Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MANAJEMEN LINGKUNGAN INDUSTRI

EKOLOGI INDUSTRI

KELOMPOK 6

Nyoman Budi Suryawan

(F34130046)

Farah Putri L

(F34130052)

Hafni Halimah

(D24120102)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dewasa ini, pembangunan berkelanjutan serta dampak pengendalian
lingkungan menjadi perdebatan publik baik nasional maupun internasional. Hal
ini disebabkan oleh, semakin meningkatnya populasi manusia sehingga
mengakibatkan tingkat konsumsi produk dan energi semakin meningkat juga.
Permasalahan ini ditambah dengan ketergantungan penggunaan energi dan bahan
baku yang tidak dapat diperbarui. Pada awal perkembangan pembangunan,
industri dibangun sebagai suatu unit proses yang tersendiri, terpisah dengan
industri lain dan lingkungan. Proses industri ini menghasilkan produk utama,
produk samping dan limbah yang dibuang ke lingkungan. Limbah inilah yang
harus mendapat perhatian khusus karena dapat mencemari lingkungan.
Pada umumnya, pengendalian pencemaran lingkungan dengan cara
pengolahan limbah sangat sulit untuk dilakukan secara berkala. Karenanya, para
pengelolah produksi sepakat untuk lebih mengarah pada penanganan sumbernya
untuk mencegah atau meminimalkan limbah yang terbentuk. Strategi pencegahan
pencemaran dengan memfokuskan pada perbaikan sistem proses ini memberikan
kinerja lingkungan yang lebih baik dan lebih ekonomis serta lebih ramah
lingkungan.
Mengacu pada permasalahan diatas, maka banyak para peneliti saat ini
mulai mengembangkan suatu sistem produksi yang dapat menghemat penggunaan
bahan baku dan energi dari alam. Sistem industri yang dapat dikembangkan untuk
mengatasi masalah lingkungan ini disebut dengan ekologi industri, yang mana hal
tersebut tidak hanya membahas tentang masalah polusi dan lingkungan tetapi juga
mempertimbangkan kesinambungan industri serta aspek ekonomi menjadi fokus
utamanya. Ekologi industri merupakan suatu sistem industri yang terpadu diantara
industri-industri yang ada di dalamnya dan saling berinteraksi untuk menciptakan
suatu produk yang lebih baik.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang sebenarnya telah
mengaplikasikan ekologi industri. Konsep ekologi industri yang dikembangkan di
Indonesia masih sangat sederhana dan belum sampai tahap sistem ekologi industri
yang menyeluruh. Konsep ekologi industri di Indonesia masih sangat berprospek
untuk dikembangkan lebih lanjut sehingga pada akhirnya diperoleh suatu
pembangunan industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dengan
kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan pembangunan
kawasan ekologi industri di Indonesia.

Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekologi industri,
produk bersih dan pembangungan berkelanjutan serta penerapannya dalam
agroindustri.

