Anda di halaman 1dari 10

PENGAMBILAN SAMPEL (dari Buku SBu Diana)

Pengambilan sampel adalah mengumpulkan volume tertentu suatu badan air yang akan
diteliti, dengan jumlah sekecil mungkin tetapi masih dapat mewakili (representatif) dan
masih mempunyai semua sifat-sifat yang sama dengan badan air tersebut. Sampling
dibagi menjadi 3 langkah berikut:
1. pengambilan sampel yang representatif
2. transport serta pengawetan sampel
3. analisa kimia sampel.

Ada 3 jenis sampel, yakni


1. sampel sesaat
2. sampel sesaat campuran
3. sampel campuran

hasil analisa tersebut umumnya digunakan untuk tujuan berikut:


1. Konsentrasi suatu unsur atau senyawa dalam suatu badan air
2. beban pencemaran
3.
PERSIAPAN PENGAMBILAN SAMPEL SERTA
PENGAWETANNYA
Botol yang akan digunakan untuk mengambil sampel harus bersih, dan telah
dibilas dengan air suling terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan cairan yang akan
digunakan untuk mengisi air tersebut dan kering (kalau mungkin). Hal yang sama juga
berlaku untuk alat-alat pengambilan sampel, seperti pipa, pompa dll, harus bersih dan
tidak mengandung sisa dari bekas sampel yang lama, khususnya tumbuhnya jamur dan
lumut harus dicegah. Demikian pula adanya kontaminasi dari logam atau alat
pengambilan sampel, yang dapat larut dalam sampel harus dicegah. Besi, kuningan,
perunggu dapat larut dalam air yang bersifat asam atau basa, sedangkan bahan plastik dan
karet dapat larut dalam air buangan industri yang mengandung pelarut organis atau
minyak dan bensin.
Sampel dapat diambil secara terpisah, dengan mengunakan ember, botol plastik
atau kaca (terbuka dan diperberat, misalnya dengan cincin timah hitam, pada lehernya)
yang diikat dengan tali, kemudian dimasukkan ke dalam sungai, saluran, sumur dan
sebagainya, sampai terisi penuh dengan sampel. Untuk mengambil sampel pada
kedalaman tertentu, disediakan botol tertutup yang dapat membuka bila sampai pada
kedalaman yang dikehendaki. Cara lain adalah dengan menggunakan sejenis pompa yang
mengisap, kemudian menekankan sampel melalui pipa masuk ke botol sampel; demikian
sampel dapat diambil pada kedalaman tertentu. Sampel dari kran air dapat diambil
dengan beker terbuka atau botol yang akan tertutup, tergantung dari rencana analisa.
Pengambilan sampel secara berturut-turut juga dapat dilakukan dengan alat
khusus (automatic sampler) yang terdiri dari pipa pengisap (kedalaman titik pengambilan
sampel terbatas sekitar 5 meter dibawah alat tersebut), pompa, jam untuk mengendalikan
frekuensi pengambilan sampel, alat untuk membagi sampel ke botol-botol untuk sampel
campuran, kotak isotermis yang berisi botol-botol sampel campuran dengan pendinginan
oleh es biasa atau es kering, supaya pengawetan sampel dapat dilakukan paling lama 1
hari sebelum dibawa ke laboratorium. Alat tersebut tidak mengisap debit sampel terus
menerus karena sulit dari segi teknis. Maka alat tersebut mengambil sampel dalam bagian
labu yang ada dengan volume sampel tertentu, misalnya sebanyak a ml sampel setiap b
menit, lalu selama m jam akan diisikan m x 60 kali a ml sampel bagian ke dalam 1 botol,
hingga terbentuk sampel campuran setiap m jam (isi botol tersebut 1 sampai 2 ℓ).
Sampel sebaiknya atau pada umumnya harus mengisi botol pengambilan hingga penuh
dan botol tersebut harus ditutup dengan baik untuk menghindari kontak udara. Salah satu
cara pengawetan sampel yang umum adalah suasana dingin; sampel diangkut dalam
