Anda di halaman 1dari 7

Skizofrenia

Learning Objectives
Setelah mengikuti kepaniteraan di bagian Psikiatri, mahasiswa
diharapkan mampu:
1. Mengenali gejala-gejala skizofrenia
2. Melakukan pemeriksaan awal pasien skizofrenia
3. Menyusun daftar diagnosis banding skizofrenia
4. Menegakkan diagnosis skizofrenia berdasarkan PPDGJ-III
5. Memformulasikan penatalaksanaan awal pasien skizofrenia
6. Mendeteksi efek samping penggunaan obat-obat antipsikotik
7. Mengatasi efek samping penggunaan obat-obat antipsikotik
8. Menentukan prognosis
9. Menjalankan sistem rujukan yang benar
10. Mengadakan suatu kegiatan penyuluhan masyarakat untuk skizofrenia

Pendahuluan
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan gambaran
psikopatologi yang bervariasi tetapi sangat berat, yang mempengaruhi
kognisi, emosi, persepsi, dan aspek perilaku lainnya. Manifestasi ini
bervariasi di antara pasien-pasien dan pada waktu yang berbeda, namun
efeknya selalu berat dan biasanya berlangsung lama. Istilah skizofrenia
pertama kali dikenalkan oleh Eugene Bleurer.
Psikopatologi pada skizofrenia tidak terbatas pada gejala psikotik saja,
namun juga termasuk gangguan pada pikiran, perasaan, dan perbuatan.
Sehingga berdasarkan fakta ini, hampir semua jenis psikopatologi yang
pernah diidentifikasi bisa ditemukan pada pasien dengan skizofrenia.
Skizofrenia pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental
dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar
atau tumpul. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya

tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang


kemudian.*
Menurut Eugene Bleurer, skizofrenia dibagi menjadi empat subtipe,
yang dikenal sebagai subtipe klasik dari skizofrenia. Keempat subtipe itu
adalah skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik, skizofrenia katatonik,
dan skizofrenia simpleks. Berdasarkan PPDGJ-III, skizofrenia dibagi menjadi
sembilan subtipe, yaitu skizofrenia paranoid, skizofrenia hebefrenik,
skizofrenia katatonik, skizofrenia tak terinci, depresi pasca-skizofrenia,
skizofrenia residual, skizofrenia simpleks, skizofrenia lainnya, skizofrenia YTT.
Berdasarkan DSM-IV-TR, skizofrenia dibagi menjadi lima subtype, yaitu
skizofrenia paranoid, skizofrenia terdisorganisasi, skizofrenia katatonik,
skizofrenia tak terinci, dan skizofrenia residual.

Epidemiologi
Skizofrenia bisa ditemukan di semua masyarakat dan daerah, dengan
angka prevalensi dan insiden yang kurang lebih sama. Di Amerika Serikat,
skizofrenia mempunyai prevalensi seumur hidup sekitar 1 persen. Menurut
studi yang dilakukan oleh The Epidemiologic Catchment Area yang didukung
oleh National Institute of Mental Health (NIMH), prevalensi seumur hidupnya
berkisar antara 0.6 sampai 1.9 persen.

Kriteria Diagnosis
Kriteria diagnosis Skizofrenia berdasarkan PPDGJ-III
Memenuhi salah satu perangkat gejala di bawah ini, yang berlangsung
selama setidaknya satu bulan (tidak termasuk gejala prodormal) dan
mengakibatkan penurunan kualitas hidup secara bermakna
Gejala Kuat (Sedikitnya satu)

Thought echo, thought insertion,


thought withdrawal, atau thought
broadcast
Delusion of control, delusion of
influence, delusion of passivity,
atau delusional perception
Halusinasi komentar, halusinasi
diskusi, atau halusinasi dari
anggota tubuh
Waham yang bizar

Gejala Lemah (Sedikitnya dua)

Halusinasi menetap lama, atau


bila ditemani oleh waham atau
overvalued idea
Arus pikiran yang terputus,
mengalami sisipan, inkoherensi,
atau neologisme
Perilaku katatonik
Gejala negatif, sikap apatis,
bicara jarang, atau respon emosi
yang menumpul atau tidak wajar

