Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS INVESTASI ASET RIIL (STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK)

MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI KESATUAN


2. TUJUAN PERUSAHAAN PERUSAHAAN SECARA KESELURUHAN BAIK SKALA KECIL,
MENENGAH MAUPUN BESAR SESUNGGUHNYA MEMILIKI TUJUAN PRIMER YANG
SAMA YAITU MENGHASILKAN LABA, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PEMILIK
PERUSAHAAN, MANAJEMEN, KARYAWAN, BERTUMBUH DAN MENYEDIAKAN
PRODUK SPESIFIK UNTUK MENJAWAB KEBUTUHAN TERTENTU MASYARAKAT.
3. TUJUAN PERUSAHAAN MEMAKSIMALISASI LABA MAKSIMALISASI LABA
BIASANYA DIHUBUNGKAN DENGAN SKALA WAKTU JANGKA PENDEK , YAITU
BAGAIMANA MENDAYAGUNAKAN KAPASITAS PERUSAHAAN YANG TERSEDIA SAAT
INI SEOPTIMAL MUNGKIN DIIKUTI DENGAN PENGENDALIAN BIAYA SEEFEKTIF DAN
SEEFISIEN MUNGKIN, SEHINGGA LABA YANG DIPEROLEH MAKSIMAL
MAKSIMALISASI NILAI PERUSAHAAN MEMAKSIMALISASI NILAI PERUSAHAAN
MERUPAKAN SASARAN JANGKA PANJANG , YAITU BAGAIMANA MEMPERBAIKI
KINERJA PERUSAHAAN SUPAYA TERUS MENINGKAT SEHINGGA KINERJA YANG BAIK
ITU MENDORONG MENINGKATNYA NILAI PERUSAHAAN PADA UMUMNYA KINERJA
MANAJEMEN PERUSAHAAN SELALU DIUKUR DARI KEMAMPUANNYA UNTUK
MEMPEROLEH LABA
4. TUJUAN PERUSAHAAN LABA DIPEROLEH DARI HASIL AKTIFITAS USAHA YANG
DILAKUKAN OLEH PERUSAHAAN DALAM BENTUK MEMPRODUKSI BARANG ATAU
JASA YANG DIBUTUHKAN OLEH MASYARAKAT DALAM MENJALANKAN AKTIFITAS
USAHANYA PERUSAHAAN MEMERLUKAN INVESTASI
5. PENGERTIAN INVESTASI INVESTASI PADA HAKEKATNYA MERUPAKAN
PENEMPATAN SEJUMLAH DANA PADA SAAT INI DENGAN HARAPAN UNTUK
MEMPEROLEH KEUNTUNGAN DI MASA YANG AKAN DATANG INVESTASI SELALU
BERHADAPAN DENGAN RESIKO KETIDAKPASTIAN KARENA PENGELUARAN
DILAKUKAN PADA SAAT SEKARANG, SEDANGKAN MANFAATNYA BARU AKAN
DITERIMA DALAM WAKTU YANG AKAN DATANG. MASA YANG AKAN DATANG
BERHADAPAN DENGAN BERBAGAI FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN, SEPERTI
PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH, TINGKAT INFLASI, TINGKAT SUKU BUNGA,
KONDISI POLITIK, SOSIAL EKONOMI, KEAMANAN. SEMAKIN BESAR
KETIDAKTAHUAN AKAN LAJU PERUBAHAN FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN DI MASA
DEPAN, SEMAKIN BESAR RESIKO YANG DIHADAPI. OLEH KARENA ITU, INVESTASI
MEMERLUKAN EVALUASI KELAYAKAN DALAM BENTUK ANALISIS SEBELUM
INVESTASI DILAKSANAKAN.
6. BENTUK INVESTASI INVESTASI DAPAT DILAKUKAN DALAM BERBAGAI BIDANG
USAHA, DALAM PRAKTEKNYA INVESTASI DAPAT DIREALISASIKAN DALAM 2
BENTUK YAITU : INVESTASI NYATA (REAL INVESTMENT) MERUPAKAN INVESTASI
DALAM BENTUK HARTA TETAP (FIXED ASSET) SECARA UMUM MELIBATKAN ASET
NYATA/ASET-ASET RIIL (REAL ASSETS) SEPERTI : PEMBELIAN TANAH, PENDIRIAN
PABRIK, PENDIRIAN BANGUNAN, PEMBELIAN PERALATAN ATAU MESIN, PEMBUKAAN
PERTAMBANGAN, PEMBUKAAN PERKEBUNAN DAN LAIN LAIN. INVESTASI
FINANCIAL (FINANCIAL INVESTMENT) MERUPAKAN INVESTASI YANG MELIBATKAN
ASET-ASET FINANSIAL (FINANCIAL ASSETS) DALAM BENTUK KONTRAK-KONTRAK
TERTULIS. INVESTASI ASET-ASET FINANSIAL DILAKUKAN DI : PASAR UANG,
INVESTASI DALAM BENTUK SERTIFIKAT DEPOSITO, COMMERCIAL PAPER, SURATSURAT BERHARGA PASAR UANG DLL. PASAR MODAL, INVESTASI DALAM BENTUK
SAHAM, OBLIGASI, WARAN, OPSI, DLL.
7. HUBUNGAN REAL INVESTMENT DENGAN FINANCIAL INVESTMENT PADA
PEREKONOMIAN PRIMITIF HAMPIR SEMUA INVESTASI MERUPAKAN INVESTASI RIIL,
SEDANGKAN PADA PEREKONOMIAN MODERN LEBIH BANYAK DILAKUKAN
INVESTASI FINANSIAL. LEMBAGA-LEMBAGA INVESTASI FINANSIAL YANG
BERKEMBANG PESAT MEMBERIKAN FASILITAS PENDANAAN UNTUK INVESTASI RIIL.
HUBUNGAN KEDUA BENTUK INVESTASI TERSEBUT BERSIFAT KOMPLEMENTER
BUKAN KOMPETITIF.
8. PENGERTIAN PROYEK KEGIATAN YANG MELIBATKAN BERBAGAI SUMBER DAYA YG
TERHIMPUN DLM SUATU WADAH (ORGANISASI) TERTENTU DALAM JANGKA WAKTU

TERTENTU UNTUK MELAKUKAN KEGIATAN YANG TELAH DITETAPKAN


SEBELUMNYA ATAU UNTUK MENCAPAI SASARAN TERTENTU.
9. BIDANG PROYEK KEGIATAN PROYEK BIASANYA DILAKUKAN UNTUK BERBAGAI
BIDANG PROYEK ANTARA LAIN : PEMBANGUNAN FASILITAS BARU , MERUPAKAN
KEGIATAN BARU YANG BENAR-BENAR BARU PERBAIKAN FASILITAS YANG SUDAH
ADA, MERUPAKAN KELANJUTAN ATAU PENGEMBANGAN DARI USAHA YANG SUDAH
ADA SEBELUMNYA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN , MERUPAKAN KEGIATAN
PENELITIAN YANG DILAKUKAN UNTUK SUATU FENOMENA YANG MUNCUL DI
MASYARAKAT.
10. FAKTOR TIMBULNYA PROYEK DALAM PRAKTEKNYA TIMBULNYA SUATU PROYEK
DISEBABKAN OLEH BERBAGAI FAKTOR ANTARA LAIN : PERMINTAAN PASAR , HAL
INI DISEBABKAN JENIS PRODUK YANG TERSEDIA BELUM MENCUKUPI ATAU BELUM
ADA MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK , HAL INI DILAKUKAN DALAM RANGKA
UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUATU PRODUK, KARENA TINGGINYA
PERSAINGAN YANG ADA KEGIATAN PEMERINTAH , DILAKUKAN DALAM RANGKA
MEMENUHI KEBUTUHAN MASYARAKAT TERHADAP SUATU PRODUK
11. JENIS-JENIS PROYEK JENIS PROYEK DAPAT DIBEDAKAN DALAM 2 JENIS ANTARA
LAIN : PROYEK MANDIRI (INDEPENDENT PROJECT), PROYEK MANDIRI ADALAH
PROYEK YANG ARUS KASNYA TIDAK BERHUBUNGAN ATAU TIDAK TERGANTUNG
SATU SAMA LAIN. PENERIMAAN SATU PROYEK TIDAK MENGHILANGKAN PROYEK
YANG LAIN UNTUK DIPERTIMBANGKAN. MISALNYA, PERUSAHAAN DENGAN DANA
YANG TIDAK TERBATAS DAPAT DIHADAPKAN DENGAN 3 PROYEK YANG MANDIRI:
MEMASANG AC DI PABRIK, MENAMBAH KENDARAAN ANTAR JEMPUT KARYAWAN
MEMBELI KOMPUTER BARU. PENERIMAAN SALAH SATU PROYEK TIDAK
MENGHILANGKAN PROYEK LAIN UNTUK DIPERTIMBANGKAN, KETIGA PROYEK
TERSEBUT
12. JENIS-JENIS PROYEK JENIS PROYEK DAPAT DIBEDAKAN DALAM 2 JENIS ANTARA
LAIN : PROYEK BERSAING MENIADAKAN (MUTUALLY EXCLUSIVE) , PROYEK
BERSAING MENIADAKAN ADALAH PROYEK YANG MEMPUNYAI FUNGSI SAMA
SEHINGGA BERSAING SATU SAMA LAIN. PENERIMAAN SATU PROYEK DARI
KELOMPOK YANG BERSAING MENIADAKAN AKAN MENGHILANGKAN PROYEK LAIN
DALAM KELOMPOK YANG DIPERTIMBANGKAN. MISALNYA, PERUSAHAAN DAPAT
MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN CARA: PERLUASAN PABRIK,
AKUISISI PABRIK SEJENIS, MELAKUKAN KONTRAK PRODUKSI DENGAN
PERUSAHAAN LAIN (SUB-KONTRAK)
13. KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL JENIS PROYEK DAPAT DIBEDAKAN DALAM
2 JENIS ANTARA LAIN : PROYEK BERSAING MENIADAKAN (MUTUALLY EXCLUSIVE) ,
PROYEK BERSAING MENIADAKAN ADALAH PROYEK YANG MEMPUNYAI FUNGSI
SAMA SEHINGGA BERSAING SATU SAMA LAIN. PENERIMAAN SATU PROYEK DARI
KELOMPOK YANG BERSAING MENIADAKAN AKAN MENGHILANGKAN PROYEK LAIN
DALAM KELOMPOK YANG DIPERTIMBANGKAN. MISALNYA, PERUSAHAAN DAPAT
MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN CARA: PERLUASAN PABRIK,
AKUISISI PABRIK SEJENIS, MELAKUKAN KONTRAK PRODUKSI DENGAN
PERUSAHAAN LAIN (SUB-KONTRAK)
14. INVESTASI DAN PEMASALAHANNYA INVESTASI BERKAITAN DENGAN
PENGELUARAN DANA PADA SAAT SEKARANG DAN MANFAATNYA BARU AKAN
DITERIMA DI MASA YANG AKAN DATANG.
15. INVESTASI DAN PEMASALAHANNYA PERJALANAN WAKTU DAN PERUBAHAN
INDIKATOR EKONOMI MAKRO SEPERTI : INFLASI, PERUBAHAN KURS, TINGKAT
BUNGA DAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN AKAN MEMPENGARUHI NILAI UANG DAN
CENDERUNG MENGALAMI PENYUSUTAN. MAKA INVESTASI BERHADAPAN DENGAN
RESIKO : RISIKO NILAI RIIL DARI UANG YANG AKAN DITERIMA DI MASA YANG AKAN
DATANG RISIKO KETIDAKPASTIAN MENERIMA UANG DALAM JUMLAH YANG SESUAI
DENGAN YANG DIPERKIRAKAN AKAN DITERIMA DI MASA YANG AKAN DATANG
16. INVESTASI DAN PEMASALAHANNYA CONTOH : BARANG YANG DIBELI MISALNYA
SEHARGA Rp. 1.000,- SEKARANG DI TAHUN MENDATANG AKAN MENGALAMI
KENAIKAN MENJADI MISALNYA Rp. 1.250,- ATAU Rp. 1.500,- KENYATAAN SEPERTI ITU

MENYEBABKAN TIMBULNYA NILAI WAKTU DARI UANG (TIME VALUE OF MONEY)


DARI INVESTASI YANG DITANAMKAN.
17. TIME VALUE OF MONEY MENGAPA KONSEP NILAI WAKTU DARI UANG (TIME
VALUE OF MONEY) ITU PENTING UNTUK DIPERHATIKAN DALAM BERINVESTASI?
18. TIME VALUE OF MONEY PADA UMUMNYA SETIAP ORANG BERPENDAPAT BAHWA
NILAI UANG SEKARANG DENGAN JUMLAH YANG SAMA LEBIH BERHARGA DARIPADA
NILAI UANG DI MASA YANG AKAN DATANG JADI ORANG AKAN LEBIH SUKA
MENERIMA JUMLAH UANG YANG SAMA SEKARANG DARIPADA DI MASA
MENDATANG DAN LEBIH SUKA MENGELUARKAN JUMLAH YANG SAMA DI MASA
MENDATANG DARIPADA SEKARANG PERBEDAAN NILAI UANG KARENA FAKTOR
WAKTU TERSEBUT DITUNJUKAN OLEH NILAI TUKAR UANG (EXCHANGE VALUE OF
MONEY) YANG BERSANGKUTAN YANG SEMAKIN MENURUN DI MASA DATANG.
DALAM HUBUNGAN DENGAN NILAI WAKTU DARI UANG TERSEBUT DI ATAS, KITA
MENGENAL DUA KONSEP NILAI, YAITU FUTURE VALUE/FV (NILAI AKAN DATANG
DAN PRESENT VALUE/PV (NILAI SEKARANG)
19. TIME VALUE OF MONEY PADA DASARNYA FUTURE VALUE ADALAH NILAI DARI
UANG ATAU ARUS KAS YANG AKAN DITERIMA PADA AKHIR PERIODE TERTENTU DI
MASA YANG AKAN DATANG YANG BERTUMBUH SEBESAR TINGKAT BUNGA YANG
DIPERHITUNGKAN. FUTURE VALUE BERKAITAN DENGAN PROYEKSI ARUS KAS
MASUK (CASH INFLOW) DI MASA MENDATANG. SEDANGKAN PRESENT VALUE
ADALAH JUMLAH UANG YANG HARUS DIINVENTASIKAN PADA WAKTU SEKARANG
DENGAN TINGKAT BUNGA TERTENTU UNTUK MENDAPATKAN PENERIMAAN KAS
PADA AKHIR PERIODE TERTENTU DI MASA YANG AKAN DATANG. PRESENT VALUE
BERKAITAN DENGAN PROYEKSI ARUS KAS KELUAR (CASH OUTFLOW) DI MASA
SEKARANG.
20. TIME VALUE OF MONEY SEHUBUNGAN DENGAN FUTURE VALUE DAN PRESENT
VALUE MUNCUL ISTILAH COMPOUNDING (COMPOUNDING FACTOR) DAN
DISCOUNTING (DISCOUNTED FACTOR) COMPOUNDING ADALAH METODE
PERHITUNGAN BUNGA ATAS POKOK TABUNGAN DAN SEKALIGUS ATAS BUNGA
TERAKUMULASI. DALAM METODE INI DIKENAL COMPOUND INTEREST (BUNGA
MAJEMUK), YAITU BUNGA ATAS POKOK TABUNGAN (PRINCIPAL) DAN SEKALIGUS
ATAS PENDAPATAN BUNGA YANG TERAKUMULASI. TINGKAT BUNGA YANG MENJADI
FAKTOR PENAMBAH DISEBUT COMPOUNDED FACTOR. DISCOUNTING ADALAH
METODE PROSES PENGURANGAN TERHADAP NOMINAL KAS ATAU DANA DENGAN
TINGKAT BUNGATERTENTU UNTUK MENDAPATKANNILAI SEKARANG DARI ARUS
KAS YANG BERSANGKUTAN. TINGKAT BUNGA YANG MENJADI FAKTOR PEGURANG
DISEBUT DISCOUNTED FACTOR.
21. TIME VALUE OF MONEY HUBUNGAN COUMPOUNDING DAN DISCOUNDING
TERHADAP ARUS KAS COMPOUNDING 1 PRESENT VALUE 2 3 4 DISCOUNTING FUTURE
VALUE 5 6 7
22. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE (NILAI AKAN DATANG) : 1. MAJEMUK
TAHUNAN 2. MAJEMUK BEBERAPA KALI DALAM SETAHUN 3. MAJEMUK ANUITAS a.
MAJEMUK ANUITAS AKHIR PERIODE b. MAJEMUK ANUITAS AWAL PERIODE
23. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : 1. MAJEMUK TAHUNAN DALAM HAL INI
PENDAPATAN BUNGA DARI ARUS KAS SEJAK DIINVESTASIKAN SAMPAI AKHIR
PERIODE YANG DITENTUKAN BERLANGSUNG BUNGA MAJEMUK ATAU BUNGA
BERBUNGA. FVt = A (1+r)t (1+r)t = COMPOUDING FACTOR (CF) FV = NILAI AKAN
DATANG DARI ARUS KAS (FUTURE VALUE) A = ARUS KAS r = TINGKAT BUNGA PER
TAHUN t = PERIODE WAKTU, 0, 1, 2,, n
24. TIME VALUE OF MONEY CONTOH FUTURE VALUE MAJEMUK TAHUNAN :
BERAPAKAH NILAI UANG YANG DITERIMA 2 TAHUN YANG AKAN DATANG APABILA
SEKARANG UANG SEBESAR $100 DIINVESTASIKAN DENGAN BUNGA 8%? FVt = A (1+r)t
(1+r)t = COMPOUDING FACTOR FV2 = $100(1+0,08)2 = $100(1,1664) = $116,64
25. TIME VALUE OF MONEY CONTOH FUTURE VALUE MAJEMUK TAHUNAN : TABLE
COMPOUNDING FACTOR (CF) NILAI MAJEMUK TAHUNAN CF = (1+r) t TAHUN 7% 8% 9%
1 2 1,1664 3 FVt = A (1+r) CF t (1+r)t = COMPOUDING FACTOR (CF) FV2 = $100(1+0,08)2 =
$100(1,1664) = $116,64

26. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE: A $100 r 8% THN KE FV 0 1 2 3 4 100.00


