Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN PREEKLAMSIA

PENGERTIAN
-

Preeklamsia merupakan suatu penyakit vasospastik, yang melibatkan banyak sistem


dan ditandai oleh hemokonsentrasi hipertensi, dan proteinuria dan / atau edema (Bobak
Lowdermilk, Jensen. 2004).

Preeklamsia merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi


setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal
(Bobak Lowdermilk, Jensen. 2004).

Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat


kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Arief
Mansjoer, 2000).

Pre-eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria


yang timbul krna kehamilan (Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo. SpOG. 2002).

ETIOLOGI
Sampai saat ini penyebab pre-eklamsia belum diketahui dengan pasti akan tetapi
ada beberapa faktor risiko atau faktor predisposisi terjadinya pre eklamsia antara lain :
1. Primigravida atau multipara dengan usia lebih tua
Usia < 18 atau > 35
2. Obesitas
3. Adanya proses penyakit kronis :

Diabetes Mellitus

Hipertensi

Penyakit ginjal

Penyakit pembuluh darah

Penyakit pembuluh darah kolagen (Lupus Eritematosus Sistemik).

4. Kehamilan molahidatidosa
5. Kehamilan ganda
6. Komplikasi kehamilan

Kehamilan multiple

Janin besar

Hidrops janin / fetalis

Polihidramnion

7. Preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

Askep Klien Dengan Preeklampsi

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi

preeklamsia

setidaknya

berkaitan

dengan

perubahan

fisiologi

kehamilan. Adapatasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma
darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler sistemik / Systemic Vascular Resistence
(SVR). Peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmatik koloid. Pada
preeklamsia, volume plasma yang beredar menurun, sehingga terjadi hemokonsentrasi dan
peningkatan hematoksit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurn,
termasuk perfusi ke unit janin. Literoplasenta Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan
perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen
maternal menurun.
Vasopasme merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang
menyertai preeklamsia. Vasopasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terhadap
tekanan peredaran darah, seperti angiotensin II dan kemungkinan selain ketidakseimbangan
antara prostasiklin, prostaglandin dan tromboksan A2. Selain kerusakan endoterial,
vasospasme arterial turut menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler. Keadaan ini
meningkatkan edema dan lebih lanjut menurunkan volume intravaskuler, mempredisposisi
pasien yang mengalami preeklamsia mudah menderita edema paru. Preeklamsia
merupakan suatu keadaan hiperdinamik dimana temuan khas hipertensi dan proteinuria
merupakan akibat hiperfungsi ginjal. Untuk mengendalikan sejauhmana besar darah yang
berferfusi di ginjal, timbul reaksi vasospasme ginjal sebagai suatu mekanisme protektif,
tetapi hal ini akhirnya akan mengakibatkan proteinuria dan hipertensi yang khas untuk
preeklamsia.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

Askep Klien Dengan Preeklampsi

TANDA Dan GEJALA


Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya gejala-gejala sbb :
1. Penambahan berat badan yang berlebihan
Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu
beberapa kali.
2. Edema
Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan, dan
muka.
3. Hipertensi
Tekanan darah 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau
tekanan diastolic > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit.
Tekanan diastolic pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg.
4. Proteinuria
Bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/ltr dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan
kualitatif menunjukkan +1 atau 2 ; atau kadar protein 1 g/ltr dalam urin yang
dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak
waktu 6 jam.
Disebut preeklamsia berat bila ditemukan gejala berikut :
1. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolic 110 mmHg.
2. Proteinuria > 39/liter
3. Peningkatan kadar enzim hati dan atau ikterus
4. Oliguria ( <400 ml/24 jam )
5. Nyeri epigastrium
6. Sakit kepala hebat
7. Skotoma
8. Perdarahan retina
9. Edema paru atau sianosis
10. Trombositopenia ( trombosit < 100.000/mm3 )
11. Pertumbuhan janin terhambat
12. Koma

