Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH

FILSAFAT ILMU FARMASI

NAMA

: FARADITHA AMALIA

STAMBUK

: G 701 13 051

KELAS

: FARMASI A

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta
tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai Sejarah Perkembangan
Farmasi.
Makalah ini berisikan tentang sejarah perkembangan farmasi dari masa ke masa, dari zaman
yunani hingga zaman modern. Dan di dalamnya membahas tentang momentum, tokoh-tokoh,
perkermbangan farmasi di indonesia dan tren dunia farmasi ke depan.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh
karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun
kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Palu, 09 Desember 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................................................
Daftar Isi ...............................................................................................................................................
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................................................
1.4 Manfaat penulisan............................................................................................................................
1.5 Metode Pengumpulan Data.............................................................................................................
1.6 Batasan Masalah..............................................................................................................................
PEMBAHASAN
2.1 Farmasi Jaman Pra Sejarah..............................................................................................................
2.2 Farmasi Jaman Babylonia-Assyria.................................................................................................
2.3 Sejarah Dunia Farmasi...........................................................................................................
2.4 Sejarah Farmasi di Indonesia...........................................................................................................
2.5 Tokoh-Tokoh yang Berjasa dalam
Pengembangan Kefarmasian...............................................................................................................
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................................
3.2
Saran.....................................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan
kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab
memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi
termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta
pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care)
di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan
informasi obat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Perkembangan Farmasi dari zaman dahulu sampai sekarang?
2. Siapa saja tokoh dalam kefarmasian?
3. Bagaimana perkembangan farmasi di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan Makalah yang berjudul Sejarah Perkembangan Farmasi ini tidak sekedar
tulisan saja tetapi memiliki suatu tujuan tertentu. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui dengan jelas sejarah perkembangan farmasi


2. Mengetahui apa momentum-momentum dalam farmasi
3. Memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen mata kuliah Pengantar Farmasi
1.4 Manfaat Penulisan
Ketika penulis menulis makalah tersebut, penulis berharap makalah ini bisa
bermanfaat bagi para pembaca dan penulis berharap manfaat dari makalah tersebut adalah :
1. Pembaca bisa mengetahui momentum-momentum dalam ke farmasian
2. Pembaca bisa mengetahui sejarah perkembangan kefarmasian
3. Pembaca bisa mengetahui tokoh-tokoh yang mengembangkan Ilmu kefarmasian

1.5 Metode Pengumpulan Data


Selama proses penulisan makalah tersebut, penulis menggunakan Metode Browsing.
Metode Browsing adalah penulis mengambil referensi dari Internet, penulis mencari dan
mengumpulkan data dan sumber-sumber pendukung materi makalah dengan cara mencari di
internet (browsing).
I.6 Batasan Masalah
Melihat dari latar belakang masalah dan materi yang akan dibahas dalam makalah
tersebut, maka penulis memiliki batasan masalah agar permasalahan yang dibahas tidak
terlalu luas. Batasan masalahnya adalah :
1. Momentum-momentum dalam kefarmasian
2. Tokoh-tokoh dalam kefarmasian
3. Perkembangan farmasi di dunia
4. Perkembangan farmasi di indonesi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Farmasi Jaman Pra Sejarah
Diantara beberapa karakteristik yang unik dari Homo sapiens adalah kemampuannya
untuk mengatasi penyakit, baik fisik maupun mental dengan menggunakan obat-obatan. Dari
bukti arkeologi didapatkan bahwa pencarian terhadap obat-obatan setua pencarian manusia
terhadap peralatan lain. Seperti halnya bebatuan yang digunakan untuk pisau dan kapak,
obat-obatan pun jarang sekali tersedia dalam bentuk siap pakai. Bahan-bahan obat tersebut
harus dikumpulkan, diproses dan disiapkan; kemudian digabungkan menjadi satu untuk
digunakan dalam pengobatan. Aktivitas ini, telah dilakukan jauh sebelum sejarah manusia
dimulai dan sampai sekarang tetap menjadi fokus utama praktek kefarmasian.
Manusia purba belajar dari insting atau naluri, dengan melakukan pengamatan
terhadap hewan. Pertama kali mereka menggunakan air dingin, sehelai daun, debu, bahkan
lumpur untuk pengobatan4. Naluri untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan
merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tersebut atau
menutupinya dengan lumpur, hanya berdasarkan kepercayaan. Manusia purba belajar dari
pengalaman dan mendapatkan cara pengobatan yang satu lebih efektif dari yang lain. Dari
sinilah permulaan terapi dengan obat dimulai. Mereka menularkan pengetahuan ini kepada
sesamanya. Walupun metode yang mereka gunakan masih kasar, akan tetapi banyak sekali
obat-obatan yang ada saat ini diperoleh dari sumbernya dengan metode sederhana dan
mendasar seperti yang telah mereka lakukan.
2.2 Farmasi Jaman Babylonia-Assyria

