenden, Kimia Organik Jilid 1 Edisi Ketiga ,(Jakarta : ERLANGGA,1982),
hlm 171
11 Sardjiman, Belajar Kimia Organik Metode Iqro', (Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR, 2011),
hlm.134

Produk dari reaksi eliminasi adalah


ikatan-ikatan tak jenuh( alkena). Contoh:
C=C ; C

suatu senyawa yang mempunyai

C ;

Pada umumnya gugus yang tereliminasi dari substratnya pada reaksi


ini adalah suatu elektrofil seperti proton, dan gugus yang lain adalah nukleofil,
misalnya :
X- (halida), OH-, RCOO-, dan sebagainya.
Reaksi E1 atau eliminasi orde pertama menghasilkan gugus pergi
untuk membentuk zat antara karbokation, kemudian dengan penghilangan
proton untuk membentuk ikatan rangkap karbon C = C. Reaksi ini merupakan
reaksi paling umum untuk gugus pergi yang baik, karbokation yang stabil, dan
basa-basa lemah (asam kuat). Sebagai contoh, 3 bromo-3-metil pentana
bereaksi dengan metanoluntuk menghasilkan 3-metil-3 pentena. Reaksi ini
bersifat uni-molekuler yaitu reaksi penentu atau tahap penentu kecepatan
reaksi, reaksi ini berjalan lambat dalam membentuk karbokation. Tahap
selanjutnya dalam reakai E1 adalah hilangnya proton secara cepat oleh basa
(pelarut) untuk membentuk ikatan rangkap pada karbon. Alkil halida primer
maupun sekunder tidak melalui reaksi ini. Hal ini disebabkan adanya
kompetisi antara reaksi E1 dan SN1.
Reaksi E2 atau eliminasi orde kedua terjadi dengan hilangnya proton
dan hilangnya gugus pergi secara bersama-sama untuk membentuk ikatan
C=C. Reaksi ini terjadi pada basa kuat, gugus pergi yang tidak baik, serta
karbokation yang kurang stabil. Contoh, 3- kloro-3-metil pentana bereaksi
dengan natrium metoksida yang menghasilkan 3-metil-2-pentena. Klorida dan
proton hilang secara bersama-sama untuk membentuk suatu alkena. Reaksi ini
merupakan reaksi sintetis yang paling efektif dari alkil halida primer.12

Mekanisme reaksi proses pembentukan propilena:


Tahap 1 (protonasi dan lepasnya H2O)

H2SO4 (H O SO3H)
+

H O H (terprotonkan)

OH
CH3

CH CH3

CH3 CH CH3

CH3

H
C

(gugus pergi)
CH3 + OH2

Tahap 2 (lepasnya H+ karena ditangkap oleh basa HSO3O)

12 Styajit D. Sarker Lutfun Nahar,....hlm 310-311


6

H
H

H
C

CH3 + OH2

H
HSO3

CH3 + H2SO4 + OH2

H
propilena

3. Identifikasi Rangkap Tiga

Propilena merupakan senyawa organik yang banyak digunakan sebagai dasar


pembuatan :13
1) Polipropilena yaitu bahan dasar pembuatan produk-produk plastic
2) Akrilonitril yaitu bahan serat sintesis dan gas racun bagi serangga
3) Propilena oksida yaitu bahan sintesis kimia dan pelarut nitroselulose
4) Cumene yaitu pencampur bahan bakar pesawat dan pelarut
Dengan melihat kegunaannya, maka pabrik propilena berpeluang
besar dikembangkan dengan prospek yang lebih baik lagi. Propilena
dapat dibuat dengan berbagai cara. Pada percobaan ini, untuk membuat
propilena melalui reaksi eliminasi alkohol dengan katalis asam.
Propilena yang telah terbentuk diidentifikasi melalui oksidasi ikatan
rangkapnya dengan KMnO4.
4. Analisa bahan
a. Isopropil alcohol

2-propanol atau isopropil alkohol adalah salah satu dari alkohol


yang mempunyai rumus C3H7OH. Merupakan cairan atsiri. Isopropil
alkohol merupakan senyawa yang tak berwarna, mudah terbakar
dengan bau menyengat. Senyawa ini merupakan alkohol sekunder
yang paling sederhana, dimana atomkarbon mengikatgugus alkohol
jiga mengikat dua atom karbon lain dan merupakan isomer dari 1propanol.14
b. H2SO4 pekat
Asam sulfat merupakan asam mineral anorganik yang kuat. Zat ini
larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai
banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri
kimia. Kegunaan utamanya adalah untuk pemrosesan bijih mineral,
sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.
c. Larutan KMnO4
Kalium permanganat memiliki nama lain yaitu chameleon mineral,
yang merupakan kristal berwarna ungu menjadi kristal perunggu dan
stabil. Apabila kontak dengan senyawa yang mudah menyala akan
menyebabkan kebakaran dan dijauhkan dari senyawa pereduksi, asam
kuat, material organik, peroksida, alkohol dan senyawa kimia logam
aktif. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat.15
13 Petunjuk Praktikum Kimia Organik, (Semarang: Laboratorium Pendidikan Kimia Jurusan
Tadris Kimia FITK IAIN Walisongo, 2013), hlm 6
14 Satyajit D. Sarker lutfun Nahar......hlm 102
15 0xford.....hlm 246