Askep Klien Dengan Preeklampsi

Tabel Perbedaan Preeklamsia Berat dan Ringan


Efek pada ibu
Tekanan darah

Preeklamsia Ringan
Peningkatan tekanan darah sistolik 30
mmHg atau lebih, peningkatan darah
diastolic sebesar 15 mmHg atau hasil
pemeriksaan sebesar 140/90 mmHg
dua kali dengan jarak 6 jam.
140/90 = 107
Peningkatan berat badan lebih dari 0,5
kg /minggu trimester kedua atau ketiga
atau peningkatan berat badan yang
tiba-tiba sebesar 2 kg setiap kali.
Proteinuir sebesar 300 mg/L dalam 24
jam atau > 1 g/L secara randam dengan
memakai contoh urine siang hari yang
dikumpulkan pada dua waktu dengan
jarak 6 jam karena kehilangan protein
adalah bervariasi dengan dipstick, nilai
bervariasi dari sedikit sampai +1.
Edema dependen bengkak mata,
wajah, jari, bunyi pulmoner tidak
terdengar.
Hiperfleksi +3 tidak ada klonus
dipergelangan kaki.
Keluaran sama dengan masukan 0
ml/jam.
Sementara

Preeklamsia Berat
Peningkatan menjadi 160/110
mmHg pada 2 kali pemeriksaan
dengan jarak 6 jam pada ibu
hamil yang beristirahat ditempat
tidur.
160/110 = 127
Sama
seperti
preeklamsia
ringan.

Tidak ada
Sementara

Kabur, foto fobia, bintik buta


pada funduskopi.
Berat

Nyeri ulu hati

Tidak ada

Ada

Kreatinin serum

Normal

Meningkat

Trombositopenia

Tidak ada

Ada

Peningkatan AST

Minimal

Jelas

Hematokrit

Meningkat

Meningkat

MAP
Peningkatan
berat badan
Proteinuria
Dipstick Kualitatif
Analisis
Kuantitatif
24
jam.
Edema
Refleksi
Haluaran urine
Nyeri kepala
Gangguan
penglihatan
Iritabilitas /afek

Proteinuira dari 5 sampai 10 g/L


dalam 24 jam atau +2 protein
dengan dipstick

Edema umum, bengkak semakin


jelas dimata, jari, bunyi paru
(rales) bisa terdengar.
Hiperfleksi +3 atau lebih, klonus
dipergelangan kaki.
Oliguria <30 ml/jam atau 120
ml/jam.
Berat

KOMPLIKASI
1. Atonia uteri (uterus cauvelaire)
2. Sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzymes, Low Platelet Count).
3. Ablasi retina
4. DIC (Diseminata Intravaskuler Coagulation)
5. Gagal ginjal
6. Perdarahan otak
7. Edema paru
8. Gagal jantung, hingga syok dan kematian
Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut atau kronisnya insufisiensi
uteroplasental, misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

PENATALAKSANAAN
Tujuan utama penanganan adalah :

Mencegah terjadinya preeklamsia berat dan eklamsia

Melahirkan janin hidup

Melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya.

1. Penanganan Preeklamsia Ringan


Istirahat ditempat tidur, masih merupakan terapi utama untuk penanganan
preeklamsia. Istirahat dengan berbaring pada sisi tubuh menyebabkan pengaliran darah
keplasenta meningkat. Aliran darah ke ginjal juga lebih banyak, tekanan vena pada
ekstremitas bawah turun dan resorbsi cairan dari daerah tersebut bertambah. Selain itu
juga mengurangi kebutuhan volume darah yang beredar. Oleh sebab itu dengan istirahat
biasanya tekanan darah turun dan edema berkurang. Bila penderita sukar tidur berikan
fenobarbital 3 x 30 mg sehari dan dapat juga menurunkan tekanan darah dan dapat juga
diberikan asetosal 1 x 30 mg.
Obat antihipertensi yang dapat digunakan pada preeklamsia :
Jenis obat
1. Penghambat Adrenergik (adrenolitik).
Adrenditik sentral
- Metildopa

Dosis

- Klonidin

3 x 125 mg/hari sampai


3 x 500 mg/hari.
3 x 0,1 mg/hari atau
0,30 mg/500 ml glukosa 5% / 6 jam.

