Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Millennium Development Goals untuk Mengurangi Kemiskinan
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Semester 6
PEMBIMBING :
Hudriyah M, SH, M.Hum

Disusun Oleh :
Kelompok 4
Khairi Hafizhuddin A.

1241160007

Muhammad Rizal Azizul H.

1241160045

Nahar Fatchul F.

1241160044

Nanda Hajiani P.B

1241160001

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan
makalah dengan tema Kemiskinan dan diberi judul Millennium Development Goals untuk
Mengurangi Kemiskinan dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi
teratasi.
Semoga materi dalam makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran
bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai, Amiin.

Malang, Mei 2015


Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................................1
DAFTAR ISI....................................................................................................................................2
BAB 1..............................................................................................................................................3
PENDAHULUAN...........................................................................................................................3
1.1.

Latar Belakang..................................................................................................................3

1.2.

Rumusan Masalah.............................................................................................................4

BAB II.............................................................................................................................................5
TINJAUAN TEORI.........................................................................................................................5
2.1.

Definisi Kemiskinan.........................................................................................................5

2.2.

Definisi Millenium Development Goals...........................................................................6

BAB III............................................................................................................................................8
PEMBAHASAN..............................................................................................................................8
3.1.

Mengukur Kemiskinan......................................................................................................8

3.2.

Faktor penyebab kemiskinan............................................................................................8

3.3.

Gambaran Umum Kemiskinan Di Indonesia..................................................................12

3.4.

Dampak Kemiskinan.......................................................................................................15

3.5.

Peran Pemerintahdalam Mengatasi Kemiskinan yang Menjadi Salah Satu Tujuan MDGs
17

BAB VI..........................................................................................................................................19
PENUTUP.....................................................................................................................................19
4.1.

Kesimpulan.....................................................................................................................19

4.2.

Daftar Pustaka.................................................................................................................21

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ketahanan Nasional mengandung arti kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan dan
ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional didalam
menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan baik yang
datang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan
integritas, identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Ketahanan Nasional, disamping berperan sebagai doktrin dasar nasional juga merupakan
konsepsi pembangunan, pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan di
segenap aspek kehidupan nasional yang diselenggarakan secara terpadu selaras seimbang dan
serasi dalam rangka menciptakan kehidupan yang makin maju adil dan makmur.
Penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu isu global di mana melalui MGDs
telah disepakati untuk menurunkan angka kemiskinan dan kelaparan di Indonesia hingga
setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990 (Tujuan 1 MDGs). Di Indonesia,
penanggulangan kemiskinan menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional yang
tertuang dalam dokumen resmi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2010 2014. Sesuai amanat RPJMN tersebut, target pencapaian persentase peduduk miskin pada
tahun 2014 adalah sebesar 8 10 persen. Namun, pada tahun 2010 persentase penduduk miskin
di Indonesia masih sebesar 13,33 persen (BPS, 2012).
Untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan, hingga saat ini Pemerintah telah
melaksanakan berbagai program diantaranya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang dilaksanakan
tahun 2005 dan 2008, Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin), Program Keluarga Harapan
(PKH), Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Bantuan Siswa Miskin (BSM),
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) serta Program Kredit
Usaha Rakyat (KUR). Untuk mengkoodinasikan program-program tersebut, Pemerintah juga
telah membentuk Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang diketuai
oleh Wakil Presiden. Organisasi penanggulangan kemiskinan berkembang hingga ke daerah
dengan nama Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) baik di provinsi
maupun di kabupaten/kota (TNP2K, 2012).

Kemiskinan menjadi perhatian serius dan fokus bagi pemerintah. Kemiskinan dianalisis dari
berbagai sudut pandang dan pendekatan guna mendapatkan pemahaman yang utuh. Kemiskinan
bukan gejala sederhana, tidak hanya terkait ekonomi semata, tetapi saling terkait dengan masalah
lain yang amat kompleks.
Selain itu, angka kemiskinan yang ada di Indonesia dari tahun ke tahun sepertinya belum
pernah berkurang begitu banyak,kemiskinan ini juga banyak mengakibatkan banyaknya keluarga
yang kelaparan karena tidak mampu membeli kebutuhan pangan sehari-hari. Malah belakangan
ini angka tersebut semakin besar karena begitu dasyatnya pengaruh krisis moneter yang berimbas
pada krisis ekonomi. Laju inflasi yang semakin besar dan tidak sesaat menjadi pelengkap
keterpurukan warga masyarakat.
Berdasarkan Worldfactbook, BPS, dan World Bank, di tingkat dunia penurunan jumlah
penduduk miskin di Indonesia termasuk yang tercepat dibandingkan negara lainnya. Tercatat
pada rentang 2005 2009 Indonesia mampu menurunkan laju rata-rata penurunan jumlah
penduduk miskin per tahun sebesar 0,8%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian
negara lain semisal Kamboja, Thailand, Cina, dan Brasil yang hanya berada di kisaran 0,1% per
tahun. Bahkan India mencatat hasil minus atau terjadi penambahan penduduk miskin. Walaupun
secara umum, angka kemiskinan Indonesia sejak 1998 2011 terus menurun, namun hal ini
belum cukup dapat dibuktikan karena pada kenyataanya masih banyak desa tertinggal, dan
kemiskinan juga masih terlihat jelas.
Pada sisi lain Indonesia dapat dikatakan sebagai negara terkaya karena sumber daya
alamnya yang berlimpah ruah, namun hal ini tergeser oleh sifat asumtif masyarakat Indonesia,
yang menjadikan masyarakat Indonesia mayoritas sebagai konsumen. Hal ini disebabkan karena
ketidakpiawaian masyarakat Indonesia mengolah sumber daya alamnya. Ini dapat dilihat bahwa
Indonesia nyatanya tidak masuk ke dalah urutan 10 negara termiskin di dunia.