kotak isotermis yang mengandung es biasa atau es kering (CO2) lalu disimpan dikulkas
atau freezer.
Gangguan-gangguan yang dapat timbul selama penyimpanan dan pengangkutan sampel
sehingga dapat berubah sifat dan keadaan asli sampel (sampel menjadi tidak
representatif), adalah sebagai berikut :
- gas seperti O2 dan CO2 dapat diserap air sampel atau dapat lenyap dari air sampel ke
udara
- zat tersuspensi dan kolodial dapat membentuk flok-flok sendiri dan mengendap
sehingga terdapat sampel yang berbeda dengan keadaan asli; paling sedikit lumpur
tersebut harus dijadikan suspensi lagi secara merata sebelum analisa, dengan
mengocokkan botol simpanan; sedangkan zat dan cairan yang ringan (lumpur, lemak,
minyak dan seterusnya) dapat mengapung pada permukaan sampel;
- beberapa zat terlarut dapat dioksidasikan oleh oksigen terlarut hingga senyawa
berubah, misalnya, Mn2+ terlarut dapat dioksidasi oleh oksigen menjadi MnO2 yang
dapat mengendap sehingga “hilang” dari larutannya.
- beberapa zat terlarut dapat bereaksi, misalnya Ca2+ dan CO32- dapat menjadi CaCO3
yang mengendap; hal tersebut terjadi bila nilai pH berubah, misalnya karena kadar
CO2 tidak tetap sama, atau karena pertumbuhan ganggang;
- lumut, ganggang dan jamur dapat tumbuh dalam sampel yang tidak tersimpan pada
tempat gelap dan dingin atau bila pHnya rendah; zat organis (seperti BOD dan COD)
akan terus dicerna oleh bakteri yang aktif.
- Populasi bakteri dapat berubah secara menyeluruh dalam waktu beberapa jam saja
hingga merupakan gangguan bagi analisa mikrobiologi
Cara pengawetan sampel tergantung dari analisa yang akan dilakukan; juga bagi suatu
unsur tertentu, cara analisa dapat dipilih tergantung kemungkinan-kemungkinan cara
pengawetan yang ada. Cara-cara pengawetan untuk beberapa analisa yang diuraikan
secara singkat dan terbatas pada tabel untuk masing-masing analisa akan diuraikan lebih
jelas.
Volum Waktu pengawetan
Analisa Cara pengawetan 1)
sampel maksimum anjuran/batasan
Alkaliniti 200 Didinginkan 1 s/d14 hari
BOD 1000 Didinginkan 6 jam/ 14 hari
CO2 10 Dianalisa segera 0
COD 100 Ditambah H2SO4 sp pH <2 7/ 28 hari
Daya Hantar 500 Didinginkan 28 hari
Listrik
Fosfat PO34- 2) 100 Penyaringan: segera; lalu 2 hari
dibekukan pada suhu – 10oC
Kekeruhan - Disimpan ditempat gelap, ½ hari
Kesadahan 100 Ditambah HNO3 sp pH <2 6 bulan
Ca2+Ca2+ Mg2+
Klor Cl2 500 Dianalisa segera 0,5 / 2 jam
Logam 3) - Penyaringan: segera; 6 bulan
ditambahkan HNO3 sp pH < 2
Nitrogen- 500 Dianalisa segera, atau 7/28 jam
amoniak NH3 ditambah H2SO4 sp pH < 2
dan didinginkan
Nitrat NO3 100 Ditambah H2SO4 sp pH < 2 2 hari
dan didinginkan
Nitrat + nitrit 200 Dianalisa segera, atau 0/28 hari
dibekukan pada suhu  20oC
Nitrit NO2 100 Dianalisa segera, atau 0/2 hari
o
dibekukan pada suhu - 20 C
Nitrogen Kjeldahl 500 Didinginkan atau ditambah 7/28 hari
H2SO4 sp pH < 2
Oksigen O2 4) 300 cara elektroda khusus 0,5/ 1 jam
dianalisa segera
cara titrasi Winkler 8 jam
Dianalisa segera, atau
ditambah H2SO4 sp pH < 2
pH 100 Dianalisa segera 2 jam
Suhu - Dianalisa segera -
Warna 500 Didinginkan 2 hari
Zat Tersuspensi 200 Didinginkan 7/14 hari
Catatan :
1
) Dingin berarti suhu sekitar 4oC
2
) Botol (terbuat dari gelas) harus dibilas dahulu dengan asam 1 + 1 HNO3
3
) Botol (gelas atau plastik jenis polietilen) harus dibilas dahulu dengan asam 1 + 1 HNO3
4
) Botol BOD atau Winkler, terbuat dari kaca.

