Anda di halaman 1dari 5

DEMOKRASI, PEMILU DAN PARTISIPASI

Oleh ; Fitrah Insani


(Relawan Demokrasi pada KPU Kota Bengkulu)

Selayang pandang Demokrasi


Istilah demokrasi yang sering kita kenal, berasal dari kata demos dan
kratos yang masing- masing berarti rakyat dan kekuasaan, jadi secara
harfiah demokrasi berarti kekuasaan rakyat, atau rakyat berkuasa. Gagasan
yang paling pokok mengenai demokrasi adalah bahwa keberdirian suatu
negara atau pemerintahan adalah untuk rakyat, jadi negara ataupun
pemerintahan pada dasarnya adalah pelayan bagi rakyat yang bertugas
mengelola sumberdaya-sumberdaya milik rakyat untuk kepentingan rakyat
itu sendiri.
Demokrasi sudah ada pada masa Yunani kuno (abad ke-6 sampai abad
ke-3 SM), ini di kenal dengan direct demokrasi yaitu suatu pemerintahan
dimana hak untuk membuat keputusan dijalankan secara bersama dengan
melibatkan rakyat, dengan prosedur pengambilan keputusan dengan suara
mayoritas. Hal ini memungkinkan pada waktu itu karena city state (negara
kota) hanya di tempati oleh penduduk dengan jumlah kira- kira 300.000
penduduk, dan yang dilibatkan hanya sebagian kecil dari jumlah penduduk
karena dalam pengambilan keputusan hanya untuk warga negara resmi, dan
tidak termasuk bagi pedagang asing dan budak belian, namun setelah itu
kebudayaan ini akhirnya hilang semenjak bangsa Romawi yang sedikit
banyak mengenal dan melekat kebudayaan yunani kuno dikalahkan oleh
suku bangsa eropa barat. (lihat Miriam budiardjo)
Pada zaman silam saat negara belum di kenal dan masih zaman
kerajaan-kerajaan, kesempatan untuk memimpin hanya di miliki oleh
keluarga raja itu sendiri, rakyat biasa tidak meiliki kesempatan untuk
memimpin kerajaan, kecendrungan bagi raja dan pejabat-pejabat kerajaan
untuk berlaku sewenang wenang menjadi tak terbatas (absolut) dan
mengakibatkan rakyat menjadi tumbal kesewenang-wenangan baginya,
karena saat itu yang di pahami dan tertanam di alam bawah sadar yaitu
rakyat pelayan bagi raja, dan rakyat adalah budak bagi kerajaan.
Dua kejadian besar yang tercatat dalam sejarah misalnya Renaissance
(1350-1500) dan Reformasi (1500-1650) adalah bukti bahwasanya manusia
berusaha untuk merubah kondisi masyarakatnya agar menjadi lebih baik
secara kolektif. Kesadaran akan pentingnya nilai kemanusiaan menginginkan
adanya perjuangan, semangat perubahan yang di dorong oleh rasa
1

kemanusiaan pada akhirnya mengantarkan manusia ke zaman lebih modern


dimana akal dapat membebaskan diri dari pembatasan-pembatasaannya.
Kita tidak boleh menutup mata bahwa orang-orang terdahulu telah berupaya
dengan keras agar mengantarkan kita pada Kondisi sekarang ini dan wajib
kita syukuri, meski tidak lepas dari persoalan- persoalan yang baru, karena
dengan adanya demokrasi, dan pemilu sebagai salah satu sarananya yang
paling sentral, menjadikan semua berkesempatan untuk memimpin
masyarakat, dan harapannya tentu yang memimpin adalah orang-orang
terbaik yang muncul dari masyarakat itu sendiri.

