Anda di halaman 1dari 121

LAPORAN PRAKTIKUM AGROKLIMATOLOGI

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan praktikum Agroklimatologi ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah
Agroklimatologi dan telah diketahui serta disahkan oleh co-assisten dan dosen
Agroklimatologi pada tanggal Desember 2013.

Disusun oleh :
Nurul Fajri Mayalibit
H0413031

Mengetahui,

Dosen Koordinator Praktikum


Agroklimatologi

Ir. Sumani, Msi.


NIP: 196307041988032001

Co- Assisten

Novialita Herlina
NIM H0712140

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada penyusun
sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Agroklimatologi ini dengan
baik.
Dalam penyusunan laporan ini banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, oleh
karena itu penyusun menyampaikanbanyak terima kasih kepada :
1. Koordinator Praktikum Agroklimatologi yang telah membimbing.
2. Ibu dosen yang telah memberikan mata kuliah Agroklimatologi yang sangat menunjang
dalam pembuatan laporan ini.
3. Kakak Co-Asisten yang telah membimbing selama praktikum maupun dalam pembuatan
laporan ini.
4. Teman-teman yang telah banyak membantu sehingga pelaksanaan praktikum dan
pembuatan laporan ini dapat berjalan dengan lancar.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi baiknya
laporan praktikum ini.
Demikianlah penyusun laporan ini, semoga dapat berguna bagi penyusun khususnya dan
pembaca pada umumnya.

Surakarta,

Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
I PENGAMATAN UNSUR-UNSUR CUACA SECARA MANUAL
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum
3 Waktu dan Tempat Praktikum
B Tinjauan Pustaka
C Hasil Pengamatan
D Pembahasan
1 Radiasi Surya
2 Tekanan Udara
3 Suhu
4 Kelembaban Udara
5 Curah Hujan
6 Angin
7 Evaporasi
8 Awan
E Komprehensif
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
II PENGAMATAN UNSUR-UNSUR CUACA SECARA OTOMATIS
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum
3 Waktu dan Tempat Praktikum
B Tinjauan Pustaka
C Hasil Pengamatan
D Pembahasan
E Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
IIIPENGUKURAN SUHU TANAH
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum

3 Waktu dan Tempat Praktikum


B Tinjauan Pustaka
C Alat dan Cara Kerja
1 Alat
2 Cara Kerja
D Hasil Pengamatan
E Pembahasan
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
IV PENGARUH PENGGUNAAN NAUNGAN TERHADAP SUHU, KELEMBABAN DAN
EVAPOTRANSPIRASI
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum
3 Waktu dan Tempat Praktikum
B Tinjauan Pustaka
C Alat dan Cara Kerja
1 Alat
2 Cara Kerja
D Hasil Pengamatan
E Pembahasan
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
V HUBUNGAN ANTARA ALTITUDE DENGAN TEKANAN UDARA, SUHU UDARA
DAN KELEMBABAN UDARA
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum
3 Waktu dan Tempat Praktikum
B Tinjauan Pustaka
C Alat dan Cara Kerja
1 Alat
2 Cara Kerja
D Hasil Pengamatan
E Pembahasan
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
VI PENGAMATAN SUHU DAN KELEMBABAN UDARA DALAM RUANG KULTUR
JARINGAN, RUMAH KACA DAN TEMPAT TERBUKA
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum

3 Waktu dan Tempat Praktikum


B Tinjauan Pustaka
C Alat dan Cara Kerja
1 Alat
2 Cara Kerja
D Hasil Pengamatan
E Pembahasan
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
VII
KLASIFIKASI IKLIM
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum
3 Waktu dan Tempat Praktikum
B Tinjauan Pustaka
C Alat dan Cara Kerja
1 Alat
2 Cara Kerja
D Hasil Pengamatan
E Pembahasan
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
VIII REFLEKTOR
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
2 Tujuan Praktikum
3 Waktu dan Tempat Praktikum
B Tinjauan Pustaka
C Alat dan Cara Kerja
1 Alat
2 Cara Kerja
D Hasil Pengamatan
E Pembahasan
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Pengamatan dengan Sunshine Recorder tipe Cambell Stokes
Tabel 2.1 Pengukuran Suhu Tanah
Tabel 3.1 Naungan

Tabel 3.2 Rumah Kaca


Tabel 3.3 Tempat Terbuka
Tabel 5.1 Pengaruh Altitude terhadap Tekanan Udara , Suhu Udara dan RH udara
Tabel 5.2 Pengaruh Altitude terhadap Tekanan Udara , Suhu Udara dan RH udara
Tabel 5.3 Pengaruh Altitude terhadap Tekanan Udara , Suhu Udara dan RH udara
Tabel 6.1 Hasil Pengamatan Thermohigrograph di Ruang Non AC
Tabel 6.2 Hasil Pengamatan Thermohigrograph di Ruang AC
Tabel 6.3 Hasil Pengamatan Thermohigrograph di Rumah Kaca
Tabel 7.1 Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson
Tabel 7.2 Klasifikasi Iklim Menurut Oldeman
Tabel 7.3 Data Curah Hujan Bulanan Rata-Rata Kecamatan Jenawi Tahun 2000-2009
Tabel 7.4 Data Curah Hujan Bulanan Rata-Rata Kecamatan Jenawi Tahun 2000-2009
Menurut Schmidt-Ferguson
Tabel 7.5 Data Jumlah BB, BK dan BL Kecamatan Jenawi Tahun 2000-2009
Tabel 7.6 Data Curah Hujan Bulanan Rata-Rata Kecamatan Jenawi Tahun 2000-2009
Menurut Oldeman
Tabel 8.1 Tinggi Tanaman
Tabel 8.2 Intensitas Cahaya pada Tanaman

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Sunshine Recorder tipe Cambell Stokes
Gambar 2 Barometer
Gambar 3.1 Thermometer maksimum-minimum tipe six

Gambar 3.2 Thermometer Bola Basah-Bola Kering


Gambar 3.3 Thermometer Tanah Bengkok
Gambar 4 Thermohigrograf
Gambar 5.1 Ombrograf
Gambar 5.2 Ombrometer
Gambar 6.1 Wind Vane
Gambar 6.2 Anemometer
Gambar 7 Panci Evaporimeter
Gambar 8 Awan
Gambar 9 AWS (Automatic Weather Station)

I.

PENGAMATAN UNSUR-UNSUR CUACA SECARA MANUAL

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang

Kegiatan pertanian selalu berhubungan dengan fluktuasi unsur-unsur cuaca yang


mempengaruhi hasil pertanian baik yang bersifat positif (meningkatkan hasil) maupun
negatif (menurunkan hasil). Pemantauan unsur-unsur cuaca sangat diperlukan
khususnya pada saat pergantian musim, baik antara musim hujan ke kemarau atau
sebaliknya. Awal musim hujan sangat menentukan penentuan saat tanam sedangkan
awal musim kemarau menentukan tingkat keberhasilan panen, karena akhir musim
pertanaman sangat ditentukan oleh ketersediaan air menjelang kemarau. Tanaman
kekurangan air jika keluaran (evapotranspirasi tanaman) melebihi penyediaan air
tanah. Evapotranspirasi ditentukan oleh unsur-unsur cuaca seperti radiasi surya, suhu
udara, kelembaban udara dan kecepatan angin sedangkan penyediaan air ditentukan
oleh penyediaan air hujan jika irigasi tidak tersedia
Iklim merupakan faktor yang berpengaruh dalam kegiatan pertanian. Maka dari
itu pengaruh unsur-unsur cuaca dan iklim sangatlah penting, yaitu bagi
keberlansungan kegiatan pertanian sehingga mampu membawa dampak yang positif
yaitu peningkatan hasil panen. Hal tersebut perlu diperhatikan karena iklim dan cuaca
sangat berpengaruh terhadap perkembangan

tanaman sehingga berpengaruh juga

terhadap hasil yang akan diperoleh saat panen yang akan datang.
Cuaca (Weather) adalah keadaan udara pada tempat yang sempit dan dalam
keadaan yang akan ditimbulkan dari semua perpaduan unsur-unsur tersebut.Sebagai
contohnya yaitu apabila intensitas cahaya meningkat , maka suhu udara meningkat
yang menyebabkan kelembapan menjadi rendah maka penguapan menjadi tinggi dan
timbulnya awan diangkasa menjadi banyak, kemudian apabila terjadi kondensasi
maka akan timbul prespitasi (hujan). Iklim (Climate) adalah sintesis atau kesimpulan
dari perubahan nilai unsur-unsur cuaca dalam jangka waktu panjangdi suatu tempat
atau pada suatu wilayah.
Apabila kita sudah mampu mempelajari unsur-unsur cuaca serta mampu
mengaitkan terhadap kejadian alam yang terjadi, maka kita dapat menghubungkan
dengan waktu musim tanam dan memilih tanaman yang cocok dengan keadaan yang
ada. Sebagai contoh kita telah dapat memperkirakan musim tanam yang akan datang,
akan terjadi pada bulan apa, serta tanaman apa yang cocok kita tanam pada musim
tersebut.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Agroklimatologi adalah :
a. mengetahui macam-macam unsur cuaca yang dipelajari dalam agroklimatologi.
b. Mengenal alat-alat pengukur unsur-unsur cuaca
c. Mempelajari dan Mengetahui cara menggunakan alat-alat pengukur unsur cuaca
d. Mengetahui hubungan timbal balik antara unsur-unsur cuaca.

e. Dapat mengetahui pengaruh unsur cuaca dalam perkembangan dan pertumbuhan


tanaman.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Mata Kuliah Agroklimatologi untuk Acara 1 Pengamatan UnsurUnsur Cuaca dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 03 November 2013 pukul 08.00
09.00 WIB. Praktikum Agroklimatologi Acara 1 Pengamatan Unsur-Unsur Cuaca
bertempat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Lahan Kering Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret tepatnya di Desa Sukosari, Kecamatan
Jumantono, Kabupaten Karanganyar.

B. Tinjauan Pustaka
1. Radiasi Surya
Matahari adalah sumber energi pada peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang
dianggap penting bagi sumber kehidupan. Energi matahari merupakan penyebab utama
perubahan pergerakan atmosfer sehingga dapat dianggap sebagai pengendali iklim dan
cuaca

yang

besar

( Kartasapoetra 2004 ).
Radiasi yang dipancarkan matahari walaupun hanya sebagian kecil yang diterima
permukaan bumi merupakan sumber energi utama untuk proses-proses fisika atmosfer.
Proses-proses fisika atmosfer tersebut menentukan keadaan cuaca dan iklim. Udara
timbul karena adanya radiasi panas matahari yang diterima bumi. Tingkat penerimaan
panas oleh bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: (Sarjani 2004).
a. Sudut datang sinar matahari, yaitu sudut yang dibentuk oleh permukaan bumi
dengan arah datangnya sinar matahari. Makin kecil sudut datang sinar matahari,

semakin sedikit panas yang diterima oleh bumi dibandingkan sudut yang
datangnya tegak lurus.
b. Lama waktu penyinaran matahari, makin lama matahari bersinar, semakin banyak
panas yang diterima bumi.
c. Keadaan muka bumi (daratan dan lautan), daratan cepat menerima panas dan cepat
pula melepaskannya, sedangkan sifat lautan kebalikan dari sifat daratan.
d. Banyak sedikitnya awan, ketebalan awan mempengaruhi panas yang diterima
bumi. Makin banyak atau makin tebal awan, semakin sedikit panas yang diterima
bumi (Sarjani 2004).
Penerimaan radiasi di bumi sangat bervariasi menurut tempat dan waktu. Menurut
tempat disebabkan perbedaan lintang dan dalam skala mikro arah lereng sangat
menentukan jumlah radiasi yang diterima. Menurut waktu perbedaan radiasi terjadi
dalam sehari, maupun secara musiman (LIPI 2013).
Radiasi surya terdiri dari spectra ultraviolet (panjang gelombang kurang dari 0.38
mikron) yang berpengaruh merusak karena daya bakarnya sangat tinggi, spectra
photosynthetically Active Radiation (PAR) yang berperan membangkitan proses
fotosintesis dan spectra inframerah (lebih dari 0.74 mikron) yang merupakan pengatur
suhu udara. Spectra radiasi PAR dapat dirinci lebih lanjut menjadi pita-pita spectrum
yang masing-masing memiliki karakteristik tertentu. Ternyata spectrum biru
memberikan sumbangan yang paling potensial dalam fotosintesis (Kartasapoetra
2004).
Pada waktu radiasi surya memasuki system atmosfer menuju permukaan bumi
(daratan dan lautan), radiasi tersebut akan dipengaruhi oleh gas-gas, aerosol, serta awan
yang ada di atmosfer. Sebagian akan diserap dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi
berupa radiasi langsung (direct) maupun radiasi baur (diffuse). Radiasi langsung adalah
radiasi yang tidak mengalami proses pembauran oleh molekul-molekul udara, uap dan
butir-butir air serta debu di atmosfer seperti yang terjadi pada radiasi baur. Jumlah
kedua bentuk radiasi ini dikenal dengan radiasi global. Alat pengukur radiasi surya
yang terpasang pada stasiun-stasiun klimatologi (Handoko 2003).
2. Tekanan Udara
Udara di atmosfer terdiri dari sejumlah gas. Gas-gas ini menekan ke bawah di
permukaan bumi, memberikan kekuatan yang kita sebut tekanan atmosfer atau tekanan

udara. Tekanan udara bervariasi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Makin
tinggi suatu tempat, makin rendah tekanan udaranya. Tekanan udara pun bervariasi dari
waktu kewaktu. Variasi ini umumnya disebabkan oleh suhu udara.Udara dingin lebih
berat dari pada udara hangat. Pada saat tekanan udara tinggi cuaca biasanya kering dan
cerah. Sebaliknya, saat udara naik menyebabkan terjadi daerah tekanan rendah, cuaca
biasanya basah dan berawan. Perubahan tekanan udara diukur dengan alat yang disebut
barometer. Satuannya adalah milibar(mb). Tempat-tempat yang sama tekanannya
dihubungkan dengan garis yang disebut isobar. Perubahan tekanan udara membuat
angin bertiup membawa massa udara. Udara biasanya bergerak dari daerah bertekanan
tinggi kedaerah bertekanan rendah, dan ini menghasilkan angin (LIPI 2013).
Udara yang mengembang menghasilkan tekanan udara yang lebih rendah.
Sebaliknya, udara yang berat menghasilkan tekanan yang lebih tinggi. Angin bertiup
dari tempat yang bertekanan tinggi menuju ke tempat yang bertekanan rendah. Semakin
besar perbedaan tekanan udaranya, semakin besar pula angin yang bertiup. Rotasi bumi
membuat angin tidak bertiup lurus. Rotasi bumi menghasilkan coriolis force yang
membuat angin berbelok arah. Di belahan bumi utara, angin berbelok ke kanan,
sedangkan di belahan bumi selatan angin berbelok ke kiri. Untuk keperluan ilmu
pengetahuan, khususnya mengenai Metereologi dan Geofisika diperlukan suatu alat
yang dapat mengukur kecepatan angin dan mengukur tekanan udara. Alat tersebut
sudah ada. Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer dan alat untuk
mengukur tekanan udara disebut barometer (Marthen 2002).
Tekanan udara merupakan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan massa udara
dalam setiap satuan luas tertentu. Di ukur dengan menggunakan barometer. Garis-garis
yang menghubungkan tempat yang sama tekanan udaranya disebut isobar (Hendi,
2010). Daerah yang memiliki tekanan atmosfer terbesar adalah di permukaan laut yaitu
sekitar 1.013,2 mb. Tekanan atmosfer akan berkurang terhadap ketinggian. Sehingga
tekanan atmosfer di pantai akan lebih besar dibandingka dengan di daerah pegunugan
(Heri 2009).
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan oleh udara, karena geraknya tiap 1
cm2 bidang mendatar dari permukaan bumi sampai batas atmosfer. Satuannya : 1 atm =
76 cmHg. Tekanan 1 atm disebut sebagai tekanan normalTekanan udara makn
berkurang dengan penambahan tnggi tempt. Sebagai ketentuan, tiap naik 300 m tekanan

udara akan turun 1/30 x. Tekanan udara mengalir dar tempat yang mempunya tekanan
tinggi ke tempat yang memiliki tekanan lebh rendah, dapat secara vertikal atau
horizontal (Wuryatno 2000).
Tekanan udara diukur berdasarkan tekanan gaya pada permukaan dengan luas
tertentu, misalnya 1 cm2. Satuan yang digunakan adalah atmosfer (atm), millimeter
kolom

air

raksa

(mmHg)

atau

milibar

(mbar).

Tekanan udara patokan (sering juga disebut) tekanan udara normal) adalah tekanan
kolom udara setinggi lapisan atmosfer bumi pada garis lintang 450 dan suhu 00C.
besarnya tekanan udara tersebut dinyatakan sebagai 1 atm. Tekanan sebesar 1 atm ini
setara dengan tekanan yang diberikan oleh kolom air raksa setinggi 760 mm. satuan
tekanan selain dengan atm atau mmHg juga dapat dan sering dinyatakan dalam satuan
kg/m2 (Benyamin 2002).
3. Suhu Udara dan Suhu Tanah
Suhu dan kelembaban udara sangat erat hubungannya, karena jika kelembaban
udara berubah, maka suhu juga akan berubah. Ketika musim penghujan suhu udara
rendah, kelembaban tinggi, memungkinkan tumbuhnya jamur pada kertas, atau kertas
menjadi bergelombang karena naik turunnya suhu udara (Soewandi 2005).
Temperatur (suhu) adalah salah satu sifat tanah yang sangat penting secara
langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan juga terhadap kelembapan, aerasi,
stuktur, aktifitas mikroba, dan enzimetik, dekomposisi serasah atau sisa tanaman dan
ketersidian hara-hara tanaman. Tenperatur tanah merupakan salah satu faktor tumbuh
tanaman yang penting sebagaimana halnya air, udara dan unsur hara. Proses kehidupan
bebijian, akar tanaman dan mikroba tanah secara langsung dipengaruhi oleh temperatur
tanah (Hanafiah 2005)
Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata rata dari pergerakan molekul
molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda
tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda benda lain atau menerima
panas dari benda benda lain tersebut. Dalam sistem dua benda, benda yang
kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih tinggi. Titik es adalah suhu
dimana es murni mulai mencair di bawah tekanan dari luar 1 atmosfer standar (normal)
yaitu tekanan yang dapat menahan berat sekolom air raksa setinggi 76 cm atau
1013,250 mb. Sedangkan yang dimaksud titik uap adalah suhu dimana air murni mulai
mendidih dibawah tekanan dari luar 1 atmosfer standar.

Skala suhu yang biasa digunakan yaitu :


1. Skala Celsius, dengan titik es 0C dan titik uap 100C dan dibagi menjadi 100
bagian (skala).
2. Skala Fahreinheit, dengan titik es 32F dan titik uap 212F, dibagi menjadi 180
bagian (skala).
Selama 24 jam, suhu udara selalu mengalami perubahan perubahan. Permukaan
lautan perubahan suhu berlangsung lebih banyak perlahan lahan daripada di atas
daratan. Variasi suhu pada permukaan laut kurang dari 1C, dan dalam keadaan tenang
variasi suhu udara dekat laut hampir sama. Sebaliknya diatas daerah pedalaman
continental dan padang pasir perubahan suhu udara permukaan antara siang dan malam
mencapai 20C. Sedangkan pada daerah pantai variasinya tergantung dari arah angin
yang bertiup. Variasinya besar bila angin bertiup dari atas daratan dan sebaliknya
(BMKG Jateng 2009).
Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi
emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu tanah juga disebut
intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat Fahrenheit, derajat
Kelvin dan lain-lain. Tanah dapat dipandang sebagai campuran antara partikel, mineral,
dan organik dengan berbagai ukuran dan komposisi. Suhu tanah dapat diukur dengan
menggunakan alat yang dinamakan termometer tanah selubung logam. Suhu tanah
ditentukan oleh panas matahari yang menyinari bumi. Intensitas panas tanah
dipengaruhi oleh kedudukan permukaan yang menentukan besar sudut datang, letak
garis lintang utara dan selatan dan tinggi dari permukaan laut. Sejumlah sifat tanah juga
menentukan suhu tanah antara lain intensitas warna tanah, komposisi, panasienis tanah,
kemampuan dan kadar legas tanah. Salah satu fungsi tanah yang terpenting adalah
tempat tumbuhnya tanaman. Akar tanaman dalam tanah menyerap kebutuhan utama
tumbuhan yaitu air, nutrisi, dan oksigen. Oksigen sangat penting untuk mendukung
kehidupan makhluk hidup dan memungkinkan terjadinya pembakaran bahan bakar.
Nitrogen merupakan penyubur tanah. Udara juga melindungi bumi dari radiasi
berbahaya yang berasal dari ruang angkasa.Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu
tanah: a).Faktor lingkungan: Radiasi matahari, radiasi dari awan, konduksi panas dari
atmosfer, kondensasi, penguapan, curah hujan, vegetasi; b).Faktor tanah: keterhantaran

dan difusivitas panas, aktifitas biologi, radiasi dari matahari, struktur dan tekstur
kelembapan, garam-garam terlarut (Nita nurtafita 2011).
Suhu tanah beraneka ragam dengan cara khas pada perhitungan harian dan
musiman. Fluktasi terbesar dipermukaan tanah dan akan berkurang dengan
bertambahnya kedalaman tanah. Kelembapan waktu musiman yang jelas terjadi, karena
suhu tanah musiman lambat bantuk fluktasi suhu pada peralihan suhu diudara atau
dibawah tanah yang lebih besar. Suhu total untuk semalam tanaman mungkin terjadi
pada tengah hari. Dibawah 6 inch atau 15 inchi terdapat variasi harian pada suhu tanah
(Sostrodarsono 2006).
4. Kelembapan Tanah dan Kelembapan Udara
Faktor cuaca yang paling dominan dan berpengaruh langsung terhadap
produktivitas tanaman adalah kelembaban udara. Semakin tinggi kelembaban udara
udara dapat menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Kelembaban udara
disamping berpengaruh langsung juga berpengaruh tidak langsung terhadap
produktivitas melalui evaporasi dan selanjutnya. Kelembaban udara dipengaruhi secara
langsung oleh curah hujandan hari hujan maka kelembaban makin meningkat yang
mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman (Herlina 2003).
Kelembaban udara pada ketinggian lebih dari 2 meter dari permukaan
menunjukkan perbedaan yang nyata antara malam dan siang hari. Pada lapisan udara
yang lebih tinggi tersebut, pengaruh angin terjadi lebih besar. Udara lembab dan udara
kering

dapat

tercampur

lebih

cepat

(Benyamin 2002).
Kelembaban udara adalah kandungan uap air di udara yang terdiri dari
kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif), maupun defisit tekanan uap air.
Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air persatuan volume, kelembaban relatif
adalah membandungkan kandungan tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya.
Kelembaban udara umumnya lebih tinggi pada malam hari. Kelembaban rata-rata
harian atau bulanan di daerah tropika basah seperti Indonesia relatif tetap umumnya RH
> 60 persen. Kelembaban udara diukur menggunakan higrometer. yang menggunakan
rambut sebagai sensornya (LIPI 2013).
Kelembaban udara yaitu banyaknya kadar uap air yang ada di udara, dalam
kelembaban kita mengenal beberapa istilah yaitu:
1. Kelembaban mutlak : massa uap air yang berada dalam satu satuan udara yang
dinyatakan dalam gram/m3.

