Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Hernia merupakan suatu penonjolan isi perut dari rongga yang normal
melalui lubang kongenital atau didapat (Mansjoer . 2000).
Hernia merupakan produksi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia
abdomen isi perut menonjol melalui defek atau bagian-bagian lemah dari
lapisan muscular aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri dari cincin, kantong
dan isi hernia (R.Syamsuhidajat, Wim Dejong. 1998).
Hernia adalah penonjolan gelung atau ruas organ jaringan melalui lubang
abnormal (Dorlands WA Newman. 2002).
B. Etiologi
1. Kongenital
Terjadi sejak lahir adanya defek pada suatu dinding rongga.
2. Didapat (akquisita)
Hernia ini didapat oleh suatu sebab yaitu umur, obesitas, kelemahan
umum, lansia, tekanan intra abdominal yang tinggi dan dalam waktu yang
lama misalnya batuk kronis, gangguan proses kencing, kehamilan,
mengejan saat miksi, mengejan saat defekasi, pekerjaan mengangkat
benda berat (Mansjoer, Arif. 2000).
C. Patofisisologi
Terjadinya hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah faktor
kongenital yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada waktu
kehamilan yang dapat menyebabkan masuknya isi rongga pertu melalui
kanalis inguinalis, faktor yang kedua adalah faktor yang dapat seperti hamil,
batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat dan faktor usia, masuknya isi
rongga perut melalui kanal ingunalis, jika cukup panjang maka akan menonjol
keluar dari anulus ingunalis ekstermus. Apabila hernia ini berlanjut tonjolan
akan sampai ke skrotum karena kanal inguinalis berisi tali sperma pada lakilaki, sehingga menyebakan hernia.

Hernia ada yang dapat kembali secara spontan maupun manual juga ada yang
tidak dapat kembali secara spontan ataupun manual akibat terjadi perlengketan
antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat
dimasukkan kembali. Keadaan ini akan mengakibatkan kesulitan untuk
berjalan atau berpindah sehingga aktivitas akan terganggu. Jika terjadi
penekanan terhadap cincin hernia maka isi hernia akan mencekik sehingga
terjadi hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala illeus yaitu gejala
abstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang akan
menyebabkan kurangnya suplai oksigen yang bisa menyebabkan Iskemik. Isi
hernia ini akan menjadi nekrosis. Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat
terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal atau prioritas
jika terjadi hubungan dengan rongga perut. Obstruksi usus juga menyebabkan
penurunan peristaltik usus yang bisa menyebabkan konstipasi. Pada keadaan
strangulate akan timbul gejala illeus yaitu perut kembung, muntah dan
obstipasi pada strangulasi nyeri yang timbul lebih berat dan kontinyu, daerah
benjolan menjadi merah. (Manjoer, Arif. 2000).

Pathway
Faktor konginetal
Penutupan proses vaginalis
Pada waktu kehamilan

faktor didapat(batuk kronis,


mengejan saat defekasi,
pekerjaan saat mengankat
Benda berat

Peningkatan tekanan intra abdomen


Masuknya isi rongga perut melalui kanalis inguinalis

Jika cukup panjang akan menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus
Tonjolan akan sampai ke spektrum
Hernia
Tidak dapat kembali secara normal
Tndakan pembedahan

dapat kembali secara normal

post operasi hernia


Adanya luka insisi

Sistem irigasi

penurunan fungsi usus


Diskontinuitas
Jaringan

Keseimbangan
Cairan

diit cairan
Nutrisi adekuat

Kekurangan
volume
cairan

perawatan luka
yang kurang

Ketidakseimban
gan nutrisi
kurang dari
ebutuhan

Nyeri
akut

invasi kuman
Resiko
infeksi

Gangguan
integrirtas
kulit

D. Manisfestasi Klinis
Umumnya pasien mengatakan turunnya selangkangan atau kemaluan.
Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila
menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi berdiri bisa
timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri. Keadaan
umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak tampak, pasien dapat disuruh
mengejan dengan menutup mulut dalam posisi berdiri. Bila ada hernia maka