108.00 116.64 125.97 136.05 EXCEL
27. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE: 140 120 N I L A I 100 100 108 116.64 125.97
136.05 80 60 40 20 0 0 1 2 TAHUN KE 3 4
28. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : 2. MAJEMUK BEBERAPA KALI DALAM
SETAHUN NILAI MAJEMUK BEBERAPA KALI DALAM SETAHUN MERUPAKAN
PERHITUNGAN NILAI MAJEMUK ATAS PEMBAYARAN BUNGA YANG DILAKUKAN
BEBERAPA KALI DALAM SETAHUN. PEMBAYARAN BUNGA DAPAT DILAKUKAN
BEBERAPA KALI DALAM SETAHUN, MISALNYA 6 BULAN SEKALI (2 KALI DALAM
SETAHUN), 3 BULAN SEKALI (4 KALI DALAM SETAHUN).
29. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : 2. MAJEMUK BEBERAPA KALI DALAM
SETAHUN FV = A x 1+ r txn n FV = NILAI AKAN DATANG DARI ARUS KAS (FUTURE
VALUE) At = ARUS KAS PADA PERIODE KE-t r = TINGKAT BUNGA PER TAHUN t =
PERIODE WAKTU, 0, 1, 2,, n n = FREKUENSI BUNGA DIBAYAR PERTAHUN
30. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : CONTOH MAJEMUK BEBERAPA KALI
DALAM SETAHUN AMIN MENYIMPAN UANGNYA DI BANK SEBESAR Rp. 100.000,DENGAN TINGKAT BUNGA 8% PER TAHUN YANG DIBAYARKAN PER 6 BULAN,
APABILA AMIN MEMBIARKAN UANGNYA TETAP TERSIMPAN DI BANK SELAMA 2
TAHUN, BERAPA JUMLAH UANG AMIN SELAMA DISIMPAN DI BANK?
31. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : CONTOH MAJEMUK BEBERAPA KALI
DALAM SETAHUN FV = A x 1+ FV = 100.000 x r txn n 1+ 0,08 2x2 2 FV = 100.000 x (1,04 ) 4 =
116.985,856
32. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : 3a. MAJEMUK ANUITAS AKHIR TAHUN
ANUITAS (ANNUITY) MERUPAKAN SEDERETAN PEMBAYARAN DENGAN JUMLAH
YANG SAMA SELAMA BEBERAPA PERIODE TERTENTU, DIMANA PEMBAYARAN
TERSEBUT DILAKUKAN PADA SETIAP AKHIR PERIODE (1+r)t - 1 (1+r)t - 1 FVt = A CF = r r
FV = A x CF FV = NILAI AKAN DATANG DARI ARUS KAS (FUTURE VALUE) At = ARUS
KAS PADA PERIODE KE-t r = TINGKAT BUNGA PER TAHUN t = PERIODE WAKTU, 0, 1,
2,, n CF = COMPOUDING FACTOR
33. TIME VALUE OF MONEY CONTOH FUTURE VALUE MAJEMUK ANUITAS AKHIR
TAHUN : BAMBANG MENYIMPAN UANG SETIAP AKHIR TAHUN SEBESAR Rp. 2.000.000,DI SUATU BANK DENGAN TINGKAT BUNGA 12%, BERAPA JUMLAH UANG YANG
DIPEROLEH BAMBANG PADA AKHIR TAHUN KE 5? FV = A (1+r)t - 1 r FVt = 2.000.000 = A x
CF (1+0,12)5 - 1 0,12 FVt = 2.000.000 x 6,3528 = Rp. 12.705.694,72
34. TIME VALUE OF MONEY FUTURE VALUE : 3b. MAJEMUK ANUITAS AWAL TAHUN
NILAI MAJEMUK ANUITAS AWAL PERIODE MERUPAKAN SEDERETAN PEMBAYARAN
DENGAN JUMLAH YANG SAMA SELAMA BEBERAPA PERIODE TERTENTU, DIMANA
PEMBAYARAN TERSEBUT DILAKUKAN PADA SETIAP AWAL PERIODE. FVt = A x (1+r)t - 1
r x (1+ r) CF FV = A x CF x ( 1 + r ) FV = NILAI AKAN DATANG DARI ARUS KAS (FUTURE
VALUE) At = ARUS KAS PADA PERIODE KE-t r = TINGKAT BUNGA PER TAHUN t CF
= PERIODE WAKTU, 0, 1, 2,, n = COMPOUDING FACTOR = (1+r)t - 1 r
35. TIME VALUE OF MONEY CONTOH FUTURE VALUE MAJEMUK ANUITAS AWAL
TAHUN : BAMBANG MENYIMPAN UANG SETIAP AKHIR TAHUN SEBESAR Rp. 2.000.000,DI SUATU BANK DENGAN TINGKAT BUNGA 12%, BERAPA JUMLAH UANG YANG
DIPEROLEH BAMBANG PADA AKHIR TAHUN KE 5? (1+r)t - 1 x (1+ FVt = A x r r) FV = A x
CF x ( 1 + r ) FV = 2.000.000 x 6,3528 x ( 1 + 0,12) FV = 12.705.694,72 x 1,12 FV = 14.230.378,09
36. TIME VALUE OF MONEY PRESENT VALUE (NILAI SEKARANG ) : 1. PRESENT VALUE
PENERIMAAN SATU KALI DIAKHIR PERIODE 2. PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP
PERIODE. a.PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AKHIR PERIODE b.PRESENT VALUE
ANUITAS TETAP TIAP AWAL PERIODE 3. PRESENT VALUE ANUITAS TIDAK TETAP TIAP
PERIODE
37. TIME VALUE OF MONEY 1. PRESENT VALUE PENERIMAAN SATU KALI DI AKHIR
PERIODE : UNTUK MENGHITUNG NILAI SEKARANG DARI JUMLAH PENERIMAAN
PADA AKHIR PERIODE PVt = At(1+r) -t ATAU PVt = At (1+r)t ATAU PVt = At 1 (1+r)t PV =
NILAI SEKARANGDARI ARUS KAS (PRESENT VALUE) At = ARUS KAS PADA PERIODE

KE-t r = TINGKAT DISKON ATAU TINGKAT BUNGA YANG DIPERHITUNGKAN t =


PERIODE WAKTU, 0, 1, 2,, n PVt = At x DF DF = DISCOUNTED FACTOR DF = 1 (1+r)t
38. TIME VALUE OF MONEY CONTOH PRESENT VALUE PENERIMAAN SATU KALI
DIAKHIR PERIODE : BERAPAKAH NILAI SEKARANG DARI UANG SEBESAR $100 YANG
AKAN DITERIMA PADA 2 TAHUN YANG AKAN DATANG JIKA FAKTOR DISKON YANG
DIPERHITUNGKAN ADALAH 12%? PVt = At 1 (1+r)t = 100 1 (1+0,12) 2 = $79,72 ATAU PVt =
At x DF DF = = 1 (1+0,12)2 $100 x 0.7972 = = 0.7972 $79,72
39. TIME VALUE OF MONEY 2a. PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AKHIR
PERIODE : UNTUK MENGHITUNG NILAI SEKARANG DARI PENERIMAAN YANG
JUMLAHNYA TETAP SETIAP AKHIR PERIODE PVt = PVt = At At (1+r)t - 1 r(1+r) t DF = (1+r)t
- 1 r(1+r)t x DF PV = NILAI SEKARANGDARI ARUS KAS (PRESENT VALUE) At = ARUS
KAS PADA PERIODE KE-t r = TINGKAT DISKON ATAU TINGKAT BUNGA YANG
DIPERHITUNGKAN t = PERIODE WAKTU, 0, 1, 2,, n DF = DISCOUNTED FACTOR
40. TIME VALUE OF MONEY CONTOH PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AKHIR
PERIODE : BERAPAKAH NILAI SEKARANG YANG AKAN DITERIMA PADA 3 TAHUN
YANG AKAN DATANG DARI UANG SEBESAR Rp. 1.000.000,- YANG DITERIMA SETIAP
TAHUN, JIKA FAKTOR DISKON YANG DIPERHITUNGKAN ADALAH 12%? PVt = PV =
(1+r)t - 1 At A r(1+r)t x DF12%, 3 PV = 1.000.000 x 2,4018 PV = 2.401.831,27
41. TIME VALUE OF MONEY CONTOH PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AKHIR
PERIODE : BERAPAKAH NILAI SEKARANG YANG AKAN DITERIMA PADA 3 TAHUN
YANG AKAN DATANG DARI UANG SEBESAR 133,10 YANG DITERIMA SETIAP TAHUN,
JIKA FAKTOR DISKON YANG DIPERHITUNGKAN ADALAH 10%? PVt = PV = (1+r)t - 1 At A
r(1+r)t x DF10%, 3 PV = 1.000.000 x 2,4018 PV = 2.401.831,27
42. TIME VALUE OF MONEY 2b. PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AWAL PERIODE :
UNTUK MENGHITUNG NILAI SEKARANG DARI PENERIMAAN YANG JUMLAHNYA
TETAP SETIAP AWAL PERIODE PVt = At (1+r)t - 1 (1+r) r(1+r)t DF = (1+r)t - 1 r(1+r)t PV = A x
DF x ( 1 + r ) PV = NILAI SEKARANGDARI ARUS KAS (PRESENT VALUE) At = ARUS
KAS PADA PERIODE KE-t r = TINGKAT DISKON ATAU TINGKAT BUNGA YANG
DIPERHITUNGKAN t = PERIODE WAKTU, 0, 1, 2,, n DF = DISCOUNTED FACTOR
43. TIME VALUE OF MONEY CONTOH PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AWAL
PERIODE : BERAPAKAH NILAI SEKARANG YANG AKAN DITERIMA PADA 3 TAHUN
YANG AKAN DATANG DARI UANG SEBESAR 133,10 YANG DITERIMA SETIAP TAHUN,
JIKA FAKTOR DISKON YANG DIPERHITUNGKAN ADALAH 10%? PVt = At (1+r)t - 1 r(1+r) t
( 1 + r ) PV = A x DF x ( 1 + r ) PV = 1.000.000 x 2,4028 x ( 1,12 ) PV = 2.690.051,02
44. TIME VALUE OF MONEY CONTOH PRESENT VALUE ANUITAS TETAP TIAP AWAL
PERIODE : BERAPAKAH NILAI SEKARANG YANG AKAN DITERIMA PADA 3 TAHUN
YANG AKAN DATANG DARI UANG SEBESAR Rp. 1.000.000,- YANG DITERIMA SETIAP
TAHUN, JIKA FAKTOR DISKON YANG DIPERHITUNGKAN ADALAH 12%? PVt = At (1+r)t 1 r(1+r) t ( 1 + r ) PV = A x DF x ( 1 + r ) PV = 1.000.000 x 2,4028 x ( 1,12 ) PV = 2.690.051,02
45. TIME VALUE OF MONEY 3. PRESENT VALUE ANUITAS TIDAK TETAP SETIAP
PERIODE: UNTUK MENGHITUNG NILAI SEKARANG DARI PENERIMAAN YANG
JUMLAHNYA TIDAK TETAP SETIAP TAHUN CONTOH : HITUNGLAH NILAI SEKARANG
DARI PENERIMAAN TAHUN KE 1 = Rp. 200.000,-, TAHUN KE 2 = Rp. 400.000,-, TAHUN KE
3 = Rp. 250.000,-, TAHUN KE 4 = Rp. 200.000,-, TAHUN KE 5 = Rp. 150.000,-, ASUMSIKAN
BAHWA TINGKAT BUNGA 12% PER TAHUN 1 DISCOUNTED FACTOR = (1+r)t Rp. 200.000,DISCOUTED FACTOR (12%) 0.8929 Rp. 178,571.4286 2 Rp. 400.000,- 0.7972 Rp. 318,877.5510 3
Rp. 250.000,- 0.7118 Rp. 177,945.0620 4 Rp. 200.000,- 0.6355 Rp. 127,103.6157 5 Rp. 150.000,0.5674 Rp. 85,114..0284 TAHUN PENERIMAAN (FV) 1 PV Rp. 887,611.6856
46. KEBUTUHAN DANA INVESTASI
47. KEPUTUSAN INVESTASI KEPUTUSAN INVESTASI DITUJUKAN UNTUK
MENGHASILKAN KEBIJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN : KEBIJAKAN
PENGALOKASIAN SUMBER DANA SECARA OPTIMAL, KEBIJAKAN MODAL KERJA
KEBIJAKAN INVESTASI YANG BERDAMPAK PADA STRATEGI PERUSAHAAN YANG
LEBIH LUAS (MERGER DAN AKUISISI)
48. KEPUTUSAN PENDANAAN SUMBER DANA DIBAGI DALAM 2 KATEGORI YAKNI :
SUMBER INTERNAL YAITU DARI LABA DITAHAN (RETAINED EARNINGS) SUMBER

EKSTERNAL YAITU : - DALAM BENTUK UTANG YANG MELIPUTI PENUNDAAN


PEMBAYARAN UTANG, PINJAMAN JANGKA PENDEK SEBAGAI TAMBAHAN MODAL
KERJA DAN PINJAMAN JANGKA PANJANG (OBLIGASI) SEBAGAI DANA INVESTASI.
MENERBITKAN SAHAM, BAIK DALAM BENTUK SAHAM PERDANA (INITIAL PUBLIC
OFFER/IPO) MAUPUN SAHAM BIASA BARU SEBAGAI SUMBER MODAL INVESTASI
DALAM RANGKA EKSPANSI PERUSAHAAN.
49. MASALAH UTAMA MASALAH UTAMA DALAM MENGOPTIMALKAN KEPUTUSAN
PENDANAAN ADALAH MENETAPKAN STRUKTUR MODAL (UTANG DAN EKUITAS)
YANG OPTIMAL SEBAGAI ASUMSI DASAR DALAM MEMUTUSKAN BERAPA JUMLAH
DANA DAN BAGAIMANA KOMPOSISI JUMLAH DANA PINJAMAN DAN DANA SENDIRI
YANG DITAMBAHKAN UNTUK MENDUKUNG KEBIJAKAN INVESTASI SEHINGGA
KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DAPAT TUMBUH SECARA SEHAT. DISAMPING
ITU KOMPOSISI STRUKTUR MODAL HARUS PULA DIPERTIMBANGKAN HUBUNGAN
ANTARA PERUSAHAAN, KREDITUR MAUPUN PEMEGANG SAHAM SEHINGGA TIDAK
TERJADI KONFLIK KEPUTUSAN DIVIDEN DITENTUKAN DARI JUMLAH
KEUNTUNGAN PERUSAHAAN SETELAH PAJAK (EARNING AFTER TAX). OLEH KARENA
ITU TUJUAN MEMAKSIMUMKAN KEUNTUNGAN YANG DIBAGIKAN KEPADA
PEMEGANG SAHAM (DIVIDEN) DENGAN KENDALA MEMAKSIMUMKAN LABA
DITAHAN UNTUK DIINVESTASIKAN KEMBALI SEBAGAI SUMBER DANA
INTERNAL.DENGAN KATA LAIN SEMAKIN BANYAK JUMLAH LABA DITAHAN BERARTI
SEMAKIN SEDIKIT UANG YANG TERSEDIA BAGI PEMBAYARAN DIVIDEN
50. KEBUTUHAN DANA INVESTASI SECARA UMUM, PENGALOKASIAN DANA DAPAT
DILAKUKAN KE DALAM DUA BENTUK, YAITU UNTUK AKTIVA TETAP (FIXED ASSETS),
DAN UNTUK MODAL KERJA (WORKING CAPITAL). 1. ALOKASI DANA UNTUK AKTIVA
TETAP. AKTIVA TETAP TERDIRI DARI AKTIVA TETAP BERWUJUD (TANGIBLE ASSETS) ,
DAN AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSETS). AKTIVA TETAP
BERWUJUD MENURUT BARIDWAN (1989.) ADALAH AKTIVA YANG BERWUJUD YANG
DAPAT DIGUNAKAN DALAM JANGKA WAKTU LEBIH DARI SATU PERIODE
AKUNTANSI. SEPERTI TANAH, GEDUNG PERKANTORAN DAN PERALATANNYA,
GEDUNG PABRIK DAN MESIN-MESIN, DAN AKTIVA TETAP LAINNYA., AKTIVA TETAP
TIDAK BERWUJUD ADALAH: AKTIVA TETAP YANG TIDAK BERWUJUD SECARA FISIK
YANG MEMILIKI UMUR LEBIH DARI SATU TAHUN SEPERTI HAK PATENT, LISENSI,
COPYRIGHT, GOODWILL, BIAYA PENDAHULUAN, BIAYA-BIAYA PRA-OPERASIONAL,
DAN LAIN SEBAGAINYA.
51. INVESTASI 2. ALOKASI DANA UNTUK MODAL KERJA WESTON & COPELAND (1995)
MENDEFENISIKAN MODAL KERJA ADALAH INVESTASI PERUSAHAAN DALAM
BENTUK UANG TUNAI, SURAT BERHARGA, PIUTANG DAN PERSEDIAAN DIKURANGI
BEBAN LANCAR. SAWIR (2005), MENYATAKAN MODAL KERJA ADALAH
KESELURUHAN AKTIVA LANCAR YANG DIMILIKI PERUSAHAAN UNTUK MEMBIAYAI
KEGIATAN OPERASI SEHARI-HARI.
52. SUMBER PENDANAAN 1. MODAL ASING : SUMBER DANA YANG DIDAPATKAN DARI
LUAR PERUSAHAAN (KREDITUR) YANG TIDAK IKUT MEMILIKI PERUSAHAAN
TERSEBUT SEPERTI BANK, PERUSAHAAN LEASING, DAN LAIN SEBAGAINYA. SUMBER
DANA DARI MODAL ASING BIASANYA BERWUJUD HUTANG 2. INTERNAL
PERUSAHAAN (MODAL SENDIRI) : SUMBER DANA MODAL SENDIRI BIASANYA
BERWUJUD MODAL SAHAM DAN LABA DITAHAN.
53. PEMBELANJAAN HUTANG 1. HUTANG JANGKA PENDEK (SHORT TERM DEBT)
HUTANG JANGKA PENDEK ADALAH HUTANG YANG AKAN DIKEMBALIKAN DALAM
TEMPO WAKTU KURANG DARI 1 TAHUN. HUTANG JANGKA PENDEK INI HANYA DAPAT
DIGUNAKAN UNTUK PEMBIAYAAN INVESTASI JANGKA PENDEK PULA, MIS:
PEMBIAYAAN AKTIVA LANCAR ATAU MODAL KERJA. PENDANAAN HUTANG JANGKA
PENDEK PINJAMAN DARI LEMBAGA KEUANGAN MENERBITKAN SURAT DAGANG.
KREDIT DAGANG SUMBER KEUANGAN LAINNYA
54. PEMBELANJAAN HUTANG 2. HUTANG JANGKA PANJANG (LONG TERM DEBT)
HUTANG JANGKA PANJANG ADALAH HUTANG YANG AKAN DIHARAPKAN
DIBAYARKAN KEMBALI DALAM KURUN WAKTU LEBIH DARI 1 TAHUN, MIS: OBLIGASI
(BONDS), HIPOTIK (MORTAGE), DAN SEBAGAINYA. HUTANG JANGKA PANJANG DAPAT

DIGUNAKAN UNTUK PEMBIAYAAN MODAL KERJA ATAUPUN MEMBIAYAI AKTIVA


TETAP.
55. KEBUTUHAN DANA INVESTASI BESARNYA KEBUTUHAN DANA YANG
DIPERLUKAN UNTUK MEMBIAYAI SUATU RENCANA INVESTASI SANGAT
TERGANTUNG PADA JENIS PROYEK DAN SKALA PROYEK, PROYEK BERSKALA BESAR
MEMERLUKAN DANA INVESTASI YANG BESAR, DAN PROYEK BERSKALA KECIL
HANYA MEMERLUKAN DANA INVESTASI YANG RELATIF KECIL
56. KEBUTUHAN DANA INVESTASI DALAM MENENTUKAN BESARNYA DANA YANG
AKAN DIPERLUKAN UNTUK MENJALANKAN SUATU AKTIVITAS BISNIS, DIBUTUHKAN
SUATU PERAMALAN ( FORECASTING ) YANG BAIK. PERAMALAN ATAU TAKSIRAN INI
BERBEDA- BEDA UNTUK MASING-MASING JENIS PROYEK.
57. KEBUTUHAN DANA INVESTASI PADA UMUMNYA, TAKSIRAN DANA YANG
DIBUTUHKAN TERSEBUT TERGANTUNG PADA KEGIATAN PENDANAAN ITU
KOMPLEKSITAS SENDIRI, DARI MISALNYA PENENTUAN LOKASI BISNIS YANG
BERGANTUNG KEPADA HARGA TANAH. SEMAKIN MAHAL HARGA TANAH MAKA
AKAN SEMAKIN BESAR PULA DANA YANG DIBUTUHKAN OLEH BISNIS TERSEBUT. DI
SAMPING ITU, TERDAPAT PULA FAKTOR-FAKTOR BIAYA YANG AKAN DIKELUARKAN
SELAMA UMUR BISNIS TERSEBUT.
58. BIAYA MODAL COST OF CAPITAL SETIAP MODAL YANG DITANAMKAN ATAU
DIINVESTASIKAN, AKAN BIAYA ( COST MODAL MENGELUARKAN OF CAPITAL )
TERSENDIRI. BIAYA MODAL TERSEBUT MAKSUDNYA ADALAH: BIAYA YANG HARUS
DIKELUARKAN SETELAH ADANYA MISALNYA PEMBAYARAN SAHAM. PENANAMAN
KEHARUSAN DIVIDEN BAGI MODAL, ADANYA PEMEGANG
59. BIAYA MODAL COST OF CAPITAL BIAYA MODAL DAPAT DIHITUNG BERDASARKAN
BIAYA UNTUK MASING-MASING SUMBER DANA ATAU DISEBUT BIAYA MODAL
INDIVIDUAL. BIAYA MODAL INDIVIDUAL TERSEBUT DIHITUNG SATU PER SATU
UNTUK TIAP JENIS MODAL. NAMUN, APABILA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN
BEBERAPA SUMBER MODAL MAKA BIAYA MODAL YANG DIHITUNG ADALAH BIAYA
MODAL RATA-RATA TERTIMBANG ( WEIGHTED AVERAGE COST OF CAPITAL
DISINGKAT WACC) DARI SELURUH MODAL YANG DIGUNAKAN. KONSEP BIAYA
MODAL ERAT KAITANNYA DENGAN DENGAN KONSEP MENGENAI PENGERTIAN
TINGKAT KEUNTUNGAN YANG DISYARATKAN ( REQUIRED RATE OF RETURN ).
60. ALOKASI DANA INVESTASI KEBUTUHAN DANA DIHUBUNGKAN DENGAN JENIS
PENGGUNAAN DANA YANG DIPERLUKAN DIBEDAKAN ATAS : INVESTASI INISIAL
(INITIAL INVESMENT, ORIGINAL INVESMENT) ; MERUPAKAN MODAL AWAL YANG
DIPERLUKAN UNTUK MEMBIAYAI PENGADAAN AKTIVA TETAP : TANAH LOKASI
PROYEK BARANG MODAL MISALNYA, GEDUNG, BANGUNAN PABRIK, PERUMAHAN
KARYAWAN DLL ALAT-ALAT KANTOR MISALNYA MEBEL, KOMPUTER DLL SARANA
PENDUKUNG MISALNYA JALAN LINGKUNGAN, KENDARAAN, LISTRIK, TELEPON, AIR
DLL MODAL KERJA (WORKING CAPITAL) ; MERUPAKAN DANA YANG DIPERLUKAN
MEMBIAYAI AKTIVITAS OPERASI PADA MASA PROYEK MEMASUKI TAHAP OPERASI
KOMERSIAL
61. ALOKASI DANA INVESTASI DARI URAIAN DI ATAS MAKA DAPAT DISIMPULKAN
BAHWA SEBUAH PROYEK MEMERLUKAN DUA MACAM PENGELUARAN YAITU :
PENGELUARAN UNTUK MODAL AWAL (CAPITAL EXPENDITURE) YAITU
PENGELUARAN UNTUK INVESTASI INISIAL (INITIAL INVESMENT, ORIGINAL
INVESMENT) ; PENGELUARAN OPERASI UNTUK MEMPEROLEH PENDAPATAN
(OPERATING OR REVENUE EXPENDITURE) YAITU MODAL KERJA (WORKING CAPITAL)
YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMBIAYAI AKTIVITAS OPERASI PADA MASA PROYEK
MEMASUKI TAHAP OPERASI KOMERSIAL
62. ALOKASI DANA INVESTASI UNTUK MENGHITUNG KEBUTUHAN DANA INVESTASI
DIPERLUKAN PENGINDENTIFIKASIAN UNTUK SETIAP ELEMEN INVESTASI YANG ADA
PADA SETIAP GOLONGAN PENGELUARAN BAIK PENGELUARAN INVESTASI INISIAL
UNTUK PENGELUARAN MODAL KERJA. MAUPUN
63. ALOKASI DANA INVESTASI INVESTASI INISIAL (INITIAL INVESMENT, ORIGINAL
INVESMENT) SECARA SEDERHANA, JUMLAH DANA YANG DIPERLUKAN UNTUK
MEMBIAYAI SEBUAH RENCANA INVESTASI INISIAL DAPAT DIHITUNG MELALUI

