Anda di halaman 1dari 17

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Kondisi Daerah Penelitian

Daerah aliran sungai Ciliwung Hulu secara geografis terletak pada


6o37-6o46 LS dan 106o49-107o05BT dan termasuk zona 48 UTM, seperti terlihat
pada Gambar 6 Luas DAS Ciliwung Hulu

memiliki luas 15109.17 ha yang

merupakan daerah pegunungan dengan elevasi antara 367 mdpl sampai 2710 mdpl
(hasil deliniasi DEM SRTM). Secara administratif pemerintahan, DAS Ciliwung
Hulu sebagian termasuk wilayah Kabupaten Bogor (Kecamatan Megamendung,
Cisarua, dan Ciawi) dan sebagian kecil Kotamadya Bogor yaitu wilayah Kecamatan
Kota Bogor Timur, dan Kota Bogor Selatan (BPDAS Ciliwung-Cisadane,2007).

Gambar 6. Posisi Sub Das Ciliwung Hulu (BPDAS Ciliwung-Cisadane, 2007)

DAS Ciliwung Hulu sedikitnya terdapat 7 Sub DAS, yaitu : Tugu, Cisarua,
Cibogo, Cisukabirus, Ciesek, Ciseusepan, dan Katulampa. Sub DAS Ciliwung Hulu
memiliki beberapa outlet, dalam penelitiaan ini outlet yang digunakan adalah outlet
SPAS Katulampa yang berada di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur,
Kota Bogor. Aliran sungai Ciliwung Hulu dicirikan oleh sungai pegunungan yang
berarus deras dan variasi kemiringan lereng yang tinggi (3%-15%, 15%-45%, dan
lebih dari 45%). Kondisi kemiringan sungai ini menyebabkan aliran air yang dari
hulu sungai berkecepatan tinggi tetapi pada daerah yang landai kecepatan aliran air
berkurang drastis.
Bentuk DAS Ciliwung Hulu mulai dari bagian hulu sampai Katulampa
mempunyai bentuk dendrik. Bentuk ini mencirikan bahwa antara kenaikan aliran
dengan penurunan aliran ketika terjadi banjir mempunyai durasi seimbang. Dengan
bentuk seperti ini peranan daerah hulu semakin penting, kontribusi aliran permukaan
dari daerah ini cukup besar, jika kondisi fisik khususnya perubahan penggunaan
lahan berubah maka akan mengakibtkan perubahan yang nyata terhadap karakteristik
aliran sungai.

B.

Tanah dan Topografi

Berdasarkan peta tanah tinjau sekala 1:250.000 (LPT) terdapat beberapa jenis
tanah yang dominan di DAS Ciliwung yaitu latosol, regosol, dan andosol dengan
uraian sebagai berikut :
1.

Latosol
Tanah ini berbahan induk batuan vulkanik yang bersifat intermedier yaitu

batuan dengan kadar Mg dan Fe cukup tinggi. Umumnya latosol bersolum


dalam, Ph agak tinggi dan kepekaan terhadap erosi rendah
2.

Regosol
Tanah mempunyai fraksi pasir sangat tinggi dengan tekstur sedang

sampai sangat kasar


3.

Andosol termasuk tanah yang kaya akan unsur hara dan bahan organik
tetapi agak peka terhadap erosi (Munaf.1992)

