Anda di halaman 1dari 12

PEMERIKSAAN HOSPES PARASIT

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Rombongan
Asisten

: Yoke Astriani
: B1J011072
:1
: II
: Adi Wibowo

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2013

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Parasitologi adalah suatu ilmu cabang Biologi yang mempelajari tentang
semua organisme parasit. Tetapi dengan adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini
terbatas mempelajari organisme parasit yang tergolong hewan parasit, meliputi:
protozoa, helminthes, arthropoda dan insekta parasit, baik yang zoonosis ataupun
anthroponosis. Organisme parasit adalah organisme yang hidupnya bersifat
parasitis, yaitu hidup yang selalu merugikan organisme yang ditempatinya (hospes)
(Brotowidjojo, 1987).
Parasit dapat diperankan oleh binatang atau tumbuhan. Jika yang bertindak
sebagai parasit tersebut binatang, disebut zooparasit, sedangkan jika tumbuhan
disebut phytoparasit. Sekarang ini yang dimaksud dengan parasit, yaitu zooparasit
sehingga untuk selanjutnya parasit dibatasi pada zooparasit, sedangkan parasit yang
termasuk ke dalam phytoparasit dipelajari dalam bakteriologi (LIPI, 1983).
Hospes yang dirugikan itu dapat digolongkan menjadi 4 macam yaitu
hospes definitif, hospes perantara, hospes predileksi dan hospes reservoir. Hospes
definitif yaitu hospes yang membantu hidup parasit dalam stadium dewasa/stadium
seksual. pengaruh parasit terhadap hospesnya yaitu menderita kerugian
(parasitisme), menderita kerugian, terjadi keseimbangan antara parasit dengan
hospes. Penyakit cacing ini pada berbagai kasus.Umumnya menyerang ternak yang
dipelihara dengan tata laksana kurang baik, khususnya ternak yang berumur
muda.Geografis Indonesia yang terletak di daerah sangat basa (super humid
climatic area).Dengan demikian pengaruh kekeringan tidak pernah berlangsung
lama hingga dapat mematikan stadia di alam bebas, sedangkan suhu udara
sepanjang tahun adalah optimal bagi kelangsungan hidup stadia infeksi cacing
untuk berkembang. Oleh karenanya ketahanan hidup /survival rate stadia infektif
di luar hospes (ternak sapi) tinggi dan populasi stadium infektif meningkat dengan
cepat. Fascioliasis pada ternak sapi ini mempunyai prevalensi yang tinggi karena
sapi yang dipelihara secara ekstensif, dimana untuk dapat makanan sapi mencari
sendiri sehingga tidak menjamin baik secara kuantitas maupun kualitas mendapat
makanan sesuai dengan kebutuhannya. Kekurangan makanan akan menyebabkan

ternak mengalami malnutrisi. Sebaiknya sapi yang mengalami malnutrisi akan


lebih peka (Brotowidjojo, 1987).
Mengenai hospes (tuan rumah) yang menjadi tempat bagi parasit untuk
menggantungkan hidup dan pembiakannya, ada beberapa istilah yang perlu
diketahui. Hospes definitif (hospes terminal/akhir), yaitu manusia, hewan, atau
tumbuhan yang menjadi tempat hidup parasit dewasa dan atau parasit mengadakan
rcproduksi seksual. Hospes perantara (intermediate host), yaitu manusia, hewan,
atau tumbuhan yang menjadi tempat parasit menyempurnakan sebagian dari siklus
hidupnya dan atau tempat parasit mengadakan pembiakan aseksualnya. Beberapa
penelitian menunjukkan, keong berperan sebagai inang perantara cacing golongan
Trematoda (cacing yang memiliki batil isap). Jenis cacing Trematoda yang dapat
hidup dan berkembang biak dalam tubuh manusia dan ditularkan melalui perantara
siput/keong adalah salah satunya cacing dari famili Echinostomatidae. Cacing ini
merupakan cacing yang berbentuk seperti daun, hidup dan berkembang pada usus
manusia. Stadium dewasa cacing ini berukuran (2,5-6,5)x(1-1,35) mm, tebal (0,50,6) mm. Sedangkan stadium larvanya yang hidup pada tubuh keong berukuran
sangat kecil, sehingga hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Selain manusia, inang
definitif bagi cacing Trematoda ini adalah tikus, anjing, burung, bebek, dan
golongan unggas lainnya. Bila keong mengandung metaserkaria cacing Trematoda
dalam tubuhnya kemudian dimasak tidak matang dan termakan manusia,
metaserkaria cacing dalam tubuh keong dapat berkembang menjadi cacing stadium
dewasa pada tubuh manusia (Sulianti, 2006).
B. Tujuan
Tujuan

dari

praktikum

ini

adalahuntuk

mengetahui

teknik-teknik

pemeriksaan penyakit parasit seperti telur atau cacing didalam empedu sapi serta
untuk mengetahui berbagai stadium perubahan larva pada cacing Trematoda
parasit, terutama dalam tubuh siput air tawar dan untuk mengetahui jenis-jenis
siput yang diperkirakan sebagai hospes perantara cacing Trematoda.