Beta bloker
- Pindolol

1 x 5 mg/hari sampai 3 x 10 mg/hari.

Alfa bloker
- Prazosin
Alfa dan beta bloker
- Labetalol
2. Vasodilator
Hidralazin
3. Antagonis kalsium
Nifetidin

3 x 1 mg/hari sampai 3 x 5 mg/hari.


3 x 100 mg/hari.

4 25 mg/hari atau
Parenteral 2,5 mg 5 mg
3 10 mg/hari

2. Pencegahan Preeklamsia
Beberapa penelitian menunjukkan pendekatan nutrisi (diet rendah garam, diet tinggi
protein, suplemen kalsium, magnesium, dan lain-lain) atau medikamentosa. (teofilin,
antihipertensi, diuretic, aspirin, dan lain-lain) dapat mengurangi kemungkinan timbulnya
preeklamsia.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

3. Penanganan Preeklamsia Berat


Upaya pengobatan ditujukan :

Untuk mencegah kejang

Memulihkan organ vital pada keadaan normal

Melahirkan bayi dengan trauma sekecil-kecilnya pada ibu dan bayi.


Segera rawat pasien di rumah sakit : berikan MgSO 4 2 g dalam infuse dekstrosa
5% dengan kecepatan 15-20 tetes permenit. Dosis awal MgSO 4 2 g intravena
dalam 10 menit selanjutnya 2 g/jam dalam drip infuse sampai tekanan darah
stabil (140-50/90 100 mmHg). Ini diberikan samapi 24 jam pasca persalinan
atau hentikan bila 6 jam pasca persalinan ada perbaikan nyata ataupun tampak
tanda-tanda intoksikasi. Syarat pemberian MgSO4 adalah refleksi patella kuat,
frekuensi pernapasan > 16 kali/menit dan diuresis > 100 cc dalam 4 jam
sebelumnya (0,5 ml/kg berat badan/jam). Harus diberikan secara intravena
dalam 3 menit. Selama pemberian MgSO 4 perhatikan tekanan darah, suhu,
perasaan panas, serta wajah merah.
Berikan nifedipin 3 4 x 10 mg oral. Bila pada jam ke 4, tekanan diastolic belum
turun sampai 20 % berikan tambahan 10 mg oral (dosis maksium 80 mg/hari).
Bila tekanan diastolic meningkat 110 mmHg. Berikan tambahan sublingual.
Tujuannya adalah penurunan tekanan darah 20% dalam 6 jam, kemudian
diharapkan menjadi stabil (140-150/90-100 mmHg). Bila sulit dikendalikan,
dapat dikombinasi dengan pindolol.
Periksa tekanan darah, nadi, dan pernapasan tiap 4 jam. Pasang kateter dan
kantong urine. Likuer urine setiap 6 jam. Bila < 100 ml/ 4 jam, kurangi dosis
MgSO4 menjadi 1 g/jam.
Dilakukan USG dan kardiotokografi (KTG). Pemeriksaan KTG diulangi sekurangkurangnya 2 kali/24 jam.
Dilakukan :
Penanganan konservatif bila kehamilan <35 minggu tanpa disertai tanda-tanda
impending eklamsia dan keadaan dan keadaan janin baik. Prinsip terapi serupa
dengan yang aktif, hanya tidak dilakukan terminasi kehamilan. Pemberian
MgSO4 2 mg intravena dilanjutkan 2 g/jam dalam drip infuse dektrosa 5 % 500
ml/ 6 jam dapat dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklamsia
ringan, selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. Bila tidak ada perbaikan atau
bila dalam 6 jam selama pengobatan terdapat peningkatan tekanan darah, tetapi
dianggap gagal dan dilakukan terminasi kehamilan.
Penanganan aktif bila kehamilan 35 minggu, ada tanda-tanda impending
eklamsia.