Kriteria diagnosis skizofrenia berdasarkan DSM-IV-TR

Dua atau lebih gejala berikut yang muncul dalam satu bulan
Waham (cukup satu bila waham bizar)
Halusinasi (cukup satu bila halusinasi komentar atau diskusi)
Bicara terdisorganisasi (kacau)
Perilaku terdisorganisasi (kacau) atau katatonik
Gejala negatif
Terdapat penurunan yang jelas dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau
mengurus diri
Lama gangguan setidaknya enam bulan, dengan satu bulan menunjukkan
gejala yang jelas
Kriteria untuk gangguan mood, gangguan mental organik, dan gangguan
akibat zat tidak dipenuhi
Kriteria diagnosis skizofrenia berdasarkan Kriteria Bleurer
Seperangkat gejala utama yang
Seperangkat gejala pendukung yang
harus ada
bisa ada
Gangguan
asosiasi
berupa Halusinasi
asosiasi
longgar,
inkoherensi, Waham
Ilusi
atau neologisme
Gangguan afek berupa afek Gejala katatonik
tumpul, datar, atau tidak sesuai Perilaku abnormal lainnya

(inappropriate)
Autisme berupa penarikan diri
dari kehidupan nyata
Ambivalensi
pada
emosi,
keinginan, atau pikiran
Kriteria Diagnosis Skizofrenia Paranoid
Berdasarkan PPDGJ-III
Berdasarkan DSM-IV-TR
Kriteria diagnosis skizofrenia
Preokupasi dengan waham atau
harus terpenuhi terlebih dahulu
halusinasi auditorik yang
Waham atau halusinasi
menetap
Bicara kacau, perilaku kacau atau
merupakan gejala yang paling
menonjol
katatonik, afek datar atau tidak
Gejala lain, bila ada, tidak
sesuai tidak menonjol
mendominasi
Kriteria Diagnosis Skizofrenia Hebefrenik / Disorganized
Berdasarkan PPDGJ-III
Berdasarkan DSM-IV-TR
Semua
berikut harus ada:
Kriteria diagnosis skizofrenia

harus terpenuhi terlebih dahulu


Dominasi perilaku atau pikiran
yang kacau dan tidak bertujuan
Dominasi afek yang dangkal atau
tidak wajar
Gejala lain, bila ada, tidak
mendominasi

Bicara kacau
Perilaku kacau
Afek datar atau tidak sesuai
Kriteria untuk katatonik tidak
terpenuhi

Kriteria Diagnosis Skizofrenia Katatonik


Berdasarkan PPDGJ-III
Berdasarkan DSM-IV-TR
Dua dari berikut
Kriteria diagnosis skizofrenia
Stupor atau katalepsi
harus terpenuhi terlebih dahulu
Perilaku katatonik (stupor,
Peningkatan motorik tanpa tujuan
perilaku motorik tanpa tujuan,
jelas

Negativisme
posturing, negativisme, rigiditas,
Posturing, mannerisme, gerakan
fleksibilitas cerea, atau command
stereotipi, grimacing
automatism dan echolalia
Echolalia atau echopraxia
echopraxia) yang paling menonjol
Gejala lain, bila ada, tidak
mendominasi
Kriteria Diagnosis Skizofrenia Simpleks
Berdasarkan PPDGJ-III
Berdasarkan DSM-IV-TR
TIDAK ADA DALAM DSM-IV-TR
Kriteria diagnosis skizofrenia
harus terpenuhi terlebih dahulu
Gejala negatif merupakan gejala
yang paling menonjol
Tidak ada gejala subtipe lain atau
riwayat sebelumnya
Kriteria Diagnosis Skizofrenia Residual
Berdasarkan PPDGJ-III
Berdasarkan DSM-IV-TR
Kriteria diagnosis skizofrenia,
Gejala negatif tampak nyata
Gejala lain tampak dalam
dengan gejala psikosis jelas,
intensitas ringan
pernah terpenuhi sebelumnya
Gejala negatif (yang merupakan
sisa episode sebelumnya) masih
jelas