Pada daerah selatan kerajaan Babylonia (sekarang Iraq), bangsa Sumeria telah
mengembangkan sistem tulis-menulis sekitar tahun 3000 SM sehingga mereka telah
memasuki periode sejarah. Bangsa Babylonia melakukan observasi terhadap planet-planet
dan bintang-bintang yang mendasari ilmu astronomi dan astrologi saat ini. Kedudukan dan
gerakan bintang-bintang diduga mempengaruhi kejadian di bumi. Kepercayaan ini kemudian
diadopsi oleh ilmu kedokteran dan kefarmasian berikutnya. Bangsa Sumeria dan pewarisnya
yakni bangsa Babylonia dan Assyria telah meninggalkan ribuan tablet lempung dalam puingpuing peninggalan mereka sebagai salah satu peninggalan peradaban manusia yang paling
berharga. Sejarah mereka terkubur rapat-rapat dalam tablet lempung tersebut hingga berabadabad berikutnya sekelompok sejarahwan berhasil mengungkap bagian yang hilang dari
catatan-catatan kuno ini. Dari penelitian terhadap catatan-catatan kuno tersebut disebutkan 3
aspek yang paling berpengaruh dalam ilmu pengobatan Babylonia-Assyria yakni : ketuhanan
(divination), pengusiran roh jahat/setan (excorcism) dan penggunaan obat-obatan. Tiga aspek
tersebut merupakan satu-kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Penyakit adalah kutukan atau
hukuman Tuhan, sedangkan pengobatan adalah pembersihan/pensucian dari kedua hal
tersebut. Konsep tersebut dikenal sebagai katarsis (catharsis). Konsep ini menjelaskan makna
asli kata pharmakon (Yunani), yang merupakan asal kata pharmacy (farmasi). Konsep
pharmakon dijelaskan sebagai berbagai usaha penyembuhan atau pensucian dengan cara
mengeluarkan atau membersihkan. Yang menarik, di dalam farmakologi (ilmu tentang obat
dan mekanisme kerjanya) dikenal obat katartik atau pencahar, yakni obat yang bekerja
meningkatkan motilitas kolon (usus besar) sehingga meningkatkan pengeluaran tinja (feses).
Para pendeta di masa itu berperan sebagai rohaniwan (diviner) dan pengusir setan,
yang mendukung peran mereka sebagai penyembuh/dokter. Dalam literatur lain disebutkan
bahwa terdapat pemisahan profesi penyembuh di antara bangsa Babylonia, yakni penyembuh
empiris dan penyembuh yang spiritualis. Penyembuh spiritualis dikenal sebagai asipu, yang
menekankan pada penggunaan mantra/doa-doa bersama dengan batu-batu bertuah/jimat-jimat
dalam pengobatan.
Pada salah satu tablet lempung tercatat adanya mantra/doa yang tertulis di awal dan
di akhir suatu formula obat. Mantra/doa tersebut diharapkan memberi kekuatan
menyembuhkan kepada obat-obatan yang telah dibuat. Fenomena ini mungkin masih sering
dijumpai di berbagai pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif bangsa kita.
Penyembuh empiris dikenal sebagai asu, yang menggunakan obat/ramuan tertentu dalam

bentuk sediaan farmasi yang sekarang masih digunakan seperti : pil, supositoria, enema,
bilasan, dan salep. Kedua penyembuh tersebut seringkali bekerjasama dalam menangani
penyakit yang berat/sulit disembuhkan. Selain kedua penyembuh tersebut terdapat
sekelompok orang yang juga meracik obat dan kosmetik yang disebut pasisu. Akan tetapi
peranan dan kedudukan mereka dalam pengobatan belum diketahui secara pasti.
2.3 Sejarah Dunia Farmasi
Farmasi dalam bahasa Inggris adalah pharmacy, bahasa Yunani adalah pharmacon,
yang mempunyai arti obat. Farmasi merupakan salah satu bidang ilmu profesional kesehatan
yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan, ilmu fisika dan ilmu kimia, yang
mempunyai tanggung jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang
lingkup dari praktik farmasi sangat luas termasuk penelitian, pembuatan, peracikan,
penyediaan sediaan obat, pengujian, serta pelayanan informasi obat atau berhubungan dengan
layanan terhadap pasien di antaranya layanan kefarmasian.
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu
Kedokteran, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Saat itu seorang Dokter yang
mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang Apoteker yang menyiapkan obat.
Semakin berkembangnya ilmu kesehatan masalah penyediaan obat semakin rumit, baik
formula maupun cara pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri.
Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara
Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal Two Silices. Dari sejarah ini, satu

