Anda di halaman 1dari 1

Respon Tanaman Tropis dan Non Tropis terhadap

Sinyal lingkungan
Tanaman bergerak tidak sama dengan hewan dan manusia, mereka memiliki cara tersendiri untuk
bergerak. Beberapa cara bergerak pada tanaman adalah thigmotropism (pengaruh sentuhan), hydrotropism
(pengaruh air), chemitropism (pengaruh bahan kimia), dan oxytropism (pengaruh oxygen). Tanaman yang
bergerak tersebut diakibatkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah mencari nutrisi dan mineral atau
unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut. Semua pergerakan maupun tumbuh ataupun
perkembangan membutuhkan suatu sinyal yang dapat menghantarkan ke salah satu bagian dari tanaman
tersebut untuk bergerak, tumbuh, dan bergerak. Sinyal-sinyal tersebut yaitu hormon seperti hormon
Auksin (IAA), Giberelin (GA3), Sitokinin (Kinetin), Etilen, Asam Absisat, Asam Traumalin, dan hormon
lainnya.
Tanaman seperti kebanyakan organisme lainnya yang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan
berkembang. Tanaman dapat tumbuh dan berkembang dikarenakan peran nutrisi dan mineral yang
diserapnya. Selain nutrisi dan mineral, peran hormon tidak dapat dipisahkan dari tumbuh dan
perkembangan tanaman. Ciri-ciri lainnya yang membuktikan tanaman sebagai suatu organisme hidup
yaitu dapat bergerak.
Bergeraknya tanaman akibat mengikuti arah datang matahari atau phototropism disebabkan oleh
hormon auksin pada koleoptil tanaman. Pada koleoptil, hormon auksin bereaksi sendiri akibat adanya
pancaran atau radiasi sinar matahari. Koleoptil tersebut hanya menangkap sebagian besar cahaya biru pada
pancaran sinar matahari yang memiliki panjang gelombang 440-495 nm.
Pancaran cahaya biru ditangkap oleh photoreceptor yang disebut dengan Flavin Mononucleotide
(FMN). Cahaya yang ditangkap tersebut mengaktifkan kinase dengan bantuan dari ATP untuk
menggerakan auksin sehingga auksin bereaksi dan mengaktifkan sel pemanjangan ke arah matahari
sehingga koleoptil mengikuti arah gerak matahari. Sehingga, auksin memiliki peran secara langsung
untuk mendukung pemanjagan sel pada batang dan menghambat pemanjangan sel pada akar.
Auksin atau Indolacetic Acid (IAA) yaitu hormon yang banyak digunakan oleh tanaman untuk
pertumbuhan. Selain itu, hormon ini digunakan oleh tanaman sebagai penggerak bagi tanaman ke arah
matahari. Matahari digunakan oleh tanaman untuk melakukan proses fotosintesis agar menghasilkan pati
dan glukosa seabagai hasil dari fotosintesis tersebut.
Pada columella terdapat statocyte yang merupakan sel sensorik yang berfungsi untuk mendeteksi
adanya gaya gravitasi. Di dalam statocyte terdapat partikel yang bergerak bersamaan dengan gravitasi
yang disebut dengan statolite. Jika kembali ke phototropism lagi, tanaman mengalami pemanjangan sel
pada bagian batang akibat pergerakan auksin dan pemendekan sel ke bagian akar. Sehingga, memiliki
pengaruh yang besar terhadap gravitropism yang apabila akibat adanya dorongan auksin, statolite yang
berada di dalam statocyte bergerak mengikuti gravitasi. Statolite tersebut kemudian mendesak plasma
membran dalam statocyte untuk mengaktivasi ion Ca 2+ dan calmodulin sehingga akar bergerak mengikuti
gravitasi.
Pada akar, terjadi pergerakan mengikuti arah gravitasi dan melawan arah gerak matahari yang
disebut gravitropism. Seperti halnya phototropism, gravitropism juga dipengaruhi oleh hormon auksin,
hanya saja mekanismenya yang berlainan. Sama halnya dengan phototropism yang merupakan gerak
mengikuti arah gerak matahari dengan mendeteksi arah datangnya sinar matahari. Gravitropism juga
merupakan gerak mengikuti arah gravitasi dengan mendeteksi gravitasi. Salah satu organ pendeteksi
tersebut adalah columell yang terletak pada ujung akar.