akan tampak benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksa
apakah benjolan tersebut dapat dimasukkan kembali. Pasien diminta
berbaring, bernapas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intraabdominal,
lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti hernia pada umumnya
sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti. Keadaan cincin
hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari telunjuk dimasukkan ke atas
lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke anulus
inguinalis internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk.
Pasien diminta mengejan dan merasakan apakah ada massa yang menyentuh
jari tangan: Bila massa tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia
inguinalis lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi jari maka diagnosisnya
adatah hernia inguinalis medialis.
E. Komplikasi
Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia
sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini disebut
hernia inguinalis ireponibilis. pada keadaan ini belum ada gangguan
penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan
ireponibilis adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan
isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih
sering menyebabka ireponibilis daripada usus halus. Terjadi penekanan
terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk. Keadaan ini
menyebabkan gangguan aliran isi usus diikuti dengan gangguan vaskular
(proses strangulasi). Keadaan ini disebut hernia inguinalis strangulata. Pada
keadaan strangulata akan timbul gejala ileus, yaitu perut kembung, muntah,
dan obstipasi. Pada strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinyu,
daerah benjolan menjadi merah, dan pasien menjadi gelisah.
F. Penatalaksanaan
Pada hernia inguinalis reponibilis dan ireponibilis dilakukan tindakan bedah
elektif karena ditakutkan terjadinya komplikasi, sebaliknya bila telah terjadi
proses strangulasi tindakan bedah harus dilakukan secepat mungkin sebelum
terjadinya nekrosis usus.Prinsip terapi operatif pada hernia inguinalis:

1. Untuk memperoleh keberhasilan maka faktor-faktor yang menimbulkan


terjadinya hernia harus dicari dan diperbaiki (batuk kronik, prostat, tumor,
asites, dan lain-lain). Dan defek yang ada direkonstruksi dan diaproksimasi
tanpa tegangan.
2. Sakus hernia indirek harus di isolasi, dipisahkan dari peritoneum, dan diligasi.
Anak-anak yang mempunyai anatomi inguinal normal, repair hanya terbatas
pada ligasi tinggi, memisahkan sakus, dan mengecilkan cincin ke ukuran yang
semestinya. Pada kebanyakan hernia orang dewasa, dasar inguinal juga harus
direkonstruksi. Cincin inguinal juga dikecilkan. Pada wanita, cincin inguinal
dapat ditutup total untuk mencegah rekurenasi dari tempat yang sama.
3. Hernia rekuren yang terjadi dalam beberapa bulan atau setahun biasanya
menunjukkan adanya repair yang tidak adekuat. Sedangkan rekuren yang
terjadi setelah dua tahun atau lebih cenderung disebabkan oleh timbulnya
kelemahan yang progresif pada fasia pasien.. Rekurensi berulang setelah
repair berhatihati yang dilakukan oleh seorang ahli menunjukkan adanya
defek dalam sintesis kolagen. Tindakan bedah pada hernia adalah henioplasty
dan hernioraphy. Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia dimasukkan,
kantong diikat, dan dilakukan Bassinplasty atau . tekan yang lain untuk
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat,
prinsipnya hampir sama dengan bedah elektif. Cincin hernia langsung dicari
dan dipotong. Usus halus dilihat vital atau tidak. Bila vital dikembalikan ke
rongga perut, sedangkan bila tidak, dilakukan reseksi dan anastomosis end to
end. Untuk fasilitas dan keahlian terbatas, setelah cincin hernia dipotong dan
usus dinyatakan vital langsung tutup kulit dan dirujuk ke rumah sakit dengan
fasilitas lebih lengkap (Mansjoer Arif. 2000).
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Abdomen

2.
3.

4.
5.