Memilih Pemimpin Melalui Pemilu


Jika suatu
jabatan diberikan atau dipegang oleh
orang-orang yang bukan ahlinya, maka tungggulah
kehancurannya. (al-hadist)
Pada saat Masa Rezim Soeharto merupakan contoh dari pemilu yang
tidak demokratis karena birokrasi yang cenderung tunduk kepada rezim yang
berkuasa dan KPU (Komisi Pemilihan Umum) juga berisi para birokrat yang
tunduk dan membela rezim yang berkuasa, di tambah lagi dengan
manipulasi perhitungan suara mulai dari tingkat TPS sampai di tingkat KPU,
akibatnya pemilu menjadi kehilangan fungsinya sebagai sarana demokrasi
bagi rakyat. Namun kita tetap bersyukur, setelah reformasi yang telah di
perjuangkan
kaum
pemuda,
memberikan
peluang
besar
bagi
penyelenggaraan pemilu yang demokratis tinggal lagi bagaimana
menjadikan masyarakat sebagai pemilih cerdas sehingga tidak terjebak
dengan politik uang (money politik) yang nilainya rendah.
Siapakah yang harus menegakkan keadilan, dalam
masyarakat? Sudah barang pasti ialah masyarakat sendiri,
tetapi dalam prakteknya diperlukan adanya satu
kelompok dalam masyarakat yang karena kualitas-kualitas
yang dimilikinya senantiasa mengadakan usaha-usaha
menegakkan
keadilan
itu
dengan
jalan
selalu
menganjurkan sesuatu yang bersifat kemanusiaan serta
mencegah terjadinya sesuatu yang berlawanan dengan
kemanusiaan (Qs 2:104). Kualitas terpenting yang harus
dipunyainya, ialah rasa kemanusiaan yang tinggi sebagai
pancaran kecintaan yang tak terbatas pada Tuhan. Di
samping itu diperlukan kecakapan yang cukup. Kelompok
2

orang-orang itu adalah pimpinan masyarakat; atau


setidak-tidaknya mereka adalah orang-orang yang
seharusnya memimpin masyarakat. Memimpin adalah
menegakkan keadilan, menjaga agar setiap orang
memperoleh hak asasinya, dan dalam jangka waktu yang
sama menghormati kemerdekaan orang lain dan martabat
kemanusiaannya sebagai manifestasi kesadarannya akan
tanggung jawab sosial. (Nurcholish Madjid dalam NDP
HMI)
Sangat di sayangkan jika orang-orang yang memimpin atau yang
diberikan amanah oleh rakyat adalah orang orang yang sebenarnya tidak
menguasai secara ilmu mengenai apa yang harus ia perbuat saat
mengemban amanah atau malah lebih buruk lagi jika orang orang tersebut
bukanlah orang yang memiliki moralitas, tentu saja mereka tidak mampu
mendatangkan perubahan bagi rakyatnya, atau malah membuat kondisi
makin parah lagi, untuk itulah perlunya suatu amanah itu di berikan kepada
orang-orang yang memiliki kualitas diri, yaitu karena kebaikan hatinya dan
kualitas ilmu yang dimilikinya secara bersamaan sehingga mampu untuk
menjalankan amanah dan berbuat untuk rakyat menjadi lebih bernilai guna.
Memilih salah satu calon kontestan pemilu menghendaki mengenali
kontestan terlebih dahulu, untuk itu perlu di sosialisasikan kepada
masyarakat sebagai sasaran pemilih yaitu tentang Visi dan misi calon, dan
atau mengenali biografi calon untuk menilai apakah ia memang orang yang
layak untuk di berikan amanah kepemimpinan jabatan politis, juga dengan
melihat dan menilai program-program yang akan di canangkan calon apakah
sudah relevan dengan kondisi permaslahan yang ada pada tubuh
masyarakat agar perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan menjadi tepat
guna dan menyentuh masyarakat. sehingga kita terhindar dari memilih calon
yang ingin menduduki jabatan hanya sekedar mendapatkan gaji atau uang
kebutuhan ekonominya, karena hal yang paling mendasar yang perlu di ingat
bahwa wakil rakyat adalah orang-orang yang akan membela kepentingan
rakyat untuk kesejahteraan rakyatnya, bukan sekedar menganggapnya
sebagai tempat untuk mencari rezeki semata untuk kebutuhan sehari-hari.
Kita semua insyaf bahwasanya menjadikan masyarakat untuk menjadi
pemilih cerdas merupakan tugas yang sulit, namun bukan hal yang mustahil
jika hal ini kita emban bersama, karena perubahan kondisi kultur masyarakat
agar menjadi lebih baik tidak mungkin di gapai dengan Diam maka
3