Pemilihan titik pengambilan sampel


Kecepatan aliran di sungai, saluran dsb, tidaklah merata di suatu badan air, sehingga sifat
air menjadi tidak homogen. Karena itu titik pengambilan sampel harus dipilih agar
sampel dapat mewakili seluruh badan air, bukan hanya salah satu bagian dengan
karakteristik yang kebetulan dapat diselidiki. Berikut beberpa anjuran penentuan titik
pengambilan sampel, tetapi harus difahami bahwa setiap pengambilan sampel,
merupakan suatu kasus yang tersendiri.
Bila sampel diambil dari saluran, sungai dan sebagainya yang kedalamannya tidak lebih
dari 5 meter, dan alirannya cukup turbulen bagi air tersebut untuk menjadi homogen,
sampel sebaiknya diambil pada kira-kira ½ sampai 2/3 tinggi penampang basah dari
bawah permukaan air. Dekat dasar sungai air mengandung terlalu banyak zat tersuspensi
yang mengendap atau yang dapat tergerus oleh aliran air. Dekat lapis permukaan air, ada
resiko bahwa lapisan tersebut mengandung banyak zat ringan seperti lumut, minyak dan
lemak dan sebagainya. Sampel tidak boleh diambil terlalu dekat dengan tepi penampang
sungai atau tepi saluran yang tidak diplester dengan baik karena air didaerah tersebut
kurang mewakili seluruh badan air; namun untuk saluran yang diplester dengan baik
sampel dapat diambil ± 10 cm dari tepi saluran.
Pada umumnya titik pengambilan sampel dipilih agar sampel benar-benar dapat mewakili
badan air tersebut, debit air dapat diukur secara cukup teliti, dan daerah drainase yang
menyebabkan pencemaran dapat diketahui secara lengkap. Daerah tersebut terdiri dari
sumber pencemaran setempat (point source) dan sumber pencemaran yang tersebar
(disperse source). Termasuk sumber pencemaran setempat adalah pabrik, rumah sakit dan
kampung yang seluruh air buangannya ditampung oleh satu saluran drainase atau anak
sungai; termasuk sumber pencemaran yang tersebar adalah saluran-saluran dan anak
sungai yang mengandung air buangan penduduk dan bermuara didalam induk sungai
diberbagai tempat sepanjang induk sungai tersebut, atau air irigasi yang keluar dari
sawah-sawah dan dibuang ke dalam induk sungai ditempat-tempat yang berbeda.

Frekuensi pengambilan sampel


Perubahan pencemaran dengan waktu. Faktor utama yang menetapkan frekuensi
pengambilan sampel air adalah sifat-sifat badan air yang akan diteliti. Sifat air dari sumur
dalam, pasti tidak berubah secepat air limbah industri; hanya satu atau beberapa
paremeter saja dari air sumur tersebut yang akan berubah dengan musim (kemarau dan
hujan) dan tidak memerlukan pemeriksaan kualitas air yang sering, sedangkan pada air
limbah industri dapat terjadi perubahan yang besar baik pada debit maupun konsentrasi
dari hampir semua komponen air dalam waktu yang singkat (beberapa menit sampai jam)
Garis besar perubahan pencemaran dengan waktu dijelaskan pada tabel berikut ini dan
dianggap perubahan yang cukup penting yang dapat terjadi dalam waktu menitan, jaman,
mingguan dan bulanan.

Badan air Perubahan Perubahan jaman Perubahan Perubahan Perubahan


menitan harian mingguan bulanan
Air minum - Tekanan/debit Hari Musim kering
dalam sist, dist kerja/akhir Musim hujan;
pagi/siang/ sore/ minggu Waktu
malam pariwisata
Air buangan - Pagi/siang/sore/ - Pengenceran
penduduk malam pada musim
hujan; waktu
pariwisata
Air buangan pengosongan hari kerja/ Industri hasil
industri dan pencucian hari libur pertanian
tangki;
kecelakaan
dalam pabrik;
jam kerja; jam Buangan dari
istirahat pengolahan hasil
Pertanian - panen; jam kerja/ hari kerja/ waktu panen
jam istirahat. hari libur
Pengenceran oleh
hujan; perubahan
Alam - pH, CO2 dan proses Musim kering/
sebagainya biologis musim hujan;
karena ganggang; sumur pada
perubahan musim kering
oksigen terlarut bisa payau;
suhu; oksigen
terlarut dan
sebagainya.