d. Aquades

Cairan tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, sifatnya tidak


mudah terbakar, tidak korosif, tidak mudah terbakar,tidak berbahaya
jika kontak langsung dengan mata, tertelan dan terhirup.
C. ALAT DAN BAHAN :

Alat :
1. 1 set alat destilasi sederhana
2. Baker glass 100 ml
3. Gelas ukur
4. Pipet tetes

5. Tabung reaksi
6. Erlenmeyer

Bahan :
1. Isopropil alkohol 30 ml
2. H2SO4 pekat 30 ml
3. Larutan KMnO4 0,5% dalam suasana asam
4. Aquades
D. CARA KERJA

30 ml aquades
Dimasukkan kedalam gelas beker
Ditambahkan tetes demi tetes H2SO4 pekat 30 ml secara perlahan
Dimasukkan kelabu destilasi
Ditambahkan isopropyl alkohol 30 ml
HASIL

KMnO4 0,5% dalam suasanaa asam


Dimasukkan dalam erlenmeyer
HASIL
Alat destilasi sederhana
Dirangkai
8

Dilakukan destilasi pada suhu 800 C


Hasil ditampung pada erlenmeyer yang telah terisi KMnO4
Diamati perubahan warnanya
HASIL
E. HASIL PENGAMATAN

No

Pertanyaan

Pengamatan

Pencampuran

antaraLarutan bening dan mengalami reaksi eksotermis

aquades + H2SO4 pekat +


isopropyl alkohol
2

Warna larutan KMnO4Ungu


dalam suasana asam

Destilasi

yang

keluarCairan

berupa gas / cair?


4

Warna
setelah

yang

terbentukWarna larutan coklat, lama kelamaan larutan berwarna

pencampuranbening

destilat dengan KMnO4


5

Hitung rendemen teoritis

Berat percobaan

Berat erlenmeyer + destilat + plastik= 69,80 gram


Berat destilat =16,22 gram
Berat destilasi = 19 ml
Berat teoritis
V. isopropil alkohol = 30 ml
Massa jenis isopropil alkohol = 0,79 g/ml
m= . V
= 0,79g/mL . 30 mL
= 23,7 gram
Mol= gram/ Mr
= 23,7 / 60,01
9

= 0,4 mol
OH
CH3 CH CH3
0,4 mol

CH3 CH = CH2 +H2O


0,4 mol

0,4 mol

Rendemen percobaan

gram/ gram x 100% = 16,22 gr / 23,7 gr x 100


% = 68,44 %

F. PEMBAHASAN

Alkena merupakan senyawa hidrokarbon yang mempunyai kekurangan dua atom


hidrogen dan mempunyai ikatan rangkap dua pada atom C=C. Alkena mempunyai
rumus umum CnH2n dan sering dinamakan hidrokarbon tak jenuh. Propilena termasuk
dalam alkena yang biasa disebut propena. Percobaan kali ini ini dilakukan dengan
cara eliminasi. Reaksi eliminasi merupakan reaksi kimia yang dapat menghasilkan
alkena dalam produknya.
Pada pembuatan propilena ini. hal pertama yang dilakukan yaitu membuat
katalis H2SO4. dengan melarutkan H2SO4 30 mL kedalam air. Di dalam air H2SO4
akan melepaskan ion-ion H+ yang dapat mengikat OH- pada isopropil alkohol. Pada
saat pencampuran larutan, larutan bersifat panas. Hal ini didapatkan dari H 2SO4,
karena asam sulfat tersebut bersifat panas (eksoterm).
Tahap selanjutnya yaitu pembuatan propilena, aquades dimasukan kedalam
labu destilasi ditambahkan 30 mL isopropil alkohol. Didestilat pada alat destilasi
dengan suhu terjaga 800C, hal ini untuk menjaga agar H2O tidak mudah menguap.
Saat proses destilasi akan membentuk propilena yang terbentuk gas kemudian
mengubahnya dalam bentuk cairan dengan adanya kondensor yang terdapat pada alat
destilasi.
Untuk memastikan destilat diperoleh. Maka dilakukan pemberian 1-2 mL
larutan KMnO4. Hal ini untuk mengidentifikasi keberadaan propilena. KMnO 4
digunakan sebagai petunjuk karena KMnO4 mampu terurai dalam propilena dengan
membentuk endapan MnO2.
Reaksi-reaksi yang terjadi pada percobaan pembuatan propilen yaitu:
1. Reaksi katalis asam