1.
2.
3.
4.
5.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana cara mengukur tingkat kemiskinan ?
Faktor apa yang menyebabkan kemiskinan terjadi ?
Bagaimana gambaran umum tentang kemiskinan di Indonesia?
Apa saja dampak yang disebabkan oleh kemiskinan ?
Bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi kemiskinan yang menjadi salah satu tujuan
MDGs?
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi Kemiskinan


Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti seperti makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dll. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adnya akses terhadap
pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasimasalah kemiskinan dan mendapatkan
kehormatan yang layak sebagai warganegara1
Kemiskinan menurut Suparlan (1995:11)2 didefinisikan sebagai standar tingkat hidup
yang rendah,yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi padasejumlah atau golongan orang
dibandingkan dengan standar hidup yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan. terhadap
tingkat kesehatan, kehidupanmoral dan rasa harga diri dari mereka yang tergolongorang miskin.
Sejarah luas, fenomena kemiskinan terjadi karena ada dua faktor, antara lain merosotnya
kekuatan ekonomi sebuah negara sehingga terjadi ketidakstabilan ekonomi, atau juga memang
negara tersebut sudah miskin. Ragnar Nurkse (dalam Sukirno, 2017:113)3 menyatakan bahwa
sebuah negara adalah miskin karena merupakan negara miskin (A country is poor because it is
poor).
Pernyataan tersebut bisa digambarkan sebagai sebuah rangkaian ketidak milikan sebuah
negara akan sumber daya penunjang ekonomi, seperi sumber daya alam dan manusia. Teori ini
menjelaskan bahwa adanya sebuah konsep melingkar yang pada akhirnya tidak berujung. Satu
kejadian atau faktor akan beruntun membuat sebuah kejadian baru yang sama-sama tidak
memiliki keuntungan, dan terus berulang sampai ke kejadian yang pertama muncul, dan terus
berulang.
Gambar
Teori Lingkaran Kemiskinan

Selengkapnya bisa dilihat di http://id. wikipedia. org/wiki/Kemiskinan


Suparlan, Parsudi. (1993). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta
3
Sukirno, Sadono. (2007). Ekonomi Pembangunan Jakarta: Penerbit Kencana
2

Kemiskinan yang
terjadi bisa

menjadi sebuah awal

atau juga

sebuah akhir dari

sebuah fase. Kemiskinan akan berpengaruh ke rendahnya pendidikan yang di dapat serta
kesehatan yang minim. Pendidikan yang rendah akan berpengaruh ke pendapatan yang bisa
diterima ketika memasuki dunia kerja dan kesehatan yang buruk karena suplai serta lingkungan
yang tidak mendukung membuat produktivitas rendah dikarenakan sering sakit-sakitan. Maka
kesehatan yang rendah harus mengeluarkan banyak biaya sebagai biaya pengganti seperti
membeli obat atau biaya kesehatan lainnya. Pada akhirnya dengan penerimaan bersih yang
diterima kurang cukup, kebutuhan lainnya tidak mampu terpenuhi dan dapat dikategorikan
miskin.
2.2. Definisi Millenium Development Goals
Sasaran Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs)
adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan
butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan
pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam
pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189
negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut.
Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York
tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masingmasing dan komunitas internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam
Millennium Development Goals (MDGs), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk

pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Adapun 8 buah sasaran dari Millennium


Development Goals (MDGs) antara lain:
1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua
3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
4. Menurunkan angka kematian anak
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya
7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup
8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan
Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia
untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin
semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada
semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga
separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.4