2. Kelembaban spesifik : perbandingan jumlah uap air di udara denagn satuan massa
udara yang dinyatakan dalam gram /kg
3. Kelembaban relatif : merupakan perbandingan jumlah uap air di udara dengan
jumlah maksimum uap air yang dikandung panas dan temperatur tertentu yang
dinyatakan dalam % (Gunarsih 2001).
Secara makro kelembaban Nisbi (RH) umumnya tinggi pada pusat-pusat tekanan
rendah berkaitan dengan naiknya massa u8dara sebagai salah satu syarat pembentukan
awan dan hujan. Karena banyak hujan maka banyak air yang dapat diuapkan sehingga
daerah tersebut menjadi relative lembab. Kelembaban Nisbi tertinggi terjadi di daerah
ITCZ karena penguapannya yang tinggi akibat penerimaan energi radiasi surya yang
besar sepanjang tahun. Sebaliknya, pada pusat-pusat tekanan tinggi, disamping jarang
hujan, kelembaban nisbi yang rendah disebabkan massa udara yang turun membawa
udara kering karena uap air sudah terkondensi menjadi awan di tempat lain (Handoko
2002).
5. Curah Hujan
Selain suhu, faktor yang penting dari iklim adalah curah hujan yang disebut pula
presipitasi.Sebenarnya sebutan ini lebih luas cakupannya. Cakupannnya meliputi
endapan air, salju, salju keras, butiran es sampai batu es, akan tetapi juga endapan kabut
dan embun (Darldjoeni 2000).
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut
waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas
bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah
Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan
curah hujan sebagai kriteria utama (Benyamin 2002).
Hujan adalah uap air di atmosfer yang mengembun menjadi butir-butir air dan
jatuh ke tanah.Satuan ukuran hujan adalah mm. Yang dimaksud banyaknya hujan
(curah hujan) adalah tinggi air hujan bila tidak ada yang merembes ke dalam tanah.
Sebagai patokannnya ialah 100 cc air hujan = 10 mm curah hujan. Alat pengukurnya
menggunakan ombrometer yang dibagi menjadi 2 tipe yaitu observatorium (biasa) dan
otomatis (Soekirno 2000).
Perubahan curah hujan, distribusi hujan sangat berpengaruh pada ketersediaan air.
Hal ini sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman. Curah hujan mempengaruhi
kelembaban udara (Herlina 2003).

Curah hujan dihitung harian, mingguan, hingga tahunan, sesuai kebutuhan.


Pembangunan saluran drainase, selokan, irigasi serta pengendalian banjir selalu
menggunakan data curah hujan, untuk mengetahui jumlah curah hujan yang terjadi di
suatu tempat. Curah hujan sebesar 1 mm artinya adalah tinggi air hujan setinggi 1 mm
pada daerah seluas 1 m2 (Bocah 2008).
Ada dua tipe utama dan tipe penting sumber curah hujan di Indonesia. Tipe utama
terdiri dari curah hujan konveksional dan curah hujan orografik. Sedangkan tipe
penting berkaitan dengan curah hujansiklonik di sekitar perairan Indonesia dan curah
hujan konvergensi oleh zona konvergensi intertropis yang bergerak ke selatan dan ke
utara ekuator mengikuti migrasi tahunan matahari. Untuk area ekuator seperti
Pontianak, distribusi untuk curah hujan bulanan menunjukkan maksimal ganda,
penyebabnya adalah area ekuator mengalami dua kali ekinoks yaitu pada tanggal 21
Maret dan 23 September (Bayong Tjasyono dan Musa 2000).
Ketika terjadi ekinoks, area ekuator mendapat insolasi maksimum dan semakin
berkurang ke arah lintang tinggi. Penyebab curah hujan konveksional adalah gaya
apung konveksi akibat pemanasan permukaan bumi oleh radiasi matahari. Hujan
konveksional berasal dari awan konvektif yang mempunyai radius antara 2 dan 10 km
atau mempunyai skala luas antara 10 dan 2300 km , sehingga hujan konveksional
mempunyai variabilitas yang besar (Oshawa et al, 2001). Awan konvektif merupakan
penyebab dari hujan lebat, batu es, dan petir. Penyebab curah hujan orografik adalah
kondensasi dan pembentukan awan dari udara lembap yang dipaksa naik oleh barisan
pegunungan. Di Indonesia, pembentukan curah hujan sering didorong oleh proses
konvektif (Mc.Gregor and Nieuwoli, 1998; Bayong Tjasyono, 1982). Untuk
pegunungan didaerah monsun, maka distribusi geografik curah hujan orografik dapat
berubah dengan tegas karena lerengnya berada di atas angin (windward slopes) pada
musim yang stu, menjadi lereng di baawah angin (leeward sides) pada musim yang
lain. Penyebab curah hujan siklonik adalah sirkulasi dengan pusat tekanan rendah yang
mempunyai vortisitas maksimum. Siklon tropis menguat pada lintang 10 dimana gaya
Coriolis minimal telah dilewati. Di daerah ekuatorial, hujan siklonik dapat terjadi
karena vorteks siklonik. Baik siklon maupun vorteks mempunyai vortisitas dan menurut
dinamika atmosfer, vortisitas siklonik berkaitan dengan divergensi negatif atau
konvergensi massa udara lembap yang berarti terjadi akumulasi uap air. Berdasarkan

jenisnya, di Indonesia dikenal hujan monsun, hujan ekuatorial dan hujan sepanjang
tahun. Hujan monsun terjadi pada daerahdaerah yang dipengaruhi angin muson. Hujan
ini mempunyai satu puncak, umumnya terjadi pada bulan Januari dan Februari. Hujan
ekuatorial terjadi pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh gerak semu matahari.
Hujan ini mempunyai dua puncak. Curah hujan rata-rata tahunan sangat bervariasi
menurut tempat. Di gurun penerimaan hujan tahunan berkisar dari 70 mm sementara di
beberapa daerah tropika basah curah hujan dapat melebihi 4000 mm pertahun (LIPI
2013).
6. Angin
Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan
angin. Satuan meteorologi dari kecepatan angin adalah Knots (Skala Beaufort).
Sedangkan satuan meteorologi dari arah angin adalah 00 3600 dan arah mata angin.
Anemometer harus ditempatkandi daerah terbuka. Pada saat tertiup angin, baling-baling
yang terdapat pada anemometer akan bergerak sesuai arah angin. Di dalam anemometer
terdapat alat pencacah yang akan menghitung kecepatan angin. Hasil yang diperoleh
alat pencacah dicatat, kemudian dicocokkan dengan Skala Beaufort. Selain
menggunakan anemometer, untuk mengetahui arah mata angin, kita dapat
menggunakan bendera angin. Anak panah pada baling-baling bendera angin akan
menunjukkan ke arahmana angin bertiup. Cara lainnya dengan membuat kantong angin
dan diletakkan di tempat terbuka (Wisnubroto 2006).
Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga
karena adanya perbedaan tekanan udara disekitarnya. Angin bergerak dari tempat
bertekanan udara tinggi ke tempat bertekanan udara rendah. Angin diberi nama dari
mana ia bertiup, misalnya angin timur artinya angin yang bertiup dari timur, angin
selatan adalah angin yang bertiup dari selatan. Angin mempunyai arah dan kecepatan.
Arah angin dinyatakan dengan satuan derajat atau 0dalam arah mata angin, misalnya
angin timuran adalah 90 dan kecepatannya dinyatakan dalam m/detik, km/jam, atau
knot (LIPI 2013).
Massa udara yang bergerak disebut angin. Angin dapat bergerak secara horizontal
maupun secara vertikal dengan kecepatan yang bervariasi dan berfluktuasi secara
dinamis. Faktor pendorong bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara

antara satu tempat dengan tempat yang lain. Angin selalu bertiup dari tempat dengan
tekanan udara tinggi ke yang tekanan udara lebih rendah. Jika tidak ada gaya lain yang
mempengaruhi, maka angin akan bergerak secara langsung dari udara bertekanan tinggi
ke udara bertekanan rendah. Akan tetapi, perputaran bumi pada sumbunya, akan
menimbulkan gaya yang akan mempengaruhi arah pergerakan angin. Pengaruh
perputaran bumi terhadap arah angin disebut pengaruh Coriolis (Benyamin 2002).
Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara
pada suatu daerah atau wilayah.Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas
matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang
menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih
panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan
udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah
lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara
pada wilayah tersebut (Sriharto 2000).
Angin mempunyai asal-usul yang kompleks atau rumit,pada umumnya yang
menjadi penyebab langsung adalah terjadinya perbedaan kerapatan udara sehingga
menimbulkan tekanan udara yang berbeda-beda secara horizontal.
Dalam klimatologi,angin mempunyai dua fungsi dasar yaitu :
1. Pemindahan panas,Baik dalam bentuk yang dapat di ukur (sensible heat) maupun
yang tersimpan (latent heat); dari lintang rendah ke lintang yang lebih tinggi dan
akan membuat setimbang neraca radiasi surya antara lintang rendah dan tinggi.
2. Pemindahan uap air yang dievaporasikan dari laut ke daratan. Di mana sebagian
besar dikondensasikan untuk menyediakan kebutuhan air yang turun kembali
sebagai hujan,kabut atau embun.
Udara yang mengembang menghasilkan tekanan udara yang lebih rendah.
Sebaliknya, udara yang berat menghasilkan tekanan yang lebih tinggi. Angin bertiup
dari tempat yang bertekanan tinggi menuju ke tempat yang bertekanan rendah. Semakin
besar perbedaan tekanan udaranya, semakin besar pula angin yang bertiup. Rotasi bumi
membuat angin tidak bertiup lurus. Rotasi bumi menghasilkan coriolis force yang
membuat angin berbelok arah. Di belahan bumi utara, angin berbelok ke kanan,
sedangkan di belahan bumi selatan angin berbelok ke kiri. Untuk keperluan ilmu
pengetahuan, khususnya mengenai Metereologi dan Geofisika diperlukan suatu alat
yang dapat mengukur kecepatan angin dan mengukur tekanan udara. Alat tersebut

sudah ada. Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer dan alat untuk
mengukur tekanan udara disebut barometer (Marthen 2002).
7. Evaporasi
Siklus hidrologi air tergantung pada proses evaporasi dan presipitasi. Air yang
terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air di lapisan atmosfer melalui proses
evaporasi(penguapan) air sungai, danau dan laut; serta proses evapotranspirasi atau
penguapan air oleh tanaman. Laju evaporasi pada permukaan daun akan menyita
jumlah air yang terdapat dalam tubuh tanaman (Harjanto dan surip 2007).
Uap air bergerak keatas hingga membentuk awan yang dapat berpindah karena
tiupan angin . Ruang udara yang mendapat akumulasi uap air secara kontinu akan
menjadi jenuh. Oleh pengaruh udara dingin pada lapisan atmosfer, uap air tersebut
mengalami sublimasi sehingga butiran- butiran uap air membesar dan akhirnya jatuh
sebagai hujan (Effendi 2003).
Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu: (1)
evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara alami, dan (2) evaporasi
yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan uap panas
(steam) dalam suatu peralatan. Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan
daripada liquid (cairan) dengan penambahan panas. Panas dapat disuplai dengan
berbagai cara, di antaranya secara alami dan penambahan steam. Evaporasi didasarkan
pada proses pendidihan secara intensif yaitu (1) pemberian panas ke dalam cairan, (2)
pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap, (3) pemisahan uap dari
cairan, dan (4) mengondensasikan uapnya.Evaporasi atau penguapan dapat pula
didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat cair mendidih . Evaporasi secara
luas biasanya digunakan untuk mengurangi volume cairan atau slurry atau untuk
mendapatkan kembali pelarut pada recycle. Cara ini biasanya menjadikan konsentrasi
padatan dalam liquid semakin besar sehingga terbentuk kristal. Titik didih cairan yang
diuapkan pada evaporasi dapat dikontrol dengan mengatur tekanan pada permukaan
uap cair. Artinya, jika penguapan terjadi pada temperatur tinggi, maka evaporator
dioperasikan pada tekanan tinggi pula. Beberapa evaporasi dalam industri secara
normal bekerja pada tekanan vakum untuk meminimalkan kebutuhan panas. Pada
proses pendidihan secara alami, perubahan titik didih sebagai perubahan temperatur
dapat ditingkatkan. Beberapa tipe pendidihan yang berbeda mempunyai koefisien
perpindahan panas yang berbeda pula. Tipe-tipe tersebut adalah :
1.

Pendidihan secara konveksi alami

2.

Pendidihan nukleat

3.

Pendidihan film
Pendidihan konveksi alami terjadi ketika cairan dipanaskan pada permukaannya.

Pada tipe ini, koefisien perpindahan panas meningkat dengan perubahan temperatur,
tetapi relatif lambat. Pada pendidihan nukleat terbentuk gelembung-gelembung uap
pada interface cairan dan padatan dari permukaan perpindahan panas. Pendidihan pada
tipe ini terjadi dalam sebuah ketel atau reboiler thermosifon yang digunakan pada
proses industri. Koefisien perpindahan panas pada tipe ini lebih besar. Pendidhan film
terjadi ketika perubahan temperature sangat tinggi dan penguapan terjadi secara
berkesinambungan pada permukaan perpindahan panas. Koefisien perpindahan panas
meningkat seiring dengan meningkatnya perubahan temperatur. Namun, nilai koefisien
perpindahan panasnya lebih rendah jika dibandingkan pendidihan nukleat. Proses
penguapan dapat terjadi apabila: Ada energi (surya, panas yang terbawa angin panas
dalam tanah, panas dalam air); Ada sumber air; Ada angin, untuk memindahkan udara
dekat permukaan bumi .(Guntara 2012)
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya evaporasi yaitu radiasi matahari,
angin , kelembaban, suhu (temperatur).
1. Radiasi matahari
Radiasi sinar matahari adalah bentuk energi yang dihasilkan oleh osilasi yang cepat
dari medan elektromagnetik oleh matahari.
2. Angin
Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga
karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di
sekitarnya. Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan
rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi.
3. Kelembaban
Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan atau uap air yang ada di udara.
4. Suhu
Suhu adalah perbedaan kecepatan ion tau tingkat panas yang dapat dirasakan oleh
tubuh manusia.
Sedangkan, evapotranspirasi adalah gabungan evaporasi dari semua permukaan
dan transpirasi-transpirasi dari semua tumbuhan (Guntara 2012).
Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur untuk
mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah hujan dan air

yang hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling banyak digunakan
sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan panci ini dipengaruhi
oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu udara dan besarnya angin pada
tempat pengukuran (Hanum 2009).
Evaporasi merupakan konversi air kedalam uap air. Proses ini berjalan terus
hamper tanpa berhenti disiang hari dan kerap kali mdimalam hari, perubahan dari
keadaan cair menjadi gas ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi,
proses tersebut akan sangat aktif jika ada penyinaran matahari langsung, awan
merupakan penghalangan radiasi matahari dan penghambat proses evaporasi
(Wahyuningsih 2004).
8. Awan
Pada umumnya awan terdiri dari butir-butir air cair yang berukuran sedemikian
kecil sehingga tidak jatuh. Namun apabila awan tersebut mencapai suatu ketinggian
dimana temperatur udaranya jauh dibawah 0 C maka butir-butir air tersebut menjadi
butir-butir es (kristal). Awan adalah penolong berharga dalam ramalan cuaca karena
memperlihatkan, perubahan apa yang sedang terjadi dalam atmosfer. Awan itu sendiri
tidak memberitahu kita terlalu banyak. Ahli cuaca harus mengetahui bagaimana ia telah
berkembang dengan berubah atau pecah pada umumnya, kemungkinan ada hujan lebih
besar kalau awan tinggi yang terpisah menjadi tambah tebal, bertambah jumlahnya dan
dasar awan lebih rendah (Wisnubroto 2006).
Awan adalah kumpulan butir-butir air, kristal es atau gabungan antar keduanya
yang masih melekat pada inti-inti kondensasi , yang melayang di atmosfer. Klasifikasi
awan dibagi menjadi 4 famili, yaitu :
a. Famili Awan Tinggi (6-12 km) antara lain : Cirrus, Cirrocumulus, Cirrostratus.
b. Famili Awan Sedang (3-6 km) antara lain : Altocumulus dan Altostratus.
c. Famili Awan Rendah (0-3 km) antara lain : Stratus, Nimbostratus, Stratocumulus.
d. Famili Awan Tumbuh Vertikal (0,5- 6 km) antara lain : Cumulus, Cumulounimbus,
Nimbostratus. (Sumani dan Komariah 2013)
Secara umum, awan terbentuk ketika udara naik mencapai titik embun, suhu
dimana udara menjadi jenuh. Dengan adanya inti kondensasi seperti debu, es, dan
garam, uap air biasanya mulai mengembun untuk membentuk awan. Ada beberapa
mekanisme untuk pendinginan udara, yaitu pendinginan adiabatik dan pendinginan
karena dipaksa naik melalui penghalang fisik seperti gunung (pengangkatan orografis).
Di daerah tropis umumnya proses kondensasi dan pembentukan awan dapat terjadi pada
suhu tinggi (>0o C) melalui pengangkatan udara atau konveksi yang diakibatkan oleh
pemanasan yang kuat (LIPI 2013).

Secara singkat proses kondensasi dalam pembentukan awan adalah sebagai


berikut :
a. Udara yang bergerak ke atas akan mengalami pendinginan secara adiabatik
sehingga kelembaban nisbinya (RH) akan bertambah.
b. Tetes air kemudian mulai tumbuh menjadi awan pada saat RH mendekati 100
persen.
c. Tetes air yang terbentuk umumnya mempunyai jari-jari 5 10 mm.
d. Tetes awan yang terbentuk umumnya mempunyai jari-jari 5 20 mm (LIPI 2013).
Tetes dengan ukuran ini akan jatuh dengan kecepatan 0,01 5 cm/s sedang
kecepatan aliran udara ke atas jauh lebih besar sehingga tetes awan tersebut tidak akan
jatuh ke bumi. Bahkan jika kelembaban udara kurang dari 90 persen maka tetes tersebut
akan menguap. Untuk dapat jatuh ke bumi tanpa menguap maka diperlukan suatu tetes
yang lebih besar yaitu sekitar 1 mm (1000 mm), karena hanya dengan ukuran demikian
tetes tersebut dapat mengalahkan gerakan udara ke atas (LIPI 2013).
Awan terbentuk sebagai hasil pendinginan (kondensasi atau sublimasi) dari massa
udara basah yang sedang bergerak ke atas. Proses pendinginan terjadi karena
menurunnya suhu udara tersebut secara adiabatis atau mengalami pencampuran dengan
udara dingin yang sedang bergerak ke arah horisontal (adveksi). Butir-butir debu atau
kristal es yang melayang-layang di lapisan troposfer dapat berfungsi sebagai inti-inti
kondensasi dan sublimasi yang dapat mempercepat proses pendinginan. Awan dapat
terjadi dari massa udara yang sedang naik kearah vertikal karena berbagai sebab, yaitu:
pengaruh radiasi matahari (secara konveksi) dan melalui bidang peluncuran
(pengangkatan orografis atau frontal) (Tjasyono 2004).

C. Hasil Pengamatan
1. Radiasi Surya

1
2
3

Gambar 1. Sunshine Recorder tipe Cambell Stokes


a. Bagian-bagian Utama
1) Bola Kristal
2) Mangkok Logam
3) Kertas Pias
b. Prinsip Kerja
1) Memasang kertas pias pada tempat yang telah disediakan. Kertas pias akan
terbakar jika ada sinar matahari yang jatuh ke bola, bola kaca disini berfungsi
memfokuskan sinar yang jatuh diatasnya sehingga dapat membakar kertas pias
yang berada di bawahnya.
2) Menghitung persentase kertas pias yang terbakar.
3) Menggambar kertas pias yang telah digunakan.
4) Menentukan lama penyinaran matahari dalam satu hari tersebut.
Tabel 1. Pengamatan dengan Sunshine Recorder tipe Cambell Stokes
Jam

06.00-08.00
09.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
Total

Lama kertas
pias terbakar
(menit)
55
50
45
20
30
30
10
4 jam

Prosentas
e
45%
83%
75%
30%
50%
50%
17%

2. Tekanan Udara
1
2
3
Gambar

2. Barometer

a. Bagian-bagian Utama
1) Penampang Barometer
2) Jarum Penunjuk
3) Angka Penentu
b. Prinsip Kerja
1) Membaca angka yang terdapat pada barometer, yang dibaca adalah angka yang
berada di baris kedua dari pinggir, yang paling dalam (berwarna merah).
2) Melakukan pengamatan tiap 20 menit sekali dan merekap untuk satu hari tersebut.

3. Suhu

7
Gambar 3. 1 Termometer Maksimum dan Minimum tipe six
1
6
2
3
5

Gambar 3.2 Termometer Bola Basah dan Bola Kering

a. Bagian-bagian Utama
1) Tabel Grafik
2) Termometer Bola basah
3) Termometer Bola Kering
4) Termometer Maksimum
5) Termometer Minimum
6) Tiang Penyangga
7) Termometer Maksimum-Minimum tipe six
b. Prinsip Kerja

1) Termometer Bola Basah : tabung air raksa dibasahi agar suhu yang terukur adalah
suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan agar uap air dapat
berkondensasi.Melakukan pengamatan tiap 20 menit sekali dan merekap untuk
satu hari tersebut.
2) Termometer Bola Kering : tabung air raksa dibiarkan kering sehingga akan
mengukur suhu udara sebenarnya. Suhu udara didapat dari suhu pada termometer
bola kering
3) Termometer Maksimum : untuk mengetahui suhu tertinggi dalam suatu periode
tertentu dapat diketahui dengan membaca angka pada skala yang bertepatan
dengan air raksa.
4) Termometer minimum : untuk mengetahui suhu terendah dalam suatu periode
tertentu dapat diketahui dengan membaca angka pada skala yang bertepatan
dengan ujung kanan penunjuk.
1
2
3
4
5
6

Gambar 3.3 Thermometer Tanah Bengkok


a. Bagian-bagian Utama
1) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 5 cm
2) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 0 cm
3) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 2 cm
4) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 10 cm
5) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 20 cm
6) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 50 cm
7) Temperatur Tanah Bengkok Kedalaman 100 cm
b. Prinsip Kerja
1) Untuk mengetahui suhu tanah, dapat dilakukan dengan mengamati angka pada
skala yang bertepatan dengan air raksa pada setiap kedalaman tanah. Dimana
kedalaman 0 sampai 20 cm untuk mengukur suhu tanah sekitar perakaran
tanaman semusim karena biasanya perakaran tanaman semusim tidak dalam.

Sedangkan kedalaman 50 dan 100 cm untuk mengukur suhu tanah sekitar


perakaran tanaman tahunan karena akar tanaman tahunan selalu tunggang.
2) Mengukur suhu tanah , dengan syarat tidak ada vegetasi yang tumbuh disekitar
lokasi yang akar diukur suhu tanahnya
4. Kelembapan Udara
1
2
3
4
5
Gambar 4. Termohigrograf
a. Bagian-bagian Utama
1) Pena Tinta Pencatat Kelembapan Udara
2) Sekat Kertas Grafik
3) Kertas Grafik
4) Pena Tinta Pencatat Suhu Udara
5) Sensor Benda Higroskopis Yang Berupa Ekor Kuda
b. Prinsip Kerja
1) Membaca skala pada termohigrograf. Skala pada bagian atas untuk kelembaban
udara dan skala bagian bawah untuk suhu udara.

5. Curah Hujan
1
2
3
4
5
6
7

Gambar 5.1. Termohigrograf


a. Bagian-bagian Utama
1) Corong Penampung
2) Selang Penghubung
3) Kertas Grafik
4) Tabung penampung ( didalamnya terdapat pelampung)
5) Waterpass
6) Selang Pembuangan
7) Tangkai Pena Bertinta
b. Prinsip Kerja
1) Curah hujan yang jatuh pada corong mengalir ke tabung penampung
2) Sehingga permukaan air naik dan mendorong pelampung dimana sumbunya
bertepatan dengan smbu pena.
3) Tangkai bertinta ikut naik dan memberi bekas garis pada kertas yang berskala,
bergeraknya kertas searah putaran jam dan sesuai dengan waktu yang ada.
1
2
3

Gambar 5.2. Ombrometer


a. Bagian-bagian Utama
1) Corong
2) Tabung Penampung
3) Kran
b. Prinsip Kerja
1) Air hujan yang tertangkap oleh corong.
2) Mengalir masuk ke penampung.
3) Pengamatan hujan dilakukan setiap hari (24 jam sekali) dengan cara membuka
kran yang ada pada ombrometer
4) Dan menampung air hujan pada gelas ukur, selanjutnya dilihat dan dibaca berapa
tinggi air hujan

6. Angin
1
2
3
4
Gambar 6.1. Wind Vane
a. Bagian-bagian Utama
1) Papan
2) Vane (Panah)
3) Mata Angin
4) Tiang
b. Prinsip Kerja
1) Melihat dan mencatat arah panah yang menunjuk ke salah satu arah mata angin.
1
2
3

Gambar 6.2 Anemometer


a. Bagian-bagian Utama
1) Mangkok Penampung Angin
2) Tiang Anemometer
3) Skala

b. Prinsip Kerja
1) Penggunaan anemometer cukup dengan membaca skala yang tertera pada
anemometer. Anenometer digunakan dalam kaitannya dengan pertanian yakni
untuk mengetahui seberapa besar kecepatan angin di suatu wilayah. Jika

kecepatan angin dapat merugikan tanaman, maka sudah tentu akan diperlukan
pembuatan Wind Breaker sehingga tidak akan merusak hasil usaha tani.
7. Evaporasi
1
2
3
4

Gambar 7. Panci Evaporimeter


a. Bagian-bagian Utama
1) Panci Evaporimeter
2) Stiwell Well Cylinder
3) Batang Pancing Berskala
4) Floating Thermometer Maksimum dan Minimum
b. Prinsip Kerja
1) Pengukuran dilakukan pada permukaan air dalam keadaan tenang didalam
tabung peredam riak (Still Well Cylinder) berbentuk silinder untuk mencegah
terjadinya gelombang air pada ujung jarum yang digunakan untuk mengukur
tinggi permukaan air pada panci evaporimeter.
2) Batang pancing ini terletak menggantung ditabung peredam riak sebagai
petunjuk tinggi permukaan air.