PENGINDENTIFIKASIAN DANA UNTUK KEPERLUAN BERIKUT : BIAYA PEMBEBASAN


TANAH BIAYA IZIN PEMBANGUNAN PROYEK ; IZIN LOKASI, IMB, SERTIFIKAT, DLL
BIAYA KONSULTAN UNTUK PERANCANGAN FISIK PROYEK BIAYA PEMATANGAN
LAHAN BIAYA PEMBANGUNAN (BANGUNAN) PROYEK FISIK PROYEK; PRASARANA
(INFRASTRUKTUR), BIAYA PENGADAAN MESIN DAN PERALATAN PRODUKSI BIAYA
INSTALASI JASA-JASA UMUM ; LISTRIK, TELEPON, AIR DLL BIAYA PENGADAAN
PERALATAN KANTOR DAN MEBEL BIAYA IZIN KEGIATAN PROYEK BIAYA PENGADAAN
PENUNJANG PROYEK ; KENDARAAN DLL SARANA
64. ALOKASI DANA INVESTASI MODAL KERJA (WORKING CAPITAL) JUMLAH DANA
YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBIAYAI KEBUTUHAN MODAL KERJA PERTAHUN,
MERUPAKAN PERHITUNGAN PERKIRAAN UNTUK KEPERLUAN : BIAYA PENGADAAN
BAHAN BAKU BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG BIAYA ENERGI DAN JASA PIHAK
KETIGA BIAYA BIAYA TUNAI LAINNYA KAS MINIMUM BIAYA PEMASARAN BIAYA
DISTRIBUSI PRODUK DLL
65. JENIS-JENIS PROYEK JENIS PROYEK DAPAT DIBEDAKAN DALAM 2 JENIS ANTARA
LAIN : PROYEK MANDIRI (INDEPENDENT PROJECT), PROYEK MANDIRI ADALAH
PROYEK YANG ARUS KASNYA TIDAK BERHUBUNGAN ATAU TIDAK TERGANTUNG
SATU SAMA LAIN. PENERIMAAN SATU PROYEK TIDAK MENGHILANGKAN PROYEK
YANG LAIN UNTUK DIPERTIMBANGKAN. MISALNYA, PERUSAHAAN DENGAN DANA
YANG TIDAK TERBATAS DAPAT DIHADAPKAN DENGAN 3 PROYEK YANG MANDIRI:
MEMASANG AC DI PABRIK, MENAMBAH KENDARAAN ANTAR JEMPUT KARYAWAN
MEMBELI KOMPUTER BARU. PENERIMAAN SALAH SATU PROYEK TIDAK
MENGHILANGKAN PROYEK LAIN UNTUK DIPERTIMBANGKAN, KETIGA PROYEK
TERSEBUT
66. JENIS-JENIS PROYEK JENIS PROYEK DAPAT DIBEDAKAN DALAM 2 JENIS ANTARA
LAIN : PROYEK BERSAING MENIADAKAN (MUTUALLY EXCLUSIVE) , PROYEK
BERSAING MENIADAKAN ADALAH PROYEK YANG MEMPUNYAI FUNGSI SAMA
SEHINGGA BERSAING SATU SAMA LAIN. PENERIMAAN SATU PROYEK DARI
KELOMPOK YANG BERSAING MENIADAKAN AKAN MENGHILANGKAN PROYEK LAIN
DALAM KELOMPOK YANG DIPERTIMBANGKAN. MISALNYA, PERUSAHAAN DAPAT
MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN CARA: PERLUASAN PABRIK,
AKUISISI PABRIK SEJENIS, MELAKUKAN KONTRAK PRODUKSI DENGAN
PERUSAHAAN LAIN (SUBKONTRAK)
67. DEPRESIASI (PENYUSUTAN)
68. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) DEPRESIASI ATAU PENYUSUTAN ATAU PENGHAPUSAN
MERUPAKAN SALAH SATU KOMPONEN BIAYA TETAP YANG TIMBUL KARENA
DIGUNAKANNYA AKTIVA TETAP, DIMANA BIAYA INI DAPAT DIKURANGKAN DARI
PENGHASILAN/REVENUE. DEPRESIASI DAPAT DIKURANGKAN SEBAGAI
BIAYA/EXPENSE DARI PENGHASILAN YANG DITERIMA, DAPAT DIHITUNG DENGAN
BEBERAPA METODE, YAITU : THE STRIGHT LINE METHOD (METODE GARIS LURUS) SLN THE DOUBLE DECLINING BALANCE METHOD - DB THE SUM OF THE YEAR
DIGIT METHOD - SYD
69. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) : THE STRIGHT LINE METHOD (METODE GARIS
LURUS) - SLN METODE DEPRESIASI GARIS LURUS ADALAH METODE UNTUK
MENGETAHUI PENYUSUTAN DARI SUATU AKTIVA TETAP DENGAN CARA
MENGHITUNG NILAI INVESTASI (NILAI BELI) DIKURANGI NILAI SISA DIBAGI UMUR
EKONOMIS. TINGKAT DEPRESIASI 1/N, TIAP TAHUN SAMA NILAI DEPRESIASI TIAP
TAHUN SAMA. DEPRESIASI = DEPRESIASI = N = UMUR EKONOMIS NILAI BELI NILAI
SISA 1 N N X (NILAI BELI NILAI SISA) 1 N = TINGKAT DEPRESIASI
70. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) THE STRIGHT LINE METHOD (METODE GARIS
LURUS) - SLN : CONTOH : DEPRESIASI SUATU AKTIVA TETAP DENGAN NILAI
INVESTASI (NILAI BELI), Rp. 27.000,- DENGAN NILAI SISA Rp. 2.000,- UMUR EKONOMIS
5 TAHUN ADALAH : DEPRESIASI = DEPRESIASI = 1 N 1 5 X NILAI BELI NILAI SISA X
(27.000 2.000) = Rp. 5.000,71. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) THE STRIGHT LINE METHOD (METODE GARIS
LURUS) - SLN : NO. NILAI (Rp.) TINGKAT DEPRESIA SI JUMLAH DEPRESIASI 1 25.000 1/5

(Rp.) 5.000 2 25.000 1/5 5.000 3 25.000 1/5 5.000 4 25.000 1/5 5.000 5 25.000 1/5 5.000 JUMLAH
25.000
72. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) THE DOUBLE DECLINING BALANCE METHOD (DB) :
METODE DEPRESIASI DOUBLE DECLINING BALANCE ADALAH METODE UNTUK
MENGETAHUI PENYUSUTAN DARI SUATU AKTIVA TETAP DENGAN CARA
MENGHITUNG KESELURUHAN NILAI INVESTASI (NILAI BELI) TANPA DIKURANGI
NILAI SISA. NILAI INVESTASI TAHUN BERIKUTNYA YANG DISUSUTKAN ADALAH
NILAI INVESTASI SEBELUMNYA DIKURANGI JUMLAH DEPRESIASI TAHUN
SEBELUMNYA TINGKAT DEPRESIASI 2/N NILAI DEPRESIASI TIAP TAHUN TIDAK
SAMA, MENURUN.
73. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) THE DOUBLE DECLINING BALANCE METHOD (DB) :
CONTOH : DEPRESIASI SUATU AKTIVA TETAP DENGAN NILAI INVESTASI (NILAI BELI),
Rp. 27.000,- DENGAN NILAI SISA Rp. 2.000,- UMUR EKONOMIS 5 TAHUN ADALAH :
TAHUN NILAI AWAL TAHUN 1 (Rp.) 27.000 2 TINGKAT DEPRESIASI JUMLAH DEPRESIASI
NILAI AKHIR TAHUN (Rp.) (Rp.) 2/5 10.800 16.200 16.200 2/5 6.480 9.720 3 9.720 2/5 3,888
5.832 4 5.832 2/5 2.333 3.499 5 3.499 2/5 1.499 2.100 JUMLAH 24.900
74. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) THE SUM OF THE YEAR DIGIT METHOD (SYD) :
METODE DEPRESIASI SUM OF THE YEAR DIGIT ADALAH METODE UNTUK
MENGETAHUI PENYUSUTAN DARI SUATU AKTIVA TETAP DENGAN CARA
MENGHITUNG KESELURUHAN NILAI INVESTASI (NILAI BELI) DIKURANGI NILAI SISA.
SEPERTI HALNYA METODE METODE GARIS LURUS TINGKAT DEPRESIASI TAHUN 1 =
N : S, TAHUN 2 = (N-1) : S . . . . . . DST S = JUMLAH DARI KESELURUHAN BILANGAN
UMUR EKONOMIS AKTIVA N = UMUR EKONOMIS AKTIVA NILAI DEPRESIASI TIAP
TAHUN TIDAK SAMA, MENURUN. S = N (N + 1) 2
75. DEPRESIASI (PENYUSUTAN) THE SUM OF THE YEAR DIGIT METHOD (SYD) :
CONTOH : DEPRESIASI SUATU AKTIVA TETAP DENGAN NILAI INVESTASI (NILAI BELI),
Rp. 27.000,- DENGAN NILAI SISA Rp. 2.000,- UMUR EKONOMIS 5 TAHUN ADALAH : 1 2
25.000 25.000 TINGKAT DEPRESIA SI 5/15 4/15 3 25.000 3/15 5.000 4 25.000 2/15 3.333 5
25.000 1/15 1.667 NO. NILAI (Rp.) JUMLAH JUMLAH DEPRESIASI (Rp.) 8.333 6.667 25.000
76. CASH FLOW
77. FLOW CASH FLOW ATAU ARUS KAS ATAU ALIRAN KAS ADALAH PENERIMAAN
YANG DIHASILKAN OLEH OPERASI BISNIS DALAM PERIODE WAKTU TERTENTU,
DIPEROLEH DENGAN MENAMBAHKAN LABA BERSIH ,DEPRESIASI/PENYUSUTAN DAN
BUNGA SETELAH PAJAK CASH FLOW MERUPAKAN UNSUR ANALISIS YANG SANGAT
PENTING KEDUDUKANNYA DALAM STUDI KELAYAKAN RENCANA INVESTASI
KARENA KELAYAKAN FINANSIAL SEBUAH USULAN RENCANA INVESTASI DIUKUR
PADA NILAI SEKARANG ARUS KASNYA. PERKIRAAN ATAU PROYEKSI ARUS KAS YANG
AKURAT AKAN MENGHASILKAN KESIMPULAN YANG AKURAT, DEMIKIAN PULA
SEBALIKNYA.
78. FLOW SEORANG INVESTOR ATAU PENGUSAHA YANG TELAH MEMBUAT
KEPUTUSAN UNTUK MELAKSANAKAN SUATU SUATU USULAN INVESTASI PADA SAAT
SEKARANG INI SELALU MENGHARAPKAN AGAR ARUS KAS YANG DITERIMANYA
PADA MASA YANG AKAN DATANG ADALAH LEBIH BESAR DARIPADA DARI PADA
PENGELUARAN KASNYA SEKARANG TUGAS MENDASAR DARI SEORANG EVALUATOR
PROYEK ADALAH KEMAMPUAN UNTUK MELAKUKAN PENAKSIRAN TERHADAP ARUS
KAS YANG AKAN DITERIMA DAN DIKELUARKAN PADA WAKTU YANG AKAN DATANG
SEPANJANG USIA EKONOMIS PROYEK.
79. FLOW UNTUK MENGEVALUASI INVESTASI YANG DIKELUARKAN, PERUSAHAAN
HARUS MENENTUKAN ATAU MEMPROYEKSIKAN ARUS KAS YANG RELEVAN. ARUS
KAS RELEVAN ADALAH ARUS KAS KELUAR YANG MENGHASILKAN SEJUMLAH ARUS
KAS MASUK SEHUBUNGAN TERSEBUT. DENGAN ADANYA INVESTASI
80. JENIS-JENIS CASH FLOW SECARA UMUM ARUS KAS DAPAT MENJADI : INITIAL
CASH FLOW (ARUS KAS AWAL) DIKELOMPOKAN INITIAL CASH FLOW (ARUS KAS
AWAL), MERUPAKAN ARUS KAS KELUAR (CASH OUTFLOW) DALAM RANGKA UNTUK
MEMENUHI KEPERLUAN AKTIVA TETAP DAN PENENTUAN MODAL AWAL PADA
PERIODE KE 0. OPERATIONAL CASH FLOW (ARUS KAS OPERASIONAL)
OPERATIONAL CASH FLOW (ARUS KAS OPERASIONAL), MERUPAKAN ARUS KAS

DALAM RANGKA UNTUK MEMENUHI KEPERLUAN OPERASIONAL PERUSAHAAN


PADA PERIODE KE n, MELIPUTI : ARUS KAS KELUAR (CASH OUTFLOW) , ARUS KAS
YANG DIKELUARKAN UNTUK MEMBIAYAI OPERASIONAL PERUSAHAAN ARUS KAS
MASUK (CASH INFLOW), ARUS KAS BERASAL DARI HASIL PENJUALAN (PENDAPATAN)
TERMINAL CASH FLOW (ARUS KAS AKHIR) TERMINAL CASH FLOW (ARUS KAS
AKHIR), MERUPAKAN ARUS KAS PADA AKHIR UMUR PROYEK, ARUS KAS INI
BERASAL DARI MODAL KERJA PADA AKHIR UMUR PROYEK, ARUS KAS INI BERASAL
DARI MODAL KERJA DAN PENJUALAN AKTIVA TETAP YANG SUDAH HABIS UMUR
EKONOMISNYA
81. METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH
TINGGI ILMU EKONOMI KESATUAN LKM
82. METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI UNTUK MENENTUKAN USULAN
PROYEK INVESTASI MANA YANG LAYAK DITERIMA ATAU DITOLAK, MAKA USULAN
INVESTASI TERSEBUT HARUS DINILAI, BERIKUT INI AKAN DIBAHAS METODE
ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI YANG SERING DIPERGUNAKAN UNTUK MENILAI
SUATU USULAN PROYEK INVESTASI PAYBACK PERIOD METHOD (PP) DISCOUNTED
PAYBACK PERIOD METHOD (DPP) NET PRESENT VALUE (NPV) PROFITABILITY INDEX
(PI) INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)
83. PAYBACK PERIOD METHOD PAYBACK PERIOD METHOD (METODE
PEMULIHAN/PENGEMBALIAN INVESTASI) PAYBACK PERIOD METHOD MERUPAKAN
METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI UNTUK MENILAI KELAYAKAN INVESTASI
MENURUT JANGKA WAKTU PEMULIHAN/PENGEMBALIAN MODAL YANG
DIINVESTASIKAN. JANGKA WAKTU PEMULIHAN/PENGEMBALIAN MODAL (PAYBACK
PERIODE) ADALAH JANGKA WAKTU YANG DIPERLUKAN YANG DINYATAKAN DALAM
SATUAN TAHUN KRITERIA KELAYAKAN : INVESTASI LAYAK BILA PAYBACK
PERIODE LEBIH PENDEK DARI USIA EKONOMIS PROYEK ATAU YANG DISYARATKAN
PERUSAHAAN. INVESTASI TIDAK LAYAK BILA PAYBACK PERIODE LEBIH LAMA
DARI USIA EKONOMIS PROYEK ATAU YANG DISYARATKAN PERUSAHAAN.
84. PAYBACK PERIOD METHOD KELEMAHAN : MENGABAIKAN NILAI WAKTU DARI
UANG MENGABAIKAN ARUS KAS SESUDAH PERIODE PEMULIHAN MODAL DICAPAI
MENGABAIKAN NILAI SISA PROYEK KELEBIHAN : MUDAH DIGUNAKAN
BERGUNA UNTUK MEMILIH PROYEK DENGAN MASA PEMULIHAN MODAL YANG
TERCEPAT INFORMASI MASA PEMULIHAN MODAL DAPAT DIPAKAI SEBAGAI ALAT
PREDIKSI RESIKO KETIDAKPASTIAN DI MASA MENDATANG, MAKIN LAMA MASA
PEMULIHAN MAKIN BESAR RESIKO YANG AKAN DIHADAPI DI MASA MENDATANG
MASA PEMULIHAN MODAL DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGHITUNG INTERNAL RATE
OF RETURN (IRR)
85. PAYBACK PERIOD METHOD PAYBACK PERIOD METHOD DAPAT DIHITUNG DENGAN
DUA MACAM ACUAN : METODE ARUS KAS RATA-RATA , METODE YANG
DIPERGUNAKAN BILA JUMLAH ARUS KAS PER TAHUN SAMA METODE ARUS KAS
KUMULATIF, METODE YANG DIPERGUNAKAN BILA JUMLAH ARUS KAS TIDAK SAMA
ATAU BERBEDA DARI TAHUN KE TAHUN.
86. PAYBACK PERIOD METHOD METODE ARUS KAS RATA-RATA METODE YANG
DIPERGUNAKAN BILA JUMLAH ARUS KAS PER TAHUN SAMA PAYBACK PERIOD =
INVESTASI AWAL (OI) ARUS KAS (At) x 1 TAHUN
87. PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH METODE ARUS KAS RATA-RATA SUATU
PERUSAHAAN SEDANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI
SEBESAR Rp. 450 JUTA, UMUR PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN TANPA NILAI SISA,
ARUS KAS YANG DIHASILKAN PER TAHUN SELAMA UMUR PROYEK SEBESAR Rp. 150
JUTA. PERIODE PENGEMBALIAN PROYEK TERSEBUT DAPAT DITENTUKAN SEBAGAI
BERIKUT : PAYBACK PERIOD = = = INVESTASI AWAL ARUS KAS Rp. 450 JUTA Rp. 150
JUTA x 1 TAHUN x 1 TAHUN 3 TAHUN APABILA PERUSAHAAN MENSYARATKAN BAHWA
PERIODE PENGEMBALIAN MAKSIMUM 4 TAHUN, MAKA PROYEK INVESTASI
TERSEBUT LAYAK DITERIMA