Hasil survey dari Pusat Penelitiaan Tanah Dan Agroklimat(1992) dalam


Sukarman (1997), daerah tangkapan Ciliwung Hulu (Katulampa) terdiri dari 31
satuan pengamatan tanah Jenis tanah yang ada pada daerah penelitian adalah (i)
kompleks latosol merah kekuningan dan latosol coklat dengan luasan 1171.00 ha
(9.12% dari total luasan DAS penelitian yang terbentuk dari deliniasi antara DEM
ukuran 90 m X 90 m dan Batas DAS yang didapat dari BPDAS menggunakan MWSWAT), umumnya terdapat pada lereng datar agak curam, (ii) latosol coklat dengan
luasan 669.38 ha (5.22%) umumnya terdapat pada lereng landai sampai sangat curam,
(iii) asosiasi andosol coklat dan regosol coklat dengan luasan 1540.25 ha (12.00%)
umumnya terdapat pada lereng landai sampai sangat curam, dan (iv) asosiasi latosol
coklat kemerahan dan latosol coklat 9453.11 ha (73.66%) umumnya terdapat pada
lereng datar hingga agak curam. Sebaran jenis tanah yang berada di Sub DAS
Ciliwung Hulu seperti terlihat pada Gambar 7.
Dari hasil overlay antara peta batas DAS dan peta DEM pada proses deliniasi,
maka Sub DAS Ciliwung Hulu merupakan daerah yang memiliki ketinggian 367 m
sampai 2710 m diatas permukaan laut. Keadaan topografi pada daerah Sub DAS
Ciliwung Hulu didominasi kelas lereng landai hingga agak curam. Dimana rincian
kelas lerengnya adalah datar dan agak landai dengan slope kemiringan 0%-8%
(17.76% dari luas Sub DAS hasil deliniasi), landai dengan slope 8%-15%
(26.26% dari luas Sub DAS hasil deliniasi), agak curam dengan slope 15%-25%
(23.39% dari luas Sub DAS hasil deliniasi), curam dengan slope 25%>45% (19.91%
dari luas Sub DAS hasil deliniasi), dan sangat curam dengan slope >45% (12.68%
dari luas Sub DAS hasil deliniasi).

C.

Penggunaan Lahan

Bedasarkan pengolahan dengan menggunakan SWAT di Sub DAS Ciliwung


Hulu hasil deliniasi maka Sub DAS tersebut didominasi oleh hutan, pertanian lahan
kering (tegalan), dan pemukiman. Berdasarkan pengamatan peta topografi terbagi
menjadi enam jenis tutupan lahan yaitu hutan 5020,36 Ha (39.12% watershed) dan
umumnya berada pada hulu DAS, semak belukar 88.52 ha (0.69% watershed),

perkebunan teh seluas 440.07 ha(3.43 % watershed), pertanian lahan kering atau
tegalan 6449.32 (50.25% watershed) menyebar luas pada daerah DAS dan biasanya
menempati sekitar pemukiman penduduk, pemukiman seluas 822.82 ha (6.41%
watershed) umumnya mendominasi daerah hilir DAS dan rata-rata berada disekitar
aliran sungai Ciliwung, dan lahan terbuka 12.65 ha (0.10 % watershed). Sebaran
land use yang berada di Sub DAS Ciliwung Hulu seperti terlihat pada Gambar 8.

Gambar 7.Jenis Tanah Sub DAS Ciliwung Hulu (BPDAS Ciliwung-Cisadane, 2007)
Dari hasil simulasi diketahui banyak areal pertanian yang berada pada
kemiringan > 30%. berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan dan perencanaan tataguna
lahan (Hardjowigeno, 2007), penggunaan lahan yang memilki tingkat kemiringan

cukup terjal (30%) tidak sesuai untuk komoditas pertanian hal ini dapat menyebabkan
penurunan kualitas lingkungan seperti terjadinya erosi, juga dapat mengganggu
kondisi hidrologi secara umum seperti meningkatkan run off.

Gambar 8 . Peta Penggunaan Lahan Sub DAS Ciliwung Hulu 2008


(Arsip BPDAS Ciliwung-Citarum,2008)

D.