8. Awan

Gambar 8 Awan
a. Prinsip Kerja
1 Mengamati awan beserta ciri-cirinya kemudian memberikan nama sesuai
2

dengan family awan tersebut dan ketinggiannya.


Menggambar bentuk awan yang ada setip 1 jam sekali.

D. Pembahasan
1. Radiasi Surya
Dalam praktikum ini alat yang digunakan untuk mengukur radiasi surya adalah
Sunshine Recorder tipe Cambell Stoke. Alat ini memiliki 2 bagian utama yaitu Bola
Kristal dan Mangkok Logam. Bola kristal berfungsi untuk memfokuskan cahaya
matahari pada kertas pias, kertas pias adalah kertas khusus yang tak mudah terbakar
kecuali pada titik api lensa. Sedangkan mangkok logam berfungsi sebagai tempat
untuk menaruh kertas pias.

Matahari merupakan sumber energi terbesar di alam semesta. Energi matahari


diradiasikan ke segala arah dan hanya sebagian kecil saja yang diterima oleh bumi.
Energi matahari yang dipancarkan ke bumi berupa energi radiasi. Disebut radiasi
dikarenakan aliran energi matahari menuju ke bumi tidak membutuhkan medium
untuk mentransmisikannya. Energi matahari yang jatuh ke permukaan bumi berbentuk
gelombang elektromagentik yang menjalar dengan kecepatan cahaya. Panjang
gelombang radiasi matahari sangat pendek dan biasanya dinyatakan dalam mikron.
Bagi manusia dan hewan cahaya matahari berfungsi sebagai penerang.
Sedangkan bagi tumbuhan dan organisme berklorofil, cahaya matahari dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses fotosintesis. Dalam proses ini energi
cahaya diperlukan untuk berlangsungnya penyatuan CO dan air untuk membentuk
karbohidrat.
Lebih lanjut, adanya sinar matahari merupakan sumber dari energi yang
menyebabkan tanaman dapat membentuk gula. Tanpa bantuan dari sinar matahari,
tanaman tidak dapat memasak makanan yang diserap oleh tanah, yang mengakibatkan
tanaman menjadi lemah atau mati.
Dapat dilihat pada tabel 1 bahwa lama penyinaran matahari pada pukul 09.00
persentasinya terbesar. Hal ini dikarenakan pada pukul 09.00 pengamatan lama
penyinara lebih lama dibandingkan pada pukul-pukul lainnya. Sehingga dapat
disimpulkan semakin lama penyinaran dibawah matahari maka persentase pada kertas
pias akan lebih besar. Selain dipengaruhi lama penyinaran , sunshine recorder tipe
campbell stockes ini juga dipengaruhi waktu penyinarannya juga.
2. Tekanan Udara
Dalam praktikum ini alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara
adalah Barometer. Prinsip kerja dari Barometer adalah Membaca angka yang terdapat
pada barometer, yang dibaca adalah angka yang berada di baris kedua dari pinggir,
yang paling dalam (berwarna merah).
Pengaruh tekanan udara terhadap tanaman mungkin tidak bersifat langsung.
Tekanan udara mempengaruhi terhadap proses penyediaan lengas tanah (cadangan air
pada permukaan atas tanah) melalui proses pengembunan uap air diudara. Jika tanah

mempunyai lengas tanah yang tinggi, maka akan membantu proses perkecambahan
benih tanaman yang ditanam di atas permukaan tanah. Penurunan cadangan lengas
tanah bisa dihindari dengan memasang mulsa, dan tanaman peneduh agar suhu udara
dan suhu tanah tidak meningkat yang dapat memacu peningkatan penguapan air pada
permukaan tanah (evaporasi).
3. Suhu
Dalam praktikum ini , dilakukan pengamatan terhadap suhu udara dan suhu
tanah. Pada suhu udara alat yang digunakan adalah Psychrometer Standar. Dalam
Psychrometer standar ini terdiri dari dua Termometer yaitu Termometer Bola BasahBola Kering dan Termometer Maksimum-Minimum. Pada kedua termometer ini
dalam pengukurannya terdapat keterkaitan. Yang berikut adalah suhu tanah, alat yang
diguanakan untuk mengukur suhu tanah yaitu Termometer Tanah Bengkok.
Termometer tanah bengkok ini, dalam mengukur suhu tanah. Terbagi dalam berbagai
kedalaman yaitu termometer tanah bengkok pada kedalaman tanah 0 cm, 2 cm, 5 cm ,
10 cm, 20 cm, 50 cm dan 100 cm. Tiap-tiap kedalaman disesuaikan pada perakaran
tanaman, yaitu pada tanaman semusim atau tanaman tahunan.
Peran Suhu Udara dan Suhu Tanah adalah : Pada suhu rendah
(minimum) pertumbuhan tanaman menjadi lambat bahkan terhenti,
karena kegiatan enzimatis dikendalikan oleh suhu. Suhu tanah yang
rendah akan berakibat absorpsi/penyerapan air dan unsur hara
terganggu. Hubungan suhu tanah yang rendah dengan dehidrasi
dalam jaringan tanaman adalah, apabila suhu tanah rendah,
viskositas air naik dalam membran sel, sehingga aktivitas fisiologis
sel-sel akar menurun. Di samping itu, suhu tanah yang rendah akan
berpengaruh langsung terhadap populasi mikroba tanah.

Laju

pertumbuhan populasi mikroba menurun dengan menurunnya suhu


sampai di bawah 0oC. Sehingga banyak proses penguraian bahan
organik dan mineral esensial dalam tanah yang terhalang. Aktivitas
nitrobakteria menurun dengan menurunnya suhu, sehingga proses
nitrifikasi berkurang. Pada umumnya respirasi menurun dengan
menurunnya suhu dan menjadi cepat bila suhu naik. Pada suhu yang

amat rendah respirasi terhenti dan biasanya diikuti pula terhentinya


fotosintesa. Suhu rendah pada kebanyakan tanaman mengakibatkan
rusaknya batang, daun muda, tunas, bunga dan buah. Walaupun,
besarnya kerusakan organ atau jaringan tanaman akibat suhu
rendah

tergantung

pada,

keadaan

air,

keadaan

unsur

hara,

morfologis dan kondisi fisiologis tanaman.


4. Kelembapan Udara

Dalam praktikum ini alat yang digunakan untuk mengukur kelembapan udara
adalah Termohigrograf. Alat Termohigrograf ini juga dapat digunakan untuk
mengukur Suhu Udara tetapi dalam bentuk Grafik. Ada pula alat pengukur
kelembapan udara dan juga suhu udara tetapi penentuannya dalam bentuk angka yaitu
Termohigrometer. Prinsip kerja dari alat higrograf adalah Membaca skala pada
termohigrograf. Skala pada bagian atas untuk kelembaban udara dan skala bagian
bawah untuk suhu udara.
Selanjutnya yaitu peran kelembapan udara pada pertumbuhan tanaman.
Kelembapan

udara

di

sekitar

tempat

tumbuhan

sangat

berpengaruh

terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut. Umumnya tanah


dan udara sekitar yang kurang lembab (airnya cukup) akan sangat baik atau cocok
bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena pada kondisi seperti itu
tanaman menyerap banyak air dan penguapan (transpirasi) air semakin menurun,
sehingga memungkinkan cepat terjadinya pembelahan dan pemanjangan sel-sel untuk
mencapai ukuran maksimum. Tetapi ada jenis tumbuhan pada proses pertumbuhan
dan perkembangannya secara optimal justru berada pada kondisi tidak lembab atau
kering, contohnya pohon mangga yang akan bertunas dan bersemi, bahkan berbuah
pada saat musim kemarau yang kurang air.
5. Curah Hujan
Dalam praktikum ini alat yang digunakan untuk mengukur
Curah

Hujan

adalah Ombrometer

dan

Ombrograf.

Perbedaan

Ombrometer dan Ombrograf adalah, pada Ombrometer pengamatan


dilakukan secara manual dan dapat dilakukan pada tiap hari, tiap
minggu

ataupen

tiap

bulan.

Sedangkan

pada

Ombrograf

pengamatannya dilakukan secara otomotis tetapi pengamatan


hanya dapat dilakukan tiap minggunya.
Peran curah hujan terhadap penyebaran tanaman, Air mempunyai peranan
yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan karena dapat melarutkan dan membawa
makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung dari
curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang
bersangkutan. Jenis tumbuhan di suatu wilayah sangat berpengaruh pada banyaknya
curah hujan di wilayah tersebut. Tumbuhan di daerah yang kurang curah hujannya
keanekaragaman tumbuhannya kurang dibandingkan dengan tumbuhan di daerah yang
banyak curah hujannya. Curah hujan yang lebat dapat menggangu pembungaan dan
penyerbukan.
Curah hujan memegang peranan pertumbuhan dan produksi tanaman pangan.
Hal ini disebabkan air sebagai pengangkut unsur hara dari tanah ke akar dan
dilanjutkan ke bagian-bagian lainnya. Fotosintesis akan menurun jika 30% kandungan
air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis akan berhenti jika kehilangan air
mencapai 60% . Ketika kondisi alamih, kelebihan air kurang bermasalah jika
dibandingkan dengan kekeringan. Menurut Thornthwaite, kekeringan didefinisikan
sebagai sebuah keadaan yang membutuhkan air untuk transpirasi dan penguapan
langsunga melalui jumlah air yang tersedia di tanah. Sumber pokok dari kekeringan
adalah curah hujan, meskipun faktor peningkatan kebutuhan air cenderung meningkat.
Kelembaban nisbi rendah, angin kencang dan suhu yang tinggi merupaka faktor
pendukung kekeringan karena faktor ini mempercepat evapotranspirasi. Tanah yang
kehilangan air secara cepat oleh penguapan atau pembuangan air juga meningkatkan
kekeringan. Irigasi adalah cara yang paling cocok untuk mengatasi kekeringan. Jika
ada irigasi maka suhu menjadi faktor iklim yang penting dalam mengendalikan
produksi tanaman pangan.
Curah hujan (mm) mempengaruhi tanaman melalui proses evaporasi (proses
kesediaan air pada pori-pori tanah yang menguap karena peningkatan suhu dan
radiasi surya). Jika curah hujan tinggi maka cadangan air yang ada di permukaan
tanah (pori-pori tanah) lebih besar dibandingkan dengan penguapan air akibat proses
evaporasi. Fungsi air bagi tanaman :

Penyusun tubuh tanaman sekitar 70% - 90 %


Sebagai pelarut dan media reaksi biokimia pada tanaman
Medium (perantara) pembawa senyawa (molekul) nutrisi/hara (seperti ;

nitrogen/kalium/kalsium/fosfor,dll) bagi tanaman.


Berperan pada proses pembelahan sel pada tanaman
Sebagai bahan baku foto sintesa
Menjaga suhu tanaman agar tetap konstan

6. Angin
Dalam praktikum ini, pengamatan terhadap angin terbagi menjadi dua, yaitu :
arah angin dan kecepatan angin. Masing-masing memiliki alat pengukur yang
berbeda. Arah angin ditentukan dengan menggunakan Wind Vane, sedangkan
Kecepatan angin ditentukan dengan menggunakan Anemometer. Dalam penentuan
arah angin dengan menggunakan Wind Vane pada Sudut 0
menunjukkan arah Utara, sudut 90
menunjukkan arah Selatan dan 270

atau 360

menunjukkan arah Timur, sudut 180


menunjukkan arah Barat. Sedangkan

Anemometer , alat ini digunakan untuk mengukur kecepatan angin pada jangka waktu
tertentu. Perhitungannya yaitu Selisih angka pengamatan pertama dengan pengamatan
kedua dibagi jangka waktu pengamatan, itu merupakan angka rata-rata kecepatan
angin dalam waktu tertentu.
Angin secara tidak langsung mempunyai efek penting pada produksi tanaman
pangan. Energi angin merupakan perantara dalam penyebaran tepung sari pada
penyerbukan alamiah, tetapi angin juga dapat menyebarkan benih rumput liar dan
melakukan penyerbukan silang yang tidak diinginkan. Angin yang terlalu kencang
juga akan menggangu penyerbukan oleh serangga.
Angin dapat membantu dalam menyediakan karbon dioksida yang membantu
pertumbuhan tanaman, selain itu juga mempengaruhi suhu dan kelembaban tanah.
Namun pada saat musim kemarau di beberapa daerah di Indonesia bertiup angan fohn
yang dapat merusak karena bersifat kering dan panas. Pada siang hari didaerah sekitar
pantai, angin laut dapat menyebabkan masalah karena angin ini membawa butiran
garam yang dapat merusak daun.

Angin dalam budidaya pertanian dapat berpengaruh langsung seperti


merobohkan tanaman. Namun pengaruh angin secara tidak langsung sangat komplek
baik yang menguntungkan maupun merugikan bagi tanaman. Dengan adanya angin
maka akan membantu dalam penyerbukan tanaman dan pembenihan alamiah. Namun
kelemahannya juga akan terjadi penyerbukan silang dan penyebaran benih gulma
yang tidak dikehendaki. Selain itu angin merupakan salah satu penyebar hama dan
patogen yang dapat mempertinggi serangan hama san penyakit yang akan sangat
merugikan.

7. Evaporasi
Dalam praktikum ini alat yang digunakan untuk mengukur evaporasi adalah
Panci Evaporimeter. Pada Panci Evaporimeter terdapat bagian-bagian utama, yaitu :
Panci Evaporimeter, Stiwell Well Cylinder, Batang Pancing Berskala, Temperatur
melayang. Prinsip kerja alat ini adalah Pengukuran dilakukan pada permukaan air
dalam keadaan tenang didalam tabung peredam riak (Still Well Cylinder) berbentuk
silinder untuk mencegah terjadinya gelombang air pada ujung jarum yang digunakan
untuk mengukur tinggi permukaan air pada panci evaporimeter; Batang pancing ini
terletak menggantung ditabung peredam riak sebagai petunjuk tinggi permukaan air.
Kehilangan air melalaui evaporasi mempunyai akibat terhadap fisiologi
tanaman secara tidak langsung, seperti mempercepat penerimaan kadar air pada
lapisan atas dan memodifikasi iklim mikro di sekitar tanaman. Beberapa usaha untuk
mengurangi evaporasi tanah telah dilakukan seperti penggunaan mulsa dan pengatur
populasi tanaman atau jarak tanaman yang efisien. Usaha tersebut disertai dengan
pemilihan kultivar yang mempunyai efisien transpirasi tinggi.
8. Awan
Awan adalah sekumpulan tetesan air/kristal es di dalam atmosfer yang terjadi
karena pengembunan/pemadatan uap air yang terdapat dalam udara setelah
melampaui keadaan jenuh. Udara selalu mengandung uap air. Apabila uap air ini
meluap menjadi titik-titik air, terbentuklah awan. Peluapan ini boleh berlaku dengan
cara :
a

Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena air lebih
cepat menyejat. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi, hingga tiba

di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair dan
b

terbentuklah awan, molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.


Apabila awan telah terbentuk, titik air dalam awan akan menjadi semakin besar dan
awan itu akan menjadi semakin berat, dan perlahan-lahan daya tarikan bumi
menariknya ke bawah. Hinggalah sampai satu peringkat titik-titik itu akan terus
jatuh ke bawah. Hingalah sampai satu peringkat titik-titik itu akan terus jatuh ke

bawah dan turunlah hujan.


Namun jika titik-titik air tersebut bertemu udara panas, titik-titik itu akan menguap
dan lenyaplah awan itu. Inilah yang menyebabkan awan itu selalu berubah-ubah
bentuknya. Air yang terkandung di dalam awan silih berganti menguap dan
mencair. Inilah juga yang menyebabkan kadang-kadang ada awan yang tidak

membawa hujan.
Awan dibagi menjadi 4 yaitu
a Awan tinggi
Kawasan tropis, awan ini terletak di ketinggian 6-18 km. Kawasan iklim
sedang awan ini terletak pada ketinggian 5-13 km. Sedangkan di kawasan kutub
terletak pada 3-8 km. Awan yang tergolong ke dalam awan tinggi adalah :
1 Awan Sirrus (Ci)
a

Awan ini halus, dan berstruktur seperti serat dan bentuknya mirip bulu
burung.Awan ini juga sering tersusun seperti pita yang melengkung di
langit, sehingga seakan-akan tampak bertemu pada satu atau dua titik
horizon

Awan ini tidak menimbulkan hujan.

Awan ini terdiri daripada halbor air yang terjadi disebabkan suhu terlalu
dingin pada atmosfer.

Awan Sirus ini ditiupkan angin timuran yang bergelora. Awan ini
berwarna putih dengan pinggiran tidak jelas.

Awan Sirostratus (Ci-St)


a

Bentuknya seperti kelembu putih yang halus dan rata menutup seluruh
langit sehingga tampak cerah, bisa juga terlihat seperti anyaman yang
bentuknya tidak teratur.

Awan ini juga menimbulkan hallo(lingkaran yang bulat) yang mengelilingi


matahari dan bulan yang biasanya terjadi di musim kemarau.

Awan Sirokumulus (Ci-Cu)

Awan ini bentuknya seperti terputus-putus dan penuh dengan kristal-kristal es


sehingga bentuknya seperti sekelompok domba dan sering menimbulkan
b

bayangan.
Awan sedang
Pada kawasan tropis awan ini terletak di ketinggian 2-8 km, pada kawasan
iklim sedang terletak di ketinggian 2-7 km, sedangkan pada kawasan kutub terletak
di ketinggian 2-4 km. Yang termasuk dalam awan sedang antara lain :
1 Awan Altokumulus(A-Cu)
a

Awan ini kecil-kecil, tapi jumlahnya banyak

Awan Altokumulus berwarna kelabu atau putih dilihat pada waktu senja.

Biasanya berbentuk seperti bola yang agak tebal. Awan ini bergerombol
dan sering berdekatan sehingga tampak saling bergandengan.

Tiap-Tiap elemen nampak jelas tersisih aantara satu sama lain dengan
warna keputihan dan kelabu yang membedakannya dengan Sirokumulus.

Awan Altostratus(A-St)
a

Awan Altostratus berwarna kekelabuan dan meliputi hampir keseluruhan


langit.

Awan ini menghasilkan hujan apabila cukup tebal.

Awan-awan di atas terbentuk pada waktu senja dan malam hari dan
menghilang apabila matahari terbit di awal pagi.

Awan Rendah
Awan ini terletak pada ketinggian kurang dari 3 km, yang tergolong ke dalam awan
rendah antara lain :
1 Awan Stratokumulus(St-Cu)
a

Awan ini berbentuk seperti bola-bola yang seringg menutupi daerah


seluruh langit, sehingga tampak seperti gelombang.

Lapisan awan ini tipis dan tidak menghasilkan hujan.

Awan ini berwarna kelabu/putih yang terjadi pada petang dan senja
apabila atmosfer stabil.

Awan Stratus(St)

Awan ini cukup rendah dan sangat luaas. Tingginya di bawah 2000 m.

Lapisannya melebar seperti kabut dan berlapis.

Awan Nimbostratus(Ni-St)
a

Bentuknya tidak menentu ddengan pinggir compang-camping.

Di Indonesia awan ini hanya menimbulkan gerimis.

Awan ini berwarna putih gelap yang penyebarannyaa di langit cukup luas.

Awan Tumbuh Vertikal


1 Awan Kumulus(Cu)
a

Merupakan awan tebal dengan puncak yang agak tinggi. Terlihat


gumpalan putih atau cahaya kelabu yang terlihat seperti bola kapas
mengambang, awan ini berbentuk garis besar yang tajam dan dasar yang
datar.

b
2

Dasar ketinggian awan ini umumnya 1000 m dan lebar 1 km.

Awan Kumulonimbus (Cu-Ni)


a

Berwarna putih/gelap.

Terletak pada ketinggian kira-kira 1000 kaki dan puncaknya punya


ketinggian lebih dari 3500 kaki. Awan ini menimbulkan hujan dengan kilat
dan guntur.

Awan ini berhubungan erat dengan hujan deras, petir, tornado, dan badai.

E. Komprehensif
Iklim adalah sintesis, kesimpulan atau statistik cuaca jangka panjang. Menurut
Organisasi Meteorologi Sedunia (World Meteorogical Organization / WMO) waktu yang
ideal untuk pengumpulan data iklim dari data cuaca adalah 30 tahun atau lebih. Cuaca
adalah kondisi sesaat dari fisika amosfer. Jadi, unsur-unsur iklim dan cuaca adalah sama.
Berdasarkan bagian pembahasan diatas , kita dapat melihat bahwa antara unsur-unsur
cuaca dan iklim yang satu dengan yang lainnya saling ada keterkaitan dan saling
mempengaruhi satu sama lain. Di antara unsur-unsur cuaca dan Iklim yang ada, tekanan
udara dan arah angin kurang erathubungannya dengan tanaman. Beberapa unsur iklim
yang kuat pengaruhnyaterhadap tanaman akan diterangkan lebih lanjut.Melalui unsurunsurnya, iklim mempengaruhi tanaman dalam berbagai hal berikut:
1
2

Ketersediaan cahaya PAR (0.38-0.74 mikron) sebagai sumber energikarbohidrat.


Ketersediaan gas CO2 dan O2 di atmosfer, H2O dan O2 di dalam tanahsebagai
sumber atom C, H dan O pembentuk senyawa karbohidrat pada proses fotosintesis
dan respirasi.

Kondisi fisika tanah dan ketersediaan zat hara tanah. Proses "Weathering "dan erosi
oleh iklim dalam jangka panjang turut menentukan kesuburantanah, sedangkan curah

hujan turut mengatur kadar air tanah.


Kecepatan dan produksi fotosintesis dan respirasi ditentukan suhu daundan organ
tanaman lainnya. Intensitas radiasi surya, suhu udara maupun suhu tanah berpengaruh
besar. Radiasi surya, suhu udara dan suhu tanahakan mempengaruhi kecepatan

pertumbuhan dan perkembangan, kuantitas produksi dan mutu hasil panen.


Perkembangan populasi hama dan penyakit yang menentukan intensitasserangan dan
waktunya
Kondisi iklim dan cuaca mikro secara langsung mempengaruhi proses fisiologikarena

berhubungan dengan atmosfer di lingkungan tanaman sejak perakaran hingga puncak


tajuk. Unsur yang berpengaruh kuat terutama radiasi surya, suhu udara, suhu tanah,
kelembapan, kecepatan angin, presipitasi dan evapotranspirasi.
Pengaruh cuaca terhadap tanaman berbeda dengan pengaruh iklim. Suatu wilayah pusat
produksi tanaman yang telah berlangsung puluhan hingga ratusantahun, kondisi iklimnya
jelas sesuai bagi kultivar yang dibudidayakan. Walau demikian sesekali mengalami cuaca
ekstrim selama beberapa hari sehingga gagal panen. Jadi, keadaan cuaca menentukan
kondisi aktual hasil panen sedangkan kondisi iklim menentukan kapasitas dan rutinitas
panen.
F. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Dalam praktikum ini dapat disimpulkan bahwa antara unsur cuaca yang satu
dengan yang lain ada saling keterkaitan dan saling mempengaruhi. Keterkaitan
tersebut berhubungan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur-unsur
cuaca yang dimaksud adalah Radiasi Surya, Tekanan Udara, Suhu, Kelembapan
Udara, Curah Hujan , Angin dan Evaporasi.
Alat-alat yang digunakan untuk mengukur tiap-tiap unsur-unsur cuaca tersebut
adalah :
1. Radiasi Surya , alat yang digunakan adalah Sunshine Recorders tipe Cambell
Stokes
2. Tekanan Udara, alat yang digunakan adalah Barometer
3. Suhu
a. Suhu Udara : Termometer Bola Basah-Bola Kering, Termometer MaksimumMinimum, Termometer Maksimum-Minimum Tipe Six
b. Suhu Tanah : Termometer Tanah Bengkok
4. Kelembapan Udara, alat yang digunakan adalah Termohigrograf

5.
6.
a.
b.

