Anda di halaman 1dari 21

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini orang kembali lagi menggeluti bahan
alam sebagai bahan penting dalam membuat obat. Para ahli sekarang ini
telah memulai meneliti kembali tanaman obat untuk mengetahui khasiat
yang lebih mendalam dari tanaman tersebut.
Didaerah-daerah pedalaman, banyak masyarakat yang masih
menggunakan tumbuh-tumbuhan yang mereka anggap mempunyai
khasiat untuk pengobatan untuk beberapa penyakit tertentu, tanpa
pengetahuan

dasar.

Ada

beberapa

kasus,

dimana

masyarakat

menggunakan suatu obat, yang ternyata setelah diketahui zat aktifnya


melalui ekstraksi dan identifikasi komponen kimia, ternyata memberikan
efek yang berlawanan, hal ini tentunya membahayakan bagi jiwa manusia.
Dari alasan tersebut di atas, maka dianggap perlu pengetahuan
yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat
obat, mulai dari morfologi, kegunaan, prinsip-prinsip ekstraksi, isolasi dan
identifikasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia,
khususnya bagi seorang farmasis.
Pisang ambon (Musa acuminata Colla) merupakan contoh dari
tanaman

yang

digunakan

oleh

masyarakat

untuk

melancarkan

pencernaan, dapat mengurangi rasa nyeri pada persendian, mencegah


terjadinya osteoporosis, dan menjaga kesehatan kulit. hal inilah yang
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

melatar belakangi Pisang ambon (Musa acuminata Colla) diambilnya


sebagai salah satu sampel karena memiliki kandungan senyawa
antioksidan sehingga kita mau mengisolasinya.
Dalam uji fitokimia ini, kita akan melakukan isolasi sampel dengan
menggunakan metode kromatografi lapis tipis preparatif, dimana fraksifraksi yang didapat dari kromatografi kolom konvensional ditotolkan pada
lempeng, dengan fase diamnya adalah silica gel kasar dan fase geraknya
adalah eluen klorofrom : methanol yang akan dilihat nilai Rf dan nodanya
pada sinar UV 254 dan sinar UV 366.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu bagaimana cara mengisolasi
ekstrak pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan menggunakan
metode kromatografi lapis tipis preparatif
C. Maksud dan Tujuan Praktikum
1. Maksud Praktikum
Adapun maksud dilakukannya praktikum ini adalah untuk
mengisolasi senyawa aktif antioksidan daro ekstrak kulit pisang ambon
(Musa acuminata Colla) dengan menggunakan metode kromatografi lapis
tipis preparatif.
2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan percobaan ini yaitu untuk mendapatkan isolate
yang aktif sebagai antioksidan dari ekstrak kulit pisang ambon (Musa
acuminata

Colla)

menggunakan

kromatografi

kolom

preparatif

berdasarkan warna dan tingkat kepolaran.


Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

3. Manfaat Praktikum
Adapun mamfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat
memisahkan komponen kimia dari fraksi klorofrom Pisang ambon (Musa
paradisiaca) dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis
preparatif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

A. Uraian Tanaman
1 Klasifikasi tanaman (Integrated Taxonomic Information System,
2014).
Regnum

: Plantae

Subregnum

: Viridaeplantae

Infraregnum

: Streptophyta

Devisi

: Tracheophyta

Sub devisi

: Spermatophytina

Class

: Magnoliopsida

Superorder

: Lilianae

Order

: Zingiberales

Family

: Musaceae

Genus

: Musa L

Species
: Musa acuminata Colla.
2 Morfologi pisang ambon
Seperti tanaman yang lainnya, tanaman pisang mempunyai bagianbagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
Menurut (Tjahjadi, 1991) akar pohon pisang merupakan akar serabut
yang berpangkal dari umbi batang yang sebagian letaknya berada di
bawah tanah. Rata-rata panjangnya adalah 4-5 meter untuk yang
menjalar kesamping dan hanya 75-150 cm untuk yang tumbuh ke
dalam tanah. Batang pisang menurut (Nakasone, 1998) merupakan
batang semu yang terbentuk dari pelepah daun yang membesar di

