Anda di halaman 1dari 3

Sebuah Pilihan

Cerpen: Shelvin Gunawan


Satu menitku yang berharga hilang sudah. Berapa lama lagi aku harus
menunggu, menunggu dan menunggu? Kadang pula aku menghitung
mundur dalam hati, kapan lalu lintas yang menjuntai kaku di depanku ini
akan bersinar terang.
Sedari tadi, saluran radio sudah kuubah hingga berpindah lima saluran
kurasa emmm.... bukan, enam tepatnya. Ditambah dengan satu saluran
berita yang hanya memberikan info-info jalan raya di daerah sekitar
Lumpur Lapindo.
Entah sudah berapa kali berita senada kulihat di layar TV pagi ini. Kalau
kuingat lagi, masih sebal rasanya karena tadi rebutan dengannya garagara aku mengganti saluran TV saat ibu asyik menyimak tentang
Lapindo itu.
"Tapi kan aku udah minta ijin, Ibu aja yang nggak denger," sanggahku
tadi sedikit agak menang sendiri setelah berulang kali berdebat tanpa
ada yang mau kalah. "Ah, Ibu emang orangnya begitu, lebih tua trus
merasa paling bener," gumamku pada diri sendiri dengan masih
terbayang-bayang wajah ibu yang tidak mau menoleh sedikitpun saat
aku melangkah kaki keluar rumah.
Tanpa sadar, aku mengibaskan kedua tanganku untuk menciptakan
angin buatan yang kutahu tidak akan berhasil. Kulihat pendingin
ruangan sudah kupasang hingga yang terdingin tapi tetap saja belum
bisa mengalahkan tata surya bumi ini. Bodohnya, aku tidak menyadari
kalau bulan ini memasuki musim kemarau. Jadi, kurasa sia-sia saja
usahaku.
Belum lagi hilang bayang-bayang ibu, sekarang wajah kak Reza muncul.
Membuatku teringat untuk memakai jaket agar tanganku tidak terjemur
matahari siang yang terik ini. Yang membuatku teringat dengan kak
Reza, karena aku masih belum bisa menghilangkan kekesalanku
padanya.
Sewaktu di kamar tadi, aku sudah menanyakan berulang kali dimana
pelembab UV yang biasa aku pinjam. Tapi, dia hanya menganggapku
seperti angin lalu dan sibuk mengobrol dengan temannya di telepon.
"Itu kan aku yang beli, lagipula udah habis kok. Makanya, beli sendiri
dong!" kata kak Reza setelah aku membongkar lacinya dengan kasar
tanda kesal karena tidak digubris. Bingung juga saat itu. Mau marah ya
gimana lagi, toh barangnya sudah habis. "Pokoknya nanti kalau
tanganku hitam, dia duluan yang kusalahkan," koarku agak lebih
bersemangat mengalahkan suara klakson mobil di belakangku.
11:58
Yup, satu menit lagi untuk menceramahi dunia kecilku. Kupikir lumayan
agak sedikit tidak membuang waktu daripada hanya berdiam saja.

Selagi menunggu, enaknya siapa lagi yang jadi sasaranku ya? Pikirku
dalam hati.
Ayah....tadi akan berangkat waktu pagi-pagi buta saat masih terlelap.
Dia membuyarkan mimpi indahku hanya untuk mengingatkan agar siang
ini aku tidak lupa mengisi bensin di tempat pengisian dekat rumah.
"Tinggalin memo aja kan udah cukup," gumamku lagi dengan nada yang
agak keras berharap ada yang mendengar. Kalau ayah bilang sih anak
jaman sekarang malas-malas. Bangun pagi minimal jam tujuh, itupun
kalau ada kuliah, kalau liburan ya lebih berwarna-warni pastinya.
Bosan menanti giliran kapan deretan mobil di bagianku maju, aku pun
merogoh tas dan mengeluarkan dompet panjang. Pikiran pertama yang
muncul saat aku melihat foto keluarga yang biasa kupajang dibagian
depan dompetku itu hanya untuk membunuh kejenuhan.
Tapi siapa sangka setelah lelah mengomentari kelakuan-kelakuan
mereka sejak dua menit yang lalu. Ada perasaanku kosong di diriku yang
hilang entah kemana. Perasaan itu makin kuat saat aku melihat foto itu.
Ibu tersenyum saat menenangkan dan memangku aku. Tawa renyah
ayah yang menonjolkan kerutan-kerutan di hampir seluruh wajahnya.
Juga ada senyum centil kak Reza yang berdiri di samping ayah sambil
menggandeng.
Sambil tetap memandangi wajah mereka satu persatu, aku pun bertanya
dalam hati, kenapa aku tidak bisa sedikit berbesar hati dengan sikap
mereka. Bukannya mencari-cari kesalahan yang padahal bukan
kesalahan mereka sepenuhnya? Tiba-tiba saja berbagai pikiran
berkecamuk di benakku.
Bagaimana kalau ayah tidak bisa ke kantor karena aku belum mengisi
bensinnya? Lalu bagaimana reaksi kak Reza saat tahu lacinya sudah
berantakan layaknya kapal pecah? Apalagi, ibu, saat kutinggalkan
terakhir kali, aku masih sempat melihat wajah sedihnya sehabis
berdebat denganku. Padahal, semua itu hanyalah masalah yang sepele,
tapi, kenapa aku yang serasa membesar-besarkannya.
Langit masih cerah, lalu lintas masih padat, dan lampu hijau pun juga
belum bersinar. Aku melirik kearah jam yang sudah menunjukkan pukul
11:59. Kira-kira masih ada satu menit lagi untuk meneruskan perjalanan
tanpa arahku atau memutar kembali ke arah rumah. Karena jujur saja
aku belum memutuskan tujuanku kemana saat keluar dari rumah tadi.
Sementara itu, aku juga masih ada waktu untuk berbalik ke rumah
kesayanganku dan mengubur dalam-dalam hal yang sejak tadi
kutunggu-tunggu. Tanpa sadar, lampu kuning mulai berkedip. Tapi, aku
masih saja belum mengambil keputusan, jalan mana yang harus kupilih?
Rem mobil kuinjak, mesin juga sudah kumatikan, kubuka pintu perlahan
dan sengaja kubanting saat menutupnya. Sejenak masih sepi. Sesaat

kemudian, ayah, ibu dan kak Reza muncul di teras sambil menatapku
keheranan. Aku pun berteriak girang, "Aku pulang!" ***

Anda mungkin juga menyukai