88. PAYBACK PERIOD METHOD METODE ARUS KAS KUMULATIF, METODE YANG
DIPERGUNAKAN BILA JUMLAH ARUS KAS TIDAK SAMA ATAU BERBEDA DARI TAHUN
KE TAHUN. PAYBACK PERIOD = n + A-B x 1 TAHUN C-B KETERANGAN : n = TAHUN
TERAKHIR DIMANA ARUS KAS MASIH BELUM BISA MENUTUP INVESTASI AWAL A =
JUMLAH INVESTASI AWAL B = KUMULATIF ARUS KAS PADA TAHUN KE n (ARUS KAS
KUMULATIF PADA TAHUN SEBELUM ARUS KAS KUMULATIF MENUTUP INVESTASI
AWAL) C = KUMULATIF ARUS KAS PADA TAHUN KE n +1
89. PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH METODE ARUS KAS KUMULATIF SUATU
PERUSAHAAN SEDANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI
SEBESAR Rp. 600 JUTA, UMUR EKONOMIS PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN TANPA
NILAI SISA, ARUS KAS YANG DIHASILKAN PROYEK TERSEBUT SELAMA UMUR
PROYEK ADALAH TAHUN KE 1 = Rp. 300 JUTA, TAHUN KE 2 = Rp. 250 JUTA, TAHUN KE 3
= Rp. 200 JUTA, TAHUN KE 4 = Rp. 150 JUTA DAN TAHUN KE 5 = Rp. 100 JUTA. PERIODE
PENGEMBALIAN PROYEK TERSEBUT DAPAT DITENTUKAN SEBAGAI BERIKUT :
90. PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH METODE ARUS KAS KUMULATIF TAHUN
ARUS KAS ARUS KAS KUMULATIF 1 RP. 300.000.000,- RP. 300.000.000,- 2 RP. 250.000.000,RP. 550.000.000,- 3 RP. 200.000.000,- RP. 750.000.000,- 4 RP. 150.000.000,- RP. 900.000.000,- 5
RP. 100.000.000,- RP. 1.000.000.000,- PAYBACK PERIOD PAYBACK PERIOD = n =2 + + A-B x
1 TAHUN C-B Rp. 600 JUTA - Rp. 550 JUTA Rp. 750 JUTA - Rp. 550 JUTA = 2,25 TAHUN x 1
TAHUN
91. PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH METODE ARUS KAS KUMULATIF MASA
PEMULIHAN/PENGEMBALIAN MODAL INVESTASI 2,25 TAHUN, ARTINYA BAHWA
JANGKA WAKTU PENGEMBALIAN MODAL INVESTASI SEBESAR Rp. 600 JUTA ADALAH
2,25 TAHUN. JIKA PERUSAHAN MENETAPKAN SYARAT PERIODE
PEMULIHAN/PENGEMBALIAN 2 TAHUN MAKA USULAN PROYEK TERSEBUT
SEBAIKNYA DI TOLAK/TIDAK LAYAK.
92. PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH METODE ARUS KAS KUMULATIF SUATU
PERUSAHAAN SEDANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI A
DAN B, UMUR EKONOMIS PROYEK DIPERKIRAKAN SAMA YAITU 5 TAHUN TANPA
NILAI SISA DENGAN NILAI INVESTASI AWAL JUGA SAMA SEBESAR Rp. 500 JUTA. ARUS
KAS YANG DIHASILKAN PROYEK A : TAHUN KE 1 = Rp. 250 JUTA, TAHUN KE 2 = Rp. 250
JUTA, TAHUN KE 3 = Rp. 75 JUTA, TAHUN KE 4 = Rp. 50 JUTA DAN TAHUN KE 5 = Rp. 25
JUTA. SEDANGKAN ARUS KAS YANG DIHASILKAN PROYEK B : TAHUN KE 1 = Rp. 100
JUTA, TAHUN KE 2 = Rp. 150 JUTA, TAHUN KE 3 = Rp. 250 JUTA, TAHUN KE 4 = Rp. 275
JUTA DAN TAHUN KE 5 = Rp. 300 JUTA. PERIODE PENGEMBALIAN PROYEK TERSEBUT
DAPAT DITENTUKAN SEBAGAI BERIKUT :
93. PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH METODE ARUS KAS KUMULATIF TAHUN
PROYEK A ARUS KAS PROYEK B KUMULATIF ARUS KAS KUMULATIF 1 RP. 250 JUTA RP.
250 JUTA RP. 100 JUTA RP. 100 JUTA 2 RP. 250 JUTA RP. 500 JUTA RP. 150 JUTA RP. 250 JUTA
3 RP. 75 JUTA RP. 575 JUTA RP. 250 JUTA RP. 500 JUTA 4 RP. 50 JUTA RP.625 JUTA RP. 275
JUTA RP. 775 JUTA 5 RP. 25 JUTA RP. 650 JUTA RP. 300 JUTA RP. 1.075 JUTA PAYBACK
PERIOD = 2 TAHUN PAYBACK PERIOD = 3 TAHUN DARI TABEL ARUS KAS DI ATAS
DAPAT DIKETAHUI BAHWA PAYBACK PERIOD PROYEK A ADALAH 2 TAHUN
SEDANGKAN PROYEK B ADALAH 3 TAHUN, SEHINGGA PROYEK INVESTASI A YANG
DITERIMA, KARENA MODAL YANG DIINVESTASIKAN LEBIH CEPAT KEMBALI. TETAPI
JIKA ARUS KAS SETELAH PERIODE PENGEMBALIAN TERCAPAI DIPERHATIKAN,
PROYEK A HANYA MENGHASILKAN Rp. 150 JUTA, SEDANGKAN PROYEK B MAMPU
MENGHASILKAN Rp. 575 JUTA. INI MENUNJUKAN SALAH SATU KELEMAHAN
PAYBACK METHOD YANG MENGABAIKAN ARUS KAS SETELAH PERIODE
PENGEMBALIAN TERCAPAI
94. DISCOUNTED PAYBACK PERIOD METHOD DISCOUNTED PAYBACK PERIOD
METHOD MERUPAKAN METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI UNTUK MENILAI
KELAYAKAN INVESTASI MENURUT JANGKA WAKTU PEMULIHAN/PENGEMBALIAN
MODAL YANG DIINVESTASIKAN DENGAN MEMPERHATIKAN NILAI WAKTU DARI
UANG.
95. DISCOUNTED PAYBACK PERIOD METHOD CONTOH : SUATU PERUSAHAAN
SEDANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI SEBESAR Rp.

600 JUTA, UMUR EKONOMIS PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN TANPA NILAI SISA.
ARUS KAS YANG DIHASILKAN PROYEK TERSEBUT SELAMA UMUR PROYEK ADALAH
TAHUN KE 1 = Rp. 300 JUTA, TAHUN KE 2 = Rp. 250 JUTA, TAHUN KE 3 = Rp. 200 JUTA,
TAHUN KE 4 = Rp. 150 JUTA DAN TAHUN KE 5 = Rp. 100 JUTA DENGAN ASUMSI
TINGKAT BUNGA 12%. PERIODE PENGEMBALIAN PROYEK TERSEBUT DAPAT
DITENTUKAN SEBAGAI BERIKUT :
96. DISCOUNTED PAYBACK PERIOD METHOD TAHUN ARUS KAS DF (12%) PV ARUS
KAS ARUS KAS KUMULATIF 1 RP. 300.000.000,- 0,8929 267.870 267.870 2 RP. 250.000.000,0,7972 199,300 467.170 3 RP. 200.000.000,- 0,7118 142.360 609.530 4 RP. 150.000.000,- 0,6355
95.325 704.855 5 RP. 100.000.000,- 0,5674 56.740 761.595 PAYBACK PERIOD PAYBACK
PERIOD = n =2+ = + A-B x 1 TAHUN C-B 600.000 - 467.170 609.530 - 467.170 2,9331 TAHUN x
1 TAHUN
97. NET PRESENT VALUE (NPV) NET PRESENT VALUE (NILAI SEKARANG BERSIH) NET
PRESENT VALUE MERUPAKAN METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI UNTUK
MENILAI KELAYAKAN INVESTASI YANG MENYELARASKAN NILAI AKAN DATANG
ARUS KAS MENJADI NILAI SEKARANG DENGAN MELALUI PEMOTONGAN ARUS KAS
DENGAN MEMAKAI FAKTOR PENGURANG (DISCOUNTED FACTOR) PADA TINGKAT
BIAYA MODAL (COST OF CAPITAL) ATAU TINGKAT BUNGA ATAU TINGKAT
PENGEMBALIAN YANG DISYARATKAN (REQUIRED RATE OF RETURN-RRR) KRITERIA
KELAYAKAN : PROYEK INVESTASI LAYAK POSITIF (>0) DITERIMA BILA NPV
BERTANDA PROYEK INVESTASI TIDAK LAYAK DITERIMA BILA NPV BERTANDA
NEGATIF (<0)
98. NET PRESENT VALUE (NPV) NET PRESENT VALUE : NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS TETAP TIAP TAHUN NET PRESENT VALUE (NPV) DENGAN ARUS
KAS BERBEDA TIAP TAHUN
99. NET PRESENT VALUE (NPV) NET PRESENT VALUE (NPV) DENGAN ARUS KAS
SAMA/TETAP TIAP TAHUN, METODE YANG DIPERGUNAKAN BILA JUMLAH ARUS KAS
SAMA DARI TAHUN KE TAHUN. NPV = TPV I0 TPVt = At (1+r)t - 1 (1+r)t - 1 r(1+r)t r(1+r)t =
DISCOUNTED FACTOR KETERANGAN : NPV = NILAI SEKARANG BERSIH TPV = TOTAL
NILAI SEKARANG I0 = INVESTASI AWAL ATAU ORIGINAL INVESMENT (OI) At = ARUS
KAS/CASH FLOW PADA PERIODE KE t r = TINGKAT BUNGA/BIAYA MODAL/RRR
YANGDIPERHITUNGKAN t = PERIODE WAKTU INVESTASI 1, 2, , n
100. NET PRESENT VALUE (NPV) CONTOH METODE NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS TETAP/SAMA TIAP TAHUN SUATU PERUSAHAAN SEDANG
MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI SEBESAR Rp. 40 JUTA
TANPA NILAI SISA DAN DAPAT MENGHASILKAN ARUS KAS SEBESAR Rp. 12 JUTA PER
TAHUN SELAMA 5 TAHUN. JIKA DIASUMSIKAN RRR SEBESAR 20%, MAKA NPV NYA
DAPAT DIHITUNG SEBAGAI BERIKUT : TPVt = At (1+r)t - 1 r(1+r)t (1+0,20)5 - 1 TPVt = 12
JUTA 0.20(1+0,20)5 TPVt = 12.000.000 x 2,9906 = 35.887.345,68 NPV = TPV I0 = 35.887.345,68
- 40.000.000 = -4.112.654,32
101. NET PRESENT VALUE (NPV) CONTOH METODE NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS TETAP/SAMA TIAP TAHUN ATAU TAHUN ARUS KAS DISCOUNTED
FACTOR 20% NILAI SEKARANG (PV) 1 12.000.000 0.8333 10,000,000.00 2 12.000.000 0.6944
8,333,333.33 3 12.000.000 0.5787 6,944,444.44 4 12.000.000 0.4823 5,787,037.04 5 12.000.000
0.4019 4,822,530.86 2.9906 TOTAL NILAI SEKARANG (TPV) 35,887,345.68 INVESTASI AWAL
(OI) 40.000.000,00 NPV -4,112,654.32
102. NET PRESENT VALUE (NPV) CONTOH METODE NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS TETAP/SAMA TIAP TAHUN BERDASARKAN KRITERIA KELAYAKAN
NPV, USULAN PROYEK INVESTASI TERSEBUT SEBAIKNYA DITOLAK KARENA NILAI
NPV NYA NEGATIF, ARTINYA DANA SEBESAR Rp. 40 JUTA YANG DIINVESTASIKAN
PADA PROYEK TERSEBUT HANYA MENGHASILKAN PV ARUS KAS SEBESAR Rp.
35,887,345.68
103. NET PRESENT VALUE (NPV) NET PRESENT VALUE (NPV) DENGAN ARUS KAS
BERBEDA TIAP TAHUN, METODE YANG DIPERGUNAKAN BILA JUMLAH ARUS KAS
BERBEDA DARI TAHUN KE TAHUN. NPV = TPV I0 t TPV = t=1 At (1+r) t PVt = 1 (1+r)t At
(1+r)t PVt = At = DISCOUNTED FACTOR KETERANGAN : NPV = NILAI SEKARANG

BERSIH TPV = TOTAL NILAI SEKARANG PV = NILAI SEKARANG I0 = INVESTASI AWAL


ATAU ORIGINAL INVESMENT (OI) At = ARUS KAS/CASH FLOW PADA PERIODE KE t n =
UMUR PROYEK INVESTASI r t = = TINGKAT BUNGA/BIAYA MODAL/RRR
YANGDIPERHITUNGKAN PERIODE WAKTU INVESTASI 1, 2, , n 1 (1+r)t
104. NET PRESENT VALUE (NPV) CONTOH METODE NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN SUATU PERUSAHAAN SEDANG
MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI SEBESAR Rp. 700 JUTA,
UMUR PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN TANPA NILAI SISA, ARUS KAS YANG
DIHASILKAN TAHUN KE 1 = Rp. 300 JUTA, TAHUN KE 2 = Rp. 250 JUTA, TAHUN KE 3 =
Rp. 200 JUTA, TAHUN KE 4 = Rp. 150 JUTA, TAHUN KE 5 = Rp. 100 JUTA. JIKA
DIASUMSIKAN RRR SEBESAR 15%, MAKA NPV NYA DAPAT DIHITUNG SEBAGAI
BERIKUT :
105. NET PRESENT VALUE (NPV) CONTOH METODE NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN TAHUN ARUS KAS DISCOUNTED FACTOR
15% NILAI SEKARANG (PV) 1 300.000.000 0.8696 260,869,565.22 2 250.000.000 0.7561
189,035,916.82 3 200.000.000 0.6575 131,503,246.49 4 150.000.000 0.5718 85,762,986.84 5
100.000.000 0.4972 49,717,673.53 TOTAL NILAI SEKARANG (TPV) 716,889,388.90 INVESTASI
AWAL (OI) 700.000.000,00 NPV 16,889,388.90
106. NET PRESENT VALUE (NPV) CONTOH METODE NET PRESENT VALUE (NPV)
DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN BERDASARKAN KRITERIA KELAYAKAN
NPV, USULAN PROYEK INVESTASI TERSEBUT SEBAIKNYA DITERIMA, KARENA NILAI
NPV NYA POSITIF, ARTINYA DANA SEBESAR Rp. 700 JUTA YANG DIINVESTASIKAN
PADA PROYEK TERSEBUT DAPAT MENGHASILKAN PV ARUS KAS SEBESAR Rp.
716,889,388.90
107. PROFITABILITY INDEX (PI) PROFITABILITY INDEX (PI) PROFITABILITY INDEX
KEMAMPUANLABAAN METHOD MERUPAKAN (PI) ATAU METODE METODE ANALISIS
INDEKS KELAYAKAN INVESTASI UNTUK MENILAI KELAYAKAN INVESTASI YANG
MENGUKUR TINGKAT KELAYAKAN INVESTASI BERDASARKAN RASIO ANTARA NILAI
SEKARANG ARUS KAS MASUK TOTAL (TPV) DENGAN DENGAN NILAI SEKARANG
INVESTASI AWAL (I0) KRITERIA KELAYAKAN : PROYEK INVESTASI LAYAK DITERIMA
BILA PI > 1 PROYEK INVESTASI TIDAK LAYAK DITERIMA BILA PI < 1
108. PROFITABILITY INDEX (PI) PI = PI = TPV NPV = TPV I0 I0 NPV + I0 I0 TPV = = NPV
I0 + 1 KETERANGAN : PI = PROFITABILITY INDEX/INDEKS KEMAMPULABAAN NPV =
NILAI SEKARANG BERSIH TPV = TOTAL NILAI SEKARANG I0 = INVESTASI AWAL ATAU
ORIGINAL INVESMENT (OI) NPV + I0
109. PROFITABILITY INDEX (PI) CONTOH METODE PROFITABILITY INDEX SUATU
PERUSAHAAN SEDANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI
SEBESAR Rp. 50 JUTA, UMUR PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN TANPA NILAI SISA,
ARUS KAS YANG DIHASILKAN TAHUN KE 1 = Rp. 30 JUTA, TAHUN KE 2 = Rp. 25 JUTA,
TAHUN KE 3 = Rp. 20 JUTA, TAHUN KE 4 = Rp. 15 JUTA, TAHUN KE 5 = Rp. 10 JUTA. JIKA
DIASUMSIKAN RRR SEBESAR 15%, MAKA PI NYA DAPAT DIHITUNG SEBAGAI BERIKUT
:
110. PROFITABILITY INDEX (PI) CONTOH METODE PROFITABILITY INDEX TAHUN ARUS
KAS DISCOUNTED FACTOR 15% NILAI SEKARANG (PV) 1 30.000.000 0.8696 26,869,565.22
2 25.000.000 0.7561 18.903.591,68 3 20.000.000 0.6575 13.150.324,65 4 15.000.000 0.5718
8.576.298.68 5 10.000.000 0.4972 4.971.767,35 TOTAL NILAI SEKARANG (TPV) 71.688.938,89
INVESTASI AWAL (OI) 50.000.000,00 NPV 21.688.938,89
111. PROFITABILITY INDEX (PI) PI = PI = TPV I0 71.688.938,89 50.000.000,00 PI = 1,43 PI = PI
= PI = NPV + I0 I0 NPV I0 = NPV + 1 21.688.938,89 50.000.000,00 + 1 I0 + 1
112. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) INTERNAL
RATE OF RETURN (IRR) ATAU TINGKAT KEMAMPUANLABAAN INTERNAL DISEBUT
JUGA DISCOUNTED CASH FLOW METHOD MERUPAKAN METODE ANALISIS
KELAYAKAN INVESTASI UNTUK MENILAI KELAYAKAN INVESTASI DIMANA NET
PRESENT VALUE (NPV) = 0, KARENA TOTAL PRESENT VALUE (TPV) SAMA DENGAN
INVESTASI AWAL (I0) KRITERIA KELAYAKAN : PROYEK INVESTASI LAYAK

