Anda di halaman 1dari 11

ASPEK

HUKUM
DALAM
BISNIS

Hukum Kepailitan

KELOMPOK 4
Nama Anggota:
1.Ni Gusti Putri CittaSuci
(128 694 209)
2.Kurnia Dwi Isroyati
(128 694 218)
3.Rachma Kartika Putri(128 694219)
4.Lailatus Sufro
(128 694 221)
5.Anggi Arsandi A.
(128 694 223)
6.Reffy Arfyanda
(128 694 231)
7.Inne Nidya Astuti
(128 694 242)

Pengertian Pailit Pada Perusahaan


Pailit dapat diartikan debitor dalam keadaan
berhenti membayar hutang karena tidak mampu
(bankcrupt).
Kepailitan adalah sita umum terhadap semua
kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan
pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah
pengawasan hakim pengawas sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004.

Syarat Permohonan Pernyataan Pailit


Dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 disebutkan
bahwa syarat yang harus dipenuhi jika debitur ingin
mengajukan permohonan pailit mempunyai :
1. Dua atau lebih kreditur
2. Syarat harus adanya hutang
3. Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang sudah
jatuh tempo dan dapat ditagih
4. Syarat pemohon pailit

Pihak-Pihak yang dapat Mengajukan


Permohonan Penyitaan Pailit
1. Debitur
2. Kreditur
3. Kejaksaan untuk kepentingan umum.
4. Bank Indonesia, dalam hal debitur adalah bank
5. Badan Pengawas Pasar Modal, dalam hal debitur adalah
perusahaanefek,

bursa

efek,

lembaga

miring

dan

penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian.


6. Menteri Keuangan, dalam hal debitur adalah perusahaan
asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun, atau
Badan Usaha Milik Negara

Aspek Hukum Kepailitan bagi Badan Usaha


Pengaturan mengenai kepailitan di Indonesia dapat dilihat
dalam beberapa ketentuan antara lain :
1. UU NO.37 tahun 2004 tentang kepailitan dan penundaan
kewajiban pembayaran
2. UU NO.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
3. Dan beberapa undang-undang lainnya yang mengatur mengenai
BUMN (UU NO.19 tahun 2003), yayasan (UU NO.16 tahun
2001), Koperasi (UU NO.25 tahun 1992)

Proses Putusan Kepailitan


Proses permohonan dan putusan pernyataan pailit diatur
dalam pasal 6 s.d pasal 11 Undang-undang No. 37 tahun
2004. Prosesnya adalah sebagai berikut:
1. Tahap pendaftaran permohonan pernyataan pailit
2. Tahap pemanggilan para pihak
3. Tahap persidangan atas permohonan pernyataan pailit
4. Tahap putusan atas permohonan pernyataan pailit

Akibat Putusan Kepailitan


1. Akibat kepailitan terhadap harta kekayaan debitur pailit
(di atur dalam pasal 21 & 22 UU No. 37 Tahun 2004)
2. Akibat kepailitan terhadap seluruh perikatan yang dibuat
debitur pailit (di atur dalam pasal 25 & 26 UU No. 37
Tahun 2004)
3. Akibat kepailitan terhadap seluruh perbutan hukum
debitur yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit
diucapkan (di atur dalam pasal 41 & 42 UU No. 37 Tahun
2004)

Contoh Kasus 1
Pembatalan Pailit PT. Dirgantara Indonesia
Pembatalan pailit PT. Dirgantara Indonesia (PT DI) telah di
lakukan di tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung (MA).
Alasannya yaitu sesuai dengan Undang-Undang Kepailitan,
karyawan tidak memiliki hak untuk mempailitkan sebuah
Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Contoh Kasus 2
Beberapa bank dalam sindikasi kredit di antara nya PT. Royal
Bank Indonesia, PT. Bank Sriti Mabur, dan PT. BPR Adem Ayem
mengajukan permohonan kepailitan di Pengadilan Niaga pada
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap : PT. Gading Mas Jaya.
Tbk Jakarta karena PT. GMJ tidak membayar utangnya yang
telah jatuh tempo dan dapat ditagih sebesar $ 1,5 jt. Selain
jaminan pribadi, PT. GMJ juga memberikan agunan berupa tanah
kepada PT. Bank Sriti Mabur dan PT. Royal Bank Indonesia,
sehingga 2 bank tersebut sebagai kreditur yang di dahulukan
selain kepada sindikasi Bank tersebut PT. GMJ juga mempunyai
utang kepada PT. BPR.

TERIMA
KASIH