Anda di halaman 1dari 8

LANDASAN AKSIOLOGI ILMU

I. PENDAHULUAN
Ilmu sangat erat kaitannya dengan filsafat. Filsafat, meminjam pemikiran Will Durant,
dapat diibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan
infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah
ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu
ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini
menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.
Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun
secara metodologis ilmu tidak dapat membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmuilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka
filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu
sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang yang ditelaah,
yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang
bersifat otonom.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan
bagaimana suatu konsep dan pertanyaan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep
tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta
memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi;
formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat
digunakan untuk mendapat kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah
terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu berusaha untuk menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan
bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam.
II. PEMBAHASAN
AKSIOLOGI
Pengertian aksiologi adalah suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). Menurut
Brameld, ada tiga bagian yang membedakan di dalam aksiologi. Pertama, moral conduct
( tindakan moral), bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika ( mana yang
dianggap baik dan mana yang dianggap buruk). Kedua, esthetic expression ( ekspresi
keindahan), yang melahirkan estetika (apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk
jelek). Ketiga, socio-political ( kehidupan sosio-politik), bidang ini melahirkan ilmu
filsafat sosio-politik/ logika ( apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah).

Landasan aksiologis ilmu: Nilai kegunaan ilmu


Kaitan ilmu dan nilai-nilai moral serta tanggung jawab ilmuwan

Jika kita berbicara tentang ilmu, maka cakupannya sangat luas, sehingga kita akan
menyebar kemana-mana, sehingga disini yang kita bicarakan hanya kegunaan ilmu
secara moral serta tanggung jawab ilmuwan.
Secara obyektif, ilmu itu selalu mengarah kehal-hal yang membaikan, tidak merugikan
atau merusak. Akan tetapi kenyataannya banyak pihak-pihak tertentu yang menyalah
gunakan ilmu itu, sehingga yang terjadi malah merusak, menghancurkan sehingga sangat
merugikan bagi manusia sendiri.
Jika berbicara moral, maka tidak bisa dilihat, yang mungkin hanya sepintas yang kita
ketahui tentang ibadahnya. Seperti sholat, membaca kitab suci/AlQuran, dsb.
Terlepas dari itu kita dapat mengamati bagaimana tingkah lakunya.
Contoh tanggung jawab ilmuwan seperti penemu bom atom, mungkin dia tidak
menyangka bahwa penemuan ini akan menghancurkan sebagian isi bumi, walau
bagaimanapun dia yang bertanggung jawab kepada manusia, alam dan juga kepada
Tuhan kelak, atas kehancuran sebagai akibat dari penyalahgunaan penemuannya. Yang
digunakan sebagai senjata pemusnah masal pada perang dunia ke-II.
Seandainya suatu saat kita menjadi pendidik, moral yang bagaimana yang akan kita
tanamkan kepada anak didik kita. Mungkin sekarang tindakan fisik telah dilarang dalam
metode pengajaran, tetapi kita sering lupa bahwa masih ada yang lebih bahaya dari
kekerasan fisik yaitu kekerasan secara verbal. Mungkin pukulan hanya terasa sakit
sesaat, tetapi kata-kata yang merendahkan atau menjatuhkan lebih sakit dan lebih
berbekas dari pukulan secara fisik. Kadang kita sering lupa bahwa kata-kata bisa menjadi
motivasi tetapi bisa juga menjadi penghancuran yang sangat menyakitkan.
Oleh karena kata-kata sebenarnya adalah senjata yang paling berbahaya...

LANDASAN AKSIOLOGIS ILMU

PEMBAHASAN
1. Pengertian Aksiologi
Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari perkataan axios yang
berarti nilai dan logos berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai.
Menurut Suriasumantri dalam bukunya, aksiologi adalah teori nilai yang
berkaitan

dengan

kegunaan

dari

pengetahuan

yang

diperoleh

(Suriasumantri, 2009: 234). Sedangkan menurut kamus Bahasa Indonesia


(2008: 25) aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan
manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. Dari defenisi-defenisi
diatas jelas bahwa lebih bnyak di bicarakan tentang nilai. Nilai yang
dimaksud adalah bagaimana manusia mendefenisikan tentang berbagai
pertimbangan nilai kehidupan ini. Teori tentang nilai yang dalam filsafat
mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan
manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi yang
subyektif. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman
keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena
di sekelilingnya.
2. Nilai kegunaan ilmu
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari alimayalamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa inggris ilmu
biasanya dipandang dengan kata science, sedang pengetahuan dengan
knowledge.
kata ilmu dalam bahasa Arab ilm yang berarti memahami, mengerti, atau
mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat
berarti memahami suatu pengetahuan. Sedangkan menurut kamus
bahasa indonesia (2008: 227) ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian
baik yang termasuk jenis kebatinan maupun yang berkenaan dengan
keadaan alam, dan sebagainya. Sedangkan dalam islam ilmu menempati
kedudukan yang sangat penting, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al
quran yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan
mulia. Allah SWT berfirman dalam Al quran, surat Al Mujadalah ayat 11
yang artinya Allah meninggikan beberapa derajat ( tingkatan) orangorang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu ( diberi

