Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum ke-9

KIMIA KLINIS

Hari/Tanggal : Jumat, 13 Februari 2015


Waktu
: 07.00 11.00 WIB
PJP
: Dr.drh. Erni Sulistiawati SP1
Asisten
: Dimas Ramadhian Noor, S.Si
M. Maftuchin Sholeh, S.Si

URINALISIS 2
Disusun oleh:
Kelompok
Ardin Cahya Buana
Bella Utari Laksmi
Frizka Syaidatu D
Iva Fauziana
Kalsita Cita
Dudi Amanda P

J3L213085
J3L113023
J3L213106
J3L113026
J3L213103
J3L111145

_________
_________
_________
_________
_________
_________

PROGRAM KEAHLIAN ANALISIS KIMIA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN

Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal.


Dari 1200 mL darah yang melalui glomeruli per menit akan terbentuk filtrat 120
ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh
tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 mL urin per menit. Secara umum, dapat
dikatakan bahwa pemeriksaan urin salah satunya dapat untuk mengetahui kelainan
ginjal. Pemeriksaan urin rutin terdiri atas pemeriksaan mikroskopik, makroskopik,
dan kimia urin.
Secara umum urin berwarna kuning. Urin yang didiamkan agak lama akan
berwarna kuning keruh. Urin berbau khas yaitu berbau ammonia dan pH urin
berkisar antara 4,8 7,5 dan akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak
protein serta urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran.
Berat jenis urin yakni 1,002 1,035 g/mL (Uliyah 2008).
Unsur-nsur normal dalam urine misalnya adanya urea yang lebih dari 25-30
gram dalam urine. Urea ini merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada
mamalia. Ekskresi urea meningkat bila katabolisme protein meningkat, seperti
pada demam, diabetes, atau aktifitas korteks adrenal yang berlebihan. Jika
terdapat penurunan produksi urea misalnya pada stadium akhir penyakit hati yang
fatal atau pada asidosis karena sebagian dari nitrogen yang diubah menjadi urea
dibelokkan ke pembentukan amoniak (Soewolo 2003).
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti
urea), garam terlarut, dan materi organik. Materi yang terkandung di dalam urin
dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi
sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk
mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat
dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula
yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat (George 2006).

TUJUAN
Percobaan bertujuan
mengidentifikasi berbagai senyawa organik maupun
anorganik yang mengindikasikan suatu kondisi abnormal pada urin manusia atau urin
hewan dengan menggunakan zat-zat kimia tertentu.

METODE
ALAT DAN BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi, pipet
mohr, bulp, rak tabung, sudip, pipet tetes, gegep, gelas piala, buret, erlenmeyer,
statif, bunsen, kaki tiga, kasa, corong, dan botol semprot.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sampel urin,
Kristal ammonium sulfat, natrium nitroprusid, ammonium hidroksida pekat, asam
nitrat pekat, asam asetat 6%, BaCl2 10%, pereaksi Fauchet, pereaksi Benedict,
pereaksi Fehling, NaOH, fenolftalein, dan akuades.

PROSEDUR KERJA
Uji Rothera dilakukan dengan cara sampel urin sebanyak 2,5 mL
ditambahkan dengan kristal ammonium sulfat sampai jenuh. Kemudian larutan
ditambahkan Na-nitroprusid sebanyak 2-3 tetes dan ammonium hidroksida pekat
sebanyak 1-2 tetes. Larutan kemudian dikocok dan didiamkan selama 30 menit.
Hasil positif ditandai dengan perubahan warna larutan menjadi ungu.
Uji Gmelin dilakukan dengan larutan asam nitrat pekat dipipet sebanyak 2
mL kemudian ditambahkan 2 mL urin dengan hati-hati di ruang asam. Dilihat
perubahan warna yang terjadi. Reaksi positif ditunjukkan oleh adanya permainan
warna mulai dari hijau menjadi biru, ungu, merah, jingga.
Uji Faucet dilakukan dengan cara urin dipipet sebanyak 3 mL kemudian
ditambahkan 3 mL BaCl2, endapan yang terbentuk selanjutnya disaring. Endapan
yang berada pada kertas saring ditambahkan pereaksi Fauchet sebanyak 3 tetes.
Bila urin positif bilirubin, endapan tersebut akan berubah menjadi warna hijau.
Uji Glukosa Urin dengan Metode Benedict. Pereaksi Benedict dipipet
sebanyak 5 ml dan ditambah 8 tetes urin yang telah disaring lalu dipanaskan.
Perubahan warna yang terjadi diperhatikan. Adanya gula pereduksi dalam urin
ditandai dengan terbentuknya endapan Cu2O (terjadi perubahan warna larutan
yaitu dari biru menjadi hijau, kuning, hingga merah bata).
Uji Glukosa Urin dengan Metode Fehling. Larutan Fehling A dan B
dicampurkan dengan perbandingan 1 : 1 atau masing-masing 1 mL ditambahkan
ke dalam tabung reaksi, lalu dihomogenkan. Sampel urin sebanyak 1 mL
ditambahkan ke dalam campuran peraksi Fehling, kemudian campuran tersebut
dididihkan selama beberapa menit. Terbentuknya endapan tembaga oksida
menunjukkan adanya glukosa di dalam urin.

