Anda di halaman 1dari 5

Karakteristik

Kartu

Kredit

Syariah

dan

Manfaatnya

Dibandingkan Dengan Kartu Kredit Konvensional


RIZKI FAUZI SA
(F0312106)

A. Pendahuluan
Dewasa ini banyak sekali orang-orang yang belum mengetahui apa itu kartu kredit
syariah. Mereka umumnya masih banyak yang menggunakan kartu kredit konvensional.
Padahal seperti yang kita ketahui dalam perspektif syariah penggunaan kartu kredit
konvensional adalah mengandung riba dan hal tersebut sangat diharamkan oleh Islam.
Sebelum memasuki penjelasan yang lebih dalam lagi, alangkah baiknya kita mengetahui apa
itu kartu kredit syariah.
Dewan Syariah Nasional nasional sendiri telah menetapkan fatwa tentang bagaimana
produk kartu kredit syariah dijalankan. Dalam fatwa No: 54/DSN-MUI/X/2006 tersebut,
syariah card diartikan sebagai kartu yang berfungsi seperti kartu kredit yang hubungan
hukum (berdasarkan sistem yang sudah ada) antara beberapa pihak dijalankan berdasarkan
prinsip syariah. Beberapa pihak yang disebutkan tersebut juga memiliki istilah masingmasing. Seperti pihak penerbit kartu disebut mushdir al-bithaqah, pemegang kartu
disebut hamil al-bithaqah dan penerima kartu disebut merchant, tajir atau qabil al-bithaqah.
Seperti yang kita tahu mengapa masih banyak orang yang masih menggunakan kartu
kredit konvensional daripada kartu kredit syariah karena kurangnya sosialisi terhadap adanya
kartu kredit syariah itu sendiri. Biasanya orang-orang yang memiliki rekning di bank syariah
rata-rata hanya memiliki kartu debitnya saja (kartu atm) dan tidak memiliki kartu kredit
syariahnya. Disamping itu bank syariah juga sebaiknya menjelaskan tetntang perbedaan kartu
kredit syariah dengan kartu kredit konvensional agar pengguna kartu kredit syariah lebih
meingkat dan bisa menjunjung hakikat-hakikat dalam Islam.

Oleh karena itu pada bab selanjutnya akan dibahas mengenai karakteristik kartu
kredit syariah secara lebih terperinci lebih lagi dan mengetahui perbedaan yang mendasar
antara kartu kredit syariah dengan kartu kredit konvensional.
B. Pembahasan
Perbedaan antara kartu kredit syariah dan kartu kredit konvensional adalah: Kartu
kredit konvensional mengutamakan adanya bunga (misalnya sebesar 2-4% per bulan) sebagai
bentuk pengambilan keuntungan terhadap pelunasan tagihan yang dicicil. Nilai ini berbentuk
bunga berbunga, sehingga dalam 1 tahun saja bunganya saja bisa mendekati nilai transaksi
awal. Sementara itu, kartu kredit syariah tidak mengenal istilaah bunga karena dalam syariah,
bunga bisa dikategorikan sebagai riba dan hal tersebut sangat diharamkan. Sebagai pengganti
bunga (dalam kartu kredit konvensional), kartu kredit syariah hanya mengenakan fee yang
besarnya disesuaikan dengan sisa kewajiban yang belum dibayar oleh nasabah sesudah jatuh
tempo. Hal inilah yang dinilai meringankan para nasabah.
Kartu Kredit Syariah, mengklaim adanya skema unik berdasarkan sistem syariah,
yaitu akad ijarah, kafalah, dan qardh.
Akad ijarah adalah biaya keanggotaan (iuran tahunan) dalam hal ini Penerbit Kartu
adalah penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap Pemegang Kartu. Atas
Ijarah ini, Pemegang Kartu dikenakan membership fee.
Kafalah adalah penjaminan transaksi dalam hal ini Penerbit Kartu adalah
penjamin (kafil) bagi Pemegang Kartu terhadap Merchant atas semua kewajiban
bayar (dayn) yang timbul dari transaksi antara Pemegang Kartu dengan
Merchant, dan/atau penarikan tunai dari selain bank atau ATM bank Penerbit
Kartu. Atas pemberian Kafalah, penerbit kartu dapat menerima fee (ujrah
kafalah).

Qardh adalah pemberian pinjaman untuk pengambilan tunai. dalam hal ini
Penerbit Kartu adalah pemberi pinjaman (muqridh) kepada Pemegang Kartu
(muqtaridh) melalui penarikan tunai dari bank atau ATM bank Penerbit Kartu.