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Mengukur Kemiskinan
Kemiskinan adalah indikator salah satu indikator sehatnya perekonomian sebuah negara.
Ada beberapa pendekatan untuk mengukur kemiskinan sebuah negara. Pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan relatif dan pendekatan absolut. Menurut Nugroho dan Dahuri
4

https://ml.scribd.com/doc/82026945/makalah

(2004)5, pendekatan relatif adalah pendekatan yang melihat faktor lain sebagai penentu seperti
subsidi atau distribusi yang dilakukan negara. Sedangkan pendekatan absolut adalah mereka
yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka seperti kekurangan pendapatan, dll.
Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik, mengukur kemiskinan bisa dengan menggunakan
konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini,
kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan
adalah dengan menghitung garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu garis
kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan(GKBM). Penghitungan GK
dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. GKM merupakan nilai
pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2. 100 kilo kalori per kapita
perhari. Sedangkan GKBM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan,
dan kesehatan6.
3.2. Faktor penyebab kemiskinan
Kemiskinan memang suatu masalah yang kompleks. Ia tidak berdiri sendiri, banyak
faktor yang mempengaruhi dan menyebabkannya terjadi. Ada faktor internal yang disebabkan
oleh dirinya sendiri, ada juga yang datang dari luar, seperti lingkungan, pemerintahan, keadaan
perekonomian secara umum, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak dan banyak hal lainnya.
Namun setidaknya kemiskinan muncul karena perbedaan kemampuan, perbedaan sumberdaya
dan perbedaan kesempatan (Maipita, 2013).7
Dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia, telah diatur dengan tegas dalam
Undang-Undang Dasar tahun 1945 bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
Meskipun dalam prakteknya masih dapat diperdebatkan apakah Indonesia selama ini telah
melaksanakan amanat Undang-Udang Dasarnya sendiri atau justru melanggarnya (dalam arti
belum mampu melaksanakan sepenuhnya).

Nugroho, Iwan dan Dahuri, Rochmin. (2004). Pembangunan Wilayah, Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan.
Jakarta: LP3ES.
6
Selengkapnya bisa dilihat di http://bps. go. id/menutab. php?tabel=1&kat=1&id_subyek=23
7
Maipita, Indra. 2013. Penyebab dan Dampak Kemiskinan. http://waspada.co.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=305856:penyebab-dan-dampakkemiskinan&catid=25:artikel&Itemid=44.

Secara umum, penyebab kemiskinan dapat dibagi kedalam empat mazhab (Spicker,
2002)8, yaitu:
1. Individual explanation, kemiskinan cenderung diakibatkan oleh karakteristik orang

miskin itu sendiri. Karakteristik yang dimaksud seperti malas dan kurang sungguhsungguh dalam segala hal, termasuk dalam bekerja. Mereka juga sering salah dalam
memilih, termasuk memilih pekerjaan, memilih jalan hidup, memilih tempat tinggal,
memilih sekolah dan lainnya. Gagal, sebahagian orang miskin bukan karena tidak
pernah memiliki kesempatan, namun ia gagal menjalani dengan baik kesempatan
tersebut. Seseorang yang sudah bekerja namun karena sesuatu hal akhirnya ia
diberhentikan (PHK) dan selanjutnya menjadi miskin.
Ada juga yang sebelumnya telah memiliki usaha yang baik, namun gagal dan
bangkrut, akhirnya menjadi miskin. Sebagian lagi pernah memperoleh kesempatan
mengikuti pendidikan yang lebih tinggi, namun gagal menyelesaikannya, drop out
dan akhirnya menjadi miskin. Tidak jarang juga terlihat bahwa seseorang menjadi
miskin karena memiliki cacat bawaan.
Dengan keterbatasannya itu ia tidak mampu bekerja dengan baik, bersaing dengan
yang lebih sehat dan memiliki kesempatan yang lebih sedikit dalam berbagai hal yang
dapat menentukan kondisi ekonomi hidupnya.
2. Familial explanation, kemiskinan lebih disebabkan oleh faktor keturunan. Tingkat

pendidikan orang tua yang rendah telah membawa dia kedalam kemiskinan.
Akibatnya ia juga tidak mampu memberikan pendidikan yang layak kepada anaknya,
sehingga anaknya juga akan jatuh pada kemiskinan. Demikian secara terus menerus
dan turun temurun.
3. Subcultural explanation, kemiskinan dapat disebabkan oleh kultur, kebiasaan, adat-

istiadat, atau akibat karakteristik perilaku lingkungan. Misalnya, kebiasaan yang


bekerja adalah kaum perempuan, kebiasaan yang enggan untuk bekerja keras dan
menerima apa adanya, keyakinan bahwa mengabdi kepada para raja atau orang
terhormat meski tidak diberi bayaran dan berakibat pada kemiskinan. Terkadang
orang seperti ini justru tidak merasa miskin karena sudah terbiasa dan memang
kulturnya yang membuat demikian.

(Spicker, 2002)
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/1468-5965.00053/abstract

4. Structural explanations, kemiskinan timbul akibat dari ketidakseimbangan, perbedaan

status yang dibuat oleh adat istiadat, kebijakan, dan aturan lain menimbulkan
perbedaan hak untuk bekerja, sekolah dan lainnya hingga menimbulkan kemiskinan
di antara mereka yang statusnya rendah dan haknya terbatas. Kemiskinan yang
disebabkan oleh dampak kebijakan pemerintah, atau kebijakan yang tidak berpihak
pada kaum miskin juga termasuk dalam beberapa penyebap terjadinya kemiskinan,
sehingga kemiskinan yang timbul itu sering disebut dengan kemiskinan struktural.
Kemiskinan tidak hanya terdapat di desa, namun juga di kota. Kemiskinan di desa
terutama disebabkan oleh faktor-faktor antara lain:
1) Ketidakberdayaan. Kondisi ini muncul karena kurangnya lapangan kerja, rendahnya

harga produk yang dihasilkan mereka, dan tingginya biaya pendidikan.


