Anda di halaman 1dari 10

Relevansi antara Deradikalisasi dan Filsafat

Pendidikan Islam (Solusi Radikalisme)


REP | 22 December 2013 | 08:23

Dibaca: 147

Komentar: 6

A.
Mendiknas RI, Muhammad Nuh pernah menegaskan bahwa kini agama di
Indonesia telah kehilangan etikanya dan pendidikan di Indonesia juga telah
kehilangan karakternya. Pernyataan ini bukanlah pepesan kosong tanpa dasar dan
makna. Jika kita menerawang perkembangan kondisi bangsa Indonesia dari masa
ke masa, sepanjang era reformasi dihiasi dengan kasus-kasus kekerasan dan
terorisme dengan label agama.
Fenomena fanatisme yang minim sebagai dampak dari meluasnya gerakan
radikalisme islam, hal inilah yang melatarbelakangi timbulnya kasus-kasus
kekerasan dan terorisme. Radikalisme islam ditetapkan sebagai gerakan dengan
pandangan terbelakang dan cenderung menggunakan kekerasan dalam
mengajarkan dan mempertahankan keyakinannya.
Akhirnya, islam sebagai rahmatan lilalamin menjadi terkesan buas, islam
dipandang garang dan bringas di mata masyarakat. Muslim yang dikenal ramah di
mata dunia, kini menjadi muslim yang mudah mengobarkan api permusuhan.
Hal ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pendidikan Islam memiliki peran
sebagai pemelihara akhlaq, etika dan pembentuk karakter peserta didik. Inilah yang
bisa menjadi solusi alternatif mencegah sekaligus menghilangkan aksi-aksi
terorisme.
Radikalisme Pendidikan Islam
1. Pengertian Radikalisme
Radikalisme (al-tat}arruf) secara bahasa artinya adalah berdiri di posisi
ekstrem dan jauh dari posisi tengah-tengah atau melewati batas kewajaran.
Secara istilah, radikalisme adalah fanatik kepada satu pendapat serta
menegasikan pendapat orang lain, mengabaikan terhadap kesejarahan
Islam, tidak dialogis, suka mengkafirkan kelompok lain yang tidak
sepaham, dan tekstual dalam memahami teks agama tanpa
mempertimbangkan tujuan esensial syariat (maqashid al-syariat).
Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya
perubahan, pergantian, dan penjebolan suatu sistem di masyarakat sampai

ke akarnya. Radikalisme menginginkan adanya perubahan secara total


terhadap suatu kondisi atau semua aspek kehidupan masayarakat.
1. Ciri-ciri Radikalisme
Kelompok radikalsime memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Sering mengklaim kebenaran tunggal dan menyesatkan kelompok
lain yang tak sependapat. Klaim kebenaran selalu muncul dari
kalangan yang seakan-akan mereka adalah Nabi yang tak pernah
melakukan kesalahan (masum), padahal mereka hanya manusia
biasa. Klaim kebenaran tidak dapat dibenarkan karena manusia
mempunyai kebenaran relatif dan hanya Allah yang tahu
kebenaran absolut. Oleh sebab itu jika ada kelompok yang merasa
benar sendiri maka secara langung telah bertindak congkak
merebut otoritas Allah.
Radikalisme
mempersulit
agama
Islam
yang
sejatinya samhah(ringan) dengan menganggap ibadah sunnah
seakan-akan wajib dan makruh seakan-akan haram. Radikalisme
dicirikan dengan perilaku beragama yang lebih memprioritaskan
masalah-masalah sekunder dan mengesampingkan yang primer.
Kelompok radikal kebanyakan berlebihan dalam beragama yang
tidak
pada
tempatnya.
Dalam
berdakwah
mereka
mengesampingkan metode-metode gradual yang digunakan oleh
Nabi, sehingga dakwah mereka justru membuat umat islam yang
masih awam ketakutan dan keberatan. Padahal wahyu Allah (QS.
Al-Baqarah: 185) telah menegaskan bahwa sang Khaliq
menghendaki hal-hal yang meringankan dan tidak menginginkan
hal-hal yang memberatkan hamba_Nya.
Kasar dalam berinteraksi, keras dalam berbicara dan emosional
dalam berdakwah. Hal ini sangat bertolakbelakang dengan
kesantunan dan kelembutan Nabi dalam berdakwah (QS. Al-Imron:
159). Firman Allah (QS. An-Nahl: 125) juga menegaskan bahwa
Allah menganjurkan umat Islam agar berdakwah dengan cara
santun dan menghindari kata-kata kasar.
Kelompok radikal mudah berburuk sangka kepada orang lain di luar
golongannya. Mereka senantiasa memandang orang lain hanya
dari sisi negatifnya saja dan mengacuhkan sisi positifnya. Pangkal
dari radikalisme adalah berburuk sangka kepada orang lain, serta
merta merendahkan orang lain. Kaum radikal kerap kali tampak
merasa suci dan menganggap kelompok lain sebagai
ahli bidahdan sesat.
Mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda berpendapat. Kaum
ini mengkafirkan orang lain yang berbuat maksiat, mengkafirkan