HASIL
Tabel 1 Uji senyawa tertentu dalam urin
Hasil (+/-)
Kontrol
Perlakuan
Uji
(urin
(urin +
praktikan)
glukosa)

Uji
Rothera

Gambar
Sampel
Kontrol

Perlakuan

Perlakuan

Kontrol

+
Cincin ungu

Uji
Gmelin

+1
Merah

+2
Merah

Uji Faucet

Kontrol
Uji
Glukosa
(Benedict)

+1
Hijau

Sampel
Uji
Glukosa
(Fehling)

Perlakuan

+1
Hijau

Kontrol

+1
Hijau
Perlakuan

PEMBAHASAN
Benda keton terdiri dari 3 senyawa, yaitu aseton, asam asetoasetat, dan asam
-hidroksibutirat yang merupakan produk metabolisme lemak dan asam lemak
yang berlebihan. Benda keton diproduksi ketika karbohidrat tidak dapat
digunakan untuk menghasilkan energi yang disebabkan oleh adanya gangguan
metabolisme karbohidrat (misalnya Diabetes Melitus), kurangnya asupan
karbohidrat (kelaparan, diet tidak seimbang : tinggi lemak rendah karbohidrat),
gangguan absorbsi karbohidrat, gangguan mobilisasi glukoma, sehingga tubuh
mengambil simpanan asam lemak untuk dibakar (Maulana 2008).
Energi adalah hal wajib yang harus dimiliki oleh sel tubuh, sehingga tubuh
akan mencari alternatif substrat untuk menghasilkan energi tersebut. Cara yang
digunakan oleh tubuh adalah dengan merombak simpanan lemak pada jaringan
adiposa. Lemak dihidrolisis sehingga menghasilkan asam lemak dan gliserol.
Asam lemak dikatabolisme lebih lanjut dengan melepas dua atom karbon satu
persatu menghasilkan asetil-KoA. Penguraian asam lemak terus menerus akan
mengakibatkan terjadinya penumpukan asam asetoasetat dalam tubuh. Asam
asetoasetat dapat terkonversi membentuk aseton, ataupun dengan adanya
karbondioksida dapat dikonversi membentuk asam -hidroksibutirat. Ketiga
senyawa ini disebut sebagai keton body yang terdapat pada urin penderita, serta
dideteksi dari bau mulut keton. Penderita mengalami ketoasidosis dan dapat
meninggal dalam kedaan koma diabetik (Suriani 2012).
Pada ketoasidosis diabetik keton serum meningkat hingga mencapai lebih
dari 50 mg/dL. Benda keton yang dijumpai di urin terutama adalah aseton dan
asam asetoasetat. Prinsip percobaan ini adalah Na-nitroprussid merupakan
oksidator kuat akan bereaksi dengan asam asetoasetat atau aseton yang bersifat
basa, kemudian membentuk cincin ungu atau violet. Berdasarkan hasil percobaan,
dilakukan analisis pada urin kontrol, yaitu urin dari salah satu anggota kelompok,
dan urin sampel, hasil yang didapatkan adalah negatif pada urin kontrol, yaitu
tidak terbentuknya cincin berwarna ungu. Sedangkan pada urin sampel, hasil yang
didapatkan adalah positif, yaitu terbentuk adanya cincin berwarna ungu.
Kantung Empedu merupakan kantung otot kecil yang berfungsi untuk
menyimpan empedu. Empedu mengalir dari hati melalui duktos hepatikus kiri dan
kanan, lalu keduanya bergabung membentuk doktus hepatikus utama bergabung
dengan saluran yang berasal dari kantung empedu membentuk saluran empedu
utama (anonim 2010). Bilirubin adalah produk utama dari penguraian sel darah
merah yang tua. Bilirubin disaring dari darah oleh hati, dan dikeluarkan pada
cairan empedu.
Uji Gmelin dilakukan untuk mengetahui terdapatnya empedu dalam urin
yang dihasilkan. Pigmen-pigmen empedu sebagian besar merupakan hasil
katabolisme hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel-sel darah merah oleh
sistem retikuluendotelial dari hati, limpa, dan sumsum tulang. Pigmen empegu
yang utama adalah biliverdin yang berwarna hijau dan bilirubin berwarna kuning
coklat. Oksidasi pigmen empedu oleh berbagai pereaksi akan menghasilkan suatu
turunan yang berwarnaasam nitrat adalah sejenis cairan korosif yang tidak
berwarna.

Pada percobaan ini larutan HNO3 pekat dimasukkan kedalam ruang yang
berisi cairan empedu yang berfungsi agar terjadi oksidasi zat warna . Banyaknya
HNO3 pekat yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi diusahakan sama banyak
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari
hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di
samping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel
retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang
disekresikan dalam darah harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam plasma
menuju hati. Di dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan dan mengkonjugasinya
dengan asam glukoronat sehingga bersifat larut air, sehingga disebut bilirubin
direk atau bilirubin terkonjugasi. Proses konjugasi melibatkan enzim
glukoroniltransferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam
bentukmonoglukoronida atau ikatan dengan glukosa, xylosa dan sulfat. Bilirubin
terkonjugasi dikeluarkan melalui proses energi kedalam sistem bilier.
Peningkatan jumlah hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah yang
sudah tua atau yang mengalami hemolisis akan meningkatkan produksi bilirubin.
Penghancuran eritrosit yang menimbulkan hiperbilirubinemia paling sering akibat
hemolisis
intravaskular
(kelainan
autoimun,
mikroangiopati
atau
hemoglobinopati). Percobaan ini untuk mengetahui keberadaan bilirubin dalam
urin dilakukan dengan uji fouchet. Prinsip dari pemeriksaan dengan uji Fouchet
ialah bilirubin dalam urin dipekatkan atau diendapkan diatas kertas saring dengan
BaCl2 dengan reagen Fouchet. BaCl2 bereaksi dengan sulfat dalam urine hingga
membentuk endapan BaSO4. Kemudian disaring dengan kertas saring untuk
memperoleh presipitat. Setelah itu presipitat di atas kertas saring dibiarkan
mengering dan bilirubin menempel pada molekul ini. Baru diberikan reagen
fauchet yang terkandung FeCl3 didalam larutannya. Bilirubin akan teroksidasi dan
berubah menjadi biliverdine yang berwarna hijau. Sensitivitas positif pemeriksaan
dengan uji Fouchet pada kadar 0,15-0,20% bilirubin. Berdasarkan hasil percobaan
yang ditunjukkan Gambar tabel 1 Dapat diketahui bahwa dalam urin tidak
terdapat bilirubin yang merupakan indikasi patologis.
Uji Benedict digunakan untuk menetukan adanya gula pereduksi dalam
sampel. Gula pereduksi adalah glukosa dan gula-gula lain yang mampu mereduksi
senyawa pengoksidasi. Sifat ini berguna dalam analisis gula. Dengan mengukur
jumlah dari senyawa pengoksidasi yang tereduksi oleh suatu larutan gula tertentu,
dapat dilakukan pendugaan konsentrasi gula (Lehninger 1982).
Pereaksi Benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium
karbonat, dan natrium sitrat. Karbohidrat dapat mereduksi ion Cu ++ dari
kuprisulfat menjadi Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Adanya
natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi Benedict bersifat lemah.
Endapan yang terbentuk dapat berwarna hiaju, kuning, atau merah bata. Warna
endapan ini bergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa (Poedjiadi
1994). Pada uji Benedict, dilakukan proses pemanasan yang bertujuan untuk
mempercepat laju reaksi.
Reaksi yang terjadi pada uji Benedict sebagai berikut.