Frekuensi pengambilan sampel dan jenis sampel


Permasalahan yang sering terjadi pada saat pengambilan sampel, diperlihatkan pada
gambar.Untuk mengatasi beberapa kesulitan, ada beberapa jenis sampel:
• Sampel sesaat (grap sampel), merupakan volume
sampel yang diambil langsung dari badan air yang sedang
diteliti
• Sampel sesaat tersusun (integrated sampel), perlu
bila badan air pada titik pengambilan sampel terdiri dari
banyak (n) aliran, maka sampel yang tersusun yang
dimaksud untuk mewakili seluruh badan air akan terdiri
dari n sampel bagian (1 sampel sesaat dari tiap aliran
bagian) dengan volum tiap sampel sebanding dengan debit
masing-masing aliran bagian yaitu:
Volume sampel bagian i = debit aliranbagian i
Volume sampel tersusun debit total

(i = 1........n)
• Sampel campuran (composite sampel),
dimaksudkan untuk mewakili secara merata perubahan
parameter badan air yang sedang diteliti, selama masa
yang cukup panjang, secara detail dengan pekerjaan yang
terbatas.
• Sampel campuran meliputi x menit dan terdiri dari y
sampel bagian yang diambil setiap x/y menit dan dengan
volume tiap sampel bagian sesuai dengan volume air yang
mengalir melalui tempat pengambilan sampel dalam waktu
x/y menit yaitu sekitar saat pengambilan sampeltersebut,
hingga,
Volume sampel bagian i volume air sekitar saat tersebut selama x/y menit
Volume sampel campuran seluruh volume air selama x menit
(i= 1, 2,........n).
Penyusunan sampel dapat dilakukan setelah seluruh debit diketahui, artinya setelah
seluruh sampel bagian telah diambil dengan volume yang cukup besar.

Untuk sampel campuran biasanya dipakai alat pengambilan sampel yang otomatis.
Namun jika alat tersebut tidak dilengkapi dengan alat pengukur debit, alat tersebut akan
mengambil sampel dengan volume tetap sama sebagai pendekatan sampel campuran yang
asli, misalnya untuk sampel campuran+- 2l, 1 sampel bagian sebanyak +- 180 ml tiap 10
menit selama 2 jam.
Frekwensi pengambilan sampel tergantung dari faktor-faktor berikut:
1. perubahan-perubahan beban pencemaran dan puncak yang tidak bisa diabaikan,
khisusnya pada parameter air yang akan diteliti, perlu taksiran teoritis dahulu,
misalnya karena adanya industri, kota, perubahan debit sungai dsb
2. Maksud dan tujuan analisa, misalnya air sungai yang digunakan sebagai air baku
untuk produksi air minum, serta produksi air minum sendiri harus diawasi
kualitasnya dengan teliti karena pentingnya kesehatan masyarakat, walaupun
perubahan mutu air baku biasanya dapat diabaikan.

Contoh lain adalah sampel yang diambil untuk merencanakan sebuah instalasi
pengolahan (air minum atau air buangan), karena waktu detensi di setiap langkah
sistem pengolahan tersebut (prasedimentasi, flokulasi + pengendapan, sistem lumpur
aktif dsb) adalah paling sedikit 2 jam, karena pengambilan sampel kurang dari 2 jam
tidak akan memberikan perbedaan yang signifikan. Jika parameter mutu air yang
diperiksa bekenaan bahan yang bersifat racun terhadap makhluk hidup, maka harus
dibedakan efek racun kronis dan akut sehingga memerlukan frekuensi pengawasan
yang tinggi.
3. Peralatan dan dana yang tersedia. Pengambilan sampel sebenarnya cukup murah,
tetapi biaya pengangkutan dan analisa dapat membatasi jumlah sampel dan jumlah
parameter yang dianalisa.