DITERIMA BILA IRR > RRR PROYEK INVESTASI TIDAK LAYAK DITERIMA BILA IRR <
RRR
113. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) :
INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) DENGAN ARUS KAS TETAP TIAP TAHUN
INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN
114. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) NPV = TPV I0 = 0 n TPV = r=1 PVt = At (1+r) t 1
(1+r)t At (1+r)t PVt = At = DISCOUNTED FACTOR KETERANGAN : NPV = NILAI
SEKARANG BERSIH TPV = TOTAL NILAI SEKARANG PV = NILAI SEKARANG I0 =
INVESTASI AWAL ATAU ORIGINAL INVESMENT (OI) At = ARUS KAS/CASH FLOW PADA
PERIODE KE t n = UMUR PROYEK INVESTASI r = TINGKAT BUNGA/BIAYA MODAL/RRR
YANGDIPERHITUNGKAN t = PERIODE WAKTU INVESTASI 1, 2, , n 1 (1+r)t
115. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) NPV = TPV I0 = 0 TPVt = At X DISCOUNTED
FACTOR (df) NPV = (At X df) I0 0 df = = (At X df) I0 I0 At = PAYBACK PERIOD
116. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) CONTOH METODE INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) DENGAN ARUS KAS TETAP/SAMA TIAP TAHUN SUATU PERUSAHAAN SEDANG
MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI SEBESAR Rp. 80 JUTA
TANPA NILAI SISA DAN DAPAT MENGHASILKAN ARUS KAS SEBESAR Rp. 24 JUTA PER
TAHUN SELAMA 5 TAHUN. JIKA DIASUMSIKAN RRR SEBESAR 12%, MAKA IRR NYA
DAPAT DIHITUNG SEBAGAI BERIKUT : LANGKAH 1 : PP = df = MENCARI DISCOUNTED
FACTOR (DF) I0 At = 80.000.000 24.000.000 = 3,3333 LANGKAH 2 : MENCARI KISARAN
IRR PADA TABEL PV ANUITAS DENGAN MELIHAT TABEL PV ANUITAS, TINGKAT SUKU
BUNGA IRR DENGAN df 3,3333 BERKISAR PADA 15% DAN 16%
117. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) CONTOH METODE INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) DENGAN ARUS KAS TETAP/SAMA TIAP TAHUN LANGKAH 3 : MENCARI TPV
DAN NPV DARI KISARAN IRR NPV DENGAN TINGKAT SUKU BUNGA 15% NPV = TPV
I0 NPV = (24.000.000 X 3,3522) 80.000.000 NPV = + 451.722,35 NPV DENGAN TINGKAT
SUKU BUNGA 16% NPV = TPV I0 NPV = (24.000.000 X 3,2743) 80.000.000 NPV = 1.416.800
118. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) LANJUTAN LANGKAH 3 : MENCARI TPV DAN
NPV DARI KISARAN IRR ATAU THN ARUS KAS DF 15% PV DF 16% PV 1 24.000.000 0.8696
20.8690565.22 0,8621 20.689.655,17 2 24.000.000 0.7561 18.147.448.02 0,7432 17.835.909.63 3
24.000.000 0.6575 15.780.389.58 0,6407 15.375.784,16 4 24.000.000 0.5718 13.722.077.89 0,5523
13.254.986,35 5 24.000.000 0.4972 11.932.241.35 0,4761 11.426.712.37 3,3522 3,2743 TPV
80.451.722.35 78.583.047.69 INVESTASI AWAL (OI) 80.000.000,00 80.000.000 451.722,35 1.416.952.31 NPV
119. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) LANGKAH 4 : MENCARI IRR DENGAN
PERHITUNGAN INTERPOLASI DENGAN KISARAN IRR 15% DAN 16% IRR = R1 + NPV1
NPV1 NPV2 x (R2 R1) KETERANGAN : IRR = INTERNAL RATE OF RETURN R1 =
TINGKAT BUNGA TERKECIL DARI KISARAN IRR R2 = TINGKAT BUNGA TERBESAR
DARI KISARAN IRR NPV1 = NET PRESENT VALUE DARI R1 NPV2 = NET PRESENT
VALUE DARI R2
120. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) LANGKAH 4 : MENCARI IRR DENGAN
PERHITUNGAN INTERPOLASI DENGAN KISARAN IRR 15% DAN 16% PERHITUNGAN
INTERPOLASI, PATOKAN 15% (NPV TERBESAR) TPV 80.451.722.35 78.583.047.69
INVESTASI AWAL (OI) 80.000.000,00 80.000.000 451.722,35 - 1.416.952.31 NPV IRR = 15% +
451.722,35 451.722,35 + 1.416.952.31 X (16% - 15%) = 15,2417% BERDASARKAN KRITERIA
KELAYAKAN IRR, USULAN PROYEK INVESTASI TERSEBUT SEBAIKNYA DITERIMA,
KARENA NILAI IRR > RRR, ARTINYA DANA SEBESAR Rp. 80 JUTA YANG
DIINVESTASIKAN PADA PROYEK TERSEBUT DAPAT MENGHASILKAN IRR = 15,2417%,
LEBIH TINGGI DARI RRR = 12%
121. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN
LANGKAH-LANGKAH : 1. CARI PAYBACK PERIODE (PP) UNTUK MENGETAHUI df a. b.
Mencari PP (DF) dari arus kas rata-rata c. 2. Mencari PP (DF) arus kas kumulatif Mencari PP (DF)
rata-rata SETELAH df DIKETAHUI, DENGAN MENGGUNAKAN TABEL PV ANUITAS CARI
TINGKAT SUKU BUNGA IRR DIKISARAN BERAPA % DENGAN MEMPERHATIKAN UMUR

PROYEK 3. CARI NPV DARI KEDUA KISARAN TINGKAT SUKU BUNGA, BANDINGKAN
KEDUANYA 4. CARI IRR DENGAN PERHITUNGAN INTERPOLASI KEMUDIAN
122. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) CONTOH METODE INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN PERUSAHAAN RAWE RAWE RANTAS
SEDANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN PROYEK INVESTASI SEBESAR Rp.
112.500.000,- UMUR PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN TANPA NILAI SISA, ARUS KAS
YANG DIHASILKAN TAHUN 1 : Rp. 45 JUTA, TAHUN 2 : Rp. 37,5 JUTA, TAHUN 3 : Rp. 30
JUTA, TAHUN 4 : Rp. 22,5 JUTA, DAN TAHUN 5 : Rp. 15 JUTA. JIKA DIASUMSIKAN RRR
SEBESAR 15%, MAKA IRR NYA DAPAT DIHITUNG SEBAGAI BERIKUT : LANGKAH 1 :
MENCARI DISCOUNTED FACTOR (DF) a. MENCARI PP (DF) ARUS KAS BERBEDA
(KUMULATIF) TAHUN ARUS KAS ARUS KAS KUMULATIF 1 45.000.000,- 45.000.000,- 2
37.500.000,- 82.500.000,- 3 30.000.000,- 112.500.000,- 4 22.500.000,- 135.000.000,- 5 15.000.000,150.000.000,123. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) CONTOH METODE INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN LANJUTAN LANGKAH 1: a.
MENCARI PP (DF) ARUS KAS KUMULATIF PAYBACK PERIOD (PP) PAYBACK PERIOD
(PP) PAYBACK PERIOD (PP) n = + = 3 + = 3 + x 1 TAHUN C-B Rp. 112,5 JUTA - Rp. 112,5 JUTA
Rp. 135 JUTA - Rp. 112,5 JUTA 0 Rp. 135 JUTA - Rp. 112,5 JUTA = PP = DF A-B 3 TAHUN = 3 x
1 TAHUN x 1 TAHUN
124. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) CONTOH METODE INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN LANJUTAN LANGKAH 1 : b.
MENCARI PP (DF) ARUS KAS RATA-RATA 45 JT + 37,5 JT + 30 JT + 22,5 JT + 15 JT ARUS
KAS RATA-RATA = 5 150.000.000 = PP (DF) = = 5 I0 Rp. 30.000.000,- 112.500.000 = A
30.000.000 = 3,75 c. MENCARI PP (DF) RATA-RATA 3 + 3,75 PP (DF) RATA-RATA = 2 = 6,75 2
= 3,375
125. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) CONTOH METODE INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) DENGAN ARUS KAS BERBEDA TIAP TAHUN LANGKAH 2 : MENCARI KISARAN
IRR PADA TABEL PV ANUITAS THN 14% 15% 1 0,8772 0,8696 2 1,6467 1,6257 3 2,3216 2,2832
4 2,9137 2,8550 5 3,4331 3,3522 DENGAN MELIHAT TABEL PV ANUITAS, TINGKAT SUKU
BUNGA IRR DENGAN df 3,3750 BERKISAR PADA 14% DAN 15%
126. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) LANGKAH 3 : MENCARI TPV DAN NPV DARI
KISARAN IRR 14% - 15% DF THN ARUS KAS 1 45.000.000,- 0.8772 39,473,684 0.8850
9,823,008.85 2 37.500.000,- 0.7695 28,855,032 0.7831 29,368,000.63 3 30.000.000,- 0.6750
20,249,145 0.6931 20,791,504.87 4 22.500.000,- 0.5921 13,321,806 0.6133 5 15.000.000,- 0.5194
7,790,530 0.5428 14% PV DF 15% PV 13,799,671.37 8,141,399.04 TPV 109,690,198 111,923,585
INVESTASI AWAL (OI) 112,500,000 112,500,000 (2,809,802) (576,415) NPV
127. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) LANGKAH 3 : MENCARI TPV DAN NPV DARI
KISARAN IRR 14% - 15% DF THN ARUS KAS 1 45.000.000,- 0.8850 9,823,008.85 0.8929
40,178,571.43 2 37.500.000,- 0.7831 29,368,000.63 0.7972 29,894,770.41 3 30.000.000,- 0.6931
20,791,504.87 0.7118 21,353,407.43 4 22.500.000,- 0.6133 13,799,671.37 0.6355 14,299,156.76 5
15.000.000,- 0.5428 8,141,399.04 0.5674 8,511,402.84 13% PV DF 12% PV TPV 111,923,585
114,237,308.87 INVESTASI AWAL (OI) 112,500,000 112,500,000.00 (576,415) 1,737,308.87 NPV
DARI KISARAN IRR TERSEBUT DICARI NPV DENGAN DF 14%, HASIL NPVNYA NEGATIF,
COBA DENGAN MENURUNKAN 1% YAITU DF 13%, SAMPAI MENGHASILKAN NPV
POSITIF DENGAN % IRR TERKECIL, PADA PERHITUNGAN DI ATAS NPV POSITIF PADA
12%, JADI KISARAN IRR PADA 12% - 13%
128. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) LANGKAH 4 : MENCARI IRR DENGAN
PERHITUNGAN INTERPOLASI DENGAN KISARAN IRR 12% DAN 13% PERHITUNGAN
INTERPOLASI, PATOKAN 12% (NPV TERBESAR) TPV 114.237.308,87 111.923.584,76
INVESTASI AWAL (OI) 112.500.000,00 112.500.000,00 1.737.308.87 - 576.415,24 NPV IRR =
12% + 1.737.308.87 1.737.308.87 + 576.415,24 X (13% - 12%) = 12,7509% BERDASARKAN
KRITERIA KELAYAKAN IRR, USULAN PROYEK INVESTASI TERSEBUT SEBAIKNYA
DITOLAK, KARENA NILAI IRR < RRR, ARTINYA DANA SEBESAR Rp. 112,5 JUTA YANG
DIINVESTASIKAN PADA PROYEK TERSEBUT HANYA MENGHASILKAN IRR = 12,7509%,
LEBIH RENDAH DARI RRR = 15,0000%
129. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) HUBUNGAN NPV DENGAN IRR NPV DAN IRR
BERHUBUNGAN NEGATIF (BERLAWANAN), ARTINYA APABILA IRR MENDEKATI NOL

MAKA NPV AKAN MENDEKATI MAKSIMUM , SEBALIKNYA APABILA NPV MENDEKATI


NOL MAKA IRR AKAN MENDEKATI MAKSIMUM
130. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI AJI PAMUNGKAS SEDANG
MEMPERTIMBANGKAN TIGA USULAN PROYEK YANG SALING LEPAS (MUTUALLY
EXCLUSIVE), MASING-MASING MEMERLUKAN DANA SEBESAR $90.000 TANPA NILAI
SISA DAN UMUR PROYEK DIPERKIRAKAN 5 TAHUN, ARUS KAS DARI MASING-MASING
PROYEK MEMILIKI POLA YANG BERBEDA. PROYEK A MENGHASILKAN ARUS KAS
YANG KONSTAN SETIAP TAHUN, PROYEK B MENGHASILKAN ARUS KAS YANG TINGGI
PADA AWAL TAHUN DAN MENURUN PADA TAHUN BERIKUTNYA, SEDANGKAN
PROYEK C MENGHASILKAN ARUS KAS YANG RENDAH PADA AWAL TAHUN DAN
MENINGKAT PADA TAHUN-TAHUN BERIKUTNYA.. ARUS KAS KETIGA USULAN
PROYEK TERSEBUT ADALAH SEBAGAI BERIKUT : TAHUN PROYEK A PROYEK B
PROYEK C 1 $30.000 $50.000 $10.000 2 30.000 40.000 20.000 3 30.000 30.000 30.000 4 30.000
20.000 40.000 5 30.000 10.000 50.000 DIASUMSIKAN BIAYA MODAL/RRR/TINGKAT SUKU
BUNGA 15%, USULAN PROYEK MANAKAH DARI KETIGA PROYEK TERSEBUT YANG
LAYAK DITERIMA? (HITUNG PP, DPP, NPV, PI DAN IRR)
131. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENYELESAIAN : 1.
PERHITUNGAN PAYBACK PERIOD (PP) : a. PROYEK A INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000
ARUS KAS (At) = $30.000 INVESTASI AWAL (OI) PAYBACK PERIOD = = = ARUS KAS (A)
$90.000 $30.000 3 TAHUN x 1 TAHUN x 1 TAHUN
132. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 1. PERHITUNGAN PAYBACK
PERIOD (PP) : b. PROYEK B INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 TAHUN ARUS KAS ARUS
KAS KUMULATIF 1 $50.000 $50.000 2 40.000 90.000 3 30.000 120.000 4 20.000 140.000 5
10.000 150.000 PAYBACK PERIOD = n = 2+ + A-B x 1 TAHUN C-B $90.000 - $90.000 $120.000 $90.000 = 2,0000 TAHUN x 1 TAHUN
133. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 1. PERHITUNGAN PAYBACK
PERIOD (PP) : c. PROYEK C INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 TAHUN ARUS KAS ARUS
KAS KUMULATIF 1 $10.000 $10.000 2 20.000 30.000 3 30.000 60.000 4 40.000 100.000 5 50.000
150.000 PAYBACK PERIOD = n = 3+ + A-B x 1 TAHUN C-B $90.000 - $60.000 $100.000 $60.000 = 3,7500 TAHUN x 1 TAHUN
134. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 1. PERHITUNGAN PAYBACK
PERIOD (PP) : KESIMPULAN : DARI PERHITUNGAN PAYBACK PERIOD (PP) DARI
KETIGA PROYEK INVESTASI YANG DIUSULKAN DIPEROLEH HASIL SEBAGAI
BERIKUT : PROYEK PAYBACK PERIOD (PP) A 3,0000 TAHUN B C 2,0000 TAHUN 3,7500
TAHUN BERDASARKAN HASIL PERHITUNGAN PAYBACK PERIOD PADA TABEL DI ATAS
KETIGA PROYEK LAYAK UNTUK DITERIMA KARENA PAYBACK PERIODNYA LEBIH
KECIL DARI UMUR PROYEK (5 TAHUN) DARI INVESTASI SEBESAR $90.000 YANG
DITANAMKAN PROYEK INVESTASI A DAPAT MENGEMBALIKAN DALAM WAKTU 3
TAHUN, PROYEK INVESTASI B SELAMA 2 TAHUN SEDANGKAN PROYEK INVESTASI C
SELAMA 3,7500 TAHUN. REKOMENDASI : BERDASARKAN HASIL PERHITUNGAN
PAYBACK PERIOD (PP) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI DI ATAS, USULAN PROYEK
INVESTASI B YANG DITERIMA KARENA PAYBACK PERIODNYA LEBIH CEPAT DARI
PADA PROYEK INVESTASI PROYEK A DAN C.
135. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 2. PERHITUNGAN NET
PRESENT VALUE (NPV) : a. PROYEK A INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 BIAYA
MODAL/RRR THN DF 15% 1 0,8696 2 = 15% PROYEK A ARUS KAS PROYEK B PV ARUS
KAS $30.000 $26.086,96 $50.000 0,7561 30.000 22.684,31 3 0,6575 30.000 4 0,5718 5 0,4972
PROYEK C ARUS KAS PV $43.478,26 $10.000 $8.695,65 40.000 30.245,75 20.000 15.122,87
19.725,49 30.000 19.725,49 30.000 19.725,49 30.000 17.152,60 20.000 11.435.06 40.000 22.870,13
30.000 14.915,30 10.000 4.971.33 50.000 24.858.84 TPV 100.564,65 109.856,33 91.272,98
INVESTASI AWAL/OI 90.000,00 90.000,00 90.000,00 NPV 10.564,65 19.856,33 1.272,98 PV
3,3522
136. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 2. PERHITUNGAN NET
PRESENT VALUE (NPV) : KESIMPULAN : DARI PERHITUNGAN NET PRESENT VALUE
(NPV) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI YANG DIUSULKAN DIPEROLEH HASIL
SEBAGAI BERIKUT : PROYEK NET PRESENT VALUE (NPV) A B C $10.564,6529
$19.856,3268 $1.272,9791 BERDASARKAN HASIL PERHITUNGAN NET PRESENT VALUE

PADA TABEL DI ATAS KETIGA PROYEK LAYAK UNTUK DITERIMA KARENA NET
PRESENT VALUENYA LEBIH BESAR DARI 0. DARI INVESTASI YANG DITANAMKAN
SEBESAR $90.000 PROYEK INVESTASI A DAPAT MENGHASILKAN NET PRESENT VALUE
(NPV) SEBESAR $10.564,6529, PROYEK INVESTASI B SEBESAR $19.856,3268 SEDANGKAN
PROYEK INVESTASI C SEBESAR $1.272,9791 REKOMENDASI : BERDASARKAN HASIL
PERHITUNGAN NET PRESENT VALUE (NPV) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI DI ATAS,
USULAN PROYEK INVESTASI B YANG DITERIMA KARENA NET PRESENT VALUE (NPV)
YANG DIHASILKAN PALING BESAR DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK INVESTASI
PROYEK A DAN C.
137. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 3. PERHITUNGAN
PROFITABILITY INDEX (PI) : INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 TOTAL PRESENT VALUE
(TPV) : B A PROYEK TOTAL PRESENT VALUE (TPV) $10.564,6529 $19.856,3268 a. PROYEK
A PI = TPV I0 = $10.564,6529 $90.000 = 1.1174 = 1.2206 = 1.0141 b. PROYEK B PI = TPV I0 =
$19.856,3268 $90.000 c. PROYEK C PI = TPV I0 = $1.272,9791 $90.000 C $1.272,9791
138. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 3. PERHITUNGAN
PROFITABILITY INDEX (PI) : KESIMPULAN : DARI PERHITUNGAN PROFITABILITY
INDEX (PI) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI YANG DIUSULKAN DIPEROLEH HASIL
SEBAGAI BERIKUT : PROYEK PROFITABILITY INDEX (PI) A B C 1,1174 1.2206 1,0141
BERDASARKAN HASIL PERHITUNGAN PROFITABILITY INDEX PADA TABEL DI ATAS
KETIGA PROYEK LAYAK UNTUK DITERIMA KARENA PROFITABILITY INDEXNYA
LEBIH BESAR DARI SATU. DARI INVESTASI YANG DITANAMKAN SEBESAR $90.000
PROYEK INVESTASI A DAPAT MENGHASILKAN PROFITABILITY INDEX (PI) SEBESAR
1,1174, PROYEK INVESTASI B SEBESAR 1,2206 SEDANGKAN PROYEK INVESTASI C
SEBESAR 1,0141 REKOMENDASI : BERDASARKAN HASIL PERHITUNGAN
PROFITABILITY INDEX (PI) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI DI ATAS, USULAN
PROYEK INVESTASI B YANG DITERIMA KARENA PROFITABILITY INDEX (PI) YANG
DIHASILKAN PALING TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK INVESTASI PROYEK
A DAN C.
139. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 4. PERHITUNGAN INTERNAL
RATE OF RETURN (IRR) a. PROYEK A INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 PAYBACK
PERIOD (PP) = DF = 3,0000 PADA TABEL PV ANUITAS DISCOUNTED FACTOR (DF) 3,0000
BERADA PADA KISARAN 19% DAN 20%, HAL INI MENUNJUKAN BAHWA IRR BERADA
PADA KISARAN 19% DAN 20%. THN ARUS KAS DF 19% DF PV 20% PV 1 $30.000 0,8403
$25.210,08 0,8333 $25.000,00 2 30.000 0,7062 21.184,94 0,6944 20.833,33 3 30.000 0,5934
17.802,47 0,5787 17.361,11 4 30.000 0,4987 14.960,06 0,4823 14.467,59 5 30.000 0,4190 12.571,48
0,4019 12.056,33 3,0576 TPV INVESTASI AWAL (OI) NPV 2,9906 $91.729,05 $89.718,39
90.000,00 90.000,00 1.729,05 - 281,64
140. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) 4. PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) PERHITUNGAN INTERPOLASI, DENGAN PATOKAN 19% (TERBESAR) TPV
$91.729,05 90.000,00 90.000,00 1.729,05 INVESTASI AWAL (OI) $89.718,39 - 281,64 NPV IRR =
19% + 1.729,05 1.729,05 + 281,64 X (20% - 19%) = 19,8599%
141. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 4. PERHITUNGAN INTERNAL
RATE OF RETURN (IRR) b. PROYEK B INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 PAYBACK
PERIOD (PP) = DF = 2,5714 PADA TABEL PV ANUITAS DISCOUNTED FACTOR (DF) 2,5714
BERADA PADA KISARAN 27% DAN 28%, HAL INI MENUNJUKAN BAHWA IRR BERADA
PADA KISARAN 27% DAN 28%. THN ARUS KAS DF 27% DF PV 28% PV 1 $50.000 0,7874
39.370,08 0,7813 39.062,50 2 40.000 0,6200 24.800,05 0,6104 24.414,06 3 30.000 0,4882 14.645,70
0,4768 14.305,11 4 20.000 0,3844 7.688,03 0,3725 7.450,58 5 10.000 0,3027 3.026,78 0,2910
2.910,38 2,5827 2,5320 TPV 89.530,64 88.142,64 INVESTASI AWAL (OI) 90.000,00 90.000,00 469,36 - 1.857,36 NPV
142. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) 4. PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) PERHITUNGAN INTERPOLASI, DENGAN PATOKAN 27% (NPV TERBESAR) TPV
89.530,64 88.142,64 INVESTASI AWAL (OI) 90.000,00 90.000,00 - 469,36 - 1.857,36 NPV IRR =
27% + 469,36 469,36 + 1.857,36 X (28% - 27%) = 27,2017%
143. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 4. PERHITUNGAN INTERNAL
RATE OF RETURN (IRR) c. PROYEK C INVESTASI AWAL/OI/I0 = $90.000 PAYBACK
PERIOD (PP) = DF = 3,8571 PADA TABEL PV ANUITAS DISCOUNTED FACTOR (DF) 3,8571