PEMBAHASAN
Ekologi industri adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengelola
aliran energi atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan
menghasilkan sedikit polusi. Konsep ekologi industri merujuk kepada pertukaran
antara sektor industri dimana pembuangan dari satu industri menjadi sumber
bahan baku bagi industri lainnya. Pada ekologi industri tidak hanya membahas
tentang masalah polusi dan lingkungan tetapi juga mempertimbangkan
kesinambungan industri serta aspek ekonomi tetap diutamakan. Penerapan ekologi
industri ke dalam agroindustri diharapkan memiliki nilai tambah terhadap produk,
karena dari satu sumber bahan baku dapat dihasilkan beragam poduk olahan.
Pengembangan ekologi industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep
baru dalam mempelajari dampak sistem industri pada lingkungan (Xuemei 2007).
Konsep ekologi industri telah banyak dikembangkan di negara-negara
maju seperti ekologi industri Kalundborg Denmark, Brownville Amerika Serikat
dan Calgary Kanada. Di negara maju ekologi industri telah digunakan sebagai
salah satu instrumen untuk merancang pembangunan ekonomi yang berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan Di negara berkembang yang menjadi persoalan
utama adalah sumber daya alam yang melimpah namun masih belum dapat
mengoptimalkan penggunaannya. Hal lain yang menghambat adalah kurangnya
dukungan pemerintah secara nyata terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan (Erkman 2000).
Tujuan utamanya adalah untuk mengorganisasi sistem industri sehingga
diperoleh suatu jenis produk yang ramah lingkungan dan berkesinambungan.
Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industri ada empat elemen
utama, yaitu mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu
siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan
pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi yang tidak
terbarukan. dengan menerapkan konsep ekologi industri, kawasan industri dapat
mengembangkan sistem pertukaran limbah yang dapat bermanfaat bagi industri
tersebut (Allen 2002).
Perkembangan industri yang semakin pesat kurang diimbangi dengan
pemahaman akan dampak dari limbah yang dihasilkan. Industri ramah lingkungan
adalah strategi untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya
limbah atau bahan pencemar pada sumbernya. Untuk mencapai kondisi tersebut,
maka pengendalian pencemaran dengan cara mengolah limbah tersebut dilakukan
untuk menurunkan tingkat bahayanya atau menurunkan tingkat pencemarannya
serta menjadikannya bahan yang memiliki nilai tambah dengan menerapkan
model air limbah (zero waste), produksi bersih (cleaner production), produktivitas
hijau (green productivity) atau perusahaan hijau (green company). Manfaat yang
dapat diperoleh dengan menerapkan industri ramah lingkungan, salah satunya
dapat mendorong pengembangan teknologi pengurangan limbah pada sumbernya, teknologi bersih dan produk ramah lingkungan (Sulaeman 2007).
Menurut Djajadiningrat (2004), sistem industri terdapat tiga tipe. Tipe I
adalah sistem proses linier. Pada tipe ini energi dan material masuk pada sistem
kemudian menghasilkan produk, produk samping, dan limbah. Limbah yang
dihasilkan tidak dilakukan proses olah ulang sehingga membutuhkan pasokan

bahan baku dan energi yang banyak. Sistem industri yang paling banyak
digunakan saat ini adalah tipe II. Pada tipe ini sebagian limbah telah diolah ulang
dalam sistem dan sebagian lagi dibuang ke lingkungan. Sistem tipe III merupakan
sistem produksi kesetimbangan dinamik yang energi dan limbahnya diolah ulang
secara baik dan digunakan sebagai bahan baku oleh komponen sistem lain. Pada
sistem ini merupakan sistem industri yang tertutup total dan hanya energi matahari
yang datang dari luar sistem. Hal ini merupakan sistem ideal yang menjadi tujuan
ekologi industri.

Gambar 1. Tipe Sistem Produksi


Konsep ekologi industri terkait secara dekat dengan proses produksi bersih
(cleaner production) dan merupakan komplementer satu dengan lainnya. Kedua
konsep melibatkan pencegahan pencemaran dalam rangka melindungi lingkungan
dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Produksi bersih lebih memfokuskan pada
aspek pengurangan limbah, sementara ekologi industri lebih menekankan pada
pendauran suatu limbah yang terbentuknya tidak bisa dihindari (unavoidably
produced waste) dengan mensinergikan antara unit satu dengan lainnya atau
antara satu industri dengan industri lainnya. Selain terjadi pemanfaatan suatu
material yang dihasilkan oleh suatu unit oleh unit lain, juga dimungkinkan
terjadinya integrasi energi dari suatu unit oleh unit lain di dalam suatu kawasan.
Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industri ada empat elemen
utama yaitu mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu
siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi, dan
pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi yang tidak
terbarukan.
Optimasi penggunaan material dan energi dalam kegiatan industri dimulai
dengan menganalisis proses produksi untuk menghilangkan produk yang terbuang