Dari uraian dia atas jelas bahwa sulit untuk menetapkan ketentuan tentang frekuensi
pengambilan sampel. Berikut beberapa saran yang dianjurkan:
a). Penelitian sungai atau saluran yang sangat tercemar (terutama bila alat pengambilan
sampel yang otomatis tersedia) : diperlukan 12 sampel campuran (waktu 2 jam) yang
terdiri dari 4 sampai 12 sampel bagian (satu sampel bagian tiap 10 sampai 15 menit)
untuk analisa parameter yang utama atau murah (seperti COD, BOD, pH, daya hantar
listrik dan sebagainya); dari 12 sampel campuran tersebut dibuat 2 sampel tercampur lagi
yang masing-masing mewakili waktu siang (jam 6.00 sampai jam 20.00) dan waktu
malam (jam 20.00 sampai jam 6.00), untuk analisa parameter yang mahal dan yang
khusus (logam, fluorida, minyak dan lemak dan sebagainya).
b). Pengawasan badan air secara rutin (setelah penelitian selesai dilakukan) f rekuensi
pengambilan sampel tidak perlu sesering pada waktu penelitian; misalnya sampel sesaat
diambil (dan debit badan air diukur) satu kali sehari pada saat pencemaran paling tinggi
diduga terjadi. Dengan bertambahnya pengalaman, frekuensi tersebut lebih dapat
disesuaikan lagi.
c). Penelitian kualitas air pada sistem pengolahan air minum dan distribusi air minum:
karena pentingnya bagi kesehatan masyarakat dan pengalaman sudah ada, anjuran dari
World Health Organization mengenai frekuensi pengambilan sampel telah tersedia pada
tabel berikut :

* Pada setiap langkah sistem pengolahan : sampel paling sedikit diteliti 2 kali perhari
* Pada sistem distribusi adalah sebagai berikut :
Jumlah langganan Waktu maksimum Jumlah sampel minimum dari
antara 2 sampel seluruh sistem distribusi
Sampai 20.000 1 bulan 1 sampel per 5000 langganan per
20.001 sampai 50.000 2 minggu bulan
50.001 sampai 100.000 4 hari
lebih dari 10.000 1 hari 1 sampel per 10.000 langganan
per bulan

Analisa yang diperlukan pada sampel.


Tidak mudah untuk menganjurkan analisa apa yang harus dilakukan pada sampel, karena
hal tersebut tergantung jenis badan air yang sedang diperiksa, kegunaan badan air
tersebut (bagi masyarakat setempat untuk perikanan, penyediaan air minum dan
sebagainya) dan jenis pencemaran yang diduga bapat terjadi. Paling sedikit diperlukan
pengetahuan pendahuluan yang baik tentang kota atau industri sekitarnya serta perincian-
perincian proses yang dipakai dimasing-masing industri tersebut. Faktor lainnya adalah
pengetahuan atau pengukuran secara berturut-turut debitnya supaya beban pencemaran
dapat dihitung. Beberapa jenis pencemaran atau unsur air bersifat ”konservatif”, artinya
tidak hilang dalam larutan air selama perjalanan dalam sungai, seperti Cl- SO24 dan
berbagai jenis logam. Jenis pencemar yang lain tidak bersifat konservatif.
Pengecekan hasil analisa.
Aturan yang umum untuk mencegah terjadinya kekeliruan-kekeliruan atau penyimpangan
besar pada hasil analisa sampel, adalah cukup sederhana dan nyata; dibawah ini akan
diuraikan beberapa anjuran yang dapat digunakan yaitu :
- semua peraturan mengenai pengambilan serta pengawetan sampel harus diikuti
dengan baik
- untuk setiap analisa sampel, dibuat duplikat yang hasilnya harus mendekati sama
dengan hasil penentuan pertama (dengan penyimpangan 1 atau 2% masih
diperbolehkan); duplikat tidak diperlukan untuk larutan referensi, karena selalu
disediakan paling sedikit 4 larutan referensi dengan kadar yang berbeda, namun yang
dapat saling dibandingkan sehingga kekeliruan dapat dilihat langsung (awas : harus
disadari bahwa ketelitian kadar larutan referensi tergantung pada ketepatan larutan
persediaan (stock solution)
- semua larutan standard dan larutan referensi harus berlaku, artinya dibuat dengan
teliti dan tidak boleh tercemar, misalnya karena sudah tua, tidak disimpan dengan
baik, atau karena sebagian dari larutan tersebut telah diambil, lalu dituang kembali
ke dalam botol (misalnya sisa dari titrasi); sebenarnya larutan standard, referensi dan
sebagainya yang sudah dikeluarkan dari botolnya tidak boleh dikembalikan lagi.
- Cara kerja diikuti dengan disiplin, namun dengan sikap yang kritis yaitu apakah
semua tahap masuk akal dan konsekuen ?