ilmu pengetahuan). Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu


kerjakan. Rasulullah bersabda : Barang siapa mau dengan dunia,
hendaklah dengan ilmu, barang siapa mau dengan akhirat hendaklah
dengan ilmu, dan barang siapa mau akan keduanya hendaklah dengan
ilmu
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai kegunaan
ilmu adalah alat atau cara untuk mencari suatu kebenaran yang dapat
mengukur kebaikan atau keburukan seseorang dipandang dari sudut
pandang manusia secara subyektif.
3. Kaitan ilmu dan nilai-nilai moral serta tanggung jawab ilmuwan

Pengertian

Moral

Moral berasal dari kata Latin mos jamaknya mores yang berarti adat
atau cara hidup. Moral adalah ajaran yang mengajarkan agar
mengetahui baik dan buruk (kamus bahasa indonesia, 2008: 358).
Sedangkan dalam bahasa Arab moral disebut juga akhlaq, akhlaq
merupakan bentuk jamak dari al-khuluq (Qs 26:137 dan 68:4) artinya
perbuatan, tingkah laku, atau budi pekerti. Moral merupakan kondisi
pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan
nilai-nilai baik dan buruk. Manusia yang tidak memiliki moral disebut
amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memilki nilai positif di mata
manusia

lainnya.

Moral

adalah

perbuatan/tingkah

seseorang dalam berinteraksi dengan manusia.

laku/ucapan

Sedangkan akhlaq

atau moral dalam islam mengandung nilai yang diperlukan oleh


manusia,

yakni

nilai

keagamaan,

nilai

kekeluargaan, nilai sosial dan nilai kenegaraan.


Kaitan
antara
Ilmu

perseorangan,
dan

nilai
Moral

Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban


manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat
kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bisa
dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah disamping penciptaan
berbagai

kemudahan

pengangkutan,

dalam

pemukiman,

bidang-bidang

seperti

kesehatan,

pendidikan,

dan

komunikasi

(Suriasumantri, 2009 : 229). Sejatinya ilmu diciptakan manusia untuk


kebaikan, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa kenyataan tak sejalan
dengan harapan. Banyak ilmu yang justru digunakan untuk kerusakan,
penghancuran atau bahkan untuk penghancuran umat manusia.
Perkembangan ilmu, sejak pertumbuhannya diawali dan dikaitkan
dengan sebuah kebutuhan kondisi realitas saat itu. Pada saat terjadi
peperangan atau ada keinginan manusia untuk memerangi orang lain,
maka ilmu berkembang, sehingga penemuan ilmu bukan saja ditujukan
untuk menguasai alam melainkan untuk tujuan perang, memerangi
semua manusia dan untuk menguasai mereka. Masalah teknologi yang
mengakibatkan proses dehumanisasi sebenarnya lebih merupakan
masalah kebudayaan dari pada masalah moral. Artinya, dihadapkan
dengan ekses teknologi yang bersifat negatif, maka masyarakat harus
menentukan teknologi mana saja yang akan dipergunakan dan
teknologi mana yang tidak. Secara konseptual maka hal ini berarti
bahwa suatu masyarakat harus menetapkan strategi pengembangan
teknologinya agar sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dijunjungnya
(Suriasumantri,2000:234).
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan
teknologi yang bersifat merusak ini para ilmuwan terbagi ke dalam dua
golongan pendapat. Golongan pertama menginginkan bahwa ilmu
harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis
maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah menemukan
pengetahuan

dan

terserah

kepada

orang

lain

untuk

mempergunakannya. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas


ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan,
sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan obyek penelitian,
maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Tahap
tertinggi dalam kebudayaan moral manusia, ujar Charles Darwin,
adalah ketika kita menyadari bahwa kita seyogyanya mengontrol
pikiran

kita

(Suriasumantri,2009:235).

Secara filsafat dapat dikatakan bahwa dalam tahap pengembangan


konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologi
keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat

masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuan. Ontologi diartikan


sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari obyek yang ditelaah
dalam membuahkan pengetahuan, aksiologi diartikan sebagai teori
nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh.