Secara umum skemanya seharusnya tidak jauh beda dari kartu kredit konvensional,
tapi untuk mendukung 3 jenis skema akad tersebut, Kartu Kredit Syariah menggunakan
sejumlah aturan pendukung karena tidak menggunakan bunga.
Ada 3 hal yang diharapkan dapat meredam kemungkinan terjebak pada bunga/riba:
(a) Goodwill investment. Pengguna wajib menyetor goodwill investment (misalnya
sebesar 10% dari limit). Ini bertujuan supaya penggunaan kartu kredit tidak semena-mena;
(b) Pembukaan rekening. Pengguna wajib membuka rekening di bank syariah
(misalnya sebesar minimum 500 ribu rupiah).
(c) Pengenaan Denda
Kartu kredit syariah, atau biasa disebut syariah card memang memiliki ketentuan
sendiri dibanding dengan kartu kredit konvensional. Seperti produk syariah lain, lagi-lagi
tidak ada sistem bunga dalam kartu kredit syariah. Bila kartu kredit konvensional
mengutamakan adanya bunga sebagai bentuk pengambilan keuntungan terhadap pelunasan
tagihan yang dicicil. Namun, kartu kredit syariah mengklaim adanya skema unik berdasarkan
sistem syariah.
Untuk mengetahui lebih jelasnya, berikut adalah beberapa istilah tentang
syariah card yang wajib Anda ketahui dikutip dari fatwa Dewan Syariah Nasional;

Pada syariah card, istilah untuk menyebut biaya keanggotaan ini adalah rusum
al-udhwiyah. Biaya ini termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu,
sebagai imbalan izin menggunakan kartu yang pembayarannya berdasarkan kesepakatan.

Para pihak sebagaimana dimaksud adalah pihak penerbit kartu (mushdir al-bithaqah),
pemegang kartu (hamil al-bithaqah) dan penerima kartu (merchant, tajir atau qabil albithaqah).

Merchant Fee. Biaya

ini

adalah

biaya

pada syariah

card yang diberikan

oleh merchant kepada penerbit kartu sehubungan dengan transaksi yang menggunakan
kartu sebagai upah/imbalan (ujrah) atas jasa perantara (samsarah), pemasaran (taswiq)
dan penagihan (tahsil al-dayn).

Tarik tunai. Biaya Tarik tunai di syariah card disebut sebagai rusum sahb alnuqud, yaitu fee atas penggunaan fasilitas untuk penarikan uang tunai.

Biaya keterlambatan. Tawidh adalah ganti rugi terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh penerbit kartu akibat keterlambatan pemegang kartu dalam membayar kewajibannya
yang telah jatuh tempo.

Denda keterlambatan pada syariah card adalah denda akibat keterlambatan pembayaran
kewajiban yang akan diakui seluruhnya sebagai dana sosial.

Ada 2 jenis denda yang akan dikenakan bila pengguna Kartu Kredit Syariah terlambat
melunasi utangnya. Misalnya, Denda pertama adalah tawidh, sebagai biaya penagihan bank,
sebesar 17 ribu per bulan. Denda kedua adalah sebesar 3% dari tagihan. Tapi ingat, jumlah
itu bukan bunga karena merupakan qardhul hasan yang akan disumbangkan ke BAZIS dan
bukan hak bank.
Secara umum, skema yang dimiliki syariah card sebenarnya tidak jauh beda
dari kartu kredit konvensional. Tapi untuk mendukung jenis skema akad yang dimiliki,
syariah card menggunakan sejumlah aturan pendukung karena tidak menggunakan bunga.
Ketentuan tentang Batasan (Dhawabith wa Hudud) Syariah Card :
1. Tidak menimbulkan riba.
2. Tidak digunakan untuk transaksi yang tidak sesuai dengan syariah.
3. Tidak mendorong pengeluaran yang berlebihan (israf), dengan cara antara lain
menetapkan pagu maksimal pembelanjaan.
4. Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada
waktunya.
5. Tidak memberikan fasilitas yang bertentangan dengan syariah
Dari keterangan diatas, pemegang kartu kredit dan bank diharapkan bisa
mengingkatkan. Bank tidak mendorong pemegang kartu kredit untuk berlaku konsumtif
dengan memberikan batas maksimal pengeluaran, dan pemegang kartu merasa aman
bertransaksi dengan melunasi kewajiban saat jatuh tempo, dan tidak ada bunga. Hal yang
perlu diingat pada kartu kredit syariah adalah tidak ada bunga bukan berarti tidak ada biaya

tambahan. Perlu diingat, bank syariah tetap mengambil untung dari pemberian kredit, hanya
saja tidak dalam bentuk bunga seperti bank konvensional, tetapi dari fee atau jasa imbalan
dari pemberian kredit pada pemegang kartu atau nasabah, sesuai dengan prinsip syariah.

C. Penutup
Setelah dijelaskan diatas mengenai karakteristik penggunaan kartu kredit syariah
dapat diperoleh perbedaan yang mendasar antara kartu kredit syariah dengan kartu kredit
konvensional. Perbedaan dari keduanya tersebut adalah jika kartu kredit konvensional dalam
pemberian kreditnya masih menggunakan riba sedangkan kartu kredit syariah tidak
menggunakan riba tetapi menggunakan biaya (fee) dalam menggunakan kartu kredit syariah
tersebut.
Selain itu untuk meningkatkan penggunaan kartu kredit syariah, bank-bank syariah
sebaiknya lebih mensosialisai tentang salah satu produk mereka yaitu kartu kredit syariah dan
menjelaskan keuntungan-keuntungan apa saja yang didapatkandengan menggunakan kartu
kredit syariah. Dengan menggunakan kartu kredit syariah juga menghindari pemakaian riba
yang diharamkan oleh Islam.