Gejala lain, bila ada, tidak


mendominasi
Kriteria Diagnosis Depresi Pasca Skizofrenia
Berdasarkan PPDGJ-III
Berdasarkan DSM-IV-TR
TIDAK ADA DALAM DSM-IV-TR
Kriteria diagnosis skizofrenia,
dengan gejala psikosis jelas,
pernah terpenuhi sebelumnya
Afek depresif tampak jelas
menonjol
Gejala lain, bila ada, tidak
mendominasi
Kriteria Diagnosis Skizoafektif
Berdasarkan PPDGJ-III
Kriteria diagnosis skizofrenia

harus terpenuhi terlebih dahulu


Kriteria diagnosis gangguan

afektif juga harus terpenuhi


Kedua gejala tersebut harus
sama-sama menonjol

Berdasarkan DSM-IV-TR
Kriteria skizofrenia dan gangguan
afektif sama-sama terpenuhi
Terdapat riwayat halusinasi atau
waham tanpa gangguan mood

Diagnosis Banding
Skizofrenia didiagnosis banding dengan berbagai jenis gangguan jiwa
karena psikopatologinya yang beragam. Pada dasarnya, masing-masing
subtipe bisa diagnosis banding dengan yang lainnya. Di luar itu, skizofrenia
bisa didiagnosis banding dengan gangguan waham menetap, gangguan
mood, gangguan psikotik akut, gangguan kepribadian skizoid, gangguan
kepribadian paranoid, sampai gangguan skizotipal, tergantung psikopatologi
yang ada dan mendominasi.

Tatalaksana
Sampai saat ini, obat antipsikotik merupakan tatalaksana yang utama
untuk skizofrenia. Namun berdasarkan penelitian, intervensi psikososial
(termasuk psikoterapi) bisa menambah perbaikan klinis. Kombinasi obat dan
terapi psikososial memberikan manfaat yang lebih baik daripada
menggunakan salah satunya saja.
Tujuan pada terapi skizofrenia adalah mengurangi sampai
menghilangkan gejala, memaksimalkan kualitas hidup dan fungsi adaptif,

dan mencapai kesembuhan dan mencegah terjadinya relaps. Terapi juga


harus disesuaikan dengan gejala yang ada saat itu dan terbagi menjadi fase
akut, stabilisasi, dan stabil.
Gejala yang menjadi target terapi (disebut target symptoms) bisa
berupa gejala positif, gejala negatif, gejala disorganisasi. Untuk gejala positif,
sampai saat ini antipsikotik tipikal (Haloperidol, Chlorpromazine,
Trifluoroperazine) masih menjadi pilihan pertama pengobatan. Apabila belum
bisa diatasi, maka baru digunakan antipsikotik generasi selanjutnya seperti
Risperidone atau Clozapine. Untuk gejala negatif, antipsikotik tipikal memiliki
efek perbaikan yang terbatas, sehingga antipsikotik atipikal lebih sering
digunakan. Penggunaan antipsikotik tipikal saat ini masih memadai,
terutama apabila mengingat ketersediaannya yang tinggi dan lebih
terjangkau. Pemilihan antipsikotik generasi terkini, seperti ziprasidone,
aripiprazole, dan paliperidone, yang dilaporkan memiliki potensi yang tinggi,
rentang target symptoms yang luas, dan efek samping yang ringan, masih
terkendala dalam keterjangkauannya.
Efek samping yang paling sering terjadi pada penggunaan antipsikotik
(terutama pada yang tipikal) adalah gejala ekstrapiramidal seperti akatisia,
distonia, parkinsonism, dan diskinesia tardive. Ada beberapa cara untuk
mengatasi hal ini antara lain dengan mengurangi dosis antipsikotik,
mengganti
dengan
antipsikotik
atipikal,
atau
menambah
terapi
antiparkinsonism seperti antikolinergik. Efek samping yang sering dikeluhkan
pada penggunaan antipsikotik atipikal adalah sindrom metabolik terutama
penambahan berat badan.

Prognosis
Prognosis Baik
Onset tua
Faktor pencetus jelas
Onset cepat
Riwayat premorbid baik
Gejala-gejala afektif (terutama
depresif)
Menikah
Riwayat gangguan mood pada
keluarga
Dukungan sosial yang baik
Gejala-gejala positif

Prognosis Buruk
Onset muda
Faktor pencetus tidak jelas
Onset lambat
Riwayat premorbid jelek
Gejala-gejala penarikan diri
Tidak menikah
Riwayat skizofrenia pada keluarga
Dukungan sosial buruk
Gejala-gejala negatif, neurologis,
riwayat trauma perinatal, tiga tahun
tanpa remisi, sering kambuh, riwayat
agresi