percuma. Langkah ini bisa dilakukan oleh suatu industri secara sendiri yang
disebut dengan pencegahan polusi atau proses produksi bersih. Pencegahan polusi
ini secara tidak langsung telah menyelamatkan lingkungan dan sumber daya yang
ada sehingga tidak menyulitkan generasi yang akan datang untuk
memanfaatkannya kembali. Dalam ekologi industri, siklus material tertutup masih
jauh dari optimal namun telah dapat memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini
karena dalam ekologi industri masih membutuhkan energi dari luar yang sebagian
besar dari energi fosil. Pembakaran bahan bakar fosil merupakan sumber utama
limbah yang dihasilkan industri. Ekologi industri secara nyata dapat
meningkatkan efisiensi energi dan emisi. Siklus material yang tertutup dapat
memberikan keuntungan. Dalam ekologi industri juga berperan dalam
meminimilisasi jumlah aliran bahan dan energi yang digunakan untuk proses
produksi. Hal tersebut dapat dicapai dengan dematerialisasi. Pada saat ini ada dua
proses dematerialisasi yang diperdebatkan yaitu proses dematerialisasi relatif dan
dematerialisasi absolut. Proses dematerialisasi relatif menjelaskan bahwa suatu
proses produksi dan jasa diusahakan dapat menghasilkan produk dan jasa yang
sebesar-besarnya dari penggunaan bahan baku yang ada. Proses dematerialisasi
absolute menganggap bahwa dalam proses produksi harus meminimalkan
penggunaan bahan baku. Selanjutnya yaitu pengurangan dan penghilangan
ketergantungan pada sumber energi tidak terbarukan. Banyak usaha yang
dilakukan untuk meningkatkan efisiensi energi dengan beberapa inovasi seperti
co-generation. Hingga saat ini bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara,
dan gas alam merupakan sumber energi utama untuk industri. Penggunaan bahan
bakar fosil dapat menyebabkan kerusakan lingkungan seperti efek gas rumah
kaca, pemanasan global, dan hujan asam. Dalam rangka untuk mensinergikan
dengan tujuan utama ekologi industri maka diperlukan langkah perbaikan. Pada
tahap awal diperlukan usaha untuk membuat bahan bakar fosil yang ramah
lingkungan seperti dengan proses dekarbonisasi dan pembersihan gas buang.
Solusi di atas merupakan langkah perbaikan sementara, sehingga diperlukan usaha
diversifikasi energi terutama energi yang dapat terbarukan seperti biodisel, biogas,
bioetanol, dan pemanfaatan energi matahari. Dengan melaksanakan seluruh
strategi yang telah dipaparkan sebelumnya, maka berarti konsep pembangunan
berkelanjutan juga telah dilaksanakan dengan baik (Garner 1995).
Banyak contoh kasus penerapan ekologi industri dalam agroindustri, salah
satunya adalah pada industri pengolahan hasil perikanan yang merupakan salah
satu agroindustri yang memanfaatkan hasil perikanan sebagai bahan baku untuk
menghasilkan suatu produk yang bernilai tambah lebih tinggi. Industri perikanan
seperti juga industri-industri yang lain selain menghasilkan produk yang
diinginkan, juga menghasilkan limbah baik limbah padat maupun limbah cair.
Dengan makin meningkatnya kepekaan global terhadap masalah lingkungan,
produksi bersih menawarkan pemecahan yang secara ekonomis, paling baik dan
masuk akal (Wiston 1994). Pendekatan pencegahan terhadap limbah menawarkan
tingkat perlindungan yang paling tinggi terhadap pekerja dan kesehatan umum,
termasuk perlindungan serta konservasi lingkungan baik lokal maupun global.
Keuntungan lain selain daripada keuntungan yang bersifat lingkungan yaitu
keuntungan ekonomis yang dapat berupa reduksi biaya dari bahan baku, serta
pengembangan produk baru dari limbah yang direkonversi (Hirschhorn 1994).
Penerapan ekologi industri pada industri perikanan dapat dilakukan dengan