BERADA PADA KISARAN 9% DAN 10%, HAL INI MENUNJUKAN BAHWA IRR BERADA
PADA KISARAN 9% DAN 10%. THN ARUS KAS DF 9% DF PV 10% PV 1 $10.000 0,9174
9.174,34 0,9091 9.090,91 2 20.000 0,8417 16.833,60 0,8264 16.528,93 3 30.000 0,7722 23.165,50
0,7513 22.539,44 4 40.000 0,7084 28.337,01 0,6830 27.320,54 5 50.000 0,6499 32.496,57 0,6209
31.046,07 3,8897 TPV 3,7908 110.006,99 106.525,88 INVESTASI AWAL (OI) 90.000,00 90.000,00
NPV 20.006,99 16.525,88
144. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) 4. PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN
(IRR) PERHITUNGAN INTERPOLASI, DENGAN PATOKAN 9% (NPV TERBESAR) TPV
110.006,99 106.525,88 INVESTASI AWAL (OI) 90.000,00 90.000,00 NPV 20.006,99 16.525,88 IRR
= 9% + 20.006,99 X (10% - 9%)= 9,5476% (20.006,99 + 16.525,88)
145. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 4. PERHITUNGAN INTERNAL
RATE OF RETURN (IRR) KESIMPULAN : DARI PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF
RETURN (IRR) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI YANG DIUSULKAN DIPEROLEH
HASIL SEBAGAI BERIKUT : PROYEK INTERNAL RATE OF RETURN A B C 19,8599%
27,2017% 9,5476% BERDASARKAN HASIL PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN
PADA TABEL DI ATAS PROYEK A DAN B LAYAK UNTUK DITERIMA KARENA INTERNAL
RATE OF RETURNNYA LEBIH BESAR DARI REQUIRED RATE OF RETURNNYA (15%),
SEDANGKAN PROYEK C TIDAK LAYAK UNTUK DITERIMA KARENA IRRNYA LEBIH
KECIL DARI RRRNYA (15%) DARI INVESTASI YANG DITANAMKAN SEBESAR $90.000
PROYEK INVESTASI A DAPAT MENGHASILKAN INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)
SEBESAR 19,8599%, PROYEK INVESTASI B SEBESAR 27,2017% SEDANGKAN PROYEK
INVESTASI C SEBESAR 9,5476% REKOMENDASI : BERDASARKAN HASIL
PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) DARI KETIGA PROYEK INVESTASI
DI ATAS, USULAN PROYEK INVESTASI B YANG DITERIMA KARENA INTERNAL RATE OF
RETURN (IRR) YANG DIHASILKAN PALING TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK
INVESTASI PROYEK A DAN C.
146. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI KESIMPULAN AKHIR :
BERDASARKAN ANALISA DARI KETIGA PROYEK INVESTASI A, B, C YANG
DIUSULKAN, DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI PP, NPV, PI DAN IRR, DIPEROLEH HASIL SEBAGAI BERIKUT : PROYEK
PAYBACK PERIOD (PP) NET PRESENT VALUE (NPV) PROFITABILITY INDEX (PI)
INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) A B 3,0000 TAHUN 2,5714 TAHUN $10.564,6529
$19.856,3268 C 3,8571 TAHUN $1.272,9791 1,1174 1.2206 1,0141 19,8599% 27,2017% 9,5476%
DARI HASIL PERHITUNGAN DI ATAS DAPAT DISIMPULKAN BAHWA KETIGA PROYEK
INVESTASI TERSEBUT MEMENUHI SYARAT UNTUK DITERIMA KECUALI IRR PROYEK C
(IRR<RRR) KARENA TELAH MEMENUHI SYARAT DARI KRITERIA KELAYAKAN
INVESTASI YANG DISYARATKAN OLEH KEEMPAT METODE KELAYAKAN INVESTASI
TERSEBUT.
147. SOAL 1 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI REKOMENDASI : DARI
KETIGA PROYEK INVESTASI YANG DIUSULKAN DENGAN RENCANA INVESTASI YANG
DITANAMKAN PERUSAHAAN SEBESAR $90.000, PERKIRAAN PROYEK BEROPERASI
SELAMA 5 TAHUN DAN SUKU BUNGA YANG DISYARATKAN (RRR) 15%, PROYEK B
YANG DIPILIH UNTUK DITERIMA KARENA MEMPUNYAI NILAI YANG LEBIH BAIK
DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK A DAN C. BERDASARKAN HASIL TABEL
KESIMPULAN DI ATAS, PROYEK B MEMPUNYAI KEMAMPUAN : 1. MENGEMBALIKAN
INVESTASI (PAYBACK PERIOD/PP) YANG DITANAMKAN TERCEPAT DALAM WAKTU
2,5714 TAHUN, LEBIH CEPAT DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK A (3 TAHUN) DAN C
(3,8571 TAHUN). 2. MENGHASILKAN NET PRESENT VALUE (NPV) TERBESAR YAITU
SEBESAR $19.856,3268, LEBIH BESAR DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK A
($10.564,6529) DAN C ($1.272,9791) 3. MENGHASILKAN RASIO PROFITABILITY INDEX (PI)
TERBESAR YAITU SEBESAR 1.2206, LEBIH BESAR DIBANDINGKAN DENGAN PROYEK A
(1,1174) DAN C (1,0141). 4. MENGHASILKAN INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)
TERBESAR YAITU SEBESAR 27,2017%, LEBIH BESAR DIBANDINGKAN DENGAN
PROYEK A (19,8599%) DAN C (9,5476%)
148. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PT. BANGUN SEMARAK
PERSADA MERUPAKAN ANAK PERUSAHAAN SEBUAH PERUSAHAAN MULTINASIONAL
YANG BERKANTOR PUSAT DI AMERIKA SERIKAT. PERUSAHAAN TERSEBUT ADALAH

PEMASOK PRODUK TIANG PANCANG DARI BETON YANG BEROPERASI DI LIMA KOTA
BESAR DI PULAU JAWA. SAAT INI PERUSAHAAN MEMILIKI LIMA PABRIK
PEMROSESAN SEMEN, KECUALI BUBUK SEMEN, SEMUA BAHAN BAKU DIPRODUKSI
SECARA INTERNAL OLEH PERUSAHAAN. PERMINTAAN AKAN PRODUKSI TERSEBUT
TELAH TUMBUH SECARA STABIL DI TINGKAT NASIONAL, KHUSUSNYA DI PULAU
JAWA LAJU PERTUMBUHANNYA DI ATAS RATA-RATA NASIONAL. DI WILAYAH
JAKARTA MENGALAMI PERTUMBUHAN YANG PALING CEPAT, PABRIK PEMROSESAN
TELAH BERTAMBAH SELAMA LIMA TAHUN TERAKHIR DAN PERUSAHAAN SEDANG
MEMPERTIMBANGKAN PENAMBAHAN PABRIK LAINNYA YANG BERLOKASI DI PULAU
BALI, UMUR PROYEK DIPERKIRAKAN 10 TAHUN. KEUNGGULAN UTAMA
PERUSAHAAN ADALAH KEMAMPUANNYA UNTUK BEROPERASI SEPANJANG TAHUN,
HAL INI TIDAK DITEMUI DI PERUSAHAAN LAIN YANG BERLOKASI DI LUAR PULAU
JAWA. UNTUK KEPERLUAN PELAPORAN KEPADA INDUK PERUSAHAAN, PT. BANGUN
SEMARAK PERSADA MELAKUKAN PEMBUKUAN DALAM MATA UANG DOLLAR AS.
149. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI IKHTISAR BIAYA INVESTASI
AWAL/ORIGINAL INVESMENT DAPAT DIRINCI SEBAGAI BERIKUT : TANAH $55.000
BANGUNAN 135.000 MESIN DAN PERALATAN 220.000 INVENTARIS DAN KENDARAAN
SARANA DAN PRASARANA LAINNYA JUMLAH INVESTASI AWAL 50.000 125.000 $585.000
150. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI ESTIMASI OPERASIONAL
PABRIK SELAMA UMUR PROYEK DAPAT DIRINCI SEBAGAI BERIKUT : PENJUALAN
RATA-RATA PERTAHUN (DALAM YAR KUBIK) HARGA JUAL PER YAR KUBIK 35.000 $45
BIAYA VARIABEL SEMEN $12,94 PASIR/KERIKIL 6,42 ABU 1,32 CAMPURAN 1,53 TENAGA
SUPIR 3,24 MEKANIK 1,43 OPERASI PABRIK 1,39 OPERATOR MESIN 1,50 KOMPONEN
TRUK 1,75 BAHAN BAKAR 1,48 LAIN-LAIN 2,27 TOTAL BIAYA VARIABEL $35,27
151. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI BIAYA TETAP (TAHUNAN)
GAJI KARYAWAN $135.000 ASURANSI 75.000 DEPRESIASI 58.200 LAIN-LAIN 30.000
TOTAL BIAYA TETAP $298.200 SETELAH MENELAAH DATA TERSEBUT, JANUARSO
SALAH SATU DARI ANGGOTA TIM KELAYAKAN PROYEK MENYATAKAN BAHWA
PROYEK PABRIK TERSEBUT AKAN MEMERLUKAN WAKTU LEBIH DARI LIMA UNTUK
MENUTUP TOTAL PENGELUARAN AWAL (INVESTASI AWAL) SEBESAR $585.000
TERSEBUT. INDUK PERUSAHAAN TELAH MENETAPKAN DENGAN TEGAS BAHWA
PERIODE PENGEMBALIAN INVESTASI TIDAK LEBIH DARI 5 (LIMA) TAHUN. BIAYA
MODAL/RRR PERUSAHAAN ADALAH 10%, TINGKAT PAJAK PERUSAHAAN RATA-RATA
25%. DIMINTA HITUNGLAH PERIODE PENGEMBALIAN (PAYBACK PERIOD), APAKAH
PERNYATAAN JANUARSO BENAR ATAU SALAH BAHWA PERIODE PENGEMBALIAN
LEBIH DARI LIMA TAHUN. HITUNGLAH PI, NPV DAN IRR, KESIMPULAN APA YANG
DAPAT ANDA PEROLEH DAN BERIKAN REKOMENDASI ATAS KESIMPULAN TERSEBUT.
152. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENYELESAIAN : DIKETAHUI
: INVESTASI AWAL/OI/I0 = $585.000 UMUR PROYEK = 10 TAHUN PAYBACK PERIOD
YANG DISYARATKAN = BIAYA MODAL/RRR = 10% TINGKAT PAJAK PERUSAHAAN =
15% 5 TAHUN
153. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN PROYEKSI
ARUS KAS : ARUS KAS RATA-RATA PERTAHUN (SELAMA 10 TAHUN) a. PRODUKSI
RATA-RATA PER TAHUN (YAR KUBIK) b. HARGA JUAL PER YAR KUBIK 35.000 $45 c.
HASIL PENJUALAN (a X b) 1.575.000 d. BIAYA VARIABEL ($35,27 X a) 1.234.450 e. BIAYA
TETAP f. TOTAL BIAYA (d + e) g. LABA SEBELUM PAJAK/EBT (c - f) 298.200 1.532.650
42.350 h. PAJAK (25% X g) 10.587,50 i. LABA SETELAH PAJAK/EAT (g i) 31.762,50 j.
DEPRESIASI k. ARUS KAS PERTAHUN (I + j) 58.200 $89.962,50
154. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI : 1. PERHITUNGAN PAYBACK PERIOD (PP) INVESTASI AWAL/OI/I0 =
$585.000,00 ARUS KAS (At) = $89.962,50 INVESTASI AWAL (OI) PAYBACK PERIOD = = =
ARUS KAS (A) $585.000,00 $89.962,50 x 1 TAHUN x 1 TAHUN 6,5027 TAHUN HASIL
PERHITUNGAN DI ATAS MEMBUKTIKAN BAHWA PERNYATAAN JANUARSO BENAR
BAHWA PERIODE PENGEMBALIAN INVESTASI LEBIH DARI LIMA TAHUN.
155. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI : 2. PERHITUNGAN NET PRESENT VALUE (NPV) TAHUN ARUS KAS
DISCOUNTED FACTOR 10% NILAI SEKARANG (PV) 1 $89.962,50 0,9091 $81.784,09 2

$89.962,50 0,8264 74.349,17 3 $89.962,50 0,7513 67.590,16 4 $89.962,50 0,6830 61.445,60 5


$89.962,50 0,6209 55.859,63 6 $89.962,50 0,5645 50.781,49 7 $89.962,50 0,5132 46.164,99 8
$89.962,50 0,4665 41.968,17 9 $89.962,50 0,4241 38.152.88 10 $89.962,50 0,3855 34.684,44
6,1446 TOTAL NILAI SEKARANG (TPV) $552.780,62 INVESTASI AWAL (OI) $585.000,00 NPV
- $32.219,38
156. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI : 3. PERHITUNGAN PROFITABILITY INDEX (PI) INVESTASI AWAL/OI/I0
TOTAL PRESENT VALUE (TPV) PI = = = TPV I0 $552.780,62 $585.000,00 0,9449 = $585.000,00
= $552.780,62
157. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI : 4. PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) INVESTASI
AWAL/OI/I0 = $90.000 PAYBACK PERIOD (PP) = DF = 3,0000 PADA TABEL PV ANUITAS
DISCOUNTED FACTOR (DF) 6,5027 BERADA PADA KISARAN 8% DAN 9%, HAL INI
MENUNJUKAN BAHWA IRR BERADA PADA KISARAN 8% DAN 9%.
158. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI : 4. PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) THN ARUS KAS DF
8% PV DF 9% PV 1 $89.962,50 0,9259 83.298,61 0,9174 $82.534,40 2 $89.962,50 0,8573 77.128,34
0.8417 75.719,64 3 $89.962,50 0,7938 71.415,13 0,7722 69.467,56 4 $89.962,50 0,7350 66.125,12
0,7084 63.731,70 5 $89.962,50 0,6806 61.226,97 0.6499 58.469,45 6 $89.962,50 0,6302 56.691,64
0,5963 53.641,70 7 $89.962,50 0,5835 52.492,25 0,5470 49.212,57 8 $89.962,50 0,5403 48.603,94
0,5019 45.149,15 9 $89.962,50 0,5002 45.003,65 0,4604 41.421,23 10 $89.962,50 0,4632 41.670,04
0,4224 38.001,13 6,7101 6,4177 TPV $603.655,70 $577.348,53 INVESTASI AWAL (OI)
$585.000,00 $585.000,00 18.655,70 - 7.651,47. NPV
159. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PERHITUNGAN KELAYAKAN
INVESTASI : 4. PERHITUNGAN INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) PERHITUNGAN
INTERPOLASI, DENGAN PATOKAN 8% (NPV TERBESAR) TPV $603.655,70 $577.348,53
INVESTASI AWAL (OI) $585.000,00 $585.000,00 18.655,70 - 7.651,47. NPV IRR = R1 + NPV1
NPV1 NPV2 IRR = 8% + x (R2 R1) 18.655,70 X (9% - 8%) (18.655,70 + 7.651,47) = 8,7091%
160. SOAL 2 : METODE ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI KESIMPULAN :
BERDASARKAN HASIL ANALISA METODE PERHITUNGAN KELAYAKAN INVESTASI PP,
NPV, PI DAN IRR DI ATAS, DIPEROLEH HASIL SEBAGAI BERIKUT : HASIL PENILAIAN
KELAYAKAN REKOMENDASI NO. METODE HASIL KRITERIA KELAYAKAN 1 PP 6,50 THN
PP < 5 THN PP > 5 THN TIDAK LAYAK 2 NPV - $32.219,38 NPV > 0 NPV < 0 TIDAK LAYAK 3
PI 0,9449 PI > 1 PI < 1 TIDAK LAYAK 4 IRR 8,7091% IRR > RRR (10%) IRR < RRR TIDAK
LAYAK DARI TABEL DI ATAS DAPAT DISIMPULKAN BAHWA PROYEK INVESTASI
PRODUK TIANG PANCANG BETON PT. BANGUN SEMARAK PERSADA TERSEBUT TIDAK
LAYAK UNTUK DIREALISASIKAN KARENA HASIL PENILAIAN KELAYAKAN INVESTASI
TIDAK MEMENUHI SYARAT KRITERIA KELAYAKAN INVESTASI DARI KEEMPAT
METODE KELAYAKAN (PP, NPV, PI DAN IRR).
161. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI SALAH SATU PERISTIWA MONETER YANG
SANGAT PENTING DAN DIJUMPAI HAMPIR DI SEMUA NEGARA ADALAH INFLASI.
INFLASI DIDEFINISIKAN SEBAGAI KECENDERUNGAN KENAIKAN HARGA-HARGA
BARANG DAN TERMASUK FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI SECARA UMUM DAN TERUS
MENERUS.
162. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI KENAIKAN HARGA DARI SATU ATAU DUA
JENIS BARANG ATAU JASA SAJA TIDAK BISA DISEBUT SEBAGAI INFLASI, KECUALI
BILA KENAIKAN TERSEBUT MENGAKIBATKAN KENAIKAN SEBAGIAN BESAR DARI
HARGA BARANG-BARANG DAN JASA-JASA LAINNYA. HARGA YANG DIMAKSUD
DALAM PENGERTIAN INFLASI DISINI BUKAN HARGA YANG DITETAPKAN OLEH
PEMERINTAH, TETAPI HARGA YANG TERJADI DI PASAR ANTARA PIHAK-PIHAK YANG
BEBAS.
163. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI PENYEBAB TIMBULNYA INFLASI DALAM
LITERATUR EKONOMI MONETER, DIKENAL DUA PENYEBAB TERJADINYA INFLASI
YAITU : INFLASI KARENA TARIKAN PERMINTAAN (DEMAND PULL INFLATION)
INFLASI KARENA TEKANAN BIAYA (COST PUSH INFLATION).
164. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI DEMAND PULL INFLATION TERJADI
KARENA PENGARUH TERLALU BANYAKNYA UANG DALAM PEREDARAN

