Anda di halaman 1dari 6

TUGAS STASE REHABILITASI MEDIK

Nama: Afriena Vitartika


NIM : J500050023
1. Ligamentum pada sendi lutut
a. Ligamentum Patellae, melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada
bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini
sebenarnya merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m.
quadriceps femoris. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan
lemak intra patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil.
Bursa infra patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.
b. Ligamentum Collaterale Fibulare, ligamentum ini menyerupai tali dan melekat
di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada
capitulum fibulae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui
jaringan lemak dan tendon m. popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus
lateralis melalui bursa m. poplitei.
c. Ligamentum Collaterale Tibiae, ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih
yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan
pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum
ini menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus
medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini
menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu.
d. Ligamentum Popliteum Obliquum, merupakan ligamentum yang kuat, terletak
pada bagian posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke
medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada
dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas
menutupi tendon m. semimembranosus.
e. Ligamentum Transversum Genu, ligamentum ini terletak membentang paling
depan pada dua meniscus , terdiri dari jaringan connective, kadang- kadang
ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya , sehingga sering tidak
dijumpai pada sebagian orang.
f. Ligamentum Cruciata Anterior, ligamentum ini melekat pada area
intercondylaris anterior tibiae dan berjalan kearah atas, kebelakang dan lateral
untuk melekat pada bagian posterior permukaan medial condylus lateralis
femoris. Ligamentum ini akan mengendur bila lutut ditekuk dan akan
menegang bila lutut diluruskan sempurna. Ligamentum cruciatum anterior
berfungsi untuk mencegah femur bergeser ke posterior terhadap tibiae. Bila

sendi lutut berada dalam keadaan fleksi ligamentum cruciatum anterior akan
mencegah tibiae tertarik ke posterior.
g. Ligamentum Cruciatum Posterior, ligamentum cruciatum posterior melekat
pada area intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas , depan dan
medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan lateral condylus
medialis femoris. Seratserat anterior akan mengendur bila lutut sedang
ekstensi, namun akan menjadi tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi.
Serat-serat posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi.
Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah femur ke anterior
terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi , ligamentum cruciatum
posterior akan mencegah tibiae tertarik ke posterior.
2. Test khusus pada ligamen lutut
a. Tes Stabilitas
i. Hiperekstensi
Lakukan gerakan hiperekstensi secara pasif pada knee fleksi.
Tujuan : untuk mengetahui adanya kelainan (seperti robekan) pada lig.
Cruciatum anterior
ii. Gravity sign
Pasien terlentang mengangkat kedua kaki penderita hingga knee joint
90. Satu tangan menyangga pada tumit pasien dan tangan lainnya
pada kedua lutut. Perhatikan tuberositas tibia, normal bila keduanya
sejajar.
Tujuan : untuk mengetahui adanya kelainan pada lig. Cruciatum
posterior.
iii. Laci sorong ( shift Anterior dan Posterior)
Posisi pasien terlentang, knee joint fleksi sekitar 70. Lakukan tarikan
atau dorongan pada os tibia. Perhatikan gerakan translasi yang terjadi.
Tujuan: untuk mengetahui kelainan lig. Cruciatum anterior begitu juga
sebaliknya.
iv. Lachman test
Posisi pasien terlentang dengan knee joint fleksi sekitar 10-20. Kedua
tangan pemeriksa pada os tibia bagian posterior. Lakukan tarikan ke
depan, perhatikan gerakan pada os tibia.
Tujuan: untuk mengetahui kelainan atau ruptur pada lig. Cruciatum
anterior.
v. Hipermobilitas Varus-Valgus
Posisi pasien terlentang dengan kaki yang diperiksa berada di luar bed.
Letakkan tangan pada medial dan tangan lainnya pada ankle. Lakukan

