Anda di halaman 1dari 18

DETEKSI DINI KOMPLIKASI KALA IV PERSALINAN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan II
Dosen Pengampu: Lola Noviani F, SST, S.Keb, Bd

Disusun oleh:
Jalum 1A
Kelompok 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Alsi Tudilammiania
Dewi Astuti F
Indah Maulina
Irma Perwati
Nurisa Maulida A
Riska Rosalina R
Sintia Diajeng NT
Syahrina Nurpadilah
Wulan Sari

( P 17324113007 )
( P 17324113034 )
( P 17324113027 )
( P 17324113022 )
( P 17324113021 )
( P 17324113043 )
( P 17324113005 )
( P 17324113053 )
( P 17324113044 )

JURUSAN KEBIDANAN BANDUNG


POLITEKNIK KESEHATAN KEMETRIAN KESEHATAN BANDUNG
BANDUNG
2014

Daftar Isi

Daftar Isi.................................................................................................................i
I. Kasus.............................................................................................................................. 1
II.
Jawaban................................................................................................................. 3
A. Faktor penyebab dan faktor predisposisi perdarahan post partum.....................3
B. Perdarahan post partum secara umum..............................................................5
C. Atonia uteri......................................................................................................... 10
D. Perdarahan post partum karena laserasi jalan lahir...........................................14
E. Perdarahan post partum karena sisa plasenta...................................................17
F. Prinsip pemberian oksitosika pada perdarahan post partum..............................18
G. Dokumentasi SOAP kala IV untuk persalinan Ny. Annisa...................................19
Daftar Pustaka................................................................................................................ 21

I
Kasus
Deteksi dini komplikasi kala IV persalinan
Tanggal 09 April 2014, Ny. Annisa, G3P2A0, hamil aterm, datang pada pukul 21.30 WIB
dengan keluhan mulas sejak tadi siang dan merasa ingin mengedan sejak sebelum berangkat ke
bidan.
Hasil pemeriksaan bidan :
Keadaan umum baik, TD 120/80 mmHg, nadi 86x/menit, respirasi 22x/menit, suhu 36,8 o C,
TFU 32 cm, di fundus teraba bokong, punggung kiri, pada bagian bawah teraba kepala sudah masuk
PAP, kepala divergen, penurunan 1/5, DJJ 136 x/menit, reguler, his 4x/10/>40 dengan intensitas
kuat. Hasil pemeriksaan dalam pukul 23.00 : vulva tidak ada benjolan, tampak keluar lendir darah dari
jalan lahir, effacement 90 %, pembukaan 9 cm, ketuban utuh, persentasi kepala, posisi ubun-ubun
kecil kiri depan, penurunan kepala si stasion +3, tidak ada bagian kecil yang teraba, molase 0. Bidan
2

mendiagnosis ibu G3P2A0 inpartu aterm kala I fase aktif, janin tunggal hidup. 30 menit kemudian, ibu
merasa sangat kesakitan dan sangat ingin mengedan.
Bidan kembali melakukan pemeriksaan :
TD 120/80 mmHg, nadi 88x/menit, respirasi 22x/menit, suhu 36,5 o C, his 4x/10/>40 dengan
intensitas kuat, DJJ 140 x/menit, regular, penurunan kepala 0/5. Hasil pemeriksaan dalam : portio
tidak teraba, pembukaan 10 cm, effacement 100 %, posisi ubun-ubun kecil depan, penurunan kepala
stattion +4, tidak teraba bagian kecil, molase 0.
Ibu lalu dipimpin mengedan, bayi lahir pukul 22.15 WIB, jenis kelamin perempuan, bayi
langsung menangis, keadaan umum baik, BB 3800 gr, PB 49 cm.
Bidan melakukan Manajemen Aktif Kala III, pukul 22.30 WIB plasenta belum lahir, bidan lalu
menyuntikan oksitosin yang ke 2. Pukul 22.45 WIB plasenta belum juga lahir, sehingga bidan
membuat diagnosa P3A0 kala III dengan retensio plasenta. Bidan lalu melakukan manual plasenta
lahir pada pukul 23.02 WIB, kesan tidak lengkap dan bidan melakukan eksplorasi kavum uteri.
Setelah tindakan tersebut, didapatkan sisa plasenta dapat dikeluarkan dari kavum uteri, kesan kavum
uteri bersih.
Saat bidan melakukan pemantauan kala IV, keluarga ibu melaporkan bahwa perdarahan yang
dialami oleh ibu bertambah banyak dan ibu merasa pusing.
Hasil pemeriksaan bidan : kesadaran menurun, TD 100/60 mmHg, nadi 90x/menit, suhu 36,3 O
C, respirasi 22x/menit, kontraksi uterus lembek, TFU 2 jari diatas pusat, kandung kemih kosong,
perdarahan warna merah kehitaman hitam tampak mengalir dari vulva. Bidan lalu mengambil tindakan
yang sesuai.
Pertanyaan :
1. Jelaskan faktor penyebab dan faktor predisposisi perdarahan post partum!
2. Jelaskan tanda dan gejala, cara mendeteksi serta penanganan segera pada perdarahan post
partum secara umum!
3. Jelaskan tanda dan gejala, cara mendeteksi serta penanganan segera pada atonia uteri!
4. Jelaskan tanda dan gejala, cara mendeteksi serta penanganan segera pada perdarahan post
partum karena laserasi jalan lahir!
5. Jelaskan tanda dan gejala, cara mendeteksi serta penanganan segera pada perdarahan post
partum karena sisa plasenta!
6. Jelaskan prinsip pemberian oksitosika pada perdarahan post partum!
7. Buatlah pendokumentasian SOAP kala IV untuk persalinan Ny. Annisa!
3