2) Keterkucilan, rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya keahlian, sulitnya transportasi,
serta ketiadaan akses terhadap kredit menyebabkan mereka terkucil dan menjadi miskin.
3) Kemiskinan materi, kondisi ini diakibatkan kurangnya modal, dan minimnya lahan

pertanian yang dimiliki menyebabkan penghasilan mereka relatif rendah.


4) Kerentanan, sulitnya mendapatkan pekerjaan, pekerjaan musiman, dan bencana alam,
membuat mereka menjadi rentan dan miskin.
5) Sikap, sikap yang menerima apa adanya dan kurang termotivasi untuk bekerja keras

membuat mereka menjadi miskin.


Kemiskinan di kota pada dasarnya disebabkan oleh faktor-faktor yang sama dengan di
desa,

yang

berbeda

adalah

penyebab

dari

faktor-faktor

tersebut,

misalnya

faktor

ketidakberdayaan di kota cendrung disebabkan oleh kurangnya lapangan kerja, dan tingginya
biaya hidup.
Kemiskinan dapat juga disebabkan oleh:
a)
b)
c)
d)
e)

Rendahnya kualitas angkatan kerja.


akses yang sulit dan terbatas terhadap kepemilikan modal.
Rendahnya tingkat penguasaan teknologi.
Penggunaan sumberdaya yang tidak efisien.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi.
Selain dari berbagai pendapat di atas, kemiskinan secara umum disebabkan oleh dua

faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang datang dari
dalam diri orang miskin, seperti sikap yang menerima apa adanya, tidak bersungguh-sungguh
dalam berusaha, dan kondisi fisik yang kurang sempurna. Sedangkan faktor eksternal adalah
faktor yang datang dari luar diri si miskin, seperti keterkucilan karena akses yang terbatas,

kurangnya lapangan kerja, ketiadaan kesempatan, sumberdaya alam yang terbatas, kebijakan
yang tidak berpihak dan lainnya. Sebahagian besar faktor yang menyebabkan orang miskin
adalah faktor eksternal. Beberapa faktor penyebab kemiskinan lainnya adalah pertumbuhan
ekonomi lokal dan global yang rendah, pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan stabilitas politik
yang tidak kondusif.
Dalam suatu negara, peran pemerintah sangat menentukan, baik dalam membuat
masyarakat menjadi miskin, maupun keluar dari kemiskinan. Kebijakan yang kurang tepat dan
ketidakpberpihakan terhadap masyarakat miskin akan menciptakan kemiskinan yang lebih
banyak dan lebih dalam. Sebagai contoh, ijin yang diberikan pemerintah kepada pengusaha
untuk membuka perkebunan besar, terkadang menimbulkan kemiskinan. Hutan yang dibabat dan
dijadikan kebun sawit, dapat membuat keringnya sungai dan irigasi. Akibatnya sawah dan kolam
telah kering, masyarakat tidak dapat lagi menanam padi. Akhirnya mereka terpaksa menjadi
buruh harian kebun (bila diterima) yang sesungguhnya mereka tidak punya keahlian dibidang itu.
Mereka tidak dapat lagi menyekolahkan anaknya dan akhirnya terperangkap dalam kemiskinan.
Kebijakan pemerintah membolehkan supermarket dan pasar modern masuk hingga ke
tingkat kecamatan juga akan berdampak terhadap pasar tradisional yang sebagian besar dikelola
oleh masyarakat kelas bawah. Kebijakan yang berpihak pada pasar bebas dan kurang peduli
dengan kesiapan para petaninya sendiri tentu akan berdampak pada penurunan kesejahteraan
masyarakat dan akhirnya berujung pada kemiskinan. Harga barang kebutuhan pokok yang
berfluktuasi bahkan cenderung naik, besarnya biaya pendidikan dan kesehatan, distribusi
pendapatan yang tidak merata, pembangunan yang timpang dan hanya berpusat di pulau jawa
dan kota serta banyak kebijakan lainnya yang kurang berpihak, akan dapat menambah rentannya
kondisi masyarakat.
3.3. Gambaran Umum Kemiskinan Di Indonesia
Kemiskinan adalah masalah ekonomi yang pasti dialami oleh semua negara termasuk
Indonesia sebagai negara dengan kategori negara berkembang. Upaya sebuah negara berubah
menjadi semakin maju tidak berarti tidak meninggalkan masalah. Kemiskinan adalah sebuah
masalah sensitif karena melibatkan banyak sekali unsur di dalamnya, bahkan tidak hanya
masalah keuangan atau ekonomi, tetapi juga merembet ke permasalahan perbedaan status sosial
dan SARA sehingga kemiskinan adalah sebuah permasalahan yang bersifat multi dimensional.