pemerintah yang menganut demokrasi, mengkafirkan rakyat yang


rela terhadap penerapan demokrasi, mengkafirkan umat Islam di
Indonesia yang menjunjung tradisi lokal, dan mengkafirkan semua
orang yang berbeda pendapat dengan mereka, sebab mereka
yakin bahwa pendapat mereka adalah pendapat Allah.
2. Faktor Kemunculan Radikalisme
Beberapa faktor penyebab munculnya radikalisme, yaitu:
Pengetahuan agama yang setengah-setengah melalui proses
belajar yang doktriner.
Literal dalam memahami teks-teks agama sehingga kalangan
radikal hanya memahami Islam dari kulitnya saja tetapi minim
wawasan tentang esensi agama.
Tersibukkan oleh masalah-masalah sekunder, sembari melupakan
masalah primer.
Berlebihan dalam mengharamkan banyak hal yang justru
memberatkan umat.
Lemah dalam wawasan sejarah dan sosiologi sehingga fatwa-fatwa
mereka sering bertentangan dengan kemaslahatan umat, akal
sehat dan semangat zaman.
Radikalisme tidak jarang muncul sebagai reaksi terhadap bentukbentuk radikalisme yang lain seperti sikap radikal kaum sekular
yang menolak agama.
Perlawanan terhadap ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik di
tengah-tengah masyarakat.
Radikalisme acap kali muncul sebagai ekspresi rasa frustasi dan
pemberontakan terhadap ketidakadilan sosial yang disebabkan oleh mandulnya
kinerja lembaga hukum. Kegagalan pemerintah dalam menegakkan keadilan
akhirnya direspon oleh kalangan radikal dengan tuntutan penerapan syariat
Islam. Namun tuntutan penerapan syariah sering diabaikan oleh negara-negara
sekular sehingga mereka frustasi dan akhirnya memilin cara-cara kekerasan.
Penerapan syariah yang disuarakan oleh kelompok-kelompok radikal sering
sekali hanya menyentuh persoalan aurat, larangan membonceng ngangkang,
dan perda-perda syariat yang diskriminatif. Penerapan syariat jarang
menyuarakan isu-isu pembelaan terhadap kaum minoritas dan lemah yang
teraniaya, pembelaan terhadap non-Muslim yang dihalang-halangi kebebasan
beribadahnya, dan lain-lain.
Paham ini menghendaki perubahan yang bersifat revolusioner yang lebih
banyak menelan korban daripada mendapat hasil yang memuaskan. Dalam
dunia pendidikan jelas peserta didiklah yang menjadi korbannya. Fanatisme
terhadap agama menjadikan peserta didik rela menjadi tumbal aksi bom