II
Jawaban

A. Faktor Penyebab dan Faktor Predisposisi Perdarahan Post Partum


1. Faktor Penyebab Perdarahan Post Partum
a. Perdarahan dari tempat implantasi plasenta
- Hipotoni sampai antonia uteri
Akibat anestesi
Partus lama, partus kasep
Partus presipitatus/partus terlalu cepat
Persalinan karena induksi oksitosin
Multiparitas
Korioamnionitis
Pernah antonia uteri sebelumnya
- Sisa plasenta
Kotiledon atau selaput ketuban tersisa
Plasenta susenturiata
Plasenta akreta, inkreta, perkreta
b. Perdarahan karena robekan
- Episiotomi yang melebar
Robekan pada perineum, vagina, dan serviks
Ruptura uteri
c. Gangguan koagulasi
Jarang terjadi tetapi bisa memperburuk keadaan di atas, misalnya pada kasus
trombofilia, sindroma HELLP, preeklampsia, solusio plasenta, kematian janin dalam
kandungan, dan emboli pada air ketuban.

2. Faktor Predisposisi Pendarahan Postpartum


a. Dugaan sebelum hamil terdiri dari:
4

Riwayat perdarahan postpartum berulang


Terdapat Mioma uteri
Penyakit darah:
gangguan pembekuan darah
leukimia
b. Kemungkinan Hemoragia Postpartum (HPP) setelah hamil
Pendarahan postpartum setelah hamil terjadi :
-

Ibu hamil dengan anemia


Grande multipara
Regangan uterus yang berlebihan:
Hidramnion
Hamil ganda atau makrosemia
Pendarahan pada kehamilan tua:
Plasenta previa
Solusio plasenta
Kesalahan tatalaksana kala III ( Pertolongan kala uri sebelum waktunya )
Infeksi: kharioamnionitis
Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun
Persalinan yang dilakukan dengan tindakan:
Pertolongan persalinan oleh dukun
Persalinan dengan tindakan paksa
Persalinan dengan narkosa. (Sarwono, 2005)

B. Tanda dan Gejala, Cara Mendeteksi serta Penanganan Segera pada Perdarahan Post
Partum Secara Umum
a. Tanda dan Gejala Perdarahan Post partum
Gambaran klinis
Gambaran klinisnya berupa perdarahan terus menerus dan keadaan pasien berangsurangsur menjadi semakin jelek, Denyut nadi menjadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun,
pasien berubah pucat dan dingin dan napasnya menjadi sesak, terengah-engah, berkeringat
dan akhirnya koma serta meninggal dunia. Situasi yang berbahaya adalah kalau denyut nadi
dan tekanan darah hanya memperlihatkan sedikit perubahan untuk beberapa saat karena
adanaya mekanisme kompensasi vaskuler. Kemudian fungsi kompensasi ini tidak bisa di
pertahankan lagi, denyut nadi meningkat dengan cepat, tekanan darah tiba-tiba turun, dan
pasien dalam keadaan syok. Uterus dapat terisi darah dalam jumlah yang cukup banyak
sekalipun di luar hanya terlihat sedikit.
5

Terjadi perdarahan rembes atau mengucur, saat kontraksi uterus keras, darah
berwarna merah muda, bila perdarahan hebat timbul syok, pada pemeriksaan inspekulo
terdapat ronekan pada vagina, serviks atau varises pecah dan sisa plasenta tertinggal.
(purwadianto, dkk, 2000).
Gejala Klinik Perdarahan Postpartum
Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume
total tanpa mengalami gejala-gejala klinik, gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah
sebanyak 20%. Gejala klinik berupa perdarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi
lahir. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat,
tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain
(Wiknjosastro, 2005).

Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang mungkin terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah banyak
(500 ml), nadi lemah, haus, pucat, lochea warna merah, gelisah, letih, tekanan darah
rendah ekstremitas dingin, dapat pula terjadi syok hemorogik
-

Menurut Mochtar (2001) gejala klinik berdasarkan penyebab ada lima yaitu :
1) Antonia Uteri
Uterus berkontraksi lembek , terjadi perdarahan segera setelah lahir
2) Robekan jalan lahir
Terjadi perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah bayi lahir,
konterksi uterus baik, plasenta baik. Gejala yang kadang-kadang timbul pucat,
lemah, menggigil.
3) Retensio plasenta
Plasenta belum lahir selama 30 menit, perdarahan segera, kontraksi uterus baik.
4) Tertinggalnya sisa plasenta
Selaput yang mengandung pembuluh darah ada yang tertinggal, perdarahan
segera. Gejala yang kadang-kadang timbul uterus berkontraksi baik tetapi tinggi
fundus tidak berkurang.
5) Inversio uterus
Uterus tidak teraba, lumen vagina berisi massa, perdarahan segera, nyeri berat.

Diagnosis Perdarahan Postpartum


Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut ini :
Tabel 2.1 Diagnosis Perdarahan Postpartum
6

No

Gejala dan tanda yang

selalu ada
Uterus

tidak

berkontraksi

Gejala dan tanda yang

Diagnosis

kadang-kadang ada
Syok

kemungkinan
Atonia Uteri

Pucat

Robekan jalan lahir

dan

lembek
Perdarahan
setelah

segera

anak

lahir

(Perdarahan
Pascapersalinan Primer
2

atau P3)
Perdarahan

segera

(P3)
Darah

Lemah
segar

yang

Menggigil

mengalir segera setelah


bayi lahir (P3)
Uterus kontraksi baik
3

Plasenta lengkap
Plasenta belum

lahir

setelah 30 menit
Perdarahan

Tali pusat putus akibat

Retensio

traksi berlebihan
segera

Inversio

uteri

akibat

Plasenta

(P3)

tarikan

Uterus kontraksi baik

Perdarahan lanjutan

Plasenta atau sebagian

Uterus berkontraksi tetapi

Tertinggalnya

selaput

tinggi

sebagian plasenta

(mengandung

pembuluh darah) tidak

fundus

tidak

berkurang

lengkap
Perdarahan

segera

(P3)
5

Plasenta atau sebagian

Uterus berkontraksi tetapi

Tertinggalnya

selaput

tinggi

sebagian plasenta

(mengandung

pembuluh darah) tidak

fundus

berkurang

lengkap
Perdarahan

segera

(P3)
7

tidak

Sub-involusi uterus

Anemia

Perdarahan

Nyeri

Demam

terlambat

tekan

perut

bawah

Endometritis

Perdarahan lebih dari

sisa

24

(terinfeksi

jam

setelah

persalinan. Perdarahan

atau

plasenta
atau

tidak)

sekunder atau P2S.


Perdarahan

bervariasi

(ringan atau berat, terus


menerus

atau

tidak

teratur) dan berbau (jika


disertai infeksi)
7

Perdarahan
(P3)

segera

(Perdarahan

intraabdominal

dan

Syok

Robekan

dinding

Nyeri tekan perut

uterus

(ruptura

Denyut nadi ibu cepat

uteri)