DIBANDINGKAN DENGAN ARUS BARANG DAN JASA, SEHINGGA TERJADI KELEBIHAN


PERMINTAAN (EXCESS DEMAND) DIBANDING DENGAN PASOKAN BARANG DAN
JASA. COST PUSH INFLATION TERJADI KARENA PENGARUH KENAIKAN BIAYA
PRODUKSI, KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM), TARIF ANGKUTAN,
TARIF LISTRIK, TELEPON, UPAH DAN GAJI ATAU SEMUA JENIS KOMPONEN BIAYA
PRODUKSI, SEHINGGA MENDORONG KENAIKAN HARGA PRODUK.
165. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI DATA EMPIRIK MENUNJUKAN BAHWA
INFLASI DI INDONESIA LEBIH BANYAK DISEBABKAN OLEH COST PUSH INFLATION
DARIPADA DEMAND PULL INFLATION. SALAH SATU SUMBER UTAMANYA ADALAH
KENAIKAN HARGA BBM YANG KEMUDIAN DIIKUTI OLEH PENYESUAIAN TARIF
ANGKUTAN, LISTRIK, TELKOM, YANG MENDORONG INFLASI
166. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI ASAL TIMBULNYA INFLASI
BERDASARKAN ASALNYA, INFLASI DAPAT DIGOLONGKAN MENJADI DUA, YAITU
INFLASI YANG BERASAL DARI DALAM NEGERI DAN INFLASI YANG BERASAL DARI
LUAR NEGERI. INFLASI BERASAL DARI DALAM NEGERI MISALNYA TERJADI AKIBAT
TERJADINYA DEFISIT ANGGARAN BELANJA YANG DIBIAYAI DENGAN CARA
MENCETAK UANG BARU DAN GAGALNYA PASAR YANG BERAKIBAT HARGA BAHAN
MAKANAN MENJADI MAHAL. INFLASI DARI LUAR NEGERI ADALAH INFLASI YANG
TERJADI SEBAGAI AKIBAT NAIKNYA HARGA BARANG IMPOR. HAL INI BISA TERJADI
AKIBAT BIAYA PRODUKSI BARANG DI LUAR NEGERI TINGGI ATAU ADANYA
KENAIKAN TARIF IMPOR BARANG
167. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI BESARNYA CAKUPAN PENGARUH
TERHADAP HARGA INFLASI TERTUTUP (CLOSED INFLATION) BESARNYA CAKUPAN
PENGARUH TERHADAP HARGA, APABILA KENAIKAN HARGA YANG TERJADI HANYA
BERKAITAN DENGAN SATU ATAU DUA BARANG TERTENTU. INFLASI TERBUKA
(OPEN INFLATION) BESARNYA CAKUPAN PENGARUH TERHADAP HARGA APABILA
KENAIKAN HARGA TERJADI PADA SEMUA BARANG SECARA UMUM
168. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI KEPARAHAN YANG DITIMBULKAN
BERDASARKAN KEPARAHANNYA INFLASI JUGA DAPAT DIBEDAKAN : INFLASI
RINGAN (KURANG DARI 10% / TAHUN) INFLASI SEDANG (ANTARA 10% SAMPAI 30% /
TAHUN) INFLASI BERAT (ANTARA 30% SAMPAI 100% / TAHUN) INFLASI YANG
TIDAK TERKENDALI/HIPERINFLASI (LEBIH DARI 100% / TAHUN)
169. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI DAMPAK INFLASI INFLASI MEMILIKI
DAMPAK POSITIF DAN DAMPAK NEGATIF TERGANTUNG PARAH ATAU TIDAKNYA
INFLASI. APABILA INFLASI ITU RINGAN, JUSTRU MEMPUNYAI PENGARUH YANG
POSITIF DALAM ARTI DAPAT MENDORONG PEREKONOMIAN LEBIH BAIK, YAITU
MENINGKATKAN PENDAPATAN NASIONAL DAN MEMBUAT ORANG BERGAIRAH
UNTUK BEKERJA, MENABUNG DAN MELAKUKAN INVESTASI. SEBALIKNYA, DALAM
MASA INFLASI YANG PARAH, YAITU PADA SAAT TERJADI INFLASI TAK TERKENDALI
(HIPERINFLASI), KEADAAN PEREKONOMIAN MENJADI KACAU DAN PEREKONOMIAN
DIRASAKAN LESU. ORANG MENJADI TIDAK BERSEMANGAT KERJA, MENABUNG,
ATAU MELAKUKAN INVESTASI DAN PRODUKSI KARENA HARGA MENINGKAT
DENGAN CEPAT. PARA PENERIMA PENDAPATAN TETAP SEPERTI PEGAWAI NEGERI
ATAU KARYAWAN SWASTA SERTA KAUM BURUH JUGA AKAN KEWALAHAN
MENANGGUNG DAN MENGIMBANGI HARGA SEHINGGA HIDUP MEREKA MENJADI
SEMAKIN MEROSOT DAN TERPURUK DARI WAKTU KE WAKTU.
170. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI DAMPAK INFLASI BAGI MASYARAKAT
BAGI MASYARAKAT YANG MEMILIKI PENDAPATAN TETAP, INFLASI SANGAT
MERUGIKAN. KITA AMBIL CONTOH SEORANG PENSIUNAN PEGAWAI NEGERI PADA
TAHUN 1990, UANG PENSIUNNYA CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN
HIDUPNYA, NAMUN DI TAHUN 2003 ATAU TIGA BELAS TAHUN KEMUDIAN, DAYA BELI
UANGNYA MUNGKIN HANYA TINGGAL SETENGAH. ARTINYA, UANG PENSIUNNYA
TIDAK LAGI CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUPNYA. SEBALIKNYA,
ORANG YANG MENGANDALKAN PENDAPATAN BERDASARKAN KEUNTUNGAN,
SEPERTI MISALNYA PENGUSAHA, TIDAK DIRUGIKAN DENGAN ADANYA INFLASI.
BEGITU JUGA HALNYA DENGAN PEGAWAI YANG BEKERJA DI PERUSAHAAN DENGAN

GAJI MENGIKUTI TINGKAT INFLASI. INFLASI JUGA MENYEBABKAN ORANG ENGGAN


UNTUK MENABUNG KARENA NILAI MATA UANG SEMAKIN MENURUN. MEMANG,
TABUNGAN MENGHASILKAN BUNGA, NAMUN JIKA TINGKAT INFLASI DI ATAS
BUNGA, NILAI UANG TETAP SAJA MENURUN. BILA ORANG ENGGAN MENABUNG,
DUNIA USAHA DAN INVESTASI AKAN SULIT BERKEMBANG. KARENA, UNTUK
BERKEMBANG DUNIA USAHA MEMBUTUHKAN DANA DARI BANK YANG DIPEROLEH
DARI TABUNGAN MASYARAKAT.
171. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI DAMPAK INFLASI BAGI DEBITUR BAGI
ORANG YANG MEMINJAM UANG KEPADA BANK (DEBITUR), INFLASI
MENGUNTUNGKAN, KARENA PADA SAAT PEMBAYARAN UTANG KEPADA KREDITUR,
NILAI UANG LEBIH RENDAH DIBANDINGKAN PADA SAAT MEMINJAM. BAGI
KREDITUR SEBALIKNYA, KREDITUR ATAU PIHAK YANG MEMINJAMKAN UANG AKAN
MENGALAMI KERUGIAN KARENA NILAI UANG PENGEMBALIAN LEBIH RENDAH JIKA
DIBANDINGKAN PADA SAAT PEMINJAMAN.
172. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI DAMPAK INFLASI BAGI PRODUSEN BAGI
PRODUSEN, INFLASI DAPAT MENGUNTUNGKAN BILA PENDAPATAN YANG DIPEROLEH
LEBIH TINGGI DARIPADA KENAIKAN BIAYA PRODUKSI. BILA HAL INI TERJADI,
PRODUSEN AKAN TERDORONG UNTUK MELIPATGANDAKAN PRODUKSINYA
(BIASANYA TERJADI PADA PENGUSAHA BESAR). NAMUN, BILA INFLASI
MENYEBABKAN NAIKNYA BIAYA PRODUKSI HINGGA PADA AKHIRNYA MERUGIKAN
PRODUSEN, MAKA PRODUSEN ENGGAN UNTUK MENERUSKAN PRODUKSINYA.
PRODUSEN BISA MENGHENTIKAN PRODUKSINYA UNTUK SEMENTARA WAKTU.
BAHKAN, BILA TIDAK SANGGUP MENGIKUTI LAJU INFLASI, USAHA PRODUSEN
TERSEBUT MUNGKIN AKAN BANGKRUT (BIASANYA TERJADI PADA PENGUSAHA
KECIL).
173. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI CONTOH : KOKO SEDANG
MEMPERTIMBANGKAN KESEMPATAN INVESTASI SENILAI $60.000 YANG DIHARAPKAN
BERUMUR 5 TAHUN TANPA NILAI SISA DISUSUTKAN DENGAN METODE GARIS LURUS.
ESTIMASI ARUS KAS MASUK SELAMA 5 TAHUN BERTURUT-TURUT SEBAGAI
BERIKUT : $25.000, $40.000, $50.000, $50.000, $40.000, SEDANGKAN ARUS KAS KELUAR
SEBAGAI BERIKUT : $10.000, $15.000, $20.000, $25.000, $20.000. DIASUMSIKAN TINGKAT
PAJAK 20% DAN RRR 23%, NPV DIHITUNG SEBAGAI BERIKUT
174. INVESTASI DALAM KONDISI INFLASI PENGHITUNGAN ARUS KAS SEBELUM
DISESUAIKAN DENGAN INFLASI PENGHITUNGAN ARUS KAS SESUDAH
DISESUAIKAN DENGAN INFLASI (10%)
175. PENYESUAIAN INVESTASI
176. PENYESUAIAN INVESTASI PENYESUAIAN DIBUAT DALAM PROYEK
PENGANGGARAN MODAL UNTUK MENYESUAIKAN DENGAN KEADAAN TERTENTU.
DUA BENTUK ANALISA KHUSUS YANG BIASANYA DIPERGUNAKAN ADALAH :
PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA RASIONALISASI KAPITAL (CAPITAL
RATIONING)
177. PENYESUAIAN INVESTASI 1. PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA
PERUSAHAAN SERINGKALI HARUS MEMILIH KELOMPOK TERBAIK DARI PROYEK
DENGAN UMUR BERBEDA. JIKA PROYEKNYA INDEPENDENT (MANDIRI), UMUR DARI
PROYEK TIDAK PENTING TETAPI JIKA PROYEK MENIADAKAN) MAKA
DIPERTIMBANGKAN. MUTUALLY EXCLUSIVE PERBEDAAN UMUR (BERSAING HARUS
178. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA SOAL :
PT. PUTRI MENGEVALUASI DUA PROYEK YAITU : PROYEK A DAN B DENGAN
INVESTASI AWAL MASING-MASING SEBESAR OI-A Rp. 65.000 OI-B Rp. 75.000 ARUS KAS
DARI MASING-MASING PROYEK DAPAT DILIHAT PADA TABEL DI BAWAH INI. BIAYA
MODAL DALAM MENGEVALUASI PROYEK YANG MEMPUNYAI RISIKO YANG SAMA
ADALAH SEBESAR 10%. TAHU N KE 1 2 3 4 5 6 ARUS KAS PROYEK A PROYEK B 32.000
33.000 38.000 40.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000
179. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA NPV
DARI MASING-MASING PROYEK DENGAN BIAYA MODAL SEBESAR 10%, NPVA =
{32.000 X (0.909)} + {33.000 X (0,826)} + {38.000 X (0,751)} - 65.000 = {29.088 + 27.258 +
28.538} - 65.000 = 84.884 - 65.000 = 19.884 NPVB = {40.000 X (0.909)} + {30.000 X (0,826)} +

{25.000 X (0,751)} + {20.000 X (0,683)} + {15.000 X (0,621)} + {10.000 X (0,564) } - 75.000 =


{36.360 + 24.780 + 18.775 + 13.660 + 9.315 + 5.640} - 75.000 = 108.530 - 75.000 = 33.530
180. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA
APABILA TIDAK MEMPERHATIKAN PERBEDAAN UMUR PROYEK, KEDUA PROYEK
TERSEBUT DAPAT DITERIMA (NPV > 0), DENGAN KATA LAIN : JIKA PROYEK
TERSEBUT INDEPENDENT DAN DANANYA TERBATAS, HANYA SATU YANG DAPAT
DITERIMA YAITU PROYEK B KARENA NPVNYA BESAR DARIPADA NPVNYA PROYEK A.
JIKA PROYEK TERSEBUT MUTUALLY EXCLUSIVE, LAMANYA UMUR PROYEK
HARUS DIPERTIMBANGKAN. PROYEK A MEMPUNYAI UMUR PROYEK 3 TAHUN DAN
PROYEK B MEMPUNYAI UMUR PROYEK 6 TAHUN, PENDEKATAN NPV TANPA
MEMPERHITUNGKAN UMUR PROYEK DAPAT MENGHASILKAN KEPUTUSAN YANG
SALAH UNTUK MEMILIH PROYEK MANA YANG LEBIH BAIK.
181. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA
MESKIPUN ADA SEJUMLAH PENDEKATAN PERHITUNGAN YANG DAPAT DIGUNAKAN
UNTUK MENGEVALUASI PROYEK DENGAN UMUR YANG TIDAK SAMA, TEKNIK YANG
LEBIH EFISIEN YAITU DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN ANNUALIZED NPV
CARA UNTUK MENGEVALUASI PROYEK YANG UMURNYA TIDAK SAMA DAN
MERUPAKAN PROYEK MUTUALLY EXCLUSIVE ADALAH DENGAN MENGKONVERSI
NPV YANG UMURNYA TIDAK SAMA MENJADI JUMLAH TAHUNAN YANG EKIVALEN
(DALAM PENGERTIAN NPV).
182. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA
PENDEKATAN PERHITUNGAN ANNUALIZED NPV ANPV = NPVZ DFB,P ANPV = NILAI
BERSIH SEKARANG TAHUNAN UNTUK SETIAP PROYEK (Z) NPVZ = NILAI BERSIH
SEKARANG UNTUK SETIAP PROYEK (Z) DENGAN BIAYA MODAL B DFB,P =
DISCOUNTED FACTOR DENGAN BIAYA MODAL B SELAMA PERIODE P
183. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA
PENDEKATAN PERHITUNGAN DALAM 3 LANGKAH : ANNUALIZED NPV DAPAT
DILAKUKAN LANGKAH 1 : MENCARI NPV DARI MASING-MASING PROYEK SESUAI
DENGAN UMUR PROYEKNYA SEPERTI YANG TELAH DILAKUKAN PADA
PERHITUNGAN DI ATAS, DENGAN HASIL : NPVA, 10%,3 = 19.884 NPVB, 10%,6 = 33.530
APABILA UMUR PROYEK TIDAK DIPERHITUNGKAN PROYEK B YANG DIPILIH UNTUK
DILAKSANAKAN KARENA NPVB LEBIH BESAR DARI PADA NPVA. LANGKAH 2 :
ANPVA = ANPVB = NPVA DF10%,3 NPVB DF10%,6 = = 19.884 2,487 33.530 4,355 = 7.995 =
7.699 LANGKAH 3 : DARI HASIL PERHITUNGAN ANNUALIZED NPV DI ATAS, YANG
MEMPERTIMBANGKAN UMUR PROYEK, TERNYATA PROYEK A YANG DIPILIH KARENA
NPV A LEBIH BAIK DARIPADA NPVB.
184. PENYESUAIAN INVESTASI PROYEK INVESTASI DENGAN UMUR BERBEDA
CONTOH : PT. PUTRA MENGEVALUASI DUA PROYEK YAITU : PROYEK A DAN B
DENGAN INVESTASI AWAL MASING-MASING SEBESAR Rp. 2.000.000,ARUS KAS DARI
MASING-MASING PROYEK DAPAT DILIHAT PADA TABEL DI BAWAH INI. BIAYA MODAL
DALAM MENGEVALUASI PROYEK YANG MEMPUNYAI RISIKO YANG SAMA ADALAH
SEBESAR 12%. ARUS KAS TAHUN KE PROYEK A PROYEK B 1 2 3 4 5 600.000 600.000
600.000 600.000 600.000 375.000 375.000 375.000 375.000 375.000 6 375.000 7 8 9 375.000
375.000 375.000 10 375.000
185. PENYESUAIAN INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL)
TUJUAN DARI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) ADALAH MEMILIH
SUATU GROUP DARI PROYEK YANG MENGHASILKAN NPV KESELURUHAN YANG
PALING TINGGI DAN TIDAK MEMBUTUHKAN DISEDIAKAN. DANA LEBIH BESAR DARI
YANG
186. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) ADA 2 PENDEKATAN
UNTUK MEMILIH PROYEK DENGAN RASIONALISASI KAPITAL YAITU : PENDEKATAN
IRR PENDEKATAN NPV
187. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) CONTOH : PT. PUTRA
MEMPUNYAI 6 USULAN PROYEK DENGAN ANGGARAN SEBESAR 340.000. INVESTASI
AWAL DAN IRR UNTUK SETIAP PROYEK SEBAGAI BERIKUT : PROYEK INVESTASI
AWAL (OI) IRR PV ARUS KAS DF 10% A 150.000 12.5% 190.000 B 90.000 20,0% 132.000 C

100.000 16,0% 145.000 D 40.000 8,0% 36.000 E 60.000 15,0% 79.000 F 110.000 11,0% 126.000
PENDEKATAN IRR PENDEKATAN RASIONALISASI KAPITAL YANG MENGGAMBARKAN
PROYEK DENGAN IRR DALAM URUTAN YANG MENURUN DIBANDINGKAN DENGAN
JUMLAH DANA YANG DIINVESTASIKAN.
188. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) PERUSAHAAN
MEMPUNYAI BIAYA MODAL 10%. DARI TABEL DI ATAS DISUSUN PERINGKAT PROYEK
DARI IRR TERBESAR KE IRR TERKECIL PROYEK INVESTASI AWAL (OI) IRR B 90.000
20,0% C 100.000 16,0% E 60.000 15,0% A 150.000 12.5% F 110.000 11,0% 40.000 8,0% RRR 10%
D BERDASARKAN DAFTAR PERINGKAT IRR DI ATAS PROYEK B, C, E YANG DITERIMA
BERSAMA, BARU MENYERAP DANA 250.000 (90.000 + 100.000 + 60.000) DARI DANA
SEBESAR 340.000 YANG TERSEDIA. PROYEK D TIDAK DIPERTIMBANGKAN SEBAB IRR
< 10% (BIAYA MODAL).
189. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) PENDEKATAN NPV
PENDEKATAN PADA RASIONALISASI KAPITAL YANG BERDASARKAN PENGGUNAAN
NPV UNTUK MENENTUKAN GRUP DARI PROYEK YANG AKAN MEMAKSIMALKAN
KEKAYAAN PEMEGANG SAHAM PROYEK INVESTASI AWAL (OI) IRR PV ARUS KAS DF
10% ALT. 1 ALT. 2 B 90.000 20,0% 132.000 132.000 132.000 C 100.000 16,0% 145.000 145.000
145.000 E 60.000 15,0% 79.000 79.000 A 150.000 12.5% 190.000 F 110.000 11,0% 126.000 190.000
RRR 10% D 40.000 8,0% JUMLAH 36.000 356.000 467.000
190. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) PENDEKATAN NPV
PROYEK INVESTASI AWAL (OI) IRR PV, 10% ALT. 1 ALT. 2 B 90.000 20,0% 132.000 132.000
132.000 C 100.000 16,0% 145.000 145.000 145.000 E 60.000 15,0% 79.000 79.000 A 150.000
12.5% 190.000 F 110.000 11,0% 126.000 190.000 RRR 10% D 40.000 JUMLAH 8,0% 36.000
356.000 467.000 ALT. 1 : PROYEK B, C, E OI PROYEK B, C, E = 90.000 + 100.000 + 60.000 =
250.000 TERDAPAT SISA DARI ANGGARAN SEBESAR = 340.000 250.000 = 90.000 TIDAK
MEMAKSIMALKAN PENGGUNAAN ANGGARAN YANG DISEDIAKAN NPV PROYEK B,
C, E = 356.000 250.000 = 106.000
191. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) PENDEKATAN NPV
PROYEK INVESTASI AWAL (OI) IRR PV, 10% ALT. 1 ALT. 2 B 90.000 20,0% 132.000 132.000
132.000 C 100.000 16,0% 145.000 145.000 145.000 E 60.000 15,0% 79.000 79.000 A 150.000
12.5% 190.000 F 110.000 11,0% 126.000 190.000 RRR 10% D 40.000 JUMLAH 8,0% 36.000
356.000 467.000 ALT. 2 : PROYEK B, C, A OI PROYEK B, C, A = 90.000 + 100.000 + 150.000 =
340.000 TDK TERDAPAT SISA DARI ANGGARAN = 340.000 340.000 = 0
MEMAKSIMALKAN ANGGARAN YANG DISEDIAKAN NPV PROYEK B, C, A = 467.000
340.000 = 127.000 ALT 2. DIPILIH KARENA MEMAKSIMALKAN ANGGARAN YANG
DISEDIAKAN DAN MEMAKSIMALKAN NPV
192. INVESTASI CAPITAL RATIONING (RASIONALISASI KAPITAL) CONTOH : SEBUAH
PERUSAHAAN MEMPUNYAI MODAL SEBESAR Rp. 25.000.000,- UNTUK
DIINVESTASIKAN DAN PADA SAAT INI SEDANG MEMPERTIMBANGKAN 6 USULAN
PROYEK. INVESTASI AWAL IRR DAN PV DENGAN DF 10% UNTUK SETIAP PROYEK
SEBAGAI BERIKUT : PROYEK INVESTASI AWAL (OI) IRR PV ARUS KAS DF 10% A
8.000.000 12.0% 10.000.000 B 7.000.000 20,0% 11.200.000 C 10.000.000 16,0% 14.500.000 D
4.000.000 8,0% 3.600.000 E 6.000.000 15,0% 7.900.000 F 11.000.000 11,0% 12.650.000
TENTUKAN GRUP PROYEK PERUSAHAAN MANA YANG DAPAT MEMAKSIMALKAN
RETURN
193. RISIKO DALAM PROYEK INVESTASI
194. RISIKO DALAM PROYEK INVESTASI SETIAP JENIS INVESTASI SELALU
MEMPUNYAI RISIKO, TIDAK ADA INVESTASI YANG BEBAS DARI RISIKO, RISIKO
SELALU MELEKAT PADA TIAP INVESTASI BESAR ATAU KECIL, DAN DAPAT
DIKATAKAN BAHWA HASIL YANG TINGGI RISIKONYA JUGA TINGGI. SEHINGGA
DIPERLUKAN PEMAHAMAN TERHADAP RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN
ALTERNATIF SARANA INVESTASI YANG DAPAT TERDIRI DARI RISIKO LIKUIDITAS,
KETIDAKPASTIAN HASIL, KEHILANGAN HASIL, PENURUNAN NILAI INVESTASI
SAMPAI RISIKO HILANGNYA MODAL INVESTASI TERSEBUT.
195. RISIKO DALAM PROYEK INVESTASI MASALAH YANG DIHADAPI PEMBUAT
KEPUTUSAN DALAM BERINVESTASI ADALAH : RISIKO KETIDAKPASTIAN