Iklim
Wilayah Sub DAS Ciliwung Hulu mempunyai iklim tropis yang

dipengaruhi oleh angin muson dan mempunyai dua musim yaitu musim
penghujan dan musim kemarau, musim penghujan pada DAS ini terjadi antara
bulan November hingga bulan April, sedangkan musim kemarau berlangsung
antara bulan Juni hingga Oktober (BPDAS Ciliwung-Cisadane,2007)
Unsur iklim yang digunakan sebagai input dari software MW_SWAT yang
mempengaruhi transformasi hujan menjadi debit dalam siklus hidrologi adalah
curah hujan, temperatur, kelembaban udara, radiasi matahari, dan kecepatan
angin. Curah hujan merupakan sumber air utama yang ada di alam, sedangkan
parameter iklim lainnya digunakan untuk menilai nilai evapotranspirasi
Unsur hujan menunjukan tingkat kebasahan suatu wilayah, bulan basah
(curah hujan rata-rata bulanan >100mm) terjadi lebih atau sama dengan 9 bulan,
bulan kering (curah hujan <60 mm) terjadi kurang atau sama dengan 3 bulan.
Berdasarkan pada klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson yaitu pengklasifikasian
yang hanya memperhatikan unsur iklim maka daerah Ciliwung Hulu termasuk
dalam tipe iklim A (daerah sangat basah dengan vegetasi hutan hujan tropika).
Sedangkan klasifikasi iklim menurut Oldemen (1975) dalam Handoko (1995)
peyebaran zona agroklimatnya adalah A1 yang merupakan zona sangat basah
(sesuai untuk menanam padi secara terus menerus namun produksi kurang karena
kerapatan fluks radiasi surya rendah sepanjang tahun).
Data curah hujan bulanan selama 5 tahun periode 2004-2008 untuk stasiun
atau pos Gunung Mas, Gadog, dan Pasir Muncang merupakan hasil pengukuran
dari Badan PSDA dan untuk stasiun Citeko diperoleh dari Badan Meteorologi,
Klimatologi dan Geofisika Pusat di Jakarta. Rata-rata curah hujan bulanan
minimum dari ke-empat stasiun tersebut (curah hujan rata-rata terkecil yang turun
pada lokasi penelitian dari

empat stasiun penakar) yaitu berkisar dari 27

mm/bulan-93 mm/bulan. Sedangkan curah hujan rata-rata bulanan maksimum


(curah hujan rata-rata yang turun terbesar pada lokasi penelitian dari empat stasiun
penakar hujan) yaitu curah hujannya antara 331 mm/bulan-650 mm/bulan.
Berdasarkan Gambar 9, curah hujan yang jatuh bervariasi pada setiap stasiun di

setiap tahunnya. Semakin tinggi elevasi suatu daerah maka curah hujan semakin
besar.

4500
4000

CurahHujan(mm)

3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
2004

2005

2006

2007

2008 Tahun

Gambar 9. Curah Hujan (mm) DAS Ciliwung Hulu 2004-2008 (Arsip BMKGPSDA, 2009)
Selain data curah hujan yang diperlukan sebagai data input di MW_SWAT
juga diperlukan data iklim lainnya seperti temperatur, kelembaban udara,
kecepatan angin dan radiasi surya. yang diperoleh dari Badan Meteorologi,
Geofisika dan Klimatologi Pusat di Jakarta, untuk stasiun Citeko diperoleh suhu
maksimum rata-rata sebesar 24.98 0C dan suhu minimum rata-rata sebesar 18.92
0

C. Radiasi surya rata-rata tahunan adalah 10.08 MJ/m2/hari, kecepatan angin

rata-rata tahunanan sebesar 1.19 m/detik, dan kelembaban udara rata-rata tahunan
sebesar 82.64%.

E.

Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan gabungan peristiwa evaporasi dan transpirasi,

kedua proses ini merupakan perubahan air menjadi uap air dari permukaan bumi
ke atmosfer. Evaporasi merupakan penguapan yang terjadi pada sungai, danau,
laut, waduk, dan permukaan tanah. Sedangkan transpirasi terjadi pada tanaman

melalui stomata. Evapotranspirasi dibedakan menjadi evapotranspirasi potensial


yang merupakan laju evapotraspirasi dari tanaman rumput hijau dengan tinggi
seragam antara 8 cm sampai 15 cm, tumbuh secara aktif, menutupi permukaan
tanah secara bersamaan pada kondisi tidak kekurangan air dan dipengaruhi oleh
iklim. Dan evapotranspirasi aktual yang merupakan evapotranspirasi yang terjadi
sesungguhnya dengan kondisi air yang nyata dan dipengaruhi oleh jenis tanaman.
Berdasarkan data iklim diatas, maka hasil simulasi menunjukan bahwa
bahwa besarnya rata-rata bulanan maksimum evapotranspirasi potensial (PET)
pada tahun 2008 adalah sebesar 96.67 mm dan terjadi pada bulan Desember
sedangkan besarnya evapotranspirasi minimum terjadi pada bulan Juni yaitu
sebesar 0.014. Besarnya evapotranspirasi aktual (ET) maksimum terjadi pada
bulan Maret yaitu sebesar 59.91 mm dan minimum terjadi pada bulan Juni yaitu
sebesar 0.01 mm. Secara lengkap dapat terlihat pada Gambar 10.