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

pangkalnya dan mengumpul membentuk struktur berselangseling yang


terlihat kompak sehingga tampak sebagai batang (pseudo stem).
Secara fisiologi daun pisang menurut (Nur et al., 2006) berwarna
hijau tua untuk daun yang dewasa dan hijau muda untuk daun yang
masih muda kecuali untuk beberapa spesies, terdapat bercak merah
pada lembaran daunnya atau pada ibu tulangnya. Daun pisang memiliki
pelepah daun yang yang membesar dan mengumpul berselang seling
membentuk suatu struktur seperti batang yang disebut psudo stem.
Bunga terdiri dari kumpulan dua baris bunga pertama dan disusul
bunga jantan. Braktea membuka secara sekuen sekitar satu per hari.
Tangkai bunga terus memanjang sampai 1,5 m. Buah kemungkinan
berkembang dari ovari interior dan eksokarp disusan pada lapisan
epidermis dan

paerenkim, dengan daging menjadi mesokarp.

Endokarp terdiri atas lapisan hampir rongga ovar.ian. Masing-masing


node memiliki dua baris pada bunga yang membentuk tandan pada
buah dan secara umum disebut sisir dengan buah individual yang
disebut finger (Nakasone, 1998).
3 Kandungan kimia
Menurut Atun et al., 2007 menyebutkan bahwa kulit buah pisang
ambon (Musa acuminata Colla) kaya akan senyawa flavonoid, maupun
senyawa fenolik yang lainnya, disamping banyak mengandung
karbohidrat, mineral seperti kalium dan natrium, serta selulosa. Hasil
penapisan fitokimia ekstrak menunjukkan hasil positif untuk senyawa
tannin, kuinon, flavonoid dan polifenolat (Fitrianingsih et al., 2012).
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Menurut Kanazawa dan Sakakibara (2000) jenis flavonoid yang


teridentifikasi adalah narigenin dan rutin, serta menurut Someya
(2002), terdapat katekin, galokatekin dan epikatekin.
4 Manfaat tanaman
Pisang ambon merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat karena mengandung senyawa yang disebut asam lemak
rantai pendek, yang memelihara lapisan sel jaringan dari usus kecil
dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi. Menurut
penelitian yang telah dilakukan buah pisang ambon matang sangat
efektif dalam mengurangi keparahan klinis dari penyakit diare dan
banyak mengandung vitamin, mineral, protein dan karbohidrat yang
baik untuk dikonsumsi tubuh (Amrullah dan Elly, 1985).
B. Metode Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
Istilah kromatografi mula-mula ditemukan oleh Michael Tswett (1908),
seorang ahli botani Rusia. Nama kromatografi diambil dari bahasa Yunani
(chromato = penulisan dan grafe = warna). Kromatografi berarti penulisan
dengan warna. Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang
didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut
diantara dua fase, yaitu fase diam (stationary) dan fasa bergerak (mobile).
Fasa diam dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fasa bergerak
dapat berupa zat cair atau gas (Yazid, 2005).
Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu
kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat-zat yang sangat

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang


disebut kromatogram (Khopkar, 2008).
Pada kromatografi lapis tipis preparatif, cuplikan yang akan
dipisahkan ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi pelat lapisan besar
dan dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga
campuran akan terpisah menjadi beberapa pita. Pita ditampakkan dengan
cara yang tidak merusak jika senyawa itu tanwarna, dan penyerap yang
mengandung senyawa pita dikerok dari pelat kaca. Kemudian cuplikan
dielusi dari penyerap dengan pelarut polar. Cara ini berguna untuk
memisahkan campuran reaksi sehingga diperoleh senyawa murni untuk
telaah pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan analisis, untuk meneliti
bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan campurannya rumit dan
untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk mengkalibrasi kromatografi
lapis tipis kuantitatif (Gritter, 1991).
Pengembangan plat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana kaca
yang dapat menampung beberapa plat. Keefisienan pemisahan dapat
ditingkatkan dengan cara pengembangan berulang. Harus diperhatikan
bahwa semakin lama senyawa berkontak dengan penyerap maka
semakin besar kemungkinan penguraian (Hostettman, 1995).
Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Untuk senyawa tak berwarna cara yang paling
sederhana adalah dilakukan pengamatan dengan sinar ultraviolet.
Beberapa senyawa organik bersinar atau berfluorosensi jika disinari