Kegagalan

terapi

konservatif,

ada

tanda

gawat

janin

atau

pertumbuhan janin terhambat, dan sindrom HELLP.


Askep Klien Dengan Preeklampsi

Bila dari hasil KTG fungsi dinamik janin plasenta baik ( reaktif, cairan amnion
cukup, gerak napas baik, tidak ada deselarasi lambat, tidak ada pertumbuhan
janin terhambat, dan skor >5 ) rencana partus pervaginam, bila kurang baik,
sebaiknya lahirkan secara seksio.
KONSEP ASKEP
1. Pengkajian
a. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan tekanan darah


Adanya banyak variable yang dapat mempengaruhi pengukuran tekanan darah,
misalnya posisi dan ukuran pembalut lengan yang digunakan, tingkat emosi.
Alat pengukur tekanan darah elektronik menunjukkan suatu pelebaran tekanan
nadi dibandingkan data manual.

Observasi edema
Edema dimulai dari distribusi, derajat dan pitting.
Edema dapat digambarkan sebagai dependen atau pitting

Edema dependen adalah edema pada bagian bawah atau bagian tubuh
yang dependen, dimana tekanan hidrostatiknya paling besar.

Edema pitting meninggalkan lekukan kecil setelah bagian yang bengkak


ditekan dengan jari. Lekukan ini disebabkan pergeseran cairan ke jaringan
sekitar, menjauh dari tempat yang mendapat tekanan.

Reflek Tendon Propunda (RTP)


Evaluasi RTP terutama diperlukan jika ibu sedang mengalami pengobatan
dengan magnesium fulfat. Hilangnya RTP adalah tanda ini keracunan
magnesium yang mengancam.

b. Pemeriksaan Diagnostik / Laboratorium

Hitung sel darah lengkap (termasuk hitung trombosis)

Pemeriksaan

pembekuan

(termasuk waktu

perdarahan,

PT, PTT, dan

Fibrinogen.

Enzim hati (laktat dehidrogenase/ LDH), Aspartat amino transferase (AST)


(SGOT), Alanin aminotransperase (ALT) (SGPT).

Kimia darah (BUN, kreatinin, glukosa, asam urat)


Hematokrit, hemoglobin

dan trombosis di pantau secara

ketat

untuk

menemukan perubahan yang mengidentifikasikan perubahan status pasien.


Karena ada kemungkinan hati terkena, kadar glukosa serum dipantau jika hasil
tes fungsi hati menujukkan adanya peningkatan enzim hati. Apabila trombosis
jatuh dibawah 100.000 /mm 3 profil koagulasi pasien perlu diperiksa untuk
mengidentifikasi berkembangnya DIC.
Askep Klien Dengan Preeklampsi

Proteinuria ditetapkan melalui pemeriksaan memakai kertas strip pada contoh

urine yang diperoleh dengan cara pengambilan bersih (clean-catch) atau


dengan memakai kateter, hasil lebih dari 1+ pada dua atau lebih contoh urine
dengan jarak setidaknya 4 jam harus diikuti pemeriksaan urine 24 jam untuk
pemeriksaan protein dan klirens kreatinin lebih merefleksikan status ginjal yang
sebenarnya.

Proteinuria

biasanya

merupakan

tanda

lanjut

perjalanan

preeklamsia.
Hasil pemeriksaan protein adalah sebagai berikut :
O
Sedikit
+1 30 mg/dl (ekuivalen dengan 300 mg/L)
+2 100 mg/dl
+3 300 mg/dl
+4 lebih dari 1000 mg(1g) /dl
Keluaran urine (urine output) dikaji untuk volume minimal 30 ml perjam atau 120
ml dalam 4 jam.
2. Diagnosa Keperawatan
No
1.

Dx.
Keperawatan
Perubahan
perfusiuteropla
senta
dan
jaringan yang
b/d hipertensi.