Maksudnya adalah kemiskinan memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin secara aset,
organisasi sosial politik, pengetahuan dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin
akan relasi, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut dapat
ditemui dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat, pelayanan kesehatan yang
kurang memadai dan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, dimensi-dimensi kemiskinan
saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Fenomena kemiskinan sendiri berkaitan erat dengan konsep dan permasalahan ketidak
adilan dan disintegrasi kelompok, menunjuk pada sebuah jalinan konsep yang memberi sebuah
pengertian yang saling berkait satu sama lain. Masing-masing konsep bisa dilihat secara tunggal
dengan pengertian tersendiri atau analisis saling keterkaitan atau keterhubungan satu dengan
lainnya dalam konteks kausalitas. Kemiskinan bisa terjadi karena adanya ketidak adilan di
masyarakat yang dapat mengganggu rasa kebersamaan, atau karena perlakuan yang tidak adil
dalam perlakuan/pemerataan, ada masyarakat yang merasa miskin dalam berbagai hal yang
berakibat pada pertentangan dan perpecahan9.
Secara umum Indonesia adalah negara yang sedang berproses menuju negara industri
yang maju. Hal ini ditandai dengan sedikitnya efek yang diterima ketika terjadi krisis ekonomi
global tahun 2008 kemarin, tepat di belakang negara-negara industri besar dunia seperti Cina dan
India. Namun bagaimanapun Indonesia tetaplah negara berkembang yang memiliki
permasalahan ekonomi termasuk kemiskinan. Indonesia memiliki ciri-ciri sebagaimana karakter
yang ada di negara-negara dunia ketiga lainnya. J. W. Schrool (1981:232) 10 menjelaskan bahwa
ada 15 ciri-ciri negara berkembang, yaitu:
1. Tidak cukup makan, dengan batasa kurang dari 2. 500 kalori
2. Struktur agraria lemah karena pembagian tanah milik yang tidak baik, sehingga seorang
petani hanya memiliki tanah yang tidak begitu luas.
3. Industri kurang berkembang, karena kecilnya persentase penduduk yang bekerja di
sektor industri.
4. Tidak banyak menggunakan tenaga mesin dan masih menggunakan tenaga manusia atau
hewan.
5. Ketergantungan ekonomi tinggi, khususnya pada bantuan luar negeri
9

Astika, KS. (2010). Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Budaya Kemiskinan Di Masyarakat:
Tinjauan Kondisi Kemiskinan Dan Kesadaran Budaya Miskin Di Masyarakat. ,1 (1), hlm. 20
10
Schrool, J. W. (1981). Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang.
Jakarta : PT. Gramedia

6. Perkambangan sektor perdagangan dan pelayanan terlalu maju, tidak seimbang dengan
sektor pertanian dan industri.
7. Struktur sosial terbelakang dan belum sesuai dengan masyarakat modern
8. Kelas menengah tidak begitu maju sehingga tidak ada yang memanikan peranan penting
dalam perkambangan perekonomian.
9. Pengangguran terbuka dan pengangguran terselubung jumlahnya besar.
10. Tingkat pengajaran rendah sehingga angka buta huruf masih tinggi.
11. Mutu pengajaran juga rendah karena tidak ada perencanaan yang baik.
12. Angka kelahiran tinggi.
13. Keadaan kesehatan jelek, ditandai dengan angka kematian yang cukup tinggi sehingga
berpengaruh juga terhadap produksi.
14. Orientasi kepada tradisi dan kepada kelompok.
15. Sikap kerja tidak mengandung cita-cita untuk bekerja secara mantap dan terus menerus
Sejak pemerintahan zaman orde lama hingga pasca reformasi, ada beberapa moment
krusial tentang kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Seperti di zaman Orde Baru pimpinan
Soeharto. Pasca turunnya Soekarno dan diangkatnya Soeharto sebagai Presiden, beliau
mencangkan program-program pembentuk ekonomi rakyat dengan cita-cita membentuk
Indonesia sebagai negara dengan spesialisasi tertentu dan terwujud ide untuk melakukan
swasembada pangan (beras). Dengan kondisi Indonesia sebagai negara agraris, Soeharto
membentuk Indonesia sebagai negara swasembada beras dunia, yang diikuti oleh pujian oleh
khalayak dunia. Tidak hanya itu, Soeharto juga membuat beberapa kebijakan kesejahteraan
sosial seperti Pelita (Pembangunan Lima Tahun) serta Kredit Usaha Tani.
Secara gasir besar, sumber-sumber program-program pembangunan yang Soeharto buat
adalah dari pinjaman-pinjaman luar negeri seperti IMF dan Consultative Group on Indonesia,
sebuah organisasi negara kreditor untuk Indonesia yang di sponsori oleh Perancis. Selain itu,
Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB
seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang
bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan
pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen
ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya
bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. 11
Tabel 2. 1
Kemiskinan Di Indonesia Tahun 1996-2000
11