Setiap

pengetahuan,

termasuk

pengetahuan

ilmiah,

mempunyai tiga dasar yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.


Epistemologi membahas cara untuk mendapatkan pengetahuan, yang
dalam

kegiatan

keilmuan

disebut

metode

ilmiah.

Penerapan dari ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan


dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh pada
proses perkembangan lebih lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan
maupun

penggunaan

ilmu

pengetahuan

dan

teknologi.

Jadi jelaslah bahwa Ilmu dan moral memiliki keterkaitan yang sangat
kuat. Seperti yang telah diutarakan diatas bahwa ilmu bisa menjadi
malapetaka kemanusiaan jika seseorang memanfaatkannya tidak
bermoral. Tetapi, sebaliknya ilmu akan menjadi rahmat bagi kehidupan
manusia

jika

dimanfaatkan

secara

benar

dan

tepat

serta

mengindahkan aspek moral. Dengan demikian kekuasaan ilmu ini


mengharuskan seorang ilmuwan memiliki landasan moral yang kuat.
Tanpa landasan dan pemahaman terhadap nilai-nilai moral, seorang
ilmuwan bisa menjadi monster yang setiap saat bisa menerkam
manusia, artinya bencana kemanusian bisa setiap saat terjadi.
Kejahatan yang dilakukan oleh orang yang berilmu itu jauh lebih jahat
dan membahayakan dibandingkan dengan kejahatan orang yang tidak
berilmu.

Tanggung

jawab

Ilmuwan

Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil


penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun
yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri. Sejarah telah
mencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik
pemerintahannya yang menurut anggapan mereka melanggar asasasas kemanusiaan. Ternyata bahwa dalam soal-soal menyangkut
kemanusiaan para ilmuwan tidak pernah bersifat netral. Mereka tegak

dan bersuara sekiranya kemanusiaan memerlukan mereka. Suara


mereka bersifat universal mengatasi golongan, ras, sistem kekuasaan,
agama,

dan

rintangan-rintangan

lainnya

yang

bersifat

sosial

(Suriasumantri,2009:248).
Di bidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi
memberi informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil didepan
bagaimana

caranya

bersifat objektif, terbuka, menerima kritik,

menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang


dianggapnya benar dan berani mengakui kesalahan. Semua sifat ini
beserta sifat lainnya merupakan implikasi etis dari proses penemuan
kebenaran

secara

ilmiah.

Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan teknologi. Inilah
merupakan tanggung jawab sosial seorang ilmuwan. Seorang ilmuwan
secara

moral

dipergunakan

tidak
untuk

akan

membiarkan

menindas

bangsa

hasil
lain

penemuannya

meskipun

yang

mempergunakannya itu adalah bangsanya sendiri.


Seorang ilmuwan juga mempunyai tanggung jawab di bahunya. Bukan
saja karena ia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat
secara langsung dengan di masyarakat, yang lebih penting adalah
karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup
manusia. Sampai ikut bertanggung jawab agar produk keilmuannya

sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.


Nilai kegunaan ilmu, kaitan ilmu dan nilai-nilai moral serta tanggung jawab
ilmuwan
Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk
kemaslahatan kemanusiaan, atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan
(Sumantri, 2009 : 249). Penemuaan ilmiah tidaklah diperuntukkan bagi suatu
golongan tertentu namun bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Berkaitan
dengan pertanyaan diatas dimana kaitan ilmu dengan moral, nilai yang
menjadi

acuan

seorang

ilmuan, dan

tanggung

jawab

ilmuan

telah

menempatkan aksiologi ilmu pada posisi yang sangat penting karena itu salah
satu aspek pembahasan mendasar dalam integrasi keilmuan adalah aksiologi
yang

sebelumnya

telah

dibahas.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan di atas menyatakan sikap


menolak terhadap dijadikannya manusia sebagai obyek penelitian Secara

moral kita lakukan evaluasi etis terhadap suatu obyek yang tercakup dalam
obyek formal ilmu. Menghadapi Ilmu dan teknologi yang telah berkembang
begitu pesat yang sudah merupakan kenyataan maka moral hanya mampu
memberikan penilaian yang bersifat aksiologis, bagaimana sebaiknya kita
mempergunakan teknologi untuk keluhuran martabat manusia. Aksiologi
memandang permasalahan diatas dapat dilihat dari baik buruknya seorang
ilmuwan itu sendiri yang mempunyai ilmu dan moral serta tanggung jawab
dalam menyikapi hasil penemuannya.