Aturan khusus
Untuk mencek hasil dari sejumlah analisa ada beberapa petunjuk antara lain
kesetimbangan, hubungan dan perbandingan antara parameter-parameter yang tertentu
yang dapat dimanfaatkan untuk mencari kekeliruan analisa atau penyimpangan yang
kurang memungkinkan yaitu : neraca anion – kation, hubungan zat padat terlarut-daya
hantar listrik, perbandingan BOD – COD, perbandingan antara kesadahan dengan
alkalinitas dan antar unsur-unsur kesadahan, data literatur dan kesetimbangan massa zat
yang konservatif
Neraca anion – kation
Didalam larutan terdapat, (selain molekul H2O), kation dan anion hasil pemecahan/
ionisasi molekul, yang bermuatan elektris. Kation mempunyai satu atau lebih muatan +
dan anion mempunyai muatan - . Jumlah muatan + dan muatan – harus sama; kalau tidak,
larutan sendiri mempunyai muatan elektris, dan hal itu tidak mungkin karena adanya
hukum kesetimbangan energi.
Karena sebenarnya konsentrasi muatan elektris dapat diukur melalui konsentrasi
ekuivalen-ekuivalen ion, dapat dikatakan mek/ℓ kation harus sama dengan mek/ℓ anion.
Namun tidak semua jenis anion dan kation dapat dianalisa maka harus dianggap bahwa
jumlah tersebut dapat didekati dengan beberapa ion utama saja. Kation utama pada air
alam adalah misalnya H+, Ca2+, Mg2+, Fe2+, Na+, K+ (yang terakhir ini khususnya
pada air payau dan asin), dan kadang-kadang beberapa ion logam (tergantung keadaan)
Anion utama pada air alam adalah misalnya OH-, HCO3 SO2m, SO4 Cl- (khususnya
pada air payau dan asin), dan kadang-kadang NO3 dan sebagainya. Karena pendekatan
tersebut serta kekurang telitian analisa, maka hasil-hasil masih dapat dianggap baik bila
∑ mek/ℓ anion - ∑ mek/ℓ kation ≤ 0,1065 + 0,0155 mek/ℓ anion. Bila penyimpangan
yang lebih besar terjadi, maka perlu diadakan pemeriksaan ulang analisa.

Hubungan zat padat terlarut – daya hantar listrik – jumlah ion.


Dari pengalaman dihasilkan peraturan bahwa hampir semua badan air alam berlaku : Zat
Padat Terlarut (ZPT) = 0,55 .....0,7 x Daya Hantar Listrik (DHL) dimana ZPT dinyatakan
sebagai mg/ℓ dan merupakan hasil analisa seperti akan diuraikan pada bab 8. sedangkan
DHL adalah hasil penentuan dalam satuan μ S/cm. Bila air mengandung banyak asam
bebas atau alkaliniti basa (air buangan industri), faktor tersebut dapat kurang dari 0,55
dan untuk air payau dan asin atau yang mengandung zat padat kolodial (kekeruhan),
faktor tersebut bisa lebih dari 0,7. Hubungan antara kadar NaCl dan DHL dijelaskan pada
Gambar 10.
Seperti telah dikatakan ZPT dapat ditentukan sebagai berat garam (serta zat kolodial)
yang tertinggal setelah volume sampel yang tertentu disaring melalui filter kertas biasa
lalu dikeringkan sampai semua garam telah mengendap (presipitasi) dan kering. ZPT juga
dapat dihitung sebagai jumlah semua anion dan kation utama yang telah dianalisa secara
terpisah.
Bila ZPT kolodial ditentukan setelah penyaringan pada filter membran, yaitu yang
mempunyai pori yang lebih kecil daripada filter kertas biasa, zat padat kolodial juga
tertahan, maka jelas hubungan dengan jumlah ion bertambah.

Perbandingan BOD – COD.