optimasi pemanfaatan air limbah dan bahan baku serta pengelolaan alternatif
perlakuan efluen. Penggunaan air yang besar pada industri perikanan
menyebabkan efluen yang besar pula terhadap lingkungan, karena jumlah
konsumsi air pada dasarnya sama jumlahnya dengan aliran efluen (River et al
1998) . Penggunaan air pada setiap proses berasal dari 2 arus utama yaitu air yang
digunakan untuk proses dan air yang digunakan untuk mencuci peralatan dan
lantai. Air untuk mencuci bisa direduksi dengan system countercurrent washing,
penghilangan solid sisa-sisa potongan sebelum pencucian, atau dengan
menggunakan detergen sesuai dengan persyaratan minimum. Pada pabrik
pengalengan (canning) penggunaan ulang (reuse) air dari autoclave dan daur
ulang (recycle) air dari pompa vacuum dapat mereduksi konsumsi air dari 692
m3/hari menjadi 389,2 m3/hari. Pada pabrik pengolahan ikan salmon, daur ulang
air dari pompa vakum dapat mereduksi konsumsi dari 377,0 menjadi 256,4
m3/hari. Penggunaan kembali air dari proses pendinginan cooked crustacea
untuk pencucian dapat mereduksi konsumsi air dari 712,6 menjadi 568,6 m3/hari.
Pengelolaan dan alternatif perlakuan efluen dapat dilakukan dengan
perlakuan terhadap volume total dan perlakuan paralel.perlakuan terhadap volume
total paling sesuai diterapkan apabila efluen mempunyai volume yang kecil
dengan karakteristik yang seragam. Perlakuan paralel pada setiap stream atau
sekelompok stream dipilih jika efluen menunjukkan keadaan yang berlawanan
perlakuan terhadap volume total. Karakteristik efluen dari industri perikanan
mengandung organik yang tinggi, sehingga perlakuan yang paling sesuai adalah
dengan flokulasi yang diikuti dengan depurasi biologis. Recovery bahan-bahan
organik (protein dan lemak) dapat mereduksi beban organik efluen dan sekaligus
meningkatkan produktifitas jika dikaitkan dengan pengolahan ulang bahan
organik yang di recovery. Perlakuan biologis bisa jadi menggunakan anaerobik
atau aerobik, atau kombinasi keduanya. Pengolahan anaerobik sangat sesuai
digunakan pada efluen dengan beban organik (COD) lebih tinggi dari 3 kgm-3,
keuntungannya adalah produksi massa sel lebih rendah dari pengolahan aerobik
produksi metana proporsional terhadap penghilangan beban organik yang dapat
digunakan sebagai sumber energi bagi reaktor. Disamping itu pengolahan aerobik
memerlukan biaya operasional yang tinggi untuk mensuplai oksigen, meskipun
biaya investasinya relatif rendah. Selain itu efisiensi degradasi beban organik
(COD) lebih besar dari 3 kgm-3 cukup rendah (River et al 1998).
Selain pada industri perikanan, penerapan ekologi industri juga dapat
dilakukan pada industri gula atau industri tebu. Penerapan ekologi industri dalam
industri tebu dapat dilakukan dengan empat tahap, yaitu perancangan,
penanganan, pencegahan dan pemanfaatan limbah. Pada tahapan awal
perancangan proses, yaitu pada saat riset dan pengembangan proses akan
menentukan aktifitas pengembangan pada tahapan selanjutnya, seperti dalam hal
pemilihan jenis peralatan, material, dan kondisi proses. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa dengan mengarahkan isu lingkungan pada awal siklus
pengembangan, masalah teknis dan nonteknis (konsekuensi ekonomis dan
peraturan perundangan) yang akan muncul di depan dapat diantisipasi. Hal ini
dapat mereduksi resiko teknis dan ekonomis yang berkaitan dengan isu
lingkungan.