Tujuan
Setelah
dilakukan
keperawatan
Pasien menunjuk
kan tingkat
kesadaran tidak
berubah dan
pasien tidak
mengalami
kejang.
Janin tidak
menunjuk kan
tanda-tanda
distress.
Kebutuhan
metabolik
fisiologis minimal.
Perfusi jaringan
minimal.
Tekanan darah
dapat dipertahan
kan atau rendah.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

Rencana Keperawatan
Intervensi
1. Berikan
informsi 1.
mengenai pengkajian
/pencatatan gerakan
janin di rumah setiap
hari.
2. Identifikasi
faktor- 2.
faktor
yang
mempengaruhi
aktivitas janin.

3. Tinjau ulang tanda2a


abrupsi
plasenta
(misal : perdarahan
vagina, nyeri tekan
uterus,
nyeri
abdomen
dan
penurunan aktivitas)
4. Pantau tanda vital
sesuai protokol.
5. Evaluasi
pertumbuhan janin :
ukuran
kemajuan
pertumbuhan fundus
setiap kunjungan.
6. Perhatikan
respon
janin pada obatobatan
seperti
MgSO4, fenobarbital,
dan drazepan.

Rasional
Penurunan aliran darah
plasenta mengakibat kan
pertukaran
gas
dan
kerusakan fungsi nutrisi
plasenta.
Merokok,
penggunaan
obat,
kadar
glukosa
serum, bunyi lingkungan
waktu dalam sehari dan
siklus tidur-bangun dari
janin dapat meningkat
atau menurunkan gerakan
janin.
3. Pengenalan
dan intervensi dini meningkat kan
kemungkinan hasil yang
positif.

4. Mengetahui
keadaan
umum pasien.
5. Penurunan
fungsi
plasenta dapat menyertai
HKK,
mengakibatkan
IUGR.
6. Efek
depresan
dari
medikasi
dapat
menurunkan pernapasan
dan fungsi jantung janin
serta tingkat aktivitas
janin, meskipun sirkulasi
plasenta
mungkin
adekuat.

7. Pantau DJJ secara


manual
atau
elektronik,
sesuai
indikasi.

8. Bantu
dengan
mengkaji
ukuran
plasenta
dengan
mengunakan
ultrasonogefi.
2.

Kurang
volume cairan
b/d kehilangan
protein
plasma,
penurunan
tekanan
asmotik koloid
plasma

Setelah
dilakukan 1. Timbang BB klien
tindakan terapi
secara
rutin.
Anjurkan klien untuk
Pasien
mampu
memantau BB di
mengungkapkan
rumah antara waktu
pemahaman
kunjungan.
tentang
kebutuhan akan
pemantauan
yang ketat dari
BB, TD, protein
edema
urin dan edema. 2. Bedakan
kehamilan
yang
Berpartisipasi
potologis
dan
dalam
regimen
fisiologis.
Pantau
terapeutik
dan
lokasi dan derajat
pemantauan
pitting.
sesuai indikasi.
Menunjuk
kan
hematokrit
(Ht)
dalam
batas
tanda
normal
dan 3. Perhatikan
edema
berlebihan
edema fisiologis.
atau
berlanjut
(misalnya : nyeri
epigastrik,
gejalagejala serebal, mual,
muntah)
kaji
terhadap
kemungkinan
eklamasi.

4. Perhatikan
perubahan
Ht/Hb.

kadar

5. Kaji ulang masukan


diet dari protein dan
kalori,
berikan
informasi
sesuai
kebutuhan.

6. Tes rabas urin bersih


terhadap
protein
setiap
kunjungan,
atau setiap hari/jam
bila dirawat di rumah
sakit.
Laporkan
temuan
2+
atau
lebih.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

7. Mengevaluasi
kesejahteraan
janin.
Peningkatan DJJ dapat
menandakan
respon
kompensasi
pada
hipoksia.
Prematuritas
atau absorbsi plasenta.
8. Penurunan fungsi dan
ukuran
plasenta
di
hubungkan dengan HKK.