atau vaginum)
Nyeri perut berat

b. Cara Mendeteksi Perdarahan Post Partum Secara Umum


1) Cek tekanan darah pasien dan cek apakah pasien menjadi anemia atau tidak. Adanya
perdarahan dapat menimbulkan hipotensi dan anemia. Apabila hal ini dibiarkan berlangsung
terus, pasien akan jatuh dalam keadaan syok. Perdarahan postpartum tidak hanya terjadi
pada mereka yang mempunyai predisposisi, tetapi pada setiap persalinan kemungkinan
untuk terjadinya perdarahan postpartum selalu ada
2) Jika terjadi pengeluaran darah cek perdarahan yang terjadi deras atau merembes.
Perdarahan yang deras biasanya akan segera menarik perhatian, sehingga cepat ditangani
sedangkan perdarahan yang merembes karena kurang nampak sering kali tidak mendapat
perhatian. Perdarahan yang bersifat merembes bila berlangsung lama akan mengakibatkan
kehilangan darah yang banyak. Untuk menentukan jumlah perdarahan, maka darah yang
keluar setelah uri lahir harus ditampung dan dicatat.

3) Cek kenaikan fundus uteri. Kadang-kadang perdarahan terjadi tidak keluar dari vagina,
tetapi menumpuk di vagina dan di dalam uterus. Keadaan ini biasanya diketahui karena
adanya kenaikan fundus uteri setelah uri keluar.

Untuk menentukan etiologi dari

perdarahan postpartum diperlukan pemeriksaan lengkap yang meliputi anamnesis,


pemeriksaan umum, pemeriksaan abdomen dan pemeriksaan dalam.
4) Pada atonia uteri terjadi kegagalan kontraksi uterus, sehingga pada palpasi abdomen
uterus didapatkan membesar dan lembek. Sedangkan pada laserasi jalan lahir uterus
berkontraksi dengan baik sehingga pada palpasi teraba uterus yang keras. Dengan
pemeriksaan dalam dilakukan eksplorasi vagina, uterus dan pemeriksaan inspekulo.
Dengan cara ini dapat ditentukan adanya robekan dari serviks, vagina, hematoma dan
adanya sisa-sisa plasenta.
c. Penanganan Segera pada Perdarahan Post Partum Secara Umum
1) Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk)
2) Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya
pencegahan perdarahan pascapersalinan)
3) Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruangp ersalinan) dan
lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung).
4) Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat.
5) Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan
masalah dan komplikasi.
6) Minta pertolongan pada petugas lain untuk membantu bila dimungkinkan.
7) Lakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah,
pernafasan dan suhu
8) Jika terdapat syok lakukan segera penanganan
9) Periksa kandung kemih, bila penuh kosongkan
10) Pasti kankontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukan pijatan uterus,
berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan
permenit.
11) Pastikan plasenta telah lahir lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir.
12) Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
13) Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan
14) Cari penyebab perdarahan dan lakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab
perdarahan serta lakukan tindakan spesifik.
9

C. Atonia Uteri
Atonia uteri adalah kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi myometrium dimana tidak
terjadi kontraksi dan retraksi serat-serat myometrium yang menyebabkan pembuluh-pembuluh darah
tidak terlipat kembali sehingga aliran darah ke tempat implantasi plasenta tidak terhenti.
a. Faktor terjadinya atonia uteri:
1) Disfungsi uterus : Atonia uteri primer merupakan disfungsi intrinsik uterus
2) Penatalaksanaan yang salah pada kala placenta : kesalahan paling sering adalah
mencoba mempercepat kala tiga. Dorongan dan pemijitan uterus mengganggu mekanisme
fisiologis pelepasan placenta dan dapat menyebabkan pemisahan sebagian placenta yang
menyebabkan perdarahan.
3) Anasthesi : anashesi inhalasi yang dalam dan lama merupakan faktor yang sering menjadi
penyebab. Terjadi relaksasi myometrium yang berlebihan, kegagalan kontraksi serta
retraksi, atonia uteri dan perdarahan postpartum.
4) Kerja uterus yang tidak efektif : kerja uterus yang tidak efektif selama dua kala persalinan
pertama kemungkinan besar akan diikuti oleh kontraksi serta retraksi myometrium yang
jelek dalam kala tiga
5) Overdistensi uterus : uterus yang mengalami distensi secara berlebihan akibat keadaan
eperti bayi besar, kehamilan kembar dan polyhidroamnuons cenderung mempunyai daya
kontraksi yang jelek
6) Kelelahan akibat partus lama : bukan hanya rahim yang cenderung berkontraksi lemah
setelah melahirkan, tetapi juga iu yang keletihan kurang mampu bertahan terhadap
kehilangan darah
7) Multiparitas : uterus yang telah melahirkan banyak anak cenderung bekerja tidak efisien
dalam semua kala persalinan
8) Myoma uteri : myoma uteri dapat menimbulkan perdarahan dengan mengganggu kontraksi
serta retraksi myometrium
9) Melahirkan dengan tindakan Foperative deliveries : keadaan ini mencakup prosedur
operatif seperti forceps tengah dan versi ekstraksi
10) Solutio plasenta
11) Plasenta previa
b. Tanda-tanda dan gejala terjadinya atonia uteri:
1) Perdarahan per vaginam segera setelah plasenta dan janin lahir yang mengucur deras
dalam waktu singkat
2) Konsistensi rahim lunak, uterus cenderung tidak berkontraksi
3) Fundus uteri naik (jika pengaliran darah keluar terhalang oleh bekuan darah atau selaput
janin)