Gambar 2. Kawasan Ekologi Agroindustri


Gambar kawasan ekologi industri di atas menjelaskan proses penataan
kawasan dimulai dari kawasan pertanian tebu rakyat. Hasil tebu diproses di
industri gula menghasilkan produk gula dan produk samping tetes tebu serta
selulosa. Tetes tebu digunakan sebagai bahan baku industri penyulingan etanol
sedangkan serat selulosa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas. Pada
industri kertas dihasilkan produk kertas dan limbah lumpur yang telah diolah
dapat menjadi bahan baku industri pupuk organik. Industri penyulingan etanol
dapat menghasilkan produk etanol dan efluen yang dapat dijadikan bahan baku
industri biogas. Industri biogas dapat menghasilkan energi yang dapat memasok
kawasan tersebut. Limbahlimbah yang dihasilkan telah sangat berkurang
kuantitas dan sifat toksisitasnya. Limbah tersebut diolah secara terpadu sehingga
dihasilkan limbah yang ramah lingkungan. Air limbah yang telah diolah dapat
juga dikembalikan sebagai air proses di industri.
Pada tahap penanganan limbah, ada beberapa jenis limbah yang harus
ditangani, misalnya penanganan limbah blotong. Penanganan awal untuk sisa
blotong (produksi blotong - blotong yang telah dimanfaatkan petani) perlu
ditangani dengan cara menanam ke dalam lubang pembuangan awal sebelum
dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pandangan dan bau yang tidak sedap. Kemudian penanganan limbah tetes tebu.
Penyimpanan tetes tebu dalam tangki dapat ditangani dengan cara mengantisipasi
suhu tetes, yaitu sebelum dikirim ke tangki tetes suhu tetes harus berkisar antara
35 40oC. Misalnya dengan cara melewatkan tetes tersebut melalui pendingin
sehingga tetes yang keluar dari pendingin tersebut berkisar 35 40oC.

Kemudian pencegahan limbah dapat dilakukan dengan pengurangan


pemakaian bahan pembantu proses (kapur dan belerang) yang berlebihan dengan
kontrol kondisi proses pemurnian nira yang efektif melalui optimasi pH, suhu dan
waktu. Dengan memperhatikan kualitas bahan baku yang diolah dan hasil
pemurnian yang ingin dicapai maka kondisi operasional proses yang optimal
dapat ditetapkan, sehingga pemakaian bahan pembantu proses dapat ditekan.
Dampaknya jumlah blotong dan gas SO2 dapat ditekan pula.
Kemudian pemanfaatan limbah industri gula. Limbah dari tebu yang
dapat dimanfaatkan sebagai pakan antara lain adalah blotong, tetes tebu, dan
pucuk tebu. Pucuk tebu adalah limbah tebu yang memiliki potensi sangat besar.
Pucuk tebu dapat dimanfaatkan untuk pakan ruminansia. Blotong adalah limbah
yang dapat dipisahkan dengan proses penapisan dalam proses klarifkasi nira yang
juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Untuk meningkatkan nilai gizi dari
protein pada blotong perlu dilakukan fermentasi dengan menggunakan kapang.
Ampas tebu juga dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik yang dijual ke rumah
tangga. Misalnya saja sisa ampas tebu pada musim giling 2008 (279.332 ton)
dapat menghasilkan listrik sekitar 36 ribu MW, atau dapat untuk memenuhi
kebutuhan listrik sekitar 60.000 rumah tangga di lingkungan pabrik gula selama 6
bulan (asumsi kebutuhan rumah tangga 100 KW per bulan) yang menghasilkan
rupiah sekitar Rp. 18 Milyard. Di dalam tetes tebu terkandung sukrosa antara 35 45 %, gula invert antara 17 35 %, total gula sebagai invert (TSAI) antara 60 - 70
%. Hal ini merupakan bahan baku yang potensial bagi produk-produk fermentasi
dan salah satu diantaranya adalah sirup invert. Untuk menjadikan gula dalam
tetes menjadi invert semua maka komponen sukrosa harus diinversi terlebih
dahulu. Proses inversi sukrosa menjadi gula invert yang banyak diminati adalah
cara enzimatis karena tidak bersifat korosif terhadap peralatan yang digunakan.
Proses inversi menggunakan ragi roti optimal pada larutan brix tetes 50 %, pH
4,5, suhu inkubasi 60oC selama 24 jam. Di samping dapat dibuat alkohol atau
spiritus dan sirup invert, tetes tebu juga dapat dipakai sebagai bahan baku L-lysine
dan media untuk pembuatan sodium glutamate di pabrik vitsien. Bahkan tetes tebu
saat ini merupakan komoditas eksport non migas yang cukup menjanjikan
(Darmayani et al 2010).
Selain industri pabrik gula dan industri perikanan, industri CPO juga
menerapkan konsep ekologi industri. Kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa
sawit merupakan kegiatan yang sangat memungkinkan untuk menerapkan konsep
zero emissions, karena hampir semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan
kembali. Oleh karena itu, pemerintah dewasa ini sangat memperhitungkan dan
memprioritaskan penerapan produksi bersih pada komoditi kelapa sawit. Karena
dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia tentang pelestarian
lingkungan hidup serta adanya persaingan pada pasar global, maka mutu produk
tidak hanya dilihat dari aspek fisik dan kimianya saja, tetapi juga aspek
lingkungannya.
Berdasarkan karakteristik limbah seperti yang telah dijelaskan di atas
bahwa limbah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) mengandung bahan organik
dan mineral. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan dengan melakukan pengolahan
lebih lanjut sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pengolahan limbah