120
100

mm

80
60
40
20
0
Bulan

Gambar 10. Grafik Evapotranspirasi Aktual dan Potensial (mm) (Hasil Simulasi)

F.

Penggunan MapWindow
Map Window merupakan software aplikasi berlabel free, merupakan salah

satu software untuk Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographical


Information System (GIS) yang berbasis open source.

MapWindow dapat

digunakan untuk mendistribusikan data ke bentuk lain dan untuk mendefinisikan


sistem proyeksi.
Jenis peta yang diperlukan oleh MWSWAT adalah peta penggunaan lahan
dan peta tanah dalam bentuk Tagged Image File (TIF) yang telah digrid dan di
reprojected terlebih dahulu
(1)

Proses DEM (Watershed Delineation)


Pada tahap ini merupakan pengolahan DEM dan Batas Sub DAS

Ciliwung Hulu untuk deliniasi DAS Ciliwung Hulu secara otomatis akan
diperoleh perhitungan topografi secara lengkap, peta jaringan sungai, peta
batas DAS, peta Sub DAS dan outlet yang pada tahap ini harus dipastikan
bahwa unit elevasi harus dalam satuan meter.
Hasil delinasi dengan menggunakan peta DEM yang berasal dari
SRTM (US Geological Survey) dan peta batas DAS Ciliwung hulu yang
berasal dari BPDAS dengan menggunakan ukuran dari watershed
delineation adalah 2 km2

dan penambahan satu titik outlet yakni di

koordinat pengukuran debit Katulampa, maka terbentuk 37 Sub-DAS


dengan total luasan 12833.73 ha. Dari hasil deliniasi adanya pengurangan
luas Sub DAS Ciliwung Hulu yakni seluas 2275.44 ha hal ini disebabkan
delinasi merupakan pembentukan DAS dari aliran terluar dan semua anak
sungai akan mengalir pada outlet yang telah ditentukan yaitu outlet
Katulampa. Sehingga anak sungai yang tidak terhubung atau masuk ke
outlet katulampa tidak termasuk DAS penelitian, dan juga dipengaruhi oleh
resolusi DEM yang digunakan.semakin kecil resulusi yang digunakan maka
akan meningkatkan ketelitian. Hasil deliniasi saperti terlihat di Gambar 11.
Pada penelitiaan ini digunakan data debit dari SPAS Katulampa, dari
Gambar 11 terlihat bahwa Katulampa berada di Sub-DAS 37. Data debit
yang digunakan berasal dari PSDA dan berupa debit harian dan rata-rata
debit bulananan.

Katulampaa

Cisarua

Batas DAS
Outleet
Alirrain Sungai
Batass Sub DAS Hasil Delinniasi

Gambaar 11. Hasil Deliniasi DAS


D
Ciliwu
ung Hulu deengan Modeel MWSWA
AT
(2)

Pembentuukan HRU
Untuk mendapatkan
m
n Hydrolog
gical Responnse Units (HRUs) seebagai

unit analisis dillakukan tum


mpang tindiih (overlay)) antara peta tanah dan
n peta
pengggunaan laahan. Jumlah HRU yang terbeentuk oleh model deengan
mennggunakan

thresholdd

by

perrcentage

(dimana

untuk

lan
nduse

mennggunakan threshold 20%,


2
untuk
k jenis tanaah mengguunakan threeshold
10%
%, dan kemiiringan lereeng menggu
unakan threeshold 5%) maka terbentuk
sebaanyak 254 HRU
H
dalam 37 sub-bassin seperti teerlihat padaa Gambar 12
2.