II. MATERI DAN CARA KERJA


A. Materi
Alat yang digunakan saat acara praktikum pemeriksaan hospes parasit
adalah Alat bedah, cover glass, objek glass, mikroskop, baki, dan sarung tangan.
Bahan yang digunakan yaitu, usus ayam kampung, hati sapi, empedu sapi, keong,
dan babat sapi.
B. Cara Kerja
Metode yang digunakan dalam praktikum pemeriksaan hospes parasit
adalah :
A. Cara kerja Pemeriksaan Parasit pada Hati Sapi
1. Hati sapi dibawa ke laboratorium.
2. Kemudian diambil sedikit dan di taruh di obyek glass
3. Diamati di mikroskop.
B. Cara Kerja Pemeriksaan Kantong Empedu Sapi:
1.
2.
3.
4.

Kantong empedu dibawa ke laboratorium.


Disiapkan beaker glass ukuran 1 liter.
Kantong empedu digunting, dan cairan dimasukkan kedalam beaker glass.
Kemudian tuangi air sampai hampir penuh, ditunggu 5 menit, cairan atas
dibuang, dilakukan beberapa kali ( 5 kali) sampai didapatkan endapan yang

jernih.
5. Setelah jernih endapan diambil dengan pipet dan tetesi ke obyek glass
kemudian tutup dengan cover glass.
6. Dan diamati di mikroskop.
C. Cara kerja Pemeriksaan Parasit pada Usus Ayam
1. Usus ayam yang diambil dari pemotongan ayam, dibawa ke laboratorium.
2. Usus ayam kampung di bedah dengan gunting secara hati-hati.
3. Diamati bagian yang keluar dari dalam usus sapi
4. Bila terdapat cacing parasit ambil, bersihkan dan rendam dengan NaCl 0,9%
D. Cara Kerja Intermedier

1.

Keong dipotong atau diiris, tepatnya di bagian sutura ketiga (pada bagian
hati)

2.

Irisan tadi dibuka dan cairan yang keluar dari keong langsung diteteskan
diatas objek gelas.

3.

Kemudian ditutup dengan cover glass

4.

Bagian bawah gelas obyek dilap dengan tisue

5.

Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah terlebih dahulu.

E. Cara kerja Pemeriksaan Parasit pada Babat Sapi


1. Babat sapi dibawa ke laboratorium.
2. Diambil babat sapi tadi sedikit dan di taruh di obyek glass
3. Diamati di mikroskop.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel1. Hasil pemeriksaan hospes parasit
Nama Hospes
Usus ayam kampung
Hati sapi
Babat Sapi
Keong
Empedu

Nama Parasit
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Tidak Ada

B. Pembahasan
Praktikum pemeriksaan hospes parasit ini menggunakan 5 preparat yaitu
hati sapi, empedu, babat, usus ayam kampung, dan keong sebagai hospesnya. Hasil
yang didapat pada kelompok kami untuk hati sapi hasilnya negatif (tidak terdapat
jenis parasit apapun), begitupun dengan preparat lainnya empedu, babat, usus ayam
kampung dan keong hasilnya negatif atau tidak ditemukan parasit pada hospes
tersebut. Hal ini dimungkinkan karena preparat yang dibawa oleh praktikan masih
bagus sehingga tidak ditemukan parasit pada preparat tersebut, selain itu juga bisa
dikarenakan kurangnya ketelitian saat mengamati preparat sehingga untuk parasitparasit yang ukurannya sangat kecil sangat sulit untuk ditemukan.
Hasil data dari satu rombongan ternyata hanya terdapat satu jenis parasit
yaitu telur Fasciola hepatica pada empedu sapi. Menurut Bendryman (2004)
Fasciola sp. merupakan suatu parasit cacing pipih dari kelas Trematoda, filum
Platyhelminthes yang menginfeksi hati dari berbagai mamalia, termasuk manusia.
Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini disebut fascioliasis. Jenis cacing ini
tersebar di seluruh dunia dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dalam
peternakan domba dan sapi.
Ciri-ciri umum dari Fasciola sp. yaitu bentuk tubuh seperti daun, bentuk
luarnya tertutup oleh kutikula yang resisten, merupakan modifikasi dari epidermis,
cacing dewasa bergerak dengan berkontraksinya otot-otot tubuh, memendek,
memanjang dan membelok. Dalam daur hidup cacing hati ini mempunyai dua
macam inang yaitu: Inang perantara yakni siput air, dan Inang menetapnya yaitu
hewan bertulang belakang pemakan rumput seperti sapi dan domba. Fasciola
hepatica merupakan entoparasit yang melekat pada dinding duktusbiliferus atau
pada epithelium intestinum