Curah Hujan : alat yang digunakan adalah Ombrometer dan Ombrograf


Angin
Arah Angin
: Wind Vane
Kecepatan Angin : Anemometer

7. Evaporasi , alat yang digunakan adalah Panci Evaporimeter .


2. Saran
Saran untuk praktikum Pengamatan Unsur-Unsur Cuaca secara manual ini
adalah diharapkan alat-alat yang digunakan untuk mengukur unsur-unsur cuaca ini.
Dipelihara dan dapat berfungsi dengan baik sehingga kita lebih paham lagi mengenai
alat-alat pengukur unsur-unsur cuaca yang ada di Pusat Penelitian dan Pengembangan
Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret tepatnya di
Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.

DAFTAR PUSTAKA
Benyamin Lakitan 2002. Dasar-dasar klimatologi. PT Raja Grafindo Persada
BMKG Jateng 2009. Suhu Udara. http://www.cuacajateng.com/suhuudara.htm. Diakses
tanggal 11 November 2013
Bocah 2008. Unsur-unsur Cuaca dan Iklim.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/unsur-unsur-cuaca-dan-iklim/
Diakses pada tanggal 06 November 2013
Darldjoeni 2000. Prinsip Kerja Peralatan Klimatologi. UT. Jakarta.
Effendi, Hefni 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius : Yogyakarta
Gunarsih2001. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. BinaAksara.
Jakarta
Guntara 2012. Pengertian Evaporasi. http://www.guntara.com/2012/11/pengertianevaporasi.html. Diakses tanggal 11 November 2013
Hanafiah, Kemas Ali 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT. Radja Grifindo
Persada. Jakarta.
Handoko 2003. Klimatologi Dasar, Bogor : FMIPA-IPB.
Hanum, C 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi Agronomi, Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Harjanto, H dan Surip, P 2007. Pot Scaping, Membuat Taman Pot. Penebar
Depok

Swadaya :

Heri, S 2009. Memodifikasi Iklim Mikro. Pustaka Jaya. Jakarta.


Herlina 2003. Jurnal Ilmu-ilmu Hayati. UniversitasBrawijaya. Malang.
Kartasapoetra, A.G 2004. Klimatologi : Pengaruh iklim Terhadap Tanah dan Tanaman Edisi
Revisi. Bumi Aksara. Jakarta.
LIPI 2013. Unsur-Unsur Cuaca.http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?
artikel&1367593435.Diakses tanggal 06 November 2013.
Marthen 2002. Fisika Dasar. Erlangga : Jakarta.
Nita nurtafita 2011. Suhu Tanah. http://nitanurtafita.blogspot.com/2011/10/suhu-tanah.html.
Diakses tanggal 11 November 2013.
Soekirno 2010. Ilmu Iklim dan Pengairan. Bina Cipta. Bandung
Soewandi, A 2005. Prosedur dan Pengambilan Contoh Analisa Tanaman. Departemen Ilmu
Tanah Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta
Sosrodorsono 2006. Variasi Tanah. Rineka Jaya. Bogor.
Sriharto 2000. Pertanian Era Sekarang. Kompasiana. Jakarta
Sumani dan Komariah 2013. Petunjuk Praktikum Agroklimatologi. Fakultas Pertanian,
Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Tjasyono, Bayang 2004. Klimatologi. ITB. Bandung.
Wahyuningsih Utami 2004. Geografi. Pabelan. Jakarta
Wuryanto 2000. Agroklimatologi. USU Press. Medan
Wisnubroto Soekardi 2006. Asas Meteorologi pertanian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

II. PENGAMATAN UNSUR-UNSUR CUACA SECARA OTOMATIS


A Pendahuluan
1 Latar Belakang
Iklim dan cuaca merupakan merupakan faktor yang tak dapat dipisahkan dari
dinamisnya kehidupan pertanianan di seluruh dunia. Pengetahuan tentang iklim sangat
diperlukan dalam pertanian karena saat ini manusia belum seluruhnya dapat
merekayasa iklim secara luas. Manusia hanya dapat mencari jalan keluar dari keadaan
iklim yang ada, kalaupun bisa maka yang dilakukan hanya berpengaruh terbatas pada
wilayah tertentu. Berdasarkan kemajuan teknologi yang semakin pesat maka untuk
melakukan pengamatan cuaca dan iklim maka diciptakannya seperangkat alat pengamat
cuaca otomatis yakni AWS (Automatic Weather Stations). Alat ini adalah suatu
peralatan atau sistem terpadu yang di desain untuk pengumpulan data cuaca secara
otomatis. Tujuan dari penggunaan AWS adalah agar pengamatan cuaca dan iklim
menjadi lebih mudah.
AWS merupakan alat yang sangat membantu dalam pengamatan cuaca dan iklim.
Pendirian AWS tidaklah boleh sembarangan misalnya, pendirian AWS tidaklah boleh
pada daerah yang dekat dengan gedung-gedung tinggi dan dekat dengan pepohonan
besar/ hal tersebut sangat berpengaruh pada sistim kerja AWS, misalnya saja AWS
dibangun pada daerah yang dekat dengan gedung-gedung tinggi maka AWS tidak bisa
dengan baik menangkap arah datangnya angin sehingga sistem tidak dapat bekerja

secara sempurna. Alasan itulah yang menyebabkan pembangunan AWS tidak boleh
dilakukan secara sembarangan.
Dikarenakan hal demikian maka dilakukan praktikum ini dengan maksud agar
kita dapat mengetahui lebih lanjut mengenai AWS dan fungsi alat ini dalam bidang
2

pertanian terutama untuk pertumbuhan tanaman.


Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengenal dan mengentahui
unsur-unsur cuaca dan iklim dengan mengguanakan alat pengamat cuaca otomatis yang
disebut AWS (Automatic Weather Station).
3

Waktu Praktikum
Praktikum Mata Kuliah Agroklimatologi untuk Acara 2 Pengamatan Unsur-Unsur
Cuaca Secara Otomatis dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 03 November 2013
pukul 08.00 09.00 WIB. Praktikum Agroklimatologi Acara 2 Pengamatan UnsurUnsur Cuaca Secara Otomatis bertempat di Pusat Penelitian dan Pengembangan
Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret tepatnya di
daerah Jumantono, Karanganyar.

B Tinjauan Pustaka
Alat pengukur cuaca otomatis (Automatic Weather Station /AWS) merupakan alat
yang terdiri dari beberapa sensor terintegrasi yang digunakanuntuk melakukan
pengukuran tekanan udara, suhu, kelembaban, arah dankecepatan angin, radiasi matahari,
serta curah hujan yang di rekam secaraotomatis. Tipe AWS yang digunakan oleh BPPT
adalah tipe Vaisala MAWS-201 dengan komponen sensor yang terpasang adalah sensor
suhu dan kelembaban (QMH101), tekanan (PMT16A), angin (QMW101), radiasi
matahari (QMS101), dan hujan (34-T) (LIPI 2007).
Sensor pada AWS merupakan suatu unit yang penting, sensor berguna untuk
menghasilkan ketelitian dan ketepatan pengukuran. Sehingga diperlukan pengamatan
khusus untuk menjaga ketepatan pengukuran suatu unsur cuaca agar lebih akurat
ketepatan suatu alat dalam mengolah informasi sangatlah penting dalam dunia pertanian,
karena cuaca dan iklim akhir-akhir ini sangatlah sulit untuk ditebak (Zaskia 2009).
Menggunakan AWS data pengamatan secara otomatis dapat langsungdidapatkan
setiap jam. Pengamatan data dengan AWS dilakukan dengan program cumulus.
Kapasitas data yang tersimpan sesuai dengan kapasitasmemori yang dimiliki komputer.
Jika sudah melebihi kapasitas memori makadata yang tersimpan paling awal secara
otomatis akan hilang (Suroso 2006).
AWS (Monitoring Automatic Weather Station) Merupakan alat yang digunakan untuk
mengukur tekanan, curah hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin serta
radiasi matahari setiap jam, menit maupun detik secara otomatis. Alat ini dibuat dengan
sensor yang lengkap dan sebuah kotak akuisisi data yang berfungsi untuk penyimpan
data disebut dengan logger. AWS ini umumnya dilengkapi dengan sensor, RTU (Remote
Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian lainnya. Sensor-sensor
yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan kecepatan angin, kelembaban,
presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net radiometer. RTU (Remote Terminal Unit)
terdiri atas data logger dan backup power, yang berfungsi sebagai terminal pengumpulan
data cuaca dari sensor tersebut dan di transmisikan ke unit pengumpulan data pada
komputer. Masing-masing parameter cuaca dapat ditampilkan melalui LED (Light
Emiting Diode) Display, sehingga para pengguna dapat mengamati cuaca saat itu
(present weather ) dengan mudah (Rayana 2009).

Stasiun cuaca otomatis atau yang biasa disebut AWS ( Automatic Weather Station)
harus memiliki keunggulan dalam hal kemudahan pengoprasiaannya. Seperangkat AWS
harus dapat dioperasikan oleh berbagai orang dari tingkat pendidikan yang berbeda
sehingga diharapkan tidak ada lagi kesalahan dalam pengukuran yang disebabkan oleh
rendahnya kualitas sumber daya manusia sebagai pengamat dan pencatat data cuaca (Budianto
2003).

C Hasil Pengamatan

Gambar 8. AWS (Automatic Weather Station).


1

Bagian-Bagian Utama
a Modem
b Air Pressure
c Solar Radiation
d Wind Speed
e Wind Direction
f Penangkal Petir
g Data Logger
h Display
i Komputer (sistem perekam dan sistem monitor)
j Tiang untuk dudukan data logger
Prinsip Kerja
a Mahasiswa melihat dan mengamati sensor-sensor unsur cuaca di stasiun
b

klimatologi Jumantono, Karanganyar.


Melihat data, unsur-unsur cuaca yang terekam di computer server.

D Pembahasan
Automatic weather station (AWS) adalah serangkaian sensor-sensor meteorologi
yang disusun secara terpadu dan secara otomatis mencatat datadata meteorologi
(suhu, tekanan, kelembaban, penyinaran matahari, curah hujan, angin) yang kemudian
menghasilkan pulsa - pulsa elektrik yang akan ditampung dan diubah dalam data
logger sehingga dapat ditampilkan pada layar komputer atau translator. AWS pada
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Lahan Kering Fakultas Pertanian

Universitas Sebelas Maret tepatnya di daerah Jumantono, Karanganyar yang ada


hanyalah sensor-sensor pengamat cuacanya saja , sedangkan komputer atau
translatornya berada di Fakultas Pertanian,Surakarta.
AWS ini pada umumnya dilengkapi dengan lima sensor, RTU ( Remote
Terminal Unit ), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian lainnya. Sensorsensor yang digunakan meliputi sensor wind bersensor, barometer pressure, rain
gauge, temperatur humadity, piranometer. RTU (Remote Terminal Unit) terdiri atas
data logger dan backup power , yang berfungsi sebagai terminal pengumpulan data
cuaca dari sensor tersebut dan ditransmisikan ke unit pengumpulan data pada
komputer. Masing-masing parameter cuaca dapat ditampilkan melalui LED (Light
Emiting Diode) Display, sehingga para pengguna dapat mengamati cuaca saat itu
( present weather ) dengan mudah.
AWS dipasang pada ketinggian 10 meter di atas permukaan tanah terbuka yang
bebas dari hambatan. Sensor cuaca mengirimkan data realtime langsung ke display.
Pencatatan data cuaca dapat diprogram sesuai kebutuhan, umumnya pencatatan data
setiap 10 menit sekali. Data yang tersimpan di data logger dapat dipanggil
menggunakan data collect (pengambilan data dari data logger ke komputer). AWS
selain menggunakan listrik, juga menggunakan tenaga solar sel. Sehingga jika listrik
padam, AWS tetap dapat digunakan.
AWS memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan pencatatan manual
konvensional. Secara umum:
a AWS lebih konsisten dalam pengukurannya.
b AWS menyediakan data lebih besar pada suatu frekwensi
c AWS menyediakan data dalam segala cuaca, siang malam, 365 hari per tahun
d AWS dapat diinstall di suatu lokasi yang jarang penduduknya.
e AWS lebih murah dibanding observasi yang dilakukan manusia
Namun, AWS menderita sejumlah kelemahan, yaitu :
a
b
c

Beberapa elemen yang sulit untuk mengotomatisasi (awan misalnya).


AWS membutuhkan investasi modal besar.
AWS kurang fleksibel daripada pengamat manusia.

E Kesimpulan dan Saran


1 Kesimpulan
Penggunaan AWS memudahkan berbagai pengamatan di bidang pertanian
karena didalamnya terdapat berbagai alat-alat modern yang menawarkan efisiensi
dari segi waktu dan tempat karena terdapat berbagai sensor unsur-unsur iklim
hanya dalam satu lokasi, satu tempat dan menjadi satu kesatuan.
2

Saran
Dalam praktikum agroklimatologi ini saya harapkan Alat AWS (Automatic
Weather Station) ini di maksimalkan segala fungsi yang dimilikinya dengan baik

agar manfaatnya dapat dirasakan oleh penduduk sekitar pada umumnya dan petani
pada khususnya dan saya harapkan AWS ini dapat dijaga sebaik mungkin karena
harganya mahal dan memerlukan perizinan yang tidak mudah dari BMKG
untuk membangunnya

DAFTAR PUSTAKA
Budianto 2003. Pengaruh Penggunaan AWS terhadap Efisiensi Pertanian. Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia 9(1) : 12-13
LIPI 2007. Penggunaan AWS.
November 2013

http://www.rt-net-kapelima.com. Diakses pada tanggal 14

Rayana 2009. Fungsi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.


Suroso 2006. Analisis Curah Hujan untuk Membuat Kurva IDF di Kawasan Rawan Banjir
Kabupaten Banyumas. Jurnal Teknik Sipil 3(1) : 22-23.
Zaskia 2009. Alat-alat Klimatologi. http://zaky16amelungi.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 14 November 2013

III. MODIFIKASI IKLIM MIKRO DENGAN MULSA


A Pendahuluan
1

Latar Belakang
Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Suhu berkorelasi positif dengan radiasi matahari. Suhu tanah
maupun udara di sekitar tajuk tanaman. Tinggi rendahnya suhu di sekitar tanaman
ditentukan oleh radiasi matahri, kerapatan tanaman, distribusi cahaya dalam tajuk
tanaman, kandungan lengas tanah.
Suhu mempengaruhi beberapa proses fisiologis penting: bukaan stomata, laju
transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi peningkatan
suhu sampai titik optimum akan diikuti oleh peningkatan proses di atas. Setelah
melewati titik optimum, proses tersebut mulai dihambat baik secara fisik maupun
kimia, menurunnya aktivitas enzim (enzim terdegradasi).

Pengukuran suhu tanah di stasiun klimatologi pertanian dilakukan pada berbagai


kedalaman, yaitu 0 cm, 2 cm, 5 cm, 10 cm , 20 cm, 50 cm dan 100 cm dari permukaan
tanah. Pengukuran dilakukan pada tanah yang tidak terdapat vegetasi yang tumbuh .
Seperti diketahui bahwa suhu tanah berpengaruh terhadap penyerapan air. Semakin
rendah suhu, semakin sedikit air yang diserap oleh akar, karena itu penurunan suhu
tanah mendadak dapat menyebabkan kelayuan tanaman.
Peningkatan suhu di sekitar iklim mikro tanaman akan menyebabkan cepat
hilangnya kandungan lengas tanah. Peranan suhu kaitannya dengan kehilangan lengas
tanah melewati mekanisme transpirasi dan evaporasi. Peningkatan suhu terutama suhu
tanah dan iklim mikro di sekitar tajuk tanman akan mempercepat kehilangan lengas
tanah terutama pada musim kemarau.
Ketika musim kemarau, peningkatan suhu iklim mikro tanaman berpengaruh
negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama pada daerah yang
lengas tanahnya terbatas. Pengaruh negatif suhu pada lengas tanah dapat diatasi
melalui perlakuan pemulsaan (mengurangi evaporasi dan transpirasi).
Sehingga pada praktikum kali ini, kita akan mencoba menggunakan mulsa
dengan beberapa perlakuan. Sebagai langkah untuk memodifikasi iklim mikro dengan
menggunakan mulsa. Praktikum kali yang akan diperhatikan adalah keadaan suhu
tanah yang di tutupi mulsa.
Modifikasi iklim mikro adalah upaya untuk menciptakan lingkungan yang
optimal atau tidak lebih baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dalam kegiatan pertanian. Pendekatan lain untuk memodifikasi iklim mikro
yang dilakukan manusia diantaranya adalah dengan merubah kelembaban udara, dan
temperatur. Oleh sebab itu perlu dilakukannya pengukuran unsur iklim mikro agar
dapat mengetahui kondisi iklim mikro terbaik bagi tiap jenis tanaman.
2

Tujuan Praktikum
Praktikum Agroklimatologi acara pengaru suhu tanah ini dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengetahui variasi suhu tanah dan kelembapan tanah pada beberapa

perlakuan pemberian mulsa pada tanah.


Waktu dan Tempat Praktikum
Pada praktikum Agroklimatologi Acara 3 ini dilaksanakan pada tanggal 02
November 2013. Bertempat di halaman lingkungan Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret.

B Tinjauan Pustaka
Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakankombinasi
emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhutanah juga disebut intensitas
panas dalam tanah dengan satuan derajadCelcius, derajad Fahrenheit, derajad Kelvin, dan
lain-lain. Semua panas tanahberasal dari dua sumber yaitu radiasi matahari juga awan dan
konduksi

daribumi.

Factor

eksternal

(lingkungan)

dan

internal

(tanah)

menyumbangperubahan-perubahan suhu tanah (Cahya 2009).


Untuk mengatur suhu tanah bukanlah kemampuan manusia secara pribadi, tapi suhu
tanah tersebut dapat di kontrol dengan dua cara yaitu dengan menutupi mulsa organik pada
tanah, dan pengaturan tanaman residu yang keduanya dapat mempengaruhi implikasi
biologi, juga bisa dengan mulsa plastik yang biasanya diberikan untuk perkebunan dan
terakhir dapat dengan cara mengatur penguapan tanah (Brady and Weil 2000).
Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga
kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat
tanaman tersebut tumbuh dengan baik. Mulsa dibedakan menjadi dua macam dilihat dari
bahan asalnya, yaitu mulsa organik dan anorganik. Mulsa organik berasal dari bahanbahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang.
Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik

adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga
menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah alangalang atau jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-rumputan
lainnya. Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai.
Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung.
Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan
jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya mahal, terutama mulsa plastik hitam perak
yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon. (Wikipedia 2013)
Mulsa dapat didefinisikan sebagai setiap bahan yang dihamparkan untuk menutup
sebagian atau seluruh permukaan tanah dan mempengaruhi lingkungan mikro tanah yang
ditutupi tersebut. Bahan-bahan dari mulsa dapat berupa sisa-sisa tanaman atau bagian
tanaman yang lalu dikelompokkan sebagai mulsa organik, dan bahan-bahan sintetis berupa
plastik yang lalu dikelompokkan sebagai mulsa non-organik. Penggunaan mulsa plastik
sudah menjadi standar umum dalam produksi tanaman sayuran yang bernilai ekonomis
tinggi, baik di negara-negara maju maupun di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bahan utama penyusun mulsa plastik adalah low-density polyethylene yang dihasilkan
melalui proses polimerisasi etilen dengan menggunakan tekanan yang sangat tinggi.
Pengaruh mulsa plastik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sayuran terutama
ditentukan melalui pengaruhnya terhadap keseimbangan cahaya yang menerpa permukaan
plastik yang digunakan. Secara umum seluruh cahaya matahari yang menerpa permukaan
plastik, maka sebagian cahaya tersebut akan dipantulan kembali ke udara, dalam jumlah
yang kecil diserap oleh mulsa plastik, dan diteruskan mencapai pemukaan tanah yang
ditutupi mulsa plastik. Kemampuan optis mulsa plastik dalam memantulkan, menyerap
dan melewatkan cahaya tersebut ditentukan oleh warna dan ketebalan mulsa plastik
tersebut. Cahaya yang dipantulkan permukaan mulsa plastik ke amosfir akan
mempengaruhi bagian atas tanaman, sedangkan cahaya yang diteruskan ke bawah
permukaan mulsa plastik akan mempengaruhi kondisi fisik, biologis dan kimiawi rizosfir
yang ditutupi. Cahaya matahari yang diteruskan melewati permukaan mulsa terjebak di
permukaan tanah yang ditutupinya dan membentuk efek rumah kaca dalam skala yang
kecil (Fahrurozi 2009).

C Alat dan Cara Kerja


1 Alat
a Termometer Tanah
2 Bahan
a Kontrol

b Mulsa Plastik Hitam Perak


c Mulsa Plastik Bening
d Mulsa Organik (Seresah)
e Cover Crop (Rumput)
Cara Kerja
Mengukur suhu tanah dan kelembapan tanah pada beberapa perlakuan, yaitu :
a
b
c
d
e

Kontrol
Mulsa Plastik Hitam Perak
Mulsa Plastik Bening
Mulsa Organik (Seresah)
Cover Crop (Rumput)

D HASIL PENGAMATAN

Sabtu, 02 November 2013

Tabel 3.1 Pengukuran Suhu Tanah


Suhu tanah tiap perlakuan (0C)
Cover
Hari Ke
Mulsa
Mulsa
Jam Kontrol
Mulsa
Plastik Plastik
crop
l
(Tanah)
Organik
Hitam Bening
(rumput)
73 07.30
28
29,5
30
25,5
28
07.45
28
29,2
29,8
25,5
27
76 08.00
27,5
29,8
30
26
27
08.15
28
30
30,2
26
27
75 08.30
27,5
30
30
27,5
26
08.45
28
31
30,5
26,5
28
74 09.00
30
32,9
31
30
31
09.15
31
33,1
33
29
30
77 09.30
32
34
36
30
30
09.45
34
36
37,9
31,5
31,1
80, 10.00
35
37
39
32
31
81
10.15
35,5
38
40
32,5
30,5
79 10.30
36,5
39
42
33
30,5
10.45
37,5
39,5
43
33
30
78 11.00
38
40
44,5
35
30
11.15
39
40,5
45,5
35,2
30,1
Sumber : Data Rekapan
E Pembahasan
Pada praktikum ini yaitu modifikasi iklim mikro dengan mulsa. Yang mana
tujuannya adalah agar kita dapat mengetahui variasi suhu tanah dan kelembapan tanah
pada beberapa perlakuan pemberian mulsa pada tanah. Dalam praktikum ini , ada 5
perlakuan yang dilakukan dalam pemberian mulsa pada tanah , yaitu : kontrol, mulsa
plastik hitam perak, mulsa plastik bening, mulsa organik ( seresah) , dan cover crop
(rumput).

Dari hasil pengamatan, pada tabel diatas terlihat bahwa perbedaan suhu tanah
pada beberapa perlakuan ini cukup berbeda. Dimana suhu tanah tertinggi terjadi pada
tanah yang diberi mulsa plastik bening. Dan pada perlakuan-perlakuan yang lain suhu
tanahnya tidak berbeda jauh.
Pengaruh suhu tanah pada pertumbuhan tanaman adalah Semakin rendah suhu,
maka semakin sedikit air yang akan diserap oleh akar, karena itu penurunan suhu tanah
mendadak dapat menyebabkan kelayuan tanaman. Sehingga suhu tanah yang baik adalah
suhu tanah yang tinggi.
Pada tanaman panas memberikan energi untuk beberapa fungsi tanaman agar
tanaman dapat melaksanakan proses-proses fisiologisnya. Suhu juga mempengaruhi
produk sintesa dan metabolisme tanaman. Pada suhu rendah tanaman terangsang untuk
membentuk polisakarida lebih banyak, karena respirasi menurun. Hal ini tentu berkaitan
dengan kegiatan fotosintesa sebelumnya. Laju akumulasi karbohidrat akan lebih cepat
bila suhu semakin menurun menjelang panen.
Tanaman di daerah sedang (temperate), suhu optimum untuk fotosintesa lebih
rendah dibandingkan dengan suhu optimum untuk respirasi. Fotosintesa tanaman
menurun aktivitasnya bila suhu tidak favoraible. Menurut Leopold (1964), suhu optimum
untuk fotosintesa berkisar antara 10oC sampai 30oC, di atas atau di bawah suhu tersebut
laju fotosintesa berkurang, tetapi juga tergantung pada jenis tanaman.
Tanaman cepat tua bila suhu berada di atas suhu optimum pada tahap vegetatif,
tetapi apabila suhu tinggi pada fase menjelang panen pengaruh suhu tidak kentara.
Seperti telah disebutkan terdahulu bahwa hubungan linear antara suhu dengan beberapa
proses fisiologis dan morfologis tanaman hanya sampai batas suhu tertentu, atau hanya
sampai batas tercapainya suhu optimum.