perubahan itu mengharuskan adanya ikhtiar, dan karena merubah itu bukan
tugas yang gampang, tidak mungkin hanya di emban oleh satu orang saja,
atau salah satu instansi saja misalnya KPU, sehingga mengharuskan hal ini di
emban bersama agar proses perubahan ini menjadi cepat.
Golput, Money Politic dan Partisipasi Semu ; Pemilu terancam
Kebablasan
Telah dijelaskan di muka bahwa pemilu yang kita harapkan dapat
memunculkan orang-orang terbaik di masyarakat yang nantinya akan
memimpin namun dengan partisipasi masyarakat makin lama makin
berkurang saat pemilu, otomatis mengakibatkan kontestan yang
memenangkan pemilu, bukanlah memiliki suara yang mayoritas. Atau
seandainya Golput termasuk kontestan pemilu maka golputlah yang
memenangkan hasil pemilihan umum.
Pada pemilu nasional angka partisipasi mengalami trend penurunan,
misalnya pemilu tahun 1999 (92%), pemilu 2004 (84%) dan pemilu 2009
(71%) menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam upaya untuk
mewujudkan kesuksesan Pemilu 2014.(lihat Juklak Relawan Demokrasi).
Persoalan yang lebih besar justru pada partisipasi semu ialah istilah yang
saya gunakan untuk menyebutkan pemilih yang ikut memilih atau datang ke
TPS untuk alasan yang sifatnya pragmatis atau hanya datang memilih
sekedar di iming-imingi dengan jumlah uang yang tidak seberapa atau
dengan sedikit pemberian kebutuhan sehari-hari.
Bukanlah salah masyarakat, jika Partisipasi semu ini merambah dan
meluas namun, kitalah yang sadar yang mestinya memberikan penjelasan
yang dapat di terima agar masyarakat menjadi pemilih yang cerdas, dan
juga hendaknya PARPOL lebih banyak berbenah diri mulai dari merekrut
anggota, membina para kader, sampai kepada tahap seleksi kader yang
layak untuk di jadikan calon, agar orang-orang terbaiklah yang muncul
kepermukaan sebagai kontestan pemilu.
Kalu nido ado tanci O kami nido galak milih dan kata
yang
serupa
amon dek ade petesnye kami enggan milih juga ambo
male milih kalu dag ado pitinyo
Money politik nampaknya terpampang jelas di masyarakat kita,
mengakibatkan cost politik menjadi begitu besar, ini salah satu
permasalahan pokok pemilu yang kita hadapi, karena dengan cost politik
yang begitu besar secara tidak sengaja menjadikan penguasaan-penguasaan
jabatan politik hanya memberikan kesempatan kepada orang- orang yang
memiliki modal besar, dan menutup kesempatan bagi orang-orang yang baik
tapi tidak memiliki modal. Kekhawatirannya tidak cuma itu jika jabatan juga
di gunakan untuk mengembalikan modal pencalonan maka money politik
juga berimplikasi korupsi dan pada akhirnya masyarakat juga yang akan
dirugikan.
4

Mereka berjanji berbuat untuk rakyat, tapi apakah


mereka sebelumnya pernah berbuat untuk rakyat,? Apa
saja yang mereka telah perbuat? atau hanya sekedar
berjanji untuk mendapatkan suara dari rakyat?
Idealnya mereka yang memberanikan diri untuk meminta di berikan
amanah oleh rakyat adalah orang-orang yang berilmu dan telah berbuat
sebelumnya untuk rakyat, atau orang orang yang ikhlas untuk berbuat baik
kepada sesama tanpa mengharuskan ia terpilih pada saat pemilu ataupun
tidak, atau memberikan amanah kepada orang orang yang baik kepada
sesama agar dengan amanah tersebut ia dapat berbuat lebih banyak untuk
rakyat, sehingga ia di percaya untuk di berikan amanah, bukan hanya karena
dirinya mencalonkan diri sebagai calon legislatif atau calon kepala Ekskutif,
dan apalagi hanya berbuat untuk rakyat karena sudah mendekati pemilu.
Bukanlah hal yang mustahil jika nanti di masa yang akan datang
masyarakat kita menjadi pemilih yang cerdas, menjadikan cost politik rendah
karena tidak ada istilah money politik atau minimal hal itu dapat di
minimalisir serendah-serendahnya, sehingga memberikan kesempatan
seluas-luasnya kepada orang-orang terbaik yang ada dalam masyarakat
untuk memimpin masyarakatnya sendiri, tanpa harus di bentengi apakah ia
memiliki modal yang cukup besar untuk mencalonkan diri atau tidak, jika
kondisi itu dapat digapai maka harapan akan adanya kehidupan masyarakat
yang lebih sejahterah atas kinerja para pemimpinnya menjadi keniscayaan.

Salam
Demokrasi