Selengkapnya bisa dilihat di http://id. wikipedia. org/wiki/Soeharto

Jumlah Penduduk Miskin Persentase


Tahun
1996
1997
1998
1999
2000

Penduduk

(Juta Orang)
Kota
Desa

Miskin
Kota+Desa Kota
Desa
22

Kota+Desa
11,

7,20

,50

30

15,30

9,70

12,30

34
9,42

24,59

,01

17,
13,39

19,78

47

49
17,60

31,90

,50

24,
21,92

25,72

20

47
15,64

32,33

,97

12,31
26,43
,74
Sumber : Badan Pusat Statistik

23,
19,41

26,03

43

38

19,
14,60

22,38

14

Krisis ekonomi 1997/1998 telah mengubur prestasi ekonomi Orde Baru. Kemiskinan
melonjak tajam hingga mencapai 24,2% di tahun 1998. Hal ini sangat disayangkan padahal
sebelumnya perekonomian kita mendapat pujian sebagai salah satu kejaiban ekonomi
Asia(Sjahrir, 1997 ; Stamboel, 2012)12. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998, semakin
meluas menjadi krisis politik yang justru menyebabkan semakin parahnya kondisi perekonomian
Indonesia. Demonstrasi mahasiswa merebak ke seluruh penjuru nusantara. Rupiah yang sempat
menguat Rp. 7. 000 per satu dollar AS, melemah kembali ke tingkat Rp. 9. 000. Lebih-lebih
setelah pemerintah memustuskan menaikan harga BBM.
Lepas dari krisis 1998, Indonesia mulai menata kembali perekonomian. Pemerintah
menyadari bahwa harus adanyas ebuah jaminan sosial agar nantinya kemungkinan terjadinya
krisis ekonomi seperti kejadian 1998 tidak terulang. Sejak saat itu lahir Jaminan Pengaman
Sosial (JPS) yang melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin dari guncangan ekonomi.
Sejak tahun 2000, konsep JPS mulai dikaji, dikembangkan dan sedikit demi sedikit dijalankan.
Di periode Kabinet Indonesia Bersatu I dan II, konsep JPS iniberkembang baik. TNP2K yang
bekerja langsung dibawah Wakil Presiden langsung menanganinya. Program penanganan
kemiskinan ini berevolusi menjadi program empat kluster (bantuan sosial, pemberdayaan

12

Stamboel, K. A. (2012). Panggilan keberpihakan: Strategi Mengakhiri Kemiskinan Di Indonesia. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

masyarakat, pemberdayaan UMKM dan program murah) yang merupakan program andalan
pemerintah.
3.4. Dampak Kemiskinan
Dampak kemiskinan begitu bervariasi karena kondisi dan penyebab yang berbeda
memunculkan akibat yang berbeda juga.
1. Pengangguran merupakan dampak dari kemiskinan, berhubung pendidikan dan
keterampilan merupakan hal yang sulit diraih masyarakat, maka masyarakat sulit untuk
berkembang dan mencari pekerjaan

yang layak untuk memenuhi kebutuhan.

Dikarenakan sulit untuk bekerja, maka tidak adanya pendapatan membuat pemenuhan
kebutuhan sulit, kekurangan nutrisi dan kesehatan, dan tak dapat memenuhi kebutuhan
penting lainnya. Misalnya saja harga beras yang semakin meningkat, orang yang
pengangguran sulit untuk membeli beras, maka mereka makan seadanya. Seorang
pengangguran yang tak dapat memberikan makan kepada anaknya akan menjadi dampak
yang buruk bagi masa depan sehingga akan mendapat kesulitan untuk waktu yang lama.
2. Kriminalitas merupakan dampak lain dari kemiskinan. Kesulitan mencari nafkah
mengakibatkan orang lupa diri sehingga mencari jalan cepat tanpa memedulikan halal
atau haramnya uang sebagai alat tukar guna memenuhi kebutuhan. Misalnya saja
perampokan, penodongan, pencurian, penipuan, pembegalan, penjambretan dan masih
banyak lagi contoh kriminalitas yang bersumber dari kemiskinan. Mereka melakukan itu
semua karena kondisi yang sulit mencari penghasilan untuk keberlangsungan hidup dan
lupa akan nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan. Di era global dan materialisme
seperti sekarang ini tak heran jika kriminalitas terjadi dimanapun.
3. Putusnya sekolah dan kesempatan pendidikan sudah pasti merupakan dampak
kemiskinan. Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan rakyat miskin putus sekolah
karena tak lagi mampu membiayai sekolah. Putus sekolah dan hilangnya kesempatan
pendidikan akan menjadi penghambat rakyat miskin dalam menambah keterampilan,
menjangkau cita-cita dan mimpi mereka. Ini menyebabkan kemiskinan yang dalam
karena hilangnya kesempatan untuk bersaing dengan global dan hilangnya kesempatan
mendapatkan pekerjaan yang layak.
4. Kesehatan sulit untuk didapatkan karena kurangnya pemenuhan gizi sehari-hari akibat
kemiskinan membuat rakyat miskin sulit menjaga kesehatannya. Belum lagi biaya