F Kesimpulan dan Saran


1

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan pada tabel rekapan diatas dapat disimpulkan bahwa pada
perlakuan pemberian mulsa plastik bening pada tanah, suhu tanah yang dicapai cukup
tinggi yaitu diantara 29,8

- 45,5

pada pukul 07.30 11.15 WIB dan

mengalami naik turun. Sedangkan pada perlakuan pemberian mulsa plastik hitam
perak, mulsa organik, kontrol dan cover crop suhu yang dicapai masing-masing 29,5

- 40,5

; 25,5

- 35,2

; 27,5

- 39

; dan 26

- 31,1 pada pukul 07.30 11.15 WIB dan suhunya juga mengalami naik
turun atau tidak stabil. Sehingga dapat diurutkan menurut suhu akhir pada pukul 11.15
WIB , dari suhu tertinggi ke suhu terendah adalah mulsa plastik bening, mulsa plastik
hitam perak, kontrol (tanah), mulsa organik (seresah), dan cover crop (rumput).
2

Saran
Saran pada praktikum ini, alangkah baiknya suhu tanah yang kita ukur pada
praktikum dalam berbagai pemberian mulsa pada tanah tersebut dilakukan pada tanah
yang memiliki tumbuhan yang sama tiap-tiap mulsanya, sehingga kita dapat
mengetahui secara langsung pengaruh suhu tanah terhadap tanaman dan dapat
mengetahui secara langsung apakah dampak dari pemberian mulsa tersebut pada
tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Brady, N.C. and Weil, R 2000. Elements of The Nature and Properties of Soils. Prentice Hall.
New Jersey.
Cahya A.S 2009. Rancangan Bangunan Sensor Suhu Tanah dan Kelembaban Udara. Jurnal
Sains Dirgantara.Vol.7 (1).
Fahrurozi

2009. Fakta Ilmiah Dibalik Penggunaan Mulsa Plastik Hitam Perak dalam

Produksi

Tanaman

Sayuran

http://unib.ac.id/blog/fahrurrozi/2009/03/16/mulsa-plastik-hitamperak/. Diakses tanggal 14 November 2013


Wikipedia 2013. Mulsa. http://id.wikipedia.org/wiki/Mulsa. Diakses tanggal 14
November 2013
.

IV. PENGARUH PENGGUNAAN NAUNGAN TERHADAP SUHU, KELEMBAPAN


DAN EVAPOTRANSPIRASI
A Pendahuluan
1

Latar Belakang
Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata rata dari pergerakan molekul
molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda
tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda benda lain atau menerima
panas dari benda benda lain tersebut. Terhadap sistem dua benda, benda yang
kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih tinggi.
Kelembaban udara (Relative Humidity) adalah banyaknya kandungan uap air di
atmosfer. Udara atmosfer adalah campuran dari udara kering dan uap air. Kandungan
uap air dalam udara hangat lebih banyak dari pada kandungan uap air dalam udara
dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan
udara tidak dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titiktitik air. Udara yan mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut
udara jenuh.
Tumbuhan atau tanaman tumbuh pada tempat yang tidak nisa pindah seperti
hewan dan manusia, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air harus mengambil dari
tanah tempat tanaman tersebut tumbuh. Kondisi kering, basah, tergenang harus
diterima tanaman (karena tidak bisa pindah) sehingga setiap saat tanaman dihadapkan
masalah air. Evaporasi merupakan pengertian penguapan (air) secara umum dari suatu
permukaan benda. Transpirasi adalah kehilangan air dalam bentuk uap air yang
melewati tubuh tumbuhan. Evapotranspirasi adalah Gabungan dari Evaporasi dan
Transpirasi.

Tujuan Praktikum
Mengetahui pengaruh suhu, kelembaban relatif dan cahaya terhadap laju
evaporasi tanah, transpirasi dan evapotranspirasi tanaman.
Waktu dan Tempat Praktikum
Pelaksanaan praktikum pada tanggal 02 November 2013. Bertempat di dalam
rumah kaca, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

B Tinjauan Pustaka
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan oleh udara karena beratnya kepada
setiap bidang seluas 1 cm2 yang mendatar dari permukaan bumi. Hal ini dapat dipahami
bahwa setiap lapisan udara yang dibawah mendapattekanan udara dari yang diatasnya.
Oleh karena itu lapisan yang dibawah keadaan tegang. Ketegangan itu sangat besar
sehingga berat udara yangdiatasnya bertahan dalam keadaan seimbang. Tinggi
barometer ialah panjangkolom air raksa yang seimbang dengan tekanan udara pada
waktu itu.Tekanan udara umumnya menurun sebesar 11 mb untuk setiapbertambahnnya
ketinggian tempat sebesar 100 meter. Tekanan udaradipengaruhi oleh suhu, suhu udara
didaerah tropis menunjukkan fluktasimusiman yang sangat kecil. Oleh sebab itu dapat
dipahami jika tekanan udaradikawasan tropis relatif konstan (Kensaku 2002).
Kelembaban udara dibagi menjadi dua yaitu kelembaban relatif dan absolut.
Kelembaban relatif atau nisbi yaitu perbandingan jumlah uap air diudara dengan yang
terkandung di udara pada suhu yang sama. Kelembaban absolut atau mutlak yaitu
banyaknya uap air dalam gram pada 1 m3(Ubaid, 2011)Suhu mencakup dua aspek,
yaitu derajat dan insolasi. Insolasi menunjukkanenergi panas dari matahari, mirip
dengan pengertian intensitas padaradiasi. Salah satu yang mempengaruhi insolasi
adalah Altitude (tinggi tempat dari permukaan laut) semakin tinggi altitudeinsolasi
semakin rendah,setiap naik 100 m suhu turun 0,6 . Musim berpengaruh terhadap
insolasidalam kaitannya dengan kelembaban udara dan keadaan awan (Irham 2010).
Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperatur udara di tempattersebut akan
semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendahkedudukan suatu tempat,
temperatur udara akan semakin tinggi. Perbedaantemperatur udara yang disebabkan
adanya perbedaan tinggi rendah suatudaerah disebut amplitudo. Alat yang digunakan
untuk

mengatur

tekananudara

dinamakan

termometer.

Garis

khayal

yang

menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara sama disebut garis


isotherm(Syihamuddin 2010).
Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara. Alat
untuk mengukur kelembaban udara disebut hygrometer. Garis khayal di peta yang
menunjukkan daerah yang sama kelembabannya disebut isohyg. Ada dua macam
kelembaban udara yaitu kelembaban absolut (mutlak) dan kelembaban relatif
(nisbi).Kelembaban mutlak (absolut) adalah jumlah uap air dalam udara pada suatu
tempat tertentu (gram dalam 1 m3) dan Kelembaban nisbi (relatif) adalah perbandingan

jumlah uap air dalam udara yang ada dengan jumlah uap air maksimum dalam suhu
yang sama. Dinyatakan dengan persen. (mata kristal 2013)
Menurut Wuryatno, Penguapan adalah proses perubahan air dari bentuk cair
menjadi bentuk gas. Ada dua macam penguapan, yaitu evaporasi yaitu penguapan air
secara langsung dari lautan, danau, sungai dan transpirasi merupakan penguapan airdari
tumbuh-tumbuhan dan yang lainya. Gabungan antara evaporasi dantranspirasi disebut
evapotranspirasi .Evaporasi adalah perubahan air menjadi uap, yang merupakan suatu
proses yang berlangsunghampir tanpa gangguan selama berjam-jam pada siang hari dan
sering jugaselama malam hari.Uap ini kemudian bergerak dari permukaan tanah
ataupermukaan air ke udara. Evapotranspirasi merupakan ukuran total kehilangan air
untuk suatu luasan lahan melalui evaporasi dari permukaan tanaman.Secara potensial
evapotranspirasi ditentukan hanya oleh unsur unsur iklim,sedangkan secara aktual
evapotranspirasi juga ditentukan oleh kondisi tanah dan sifat tanaman. (Karmini 2008)
Evaporasi adalah sejumlah air yang hilang karena proses penguapan dari
permukaan tanah(sebelum proses pekolasi). Proses ini langsung dari permukaan tanah.
Transpirasi adalah air yang hilang melalui proses penguapan dari permukaan daun.
Evapotranspirasi adalah jumlah transpirasi tumbuhan (penguapan tumbuhan) dan
evaporasi permukaan tanah dan air (Rachman 2009).

C Alat dan Cara Kerja


1

Alat
a Termometer
b Hygrometer
c Sangkar Cuaca
d Lux Meter
e Anemometer
f Pot A berisi tanah saja (tanpa tanaman)
g Pot B berisi tanaman dengan kondisi pot dan tanah dibungkus plastik
h Pot C berisi tanaman pada kondisi biasa
2 Cara Kerja
a Pasang termometer dan hygrometer pada sangkar cuaca. Siapkan tiga buah sangkar

cuaca, dan diletakkan pada 3 lokasi yang berbeda , yakni :


1 Di dalam rumah kaca (posisi ditengah-tengah rumah kaca)
2 Di bawah naungan screen atau paranet, 40 %
3 Pada lingkungan terbuka tanpa naungan
Pasang sangkar cuaca (kotak) yang berwarna putih tersebut pada ketinggian 120

cm di atas tanah.
Letakkan tiga tanaman dalam pot pada masing-masing lokasi (dekat kotak), dengan
ketentuan :
1 Pot A berisi tanah saja (tanpa tanaman) kondisi terbuka,
2 Pot B berisi tanaman dengan kondisi pot dan tanah dibungkus plastik, dan
3 Pot C kondisi biasa berisi tanaman . Tanaman pada pot A dan B diusahakan

seragam.
Lakukan pengamatan berat pot A, B dan C , serta pengamatan cuaca suhu, RH

yang ada di dalam sangkar.


Lakukan pengamatan intensitas cahaya dengan lux meter. Posisi sensor menghadap
ke atas (jangan miring). Pengamatan dilakukan pada ketinggian 100 cm di atas
tanah (lantai). Untuk pengamatan dengan lux alat di setel pada posisi tertinggi , dan
bila belum terdeteksi posisi sakelar bisa diturunkan ke posisi yang lebih rendah.

Alat lux meter digital biasanya ada 3 range (skala) pengukuran.


Ulangi pengamatan suhu , RH, intensitas cahaya dan berat pot setiap 15 menit

sekali.
Setelah dilakukan 4 kali pengamatan (ada 4 data) dilakukan penghitungan laju
evaporasi, transpirasi, dan evapotranspirasi pada masing-masing periode percobaan

( 1 periode = 15 menit).
Untuk menghitung evaporasi, transpirasi, dan evapotranspirasi di buat satuan gram
per jam , sehingga data yang diperoleh perlu dikonversi.

D Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Naungan
Kel

Jam

Suh

RH

In.C

75

07.30

08.00

Berat Pot(g)

Evp

Trns

ET

Eth

Ang
in

Fc

g/h

g/h

g/h

g/h

m/s

27,

71

5660

132

130

1429

--

--

--

--

0,0

7000

132

130

2
74

27,

67

0
1427

-0

-4

-4

-4

0,0

8
73

08.30

28,

64

1200

131

130

1640

131

130

1980

131

129

2050

131

129

1200

131

129

2010

131

128

8
76

09.00

29,

62

6
79

09.30

30,

56

4
78

10.00

31,

52

1
77

10.30

31,

51

4
80,

11.00

81

32,

46

Rata-rata

0
1425

-2

-4

-4

-6

0,7
3

1422

-0

-8

-6

-8

0,6
0

1416

-4

-4

-12

-8

0,3
3

1413

-4

-6

-6

-10

0,4
1

1406

-2

-8

-14

-10

0,4
2

1400

-4

-8

-12

-12

0,4
4

29,

58,6

2842

131

1299

141

837

25

,625

-2,28

-6

0,3

7,2

8,2

8,2

Sumber : Data Rekapan


Tabel 4.2 Rumah Kaca
kel

Jam

Suh

RH

In.C

u
o

76

07.

27

08.

30

08.

32

09.

33

79

09.

34

35

10.
30

35

in

g/h

g/h

g/h

g/h

m/s

75

2070

155

143

171

--

--

--

--

0,0

2200

155

143

170

3340

155

142

170

3320

155

142

169

6800

155

141

169

5870

154

140

168

7020

154

139

167

72

65

64

59

56

00
78

Ang

30
10.

Eth

00
80,8

ET

Fc

30
73

Trn

00
74

Evp

30
75

U Berat Pot(g)

55

0
-4

-0

0,0

12

12

16

-6

-10

0,6

10
-4

-10

0
-

-14

14
-6

-4

-6

0,4
2

0,4

16

14

22

1,3

12

14

16

0,6

14

16

20

77

11.

36

52

00

1070

154

139

167

Rata-

155

rata

-4

0,5

14

14

18

169

32,

62,

3961

0,7

141

4,1

12,

12,

16,

75

25

2,5

25

57

85

57

-4

0,5

Sumber : Data Rekapan

Tabel 4.3 Tempat Terbuka


kel

Jam

Suh

RH

In.C

u
o

74

07.

27

08.

30

08.

32

09.

32

09.

33

80,8
1

79

10.

33

g/h

g/h

g/h

g/h

m/s

52

6800

238

150

124

--

--

--

--

0,6

7590

238

150

124

6670

238

149

123

7360

237

149

122

8420

237

148

121

8550

236

148

120

3910

236

147

119

9380

235

147

118

42

39

35

26

21,

,5

10.

34

21

,5

11.

35

00

in

00

30

Ang

30
77

Eth

00
78

ET

Fc

30
75

Trn

00
76

Evp

30
73

u Berat Pot(g)

19

4
-8

-4

-8

2,8

12

16

0,6

12

16

16

-8

1,6

14

20

1,3

18

18

12
-

-8

10
-

1,7

10

10

22

20

-8

2,1

10

16

18

-8

-16

1,6

-8

18

Ratarata

32,

31,

7335

237

148

121

8,5

9,1

16,

17,

125

937

3,4

7,8

8,6

1,56

Sumber : Data Rekapan

E Pembahasan
Penguapan terjadi apabila adanya transfer energi panas. Energi panas ini
dibutuhkan untuk mengubah wujud benda dari cair menjadi uap. Karena panas ini hanya
dipakai untuk mempengaruhi peralihan dari cair menjadi uap,dan tidak mempunyai efek
terhadap suhu cairan maupun uapnya, maka dinamakan panas laten. Laju evaporasi
bergantung masukan energi matahari yang diterima. Semakin besar jumlah energi
matahari yang diterima, maka semakin banyak molekul air yang diuapkan. Ketika air
dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi
untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang
sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfer. Nilai evaporasi merupakan selisih
permukaan atau tinggi dari dua kali pengukuran setelah nilai curah hujan apabila terjadi
hujan. Terdapat berbagai faktor yang menghambat dan mempercepat kecepatan dan
jumlah penguapan diantaranya adalah:
1

Suhu, dengan kenaikan suhu air dan tekanan uap air,kemampuan titik-titik air untuk
menguap ke udara mengalami kenaikandengan cepat;

Kelembaban udara, dipengaruhi oleh jumlah uap air diudara. Penguapan akan lebih

besar apabila kelembaban nisbi rendah;


Angin, angin sangat mempercepat terjadinya penguapan, karena angin mengganti

udara basah dekat permukaan air dengan udara kering;


Susunan air, penguapan lebih tinggi pada air tawar dari pada air asin;
Luas permukaan, penguapan akan lebih besar pada daerah yang memiliki permukaan
yang luas;
Tekanan Udara, pada umumnya jika tekanan udaralebih rendah di atas permukaan

air, penguapannya lebih besar;


Panas laten penguapan.

4
5

Mekanisme terjadinya transpirasi ditentukan oleh seberapa lebar celah diantara dua
sel penutup stoma, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi membuka-menutupnya
stomata akan menentukan banyaknya transpirasi. Keluarnya uap air dari celah stomata
merupakan proses difusi gas, karena tekanan uap di sebelah dalam celah lebih tinggi dari
pada tekanan uap di udara luar daun. Tekanan uap di ruang udara di dalam celah daun
selalu berkurang oleh terjadinya difusi gas keluar, maka terjadinya penguapan air di
dinding sel parenkim mesofil daun yang berbatasan dengan ruang udara. Proses ini akan
menarik air dari sel sebelah dalam dan seterusnya. Praktikum kali ini lokasi dibawah
naungan (paranet) suhu lebih rendah dibandingkan dengan lokasi di dalam ruang terbuka.
Rata-rata suhunyap un juga paling rendah yaitu 29, 8375

. Artinya suhu

langsung dipantulkan kelokasi tertutup. Meskipun panas yang diberikan tidak mencapai
100%. Jadi lokasi sangat mempengaruhi temperatur. Salah satu faktor yang
mempengaruhinya adalah lamanya penyinaran. Adanya paranet membuat cahaya
matahari yang masuk dibatasi dan tidak langsung mengenai tanaman. Sehingga
evaporasi, transpirasi dan evapotranspirasi menjadi lebih rendah dibandingkan dengan
perlakuan di rumah kaca dan terbuka.
Rata-rata evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi, ETh dan angin pada perlakuan
naungan (paranet) paling tinggi diantara tiga perlakuan yaitu di rumah kaca dan ditempat
terbuka yaitu -2,2 g/h; -6 g/h; -8,2 g/h, -8,2 g/h dan 0,36 m/s . Dilihat dari hasil masing
masing perlakuan diantaranya pada rumah kaca didapat ET langsung (rata-rata) sebesar
-12,85 g/h sedangkan ET hitung (evaporasi+transpirasi) sebesar -16,57 g/h; pada lokasi
di dalam naungan atau paranet didapat ET langsung (rata-rata) sebesar -8,2 g/h
sedangkan ET hitung(evaporasi+transpirasi) sebesar -8,2 g/h; pada lokasi terbuka didapat
ET langsung sebesar (rata-rata) -16,5 g/h sedangkan ET hitung sebesar -17,7 g/h.
Interpretasi yang kita dapatkan berdasarkan hasil diatas bahwa ET langsung lebih kecil

dibandingkan ET hitung. Tingkat evapotranspirasi terbesar yaitu pada lokasi naungan


(paranet) yang kaya akan cahaya matahari dan mudah kembali untuk mentranslokasikan
cahaya ke udara. Perlakuan di tempat terbuka memiliki kelembaban yang tinggi dan
suhunya pun tinggi yaitu 32,125 dan 31,94%.
Hal ini terlihat dari berat rata-rata tanaman yang memiliki bobot yang lebih besar
dibandingkan perlakuan yang lain. Namun pada perlakuan di tempat terbuka, tanaman
mengalami evapotranspirasi yang lebih besar. Perlakuan ini tanaman langsung terkena
sinar matahari sehingga membuat suhunya semakin meningkat dan kelembabannya
semakin rendah walaupun masih tinggi bila dibandingkan dengan yang lain. Ini
mempengaruhi evaporasi, transpirasi dan evaporasi pada tanaman. Rata-rata evaporasi,
transpirasi, evapotranspirasi, Eth dan angin pada perlakuan terbuka paling tinggi diantara
dua perlakuan di rumah kaca dan di naungan (paranet) yaitu-8,57g/h ; -9,14 g/; -16,5 g/h,
- 17,7 g/h dan 1,56 m/s.
Hubungan antara luas permukaan dengan kecepatan evaporasi, yaitu semakin luas
permukaan suatu bahan maka akan semakin besar kecepatan evaporasinyasehingga
pengurangan kadarair yang terjadi juga semakin besar. Karena dengan luas permukaan
yang besar, proses konveksi atau proses pemanasan terhadap bahan akan dengan cepat
menyebar sehingga panas yang bersentuhan dengan bahan semakin menyebar dan
akibatnya proses penguapan air akan semakin cepat terjadi. Pengamatan suhu di rumah
kaca suhu rata-rata lebih tinggi (32,75 ) di bandingkan pada perlakuan di tempat
terbuka (32,125 ) dan naungan (29,8375 ). Hal tersebut salah satunya di
pengaruhi oleh intensitas radiasi matahari semakin tinggi. Jika intensitas cahaya tinggi
maka suhu akan semakin tinggi. Terbukti rata-rata intensitas cahaya di naungan lebih
rendah (28425ux) di bandingkan pada perlakuan di tempat terbuka (73350lux)dan di
rumah kaca (39612,5lux). Pengamatan kelembaban rata-rata di rumah kaca lebih tinggi
(62,25 %) di bandingkan pada perlakuan di tempat terbuka (31,93%). Berdasarkan teori
semakin rendah intensitas cahaya suhu akan semakin rendah dan kelembaban semakin
tinggi. Karena kelembaban berbanding terbalik dengan suhu. Pengamatan kelembaban
ini kurang sesuai dengan teori mungkin dikarenakan oleh human error yang berupa
ketidak-telitian praktikan waktu pengukuran kelembaban.Semakin tinggi kelembaban
suatu tempat maka laju evapotranspirasinya semakin rendah dan sebaliknya. Sedangkan

intensitas cahaya dan suhu berbanding lurus dengan laju evapotranspirasi. Semakin
rendah intensitas cahaya, suhu juga semakin rendah namun kelembaban semakin tinggi
dan laju evapotranspirasi semakin rendah. Laju evapotranspirasi pada perlakuan di
rumah kaca rata-ratanya sebesar12,85 gram/jam. Laju evapotranspirasi pada perlakuan di
naungan rata-rata sebesar 30 gr/jam. Sedangkan laju evapotranspirasi pada perlakuan di
tempatterbuka sebesar 54 gr/jam. Hal ini dikarenakan pada tempat terbuka laju
kehilangan airnya (transpirasi) dan evaporasinya lebih tinggi, dankelembabannya lebih
rendah di banding perlakuan yang lain. Hasil pengamatan menunjukkan perubahan
berat/pengurangan berat hal ini dikarenakan adanya uap air yang hilang melalui
evaporasi maupun transpirasi.

F Kesimpulan dan Saran


1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum pengamatan peran suhu udara,
kelembaban udara (RH), dan intensitas cahaya terhadap laju evapotranspirasi, maka
dapat disimpulkan bahwa;
a

Semakin tinggi suhu udara maka laju evapotranspirasi akan semakin besar dan

sebaliknya.
Semakin tinggi kelembaban maka laju evaporasi, transpirasi dan laju

evapotranspirasi semakin rendah dan sebaliknya.


Semakin tinggi intensitas cahaya maka laju evapotranspirasi semakin tinggi dan

sebaliknya.
Semakin tinggi intensitas cahaya, suhu akan semakin meningkat sedangkan
kelembaban akan semakin rendah.

Jadi suhu, kelembaban relative dan intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap

laju evaporasi tanah, transpirasi dan evapotranspirasi tanaman.


Evapotranspirasi adalah penjumlahan dari evaporasi (penguapan air secara umum
dari suatu permukaan benda) dan transpirasi (kehilangan air dalam bentuk uap

yang melewati tubuh tumbuhan).


Saran
Diharapkan praktikum pada acara ini dilakukan di tempat pengamatan yang jarak
antar tempatnya lebih jauh. Hal ini dengan maksud agar pengamatannya lebih jelas
tidak terpengaruh dari satu tempat dengan tempat yang lain karena jarak antar
tempatnya yang berdekatan.

DAFTAR PUSTAKA

Cuaca

jateng
,
2009.
Kelembapan
http://www.cuacajateng.com/kelembabanudara.htm.
tanggal 14 November 2013

udara.
Diakses

Irham. 2010. Pengaruh Suhu Sebagai Faktor Luar Pada Produktifitas Tanaman.
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 14 November 2013.
Karmini. 2008. Validasi Model Pendugaan Evapotranspirasi : Upaya Melengkapi Sistem
Database Iklim Nasional. Jurnal Tanah dan Iklim Vol 3 No. 27.
Mata kristal, 2013. Pengertian Kelembaban Udara. http://matakristal.com/pengertiankelembaban-udara-2/. Diakses tanggal 14 November 2013
Rachman Sutanto, 2009. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Catatan ke-5. Kanisius : Jakarta
Syihamuddin. 2010. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Udara.
http://www.syiham.co.cc. Diakses pada tanggal 14 November 2013.