OH2

H2SO4

HSO4

3 +

+H

2. Reaksi pembentukan propilena

O
CH3

Lepasnya H
CH

CH3

O
+

CH3

CH

CH3

OH2

CH3

CH+

CH3

10

H
H

H
C

CH

CH2

CH

CH3

3. Reaksi identifikasi propilena


OH

H2SO4

CH3 +
CH
4
2
Distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan
komponen-komponen
yang
o
dapat menguap dibawah suhu 130 C. Penguapan pada distilasi
sederhana
akan
terjadi
OH
bila tekanan uap dari cairan yang dipanaskan sudah sama dengan tekanan udara di
permukaan cairan. Dalam proses distilasi menggunakan cairan yang dipanaskan
sebagai media panas, maka permukaan cairan yang akan didistilasi harus lebih rendah
agar pemanasan merata sehingga penguapan akan sempurna.
Kondensor inilah akan mampu mengubah wujud gas propilena menjadi cair
dalam suhu dan tekanan yang tetap. Pada kondensor ini diperoleh aliran air yang
diberikan pada ruang luar disekitar kondensor.dengan adanya perubahan suhu dan
tekanan, molekul-molekul propilena akan berubah dari wujud gas menjadi cair. Hal
ini akan sangat membantu untuk mendeteksi apakah akan terbentuk propilena dari
hasil destilasi isopropil alkohol atau tidak. Larutan propilena akan jauh pada labu
erlenmeyer dengan mengeluarkan bau yang khas.
Proses destilasi ini diakhiri dengan hilangnya endapan cokelat dan larutan
menjadi tak berwarna.
Reaksi: CH3 CH CH3 CH3 CH = CH2 +H2O
CH2

CH

CH3

KMnO4

CH

MnO

OH
Rendemen percobaan:
16,22 gr / 23,7 gr x 100 % = 68,44 %
Hasil dari rendemen ini menunjukkan bahwa propilen yang dihasilkan adalah
68,44% dari seluruh isopropil alkohol yang digunakan sebagai reaktan. Rendemen ini
paling valid adalah 100%, akan tetapi pada praktiknya tidak mungkin ada rendemen
yang mencapai 100% sehingga digunakan rumus yaitu berat percobaan/ berat teoritis
x 100%.
G. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa,
proses destilasi merupakan proses dimana terjadi pemisahan antara dua larutan untuk
memperoleh larutan yang diinginkan berdasarkan pada perbedaan titik didih.
Propilena akan diperoleh jika dilakukan eliminasi dengan suatu isopropil alkohol dan
menggunakan katalis asam (H2SO4 pekat) dalam suatu proses destilasi sederhana dan
suhu harus di jaga jangan sampai melebihi 80 o. Hasil akhir dari proses destilasi ini
adalah memudarnya warna lembayung dari kalium permanganat menjadi tak
berwarna karena tetes demi tetes gas alkohol yang diubah menjadi cair. Hasil dari
rendemen menunjukkan bahwa propilen yang dihasilkan adalah 68,44% dari seluruh
isopropil alkohol yang digunakan sebagai reaktan.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden,Fessenden, 1982, Kimia Organik Jilid 1 Edisi Ketiga, Jakarta:
ERLANGGA
11

Ibrahim, Sanusi & Marham Sitorus, 2013, Teknik Laboratorium Kimia Organik,
Yogyakarta : GRAHA ILMU
Khamidinal. 2009. Teknik Laboratorium Kimia. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR
Oxford, 1994, Kamus Lengkap Kimia, Jakarta : ERLANGGA
Petunjuk Praktikum Kimia Organik, 2013, Semarang : Laboratorium Pendidikan
Kimia
Respati, 1980, Pengantar Kimia Organik, Yogyakarta : RINEKA CIPTA
Riswiyanto, 2009, Kimia Organik, Jakarta : ERLANGGA
Sardjiman, 2011, Belajar Kimia Organik Metode Iqro, Yogyakarta : PUSTAKA
PELAJAR
Wonorahardjo, Surjani. 2013. Metode-metode Pemisahan Kimia. Jakarta: INDEKS

Semarang, 26 Mei 2014


Mengetahui,
Dosen Pengampu

Praktikan

R. Arrizal Firmansyah. M.Si

Amanda Alif Habibie

12