Baik BOD maupun COD menentukan senyawa organis dalam suatu sampel air, namun
melalui metode yang berbeda. Karena COD menggunakan oksidasi kimiawi yang lebih
kuat daripada oksidasi biologis pada analisa BOD, maka angka BOD ~ 0,65 x angka
COD. Perbandingan tersebut dapat berubah sesuai dengan jenis air (lihat Bab 10 ”analisa
BOD”).
Antara COD dan analisa senyawa organis yang lain yang menggunakan prosedur kimiawi
pula, seperti angka permanganat KMnO4 dan TOC (Total Organic Carbon) juga terdapat
perbandingan-perbandingan yang tetap tergantung jenis badan air.
Perbandingan Kesadahan - Alkaliniti.
Pada umumnya, air alam yang mengalir dipermukaan bumi, mempunyai alkaliniti dan
kesadahan yang hampir sama, juga [Mg2+]= 0,5 ......0,5 [Ca2+] bila konsentrasi
dinyatakan sebagai mg CaCO3/l atau mek/l. Pada air tanah atau air buangan, perbedaan
yang cukup besar dapat ditemui.
Baik pada kesadahan total (melalui titrasi) maupun pada unsur kesadahan seperti Ca2+,
Mg2+ dan Fe2+ dan Ba2+ (melalui titrasi atau dengan alat AAS) yang ditentukan secara
terpisah, berlaku :
Kesadahan total = [Ca2+] + [Mg2+] + [Fe2+] + [Ba2+] dan lain-lain
Kesadahan total ~ [Ca2+] + [Mg2+] dimensi dalam mg CaCo3 /l atau mekl)

Data literatur.
Pada umumnya hasil analisa untuk air alam dapat diperkirakan dari pengalaman studi-
studi pada berbagai jenis badan air alam dan air buangan. Pengalaman khusus mengenai
badan air yang sedang diteliti lebih penting karena memberi petunjuk yang lebih tepat.
Sebagai contoh diberikan pada tabel beberapa data utama mengenai air alam serta air
buangan penduduk.
Air baku bagi PAM (Perusahaan Air Minum) Air buangan
Parameter 100 PAM di AS 8 PAM di 7 PAM di penduduk
(mg/l) (air permukaan Belgia (air Belgia (air (tidak terencer)
dan air tanah) permukaan) tanah) di Eropa
pH 6,2 – 8,7 7,5 – 8,5 6,4 – 7,7 6,5 – 8,5
Ca2+ 2,0 – 110 67 18 – 137 -
Na+ 1,9 – 131 37 8 – 21 -
Fe2+ 0 – 1,9 0,63 1,9 – 40,3 -
NO3 0 – 17 14 1 0
SO42- 0 – 572 71 5 – 230 -
HCO3 15 – 364 17 70 – 262 -
m-Alkaliniti 0,25 – 6,0 2,8 1,2 – 4,3 2–5
Cl- 0,5 – 196 61 14,2 – 88,4 75
PO43- 0 – 0,6 0,38 0,41 – 3,0 15
SiO2 0 – 0,21 3,8 17 – 25 -
BOD5 - 20 - 300
COD - 20 - 750
Zat tersuspensi 1 – 3800 21 – 98 3 – 24 500
N-Kjeldahl - - - 60

Data-data tersebut merupakan data rata-rata saja, sehingga pengecualian tetap mungkin
dan setiap kasus mempunyai sifat tersendiri. Data mengenai air buangan industri dapat
diambil misalnya dari ref 4 dan 5

Kesetimbangan massa (mass balance)


Kesetimbangan massa dapat diperiksa bila ada kasus, dimana 2 aliran air bergabung,
misalnya anak sungai atau saluran air buangan yang masuk ke dalam sungai. Kalau
konsentrasi beberapa zat konservatif serta debit diketahui di tiga titik (lihat Gbr) yaitu (1)
di anak sungai atau saluran, (2) di sungai dari arah hulu, dan (3) di sungai ke arah hilir
(muara) berlaku : beban zat di sungai ke arah hilir = beban zat di sungai dari hulu +
beban zat di anak sungai/ saluran. Tergantung zat yang sedang dianalisa, penyimpangan
bisa cukup besar sampai 100% dan hanya dapat memberi petunjuk kasar.
Jumlah analisa harus cukup tinggi supaya persamaan tersebut dapat dihitung dengan
beban rata-rata untuk satu hari ataupun satu minggu. Bila waktu perjalanan antar titik
pengambilan sampel kurang dari setengah hari, baik COD maupun Cl- dapat dipakai
sebagai zat konservatif (berarti zat tidak hilang dari air).