Takeda, Kensaku. 2005. Hidrologi Pertanian. PT. Pratya Utama : Bogor.


Ubaid. 2011. Makalah Tekanan Udara. http://www.ubaid.web.id. Diakses pada tanggal
14 November 2013

V. HUBUNGAN ANTARA ALTITUDE DENGAN TEKANAN UDARA,SUHU UDARA,


DAN KELEMBABAN UDARA
A Pendahuluan
1 Latar Belakang
Suhu udara antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya sanga berbeda.
Salah satunya yang sangat mempengaruhi adalah perbedaan ketinggian tempat suatu
daerah. Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperatur udara di tempat tersebut
akan semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendah kedudukan suatu tempat,
temperatur udara akan semakin tinggi. Perbedaan temperatur udara ini yang disebabkan
adanya perbedaan tinggi atau rendah suatu daerah disebut dengan amplitudo. Alat yang
digunakan untuk mengatur suhu udara disebut dengan termometer. Garis khayal yang
menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara sama disebut garis
isotherm.

Perbedaan temperatur tinggi rendahnya suatu daerah disebut dengan derajat


geotermis. Suhu udara rata-rata tahunan pada setiap wilayah di Indonesiaberbeda-beda
disesuaikan dengan tinggi atau rendahnya daerah tersebut dari permukaan

laut.

Tekanan udara dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya pada tempat dan waktu yang
berbeda, besarnya juga berbeda. Tekanan udara secara vertikal yaitu makin ke atas
semakin menurun. Hal ini dipengaruhi oleh komposisi gas penyusunnya makin ke atas
maka makin berkurang, sifat udara yang dapat dimampatkan, kekuatan gravitasi makin
ke atas makin lemah, dan adanya variasi suhu secara vertikal di atas troposfer (>32 km)
sehingga makin tinggi suatu tempat maka suhu akan semakin naik. Tekanan udara
secara horizontal yaitu variasi tekanan udara dipengaruhi oleh suhu udara, yaitu daerah
yang suhu udaranya tinggi maka daerah tersebut akan bertekanan rendah dan daerah
yang suhunya tinggi maka daerah tersebut tekanan udaranya akan menjadi tinggi.
Pola penyebaran tekanan udara horizontal dipengaruhi oleh lintang tempat,
penyebaran daratan dan lautan, pergeseran posisi matahari tahunan. Besaran yang
sering digunakan untuk menyatakan kelembaban udara adalah kelembaban nisbi yang
diukur dengan psikrometer atau higrometer. Kelembaban nisbi berubah sesuai tempat
dan waktu. Pada siang hari kelembaban nisbi berangsur angsur turun kemudian pada
sore hari sampai menjelang pagi bertambah besar
2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum agroklimatologi acara hubungan antara altitude dengan
tekanan udara, suhu udara, dan RH ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh ketinggian suatu tempat berdasarkan perbedaam tekanan udara, suhu udara,
dan kelembaban udara (RH).

Waktu dan Tempat Pelaksananan


Pelaksanaan

praktikum ini dilakukan di beberapa lokasi pada periode yang

bersamaan. Lokasi pengamatan pada praktikum ini adalah Karanganyar, Karangpandan


dan Tawangmangu.

B Tinjauan Pustaka
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan oleh udara karena beratnya kepada
setiap bidang seluas 1 cm yang mendatar dari permukaanbumi. Hal ini dapat dipahami
bahwa setiap lapisan udara yang dibawahmendapat tekanan udara dari yang diatasnya.
Oleh karena itu lapisan yangdibawah keadaan tegang. Ketegangan itu sangat besar
sehingga berat udarayang diatasnya bertahan dalam keadaan seimbang. Tinggi barometer
ialahpanjang kolom air raksa yang seimbang dengan tekanan udara pada waktu
itu.Tekanan udara umumnya menurun sebesar 11 mb untuk setiapbertambahnnya
ketinggian tempat sebesar 100 meter. Tekanan udaradipengaruhi oleh suhu, suhu udara
didaerah tropis menunjukkan fluktasi musiman yang sangat kecil. Oleh sebab itu dapat
dipahami jika tekanan udaradikawasan tropis relatif konstan (Kensaku 2002).
Tekanan udara diukur berdasarkan tekanan gaya pada permukaan dengan luas
tertentu, misalnya 1 cm2. Satuan yang digunakan adalah atmosfer (atm), millimeter kolom
air raksa (mmHg) atau milibar (mbar). Tekanan udara patokan (sering juga disebut tekanan

udara normal) adalah tekanan kolom udara setinggi lapisan atmosfer bumi pada garis
lintang 45 dan suhu 0 . Besarnya tekanan udara tersebut dinyatakan sebagai 1
atm. Tekanan sebesar 1atm ini setara dengan tekanan yang diberikan oleh kolom air raksa
setinggi 760 mm. Satuan tekanan selain dengan atm atau mmHg juga dapat dan sering
dinyatakan dalam satuan kg/m2 (Andrea 2010).
Meningkatnya suhu udara rata-rata, naiknya suhu permukaan air laut, perubahan
pola hujan, pergeseran awal musim kemarau maupun musim hujan, merupakan dampak
dari adanya pemanasan global atau perubahan iklim. Ada dua akibat dari meningkatnya
temperatur adanya perubahan tekanan, sirkulasi udara yang menyebabkan kecepatan angin
menjadi lebih kencang. Adanya penguapan, uap air berkumpul di atas menyebabkan
atmosfir basah sehingga intensitas curah hujan menjadi meningkat (Firman 2009).
Suhu dan kelembaban udara sangat erat hubungannya, karena jika kelembaban
udara berubah, maka suhu juga akan berubah. Di musim penghujan suhu udara rendah,
kelembaban tinggi, memungkinkan tumbuhnya jamur pada kertas, atau kertas menjadi
bergelombang karena naik turunnya suhu udara.Kelembaban udara berbanding terbalik
dengan suhu udara. Semakin tinggi suhu udara, maka kelembaban udaranya semakin kecil.
Hal ini dikarenakan dengan tingginya suhu udara akan terjadi presipitasi (pengembunan)
molekul air yang dikandung udara sehingga muatan air dalam udara menurun
(Lakitan 2002).
faktor-faktor yang mempengaruhi suhu juga sangat erat dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi kelembapan udara dalam berbagai hubungan yaitu : Pengaruh tanah dan
air, semakin banyak jumlah uap air baik diudara maupun didalam tanah, maka kelembapan
akan semakin tinggi; Ada atau tidaknya vegetasi, semakin rapatnya jarak antara vegetasi
maka kelembapan makin tinggi, namun suhu akan menjadi sangat rendah; Pengaruh
ketinggian tempat, semakin tingginya suatu tempat maka suhu ditempat tersebut akan
semakin rendah dan kelembapan udara semakin tinggi (Lakitan 2002).

C Alat dan Cara Kerja


Alat

Alat yang digunakan pada praktikum agroklimatologi acara ini adalah :


a
b
c
d
e
f
g
h
2

Thermometer Tanah
Hygrometer
Barometer
Anemometer
Altimeter
Klinometer
GPS
Lux Meter

Cara Kerja
Cara kerja yang perlu diperhatikan pada praktikum agroklimatologi acara
hubungan antara altitude dengan tekanan udara, suhu udara, dan RH adalah:
a

Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan yang meliputi : thermometer,

hygrometer, barometer, altimeter, anemometer, klinometer, GPS dan lux meter.


Melakukan perjalanan dari pukul 09.00 WIB hingga 14.30 WIB yang dilakukan

ada tiga lokasi yaitu Karanganyar, Karangpandan, dan Tawangmangu.


Melakukan analisis dan interpretasi data yang telah diperoleh, dan buatlah
pendapat dan kesimpulan dari data yang didapat.

D. Hasil Pengamatan
Tabel 5.1 Pengaruh Altitute terhadap Tekanan Udara, Suhu Udara dan RH Udara
Lokasi

Karangpandan

Tawangmangu

Karanganyar

Waktu

09.00
09.10
09.20

Suhu

Suhu

udara

Tanah

(oC)

(C)

31,2
28,4
29

30
29
29

RH
Udar
a

Intensitas

Kelengasan
Tanah

pH

(%)
66
76
74

Cahaya

Tekanan

Matahari

Udara

(FC)
3
3
3

6,8
6,3
6,2

68500
53200
87600

1012
1012
1012

Kecepatan
Angin

Vegetasi

(m/s)
0,49
1,09
1

Rumout, pohon jati,

melinjo, pohon kelapa,

09.30

33,9

34,2

54

2,5

6,2

101700

1012

0,7

11.00
11.10
11.20
11.30
14.00
14.10
14.20
14.30

26,6
28,7
28,1
33,1
34,3
34,2
34,6
35,7

30
31
30
31,5
34
35
35
36,5

62
54
64
48
43
42
44
41

6
6
5,2
5,2
2,5
2
2
2

7
7
7
7
7
7
7
7

43600
135800
45700
149400
58600
67400
55300
62600

1020
1020
1020
1020
1010
1010
1010
1010

2,18
1,54
1,54
1,68
0,35
0,96
1,65
1,06

Sumber : Laporan Sementara

Tabel 5.2 Hubungan Altitude terhadap Tekanan Udara, Suhu Udara, dan RH Udara

pohon mahoni,
bambu, pohon
pohon sengon.
Bawang merah,
pepaya, mawar,
cemara, pisang, kubis.
Pohon mahoni, palem,
angsana.

Kemiringan

Ketinggian

(%)

(mdpl)

2
2
2
2

441
441
441
441

8
8
8
8
0
0
0
0

1233
1233
1233
1233
184
184
184
184

Koordinat

S 7 37 0,5
E 111 2 47,1

S 7 39 40,7
E 111 8 44,3
S 7 35 51,8
E 110 5 31

Lokasi

Karanganyar

Karangpandan

Tawangmangu

Intensitas

Suhu

Suhu

RH

udara

Tanah

Udara

(oC)

(C)

09.00
09.10
09.20
09.30
11.00
11.10
11.20
11.30
14.00
14.10
14.20

32
31
32
32
35
36
36,5
36
28
28
30

29,5
28,9
30
30
34
34
33,5
34
26
25
25

41
44
46
46
19
28
30
32
44
43
36

4,5
5
4
4,5
4,5
4,2
4,3
3,2
6,5
6
6

6,5
7,9
7,9
7
7
7,5
7,5
7,5
7,3
7
7

49000
50500
51000
52300
25400
63300
73300
64100
14000
20400
18500

1300
1300
1300
1300
1013,1
1013,1
1013,1
1013,1
911,3
911,3
911,3

0,8
2
0,2
0,6
1,4
0,5
1,4
1,6
1,0
1,1
1,6

14.30

30

25

36

24400

911,3

1,4

Waktu

(%)

Kelengasan
Tanah

pH

Cahaya

Tekanan

Matahari

Udara

(FC)

Kecepatan
Angin

Vegetasi

(m/s)
Rumput, angsana, pohon ati,
kacang tanah, pisang, palem.
Rumput, putri malu, jati, padi,
mahoni, sengon, kelapa, bunga
turi, pisang.
Pohon pisang, pinus, cemara,
jagung, bawang, kol, jambu,
pakis, rumput, mangga, pepaya,

Kemiringan

Ketinggian

(%)

(mdpl)

Koordinat

0
0
0
0
10
10
10
10
12
12
12
12

185
185
185
185
474
474
474
474
1245
1245
1245
1245

110o 57 515 BT

Kemiringan

Ketinggian

Koordinat

(%)

(mdpl)

7o 35 86 LS
111o 2 785 BT
7o 37 10 LS
111o 8 745 BT
7o 39 788 LS

jambu, kacang panjang.

Sumber : Laporan Sementara

Tabel 5.3 Hubungan antara altitude dengan tekanan udara, suhu udara, dan RH
Lokasi

Waktu

Suhu

Suhu

udara

Tanah

(oC)

(C)

RH
(%)

Intensitas

Kelengasan
Tanah
(%)

pH

Cahaya

Tekanan

Kecepatan

Matahari

Udara

Angin

(FC)

Vegetasi

Tawangmangu

Karanganyar

Karangpandan

09.00
09.10
09.20
09.30
11.00
11.10
11.20
11.30
14.00
14.10
14.20

37
36
38
40
32
35
34
35
45
40
42

26
26
26
26
32
34
33
32
38
38
35

58
57
53
59
69
66
64
63
51
49
50

40
45
45
29
20
20
20
20
25
18
2

7
7
7
7
7
7
7
7
7
7
7

36800
5100
24200
16500
56500
54500
55800
56600
38600
43500
23500

1019
1019
1019
1019
1011
1011
1011
1011
1010
1010
1010

1,96
2,50
1,03
2,31
1,09
2,5
0,76
1,09
1,77
1,29
1,61

14.30

40

35

52

13700

1010

1,42

Sumber : Laporan Sementara

Daun bawang, wortel, kol,


cabai, pinus, ketela, pisang,
cemara.
Angsana, palem, sawah padi.

Pohon jati, pisang, kelapa,


petai, padi, sengon, mlinjo,
palem, nangka, bamboo,
durian.

13
13
13
13
0
0
0
0
6
6
6
6

1241
1241
1241
1241
221
221
221
221
480
480
480
480

S 7 39 37,2
E 111 8 44,7
S 7 35 51,7
E 110 57 31
S 7 37 6
B 111 2 97,9

E Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan di tiga tempat yaitu Karanganyar, Karangpandan
dan Tawangmangu mempunyai perbedaan altitude atau ketinggian tempat dan latitude
atau letak lintang. Hubungan antara ketinggian tempat dengan suhu udara adalah
berbanding terbalik, dimana semakin tinggi lokasi suatu tempat maka suhu udara akan
semakin rendah. Hal tersebut dikarenakan semakin ke atas (troposfer) kerapatan udara
semakin tinggi sehingga meningkatkan massa udara (kandungan uap air) dan
menyebabkan kelembabannya tinggi kemudian suhu turun. Semakin tinggi suatu
tempat, lapisan udaranya semakin tipis dan semakin renggang, akibatnya tekanan
udara semakin rendah.
Umumnya apabila semakin tinggi tempat maka suhu akan semakin rendah,
kelembaban semakin tinggi. Jika dihubungkan dengan pengaruh intensitas cahaya
maka akan menyebabkan tekanan menjadi rendah. Pengaruh intensitas cahaya
matahari adalah melalui gelombang yang sampai di permukaan bumi yang
sebagiannya diserap dan sebagian lainnya dipantulkan kembali. Gelombang cahaya
yang dipantulkan ini, akan menjadikan massa udara renggang (karena sifat gas yang
memuai karena panas) dan berakibat pada tekanan yang menjadi rendah.
Berhubungan dengan semakin tingginya tempat maka suhu semakin rendah
dan kelembaban semakin tinggi. RH sendiri merupakan perbandingan antara uap air
yang terkandung pada massa udara dengan uap air jenuh atau maksimum yang dapat
dikandung pada massa udara tersebut. Jika kelembaban semakin tinggi itu berarti
semakin banyak uap air yang terkandung pada massa udara. Ketika semakin
banyaknya uap air tersebut tentu hasil perbandingan dengan uap air maksimum pada
massa udara akan semakin tinggi. Dapat disimpulkan semakin tinggi tempat, maka
RH akan semakin tinggi.
RH bukan hanya dipengaruhi suhu, akan tetapi masih banyak faktor lain yang
juga mempengaruhi besarnya RH. Perubahan RH pada suhu yang sama disebabkan
oleh faktor angin dan intensitas cahaya (pada tempat yang sama) selain itu karena
faktor ketinggian tempat dan kemiringan (pada lokasi yang berbeda). Perubahan ini
angin berperan pada pendinginan suhu sehingga keberadaan angin pada suhu tinggi
akan menjadikan suhu turun dan RH naik, dan sebaliknya. Intensitas cahaya berperan
dalam memuaikan udara sehingga massa udara menjadi renggang, kemudian

menurunkan

RH

dan

sebaliknya.

Sedangkan

ketinggian

dan

kemiringan

mempengaruhi penerimaan intensitas cahaya yang juga mempengaruhi RH.


Selain itu ketiga lokasi tersebut mempunyai perbedaan suhu pada waktu
bersamaan pada tabel 5.1.1 , tabel 5.1.2 dan tabel 5.1.3 di Karanganyar 32 ,
Karangpandan 31,2

dan Tawangmangu 37 . Tetapi pada tabel 5.1.3 terjadi

kesalahan pengukuran karena semakin tinggi tempat maka suhunya akan semakin
rendah akan tetapi pada tabel tersebut suhunya ketinggian di bandingkan lokasi-lokasi
yang lain kemungkinan terjadi kesalahan pengukuran pada saat berada di
Tawangmangu.

F Kesimpulan dan Saran


1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum hubungan antara altitude dengan
tekanan udara, suhu udara dan RH maka dapat disimpulkan bahwa :
a

Semakin tinggi suatu tempat, maka semakin rendah tekanan udaranya, dan

semakin rendah suatu tempat, maka semakin rendah pula tekanan udaranya.
Semakin tinggi suatu tempat, maka suhu udaranya semakin rendah dan

semakin rendah suatu tempat, maka suhu udaranya semakin tinggi.


Semakin tinggi suatu tempat, maka kelembabannya semakin tinggi dan

semakin rendah suatu tempat, maka kelembabannya semakin rendah.


Kelembaban udara berbanding terbalik dengan perubahan suhu dan tekanan

udara.
e Perubahan suhu udara berbanding lurus dengan perubahan tekanan udara.
2 Saran
Saran untuk praktikum acara ini adalah sebaiknya lokasi untuk pengamatan
hubungan antara altitude dengan tekanan udara, suhu udara dan RH di perbanyak
lagi tidak hanya pada ketiga tempat tersebut sehingga kita bisa lebih paham lagi
mengenai perbedaan suhu, tekanan dan RH terhadap ketinggian tempat.

DAFTAR PUSTAKA
Andrea 2010. Pengantar Agroklimatologi. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Firman Umara 2009. Fluktuasi Udara dan Trend Variasi Curah Hujan Rata-Rata Di Atas 100
mm di Beberapa Wilayah Indonesia . Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Vol.5 No.3. Hal : 52-54
Lakitan, B 2002. Dasar Klimatologi. PT Ragagrafindo Persada: Jakarta
Takeda Kensaku 2005. Hidrologi Pertanian. PT. Pratya Utama :Bogor.

VI. PENGAMATAN SUHU DAN KELEMBABAN UDARA DALAM RUANG KULTUR


JARINGAN, RUMAH KACA DAN TEMPAT TERBUKA

A Pendahuluan

Latar Belakang
Ilmu agroklimatologi tidak dapat dipisahkan daripengamatan suhu dan
kelembaban udara. Thermohygrograph merupakan alat pengukur suhu dan
kelembaban udara. Suhu dan kelembaban merupakan unsur-unsur cuaca yang saling
berhubungan. Semakin tinggi suhu udara maka kelembaban akan semakin tinggi.
Suhu pada setiap wilayah atau daerah berbeda-beda. Perbedaan suhu udara pada setiap
wilayah atau daerah ini dapat dipengaruhi oleh ketinggian suatu wilayah atau tempat.
Dapat dikatakan Semakin tinggi ketinggian suatu tempat dari permukaan laut maka
suhu udara akan semakin rendah.

Laut yang berada disuatu tempat juga akan

berpengaruh dalam menekan perubahan suhu udara yang mungkin terjadi.


Wilayah tropis sendiri fluktuasi suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari
pada selisih suhu musiman yaitu selisih antara musim kemarau dan musim hujan. Dan
daerah sub tropis hingga kutub, fluktuasi suhu musim panas dan musim dingin lebih
besar dari pada suhu harian. Atmosfer didalamnya senantiasa terdapat uap air. Kadar
uap air dalam udara disebut kelembaban. Kadar ini selalu berubah-ubah tergantung
pada temperatur udara atau suhu udara setempat. Kelembaban udara adalah persentase
kandungan uap air dalam udara. Kelembaban udara ditentukan oleh jumlah uap air
yang terkandung di dalam udara. Total massa uap air per satuan volume udara disebut
sebagai kelembaban absolut. Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara
lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik.
Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang
terkandung, termasuk uap air, jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut sebagai
massa udara kering.
Suhu dan RH mempunyai pengaruh besar pada bidang pertanian. Suhu dan RH
mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman, perkembangan tanaman dan lain
sebagainya. Karena tumbuhan hanya mampu hidup di suhu tertentu, jika terlalu tinggi
suhu udara suatu daerah makan akan mengakibatkan kematian pada tanaman yang
berada pada daerah tersebut. Begitu juga dengan kelembaban udara, tanaman tidak
akan bisa tumbuh optimal pada kelembaban yang terlalu tinggi dan kelembaban yang
terlalu rendah.
2

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum agroklimatologi acara thermohygrograph ini dilaksanakan
dengan tujuan untuk memantau suhu dan RH udara pada suatu tempat secara kontinyu
pada periode tertentu yaitu mingguan.

Waktu dan Tempat Pelaksananan


Praktikum agroklimatologi acara thermohygrograph ini dilaksanakan pada
tanggal

03

November

2013

di

Fakultas

Pertanian

UNS.

Tempat

atau

obyek pengamatan meliputi: Ruang Non AC, Ruang AC, dan Rumah Kaca.

B Tinjauan Pustaka
Suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Alat untuk mengukur suhu
udara atau derajad panas disebut termometer. Pengukuran biasa dinyatakan dalam skala
Celsius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu udara tertinggi di permukaan bumi

adalah di daerah tropis (sekitar ekuator) dan makin ke kutub makin dingin. Pada waktu
kita mendaki gunung, suhu udara terasa dingin saat ketinggian bertambah. Tiap kenaikan
bertambah 100 meter, suhu udara berkurang (turun) rata-rata 0,6C. Penurunan suhu
semacam ini disebut gradien temperatur vertikal atau lapse rate. Pada udara kering, besar
lapse rate adalah 1C (Leon 2010).
Di bidang pertanian suhu udara yang perlu diketahui adalah suhu udara pada
ketinggian rendah dan umumnya mengacu pada temperatur yang diukur di ruangan atau
sangkar cuaca yang dipasang pada ketinggian 1,5 2,0 meter. Suhu seringkali juga
diartikan sebagai energi kinetis rata-rata suatu benda. Satuan untuk suhu adalah derajat
suhu yang umumnya dinyatakan dengan satuan derajat Celsius (C) disamping tiga
sistem skala lain, yaitu satuan Fahrenheit (F), satuan Reamur (R), dan satuan Kelvin (K).
Sistem Kelvin memiliki sistem skala yang sama dengan skala Celcius, tetapi berbeda
pada dasar titik nolnya. Titik nol derajat Kelvin berada pada 273 skala dibawah nol
derajat Celsius, sehingga: satuan derajat Kelvin = satuan derajat Celsius 273 , atau tK
= tFC 273 Dalam skala Celsius, titik beku air adalah 0C dan titik didihnya adalah
100C, sedangkan pada skala Fahrenheit, titik beku air adaalah 32F dan titik didihnya
sama dengan 212F, sehingga : tC = 5/9 ( tF 32) (Gunawan Nawawi 2007).
Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu
terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak
daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap
air di dinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan lagi uap air
sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Udara yang mengandung uap air
sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh (Edi S 2009).
Kelembaban udara dalam ruang tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan.
Pengaturan kelembaban udara ini didasarkan atas prinsip kesetaraan potensi air antara
udara dengan bahan padat tertentu. Jika suatu ruang tertutup dimasukkan larutan, maka
air dari larutan larutan air tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara
potensi air dengan potensi air larutan. Potensi air udara berhubungan dengan kelembaban
relatif udara tersebut (Lakitan 2002).
Kandungan uap air atmosfer dapat diperlihatkan dengan berbagai cara. Tekanan
uap yang dinyatakan dalam minibar, tetapi dalam penggunaanya yang lebih sering,
satuan lainya dipakai untuk menyatakan kandungan uap air ( Guslim 2009 ).
Semakin tinggi suatu tempat, lapisan udaranya semakin tipis dan semakin
renggang, akibatnya tekanan udara semakin rendah. Tekanan udara di suatu tempat pada

umumnya dipengaruhi oleh penyinaran matahari. Daerah yang banyak mendapat sinar
matahari mempunyai tekanan udara rendah dan daerah yang sedikit mendapat sinar
matahari mempunyai tekanan udara tinggi. Tekanan udara pada suatu tempat berubah
sepanjang hari. Alat pencatat tekanan udara dinamakan barograf. Pada barograf tekanan
udara sepanjang hari tergores pada kertas yang dinamakan barogram. Bila hasilnya
dibaca secara teliti, maka tekanan udara tertinggi terjadi pada pukul 10.00 (pagi) dan
pukul 22.00 (malam) dan tekanan udara rendah terjadi pada pukul 04.00 (pagi) dan pukul
16.00 (Sriyani 2002).
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan oleh udara karena beratnya setiap
bidang seluas 1 cm2 yang mendatar dari permukaan bumi. Hal ini dapat dipahami bahwa
setiap lapisan udara yang di bawah mendapat tekanan udara dari yang di atasnya. Oleh
karena itu lapisan yang dibawah keadaan tegang. Ketegangan ini sangat besar sehingga
berat udara yang di atasnya bertahan dalam keadaan seimbang. Tinggi barometer ialah
panjang kolom air raksa yang seimbang dengan tekanan udara pada waktu itu. Tekanan
udara umumnya menurun sebesar 11 mb untuk setiap bertambahnya ketinggian tempat
sebesar 100 meter. Tekanan udara dipengaruhi oleh suhu, suhu udara di daerah tropis
menunjukkan fluktasi musiman yang sangat kecil (Handoko 2004).