1. Penambahan
BB
bermakna dan tiba-tiba
(misalnya : >i 1,5 kg/bulan
dalam trimester II atau >i
0,5 kg/mg pada trimester
III) menunjukkan retensi
cairan. Gerakan cairan
dari vaskuler ke ruang
intenstital, mengakibatkan
edema.
2. Adanya edema pitting
(ringan 1+ sampai 2+,
berat 3+ sampai 4+) pada
wajah, tangan, kaki, area
sacral,
atau
dinding
abdomen, atau edema
yang tidak hilang setelah
12 jam tirah baring adalah
bermakna.
3. Edema dan deposisi fibrin
intravaskuler
(pada
sindrom HELLP) dalam
hepar
terselubung.
Ditandai dgn : nyeri
epigastrik.
Dispnea
menandakan
adanya
hubungan dgn pulmonal,
edema serebral mungkin
mengarah pada kejang,
mual
serta
muntah
menandakan edema pada
gastrointestinal
4. Mengidentifikasi
derajat
hemokonsentrasi disebab
kan oleh perpindahan
cairan. Bila Ht kurang dari
3 kali kadar Hb, terjadi Hb
terjadi hemokonsentrasi.
5. Insiden hipovolemia dan
hipoperfusi prenatal dapat
diturunkan dengan nutrisi
adekuat. Ketidakadekuat
an
protein
/
kalori
meningkatkan
risiko
pembentukan edema dan
HKK untuk menggantikan
kehilangan
mungkin
diperlukan protein 80-100
gr setiap hari.
6. Membantu
dalam
menentukan
derajat
beratnya/kemajuan
kondisi.
Hasil
2+
menandakan
edema
glomerular atau spasme.

10

3.

4.

Resiko cidera
pada ibu b/d
iritabilitas SSP
akibat edema
otak,
vasopasme,
penurunan
perpusi ginjal
dan
terapi
magnesium
sulfat
dan
antihipertensi

Kurang
pengetahuan
tentang proses
penyakit,
pemeriksaan
diagnostic,
pengobatan,
dan perawatan
di rumah b/d
dengan kurang

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
:
Pasien
dapat
berpartisi
pa
si
dalam
tindakan
dan atau
modifikasi
lingkunga
n
untuk
melindun
gi diri dan
meningka
t
kan
keamana
n.
Bebas
dari
tandatanda
iskemia
serebal
(ganggua
n
penglihat
an, sakit
kepala,
perubaha
n pada
mental)
Menunjuk
kan kadar
faktor
pembeku
an dan
enzim
hepar
normal

7. Pantau TD dan nadi.

7. Peningkatan TO dapat
terjadi karena respon
terhadap
katekolamin,
vasopressin,
prostaglandin

8. Jadwalkan
kunjungan
prenatal 1-2 minggu bila
HKK ringan setiap minggu
bila berat.

8. Memantau
perubahan
kondisi lebih ketat

1. Kaji adanya masalah SSP


(misalnya : sakit kepala,
pekan rangsang, gangguan
penglihatan atau perubahan
pada funduskopi)
2. Tekankan pentingnya klien
melaporkan
tandatanda/gejala-gejala
yang
berhubungan dengan SSP.

1. Edema
serebral
dan
vasokontraksi
dapat
dievaluasi
dari
masa
perubahan
gejala,
perilaku, atau retina.
2. Keterlambatan tindakan
atau
awitan
progresif
gejala-gejala yang dapat
mengakibatkan
kejang
tonik-klonik atau eklamasi.
3. Pada kemajuan HKK.
Vasokonstriksi
dan
vasospasme
pembuluh
darah
serebral
menurunkan
konsumsi
oksigen
20%
dan
mengakibatkan
iskemia
serebral.
4. Edema/vasokonstriksi
limun,
dimanifestasikan
oleh masalah SSP berat,
dan masalah ginjal, heper,
kardiovaskuler
dan
pernapasan mendahului
kejang.

3. Perhatikan perubahan pada


tingkat kesadaran.