Dapat menyatakan adanya kengerasan material pada apendiks (fekalit), ileus


terlokalisis.
Urinalisis
Munculnya bakteri yang mengidentifikasi infeksi.
Elektrolit
Ketidakseimbangan akan menunggu fungsi organ, misalnya penurunan
kalium akan mempengaruhi kontraktilitan otot jantung, mengarah kepada
penurunan curah jantung.
AGD (Analisa Gas Darah)
Mengevaluasi status pernafasan terakhir.
ECG (Elektrocardiograf)
Penemuan akan sesuatu yang tidak normal membutuhkan prioritas perhatian
untuk memberikan anestesi (Doengoes. 2000).

H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Adapun data-data yang menjadi data fokus dari hernia adalah sebagai
berikut:
a. Aktivitas/istirahat

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.
i.
j.

k.

l.
m.

Gejala : Kelemahan, riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat,


tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda : Gangguan dalam berjalan, kelemahan ambulasi.
Eliminasi
Gejala: : Konstipasi, tidak dapat flaktus.
Tanda : Adanya retensi urine atau inkontinensia urine.
Makanan / cairan
Gejala : Hilangnya nafsu makan, mual, muntah.
Tanda : BB turun, dehidrasi, lemas otot.
Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan pada kwadran bawah, semakin memburuk dengan
adanya batuk, bersin, mengangkat benda berat, defekasi, nyeri tak ada
hentinya atau ada episode nyeri yang lebih berat secara intermiten.
Tanda : Prubahan gara berjalan, nyeri tekan abdomen.
Keamanan
Gejala : Peningkatan suhu 39.6 - 400C.
Adapun data-data yang harus dikaji pasca operasi hernioraphy adalah
sebagai berikut :
System pernafasan
Potensi jalan nafas, perubahan pernafasan (rata-rata, pola dan
kedalaman), RR < 10 x/menit, auskultasi paru : keadekuatan ekspansi
paru, kesimetrisan.
Inspeksi : pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan
diafragma, retraksi sternal, thorax drain.
System cardiovascular
Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit (4x), 30
menit (4x), 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi
stabil. Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperature, dan
ukuran ekstremitas).
Keseimbangan cairan dan elektrolit : inspeksi membrane mukosa
(warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan), kaji intake / output,
monitor cairan intravena dan tekanan darah.
System persarafan.
Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran, kekuatan otot, koordinasi.
System perkemihan
Control volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6-8 jam pasca
anesthesia, retensio urine, Dower catheter (kaji warna, jumlah urine,
output urine < 30 ml/jam)
System gastrointestinal
Mual muntah, kaji fungsi gastrointestinal dengan auskultasi suara
usus, kaji palitik ileus, Insersi NG tube intra operatif dengan drainage
lambung (untuk memonitor perdarahan, mencegah obstruksi usus,
irigasi atau pemberian obat, jumlah, warna, konsistensi isi lambung
tiap 6- 8 jam).
System integument
Kaji factor infeksi luka, diostensi dari odema/palitik illeus, tekanan
pada daerah luka, dehiscence, eviscerasi.
Drain dan balutan

Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat diruang post
anesthesia recovery meliputi jumlah, warna, konsistensi, dan bau
cairan drain dan tanggal observasi.
n. Pengkajian nyeri
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah, drain dan posisi
intra operatif. Kaji tanda fisik dan emosi (peningkatan nadi dan
tekanan darah, hypertensi, diaphoresis, gelisah, menangis), kaji
kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetik.
2. Diagnosa Keperawatan
Dari teori tentang Post Operasi Hernioraphy, dapat ditarik beberapa
diagnose antara lain :
a. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan ditandai dengan
luka pada abdomen.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada luka bekas
post operasi.
c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi
ditandai dengan ketidaknyamanan keterbatasan gerak.
d. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
diit cairan ditandai dengan penuruna fungsi usus.
e. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan system irigasi /
drainage ditandai dengan keseimbangan cairan.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman ditandai
dengan perawatan luka yang kurang.
3. Intervensi
a. Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan.
Tujuan : Menunjukkan nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria hasil : Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang
atau hilang, Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi :
1) Kaji nyeri, catat lokasi intensitas (Skala 0-10)
Rasional : Membantu mengevaluasi derajat ketidaknyamanan dan
keefektifan analgesic atau dapat menyatakan terjadinya
komplikasi.
2) Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Respons autoromik meliputi perubahan pada TD, nasi
dan pernafasan yang berhubungan dengan keluhan / penghilangan
nyeri.
3) Dorong Ambulasi diri
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ contoh
merangsang peristaltik dan kelancaran flaktus.
4) Ajarkan teknik relaksasi dan Distraksi
Rasional : Meningkatkan istirahat, memusatkan kembali
perhatian dapat meningkatkan koping.
5) Kolaborasi Pemberian Obat Alagetik
Rasional : Memberikan penurunan nyeri hebat
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada luka bekas
post operasi.