10

4) Tanda-tanda terjadinya syok ( pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan lemah,
keringat/kulit terasa dingin dan lembap, gelisah, bingung atau kehilangan kesadaran dan
lain-lain )
c. Cara menditeksi
Bila setelah bayi dan plasenta lahir, dan didapatkan keadaan dimana perdarahan masih aktif
dan banyak, bergumpal dan pada saat palpasi didapatkan fundus uteri masih setinggi pusat atau lebih
dengan kontraksi yang lembek. Lakukan pemeriksaan menggunakan spekulum setelah operasioperasi yang sulit seperti forsep tengah, versi dan ekstraksi, ekstraksi pada bokong untuk
menentukan diagnosa dengan cepat. Selain itu, sebaiknya juga dilakukan eksplorasi cavum uteri
karena selalu ada kemungkinan terjadinya robekan rahim.
d. Cara penanganan segera pada kasus atonia uteri :
Penanganan kasus atonia uteri harus secara benar, tepat dan cepat, mengingat akibat yang
akan terjadi jika tidak segera mendapat penanganan yang cepat dan tepat. Seorang ibu bersalin akan
kehilangan darah sangat banyak dalam beberapa menit saja ketika uterus tidak berkontraksi.
Langkah langkah yang harus dilakukan dalam penanganan kasus atonia uteri
1) Lakukan massage uterus untuk mengeluarkan gumpalan darah. Periksa lagi dengan tehnik
aseptik apakah plasenta utuh. Pemeriksaan menggunakan sarung tangan DTT atau steril,
usap vagina dan ostium serviks untuk menghilangkan jaringan plasenta atau selaput ketuban
yang tertinggal.
2) Periksa kandung kemih ibu jika kandung kemih ibu, jika penuh gunakan teknik aseptic untuk
memasang kateter ke dalam kandung kemih ( menggunakan kateter nelaton yang steril /
DTT ).
3) Gunakan sarung tangan DTT / steril , lakukan kompresi bimanual interna (KBI) maksimal
selama 5 menit atau hingga perdarahan bisa dihentikan dan uterus berkontraksi dengan baik.
4) Jika perdarahan bisa dihentikan dan uterus berkontraksi baik :
5) Teruskan kompresi bimanual interna selama 2 menit.
6) Keluarkan tangan dengan hati hati dari vagina.
7) Jika perdarahan tidak terkendali dan uterus tidak berkontraksi dalam waktu 5 menit setelah
dimulainya kompresi bimanual interna maka :
8) Instruksikan dan ajari salah satu keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksterna.
9) Keluarkan tangan dari vagina dengan hati hati.
10) Jika tidak ada tanda hipertensi pada ibu, berikan metergin 0, 2 mg IM
11) Mulai IV ringer laktat 500 cc + 20 unit oksitosin menggunakan jarum berlubang besar ( 16 / 18
G ) dengan teknik aseptic. Berikan 500 cc pertama secepat mungkin dan teruskan dengan IV
ringer laktat + 20 unit oksitosin yang kedua.
12) Persiapkan untuk melakukan rujukan ke tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.
11

13) Jika uterus tetap tidak berkontraksi ;