pengobatan yang mahal di klinik atau rumah sakit yang tidak dapat dijangkau masyarakat
miskin. Ini menyebabkan gizi buruk atau banyaknya penyakit yang menyebar.
5. Buruknya generasi penerus adalah dampak yang berbahaya akibat kemiskinan. Jika anakanak putus sekolah dan bekerja karena terpaksa, maka akan ada gangguan pada anakanak itu sendiri seperti gangguan pada perkembangan mental, fisik dan cara berfikir
mereka. Contohnya adalah anak-anak jalanan yang tak mempunyai tempat tinggal, tidur
dijalan, tidak sekolah, mengamen untuk mencari makan dan lain sebagainya. Dampak
kemiskinan pada generasi penerus merupakan dampak yang panjang dan buruk karena
anak-anak seharusnya mendapatkan hak mereka untuk bahagia, mendapat pendidikan,
mendapat nutrisi baik dan lain sebagainya. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam
kesulitan hingga dewasa dan berdampak pada generasi penerusnya.13
3.5. Peran Pemerintahdalam Mengatasi Kemiskinan yang Menjadi Salah Satu Tujuan
MDGs
Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dibentuk sebuah lembaga
penganggulangan kemiskinan bernama Pembentukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan
Kemiskinan (TNP2K). Pemerintahan SBY menargerkan penurunan angka kemiskinan secara
nasional sebesar 8 10 % pada akhir tahun 2014. Maka dari itu, pemerintah menurunkan
Peraturan Presiden No. 15 tentang Percepatan Penanggualangan Kemiskinan yang didalamnya
berisi pembentukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). TNP2K
merupakan tim lintas sector dan lintas pemangku kemiskinan di tingkat pusat untuk
penanggulangan kemiskinan.
TNP2K dalam penanggulangan kemiskinan bersasaran dengan membentuk beberapa
program klaster, yaitu klaster I, klaster II, klaster III, dan klaster IV.
Sasaran klaster I berbasis rumah tangga atau keluarga. . Program-program Penanggulangan
Kemiskinan Klaster I
1.
2.
3.
4.
5.

13

Program Keluarga Harapan (PKH)


Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)
Program Beras Untuk Keluarga Miskin (RASKIN)

Pratiwi, Saefaki. 2012. Dampak Kemiskinan. http://saefakipratiwi.wordpress.com/2012/03/08/dampakkemiskinan/.

Sasran kalster II adalah komunitas. Programnya berlandaskan prinsip pemberdayaan


masyarakat. Program-program Penanggulangan Kemiskinan Klaster II
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)


PNPM Mandiri Perdesaan
PNPM Perdesaan R2PN (Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias)
PNPM Mandiri Agribisnis/SADI (Smallholder Agribusiness Development Initiative)
PNPM Generasi Sehat Dan Cerdas
PNPM Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP)
Program Pengembangan Sistem Pembangunan Partisipatif (P2SPP)
PNPM Mandiri Respek (Rencana Strategis Pengembangan Kampung) Bagi Masyarakat

Papua
9. PNPM Mandiri Perkotaan
10. PNPM Mandiri Infrastruktur Perdesaan
11. Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW)
12. Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS)
13. PNPM-Mandiri Daerah Tertinggal Dan Khusus/Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal Dan Khusus (P2DTK)
14. PNPM Mandiri Kelautan Dan Perikanann (PNPM Mandiri-KP)
15. PNPM-Mandiri Pariwisata
16. PNPM-Mandiri Perumahan dan Permukiman (PNPM-Mandiri Perkim)
17. Program Perluasan Dan Pengembangan Kesempatan Kerja/Padat Karya Produktif
Saran klaster III adalah usaha mikro dan kecil. Program ini bertujuan untuk memberikan
akses penguatan ekonomi bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Program-program
Penanggulangan Kemiskinan Klaster III yaitu:
1. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
2. Kredit Usaha Bersama (KUBE)
Sasaran kalaster IV adalah perluasan program pro rakyat yang brtujuan meningkatkan
akses terhadap ketersediaan pelayanan dasar dan peningkatan kualitas hidup masyarakat miskin.
1. Program Rumah Sangat Murah.
2. Program Kendaraann Angkutan Umum Murah.
3. Program Air Bersih Untuk Rakyat.
4. Program Listrik Murah dan Hemat.
5. Program Peningkatan Kehidupan Nelayan.
6. Program Peningkatan Kehidupan Masyarakat Miskin Perkotaan.