atau pada endothelium

venae dengan alat

penghisapnya. Makanannya diperoleh dari jaringan-jaringan, sekresi dan sari-sari


makanan dalam intestinum hospes dalam bentuk cair, lendir atau darah. Di dalam
tubuh, makanan dimetabolisir dengan cairan limfa, kemudian sisa-sisa metabolisme
tersebut dikeluarkan melalui selenosit. Perbanyakan cacing ini melalui autofertilisasi yangberlangsung pada Trematoda bersifat entoparasit, namun ada juga
yang secara fertilisasi silang melalui canalis laurer (Purwanta et al., 2006).
Daur hidup Fasciola sp. menurut Bendryman (2004)
1. Telur keluar ke alam bebas bersama faeces domba. Bila menemukan habitat
2.

basah. telur menetas dan menjadi larva bersilia, yang disebut Mirasidium.
Mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea akan tumbuh

3.
4.

menghasilkan Sporokista.
Sporokista seara partenogenesis akan menghasilkan Redia
Redia secara paedogenesis akan membentuk serkaria.

Serkaria

meninggalkan tubuh siput menempel pada rumput dan berubah menjadi


5.

metaserkaria.
Metaserkaria termakan oleh hewan ternak berkembang menjadi cacing
muda yang selanjutnya bermigrasi ke saluran empedu pada hati inang yang
baru untuk memulai daur hidupnya.

Menurut Suweta (1985) Fasciola sp. (cacing hati) terdapat dua spesies yang
penting dan tersebar diseluruh dunia adalah :
1. Fasciola hepatica
Kingdom : Animalia
Phyulm : Platyhelminthes
Kelas
: Trematoda
Ordo
: Echinostomida
Famili
: Fasciolidea
Genus
: Fasciola
Spesies : Fasciola hepatica
2. Fasciola gigantica
Kingdom : Animalia

Phyulm
: Platyhelminthes
Kelas
: Trematoda
Ordo
: Echinostomida
Famili
: Fasciolidea
Genus
: Fasciola
Spesies
: Fasciola gigantica
Secara anatomi, Fasciola sp terdiri dari faring yang letaknya terdapat di
bawah oral, cacing jenis ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel
api. adapun terdapat sebuah pharing, namun pharing tersebut

tidak berotot.

Tegumen atau lapisan kutikula berfungsi memberi perlindungan terhadap pengaruh


enzim pencernaan. Tegumen padat endoparasit membantu menyerap glukosa dan
asam amino. Selain itu terdapat arterium yang letaknya di bawah penis dan
esofangus. Selain itu, terdapat uterus, vasikula seminalis, ovary serta oviduk pada
hewan ini. Dalam beberapa negara infeksi pada manusia adalah klinis meningkat
danmasyarakat masalah kesehatan. Parasit kosmopolitan inidistribusi dan terjadi
dalam hati domba, kambing, sapi dan manusia (Hafeez, 2003).
Cacing Fasciola sp. menyebabkan penyakit yang disebut fasciolosis. Pada
umumnya yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Fasciola gigantica.
Fasciolosis pada kerbau dan sapi biasanya bersifat kronik, sedangkan pada domba
dan kambing dapat bersifat akut. Kerugian akibat fasciolosis ditaksir 20 Milyard
rupiah / tahun yang berupa : penurunan berat badan serta tertahannya pertumbuhan
badan, hati yang terbuang dan kematian. Disamping itu kerugian berupa penurunan
tenaga kerja dan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit lain yang tidak
terhitung. Fasciola sp. hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini
memakan jaringan hati dan darah. Cacing Fasciola sp. mengalami proses
pendewasaan di dalam saluran empedu. Cacing Fasciola sp. dewasa dalam hospes
definitive dapat hidup rata-rata antara satu sampai tiga tahun didalam hati
(Bendryman, 2004). Mirasidium mengalami metamorfosis menjadi sporokista yang
bentuknya seperti kantung yang tidak teratur. Sporokista akan berkembang, dan
pembentukan sporokista generasi kedua akan disebut Redia. Redia keluar dari
Sporokista induk yang robek dan dari Redia terbentuk Serkaria. Dari satu
mirasidium dapat menjadi beribu-ribu Serkaria yang akhirnya akan keluar dari
tubuh siput masuk ke dalam air untuk mencari hospes perantara yang kedua
(Widyastuti, 2002).