akan bermanfaat bukan hanya untuk mencegah pencemaran terhadap lingkungan


tetapi dapat juga untuk meningkatkan pendapatan usaha perkebunan kelapa sawit.
Hal ini sekaligus untuk mewujudkan industri PMKS dengan zero waste.
Beberapa contoh pemanfaatan limbah PMKS yaitu sebagai bahan
pembuatan kompos. Pengomposan merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan nilai hara dan menurunkan volume TKS (tandan kosong segar).
Dengan demikian biaya transportasi perunit hara yang tinggi pada aplikasi TKS
secara langsung dapat dikurangi. Disamping itu pemanfaatan TKS sebagai bahan
baku kompos dapat mengurangi permasalahan akibat menumpuknya TKS
dipabrik, memberi tambahan keuntungan pada PMKS dari penjualan kompos dan
penggunaan pupuk organ. Kemudian limbah padat minyak kelapa sawit dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTU dan boiler pada pabrik. Limbah padat
kelapa sawit (serabut fiber) kelapa sawit dan cangkang kelapa sawit yang
dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler pada pabrik pengolahan kelapa sawit
dapat manfaatkan juga sebagai bahan bahar pusat listrik tenaga uap (PLTU). Dari
pengujian yang dilakukan terbukti bahwa nilai kalor yang dihasilkan dari bahan
uji/sampel setelah karbonisasi lebih besar dari pada sebelum karbonisasi,
peningkatannya mencapai 14% pada batubara, 65% pada (serabut fiber) kelapa
sawit dan 34% pada cangkang kelapa sawit. Analisa pengujian bahan/sampel yang
diaplikasikan pada pusat listrik tenaga uap (PLTU) dengan asumsi daya yang
dihasilkan 10 MWh menujukkan bahwa yang memiliki efektifitas tinggi yang
pertama adalah solar (791,256 kg atau setara dengan 648,82 liter), yang kedua
adalah cangkang kelapa sawit (1,2 ton), yang ketiga adalah batubara (1,3 ton) dan
yang keempat adalah serabut (fiber) kelapa sawit (1,4 ton). Cangkang dan serabut
(fiber) kelapa sawit sangat efektif untuk bahan bakar alternatif pada PLTU, karena
biaya yang murah, dampak lingkungan yang cukup kecil jika dibandingkan
dengan batubara, dalam ketersediaannya kelapa sawit cukup memenuhi karena
jumlah perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2012 yang lebih dari 8
juta ha. Kemudian limbah cair PMKS dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
untuk membuat bahan baku untuk membuat gas bahan bakar. Secara alami limbah
cair yang ditampung pada bak penampungan limbah cair PMKS menghasilkan
biogas metan (CH4) akibat proses fermentasi bakteri penghasil metan. Gas metan
yang terbentuk masuk ke lingkungan sebagai gas efek rumah kaca (ERK). Agar
gas yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan maka limbah cair PMKS
dialirkan ke dalam suatu bioreaktor tempat terjadinya fermentasi. Gas metan yang
dihasilkan dialirkan kerumah penduduk sesuai dengan pemanfaatannya. Potensi
biogas yang dihasilkan dari 600-700 kg limbah cair PMKS dapat diproduksi
sekitar 20 m3 gas metan. Karena limbah cair PMKS di Indonesia mencapai 28,7
juta ton/tahun dan limbah padat 15,2 juta ton/ tahun. Dari limbah tersebut dapat
menghasilkan biogas 90 juta m3, yang setara dengan 187,5 milyar ton gas elpiji.
Jumlah biogas ini dapat memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala
keluarga) selama setahun.