4. Kaji tanda-tanda eklamasi


yang akan datang : hiper
aktivitas (3+ sampai 4+) dari
refleks tendon dalam, klonus
pergelangan
kaki,
penurunan
nadi
dan
pernapasan, nyeri epigastrik
dan epiguria (luring dari 50
ml/jam)
5. Pantau tanda-tanda dan
gejala-gejala
persalinan/kontraksi uterus.
6. Berikan amobarbital atau
diazepam sesuai indikasi.
7. Berikan MgSO4 IM (dengan
menggunakan teknik Ztrack) atau I V dengan
menggunakan
pompa
infuse.
8. Lakukan pemeriksaan setiap
hari

Setelah
dilakukan 1. Dorong klien untuk
tindakan
meningkatkan
keperawatan :
pengetahuan
tentang
proses
Pasien dapat
penyakit,
mengungkapkan
pengobatan
dan
pemahaman
perawatan di rumah.
tentang proses
penyakit dan
informasi
rencana tindakan 2. Berikan
tentang patofisiologi
yang tepat.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

5. Kejang
meningkatkan
kepekaan
uterus,
persalinan dapat dimulai.
6. Menekan
aktivitas
serebral mempunyai efek
sedatif bila kejang tidak
terkontrol oleh MgSO4.
7. MgSO4, depresen dengan
SSP,
menurunkan
pelepasan
asetilkolin,
memblok
transmusi
neuromuskuler
dan
mencegah kejang.
8. Membantu mengevaluasi
perubahan atau beratnya
masalah retina.

1. Pengetahuan yang tinggi


dapat
mengetahui
tindakan dan perawatan
yang harus dilakukan.

2. Penerimaan
informasi
dapat
meningkatkan

11

informasi.

Mengidentifikasi
tanda / gejala
yang
memerlukan
evaluasi medis.
Melakukan
prosedur yang
diperlukan
dengan benar.
Melakukan
perubahan gaya
hidup atau
perilaku sesuai
dengan indikasi.

HKK,
implikasi
terhadap ibu dan
janin dan rasional
intervensi, prosedur
dan
tes
sesuai
kebutuhan.

pemahaman
dan
menurunkan rasa takut,
serta
membantu
memudahkan
rencana
tindakan untuk klien.

3. Berikan
informasi
tentang
tanda
/
gejala
yang
mengindikasi
kan
kondisi
yang
semakin buruk.

3. Membantu
menjamin
bahwa
klien
mencari
tindakan pada waktu yang
tepat
dan
mencegah
memburuknya
status
kondisi preeklamsia atau
komplikasi tambahan.

4. Berikan
informasi
tentang
jaminan
protein
adekuat
dalam
diet
klien
dengan
kemungkinan
preeklamsia ringan.

4. Protein
perlu
untuk
regulasi cairan dan intra
vaskuler
dan
ekstravaskuler.

5. Tinjau ulang tes


sendiri
terhadap
protein
urine.
Kuatkan rasional dan
implikasi tes.

5. Hasil tes 2+ lebih besar


bermakna
dan
perlu
dilaporkan
pada
pemberian
perawatan
kesehatan.

6. Ajarkan nama obat,


dosis,
waktu
pemberian, cara dan
efek samping obat.

6. Meningkatkan
pengetahuan
perawatan diri.

7. Bantu
anggota
keluarga
dalam
mempelajari
prosedur
untuk
memonitor TD, di
rumah
sesuai
indikasi tinjau ulang
penatalaksana
an
stress
dan
pembatasan diet.

7. Peningkatan
tekanan
darah
terjadi
karena
tahanan curah jantung.

dan

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan Edisi 3. Yayasan Pustaka Sarwono


Prawirohardjo : Jakarta.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

12

Jensen, Lowdermilk. Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. EGC :
Jakarta.
Tucker, Susan Martin. 1998. Standar Perawatan Pasien Edisi 5. Vol . IV Buku Kedokteran.
EGC : Jakarta.
Doengoes Marilyinn, E.dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Buku Kedokteran.
EGC : Jakarta.

Askep Klien Dengan Preeklampsi

13