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm) atau gelombang


panjang (366 nm). Jika dengan cara itu senyawa tidak dapat dideteksi
maka harus dicoba disemprot dengan pereaksi yang membuat bercak
tersebut tampak yaitu pertama tanpa pemanasan, kemudian bila perlu
dengan pemanasan (Gritter,1991).
Pada kromatografi lapis tipis, fase diam berupa lapisan tipis yang
terdiri atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga
datar yang biasanya terbuat dari kaca, dapat pula terbuat dari plat
polimer atau logam. Lapisan melekat pada permukaan dengan bantuan
bahan pengikat, biasanya kalsium sulfat atau amilum (pati). Penjerap
yang umum dipakai untuk kromatografi lapis tipis adalah silika gel,
alumina, kieselgur, dan selulosa (Gritter, 1991).
Dua sifat yang penting dari fase diam adalah ukuran partikel dan
homogenitasnya,

karena

adhesi

terhadap

penyokong

sangat

tergantung pada kedua sifat tersebut. Ukuran partikel yang biasa


digunakan adalah 1-25 mikron. Partikel yang butirannya sangat kasar
tidak akan memberikan hasil yang memuaskan dan salah satu cara
untuk memperbaiki hasil pemisahan adalah dengan menggunakan fase
diam yang butirannya lebih halus. Butiran yang halus memberikan
aliran pelarut yang lebih lambat dan resolusi yang lebih baik
(Sastrohamidjojo, 1985).
Fase gerak ialah medium angkut yang terdiri atas satu atau
beberapa pelarut. Jika diperlukan sistem pelarut multi komponen, harus

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

berupa suatu campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas


maksimum tiga komponen (Stahl, 1985).
Dalam pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut
campur.

Tujuan

menggunakan

pelarut

campur

adalah

untuk

memperoleh pemisahan senyawa yang baik. Kombinasi pelarut adalah


berdasarkan atas polaritas masing-masing pelarut, sehingga dengan
demikian akan diperoleh sistem pengembang yang cocok. Pelarut
pengembang yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis antara lain:
n-heksana, karbontetraklorida, benzena, kloroform, eter, etilasetat,
piridian, aseton, etanol, metanol dan air (Gritter, 1991).
Dalam mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi sangat
lazim menggunakan harga Rf (Retordation Factor) yang didefinisikan
sebagai:
Rf =

Jarak titik pusat bercak dari titik awal


Jarakgarisdepanpelarutdarititikawal

Harga Rf beragam mulai dari 0 sampai 1. Faktor-faktor yang


mempengaruhi harga Rf (Sastrohamidjojo, 1985):
a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan
b. Sifat Penjerap
c. Tebal dan kerataan dari lapisan Penjerap
d. Pelarut dan derajat kemurniannya
e. Derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana
f. Teknik percobaan
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

g. Jumlah cuplikan yang digunakan


h. Suhu
i. Kesetimbangan

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

1. Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah batang
pengaduk, botol coklat, cawan porselin, gelas kimia, kolom kaca, pipa
kapiler, pipet volume, sendok tanduk besi, statif, timbangan analitik dan
vial.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan yaitu aluminium foil, aquadest, etil
asetat, ekstrak kulit pisang ambon, kapas, kertas saring, kloroform,
methanol, silika gel kasar, dan tissue.
B. Cara Kerja
1 Penyiapan Sampel
a Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b Diambil fraksi dari hasil Kromatografi kolom dengan perbandingan
c

eluen methanol : kloroform (7 : 3)


Ditotolkan pada lempeng kaca ukuran 20x 20 cm secara
berhimpitan

2 Penyiapan Eluen
a Dibuat perbandingan eluen methanol : kloroform (7 : 3) dan
dihomogenkan
b Dimasukkan dalam chamber dan dijenuhkan terlebih dahulu
3 Penyiapan fase diam
a Disiapkan lempeng dengan ukuran 20 x 20 cm
b Digaris lempeng dengan batas atas 0,5 cm dan batas bawah 1 cm
dengan menggunakan pensil

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

4 Cara kerja
a Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b Dimasukkan lempeng yang telah ditotol dalam chamber yang berisi
eluen
c

Diamati noda yang terelusi yang naik sampai tanda batas

d Diamati pada lampu UV 254 nm dan 366 nm


5 Pengelompokan Fraksi
a Ditandai noda yang terbentuk berwarna terang pada lempeng
preparatif dengan menggunakan pensil
b Disemprot

dengan

pereaksi

DPPH

agar

melihat

aktivitas

antioksidannya.
c

Dikeruk noda yang dihasilkan pada lempeng

d Pita-pita yang telah dikeruk dimasukkan dalam vial lalu diberi label

BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
A. Hasil Praktikum
No

Pita

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Rf

Keterangan

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

1.