bunuh diri atas nama agama dengan embel-embel jihad (berjuang di jalan
Allah).
Radikalisme yang paling berbahaya adalah radikalisme mahasiswa. Di satu
sisi, mahasiswa memahami cara berpikir secara filsafat (radik). Di sisi lain,
mahasiswa juga sangat potensial untuk disulut pada gerakan-gerakan
radikalisme dengan sikap dan perilakunya yang kaku serta cenderung tak mau
mengalah. Inilah yang mesti diwaspadai sebagai seorang mahasiswa.
B. Solusi Radikalisme (Deradikalisasi)
Dalam pandangan Yusuf al-Qardhawi, solusi-solusi untuk mengatasi masalah
radikalisme antara lain:
Menghormati aspirasi kalangan Islamis radikalis melalui cara-cara yang
dialogis dan demokratis.
Memperlakukan mereka secara manusiawi dan penuh persaudaraan.
Tidak melawan mereka dengan sikap yang sama-sama ekstrem dan
radikal, artinya kalangan radikal ekstrem dan kalangan sekular ekstrem
harus ditarik ke posisi moderat agar berbagai kepentingan dapat
dikompromikan.
Di butuhkan masyarakat yang memberikan kebebasan berpikir bagi
semua kelompok sehingga akan terwujud dialog yang sehat dan saling
mengkritik yang konstruktif dan empatik antar aliran-aliran.
Menjauhi sikap saling mengkafirkan dan tidak membalas pengkafiran
dengan pengkafiran.
Mempelajari agama secara benar sesuai metode-metode yang sudah
ditentukan oleh para ulama Islam dan mendalami esensi agama agar
menjadi Muslim yang bijaksana.
Tidak memahami Islam secara parsial dan reduktif.
Sebaiknya kalangan radikal lebih mempertimbangkan kondisi dan situasi
serta kemampuan kaum muslim yang sangat beragam.
Seyogyanya kaum radikal memahami urutan perintah dan larangan yang
harus diprioritaskan untuk dikerjakan atau dijauhi.
Kalangan radikal seyogyanya memegang prinsip bahwa perbedaan dalam
masalah ijtihad adalah keniscayaan sehingga mereka tidak terjebak
dalam klaim kebenaran tunggal.
C. Relevansi antara Deradikalisasi dan Filsafat Pendidikan Islam
Pendidikan Islam yang terinfiltrasi oleh radikalisasi perlu reorientasi ke arah
yang sesuai dengan spirit islam yang mengajarkan saling menghargai dan
persaudaraan. Ajaran filsafat pendidikan Islam komprehensif telah mencapai status
yang tinggi dalam kehidupan kebudayaan manusia yakni sebagai ideologi suatu

bangsa dan negara. Perlu adanya deradikalisasi agar mendorong terwujudnya


keharmonisan dalam berbangsa.
Filsafat pendidikan islam membina manusia mempunyai akhlaq yang tinggi.
Deradikalisasi pendidikan islam memupuk manusia menjadi uswatun hasanah.
Dapat dilihat bahwa antara deradikalisasi dan filsafat pendidikan islam begitu
relevan untuk menjadikan pribadi manusia yang akhlakul karimah dan menjadi suri
tauladan yang baik bagi seluruh umat manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Masduqi, Irwan. Deradikalisasi Pendidikan Islam, Deradikalisasi Pendidikan Islam Berbasis
Khazanah Pesantren, dalam Jurnal Pendidikan Islam. Redaksi: Jurnal Pendidikan
Islam FITK UIN Sunan Kalijaga, Volume II, Nomor 1, Juni 2013/1434.
Qardhawi, Yusuf al-, al-Shahwah al-Islamiyah bayn al-Juhud wa al-Tatarruf., Bank alTaqwa, 1406 H.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/12/mahasiswa-dan-trend-radikalisme-598270.html
Comb nr"5" pooffl, ware of what they are doing and why ore a doing it. y are
to 14 CriCet cc Odell
Review of Literature The review literlature started with Zinn s ( 983) Philosophy
oaf Aps riPtin vwd-aelt EduCatdiOensigInventoryto determine (PAEI) r - The
love:seven-point Likert-type scale pliti i wrOr 1St 0 ri Yas consisted of 75
statemenwts.tehraT1ttehhclee adult educators ofroangly disagree, 4 = neutral,
and 7 agree. Total scores can range from stronglY for each of the five
philosophioci:1 so to 105
cnedienniiidautia11ss; views towardsignifY the hilopsroovphidieess These a sr
scores o rt eh se p fa in-depth description of dult education. The following these
hilosophical ideologies. Liberal The liberal adult education philosophy stresses
the development of intellectual pOls fers Liberals always seek knowledge. They
work to transmit knowledge and clearly direct learning. The educator is the
espert." He/she directsthe learning process with complete authority. Learning
methods used include lecture, study groups, and discussion. Socrates, Plato, and
Piaget were practitioners of the liberal philosophy. (Note: Liberal adult education
does not refer to liberal political views; it is related to Liberal Arts.).
ap
Behatviorist The behaviorist adult education philosophy emphasizes the
importance of the environment in shaping change. The traits of the behaviorist
teacher are close to those of the liberal. The behaviorist manages" the learning
process and directs learning. Behaviorist concepts include mastery learning and
standards-based education. Some methods of teaching that behaviorist
educators use include programmed instruction, contract learning, and computer
guided instruction. Vocational training and teacher ertifications are both