Parasit yang sama sekali tidak dapat hidup tanpa hospes disebut parasit
obligat (permanen); sedangkan organisme yang hidup bebas akan tetapi suatu
waktu dapat menjadi parasit disebut parasit fakultatif (opportunist), contohnya
Micronema dan beberapa ameba yang hidup bebas akan tetapi pada suatu waktu
dapat masuk dan membentuk koloni di dalam otak manusia, yaitu genus
Acanthamoeba dan Naegleria. Untuk organisme demikian, Noble et al. (1989)
menamakan amphizoic. Yang dimaksud dengan parasit temporer atau intermitten,
yaitu parasit yang sebagian masa hidupnya, hidup bebas, sewaktu-waktu akan
menjadi parasit, contohnya Strongyloides stercoralis. Spesies asing yang melalui
intestinum dan ditemukan dalam tinja manusia dalam keadaan hidup/mati disebut
parasit koprozoik atau parasit spuria (palsu); sedangkan pseudoparasit merupakan
artefak yang mirip parasit, sering kali disangka sebagai parasit. Jika parasit
kebetulan bersarang pada hospes yang biasanya tidak dihinggapinya disebut parasit
insidentil.
Siput kebanyakan adalah spesies air tawar, mempunyai peranan penting
sebagai hospes perantara pertama, untuk trematoda manusia yang hidup sebagai
parasit. Hanya beberapa spesies yang dapat menjadi hospes, dan identifikasi serta
pemberantasan mempunyai peranan penting dalam pencegahan infeksi pada
manusia (Widyastuti, 2002).
Sebagian besar siput berperan sebagai hospes perantara dalam Trematoda.
Stadium pertumbuhannya adalah Sporokista, Redia, Serkaria yang terjadi dalam
organ hati siput.Oleh karena itu dalam pemeriksaan pemotongan tubuh siput
dilakukan pada lingkaran atau ruas ketiga cangkang siput.Trematoda memiliki fase
pertumbuhan aseksual di dalam tubuh siput.Pertumbuhan ini dimulai dengan
masuknya mirasidium ke dalam jaringan tubuh siput bila mirasidium telah
mencapai tempat yang sesuai (Noble dan Noble, 1989).Mirasidium yang keluar
dari telur bentuknya seperti buah jambu dan seluruh tubuhnya dikelilingi oleh silia
sehingga dapat berenang aktif pada air.Mirasidium dapat menembus tubuh siput
karena mempunyai enzim litik.Mirasidium lebih senang pada spesies siput karena
dipengaruhi oleh faktor kemotaksis cairan jaringan dan lendir yang terdapat pada
tubuh siput tersebut.Setelah berada di perairan kemudian mirasidium melepaskan
silia dan menembus tubuh siput. Proses ini hanya membutuhkan waktu beberapa
menit di dalam tubuh siput.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum pemeriksaan hospes parasit keong, hati, babat,


empedu sapi dan usus ayam kampung tidak terdapat parasit. Cacing Trematoda
parasit membutuhkan hospes perantara (siput/keong) dalam siklus hidupnya
Miracidium, sporocyste, Redia, serkaria, dan metaserkaria merupakan stadia yang
terdapat di dalam tubuh siput/keong.

B. Saran
Saran pada acara praktikum kali ini yaitu Untuk menjaga kualitas dari suat
ternak kandang ternak haruslah bersih sehingga hasil ternak tersebut akan aman
untuk dikonsumsi.

DAFTAR REFERENSI
Bendryman, S. S. 2004. Aspek Biologis dan Uji Diagnostik Fasciola. Universitas
Airlangga. Surabaya.
Brotowidjojo, M.D. 1987.Parasit dan Parasitisme.Pt. Melton Putra, Jakarta.
Hafeez, M. D. 2003. Helminth Parasit of Public Health Importance-Trematoda A>
N. G. Rangga Agricultural University. India
Lembaga Biologi Nasional (LIPI). 1983. Binatang Parasit. Lembaga Biologi
Nasional (LIPI), Bogor.
Noble, E. R dan G. A. Noble. 1989. Parasitologi : Biologi Parasit Hewan. UGM,
Yogyakarta.
Purwanta et al. 2006.Penyakit Cacing Hati (Fasciolasis) pada Sapi Bali di
Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Makassar. Jumal
Agrisistem. Vol. 2 (II) : 63-69
Sulianti, L. 2006. Bahaya Makan Tutut Tidak Matang. http://www.Kesehatan &
Psikologi-Suplemen-Hikmah- Pikiran-Rakyat-EdisiOnlinewww.pikiranrakyat.com.html. Di akses tanggal 27 Maret 2011.
Suweta, Putu. 1985. Kerugian Ekonomi oleh Cacing Hati pada Sapi. Alumni,
Bandung.
Widyastuti, R. 2002. Parasitologi. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta.