Anda di halaman 1dari 3

APAKAH BAGI ANAK BELAJAR BERMAIN

Pertama-tama mari kita coba mengingat bersama pengalaman dengan kata


belajar waktu kecil dulu. Bagaimana kita mesti dipaksa oleh orangtua kita
ketika waktu untuk belajar. Klo gak kabur, menangis, merengek atau malah purapura sakit perut!! matematika dengan berbagai rumus, menghapal tanggal-tanggal
di pelajaran sejarah atau mengingat di negara ini letaknya di mana ya dalam
pelajarana geografibelum lagi kalau stress ketika saat ujian tiba!!
Saya sendiri pernah sampai bermimpi masuk ujian yang ternyata sudah dilakukan.
Sampai saya protessaya khan sudah ujian kelulusan kok ujian lagi. Kenapa saya
balik lagi. Tidaaaaakkkkk.(serasa kaya bintang sinetron)
Ternyata tidak nyaman ya
Sebaliknya bagaimana kalau belajar itu menyenangkan. Dilakukan sambil
bermain.
Seandainya kalau kita bisa memasukkan konsep mengenal angka dengan
menempel, menggunting dan mewarnai. Mengenalkan konsep menambah dan
mengurangi dengan menggunakan permainan congklak alias dakon (itu lo mainan
yang ada lubang-lubangnya berjejer tapi diujung kanan dan kiri ada lubang yang
lebih besar. Kemudian biji permainan diambil dan dibagikan rata di setiap
lubang). Bukankah matematika tidak hanya berupa rumus namun suatu ilmu yang
membantu kita untuk berhitung di kegiatan sehari-hari.
Atau daripada anak harus mengingat tanggal-tanggal dalam mata pelajaran
sejarah, digantikan dengan buku cerita mengenai sosok pahlawan/peristiwa
tertentu, dan menonton film berdasarkan sejarah. Bukankah inti dari pelajaran
sejarah adalah mengingat ada apa yang terjadi masa lampau dan kemudian
mengambil nilai penting yang harus diteladani.
Efeknya ternyata sangat berbeda.. Itulah mengapa pentingnya muncul konsep
bermain adalah belajar. Menggabungkan konsep bermain dan belajar ternyata
membuat anak lebih enjoy menikmati proses. Melalui bermain, proses bagi anak

untuk berinteraksi dengan mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan


(eksplorasi) yang digabungkan dengan pengalaman dan berujung pada proses
refleksi berlangsung dalam suasana menyenangkan. Kemudian anak-anak dapat
lebih mampu menggunakan kemampuan imajinasi untuk membuat kesimpulan .
Tidak ada pemaksaan.
Dalam kenyataan proses drill (memaksa belajar) juga hanya membuat anak
menghafal. Akhirnya, ya itu mudah terformat ulang. Sekarang hapal, besok
ditanya ya mbuh..
Selain itu, melalui permainan maka nilai-nilai dalam pembelajaran dapat
diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan proses belajar
bagi anak berbeda dengan proses pembelajaran orang dewasa. Bagi anak-anak,
memahami dan mengingat sesuatu yang mereka pelajari haruslah memiliki
kebermaknaan dan berkaitan dengan pengalaman dan perkembangan anak. Jadi
belajar harus merupakan hasil interaksi berpikir anak sendiri dan pengalaman
menghadapi lingkungan. Bermain merupakan media untuk anak berinteraksi
dengan pikiran mereka sekaligus dengan lingkungan. Dengan kata lain, bermain
menjadi media praktek yang nyata dalam kehidupan mereka.
Diharapkan proses bermain sambil belajar tidak hanya meningkatkan pemahaman
bagi anak namun juga memunculkan motivasi keingintahuan lebih lanjut si anak.
Jika pembelajaran akhirnya relevan dengan motivasi keingintahuan anak maka
mereka akan mampu berkutat untuk belajar lebih lama. Enaknya kalau anak-anak
gak usah dipaksa belajarbahkan mereka nagih,Yah..Bun ayo kapan kita mau
gunting-gunting angka lagi. Padahal.He..he mereka khan gak sadar klo kita
sebenarnya mengenalkan angka.
Bagi orangtua, untuk memungkinkan anak bermain sambil belajar adalah dengan
dengan memberikan peran memfasilitasi bukan sebagai pemberi intruksi. Dengan
demikian orangtua harus mampu menciptakan suasana menyenangkan ketika
memasukkan input belajar. Hal ini harus memperhatikan karakteristik anak.
Misalkan pada anak dengan karakteristik visual maka kekuatan belajar anak pada

indera mata, kekuatan auditorial terletak pada indera pendengaran (mendengar


dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada
perabaan (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi satu media
belajar menyenangkan harus disesuaikan dengan karakteristik sehingga tidak
memberikan beban. Jadi inilah mengapa kita sebagai orangtua harus memahami
karakteristik anak (artikel Istimewanya Seorang Anak). Setelah itu buatlah proses
pembelajaran yang langsung dapat diamati anak. Kalau memungkinkan
aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari.
Jangan lupa, input anak hanya dalam proses memperkenalkan. Jadi jangan
memaksa anak untuk memunculkan hasilnya seketika. Alias mekso anak cepet iso.
Proses adalah waktu.
Sebenarnya peran kita dalam proses bermain sambil belajar tidak mudah. Bahkan
kalau saya bilang, berat!! Kita sendiri juga harus melewati proses menyenangkan
diri dulu baru kemudian memfasilitasi. Berkreatif ria menciptakan media
menyenangkan yang sesuai dengan anak. Apalagi membagi waktu dalam
keseharian kita baik bekerja dan kegiatan social kemasyarakatan. Bahkan tidak
sedikit orangtua yang masih bersekolah kembali. Tapi percaya..,,rasanya
menyenangkan sekali melihat input anak yang mungkin kita sudah lupakan, tibatiba muncul. Seperti saya pernah menyanyikan lagu atas-bawah, kanan-kiri
ciptaan sendiri sambil berjoget (Diperingatkan. Jangan membayangkan bagaimana
saya berjoget. Huekkk!!) setelah sekian lamatiba-tiba ketika ditanya temennya,
Denia yang waktu itu berumur 2,5 tahun sudah bisa lancar menunjuk sebuah
barang yang letaknya di bagian kanan atas rak. Terharu