behaviorist practices. i kinner, Thorndike, and Steinberu were ueileyers in the


behaviorist philosophical het.
Adult Education...
Progressive The. progressive philosophy of adult solvieducation stresses an
experiential, problem-ng approach to learning. Learners of this philosophy need
problem solving skills and practical knowledge. Teaching methods used in this
philosophy include problem solving, the scientific method, and cooperative
learning. The educator is an. organizer who guides learning instead . of directing
learning and evaluates the learning process. Progressive proponents include
Spencer, Dewey, and Lindeman. Humanistic The humanistic adult education
philosophy seeks to facilitate personal growth and development. Humanists are
highly motivated and self-directed learners; responsibility to learn is assumed by
the learner. The humanist educator facilitates learning but does not direct
learning. The educator and learner are "partners." Concepts that define the
humanistic philosophy include experiential learning, individuality, self-directed,
and self-actualization. Humanistic teaching methods contain group discussion,
team teaching, individualized learning, and the discovery method. Rogers,
Maslow, Knowles, and McKenzie are facilitators of the humanistic philosophy.
Radical The radical adult education philosophy or reconstructionist philosophy
promotes social, political, and economic change through education. The educator
and learner are equal partners in the teaming process. The educator is the
coordinator of the class and makes suggestions but does not direct the learning
process. This philosophy embraces concepts such as noncompulsor) learning and
deschooling. Exposure to the media and people in real life situations are
considered effective teaching methods. Holt, Freire, and Illich are proponents of
the radical adult education philosophy. Several research studies were found that
used Zinn's Inventory (1990) to establish the philosophy of adult educators.
Rachat, DeCoux, Leonard, and. Pierce (1993) administered the Principals of Adult
Learning Scale (PALS) and the Philosoph)
!it-1!,,n P 4 ?. Number 3, '1)0'
floolle, Carlin, Wright, Lawrence, it 0 iell Of ifients to 111 graduate adult ethic )
Adult Education PA wt Inventory SP A Im - t ant Ito' n Istruis- The overall the
PAEI. Als 0 Amts. used to corn , so ',ales Females also scored higher Mel;
dentOgraP t o instruments. On the progressiv aro precrisrof variance was stuvr
inately progressive o go scored significantl hic variables across all scoirieesi:dre
on stiiigenificant difference was also ' A than humanistic scale than nialsg (ill
high. el, found the under 30 and over 40 between .., age a ups on the
humanistic scale. r-CI Rachal et al., (1993) also found positive
tchoerredlaeticoiongs der. A high magnitude correl ' ---"' r abetweenpiiie v
variables b le o f scores aatgi oen andtvcsi fgoeirlind *between the liberal and
behaviorist orientations. Other significant relationshi )1 were discovered between
progressives-humanist and radical-humanist orientations, In a study of students
enrolled in the researcher's classes, Wingenbach (1996) found significant
differences betvveen gender and the behaviorist and radical orientations. All

females were found to have higher mean scores than did males in the radical
philosophical orientation. In the behaviorist orientation, female graduates had
higher mean scores than did male graduates. In the undergraduate group, males
had higher mean scores. The students did not differ statistically in their mean
scores for the behaviorist, humanistic, or radical orientations. These findings
differ from the findings of McKenzie (1985). In his study, McKenzie (1985) found
significant differences in all five philosophical orientations while comparing
business trainers, religious educators, and adult education graduate students.
Significant differences between the groups in the liberal orientation may
represent the findings of Berger and Luckmann (1966). That is, when individuals
enter an institution, they begin to express the views reflected in that institution;
they begin to speak a common language. Youth and adults differ greatly in their
preferred learning styles and educational environments. If agricultural education
teachers acknowledge these basic
I 1 i It I envy... t Hui othitc, ("vhili , actvities, la ,, and evaluations
must also ihtiii HI ;1(Itilt audiences. By understanding leamin2. Ow philthi Thy
011 adult educators, One can dt.trhlny, the degree to which educators cliploy
(tillerless( methods, procedures, and Hist iv ititii It) ednutte their adult
constituents Purpose arid Objectives The purpose of this study was to determine
the adult education as practiced by Pennsylvania, West Virginia, philosophies mid
Virginia secondary school agricultural edt Rill it )11 teachers. The objectives were
to:
Adult Education...
ti the teaching methods,
I he 'ermine the demographics of Pennsylvania, West Virginia, and Virginia
agricultural education teachers who may have taught an adult technology class
in agriculture during 1998-99. Assess Pennsylvania, West Virginia, and Virginia
agricultural education teachers' philosophies of adult education using the
Philosophy of Adult Education Inventory. Determine ir significant relationships
exist between agricultural education teachers' philosophies and selected
demographic variables. Limitations of the Study The study was limited to
secondary school agricultural education teachers (N 657) in Pennsylvania, West
Virginia. stlicl Virginia who may have taught adults in their local communities
during the 1998-99 academic year.
Methods and Procedures
A descriptive research sun ev mcthc'dology and a correlational design \\ ere tised
in this study. The primary advantage in using this research methodology was the
accumulation of large ;imounts of data in a limited timeframe. The correkitional
design allows for discover),, clarification, and/or explanation of
I 'tan inn d 3. Number .?, 100:

Sisir nr "5" pooffl, ware apa yang mereka lakukan dan mengapa bijih yang
melakukannya. y
14 Cricet cc Odell
Ulasan Sastra Tinjauan literlature dimulai dengan Zinn s (983) Filsafat bebal Aps
riPti n VWD-aelt EduCatdiOensigInventoryto menentukan (PAEI) r - Cinta:
tujuh poin Likert-jenis skala pliti i wrOr 1St 0 ri Yas terdiri 75
statemenwts.tehraT1ttehhclee pendidik dewasa ofroangly tidak setuju, 4 =
netral, dan 7 setuju. Total skor dapat berkisar dari sangat untuk masing-masing
lima philosophioci: 1 sehingga untuk 105
cnedienniiidautia 11ss; pandangan towardsignifY yang hilopsroovphidieess ini
sebuah nilai sr o rt eh se p fa mendalam deskripsi pendidikan dult. Berikut ini
ideologi hilosophical. Liberal liberal filsafat pendidikan orang dewasa
menekankan pengembangan intelektual Pols fers Liberal selalu mencari ilmu.
Mereka bekerja untuk mengirimkan pengetahuan dan pembelajaran jelas
langsung. Pendidik adalah "espert." Dia / dia directsthe proses belajar dengan
otoritas penuh metode pembelajaran yang digunakan meliputi kuliah, kelompok
belajar, dan diskusi Socrates, Plato, dan Piaget adalah praktisi filsafat liberal
(Catatan:... Pendidikan orang dewasa Liberal tidak tidak mengacu pada
pandangan politik liberal, melainkan terkait dengan Liberal Arts)..
p
Behatviorist The behavioris filsafat pendidikan orang dewasa menekankan
pentingnya lingkungan dalam membentuk perubahan. Ciri-ciri guru behavioris
yang dekat dengan orang-orang liberal itu. Behavioris mengelola "proses belajar
dan mengarahkan pembelajaran. Konsep Behavioris meliputi pendidikan
penguasaan pembelajaran dan berbasis standar. Beberapa metode pengajaran
yang pendidik behavioris menggunakan termasuk instruksi diprogram, belajar
kontrak, dan instruksi komputer dipandu. Kejuruan pelatihan dan guru
ertifications keduanya behavioris praktek. i Kinner, Thorndike, dan Steinberu
adalah ueileyers di behavioris het filosofis.
Pendidikan Orang Dewasa ...
Progresif The. filsafat progresif solvieducation dewasa menekankan suatu
pengalaman, pendekatan ng-masalah untuk belajar. Peserta didik filsafat ini
perlu pemecahan masalah keterampilan dan pengetahuan praktis. Metode
pengajaran yang digunakan dalam filsafat ini meliputi pemecahan masalah,
metode ilmiah, dan pembelajaran kooperatif. Pendidik adalah. organizer yang
membimbing belajar gantinya. mengarahkan pembelajaran dan mengevaluasi
proses pembelajaran. Pendukung progresif termasuk Spencer, Dewey, dan
Lindeman. Humanistik yang humanistik filsafat pendidikan orang dewasa
berusaha untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan pribadi. Humanis
peserta didik sangat termotivasi dan mengarahkan diri sendiri; tanggung jawab
untuk belajar diasumsikan oleh pelajar. Pendidik humanis memfasilitasi belajar
tetapi tidak langsung belajar. Pendidik dan peserta didik yang "mitra." Konsep

yang mendefinisikan filosofi humanistik meliputi pengalaman belajar,


individualitas, mandiri, dan aktualisasi diri. Metode pengajaran humanistik
mengandung diskusi kelompok, team teaching, pembelajaran individual, dan
metode penemuan. Rogers, Maslow, Knowles, dan McKenzie adalah fasilitator
dari filosofi humanistik.
Radikal radikal filsafat pendidikan orang dewasa atau filsafat rekonstruksionis
mempromosikan perubahan sosial, politik, dan ekonomi melalui pendidikan.
Pendidik dan peserta didik adalah mitra sejajar dalam proses teaming. Pendidik
adalah koordinator kelas dan membuat saran tetapi tidak langsung proses
pembelajaran. Filosofi ini mencakup konsep-konsep seperti noncompulsor)
belajar dan Deschooling. Paparan media dan orang-orang dalam situasi
kehidupan nyata dianggap metode pengajaran yang efektif. Holt, Freire, dan Illich
adalah pendukung filsafat pendidikan orang dewasa radikal. Beberapa penelitian
yang menemukan bahwa menggunakan Persediaan Zinn (1990) untuk
membangun filosofi pendidik dewasa. Rachat, DeCoux, Leonard, dan. Pierce
(1993) diberikan para petinggi Dewasa Skala Learning (PALS) dan philosoph)
! It-1! ,, N P 4?. Nomor 3, '1) 0 floolle, Carlin, Wright, Lawrence, itu 0 iell Of ifients
untuk 111 lulusan dewasa etika ) Dewasa Pendidikan PA wt Inventarisasi SP A
Im - 't ant Ito' n Istruis- keseluruhan yang PAEI. Als 0 AMTS. digunakan untuk
jagung, sehingga ', bir Wanita juga dinilai lebih tinggi Mel; dentOgraP instrumen t
o. Di progressiv aro precrisrof ragam stuvr inately o progresif pergi mencetak
cukup signifikan variabel hik di semua scoirieesi:. Dre selisih stiiigenificant juga
'A dari skala humanistik dari nialsg (sakit tinggi el, ditemukan di bawah 30 dan
lebih dari 40 antara .. , usia up pada skala humanistik. r-CI Rachal et al., (1993)
juga menemukan tchoerredlaeticoiongs positif der. berkekuatan Correl tinggi '--"' variabel abetweenpiiie v r b le skor aatgi oen andtvcsi fgoeirlind * antara
liberal dan behavioris orientasi. relationshi signifikan lain) 1 ditemukan antara
progresif-humanis dan radikal-humanis orientasi, Dalam sebuah studi dari jumlah
siswa kelas peneliti, Wingenbach (1996) menemukan perbedaan yang signifikan
betvveen gender dan behavioris dan orientasi radikal. Semua perempuan
ditemukan memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi daripada laki-laki dalam
orientasi filosofis radikal. Dalam orientasi behavioris, lulusan perempuan
memiliki skor yang lebih tinggi daripada rata-rata lulusan laki-laki. Pada
kelompok sarjana, laki-laki memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi. Para siswa
tidak berbeda secara statistik pada nilai rata-rata mereka untuk behavioris,
humanis, atau orientasi radikal. Temuan ini berbeda dengan temuan McKenzie
(1985). Dalam studinya, McKenzie (1985) menemukan perbedaan yang signifikan
di semua lima orientasi filosofis sementara membandingkan pelatih bisnis,
pendidik agama, dan mahasiswa pascasarjana pendidikan orang dewasa.
Perbedaan yang signifikan antara kelompok-kelompok dalam orientasi liberal
mungkin merupakan temuan Berger dan Luckmann (1966). Artinya, ketika
seseorang masuk institusi, mereka mulai mengekspresikan pandangan tercermin
dalam lembaga tersebut; mereka mulai berbicara bahasa yang sama. Remaja
dan orang dewasa sangat berbeda dalam gaya belajar yang mereka dan
lingkungan pendidikan. Jika pendidikan pertanian