PENUTUP

Simpulan
Ekologi industri tidak hanya membahas tentang masalah polusi dan
lingkungan tetapi juga mempertimbangkan kesinambungan industri serta aspek
ekonomi tetap diutamakan. Penerapan ekologi industri ke dalam agroindustri
diharapkan memiliki nilai tambah terhadap produk, karena dari satu sumber bahan
baku dapat dihasilkan beragam poduk olahan. Tujuan utamanya adalah untuk
mengorganisasi sistem industri sehingga diperoleh suatu jenis produk yang ramah
lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep
ekologi industri ada empat elemen utama, yaitu mengoptimasi penggunaan
sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan
meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan
ketergantungan pada sumber energi yang tidak terbarukan. dengan menerapkan
konsep ekologi industri, kawasan industri dapat mengembangkan sistem
pertukaran limbah yang dapat bermanfaat bagi industri tersebut. Konsep ekologi
industri di negara berkembang sepertti Indonesia masih belum diaplikasikan
secara maksimal, hal tersebut karena belum adanya kesadaran dari pelaku industri
dan belum adanya dukungan dari pemerintah. Penerapan ekologi industri perlu
didukung dengan penerapan produksi bersih. Produksi bersih lebih memfokuskan
pada aspek pengurangan limbah, sementara ekologi industri lebih menekankan
pada pendauran suatu limbah yang terbentuknya tidak bisa dihindari (unavoidably
produced waste) dengan mensinergikan antara unit satu dengan lainnya atau
antara satu industri dengan industri lainnya. Penerapan produksi bersih dan
ekologi industri sangat mendukung terciptanya pembangunan yang berkelanjutan.
Pengaplikasian ekologi industri dalam industri ikan dapat dilakukan
dengan menghemat penggunaan air yang digunakan untuk proses dan yang
digunakan untuk mencuci peralatan. Kemudian pada industri gula penerapan
ekologi industri dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Co-generation.
Sedangkan penerapan ekologi industri dalam pabrik sawit dapat dilakukan dengan
menggunakan kembali limbah yang dihasilkan dari pengolahan sawit.

Saran
Ekologi industri merupakan hal yang sangat penting bagi lingkungan,
sehingga kita sebagai mahasiswa teknologi industri harus memahami dan
menerapkan ilmu ekologi lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran kita akan
pentingnya menjaga lingkungan.

Daftar Pustaka
Allen D T dan Shonnard D R. 2002. Green Engineering: Environmentally
Conscious Design of Chemical Processes. New York (US) : Prentice Hall
PTR
Darmayani S, Hildayati R, dan Indrayani L R. 2010. Ekologi industri berbasis
industri pengolahan tebu. Makalah Ekologi Industri : 1-17
Djajadiningrat S T dan Famiola M. 2004. Kawasan Industri Berwawasan
Lingkungan, Rekayasa Sains. Bandung (ID) : Gramedia Pustaka
Erkman S dan Ramesh R. 2000. Cleaner Production at the System Level. New
York (US) : Prentice Hall PTR
Garner A. 1995. Industrial Ecology: An Introduction, Pollution Prevention and
Industrial Ecology. New York (US) : University of Michigan
Hirschhorn J S. 1994. Manfaat Pendekatan Penerapan Produksi Bersih Oleh
Industri. Indonesia Cleaner Industrial Production Program (ICIP), Jakarta.
Industrial Ecology as a Tool for Development Planning (Case Studies in
India), UNEP 6th International High- Level Seminar on Cleaner
Production, Montreal Canada.
Sulaeman D. 2007. Agro-industri Ramah Lingkungan. Jakarta (ID) : Gramedia
Pustaka.
Weston NC dan Stuckey. 1994. Cleaner Technologies and The UK. Journal of
Chemical Industry. Vol (4) 72 : 91-101.
Xuemei B. 2007. Industrial Ecology and the Global Impacts of Cities. Journal
of Industrial Ecology. Vol 11(2) : 100-120.