C Alat dan Cara Kerja

Alat
Alat yang digunakan pada praktikum agroklimatologi acarathermohygrograph
adalah sebagai berikut:

a
b

Thermohygrograph
Kertas Grafik
2 Cara Kerja
Cara kerja yang perlu diperhatikan pada praktikum agroklimatologiacara
thermohygrograph adalah:
a Menyiapkan alat thermohygrograph, pasang kertas pias pada drum.
b Menyetel alat pada posisi mingguan, memasang drum kembali danmeletakkan
c

pada tempat yang akan di monitoring.


Melakukan inspeksi setiap hari mengenai kelancaran jalannya alat,seperti tinta

reorder, dan timer yang sudah di setting.


Setelah satu minggu, melakukan pelepasan kertas pias, dan melakukanpengamatan

terhadap data yang telah diperoleh.


Memasang kertas pias yang baru, meletakkan alat pada tempat yangberbeda,

lakukan prosedur serupa.


Melakukan pembacaan data yang diperoleh dan mencari kapanterjadinya suhu
tertinggi, suhu rendah, RH tertinggi, RH terendah.

D Hasil Pengamatan
Tabel 6.1. Hasil Pengamatan Thermohygrograph di Ruang Non AC
Hari
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Mingg

Suhu
Max
29
29
28
28
27
29
28

Suhu
Min
26
27
27
26
26
27
27

Selisih
Suhu
1
2
1
2
1
2
1

RH
Max
83
64
78
78
80
85
74

RH
Min
64
55
66
65
64
63
66

Selisih
RH
10
29
8
12
24
22
8

u
Rata
28,28
26,57
1,42
78,42
63,42
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 6.2. Hasil Pengamatan Thermohygrograph di Ruang AC
Hari

Suhu
Max
30
31
31
31
31
32

Suhu
Min
28
28
29
29
29
29

Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Mingg
31
28
u
Rata
31
28,57
Sumber : Laporan Sementara

16,14

Selisih
Suhu
2
3
2
2
2
3

RH
Max
67
77
80
83
72
81

RH
Min
62
62
64
70
63
61

Selisih
RH
5
15
24
13
9
20

65

61

2,42

75

63,28

12,85

Tabel 6.3. Hasil Pengamatan Thermohygrograph di Rumah Kaca


Suhu
Suhu
Selisih
RH
RH
Hari
Max
Suhu
Max
Min
Min
Senin
38
28
10
98
69
Selasa
39
26
13
100
50
Rabu
37
26
11
98
55
Kamis
38
26
12
96
38
Jumat
37
25
12
97
50
Sabtu
37
25
12
97
60
Mingg
39
25
12
97
44
u
Rata
37,85
25,85
11,71
97,57
52,28
Sumber : Laporan Sementara

Selisih
RH
29
50
43
58
47
37
53
45,28

E. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 6.1 yaitu Pengamatan Termohygrograph
di Ruang Non AC diperoleh suhu rata rata maksimal 28,28 ; suhu rata rata
minimum 26,57 ; selisih dari suhu maksimum dan suhu minimum 1,42

; RH

maksimum 78,42 % ; RH minimum 63,42%; dan selisih dari RH maksimum dan RH


minimum 16,14%. Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 6.2

Pengamatan

Termohygrograph yang diperoleh di Ruang AC adalah suhu rata rata maksimal 31


; suhu rata rata minimum 28,57 ; selisih dari suhu maksimum dan suhu minimum
2,42 ;

RH

maksimum

75% ; RH minimum 63,82%; dan selisih dari RH maksimum dan RH minimum adalah
12,85%. Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 6.3 Pengamatan Termohygrograph di
Rumah Kaca yang diperoleh adalah suhu rata rata maksimal 37,85 ; suhu
rata rata minimum 25,85 ; selisih dari suhu maksimum dan suhu minimum adalah
11,71 ; RH maksimum 97,57%; RH minimum 52,28%; dan selisih dari RH
maksimum dan RH minimum 45,28%.
Suhu di ruang AC dan rumah kaca bisa dikatakan stabil, karena pada rumah kaca
terjadi modifikasi iklim mikro. Cahaya matahari diserap, pada saat terjadi perubahan suhu
di rumah kaca, panas yang disimpan dari penyerapan cahaya matahari itu berguna untuk
menstabilkan suhu di rumah kaca. Sedangkan pada ruangan AC terdapat AC yang mampu
untuk menstabilkan suhu dalam

ruangan. Pada ruang AC selalu menggunakan AC

kontinyu, dikarenakan AC dalam suatu ruangan berfungsi sebagai penstabil suhu ruangan
tersebut. Suhu pada AC dapat diatur sesuai dengan yang dibutuhkan atau diinginkan,
sehingga kecil kemungkinan suhu pada ruangan berAC akan berubah atau tidak stabil.
Di dalam rumah kaca suhunya selalu lebih tinggi dari lingkungannya, hal ini
dikarenakan rumah kaca dapat menyerap panas dari cahaya matahari dan mampu menahan
cahaya matahari. Panas di dalam rumah kaca sulit untuk keluar sehinggan panas tersebut
tetap berada di dalam rumah kaca dan menyebabkan suhu pada ruangan akan lebih tinggi
dari lingkungan. Sedangkan panas di lingkungan menyebar dan tidak ada penahannya
akibatnya suhu berubah-ubah dan

tidak dapat stabil. RH di rumah kaca lebih bisa

dikontrol sesuai dengan keinginan dibandingkan di udara yang berada di tempat terbuka.

F. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan praktikum acara 6 mengenai thermohygrograf pada


ruang non AC, ruang AC dan rumah kaca maka dapat disimpulkan bahwa :
a

Pada perlakuan rumah kaca cenderung stabil karena rumah kacamerupakan

modifikasi iklim mikro.


Pada perlakuan laboratorium terdapat AC yang mampu menstabilkansuhu pada

ruangan tersebut.
Pada rumah kaca , ruang non AC, dan ruang AC yang memiliki suhu tertinggi adalah
rumah kaca, kemudian ruang ac dan yang memiliki suhu rendah adalah ruang non

ac.
d RH tertinggi terdapat pada perlakuan rumah kaca dan RH terendah terdapat pada
2

perlakuan di ruang AC.


Saran
a Pemanfaatan rumah kaca sebagai tempat budidaya tanaman sebaiknya dilakukan
b

kontrol keadaan iklim mikro sesuai kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan.
Kondisi rumah kaca perlu lebih diperhatikan karena mempengaruhi intensitas
radiasi matahari yang masuk, contohnya seperti naungan kaca yang digunakan

untuk atap sudah lama, berdebu, dan sudah ditumbuhi lumut/jamur.


Pengamatan lebih baik dilakukan pada saat green house dalam kondisi tidak
digunakan untuk budidaya tanaman agar tidak berpengaruh pada penambahan suhu
udara dalam greenhouse dan pola aliran udara hasil simulasi.
.

DAFTAR PUSTAKA
Edi S 2009.
Rancangan Bangun Sensor Suhu Tanah dan Kelembaban Udara.
Jurnal Sains Dirgantara Vol. 7 (1). Hal: 56-67
Gunawan Nawawi Ir. MS 2007. Pengantar Klimatologi Pertanian. Dinas Pendidikan :
Jakarta
Guslim 2009. Agroklimatologi. USU Press : Medan.

Handoko, I 2004. Dasar Penyusunan dan Aplikasi Model Simulasi Komputer untuk
Pertanian. Jurusan Geofisika dan Meteorologi. F.MIPA Bogor : IPB.
Leon 2010.
Suhu Udara.
http://leonheart94.blogspot.com/2010/04/suhuudara.html. Diakses tanggal 25 November 2013
Lakitan 2002. Dasar-dasar Klimatologi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Sriyani 2002. Pengaruh Suhu dan Tekanan Udara. Jurnal Agromet XI (1). Perhimpi : Bogor.

VII. KLASIFIKASI IKLIM


A Pendahuluan
1 Latar Belakang

Terdapat unsur - unsur iklim yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi
dan juga tidak dapat berdiri sendiri . Kata lainnya perilaku salah satu unsur iklim di
suatu wilayah atau tempat merupakan resultan dari bermacam - macam unsur iklim
lainnya. Pola perilaku iklim dibumi cukup rumit, tetapi ada kecenderungan bahwa
karakteristik dan pola tertentu dari unsur - unsur iklim di berbagai daerah yang
letaknya saling berjauhan sekalipun, menunjukkkan perilaku yang serupa apabila
faktor utamanya sama. Faktor utama tersebut dapat berupa salah satu unsur iklim atau
letak geografisnya.
Keadaan iklim tiap wilayah seperti daerah dingin, daerah panas, gurun, stepa
atau hutan tropis ternyata tersebar di berbagai tempat sehingga membutuhkan suatu
sistem penamaan untuk kelompok - kelompok yang sama tersebut. Sistem penamaan
terhadap pokok bahasan dalam setiap cabang ilmu yang mendasarkan pada sifat-sifat
yang sama atau persamaannya dikenal sebagai sistem klasifikasi. Sama halnya pada
cabang ilmu lain misalnya ilmu tanah, botani, dan entomologi dalam membahas
formulasi - formulasi kesamaan tentang sifat unsur-unsur iklim di suatu wilayah
sehingga dapat dikelompokkan menjadi kelas-kelas iklim. Dengan demikian pada
hakekatnya kegunaan klasifikasi iklim adalah suatu metode untuk memperoleh
efisiensi informasi dalam bentuk yang umum dan sederhana.
Analisis statik unsur-unsur iklim dapat dilakukan untuk menjelaskan dan
memberi batas pada tipe-tipe iklim secara kuantitatif, umum, dan sederhana. Sama
halnya klasifikasi dalam cabang lain maka dalam bidang iklim pun terdapat beberapa
macam klasifikasi. Setiap klasifikasi dibuat berdasarkan tujuan tertentu dari
pembuatnya. Luas cakupan wilayahnya mulai dari yang terbatas sampai yang luas.
Praktikum kali ini yang akan dibahas adalah klasifikasi iklim menurut Oldeman
dan klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson. Berdasarkan curah hujan 10 tahun
terakhir, dengan tujuan agar kita dapat mengetahui curah hujan suatu daerah sehingga
kita dapat mengerti tanaman yang cocok di tanam pada daerah tersebut.
2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum agroklimatologi acara 5 klasifikasi iklim ini dilaksanakan
dengan tujuan untuk mahasiswa dapat mengklasifikasikan iklim berdasarkan data
curah hujan selama 10 tahun.

Waktu dan Tempat Pelaksananan

Praktikum agroklimatologi acara klasifikasi iklim ini dilaksanakan pada tanggal


13 November 2013 Bertempat di Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

B Tinjauan Pustaka
Penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidth-Ferguson lebih banyak
digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini

didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan
bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X)
dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah
atau frekuensi bulan kering atau bulan basah selama tahun dengan banyaknya tahun
pengamatan (Setyowati 2008).
Unsur - unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar
dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah
hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan
penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian
iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya
memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi
aktivitas atau objek dalam bidang - bidang tersebut (Lakitan 2002).
Di indonesia banyak menggunakan metode klasifikasi iklim selain menurut
Koppen juga menurut Schmidt dan Ferguson yang semula dimaksudkan untuk keperluan
kehutanan, tetapi juga ternyata juga cocok untuk kepentingan tanaman perkebunan
perenial. Dasar klasifikasi menggunakan distribusi curah hujan bulanan dalam penentuan
bulan basah (bulan dengan curah hujan > 100 mm) dan bulan kering (bulam dengan curah
hujan < 60mm). Metode klasifikasi lain yang tergolong baru di Indonesia dan pada
beberapa hal masih mengandung diskusi mengenai batasan dan kriteria yang digunakan
adalah yang dibuat oleh Oldeman. Sistem yang dibuat khusus untuk tanaman
pangan/semusim ini menggunakan data curah hujan rata-rata jangka panjang untuk
menentukan bulan basah (bulan dengan curah hujan > 200 mm), bulan lembab (bulan
dengan curah hujan antara 100-200 mm), dan bulan kering (bulan dengan curah hujan < 60
mm) secara berturut-turut (Laimeheriwa 2002).
Sistem klasifikasi iklim ini banyak digunakan dalam bidang kehutanan dan
perkebunan serta sudah sangat dikenal di Indonesia. Kriteria yang digunakan adalah
dengan penentuan nilai Q, yaitu perbandingan antara bulan kering (BK) dan bulan basah
(BB) dikalikan 100% (Q = BK / BB x 100%). Klasifikasi ini merupakan modifikasi atau
perbaikan dari sistem klasifikasi Mohr (Mohr menentukan berdasarkan nilai rata-rata
curah hujan bulanan selama periode pengamatan). BB dan BK pada klasifikasi SchmidtFerguson ditentukan tahun demi tahun selama periode pengamatan yang kemudian
dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya (BMKG Kupang 2011).
Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah
kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya

berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut. Kebutuhan air
untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70
mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka
untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan
sebesar 220 mm/bulan. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan airu ntuk tanaman
palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu
bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200
mm dan dikatakanbulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm (Sinta
2005).
Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah
kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya
berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut. Lamanya periode
pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga
periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam.
Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang
dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi
tambahan (Pramudia 2008).

C Alat dan Cara Kerja


1 Klasifikasi iklim menurut Schmidht Ferguson :
a Mengklasifikasian iklim menurut Schmidht - Ferguson ini berdasarkanpada nisbah
bulan basah dan bulan kering.

Mencari rata-rata bulan kering atau bulan basah dalam klasifikasi iklimSchmidht Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah ataufrekuensi bulan kering atau
bulan basah selama tahun pengamatandengan banyaknya tahun pengamatan.
Tidak menghitung bulan lembab dalam penggolongan ini.
Persamaan yang dikemukakan Schimdh-Ferguson adalah :
RataRata Bulan Kering
x 100
Q = RataRata Bulan Basah

c
d

Tipe Iklim

Q (%)

A (Sangat Basah)
B (Basah)
C (Agak Basah)
D (Sedang)
E (Agak Kering)
F (Kering)
G (Sangat Kering)
H ( Luar Biasa Kering)

0 14, 3
14,3 33,3
33,3 60,0
60,0 100,0
100,0 167,0
167,0 300,0
300,0 700,0
> 700,0

Tabel 7.1 Klasifikasi iklim menurut


Schmidt - Ferguson

Sumber :Buku Petunjuk Praktikum


2

Klasifikasi Iklim menurut Oldeman


a Klasifikasi yang dilakukan oleh Oldeman berdasarkan pada jumlahkebutuhan air
b

oleh tanaman.
Menyusun tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yangberlangsung secara

berturut-turut.
Menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyaicurah
hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan keringapabila curah
hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.
Tabel 7.2 Klasifikasi Iklim menurut Oldeman
Zona
Kriteria
A
BB Lebih dari 9 kali berturut-turut
B
BB 7 9 kali berturut-turut
C
BB 5 6 kali berturut-turut
D
BB 3 4 kali berturut-turut
E
BB kurang dari 3 kali
Sumber : Buku Petunjuk Praktikum

D Hasil Pengamatan
Curah Hujan Kecamatan Jenawi Selama 10 tahun :
Tabel 7.1 Data Curah Hujan Bulanan Rata-Rata Kecamatan Jenawi Tahun 2000 -2009
Tahun
Bulan
Januari
Februari

2000 2001 2002 2003

2004

2005 2006 2007 2008 2009

479
549

592
714

700
471

570
334

500
482

482
622

488
514

314
1018

586
441

702
632

Maret
773 450 547
April
848 600 459
Mei
193
68
100
Juni
71
156
0
Juli
2
103
10
Agustus
36
19
12
September
3
121
7
Oktober
373 574
62
November 789 423 307
Desember
180 388 429
Sumber : Laporan Sementara
1

491
110
11
33
0
11
60
142
316
399

405
235
345
56
244
0
28
62
578
587

419
351
80
235
124
24
126
132
315
615

211
394
639
27
2
0
0
3
66
748

476
766
96
238
22
9
0
75
395
1138

754
224
265
34
0
14
10
317
505
220

406
327
315
138
36
2
68
208
301
346

Klasifikasi iklim menurut Schmidht Ferguson


Kriteria bulan basah dan bulan kering (sesuai dengan kriteria Mohr) adalah :
1. Bulan Basah (BB)
Bulan dengan curah hujan > 100 mm
2. Bulan Lembab (BL)
Bulan dengan curah hujan antara 60 100 mm
3. Bulan Kering (BK)
Bulan dengan curah hujan < 60 m

Tabel 7.2 Data Curah Hujan Rata-rata Kecamatan Jenawi Tahun 2000-209 Menurut
Schmitd-Ferguson
Tahun

200
0

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Januari

479
BB

570
BB

500
BB

482
BB

592
BB

700
BB

488
BB

314
BB

586
BB

702
BB

Februari

549
BB

334
BB

482
BB

622
BB

714
BB

471
BB

514
BB

1018
BB

441
BB

632
BB

Maret

773
BB

450
BB

547
BB

491
BB

405
BB

419
BB

211
BB

476
BB

754
BB

406
BB

April

848
BB

600
BB

459
BB

110
BB

235
BB

351
BB

394
BB

766
BB

224
BB

327
BB

Mei

193
BB

68
BL

100
BL

11
BK

345
BB

80
BL

639
BB

96
BL

265
BB

315
BB

Bulan

Juni

71
BL

156
BB

0
BK

33
BK

56
BK

235
BB

27
BK

238
BB

34
BK

138
BB

Juli

2
BK

103
BB

10
BK

0
BK

244
BB

124
BB

2
BK

22
BK

0
BK

36
BK

Agustus

36
BK

19
BK

12
BK

11
BK

0
BK

24
BK

0
BK

9
BK

14
BK

2
BK

September

3
BK

121
BB

7
BK

60
BK

28
BK

126
BB

0
BK

0
BK

10
BK

68
BL

Oktober

373
BB

574
BB

62
BK

142
BB

62
BK

132
BB

3
BK

75
BK

317
BB

208
BB

November

789
BB

423
BB

307
BB

316
BB

578
BB

315
BB

66
BK

395
BB

505
BB

301
BB

429
BB

399
BB

587
BB

615
BB

748
BB

1138
BB

220
BB

346
BB

Jumla
h
79
30
11

Rata
-rata
7,9
3,0
1,1

180
388
BB
BB
Sumber : Laporan Sementara
Desember

Tabel 7.3. Data Jumlah BB, BK dan BL Kecamatan Jenawi Tahun 2000 - 2009
Ke 200 200
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
t
0
1
BB
8
10
6
7
8
10
6
7
8
9
BK
3
1
4
4
3
1
5
3
4
2
BL
1
1
2
1
1
1
1
2
1
Sumber : Laporan Sementara

Q=

RataRata Bulan Kering


x 100
RataRata Bulan Basah

Q=

3,0
x 100 =0,379 x 100 =37,9
7,9

Klasifikasi Iklim menurut Oldeman

= 38 % (Tipe Iklim C = Agak Basah)

Tabel 7.4 Data Curah Hujan Rata-rata Kecamatan Jenawi Tahun 2000 2009 Menurut
Oldeman
Bulan
Januari

Rata-Rata Curah Hujan


Selama 10 Tahun per Bulan
mm
541,3 tahun

Keterangan
BB

Februari

577,7

mm
tahun

BB

Maret

mm
493,2 tahun

BB

April

mm
431,4 tahun

BB

Mei

mm
211,2 tahun

BB

Juni

mm
98,8 t ahun

BK

Juli

54,3

mm
tahun

BK

Agustus

mm
12,7 tahun

BK

September

mm
42,3 tahun

BK

Oktober

mm
194,8 tahun

BL

November

mm
399,5 tahun

BB

Desember

mm
505,0 tahun

BB

Menurut Klasifikasi iklim Oldeman Curah Hujan Kecamatan Jenawi selama 10 tahun
termasuk Zona C = Bulan Basah 5 kali Berturut-turut.

E Pembahasan
Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson yaitu menggolongkan iklim
menurut banyaknya curah hujan tiap-tiap bulan dengan membandingkan antara
jumlah bulan kering dengan jumlah bulan basah dalam satu tahun. Menurutnya,
bahwa iklim dibagi menjadi dua golongan, yaitu : Bulan Kering (BK), yaitu curah
hujan yang sampai ke permukaan bumi kurang dari 60 mm; Bulan Basah (BB), yaitu
curah hujan yang sampai kepermukaan bumi lebih dari 100 mm.
Pengklasifikasian iklim menurut Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan
air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan
jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut. Oldeman membagi lima
zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari
banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan
sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam
setahun. Pemberian nama Zona iklim berdasarkan huruf yaitu zona A, zona B, zona C, zona D
dan zona E sedangkan pemberian nama sub zona berdasarkan angka yaitu sub 1, sub 2,
sub 3 sub 4dan sub 5.
Hubungan antara Oldeman dan Schmidt-Ferguson dalam pengklasifikasiannnya
sama-sama menentukan bulan basah dan bulan kering dalam setahun untuk
menentukan tipe iklim. Menurut Oldeman pengklasifikasian iklim berdasarkan jumlah
kebutuhan air oleh tanaman. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan
basah yang berlangsung berturut - turut dalam setahun kemudian digolongkan ke
dalam beberapa zona. Berbeda halnya menurut Schmidht - Ferguson yang penyusunan
tipe iklim lebih banyak digunakan untuk iklim hutan yang membandingkan ratarata jumlah frekuensi bulan kering dengan bulan basah.
Penentuan bulan basah, bulan kering dan bulan lembab menurut Oldeman
adalah: Bulan Kering (BK), yaitu curah hujan yang sampai ke permukaan bumi
kurang dari 100 mm; Bulan Basah (BB), yaitu curah hujan yang sampai kepermukaan
bumi lebih dari 200 mm.
Hasil dari praktikum ini diperoleh data curah hujan bulanan rata-rata di
Kecamatan Jenawi tahun 2000 2009. Berdasarkan pengklasifikasian menurut
Schmidt-Ferguson rata-rata curah hujan selama 10 tahun terakhir di Kecamatan
Jenawi diperoleh data yaitu rata-rata bulan basah adalah 7,9 dan rata-rata bulan kering
adalah 3,0 . Persentase yang didapat dari perbandingan adalah 38 % yang pada tabel

7.1 termasuk dalam tipe iklim C yaitu agak basah. Berikutnya berdasarkan
pengklasifikasian iklim menurut Oldeman rata-rata curah hujan selama 10 tahun
terakhir di Kecamatan Jenawi diperoleh data yaitu bulan basah terjadi 7 kali , bulan
lembab terjadi 1 kali dan bulan kering terjadi 4 kali. Penetuan zona iklim menurut
Oldeman ini berdasarkan terjadinya bulan basah secara berturut-turut. Kecamatan
Jenawi bulan basahnya terjadi 5 kali berturut-turut sehingga curah hujan di
Kecamatan Jenawi termasuk pada Zona C menurut klasifikasi iklim Oldeman pada
tabel 7.2.
F Kesimpulan dan Saran
1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum acara klasifikasi iklim maka dapat
disimpulkan bahwa :
a

Menurut Schmidh-Ferguson tipe iklim Kecamatan Jenawi termasuk tipe iklim

C yaitu agak basah.


Menuru Oldeman di Kecamatan Jenawi termasuk zona iklim C karena Bulan

Basah terjadi 5 kali berturut-turut.