guru mengakui ini dasar


Saya 1 i Ini Aku iri ... t Hui othitc , ("vhili , actvities, la ,, dan
evaluasi juga harus ihtiii HI;. 1 (penonton Itilt Dengan memahami leamin2 Ow
philthi. Mu 011 pendidik dewasa, Satu dapat dt.trhlny, sejauh mana pendidik
cliploy (tillerless (metode, prosedur, dan Hist iv ititii Ini) ednutte konstituen
dewasa mereka Tujuan Tujuan gersang Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menentukan pendidikan orang dewasa seperti yang dilakukan oleh Pennsylvania,
Virginia Barat, filosofi pertengahan Virginia sekolah menengah pertanian edt Rill
itu) 11 guru Tujuannya adalah untuk.:
Pendidikan Orang Dewasa ...
ti metode mengajar,
Aku dia Ermine demografi Pennsylvania, West Virginia, dan Virginia guru
pendidikan pertanian yang mungkin telah mengajarkan kelas teknologi dewasa
di bidang pertanian selama 1998-1999. Menilai Pennsylvania, West Virginia, dan
filosofi Virginia guru pendidikan pertanian 'pendidikan orang dewasa
menggunakan Filsafat Pendidikan Orang Dewasa Persediaan. Menentukan
hubungan yang signifikan ir ada antara filsafat guru pendidikan pertanian dan
variabel demografis yang dipilih. Keterbatasan Studi Penelitian ini terbatas pada
guru sekolah menengah pertanian pendidikan (N 657) di Pennsylvania, Virginia
Barat. stlicl Virginia yang mungkin telah mengajar orang dewasa dalam
komunitas lokal mereka selama tahun akademik 1998-1999.
Metode dan Prosedur
Sebuah deskriptif matahari penelitian ev mcthc'dology dan desain korelasional \\
ere tised dalam penelitian ini. Keuntungan utama dalam menggunakan
metodologi penelitian ini adalah akumulasi besar; imounts data dalam jangka
waktu yang terbatas. Desain correkitional memungkinkan untuk discover) ,,
klarifikasi, dan / atau penjelasan
Saya tan penginapan d 3. Nomor, 100.?: '