Katulampaa

Gadog

1,2,3. Noomor Sub DA


AS

Battas HRU
Ouutlet

Tugu Utaraa
T
Tugu
Selatan

Allirain Sungaai
Battas Sub DA
AS

Gambaar 12. Pembentukan HR


RU
HRU merrupakan uniit analisis hidrologi yanng mempunnyai karakteeristik
tanaah dan pengggunaan lahaan yang speesifik, sehinngga dapat ddipisahkan antara
a
satu HRU dengan yang lainya.
l
Darii hasil HRU
U yang dibbentuk dikeetahui
bahw
wa Katulam
mpa berada di
d subbasin 37 dan paada subbasinn 37 terben
ntuk 7
HRU
U. Terbentuuknya HRU
U berdasarkaan perbedaaan landuse, jenis tanah
h, dan
kem
miringan (sloope). HRU yang terbeentuk oleh model untuuk Sub-DA
AS 37
padaa Sub DAS Ciliwung Hulu
H
dapat dilihat
d
pada Tabel 2.
Pada Subb basin 37 di ketahui bahwa subb basin beraada pada daerah
d
yangg memilikii tingkat kemiringan
n datar-agaak curam

yakni deengan

kem
miringan maaksimal 255%. Presen
ntasi maksim
mal HRU yang terbentuk
beraada pada HR
RU 253 deengan presen
ntasi 29.37% dari luassan sub-DA
AS 37
yaknni pada keemiringan 8%-15%, jenis tanaah Asosiasii latosol coklat
c
kem
merahan dan latosol cokklat dengan landuse yanng berada ddi daerah terrsebut
beruupa pertaniaan lahan keering (CRD
DY). Sedanggkan presenntase HRU yang
terenndah dengaan presentaase 2.84% berada di HRU 248

dengan daerah
d

pertaniaan lahan kering, kemiringan 15%-25%, dan jenis tanah kompleks


latosol merah kekuningan dan latosol coklat.
Tabel 2 HRU yang terbentuk di Sub_DAS 37

Subbasin
37
Landuse
Soil
Slope

CRDY
KLMKLCK
ALCK
0-3
3-8
8-15
15-25

HRU
248

CRDY/KLMKLCK/1525
249
CRDY/KLMKLCK/815
250
CRDY/KLMKLCK/3-8
251
CRDY/KLMKLCK/0-3
252
CRDY/ALCK/15-25
253
CRDY/ALCK/8-15
254
CRDY/ALCK/3-8
Sumber : (Hasil Simulasi)

Area [ha]

%Watershed

%Subbasi
n

513.42

513.42
180.16
333.25
15.62
146.21
229.93
121.66

4
1.4
2.6
0.12
1.14
1.79
0.95

100
35.09
64.91
3.04
28.48
44.78
23.7

14.58

0.11

2.84

79.15

0.62

15.42

70.82
15.62
107.08
150.78
75.39

0.55
0.12
0.83
1.17
0.59

13.79
3.04
20.86
29.37
14.68

(3) SWAT Setup and Run


Pada tahap ini dilakukan penggabungan antara data tanah,
land use, kemiringan, dan iklim untuk menentukan periode waktu
simulasi, pada tahap ini juga ditentukan jenis sungai, metode
penghitungan evaporasi potensial dengan metode Priesteley-Taylor
yang direkomindasikan untuk daerah beriklim basah seperti
Indonesia.
Waktu simulasi dilakukan dari tanggal 1 Desember 2008
sampai tanggal 31 Desember 2008. Pemilihan waktu simulasi ini
berdasarkan peta land use yang digunakan yaitu tahun 2008. Hal

ini berrtujuan untuuk mengetaahui jumlahh debit simuulasi yang dapat


dihasillkan dari koondisi tanah
h, landuse , dan kemirinngan yang ada.
a
Untuk mem
mperoleh output
o
yangg diinginkaan. stasiun iklim
masing
(stnlistt.txt) yang terdiri dari file hariann .pcp untukk masing-m
stasiunn dan file .tmp dari stasiun Citeko. Penggunaan filee tmp
hanya dari stasiunn Citeko diikarenakan dari pos huujan yang berada
b
C
kuran
di Suub DAS Ciliwung
Hulu tidakk melakukkan penguk
temperratur. Data iklim lainn
nya berupa data radiassi surya dan
n data
kecepaatan anginn yang jug
ga dibutuhhkan dalam
m SWAT akan
dibanggkitkan denngan mengg
gunakan filee weather ggenerator (.w
wgn).
dengann mencetakk hasil simullasi periodee bulanan. D
Dari hasil Ru
uning
ada 4 buah stasiuun yang terb
baca yaitu pos
p Citeko, pos Gadog
g, pos
Gununng Mas, daan Pasir Mu
uncang yanng tersebar tidak meraata di
Ciliwuung Hulu. Sebaran
S
poss hujan atauu pos penguukuran data iklim
sepertii terlihat pada Gambar 13.