2 Saran
Diharapkan Praktikan dilibatkan dalam pengamatan yang dilakukan oleh CoAss sehingga praktikan mempunyai pengalaman tentang pengamatan data curah
hujan di BMG setempat.

DAFTAR PUSTAKA

Bmkg

Kupang

2011.

Klasifikasi

Iklim

Schmidt-Ferguson.

http://staklimlasiana.blogspot.com/2011/05/klasifikasi-iklimschmidt-ferguson.html. Diakses tanggal 23 November 2013


Lakitan, Benyamin 2002. Dasar-dasar Klimatologi . Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Laimeheriwa, Samuel 2002. Pengembangan Komoditas Pertanian Berdasarkan Pendekatan
Iklim. Bogor : IPB.
Pramudia, A., Y. Koesmaryono, I. Las, T. June, I W. Astika, dan E. Runtunuwu 2008.
Penyusunan model prediksi curah hujan dengan teknik analisis jaringan
syaraf (neural network analysis) di sentra produksi padi di Jawa Barat dan Banten.
Jurnal Tanah dan Iklim Vol. 27 No 4: 11-12.
Setyowati, Dewi L 2008. Iklim Mikro dan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Di Kota
Semarang. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Vol 15 No 3.
Sinta 2005. Dampak Variabilitas Iklim Terhadap Produksi Pangan Di Sumatra. Jurnal Sains
Dirgantara 2 (2) : 20-29.
.

VIII. REFLEKTOR

A Pendahuluan
1 Latar Belakang
Matahari merupakan sumber energi terbesar di alam semesta. Energi matahari
diradiasikan ke segala arah dan hanya sebagian kecil saya yang diterima oleh bumi.
Energi matahari yang dipancarkan ke bumi berupa energi radiasi. Disebut radiasi
dikarenakan aliran energi matahari menuju ke bumi tidak membutuhkan medium
untuk mentransmisikannya. Energi matahari yang jatuh ke permukaan bumi berbentuk
gelombang elektromagentik yang menjalar dengan kecepatan cahaya. Panjang
gelombang radiasi matahari sangat pendek dan biasanya dinyatakan dalam mikron.
Kekurangan cahaya matahari akan mengganggu proses fotosintesis dan
pertumbuhan, meskipun kebutuhan cahaya tergantung pada jenis tumbuhan. Selain
itu, kekurangan cahaya saat perkembangan berlangsung akan menimbulkan gejala
etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya
berukuran kecil, tipis dan berwarna pucat (tidak hijau). Gejala etiolasi tersebut
disebabkan oleh kurangnya cahaya atau tanaman berada di tempat yang gelap. Cahaya
juga dapat bersifat sebagai penghambat (inhibitor) pada proses pertumbuhan, hal ini
terjadi karena dapat memacu difusi auksin ke bagian yang tidak terkena cahaya.
Dalam teknis budidaya sehari-hari kita sering mendapati berbagai kendala yang
berujung pada ketidaktersediaan cahaya bagi tanaman. Beberapa unsur cuaca yang
dapat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas cahaya untuk tanaman antra lain
adalah adanya awan yang menutupi cahaya matahari, kemiringan lereng yang tidak
sesuai, serta adanya tutupan pada lahan pertanian, dan lain-lain. Salah satucara yang
sering digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara pemasangan
reflektor.
Reflektor (pemantul cahaya) pada prinsipnya dibuat menyerupai cermin yang
berguna untuk memantulkan cahaya yang datang ke titik tertentu pada bagian tubuh
tanaman. Reflektor dapat dibuat dengan menggunakan kertas yang berwarna
putih/perak. Selain itu reflektor juga dapat dibuat dengan menggunakan alumunium
foil.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan reflektor ini adalah ketersediaan
air pada tanah disekitar perakaran tanaman. Keberadaan relektor akan optimal jika air
tersedia dalam jumlah cukup untuk kebutuhan fotosintesis tanaman. Tanpa
ketersediaan air yang cukup penggunaan reflektor justru merugikan karena dapat

meningkatkan suhu tubuh tanaman dan memicu terjadinya respirasi tanaman secara
besar-besaran yang dapat membunuh tanaman itu sendiri.
2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum agroklimatologi acara 8 mengenai reflektor adalah
praktikan dapat mengamati dan mengetahui pengaruh pemberian reflektor pada
tanaman terhadap tinggi tanaman dan intensitas cahaya.
3 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum agroklimatologi acara 8 mengenai reflektor dilakukan pada selama
satu bulan pada tanggal 29 Oktober 2013 hingga tanggal 29 November tahun 2013
bertempat di depan Rumah Kaca Fakultas Pertanian UNS.

B Tinjauan Pustaka

Energi panas matahari merupakan salah satu energi yang potensial untuk dikelola
dan dikembangkan lebih lanjut terutama bagi negara-negara yang terletak di khatulistiwa
termasuk Indonesia yang mataharinya bersinar sepanjang tahun. Energi panas matahari
merupakan energi yang tersedia hampir diseluruh bagian permukan bumi dan tidak habis.
Energi matahari yang tersedia senilai 81.000 TW, sedangkan yang dimanfaatkan masih
sangat sedikit (Purwoko 2009).
Pada kegiatan budidaya pertanian, Pengaruh unsur cahaya menjadi perhatian
serius. Hal tersebut dikarenakan hampir semua objek agronomi berupa tanaman hijau
yang memiliki kegiatan fotosintesa. Penerapan energi pelengkap dalam bentuk kerja
manusia dan hewan, bahan bakar, mesin, alat-alat pertanian, pupuk, dan, obat-obatan
tidak lain adalah sebagai usaha untuk meningkatkan proses konversi energi matahari ke
dalam bentuk produk tanaman. Tidak semua energi cahaya matahari dapat diabsorpsi
oleh tanaman. Hanya cahaya tampak saja yang dapat berpengaruh pada tanaman dalam
kegiatan fotosintesisnya. Cahaya itu disebut dengan PAR (Photosynthetic Activity
Radiation) dan mempunyai panjang gelombang 400 mili mikron sampai 750 mili
mikron. Tanaman juga memberikan respon yang berbeda terhadap tingkatan pengaruh
cahaya yang dibagi menjadi tiga yaitu, intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya
penyinaran (Jumin 2008).
Distribusi radiasi elektromagnetik yang diemisikan matahari hampir sama dengan
radiasi benda hitam untuk suhu 6000 K. Dari persamaan antara spektra matahari dan
spektra benda hitam, diperoleh suhu perkiraan dari lapisan permukaan matahari tampak.
Akan tetapi karena matahari tidak meradiasikan secara sempurna seperti halnya benda
hitam maka akan diperoleh hasil yang sedikit berbeda. Radiasi elektromagnetik cukup
terpenting dalam proses pertukaran energi didalam atmosfer. Radiasi ini menjalar dalam
bentuk gelombang dengan kecepatan 3 x 1010 cm/detik (Bayong Tjasyono HK 2004).
Dalam rangka memaksimalkan penerimaan dan pemanfaatan cahaya matahari
tersebut, maka dibuatlah alat yang dinamakan reflektor. Reflektor adalah sebuah alat
yang digunakan untuk memantulkan cahaya atau sinar matahari guna menambah
intensitas sinar yang akan diserap atau digunakan oleh tanaman untuk fotosintesis.
Reflektor atau alat pemantul biasanya berwarna cerah dengan permukaan yang halus
(Silver atau Putih). Tinggi reflektor disesuaikan dengan tinggi tanaman atau tinggi tajuk
daun sehingga sinar yang dipantulkan pas mengenai daun (Arifin 2013).
Sama

dengan

alat-alat

lainnya,

Reflektor

memiliki

keunggulan

dan

kekurangan. Keunggulan dari reflektor ialah saat unsur hara, air dan zat-zat yang

dibutuhkan tanaman cukup di dalam tanah dan dapat diserap oleh akar maka tanaman
yang menggunakan reflektor akan lebih cepat pertumbuhannya karena proses fotosintesis
berjalan sangat optimal dan bahan yang digunakan fotosintesis pun cukup. Jika proses
fotosintesis cukup maka hasil atau energi yang didapatkan tanaman untuk tumbuh akan
lebih banyak sehingga proses pertumbuhannya cepat. Kekurangan atau kelemahan
penggunaan reflektor ini ialah jika bahan yang dibutuhkan untuk fotosintesis terbatas,
maka keberadaan dari reflektor justru akan mengakibatkan kekeringan pada tanaman
karena tanaman berfotosintesis banyak tapi bahannya sedikit sehingga memicu respirasi
yang berlebihan (Arifin 2013).
Tidak selamanya intensitas cahaya pada tanaman yang diberi reflektor tinggi
karena sinar matahari juga dipengaruhi oleh kondisi awan dan naungan disekitar tanaman
yang akan menghalangi sinar matahari jatuh ke permukaan reflektor. Pada tanaman
tahunan perbedaan yang terlihat mungkin tidak cukup signifikan karena tanaman tahunan
melakukan proses pertumbuhan secara perlahan lahan, berbeda dengan tanaman semusim
tentu perbedaannya akan terlihat sangat nyata. Proses fotosintesis pada tanaman juga
tidak sepenuhnya hanya bergantung pada intensitas cahaya tetapi juga pada lebar daun,
permukaan daun dan keadaan angin serta faktor lain yang mempengaruhi (Arifin 2013).
Hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan reflektor antara lain : 1). Jenis
tanaman. Tiap jenis tanaman memiliki karakter dan respon yang berbeda terhadap cahaya
matahari. Pemanfaatan reflektor pada tanaman C3 yang butuh naungan justru akan
menghambat pertumbuhan tanaman itu sendiri. 2). Intensitas cahaya matahari.
Pemanfaatan reflektor pada tempat dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi justru
akan merugikan tanaman karena dapat memicu terjadinya respirasi. 3). Lama penyinaran
cahaya matahari. Pemanfaatan reflektor pada tempat yang memiliki durasi penyinaran
yang panjang akan merugikan tanaman. 4). Arah datangnya cahaya. Pemanfaatan
reflektor sebaiknya dilakukan pada daerah lembah yang tidak tersinari matahari dengan
baik. Keempat faktor tersebut harus diperhatikan dengan seksama agar manfaat dari
reflektor tanaman dapat dimanfaatkan (Subsisto 2012).

C Alat dan Cara Kerja


1 Alat

a Reflektor
b Luxmeter
c Anemometer
d Penggaris
Cara Kerja
a Persiapkan 10 tanaman yang akan diamati yaitu 8 tanaman cabai dan 2 tanaman
b

tomat.
Pemberian reflektor pada tanaman dengan 5 tanaman yang diberi reflektor dan 5

c
d
e

tanaman tanpa reflektor.


Melakukan pengukuran tinggi tiap-tiap tanaman menggunakan penggaris.
Melakukan pengukuran kecepatan angin pada tiap-tiap tanaman.
Melakukan pengukuran intensitas cahaya pada tiap-tiap tanaman.

D Hasil Pengamatan
Tabel 8.1 Tinggi Tanaman
Tanggal
29-10-2013
30-10-2013
31-10-2013
01-11-2013
02-11-2013
03-11-2013
04-11-2013
05-11-2013

R1
11
11,3
11,6
12,2
12,7
13,2
13,9
14,2

R2
12
11,4
11,7
12,2
12,6
13.4
13,8
14

R3
12
11,4
11,8
12,4
12,9
13,4
13,7
14

R4
10
11
11,3
12
12,5
13
13,2
13,8

Tinggi Tanaman ( cm )
R5
TR1
10
10
10,5
10
10,8
10,4
11,3
11
11,6
11,4
12,1
12
12,6
12,3
13
12,7

TR2
10
10
10,7
11,1
11,8
12,2
12,7
13

TR3
13
13,1
13,5
14
14,3
14,8
15
15,2

TR4
10
10,2
10,7
11,2
11,8
12,2
12,7
13

TR5
12
12,1
12,5
13,1
13,6
14
14,3
14,7

06-11-2013
07-11-2013
08-11-2013
09-11-2013
10-11-2013
11-11-2013
12-11-2013
13-11-2013
14-11-2013
15-11-2013
16-11-2013
17-11-2013
18-11-2013
19-11-2013
20-11-2013
21-11-2013
22-11-2013
23-11-2013
24-11-2013
25-11-2013
26-11-2013
27-11-2013
28-11-2013
29-11-2013

14,7
15
15,4
15,8
16,2
16,6
17
17,4
17,8
18,2
18,6
19
19,3
19,7
20,1
20,4
20.8
21,2
21,6
22
22,3
22,6
23
23,3

14,4
14,7
15,1
15,4
15,8
16,2
16,6
17,2
17,7
18,1
18,5
18,9
19,3
19,7
20,2
20,6
21
21,3
21,6
22
22,4
22,8
23,3
23,7

14,2
14,5
14,8
15,2
15,6
16
16,4
16,8
17,3
17,7
18,1
18,5
18,9
19,3
19,7
20,2
20,6
21
21,4
21,8
22,3
22,7
23
23,4

14,1
14,4
14,8
15,2
15,6
16
16,4
16,8
17,3
17,7
18,1
18,5
18,9
19,3
19,7
20,1
20,4
20,8
21,2
21,6
22
22,3
22,7
23,1

13,4
13,7
14,1
14,5
14,9
15,3
15,8
16,2
16,6
17
17,4
17,8
18,3
18,7
19,1
19,5
19,9
20,3
20,7
21,2
21,6
22
22,3
22,7

13
13,2
13,4
13,6
13,9
14,1
14,3
14,5
14,8
15
15,3
15,5
15,7
16
16,2
16,4
16,7
16,9
17
17,2
17,5
17,7
17,9
18,2

13,3
13,5
13,7
14
14,2
14,5
14,8
15
15,3
15,6
15,8
16,1
16,4
16,7
16,9
17,2
17,6
17,8
18
18,3
18,5
18,7
19
19,2

16
16,2
16,4
16,7
16,9
17,1
17,4
17,7
18
18,2
18,4
18,6
18,8
19
19,3
19,5
19,7
19,9
20,1
20,4
20,6
20,8
21,1
21,4

13,2
13,4
13,6
13,8
14
14,3
14,6
14,9
15,2
15,5
15,7
15,9
16,2
16,6
16,8
17,1
17,3
17,5
17,7
17,9
18,2
18,5
18,8
19

14,9
15,1
15,3
15,6
15,9
16,2
16,6
16,8
17
17,2
17,5
17,7
17,9
18,2
18,4
18,7
19
19,2
19,5
19,8
20
20,3
20,6
20,8

TR3
9000
57700
1130
81700
67800
76600
83400
74400
68800
17600
45600

TR4
6680
12500
1100
6300
68700
12000
9440
72800
26000
13300
18600

TR5
7080
57300
54000
48500
75600
57900
94900
77300
66000
15100
62500

Sumber : Data Rekapan

Tabel 8.2 Intensitas Cahaya pada Tanaman


Tanggal
29-10-2013
30-10-2013
31-10-2013
01-11-2013
02-11-2013
03-11-2013
04-11-2013
05-11-2013
06-11-2013
07-11-2013
08-11-2013

R1
44800
66500
44500
46400
52100
34200
82200
74700
59800
12000
57700

R2
3930
55000
7250
76200
60300
18400
11400
69000
69600
15500
68800

R3
73000
82200
66700
83400
25800
19600
98600
74500
72600
11300
52800

Intensitas Cahaya pada Tanaman ( Lux )


R4
R5
TR1
TR2
80400 79900 78000 27200
23500 86600 14000 43000
65000 55000 11000
9100
85800 36000 33200
6000
74300 99500 22600 45000
63300 64200
9500
12200
10200 95600
5600
94500
77400 76100 21900 58900
74000 71900 10200 15700
13900 13800
9800
14100
58200 68800
9300
14900

09-11-2013
10-11-2013
11-11-2013
12-11-2013
13-11-2013
14-11-2013
15-11-2013
16-11-2013
17-11-2013
18-11-2013
19-11-2013
20-11-2013
21-11-2013
22-11-2013
23-11-2013
24-11-2013
25-11-2013
26-11-2013
27-11-2013
28-11-2013
29-11-2013

53200
26900
5600
9000
8700
18100
26700
13000
11000
4500
13500
5400
78100
16500
43200
27400
6300
17500
11800
46300
33400

56000
10500
7300
11300
11000
71400
26800
10800
12000
3000
52100
16500
27000
36600
15200
42100
35700
24600
13500
22500
32600

56500
85000
9100
10800
10600
55500
20700
11300
12100
2700
10500
16100
25300
28800
31000
21000
21200
42100
48400
31900
21700

57000
72300
10500
12300
12500
9650
22600
10480
12890
2600
51100
36400
65000
18600
27800
56100
36600
49600
37400
28900
33700

50200
57900
13600
12400
11500
10300
18900
10700
12400
3300
28700
15000
61300
21800
42900
50500
16400
37600
29800
10900
57100

10900
10600
2900
6600
6800
10400
9100
3900
6100
1000
2170
1080
2310
4320
2100
1790
4380
57180
6610
10700
4980

31300
14800
6500
8000
7920
10100
15100
4500
8000
1700
43100
1050
5600
1030
4490
5710
16700
8710
6510
33100
5130

28200
19600
3500
11300
10500
11400
18800
6000
8600
2300
5100
76100
13500
57300
9170
15800
35600
15900
7650
3290
10800

23900
16600
6900
74000
72500
15400
15900
5500
8500
2100
1060
5770
1980
4310
6180
1670
28700
53400
32400
6530
7600

Sumber : Data Rekapan

E Pembahasan
Reflektor adalah sebuah alat yang digunakan untuk memantulkan cahaya atau sinar
matahari guna menambah intensitas sinar yang akan diserap atau digunakan oleh
tanaman untuk fotosintesis. Reflektor atau alat pemantu biasanya berwarna cerah dengan
permukaan yang halus ( Silver atau Putih ). Tinggi reflektor disesuaikan dengan tinggi
tanaman atau tinggi tajuk daun sehingga sinar yang dipantulkan pas mengenai daun.
Reflektor memiliki keunggulan dan kekurangan, keunggulannya saat unsur hara, air dan
zat-zat yang dibutuhkan tanaman cukup didalam tanah dan dapat diserap oleh akar maka
tanaman yang menggunakan reflektor akan lebih cepat pertumbuhannya karena proses
fotosintesis berjalan sangat optimal dan bahan yang digunakan fotosintesis pun cukup.
Jika proses fotosintesis cukup maka hasil atau energi yang didapatkan tanaman untuk
tumbuh akan lebih banyak sehingga proses pertumbuhannya cepat. Namun, jika bahan
yang dibutuhkan untuk fotosintesis terbatas keberadaan dari reflektor justru akan

43000
66600
8500
12300
11800
86000
20800
7600
11000
2200
65400
8730
63500
5300
63600
52700
7610
6150
18700
7530
6210

mengakibatkan kekeringan pada tanaman karena tanaman berfotosintesis banyak tapi


bahannya sedikit seingga memicu respirasi yang berlebihan.
Tidak selamanya intensitas cahaya pada tanaman yang diberi reflektor tinggi karena
sinar matahari juga dipengaruhi oleh kondisi awan dan naungan disekitar tanaman yang
akan menghalangi sinar matahari jatuh ke permukaan reflektor. Pada tanaman tahunan
perbedaan yang terlihat mungkin tidak cukup signifikan karena tanaman tahunan
melakukan proses pertumbuhan secara perlahan lahan, berbeda dengan tanaman semusim
tentu perbedaannya akan terlihat sangat nyata. Proses fotosintesis pada tanaman juga
tidak sepenuhnya hanya bergantung pada intensitas cahaya tetapi juga pada lebar daun,
permukaan daun dan keadaan angin serta faktor lain yang mempengaruhi.
Intensitas cahaya matahari menunjukkan pengaruh primer pada fotosintesis, dan
pengaruh sekundernya pada morfogenetik. Pengaruh terhadap morofogenetik hanya
terjadi pada intensitas rendah. Pengaruh tanaman dalam kaitannya dengan intensitas
cahaya salah satunya adalah penempatan daun dalam posisi di mana akan diterima
intersepsi cahaya maksimum. Daun yang menerima intensitas maksimal adalah daun
yang berada pada tajuk utama yang terkena sinar matahari.
Masing-masing tanaman memiliki reaksi yang berbeda terhadap intensitas cahaya.
Berdasarkan perbedaan reaksi tersebut, tanaman dibedakan menjadi tanaman C3, C4,
CAM. Tanaman C3 adalah tanaman yang hidup baik pada intensitas cahaya rendah, dan
tanaman C4 adalah tanaman yang hidup baik pada intensitas cahaya tinggi, sedangkan
tanaman CAM adalah tanaman yang hidup didaerah kering. Tanaman yang terbiasa
hidup tanpa naungan seperti Arenaria servillifolia memperlihatkan kondisi yang tidak
dapat berkembang dan tumbuh jika diberi naungan. Hal tersebut terbukti oleh habisnya
persediaan karbohidat.
Lebih lanjut, jika tanaman yang tanpa naungan ternaungi, terdapat beberapa
kemungkinan yang akan terjadi. Masalah yang dihadapi oleh sebuah daun yang ternaungi
adalah untuk mempertahankan suatu keseimbangan karbon yang positif, dan kerapatan
pengaliran di mana keadan ini tercapai, merupakan titik kompensasi. Dibawah intensitas
cahaya yang rendah terdapat tiga pilihan, yaitu : Pengurangan kecepatan respirasi,
peningkatan luas daun untuk memperoleh permukaan absorbsi cahaya yang lebih besar;
dan peningkatan kecepatan fotosintesis setiap unit energi cahaya dan luas daun.
Pada tabel 8.1 tinggi tanaman yang diberi reflektor dan tidak diberi reflektor
pertumbuhan tinggi tanamannya berbeda jauh. Dapat dilihat pada tabel 8.1 pada awal
pengamatan tinggi tanaman tidak mengalami perbedaan yang signifikan. Tetapi pada

akhir pengamatan dapat dilihat bahwa tanaman yang diberi reflektor pertumbuhan
tanamannya lebih cepat dibandingkan tanaman yang tidak diberi reflektor. Seperti yang
telah dijelaskan bahwa tanaman yang diberi reflektor intensitas cahayanya lebih banyak
atau lebih besar sehingga membantu proses fotosintesis pada tanaman.
Dapat dilihat pada tabel 8.2 dari tabel tersebut intensitas cahaya pada tanaman yang
diberi reflektor sangat berbeda jauh dengan tinggi tanaman yang tidak diberi reflektor.
Akan tetapi perbedaan intensitas cahaya ini yang sangat signifikan terjadi pada
pengamatan terakhir. Sedangkan pengamatan-pengamatan sebelumnya intensitas
cahayanya pada tanaman diberi reflektor dan tidak diberi reflektor relatif atau berubahubah. Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh pada saat pengamatan sinar matahari di tutupi
awan atau angin dan sebagainya.

F Kesimpulan dan Saran


1 Kesimpulan
Praktikum acara 8 mengenai reflektor ini dapat disimpulkan bahwa tanaman
yang diberi reflektor pertumbuhan tingginya lebih cepat dibandingkan tanaman yang
tidak diberi reflektor. Dan intensitas cahaya sekitar tanaman pada tanaman yang
diberi reflektor lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tidak diberi reflektor.
Meskipun dalam pengamatan intensitas cahayanya berubah-ubah atau tidak tetap. Hal
ini bisa saja dipengaruhi oleh pada saat pengamatan daerah tersebut ditutupi awan
atau dipengaruhi angin, dan bisa juga saat pengamatan cuacanya mendung atau
2

sebagainya.
Saran
Saran untuk praktikum acara 8 mengenai reflektor ini adalah alangkah baiknya
tanaman yang digunakan sejenis. Sehingga pertumbuhan tanamannya tidak
terpengaruhi oleh perbedaan jenis tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
HK, Tjasyono Bayong 2004. Klimatologi. Bandung: Penerbit ITB.
Jumin, H.B 2008. Dasar-Dasar Agronomi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Purwoko 2009. Pengukuran Kemampuan Penyerapan Panas Matahari
dengan Reflektor Model Kanal Vol. 8 No. 1 hal 35-41.
Muhammad Arifin 2013. Reflektor untuk pertanian. http://agrososial.blogspot.com/2013/01/reflektor-untuk-pertanian.html. Diakses
tanggal 04 Desember 2013
Ntdry 2012. Reflektor Tanaman.
http://expletusamare.blogspot.com/2012/12/agroklimatologi-reflektortanaman.html. Diakses tanggal 04 Desember 2013