Anda di halaman 1dari 5

Apakah yang dimaksud dengan Undang-Undang KUP?

KUP adalah singkatan yang biasa dipakai untuk Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan. Undang-Undang KUP memuat ketentuan umum dan tata cara perpajakan yang
pada prinsipnya berlaku bagi undang-undang pajakk materiil, kecuali dalam undangundang pajak yang bersangkutan telah mengatur sendiri mengenai ketentuan umum dan
tata cara perpajakannya.
UU KUP telah mengalami tiga kali perubahan sejak diundangkan pertama kali dengan UU
Nomor 6 Tahun 1983 yang berlaku mulai 1 Januari 1984. Perubahan pertama dilakukan
dengan UU Nomor 9 Tahun 1994 yang berlaku mulai 1 Januari 1995. Perubahan kedua
dilakukan dengan UU Nomor 16 Tahun 2000 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 2001.
Dan perubahan terakhir adalah dengan UU Nomor 28 Tahun 2007 yang mulai berlaku
tanggal 1 Januri 2008.

Apakah yang dimaksud dengan Pajak?


Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang. (Pasal 1 UU Nomor 28 Tahun 2007/
UU KUP)

Apakah yang dimaksud dengan Wajib Pajak?


Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak,
dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Dalam Pasal 2 angka 1 UU KUP disebutkan bahwa, Setiap wajib pajak yang telah
memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak
dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.

Apakah yang dimaksud dengan persyaratan subjektif pajak?


Persyaratan subjektif dalam peraturan perpajakan, yaitu:
1.

Orang pribadi sebagai subjek pajak dalam negeri, dimulai pada saat orang pribadi
tersebut dilahirkan, atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia.

2.

Badan, dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia.

3.

Orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak luar negeri yang menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, dimulai pada saat

orang pribadi atau badan tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui
bentuk usaha tetap di Indonesia.
4.

Orang pribadi atau badan sebagai subjek pajak luar negeri yang dapat menerima
atau memperoleh penghasilan di Indonesia bukan dari menjalan usaha atau melakukan
kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, dimulai pada saat orang pribadi atau
badan tersebut menerima atau memperolah penghasilan dari Indonesia.

5.

Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak,
dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan persyaratan objektif pajak?


Persyaratan objektif berdasarkan UU PPh dapat dibedakan sebagai berikut:
1.

Sebagai pemikul beban pajak, yaitu bagi badan atau orang pribadi yang memperoleh
atau menerima penghasilan yang dikenai PPh berdasarkan UU PPh, yang terdiri dari
Pajak Penghasilan Badan dan Pajak Penghasilan Orang Pribadi.

2.

Sebagai pemungut atau pemotong pajak, terdiri dari pemungutan atau pemotongan
PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 26, PPh Pasal 4 ayat (2) dan PPh
Pasal 15.

Apakah yang dimaksud dengan Self Assessment?


Self Assessment adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan kepercayaan kepada
masyarakat wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan
sendiri pajak yang terutang.
Adapun prinsip self assessment dalam UU KUP sebagai berikut: (Pasal 12 UU KUP)
1.

Setiap wajib pajak membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada
adanya surat ketetapan pajak.

2.

Jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan yang disampaikan oleh
wajib pajak adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.

3.

Apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti jumlah pajak yang terutang
menurut Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar,
Direktur Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang.

Apakah yang dimaksud dengan Wajib Pajak Orang Pribadi?


Wajib pajak orang pribadi adalah wajib pajak yang:
1.
2.

menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas, dan


tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas namun jumlah
penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi
Penghasilan Kena Pajak (PTKP).

Yang dimaksud dengan pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang
pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan
yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja.

Apakah yang dimaksud dengan Wajib Pajak Badan?


Wajib pajak badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan
baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan
terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan
usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana
pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi
kolektif dan bentuk usaha tetap.

Apakah yang dimaksud dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)?


PTKP adalah batas penghasilan wajib pajak orang pribadi yang tidak dikenakan pajak.
Berdasarkan UU PPh tahun 2008 (yang berlaku mulai 1 Januari 2009), PTKP per tahun
diberikan paling sedikit sebesar:
1.

Rp15.840.000,00 (Lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah) untuk
diri wajib pajak orang pribadi;

2.

Rp1.320.000,00 (Satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk wajib
pajak yang kawin;

3.

Rp15.840.000,00 (Lima belas juta delapan ratus empat puluh ribu rupiah)
tambahan untuk seorang isteri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan
suami sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) UU PPh.

4.

Rp1.320.000,00 (Satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) tambahan untuk setiap
anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap
keluarga.

Apakah yang dimaksud dengan Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP?
NPWP adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi
perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam
melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. (Pasal 1 angka 6 UU KUP).
NPWP diberikan kepada wajib pajak orang pribadi atau badan yang berdasarkan UU Pajak
Penghasilan (PPh) dikenai kewajiban perpajakan baik kewajiban perpajakan atas dirinya
sendiri ataupun kewajiban memungut atau memotong PPh pihak lain ( withholding tax ).

Ada berapa digitkah nomor NPWP?


NPWP terdiri dari 15 (lima belas) digit, yaitu 9 (sembilan) digit pertama merupakan Kode
Wajib Pajak dan 6 (enam) digit berikutnya merupakan Kode Administrasi Perpajakan.

Apa yang dimaksud dengan Pengusaha Kena Pajak (PKP)?


PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau
Jasa Kena Pajak (JKP) yang dikenai pajak berdasarkan UU PPN.

Apa sajakah kewajiban sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP)?


Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena
Pajak (JKP) di dalam daerah pabean dan/atau melakukan ekspor BKP Berwujud, ekspor
JKP, dan/atau eskpor BKP Tidak Berwujud diwajibkan:
1.

Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;

2.

Memungut pajak yang terutang;

3.

4.

Menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang masih harus dibayar dalam hal
Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan serta
menyetorkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang, dan;
Melaporkan penghitungan pajak.

Kewajiban di atas tidak berlaku untuk pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh
Menteri Keuangan. Pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku
melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan/atau
penerimaan bruto tidak lebih dari Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).

Adakah sanksi yang diberikan kepada wajib pajak bila tidak mendaftarkan diri
dan melaporkan usahanya?
Ya, ada! Pasal 39 ayat (1) huruf a dan b UU KUP menyatakan bahwa, setiap orang yang
dengan sengaja: (a) tidak mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP atau tidak melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, (b) menyalahgunakan atau menggunakan tanpa
hak NPWP atau PKP sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam)
tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang
dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang
dibayar.
Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila
seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun,
terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan.

Apakah NPWP dapat dimintakan untuk dihapuskan?


Ya bisa. Penghapusan NPWP adalah tindakan menghapuskan NPWP dari tata usaha Kantor
Pelayanan Pajak. Penghapusan ini hanya ditujukan untuk kepentingan tata usaha

perpajakan dan tidak menghilangkan kewajiban perpajakan yang harus dilakukan wajib
pajak yang bersangkutan.
Secara materiil, penghapusan NPWP dilakukan dalam hal: (KepDirjen Pajak Nomor Kep161/PJ/2001 tanggal 21 Februari 2001)
1.

Wajib pajak orang pribadi meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan.

2.

Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan.

3.

Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai subjek pajak sudah selesai
dibagi.

4.

Wajib pajak badan yang telah dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5.

Bentuk usaha tetap yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai bentuk
usaha tetap.

6.

Wajib pajak orang pribadi lainnya selain yang dimaksud dalam huruf a dan b yang
tidak memenuhi syarat lagi sebagai wajib pajak.