196. RISIKO DALAM PROYEK INVESTASI DISEBABKAN OLEH FAKTORFAKTOR


TERTENTU TIDAK DAPAT DIRAMAL DAPAT DIRAMAL KETIDAKPASTIAN RISIKO
197. PERBEDAAN RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN PERBEDAAN ANTARA RISIKO DAN
KETIDAKPASTIAN ADALAH DIHUBUNGKAN DENGAN PENGETAHUAN PENGAMBIL
KEPUTUSAN TENTANG PROBABILITAS ATAU KESEMPATAN TERJADINYA SUATU
RETURN ATAU CASHFLOW. RISIKO TIMBUL BILAMANA PENGAMBIL KEPUTUSAN
MAMPU MENGESTIMASI PROBABILITAS DARI HASIL YANG AKAN DIPEROLEH
BERDASARKAN DATA HISTORIS YANG DIMILIKINYA. KETIDAKPASTIAN TIMBUL
BILAMANA PENGAMBIL KEPUTUSAN TIDAK MEMILIKI DATA HISTORIS DARI MANA
DISTRIBUSI PROBABILITAS AKAN DIKEMBANGKAN.
198. PENGUKURAN RISIKO DALAM PROYEK INVESTASI CARA PENDEKATAN YANG
DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR DAN MEMPEROLEH SUATU GAMBARAN
TENTANG RISIKO ADALAH ANALISA SENSITIVITAS DAN PROBABILITAS . ANALISA
SENSITIVITAS MERUPAKAN PENILAIAN BEBERAPA ESTIMASI RETURN DARI SUATU
PROYEK, SEPERTI ESTIMASI YANG PESIMIS, SANGAT MUNGKIN DAN OPTIMIS.
BESARNYA RISIKO DIUKUR DARI RANGE ANTARA ESTIMASI YANG TERENDAH DAN
ESTIMASI YANG TERTINGGI. PENGUKURAN LAIN UNTUK MENGUKUR RISIKO SUATU
PROYEK ADALAH DENGAN CARA MEMPERKIRAKAN/MENENTUKAN PROBABILITAS
DARI MASING-MASING RETURN BAIK SECARA OBJEKTIF MAUPUN SUBJEKTIF,
UNTUK DAPAT MENGETAHUI EXPECTED VALUE DARI RETURN UNTUK MASINGMASING PROYEK.
199. ANALISA SENSITIVITAS SALAH SATU CARA TERMUDAH DALAM
MEMPERKIRAKAN RISIKO DARI SUATU PROYEK ADALAH DENGAN MENGGUNAKAN
ANALISA SENSITIVITAS, YANG BERARTI BAHWA DALAM MENILAI SUATU PROYEK
DIGUNAKAN BEBERAPA JUMLAH RETURN/PENGHASILAN YANG MEMPUNYAI
KEMUNGKINAN UNTUK DIPEROLEH. CARA INI DILAKUKAN DENGAN JALAN
MENGEVALUASI SUATU PROYEK BERDASARKAN SEJUMLAH ESTIMASI ATAS CASH
INFLOW YANG MUNGKIN DITERIMA. HAL INI DIMAKSUDKAN AGAR DIPEROLEH
SUATU PERKIRAAN DARI VARIABILITAS HASIL-HASIL YANG AKAN DIPEROLEH.
200. ANALISA SENSITIVITAS CARA YANG PALING SERING DIGUNAKAN ADALAH
MENGESTIMASIKAN HASIL YANG TERJELEK (TERLALU PESIMIS), HASIL YANG PALING
MUNGKIN UNTUK DICAPAI DAN HASIL YANG TERLALU OPTIMIS DARI SUATU
PROYEK, PADA DASARNYA DIPENGARUHI OLEH FAKTOR SUBJEKTIF. DALAM HAL
SEPERTI INI MAKA RISIKO DARI SUATU PROYEK AKAN DIREFLEKSIKAN OLEH
RANGE DARI HASIL YANG DIHARAPKAN DIMANA PENGUKURAN SEPERTI INI
MERUPAKAN PENGUKURAN RISIKO YANG PALING DASAR SEKALI. RANGE DAPAT
DITENTUKAN DENGAN MELIHAT SELISIH ANTARA HASIL TERBAIK DENGAN HASIL
TERBURUK, SEMAKIN BESAR RANGE SUATU PROYEK MAKA SEMAKIN BESAR
VARIABILITAS ATAU RISIKO YANG DIKANDUNG OLEH PROYEK TERSEBUT.
201. ANALISA SENSITIVITAS CONTOH : KETERANGAN INITIAL INVESMENT PROYEK A
PROYEK B 10.000.000 10.000.000 1.500.000 0 2.000.000 2.000.000 ESTIMASI CASH INFLOW TERLALU PESIMIS - PALING MUNGKIN - TERLALU 2.500.000 4.000.000 OPTIMIS 4.000.000
RANGE PROYEK A : 2.500.000 1.000.000 = 1.000.000 - 1.500.000 RANGE PROYEK B :
4.000.000 - 0 = 4.000.000 RANGE CASH INFLOW < RISIKO < RANGE CASH INFLOW >
RISIKO > RISIKO PROYEK A < RISIKO PROYEK B
202. ANALISA SENSITIVITAS UMUR PROYEK 15 TAHUN , RRR 10% NPV A = PVA CASH
INFLOW PV INVESTASI = CASH INFLOW X DF10%,15 PV INVESTASI = 1.500.000 X
7,606 10.000.000 = 1.409.000 KEMUNGKINAN CASH INFLOW - TERLALU PESIMIS PALING MUNGKIN - TERLALU OPTIMIS RANGE PROYEK A PROYEK B 1.409.000 10.000.000 5.212.000 5.212.000 9.015.000 20.424.000 7.606.000 30.424.000
203. ANALISA SENSITIVITAS DARI TABEL TERSEBUT TAMPAK BAHWA ANALISA
SENSITIVITAS DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI YANG BERMANFAAT TENTANG
PROYEK-PROYEK KARENA SEKALIPUN DUA PROYEK AKAN MEMBERIKAN HASIL
YANG SAMA APABILA DIDASARKAN ATAS CASH INFLOW YANG PALING MUNGKIN,
TETAPI APABILA RANGE CASH INFLOW IKUT DIPERTIMBANGKAN MAKA KEADAAN
MENJADI LAIN. DENGAN MEMBANDINGKAN RANGE NPV ANTARA PROYEK A DAN
PROYEK B, MAKA DAPAT TERLIHAT BAHWA RANGE NPV PROYEK A LEBIH KECIL DARI

RANGE NPV PROYEK B, HAL INI BERARTI BAHWA RISIKO PROYEK A LEBIH KECIL
DIBANDINGKAN DENGAN RISIKO PROYEK B. RANGE NPV < RISIKO < RANGE NPV >
RISIKO >
204. ANALISA SENSITIVITAS PENENTUAN PROYEK MANA YANG NANTINYA AKAN
DIPILIH SANGAT TERGANTUNG PADA SIKAP DECISION MAKER TERHADAP RISIKO.
APABILA DIA TERMASUK SEORANG YANG KONSERVATIF MAKA PILIHAN AKAN JATUH
PADA PROYEK ORANG A, SEBALIKNYA APABILA DIA TERMASUK YANG MAU
MENANGGUNG RISIKO DAN NYEREMPET BAHAYA MAKA PROYEK B LAH YANG AKAN
DIPILIH.
205. PROBABILITAS PROBABILITAS DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR DAN
MEMPERKIRAKAN RISIKO YANG TERKANDUNG DALAM SUATU PROYEK SECARA
LEBIH AKURAT. PROBABILITAS PERSENTASI DAPAT DIKATAKAN KEMUNGKINAN
TERJADINYA SEBAGAI SUATU HASIL/RETURN. PENENTUAN PROBABILITAS DAPAT
DIHITUNG BESARNYA EXPECTED VALUE DARI SUATU PROYEK.
206. PROBABILITAS EXPECTED VALUE DARI SUATU PROYEK MERUPAKAN HASIL
RATA-RATA TERTIMBANG (WEIGHTED AVERAGE RETURN) DIMANA PENIMBANGNYA
ATAU WEIGHT YANG DIGUNAKAN ADALAH PROBABILITAS DARI MASING-MASING
HASIL. ASPEK YANG PALING SULIT DALAM MENGHITUNG DAN MENENTUKAN
EXPECTED VALUE ADALAH DALAM MENENTUKAN DAN MENETAPKAN
PROBABILITAS DARI HASIL-HASIL YANG DIHARAPKAN.
207. PROBABILITAS RETURN YANG DIHARAPKAN : n E(R) = Ri pri i=1 KETERANGAN :
E(R) = RETURN YANG DIHARAPKAN Ri = RETURN KE-i YANG MUNGKIN TERJADI pri =
PROBABILITAS KEJADIAN RETURN KE-i n = BANYAKNYA RETURN YANG MUNGKIN
TERJADI
208. PROBABILITAS CONTOH 1 RETURN YANG DIHARAPKAN : KONDISI PROBABILITAS
RETURN EKONOMI KUAT 0,30 0,20 EKONOMI SEDANG 0,40 0,15 RESESI 0,30 0,10 n E(R) =
Ri pri i=1 E(R) = [(0,30)(0,20) + (0,40)(0,15) + (0,30)(0,10)] = 0,15 JADI, RETURN YANG
DIHARAPKAN ADALAH SEBESAR 0,15 ATAU 15%
209. PROBABILITAS CONTOH LAIN DIHARAPKAN : SEORANG INVESTOR 2 RETURN
YANG MEMPERTIMBANGKAN SUATU USULAN INVESTASI YANG MENAWARKAN
KEMUNGKINAN 60% PELUANG (PROBABILITAS) MENERIMA LABA BERSIH SEBESAR
Rp. 5.000,-, 20% PELUANG MENERIMA LABA BERSIH SEBESAR Rp. 3.000,-, DAN SISANYA
20% MEMPUNYAI PELUANG MENERIMA LABA BERSIH Rp. 1.500,-. BERAPA RETURN
YANG DIHARAPKAN (EXPECTED RETURN) ATAU NILAI EKSPEKTASI (EXPECTED
VALUE) DARI USULAN INVESTASI TERSEBUT?
210. PROBABILITAS SOLUSI CONTOH DIHARAPKAN : LAIN 2 RETURN YANG 1 2 3 LABA
BERSIH PROBABILITAS 1x2 Rp. 5.000,- 0,60 Rp. 3.000,- Rp. 3.000,- 0,20 Rp. 600,- Rp. 1.500,0,20 Rp. 300,- E(R) Rp. 3.900,- E(R) = [(5.000)(0,60) + (3.000)(0,20) + (1.500)(0,20)] = Rp.
3.900,JADI, RETURN YANG DIHARAPKAN ADALAH SEBESAR Rp. 3.900,211. PROBABILITAS CONTOH LAIN 3 RETURN YANG DIHARAPKAN : INVESTOR
DIHADAPKAN PADA DUA PILIHAN USULAN INVESTASI PROYEK A DAN PROYEK B
DENGAN DATA SEBAGAI BERIKUT : PROYEK A PROBABILITAS PROYEK B ARUS KAS
PROBABILITAS ARUS KAS 0,10 Rp. 6.000,- 0,10 Rp. 4.000,- 0,20 Rp. 7.000,- 0,25 Rp. 6.000,0,40 Rp. 8.000,- 0,30 Rp. 8.000,- 0,20 Rp. 9.000,- 0,25 Rp. 10.000,- 0,10 Rp. 10.000,- 0,10 Rp.
12.000,- BERAPA RETURN YANG DIHARAPKAN (EXPECTED RETURN) ATAU NILAI
EKSPEKTASI (EXPECTED VALUE) DARI MASING-MASING USULAN INVESTASI
PROYEKTERSEBUT?
212. PROBABILITAS SOLUSI CONTOH DIHARAPKAN : LAIN 3 RETURN PROYEK A
PROBABILITA S ARUS KAS 2 YANG PROYEK B PROBABILITA S 1x2 1 0,10 Rp. 6.000,- Rp.
0,20 ARUS KAS 4 3X4 600,- 3 0,10 Rp. 4.000,- Rp. 4.000,- Rp. 7.000,- Rp. 1.400,- 0,25 Rp. 6.000,Rp. 1.500,- 0,40 Rp. 8.000,- Rp. 3.200,- 0,30 Rp. 8.000,- Rp. 2.400,- 0,20 Rp. 9.000,- Rp. 1.800,0,25 Rp. 10.000,- Rp. 2.500,- 0,10 Rp. 10.000,- Rp. 1.000,- 0,10 Rp. 12.000,- Rp. 1.200,- E(R)A Rp.
8.000,- E(R)A = Rp. 8.000,E(R)B = Rp. 8.000,- E(R)B Rp. 8.000,213. RETURN DAN RISIKO INVESTASI PADA PEMBUATAN SUATU KEPUTUSAN
INVESTASI DI SAMPING MEMPERHITUNGKAN RETURN, INVESTOR JUGA PERLU
MEMPERTIMBANGKAN TINGKAT RISIKO DARI SUATU INVESTASI. RISIKO INVESTASI

MERUPAKAN KEMUNGKINAN TERJADINYA PERBEDAAN ATAU PENYIMPANGAN


ANTARA RETURN AKTUAL YANG DITERIMA DENGAN RETURN YANG DIHARAPKAN
(EXPENTED VALUE). SEMAKIN BESAR KEMUNGKINAN PERBEDAAN ATAU
PENYIMPANGANNYA SEMAKIN BESAR RISIKO DARI INVESTASI TERSEBUT.
214. RETURN DAN RISIKO INVESTASI MENGHITUNG BESARNYA RISIKO UNTUK
MENGHITUNG BESARNYA RISIKO YANG DIKAITKAN DENGAN RETURN YANG
DIHARAPKAN DARI SUATU INVESTASI BISA KITA LAKUKAN DENGAN MENGHITUNG
VARIAN RETURN DAN STANDAR DEVIASI RETURN INVESTASI BERSANGKUTAN.
VARIAN MAUPUN STANDAR DEVIASI MERUPAKAN UKURAN PENYEBARAN
DISTRIBUSI PROBABILITAS, SEMAKIN BESAR PENYEBARANNYA, SEMAKIN BESAR
VARIAN DAN STANDAR DEVIASI, SEHINGGA SEMAKIN BESAR PULA RISIKO
INVESTASI TERSEBUT. PERHITUNGAN VARIAN DAN STANDAR DEVIASI MEMBERIKAN
INFORMASI TENTANG BESARNYA PENYIMPANGAN YANG MERUPAKAN RISIKO YANG
SEBENARNYA DARI RETURN YANG DIHARAPKAN.
215. RETURN DAN RISIKO INVESTASI MENGHITUNG BESARNYA RISIKO (STANDAR
DEVIASI) STANDAR DEVIASI DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR RISIKO APABILA NILAI
E(R) RELATIF SAMA. SECARA MATEMATIS RUMUS UNTUK MENGHITUNG VARIANS
DAN STANDAR DEVIASI DAPAT DITULIS SEBAGAI BERIKUT : VARIANS RETURN :
STANDAR DEVIASI : n 2 = [(Ri E(R)]2 pri = ( 2 )1/2 r=1 KETERANGAN : 2 =
VARIANS RETURN = STANDAR DEVIASI E(R) = RETURN YANG DIHARAPKAN Ri =
RETURN KE-I pri = PROBABILITAS RETURN > RISIKO > < RISIKO <
216. RETURN DAN RISIKO INVESTASI MENGHITUNG BESARNYA RISIKO (KOEFISIEN
VARIASI) UNTUK MENGHITUNG RISIKO DENGAN NILAI EXPECTED VALUE/EXPECTED
RETURN (EV/ER) YANG BERBEDA DAPAT DIGUNAKAN KOEFISIEN VARIASI : = CV >
RISIKO > CV < CV RISIKO < E(R) KETERANGAN : CV = KOEFISIEN VARIASI =
STANDAR DEVIASI E(R) = RETURN YANG DIHARAPKAN
217. WAKTU WAKTU MERUPAKAN FAKTOR PENTING YANG HARUS
DIPERTIMBANGKAN DALAM MENILAI RISIKO DARI PROYEK INVESTASI. SEMAKIN
SEMAKIN JAUH/LAMA JAUH CASH INVESTASI INFLOW SUATU YANG PROYEK,
DIRAMALKAN, SEMAKIN BESAR VARIABILITASNYA, DENGAN DEMIKIAN SEMAKIN
BESAR RISIKO DARI CASH INFLOW YANG DIRAMALKAN TERSEBUT.
218. WAKTU C A S H I N F L O W SD E SD PROBABILITAS 1 PROBABILITAS 10
PROBABILITAS 15 TAHUN 20 PROB. PROB. 25 30
219. RISIKO PORTOFOLIO EVALUASI MENGENAI RISIKO PADA PEMBAHASAN
SEBELUMNYA HANYA TERBATAS UNTUK SUATU PROYEK SAJA (INVESTASI
TUNGGAL). SESUNGGUHNYA RISIKO DARI SUATU PROPOSAL PROYEK INVESTASI
TIDAK BISA DIPANDANG SECARA TERPISAH DARI PROYEK-PROYEK LAINNYA.
PERUSAHAAN HARUS DIPANDANG SEBAGAI MEMILIKI SEJUMLAH PROYEK (A
PORTOFOLIO OF PROJECT)
220. RISIKO PORTOFOLIO DIVERSIFIKASI MERUPAKAN LANGKAH MENYEBARKAN
RISIKO UNTUK DAPAT MENCIPTAKAN PORTOFOLIO YANG EFISIEN. DIVERSIFIKASI
YANG BAIK AKAN MEMUNGKINKAN RISIKO DARI KESELURUHAN PORTOFOLIO AKAN
LEBIH KECIL BILA DIBANDINGKAN DENGAN RISIKO DARI MASING-MASING PROYEK
SECARA INDIVIDUAL (TUNGGAL).
221. RISIKO PORTOFOLIO KORELASI NEGATIF SEMPURNA KORELASI POSITIF
SEMPURNA R E T U R N A B WAKTU C R E T U R N D WAKTU
222. RISIKO PORTOFOLIO KOMBINASI PROYEK A DAN B YANG BERKORELASI NEGATIF
UNTUK MENGURANGI RISIKO SECARA KESELURUHAN R E T U E( r ) R N E( r ) WAKTU
PROYEK A DAN B (PORTOFOLIO PROYEK B PROYEK A E( r ) WAKTU WAKTU
223. RISIKO PORTOFOLIO RETURN PORTOFOLIO DIHARAPKAN : n E(Rp) = YANG Wi
E(Ri) i=1 KETERANGAN : E(Rp) = RETURN YANG DIHARAPKAN DARI PORTOFOLIO
E(Ri) = RETURN YANG DIHARAPKAN DARI KOMPONEN PORTOFOLIO KE-i Wi = BOBOT
KOMPONEN PORTOFOLIO KE-i n = JUMLAH KOMPONEN PORTOFOLIO
224. RISIKO PORTOFOLIO PROBABILITAS PORTOFOLIO : n Pp = Wi Pi i=1
KETERANGAN : Pp = PROBABILITAS DARI PORTOFOLIO Pi = PROBABILITAS

KOMPONEN PORTOFOLIO KE-i Wi = BOBOT KOMPONEN PORTOFOLIO KE-i n = JUMLAH


KOMPONEN DALAM PORTOFOLIO
225. RISIKO PORTOFOLIO STANDAR DEVIASI PORTOFOLIO VARIANS RETURN :
STANDAR DEVIASI : n p = 2 2 [(Rpi E(Rp)] Ppi p = ( p2 )1/2 r=1 KETERANGAN : p2
= VARIANS RETURN PORTOFOLIO p = STANDAR DEVIASI PORTOFOLIO E(Rp) =
RETURN PORTOFOLIO YANG DIHARAPKAN Rpi = RETURN PORTOFOLIO KE-I Ppi =
PROBABILITAS RETURN PORTOFOLIO KE-I