tekanan ke dalam pada tangan yang berada di ankle untuk stabilitas


valgus.
Tujuan: untuk mengetahui kelainan pada lig. Collateral lateral dan
collateral medial.
vi. Apley Test Compression
Pasien tengkurap dengan knee fleksi 90, lakukan fiksasi pada paha
dengan menggunakan lutut/tangan pemeriksa. Lakukan gerakan rotasi
medial dan lateral dikombinasikan dengan kompresi.
Tujuan : mengetahui adanya kelainan pada meniscus.
vii. Apley Test Traction
Posisi pasien seperti diatas. Lakukan gerakan rotasi lateral dan medial
dikombinasikan dengan traksi pada knee joint.
Tujuan : untuk mengetahui kelainan pada lig. Collateral lateral dan lig.
Collateral medial knee
Clarkes Sign
Posisi pasien terlentang dengan lurus, lakukan penekanan ke dorsal
pada os patella. Pasien diminta lakukan kontraksi pada m. Rectus
femoris atau gerakan mengangkat patella keatas.
Tujuan : untuk mengetahui adanya kelainan pada permukaan cartilago
patella femoral joint.
b. Fluctuation test
Ibu jari dan jari telunjuk dari satu tangan diletakkan di sebelah kiri dan
disebelah kanan patella. Sesekali proc. Suprapatellaris dikosongkan memakai
tangan lain maka ibu jari dan jari telunjuk seolah-olah terdorong oleh
perpindahan cairan itu. Bila ada cairan dalam lutut yang melebihi normal maka
test tersebut akan positif.
c. Ballotement test
Ressesus patellaris dikosongkan dengan menekan menggunakan satu tangan
sementara jari-jari tangan lainnya menekan patella ke bawah. Dalam keadaan
normal patella tidak dapat ditekan kebawah karena sudah terletak diatas kedua
condylus dari femur. Hasil pemeriksaan negatif karena patella pada kedua lutut
tidak dapat ditekan kebawah.
Tujuan: untuk mengetahui apakah ada cairan di dalam lutut.
d. Mc.Murray test
Pasien terlentang dengan knee fleksi dan medial rotasi tibia untuk meniscus
lateral. Demikian juga sebaliknya untuk memeriksa meniscus medialis.

Tujuan: untuk mengetahui kelainan pada meniscus medialis dan meniscus


lateralis.
e. Pemeriksaan Neurologi
i. Refleks (KPR: L3, Medial Hamstring: L5)
ii. Dermatom test
iii. Myotom test
3. Vaskulogenik pada LBP, contoh penyakitnya.
a. Viserogenik : disebabkan oleh adanya proses patologik di ginjal atau visera di
daerqah pelvis, serta tumor retroperitoneal.
b. Neurogenik : disebabkan oleh keadaan patologik pada saraf yang dapat
menyebabkan NPB.
c. Vaskulogenik: aneurisma atau penyakit vaskular perifer dapat menimbulkan
NPB atau nyeri yang menyerupai iskialgia.
d. Psikogenik: disebabkan oleh ketegangan jiwa atau kecemasan dan depresi atau
campuran antara keduanya.
e. Spondilogenik: suatu nyeri yang disebabkan oleh berbagai proses patologik di
kolumna vertebralis yang terdiri dari unsur tulang (Osteogenik), diskus
intervertebralis (diskogenik) dan miofasial (miogenik) dan proses patologis di
artikulatio sakroiliaka.
4. Test Khusus pada LBP (tulang belakang)
a. Plumbline
Adalah evaluasi pengukuran deviasi tulang belakang ke lateral dan untuk
melihat kemiringan pelvis.
Caranya: letakkan seutas tali yang ujungnya diberi beban (bandul) diletakkan
pada tulang C7 yang paling prominen dan dibiarkan jatuh secara bebas.
b. Tes membungkuk
Tes untuk mengukur tingginya hump.
c. Tes fleksibilitas tulang belakang.
Trunk diukur posisi tegak mulai C7 s/d S1
Penderita melakukan forward fleksi dan diukur.
Normal fleksibilitas trunk ada tambahan 4 inch.
5. Tes khusus Frozen Shoulder
a. Tes Mosley
Tes ini bertujuan uintuk memeriksa adanya kerobekan dari otot rotator cuff
terutama otot supraspinatus. Dimana pasien disuruh mengabduksikan
lengannya dalam posisi lurus secara penuh, kemudian pasien disuruh
menurunkan secara perlahan-lahan apabila pasien tidak bisa menurunkan
dengan perlahan tapi lengan langsung jatuh berarti tes positif.
b. Tes Yergason