14) Ulangi KBI
15) Jika berkontraksi, lepaskan tangan anda perlahan lahan dan pantau kala IV dengan
seksama.
16) Jika uterus tidak berkontraksi, rujuk segera dimana operasi dapat dilaksanakan
17) Dampingi ibu ketempat rujukan. Teruskan infuse dengan kecepatan 500 cc / jam hingga ibu
mendapatkan total 1, 5 liter dan kemudian turunkan hingga 125 cc / jam.
18) Jika kompresi bimanual tidak berhasil, coba lakukan kompresi aorta abdominal (KAA). Raba
arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut. Genggam tangan
kanan kemudian tekankan pada daerah umbilicus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga
mencapai kolumna vertebratalis. Penekanan yang tepat, akan menghentikan atau sangat
mengurangi denyut arteri femoralis dan dapat memperlambat perdarahan.
19) Perkirakan jumlah darah yang keluar dan cek dengan teratur nadi, pernafasan dan tekanan
darah.
20) Buat dokumentasi dengan cermat.
Salah satu upaya atau tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan memasang Tampon
rahim. Pemasangan tampon dalam cavum uteri merupakan suatu masalah yang dipertentangkan.
Kebanyakan ahli yang berwenang menyalahkan penggunaan tampon karena prosedur tersebut dinilai
tidak fisiologis. Selama ini dilakukan berbgai upaya untuk mengosongkan rahim, kini uterus malah diisi
dengan tampon. Uterus yang atonia tidak mungkin dipasang tampon ketat sehingga sinus-sinus darah
tertutup. Uterus tentunya akan menggelembung dan terisi darah lebih banyak lagi. Jadi pemasangan
tampon bukan saja tidak berguna tetapi juga berbahaya karena dapat menimbulkan perasaan tentram
yang keliru dengan menutupi darah yang mengalir dan memudahkan terjadinya infeksi. Tetapi banyak
ahli beranggapan bahwa pengendalian perdarahan dengan metode ini cukup berharga untuk dicoba
sebelum digunakan tindakan-tindakan tang lebih radikal. Pasien harus diobservasi dengan cermat.
Tampon dilepas dalam waktu 12 jam. Lalu di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dapat di
lakukan histerektomi jika perdarahan masih berlangsung terus, abdomen harus dibuka dan dikerjakan
histerektomi. Jika histerektomi dikerjakan dalam waktu yang tepat, tindakan ini merupakan yang
paling efektif untuk menyelamatkan jiwa pasien.

D. Perdarahan Post Partum karena Laserasi Jalan Lahir


Perlukaan jalan lahir
Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi dari robekan yang dialami selama proses
melahirkan baik yang normal maupun dengan tindakan. Penyebab yang paling sering adalah
12

pimpinan persalinan yang salah seperti pembukaan belum lengkap sudah dilakukan pimpinan
persalinan dan tindakan mendorong kuat pada fundus uteri. Robekan serviks sering terjadi pada sisi
lateral, karena serviks yang terjulur akan mengalami robekan pada posisi spina ischiadika tertekan
oleh kepala bayi. (Sulistyawati&Nugraheny: 2012). Tempat-tempat perdarahan mencakup :
-

Episiotomi : kehilangan darah dapat mecapai 200 ml. Jika arteriole atau vena varikosa
yang besar turut terpotong atu robek, darah yang keluar dapat berjumlah lebih banyak lagi.
Karena itu pembuluh darah yang putus harus segera dijepit dengan klem untuk mencegah

hilangnya darah
Vulva, vagina dan cervix
Uterus yang ruptur
Inversio uteri
Hematoma pada masa nifas

Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi banyaknya.
Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu sumber dan jumlah perdarahan
sehingga dapat diatasi. Laserasi jalan lahir diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekanya itu
sebagai berikut.
1) Derajat satu
Robekan sampai mengenai mukosa vagina dan kulit perineum.
2) Derajat dua
Robekan sampai mengenai mukosa vagina, kulit perineum, dan otot perineum.
3) Derajat tiga
Robekan sampai mengenai mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, dan otot sfingter ani
eksternal.
4) Derajat empat
Robekan sampai mengenai mukosav agina, kulit perineum, otot perineum, otot sfingter ani
eksternal, dan mukosa rectum.
Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan persalinan oleh
dukun karena tanpa dijahit. Bidan diharapkan melaksanakan pertolongan persalinan secara legeartis
di tengah masyarakat melalui polindes, sehingga berangsur-angsur peranan dukun makin
berkurang. Bidan dengan pengetahuan medisnya dapat memilah-milah hamil dengan resiko tinggi,
resiko rawan atau resiko tinggi, dan mengarahkan pertolongan pada kehamilan dengan resiko rendah.
Pertolongan persalinan dengan resiko rendah mempunyai komplikasi ringan sehingga dapat
menurunkan angka kematian ibu maupun perinatal. Dengan demikian komplikasi robekan jalan lahir
yang dapat menimbulkan perdarahan pun akan semakin berkurang.