O
R

gula pereduksi

Cu

2+

2OH

kalor

OH

Cu 2 O (s)

merah bata

H2 O

Hasil uji Benedict pada sampel urin kontrol menunjukan negative adanya
glukosa, sedangkan sampel urin perlakuan positif mengandung adanya glukosa
ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna hijau.
Tes glukosa urin dilakukan dengan menggunakan reaksi reduksi, dikerjakan
dengan menggunakan fehling, benedict, dan clinitest. Ketiga jenis ini dapat
digolongkan dalam jenis pemeriksaan semi-kuantitatif (Subawa 2010). Percobaan
uji glukosa urin dengan menggunakan uji fehling. Pereaksi fehling terdiri dari dua
bagian, yaitu fehling A dan fehling B. fehling A adalah larutan CuSO 4, sedangkan
fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat.
Pereaksi fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga
diperoleh dari suatu larutan yang berwarna biru tua . dalam pereaksi fehling, ion
Cu2+ terdapat sebagai ion kompleks. Pereaksi fehling dapat dianggap sebagai
larutan CuO.
Pada percobaan diketahui bahwa tabung urin yang diberi perlakuan dan
tabung urin sampel menunjukkan hasil positif terkandungnya glukosa dalam
sampel urin. Dalam suasana alkali, glukosa mereduksi kupri menjadi kupro
kemudian membentuk Cu2O yang mengendap dan berwarna merah. Warna yang
menunjukan hasil positif adanya glukosa pada pereaksi fehling ialah endapan
merah bata, jingga, kuning, sampai hijau. Berdasarkan pengamatan iketahui
tabung tabung urin kontrol tidak mengandung glukosa dalam urin dikarenakan
tidak terjadi perubahan warna setelah pemanasan.
Tabung urin yang diberi perlakuan dan tabung urin sampel mengandung
glukosa dengan kadar rendah, hal ini ditunjukkan dengan perubahan warna dari
biru menjadi hijau. Hal ini telah sesuai secara teoritis, dimana sampel yang
digunakan pada tabung urin kontrol merupakan urin sampel normal, sehingga
tidak terjadi perubahan warna pada uji fehling yang menunjukkan tidak adanya
glukosa dalam urin kontrol tersebut. Berikut ini ialah reaksi antara aldehid dengan
fehling yang menghasilkan warna hijau.
RCOH + 2Cu2+ + 5OH- RCOOH + Cu2O + 3H2O (Pearce et,al 2002)
Pada orang normal tidak ditemukannya adanya glukosa dalam urin. Glukosa
dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi
kapasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa. Hal ini dapat
ditemukan pada kondisis diabetes melitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing,
peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang
menurun seperti pada renal glukosaria, kehamilan, dan sindroma anconi (Wirawan
kk 2006).
Namun reduksi positif tidak selalu berarti pasien menderita diabetes melitus.
Hal ini dikarenakan pada penggunaan cara reduksi dapat terjadi hasil positif palsu
pada urin yang disebabkan karena adanya kandungan bahan reduktor selain
glukosa. Bahan reduktor yang dapat menimbulkan reaksi positif palsu antara lain:
galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, dan obat-obatan seperti
streptomycin,salicilat, dan vitamin C. Oleh karena itu perlu dilakukan uji lebih
lanjut untuk memastikan jenis gula yang terkandung dalam sampel urin. Hal ini

dikarenakan hanya kandungan glukosa yang mengindikasikan keberadaan


penyakit diabetes (Wirawan 2006).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Tuntunan Kimia Klinik. Makasar(ID) : Universitas Muslim
Indonesia.
George FH. 2006. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Maulana M. 2008. Diabetes Melitus. Jogjakarta (ID) : Katahati.
Pearce dan Evelyn. 2002. Anatomi Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta(ID): PT
Gramedia.
Soewolo. 2005. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Malang(ID): FMIPA UM.
Subawa. 2010. Metode Uji Glukosa Urin Dalam Pemeriksaan Semi Kuantitatif
dan Kuantitatif. Jakarta(ID): Gramedia.
Suriani N. 2012. Gangguan Metabolisme Karbohidrat Pada Diabetes Melitus.
Malang (ID): Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Uliyah M. 2008. Keterampilan Dasar Praktek Klinik. Jakarta(ID): Salemba
Medika.
Wirawan. 2009. Sumber Daya Manusia. Jakarta(ID): Erlangga.