Pita 1

2.

Pita 2

Rf 1=

6,9
=0,81cm
8,5

Aktif sebagai antioksidan

Rf 2=

6,6
=0,77 cm
8,5

Aktif sebagai antioksidan

Keterangan :
Tumbuhan sampel : Kulit pisang ambon
Fase diam
: Silika gel
Fase gerak
: Eluen klorofrom : methanol (7:3)
Ukuran lempeng : 20 x 20 cm

B. Pembahasan
Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu
kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat-zat yang sangat
mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang
disebut kromatogram.

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Pada kromatografi lapis tipis preparatif, cuplikan yang akan


dipisahkan ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi pelat lapisan besar
dan dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga
campuran akan terpisah menjadi beberapa pita. Pita ditampakkan dengan
cara yang tidak merusak jika senyawa itu tanwarna, dan penyerap yang
mengandung senyawa pita dikerok dari pelat kaca. Kemudian cuplikan
dielusi dari penyerap dengan pelarut polar. Cara ini berguna untuk
memisahkan campuran reaksi sehingga diperoleh senyawa murni untuk
telaah pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan analisis, untuk meneliti
bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan campurannya rumit dan
untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk mengkalibrasi kromatografi
lapis tipis kuantitatif.
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah ekstrak kulit
pisang ambon Kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) Menurut Atun
et al., 2007 menyebutkan bahwa kulit buah pisang ambon (Musa
acuminata Colla) kaya akan senyawa flavonoid, maupun senyawa fenolik
yang lainnya, disamping banyak mengandung karbohidrat, mineral seperti
kalium dan natrium, serta selulosa. Hasil penapisan fitokimia ekstrak
menunjukkan hasil positif untuk senyawa tannin, kuinon, flavonoid dan
polifenolat (Fitrianingsih et al., 2012). Menurut Kanazawa dan Sakakibara
(2000) jenis flavonoid yang teridentifikasi adalah narigenin dan rutin, serta
menurut Someya (2002), terdapat katekin, galokatekin dan epikatekin.
Dimana Pisang ambon merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

masyarakat karena mengandung senyawa yang disebut asam lemak


rantai pendek, yang memelihara lapisan sel jaringan dari usus kecil dan
meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi. Menurut
penelitian yang telah dilakukan buah pisang ambon matang sangat efektif
dalam mengurangi keparahan klinis dari penyakit diare dan banyak
mengandung vitamin, mineral, protein dan karbohidrat yang baik untuk
dikonsumsi tubuh (Amrullah dan Elly, 1985).
Dalam fitokimia dilakukan suatu proses isolasi dari suatu komponen
kimia dari tumbuhan yang banyak digunakan dalam pengobatan
tradisional yang berkembang menjadi obat modern. Menggunakan cara
yang bervariasi tergantung dari sifat fisika dan kimia komponen tersebut.
Kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian dengan kristalisasi
dengan tujuan mendapatkan senyawa kimia yang penampakannya bagus
dan kelihatan lebih banyak. Metode fitokimia sangat penting artinya dalam
bidang farmasi sebagai salah satu cara meneliti senyawa aktif yang
terdapat dalam tumbuhan.
Prinsip dari kromatografi Lapis Tipis Preparatif yaitu adsorpsi dan
partisi, adsorpsi yaitu penyerapan pada permukaan oleh adanya fase
diam (silica) sedangkan partisi yaitu pemisahan oleh adanya fase gerak
(eluen).
Tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk mendapatkan isolat
aktif dari sampel pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan metode
kromatografi lapis tipis preparatif.