13

Di samping itu, ada faktor-faktor lain yang turut menyebabkan kehilangan darah secra
berlebihan jika terdapat trauma pada jalan lahir, antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Interval yang lama antara dilakukannya episiotomi dan kelahiran anak


Perbaikan episiotomi setelah bayi dilahirkan tanpa semestinya ditunggu terlampau lama
Pembuluh darah yang putus pada puncak episiotomi tidak berhasil dijahit
Pemeriksaan inspeksi lupa dikerjakan pada cervix dan vagina bagian atas
Kemungkinan terdapatnya beberapa tempat cedera yang tidak terpikirkan
Ketergantungan pada obat-obat oxyytocic yang disertai penundaan terlampau lama dalam
mengeksplorasi uterus.
Perdarahan yang terjadi saat kontraksi uterus baik, biasanya dikarenakan ada robekan atau

sisa plasenta. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara inspeksi pada vulva, vagina, dan serviks
dengan memakai speculum untuk mencari sumber perdarahan dengan ciri warna darah yang merah
segar dan pulsatif sesuai dengan denyut nadi. Perdarahan karena ruptura uteri dapat diduga pada
persalinan macet atau kasep, atau uterus dengan lokus minoris resistensia dan adanya atonia uteri
dan tanda cairan bebas intraabdominal (Karkata, 2009).
a.
1)
2)
3)

Tanda dan gejala pada perdarahan post partum karena laserasi atau robekan jalan lahir
Kontraksi uterus kuat
Warna darah yang merah segar dan pulsatif sesuai dengan denyut nadi
Biasanya timbul setelah persalinan operatif

b. Penatalaksanaan Ruptura Perineum dan Robekan Dinding Vagina


1) Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan
2) Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik
3) Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat
diserap
4) Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal dari operator
5) Khusus pada ruptura perineum komplit (hingga anus dan sebagian rektum) dilakukan
penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rektum, sebagai berikut :
-

Setelah prosedur aseptik-antiseptik, pasang busi pada rektum hingga ujung


robekan

Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul submukosa,
menggunakan benang poliglikolik no.2/0 (Dexon/Vicryl) hingga ke sfingter ani. Jepit
kedua sfingter ani dengan klem dan jahit dengan benang no. 2/0

Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan submukosa dengan benang


yang sama (atau kromik 2/0) secara jelujur

Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara submukosal dan subkutikuler
14

Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g dan metronidazol 1 g per oral). Terapi


penuh antibiotika hanya diberikan apabila luka tampak kotor atau dibubuhi ramuan
tradisional atau terdapat tanda-tanda infeksi yang jelas.

c. Penatalaksanaan Pendarahan Karena Robekan Serviks


1) Sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terjulur akan mengalami robekan pada
posisi spina ishiadika tertekan oleh kepala bayi.
2) Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka
segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan porsio
3) Jepitan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robek sehingga perdarahan dapat segera
di hentikan, jika setelah eksploitasi lanjutkan tidak dijumpai robekan lain, lakukan
penjahitan, jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar sehingga semua
robekan dapat dijahit
4) Setelah tindakan periksa tanda vital, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri dan perdarahan
paska tindakan
5) Berikan antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksi
6) Bila terjadi defisit cairan lakukan restorasi dan bila kadar Hb dibawah 8 gr%, berikan
transfusi darah
Laserasi serviks diperbaiki dengan merenggut mulut serviks yang berdekatan dengan laserasi
dengan menggunakan forsep cincin. Jahitan berurutan dengan chromic 00 atau 000 dilakukan melalui
bagian yang paling mudah dari robekan serviks. Traksi pada jahitan tersebut dapat membantu dalam
menarik apeks laserasi kebawah. Pembuluh-pembuluh yang mengeluarkan darah harus diligasi untuk
mencegah hematoma retroperitroneum. Jahitan yang paling penting adalah pada apeks laserasi, di
mana diperlukan perhatian yang vermat untuk memastikan bahwa pembuluh-pembuluh yang
mengalami retraksi tidak terus berdarah. Jahitan terputus atau kontinu dapat dipakai, tergantung pada
luasnya perdarahan, tempat perdarahan yang terlihat dan keinginan operator (Taber, 1994)
E. Perdarahan post partum karena sisa plasenta
Jika pada pemeriksaan plasenta ternyata jaringan plasenta yang tidak lengkap, harus
dilakukan eksplorasi kavum uteri. Potongan-potongan plasenta yang tertinggal tanpa diketahui,
biasanya akan menimbulkan perdarahan pascapersalinan. Jika perdarahan banyak, hendaknya sisasisa plasenta ini segera dikeluarkan walaupun ibu sedang demam.
a. Tanda dan Gejala:
1) Jaringan plasenta tidak lengkap
2) Perdarahan yang banyak
15

3) Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak
berkurang.
b. Cara mendeteksi:
1) Akan terjadi sub-involusi uterus
2) Nyeri tekan perut bawah dan bawah uterus
3) Perdarahan lebih dari 24 jam setelah persalinan. Perdarahan sekunder atau P2S.
4) Lokia mukoporulen dan berbau bila disertai infeksi
c. Penanganan segera:
1) Berikan antibiotika. Antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dengan dosis awal 1 G
intavena dilanjutkan dengan 3x1 G oral dikkombinasi dengan metronidazole 1 G
supositoria dilanjutkan 3x500mg oral.
2) Dengan diberikan antibiotika tersebut lakukan eksplorasi digital bila serviks terbuka dan
mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen,
lakukan evakuasi sisa plasenta dengan AVM atau D&K. (DEPKES RI).
Persiapan:
a. Pasang infus dan transfusi darah
b. Profilaksis dengan memberikan antibiotik dan antipiretika
Lakukan kuretase untuk mengehentikan sumber perdarahannya.

F. Prinsip pemberian oksitosin pada perdarahan post partum


Oksitosin dapat diberikan secara intramuskuler tetapi cara terbaik adalah melalui infuse
dengan 5 atau 10 unit oksitosin di dalam 1 liter larutan glukosa 5 persen dalam air. Tetesannya diatur
dengan kecepatan yang cukup untuk mempertahankan kontraksi rahim. Oksitosin (5 atau 10 unit)
yang digunakan tunggalakan mengurangi secara signifikan gejala mual, muntah, sakit kepala,
perspirasi, sesak napas, nyeri dada, kenaikan tekanan darah serta bradikardia yang ditimbulkannya,
dan pemberian oksitosin saja sama efektifnya dalam pencegahan kehilangan darah yang melebihi
satu liter. 5 unit oksitosin dapat disuntikkan postpartum pada sebagian besar persalinan yang normal.
Namun, takaran optimal oksitosin masih memerlukan penelitian lebih.
G. Dokumentasi SOAP kala IV untuk persalinan Ny. Annisa

Pengkajian kala iv bidan harus melakukan pengkajian yang lengkap dan jeli, terutana mengenai
data yang berhubungan dengan kemungkinan penyebab perdarahan karena pada kala iv inilah kematian
pasien paling banyak terjadi. penyebab kematian pasien pasca peraalinan terbanyak adalah perdarahan
dan ini terjadi pada kala iv persalinan.
Dokumetasi SOAP kala IV persalinan Ny. Annisa
A. Subjektif:
1) Ibu merasa pusing dan perdarahan yang dialami oleh ibu bertambah banyak
2) Keluarga ibu melaporkan bahwa perdarahan yang dialami oleh ibu bertambah banyak
16

B. Analisa:
a Diagnosa:
P3A0 kala IV dengan perdarahan postpartum
b Masalah:
- Ibu merasa pusing
- Ibu mengalami perdarahan yang bertambah banyak
c Masalah potensial
- syok
- anemia
C. Objektif
1) Kesadaranumum : menurun
2) Tanda-tanda vital
TD : 100/60 mmHg
N
: 90 x /menit
S
: 36,30C
R
: 22 x/menit
3) Kontraksi uterus: lembek
4) TFU 2 jari di ataspusat
5) Kandungkemihkosong
6) Darah mengalir warna kehitaman dari vulva
D. Penatalaksanaan

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Mengobservasi tanda-tanda vital pasien


Melakukan pemasangan infus
Menyuntikan 0,2 ergonovin secara IM
Melakukan masase uterus
Jika masih ada perdarahan suntikan lagi ergonovin secara intravena
Pasang oksitosin drip 10 unit dalam 500 cc glukosa selama tindakan ini terus lakukan
masase uterus
7) Jika masih ada perdarahan lakukan kompresi bimanual secara hamilton
8) Lalu jika perdarahan belum berhenti rujuk pasien.

17

18

Anda mungkin juga menyukai