Gadogg

1,2,3. Nomor
N
Sub DAS
D

Pasir Munccang

Baatas HRU

Citeko

Ouutlet
Gunung Mas
M

Alliran Sungaii
B
Batas
Sub DAS
D
Poss Hujan

Gambar 13.
1 Batas Su
ub DAS

G.

Kalibrasi dan Validasi


Untuk tujuan kalibrasi dan validasi, setiap tipe penggunaan lahan didaerah

penelitian disesuaikan dengan tipe tanaman maupun urban dan jenis tanah yang
ada dalam SWAT data base (landcover/plant grow database). Untuk hutan
menggunakan kode FRSE yang merupakan kode untuk jenis hutan sepanjang
tahun,pertanian lahan kering menggunakan kode CRDY, lahan terbuka
menggunakan kode GRAS, semak belukar menggunakan kode SHRB (Shrub
Land), perkebunan teh menggunakan kode LBLS untuk tanaman Little Bluestum
(Schizachyrum Scoparium (Michauk) Nash), rawa menggunakan kode WATR
yang merupakan kode untuk air, pemukiman menggunakan kode URMD yang
merupakan jenis pemukiman dengan tingkat kependudukan sedang-padat.
Kalibrasi model dilakukan terhadap debit air bulanan yang keluar dari outlet
(SPAS) Katulampa. Dengan cara membandingkan debit bulanan hasil observasi
lapangan pada SPAS Katulampa yang diperoleh dari PSDA Ciliwung Cisadane
dengan debit bulanan hasil simulasi (Hasil keluaran model SWAT pada file RCH
yaitu FLOW_OUT).
Kalibrasi dan validasi dilakukan terhadap total hasil air, aliran permukaan,
aliran dasar, dan aliran lateral pada periode tahun 2008 sesuai dengan peta landuse
yang digunakan yakni tahun 2008. Gambar 14 menunjukan debit bulanan hasil
observasi pada SPAS Katulampa dan debit bulanan hasil prediksi model SWAT
yang terdapat pada outlet di Sub-DAS 37. Nilai rata-rata debit bulanan hasil
observasi dan hasil simulasi adalah 13.73 m3/detik dan 10,15 m3.detik. Adanya
selisih antara debit hasil simulasi dan prediksi dikarenakan ada empat buah pos
hujan yang dibaca oleh MW-SWAT yang tersebar tidak merata yaitu semua pos
hujan tersebut disekitar aliran sungai yang disebelah selatan sedangkan untuk
wilayah utara tidak ada pos pengukur hujan, sehingga sebaran rata-rata hujan
untuk daerah Sub DAS Ciliwung Hulu berkurang yang menyebabkan debit aliran
sungai di SPAS Katulampa hasil simulasi juga berkurang. Selain itu juga masih
menggunakan karkteristik penggunaan lahan global. Hubungan antara debit hasil
simulasi dengan debit hasil observasi seperti terlihat pada Gambar 14.

30
25

m3/s

20
15
10

Simulasi

observed

Bulan

Gambar 14. Debit Hasil Simulasi (m3/s) dengan Debit Real (m3/s)
Uji validasi model terhadap hasil air bulanan (debit) mempunyai nilai
efisiensi Nash Sutclife (ENs) sebesar 0.46 dan kefisien korelasi (R2) sebesar 0.85,
dan nilai standar deviasi () antara debit ukur dan simulasi sebesar 3.57. Dari hasil
simulasi menunjukan bahwa SWAT sangat baik untuk memprediksi hasil air
bulanan walaupun indeks tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan yang
dikemukan oleh oleh Fohrer dan Frede (2002) dalam Junaedi (2009) yaitu senilai
0.66. Besarnya nilai koefisien korelasi antara data debit hasil simulasi dan
observasi dapat terlihat pada

Gambar 15. Dengan nilai seperti itu maka

menunjukan hasil simulasi tergolong memuaskan. Hal ini sesuai dengan Van Liew
and Garbrech (2003) dalam Junaedi (2009) yang menggolongkan hasil simulasi
kedalam tiga kriteria yaitu hasil simulasi dikatakan baik jika nilai Nash
Sutclife0.75, memuaskan jika nilai

0.75<Nash Sutclife>0.36, dan

dinyatakan kurang memuaskan jika nilai Nash Sutclife<0.36.