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Dalam praktikum ini, yang dilakukan yaitu kromatografi lapis tipis


preparatif. Dimana faksi terbaik dari percobaan KKK dan KCV diambil
kemudian dibuat eluen sesuai dengan fraksi yang dipilih. Lalu fraksi ditotol
pada lempeng KLT dengan penotolan yang berkesinambungan. setelah itu
lempeng di elusi di dalam chamber dengan menggunakan eluen
kloroforom : metanol (7:3), setelah nodanya naik dilihat pada UV 254 dan
366 kemudian tandai noda yang tampak seperti pita, didapatkan dua pita
yang masing-masing memiliki nilai Rf, yaitu pada pita pertama didapat
nilai Rf 0,81 cm dan pada pita kedua didapatkan nilai Rf 0,77 cm.
Kemudian, noda yang nampak dikeruk dan dimasukkan ke dalam botol
sentrifug kemudian disentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 800
rpm. Setelah terbentuk endapan haslilnya disaring dan dimasukkan ke
dalam vial.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Dari hasil percobaan menggunakan metode kromatografi lapis tipis


preparative diperoleh dua pita yang aktif sebagai antioksidan dengan nilai
Rf 1 = 0,81 cm dan Rf 2 = 0,77 cm.
B. Saran
Sebaiknya praktikum dapat dilakukan dengan metode berbeda agar
lebih banyak lagi di tahu cara mengekstraksi dengan metode-motode lain.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Penuntun dan Buku Kerja Fitokimia II. Universitas Muslim
Indonesia; Makassar.
Bamidele,O, Akinnuga, AM, Anyakudo, MMC, Ojo, OA, Olorunfemi, JO &
Dalimartha., Setiawan. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 6.
Jakarta: Pustaka Bunda.
Gritter J.R, dkk., 1991., Pengantar Kromatografi., Penerbit ITB, Bandung.
Halawane, J. E., N. Hanif.,dan J. Kinho. 2011.Masa Depan.Buku.Balai
Penelitian Kehutanan Manado :Manado.
Hendayana, Sumar, dkk. 1994. KIMIA ANALITIK INSTRUMENTASI IKIP
Semarang Press: Semarang.
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Integrated Taxonomic Information System, 2015 (online). Diakses tanggal


3
Mei
2015
(http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?
search_topic=TSN&search_value=36481)
J. B. Harbone. 1987. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung.
Kamboj, A &Saluja, AK 2011, Isolation of Stigmasterol and -sitosterol
from Petroleum Ether Extract of Aerial Parts of Ageratum conyzoides
(Asteraceae), Int J Pharm Pharm Sci, vol.3, no. 1,p.94. Kartesz, JT
2012,
Khopkar., S.M., 2008, Dasar-dasar Kimia Analitik, Jakarta, Erlangga.
Ndip, RN, Ajonglefac, AN, Wirna, T, Luma, HN, Wirmum, C &
Efange,SMN2009, In-Vitro Antimicrobial Activity of Ageratum
conyzoides (Linn) on Clinical Isolates of Helicobacter pylori, Afr J
Pharm Pharmacol, vol. 3, no. 11, pp. 586, 590.
Prasad, KB 2011, Evaluation of Wound Healing Activity of Leaves of
Ageratum Conyzoides, Int J of Pharm Pract Drug Res, vol. 1, no. 1 ,
pp.8, 9, 12.
Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha Ilmu :
Jakarta.
Sachin, J, Neetesh, J, Tiwari, A, Balekar, N & Jain, DK2009,Sample
Evaluation of Wound Healing Activity of Polyherbal Formulation of
Roots of Ageratum conyzoides Linn, Asian J Res Chem, vol. 2,no. 2,
p. 137.
Sastrohamidjojo., 1985, Kromatografi, Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Stahl, Egon. 1991. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi.
Penerbit ITB: Bandung.

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Lampiran 1. Skema kerja isolasi senyawa aktif antioksidan dari


ekstrak kulit pisang ambon dengan metode kromatografi
lapis tipis preparatif
Alat dan bahan
Pilih fraksi pada KKK dan KCV
Ditotolkan pada lempeng KLT ( ukuran 20x20 cm)
Dielusi dengan eluen yang sesuai
Dan akan terbentuk pita
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

Diamati di lampu UV
Lempeng hasil KLT disemprot dengan pereaksi tertentu
Fraksi aktif dikeruk
Disimpan dalam vial
Dilanjutkan uji kemurnian

Lampiran 2. Gambar hasil praktikum

Pita 1 dan Pita


2
Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

(a)

(b)

(c)
Keterangan :

a
b
c

Tumbuhan sampel : Kulit pisang ambon


Fase diam
: Silika gel
Fase gerak
: Eluen klorofrom : methanol (7:3)
UV 254
UV 366
Semprotan DPPH

Putri Atthohiriyah B M
150 2012 0247

Syawaliah Purnama S.farm