BAB VI
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas kita bisa mengambil kesimpulan dalam beberapa poin, diantaranya :
1. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi
kebutuhan dasar, kemiskinan kadang juga berarti tidak adnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan yang mampu mengatasimasalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang
layak sebagai warganegara.
2. Millennium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium adalah
tujuan pembangunan global yang dideklarasikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Milenium
oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan
September 2000. Deklarasi ini merupakan kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah arah
pembangunan global yang dirumuskan dalam 8 tujuan. Setiap tujuan menetapkan satu atau
lebih target serta masing-masing indikator yang akan diukur tingkat pencapaiannya atau
kemajuannya pada tenggat waktu tertentu hingga tahun 2015.
3. Dalam mengukur kemiskinan bisa dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi
kebutuhan dasar (basic needs approach), metode yang digunakan adalah dengan menghitung
garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu garis kemiskinan makanan
(GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan(GKBM).
4. Gambaran kemiskinan di Indonesia bisa dilihat dari zama orde baru dimana Soeharto,
presiden pada saat itu mencanangkan program swasembada pangan, program pelita, dan
kredit usaha tani, pembiayaan yang didapat pada saat itu diberikan oleh investor asing,
namun karena ketidakmampuan dalam manajemen ekonomi dan keuangannya sehingga
menyebabkan Indonesia bergantung kepada donatur asing apalagi semenjak krisis di tahun
1997, setelah era Soeharto selesai dan digantikan oleh Habibie, Indonesia mulai kembali
menata perekonomiannya salah satunya dengan program Jaminan Pengaman Sosial (JPS)
yang melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin dari guncangan ekonomi. Sejak
tahun 2000, konsep JPS mulai dikaji, dikembangkan dan sedikit demi sedikit dijalankan. Di
periode Kabinet Indonesia Bersatu I dan II, konsep JPS iniberkembang baik. TNP2K yang
bekerja langsung dibawah Wakil Presiden langsung menanganinya. Program penanganan
kemiskinan ini berevolusi menjadi program empat kluster (bantuan sosial, pemberdayaan

masyarakat, pemberdayaan UMKM dan program murah) yang merupakan program andalan
pemerintah.
5. Faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Indonesia bisa dilihat dari tingkat
pendidikan yang dituntaskan penduduk, budaya miskin, regulasi pemerintah, kesempatan
kerja kurang memadai, distribusi pendapatan tidak merata, ketidakstabilan politik
6. Upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan yang menjadi salah satu tujuan MDGs
Sasaran klaster I berbasis rumah tangga atau keluarga. . Program-program Penanggulangan
Kemiskinan Klaster I
1)
2)
3)
4)
5)

Program Keluarga Harapan (PKH)


Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)
Program Beras Untuk Keluarga Miskin (RASKIN)
Sasran kalster II adalah komunitas. Programnya berlandaskan prinsip pemberdayaan

masyarakat. Program-program Penanggulangan Kemiskinan Klaster II


1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)


PNPM Mandiri Perdesaan
PNPM Perdesaan R2PN (Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias)
PNPM Mandiri Agribisnis/SADI (Smallholder Agribusiness Development Initiative)
PNPM Generasi Sehat Dan Cerdas
PNPM Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP)
Program Pengembangan Sistem Pembangunan Partisipatif (P2SPP)
PNPM Mandiri Respek (Rencana Strategis Pengembangan Kampung) Bagi Masyarakat

Papua
9) PNPM Mandiri Perkotaan
10) PNPM Mandiri Infrastruktur Perdesaan
11) Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW)
12) Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS)
13) PNPM-Mandiri Daerah Tertinggal Dan Khusus/Percepatan Pembangunan Daerah
Tertinggal Dan Khusus (P2DTK)
14) PNPM Mandiri Kelautan Dan Perikanann (PNPM Mandiri-KP)
15) PNPM-Mandiri Pariwisata
16) PNPM-Mandiri Perumahan dan Permukiman (PNPM-Mandiri Perkim)
17) Program Perluasan Dan Pengembangan Kesempatan Kerja/Padat Karya Produktif
Saran klaster III adalah usaha mikro dan kecil. Program ini bertujuan untuk memberikan
akses penguatan ekonomi bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Program-program Penanggulangan
Kemiskinan Klaster III yaitu:
1) Kredit Usaha Rakyat (KUR)
2) Kredit Usaha Bersama (KUBE)

Sasaran kalaster IV adalah perluasan program pro rakyat yang brtujuan meningkatkan
akses terhadap ketersediaan pelayanan dasar dan peningkatan kualitas hidup masyarakat miskin.
1) Program Rumah Sangat Murah.
2) Program Kendaraann Angkutan Umum Murah.
3) Program Air Bersih Untuk Rakyat.
4) Program Listrik Murah dan Hemat.
5) Program Peningkatan Kehidupan Nelayan.
6) Program Peningkatan Kehidupan Masyarakat Miskin Perkotaan.
4.2. Daftar Pustaka
http://id. wikipedia. org/wiki/Kemiskinan
http://bps. go. id/menutab. php?tabel=1&kat=1&id_subyek=23
http://penomda. blogspot. com/2010/03/model-pengentasan-kemiskinandi. Html
http://saefakipratiwi.wordpress.com/2012/03/08/dampak-kemiskinan
http://waspada.co.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=305856:penyebab-dan-dampakkemiskinan&catid=25:artikel&Itemid=44.
http://viniafriani.blogspot.com/2014/04/upaya-pemerintah-mengatasi-masalah.html.
http://lindapushyy.blogspot.com/2013/04/upaya-pemerintah-dalam-mengatasi.html.
http://regional.kompasiana.com/2013/08/08/pemberantasan-kemiskinandemi-mdgs-579746.html

https://cimsaformdgs.wordpress.com/2012/09/30/millennium-development-goals-untukmengurangi-kemiskinan-global/

http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Milenium