Nilai koefisien kerelasi R2 senilai 0.85 menunjukan debit dan volume aliran
model dapat menerangkan debit dan volume aliran lapangan serta terdapat
hubungan yang cukup kuat antara debit model dengan debit pengukuran
dilapangan, maka hasil model cukup baik untuk menduga debit aliran rata-rata
sebagaimana terlihat pada Gambar 15.

DebitObservasi(m3/s)

30
y=1.265x
R=0.849

25
20
15
10
5
0
0

10

15

20

25

DebitSimulasi(m3/s)

Gambar 15. Debit Hasil Simulasi (m3/s) dan Debit Observasi (m3/s)
Lampiran 4 menunjukan karakteristik hidrologi DAS Ciliwung Hulu
berdasarkan hasil simulasi. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah air rata-rata
bulanan yang dapat disimpan oleh DAS Ciliwung Hulu sebesar 161.17 mm. total
hujan rata-rata bulanan yang jatuh di DAS Ciliwung Hulu sebesar 3145.43 mm,
aliran permukaan (surface flow) 1290.32 mm, aliran lateral sebesar 44.91 mm,
aliran bawah permukaan 1162.45 mm, dan air yang masuk berupa perkolasi
sebesar 1442.60 mm, dan total air yang dihasilkan sebesar 2496.61 mm. Dari
hasil simulasi diketahui bahwa nilai debit aliran permukaan jauh lebih besar
dibandinhgkan aliran bawah permukaan. Besarnya aliran permukaan disebabkan
berkurangnya kemampuan DAS meretensi air. ini mengidentifikasikan bahwa
telah terjadi ketidak seimbangan atau kerusakan di DAS Ciliwung Hulu yaitu
kemampuan tanah atau dengan kondisi penggunaan lahan yang ada seperti tahun
2008 menyebabkan kemampuaan daya serap air semakin kecil yang dapat
menyebabkan kerusakan lingkungan akibat adanya banjir, maupun erosi. Ini akan
mengakibatkan debit pada musim hujan besar dan debit pada musim kemarau
rendah.
Besarnya air yang dapat disimpan tergantung pada jenis tanah,
penggunaan lahan, dan tata guna lahan. Ini terlihat dari jumlah air yang dihasilkan
pada sub-basin 1 hampir sama dengan sub basin 37, padahal luas area sub basin 1
jauh lebih kecil dibandingkan sub-basin 37, luas wilayah sub basin 1 seluas

343.42 ha, sedangkn sub basin 37 sebesar 513.42 ha. Hal ini disebabkan jenis
tutupan lahan yang berada di sub-basin 1 terdiri dari hutan, perkebunan teh, dan
pertanian lahan kering atau tegalan sedangkan di subbasin 37 penggunaan
lahannya terdiri dari pemukiman dan pertanian lahan kering.. Besarnya air yang
dihasilkan (WYIELD) maksimum pada sub-basin 1 terjadi pada bulan Maret
yaitu sebesar 391.94 mm, sedangkan minimum terjadi pada bulan Agustus.
Sedangkan WYIELD maksimum yang dihasilkan di sub-basin 37 terjadi pada
bulan Maret yaitu sebesar 426.35 mm dan WYIELD minimum terjadi pada bulan
Agustus yaitu sebesar 62.62 mm. Pada Gambar 16 terlihat bahwa pada musim
kemarau subbasin 1 WYIELDnya lebih besar dibandingkan subbbasin 37. Hal ini
menunjukan kemampuan hutan dalam menahan air atau menyimpan air jauh lebih

WYIELD(mm)

besar dibandingkan tegalan maupun permukiman.


450
400
350
300
250
200
150
100
50
0

Basin37(mm)
Basin1(mm)

Bulan

Gambar 6. WYIELD (mm) pada Sub-basin 37 dan 1 (Hasil Simulasi)