Tujuan : Pasien dapat beraktivitas dengan nyaman


Kriteria hasil : Menunjukkan mobilitas yang aman dan Meningkatkan
kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit.
Intervensi
1) Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien
Rasional : Imbolitas yang dipaksakan dapat memperberat
keadaan.
2) Anjurkan pasien untuk beraktivitas sehari-hari dalam
keterbatasan pasien
Rasional : Partisipasi pasien akan meningkatkan kemandirian
pasien.
3) Anjurkan keluarga dalam melakukan meningkatkan kemandirian
pasien
Rasional : Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang
khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai
toleransi.
4) Kolaborasi dalam pemberian obat
Rasional : Obat dapat meningkatkan rasa nyaman dan kerjasama
pasien selama melakukan aktivitas.
c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka insisi.
Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : Menunjukkan penyembuhan luka cepat dan
menunjukkan perilaku atau teknik untuk meningkatkan
penyembuhan, mencegah komplikasi.
Intervensi :
1) Lihat semua insisi
Rasional : mencegah komplikasi
2) Evaluasi proses penyembuhan.
Rasional : mengetahui peningkatan penyembuhan.
3) Kaji ulang penyembuhan terhadap pasien
Rasional : menunjukkan penyembuhan luka.
4) Catat adanya distensi dan auskultasi peristaltik usus
5) Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltic usus merupakan
tanda bahwa fungsi defekasi hilang.
d. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
diit cairan.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai
rentang yang diharapkan individu dan menyiapkan pola diet dengan
masukan kalori adekuat, menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.
Intervensi :
1) Berikan porsi kecil tapi sering.
Rasional : meningkatkan nafsu makan.
2) Evaluasi status nutrisi, ukur berat badan normal.
Rasional : adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi.
3) Evalusai status dan ukur berat badan setiap harinya.
Rasional : mengetahui adanya perubahan status gizi.

e. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan system irigasi/


drainage.
Tujuan : Kekurangan cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil : Menunjukkan perubahan keseimbangan cairan, tanda
vital stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.
Intervensi :
1) Awasi tanda vital.
Rasional : cairan yang masuk dapat merubah keseimbangan
cairan.
2) Observasi karakter drainase.
Rasional : pemantauan cairan yang masuk
3) Kolaborasi dalam pemberian cairan parenteral.
Rasional : diberikan agar tidak kekurangan cairan.
f. Resiko infeksi berhubungan dengan proses invasi kuman.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal, luka kering tidak ada
pus.
Intervensi :
1) Pantau tanda-tanda vital
2) Rasional : Suhu malam hari memucak yang kembali ke normal
pada pagi hari adalah karakteristik infeksi.
3) Observasi penyatuan luka, karakter drainase, adanya inflamasi
Rasional : Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan
4) Pertahankan keperawatan luka aseptic
Rasional : Lindungi pasien dari kontaminasi selama pengantian
5) Pertahankan balutan kering
Rasional : Balutan basah bertindak sebagai sumbu penyerapan
kontaminasi.
6) Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan sesuai indikasi
Rasional : Diberikan untuk mengatasi nyeri-nyeri.
4. Implementasi
5. Evaluasi

DAFTAR PUSTAKA