Tes ini untuk menentukan stabil atau tidak stabilnya tendon musculus biceps
pada sulcus bicipitalis. Caranya adalah dengan meminta pasien untuk
memfleksikan elbownya, kemudian genggamlah fleksi elbow pada satu tangan
dan tangan yang lain pada wristnya. Untuk mengetes stabilisasi tendon biceps,
eksternal rotasikan arm pasien kemudian suruh dia untuk menahan gerakkan
tersebut beberapa saat kemudian tariklah ke bawah elbownya. Jika tendon
musculus biceps tidak stabil pada sulcus bicipitalis, maka akan
terdengar bunyi letupan pada sulcus tersebut dan pasien terlihat menahan
nyeri. Jika tendon stabil, maka tendon tersebut tetap berada ditempatnya
dan pasien terlihat biasa saja.
c. Tes Drop Arm
Tes ini untuk menentukan ada tidaknya kerobekan rotator cuff. Pertama
mintalah pasien untuk abduksi arm. Kemudian suruh turunkan kesamping
badan dengan perlahan . Jika ada kerobekan rotator cuff (khususnya musculus
supraspinatus) lengan akan jatuh kesisi badan dari posisi badan 90 abduksi.
Pasien tidak akan dapat menurunkan lengannya dengan perlahan walaupun ia
mencoba berulang kali . Jika pasien mampu melakukan abduksi maka berikan
sedikit tepukan pada lengan bawahnya maka lengan segera jatuh ke sisi badan.
6. Pemeriksaan khusus pada OA
a. Tes Ballotement (menggoyang-goyangkan objek di dalam cairan)
Caranya : recessus suprapatellaris dikosongkan dengan menekannya dengan
satu tangan, sementara itu dengan jari tangan lainnya patella ditekan ke
bawah. Dalam keadaan normal patella tidak dapat ditekan ke bawah, tapi bila
terdapat (banyak) cairan pada sendi lutut (akibat OA) maka patella seperti
terangkat sehingga sedikit ada gerakan ke atas-bawah dan kadang terasa
seolah-olah patella mengetik pada dasar keras itu.
b. Tes Fluktuasi
Caranya : ibu jari dan jari telunjuk dari satu tangan diletakkan di sebelah kiri
dan kanan patella. Bila kemudian recessus suprapatellaris itu dikosongkan
menggunakan tangan lainnya, maka ibu jari dan jari telunjuk tadi seolah-olah
terdorong oleh perpindahan cairan dalam sendi lutut.
c. Tes Lekuk
Caranya : dengan memakaipunggung tangan, kita mengusapi lekuk kecil di
sebelah medial patella ke arah proximal, sehingga dikosongkan dari cairannya.
Kalau kemudian kita melaksanakan gerakan mengusap yang sama pada patella
bagian lateral, maka lekuk kecil yang medial itu akan kelihatan terisi cairan.

d. Tes Pengukuran Nyeri Dengan Vas (Visual Analogue Scale)


Yaitu pengukuran derajat nyeri dengan menunjukkan titik pada garis skala
nyeri (0-10 cm) salah satu titik ujung tidak nyeri dan ujung yang lain
menunjukkan nyeri yang hebat. Panjang garis mulai dari titik tidak nyeri
sampai titik yang ditunjuk pasien menunjukkan besarnya nyeri. Pasien diberi
penjelasan, kemudian pasien diminta untuk menunjukkan letak derajat
nyerinya.