hal yang perlu digarisbawahi adalah akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.
Kata farmasi berasal dari kata farma (pharma). Farma merupakan istilah yang dipakai
pada tahun 1400 - 1600an. Sejarah Perkembangan Farmasi :
1. Claudius Galen (200-129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja
obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi.
2. Hippocrates (459-370 SM) yang dikenal dengan bapak kedokteran dalam praktek
pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan.
3. Ibnu Sina (980-1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan
penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat seperti pil, supositoria, sirup
dan menggabungkan pengetahuan pengobatan dari berbagai negara yaitu Yunani, India,
Persia, dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik.
4. Paracelsus (1541-1493 SM) berpendapat bahwa untuk membuat sediaan obat perlu
pengetahuan kandungan zat aktifnya dan dia membuat obat dari bahan yang sudah diketahui
zat aktifnya
5. Johann Jakob Wepfer (1620-1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan
toksikologi obat pada hewan percobaan, ia mengatakan :I pondered at length, finally I
resolved to clarify the matter by experiment. Ia adalah orang pertama yang melakukan
penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan
merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diuji
coba secara klinik pada manusia.
6. Institut Farmakologi pertama didirikan pada th 1847 oleh Rudolf Buchheim (1820-1879)
di Universitas Dorpat (Estonia). Selanjutnya Oswald Schiedeberg (1838-1921) bersama
dengan pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam kerja obat meliputi
reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas dan toksisitas selektif. Konsep tersebut
juga diperkuat oleh T. Frazer (1852-1921) di Scotlandia, J. Langley (1852-1925) di Inggris
dan P. Ehrlich (1854-1915) di Jerman. Pendidikan farmasi berkembang seiring dengan pola
perkembangan teknologi agar mampu menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan
dan sesuai dengan kebutuhan, dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan
timbulnya industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang industri
obat dan di bidang penyedia atau peracik obat. Dalam hal ini keahlian kefarmasian jauh lebih
dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi
identik dengan teknologi pembuatan obat. dilihat dari sisi pendidikan Farmasi, di Indonesia

mayoritas farmasi belum merupakan bidang tersendiri melainkan termasuk dalam bidang
MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) yang merupakan kelompok ilmu murni
(basic science) dan buku Pharmaceutical handbook menyatakan bahwa farmasi merupakan
bidang yang menyangkut semua aspek obat, meliputi : isolasi atau sintesis, pembuatan,
pengendalian, distribusi dan penggunaan. .Di Inggris, sejak tahun 1962, dimulai suatu era
baru dalam pendidikan farmasi, karena pendidikan farmasi yang semula menjadi bagian dari
MIPA, berubah menjadi suatu bidang yang berdiri sendiri secara utuh berkembang ke arah
patient oriented, memuculkan berkembangnya Clinical Pharmacy (Farmasi klinik). Di USA
telah disadari sejak tahun 1963 bahwa masyarakat dan profesional lain memerlukan
informasi obat yang seharusnya datang dari para apoteker. Temuan tahun 1975
mengungkapkan pernyataan para dokter bahwa apoteker merupakan informasi obat yang
parah, tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan informasi obat. Apoteker yang
berkualits dinilai amat jarang atau langka, bahkan dikatakan bahwa dibandingkan dengan
apoteker, medical representatif dari industri farmasi justru lebih merupakan sumber informasi
obat bagi para dokter. Perkembangan terakhir adalah timbulnya konsep Pharmaceutical
Care yang membawa para praktisi maupun para profesor ke arah wilayah pasien. Secara
global terlihat perubahan arus positif farmasi menuju ke arah akarnya semula yaitu sebagai
mitra dokter dalam pelayanan pada pasien. Apoteker diharapkan setidak-tidaknya mampu
menjadi sumber informasi obat baik bagi masyarakat maupun profesi kesehatan lain baik di
rumah sakit, di apotek, puskesmas atau dimanapun apoteker berada.
2.4 Sejarah Farmasi di Indonesia
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia (1997) dalam informasi jabatan untuk
standar kompetensi kerja menyebutkan jabatan Ahli Teknik Kimia Farmasi, (yang tergolong
sektor kesehatan) bagi jabatan yang berhubungan erat dengan obat-obatan, dengan
persyaratan : pendidikan Sarjana Teknik Farmasi. Dilihat dari sisi pendidikan Farmasi, di
Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang tersendiri melainkan termasuk dalam
bidang MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) yang merupakan kelompok ilmu
murni (basic science) sehingga lulusan S1-nya pun bukan disebut Sarjana Farmasi melainkan
Sarjana Sain.
Bagaimana dengan perkembangan farmasi di Indonesia? Perkembangan farmasi
boleh dibilang dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada tahun 1896. Kemudian,

terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah mengimpor produk farmasi jadi
ke Indoneisa. Perusahaan-perusahaan lokal pun bermunculan, tercatat ada Kimia Farma,
Indofarma, Dankos, dan lainnya. Di dunia pendidikan sendiri, sekolah tinggi atau fakultas
farmasi juga dibuka di berbagai kota.

Tonggak sejarah munculnya profesi apoteker di Indonesia dimulai dengan didirikannya


Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten pada tahun 1946, yang kemudian menjadi Fakultas
Farmasi UGM, dan di bandung tahun 1947.
2.5 Tokoh-Tokoh yang Berjasa dalam Pengembangan Kefarmasian
Dimulai pada abad ke-9, tanah Arab dan Islam berhasil membangun jembatan ilmu
yang menghubungkan antara sumbangan Yunani dengan dunia farmasi modern sekarang ini.
Tahap ilmu yang diperoleh dari Yunani terus ditingkatkan dan usaha ini diteruskan hingga
abad ke-13 melalui berbagai karya, Peningkatan ilmu pada zaman-zaman berikutnya. Untuk
pertama kalinya dalam sejarah, farmasi dipraktekkan secara terpisah dari profesi medis yang
lain. Puncak sumbangan dunia Arab-Islam dalam farmasi dicapai dengan siapnya satu
panduan cara meracik obat pada tahun 1260.
2.5.1 Ibnu Al-Baitar
Lewat risalahnya yang berjudul Al-Jami fi Al-Tibb (Kumpulan Makanan dan Obatobatan yang Sederhana), beliau turut memberi kontribusi dalam dunia farmasi. Di Dalam
kitabnya itu, dia mengupas beragam tumbuhan berkhasiat obat (sekarang lebih dikenal

dengan nama herbal) yang berhasil dikumpulkannya di sepanjang pantai Mediterania. Lebih
dari dari seribu tanaman obat dipaparkannya dalam kitab itu. Seribu lebih tanaman obat yang
ditemukannya pada abad ke-13 M itu berbeda dengan tanaman yang telah ditemukan ratusan
ilmuwan sebelumnya. Tak heran bila kemudian Al-Jami fi Al-Tibb menjadi teks berbahasa
Arab terbaik yang berkaitan dengan botani pengobatan. Capaian yang berhasil ditorehkan AlBaitar melampaui prestasi Dioscorides. Kitabnya masih tetap digunakan sampai masa
Renaisans di Benua Eropa.

2.5.2 Abu Ar-Rayhan Al-Biruni (973 M 1051 M)


Al-Biruni mengenyam pendidikan di Khwarizm. Beragam ilmu pengetahuan

dikuasainya, seperti astronomi, matematika, filsafat dan ilmu alam. Ilmuwan Muslim yang
hidup di zaman keemasan Dinasti Samaniyaah dan Ghaznawiyyah itu turut memberi
kontribusi yang sangat penting dalam farmasi. Melalui kitab As-Sydanah fit-Tibb, Al-Biruni
mengupas secara lugas dan jelas mengenai seluk-beluk ilmu farmasi. Kitab penting bagi
perkembangan farmasi itu diselesaikannya pada tahun 1050 M setahun sebelum Al-Biruni
tutup usia. Dalam kitab itu, Al-Biruni tak hanya mengupas dasar-dasar farmasi, namun juga
meneguhkan peran farmasi serta tugas dan fungsi yang diemban seorang f armasis.
2.5.3 Abu Jafar Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)

Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan

farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik
dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami Al-Adwiyyah Al-Mufradah.
Kitab tersebut memaparkan tentang pendekatan metodologi eksperimen, serta observasi
dalam bidang farmasi.
2.5.4 Al-Razi

Sarjana Muslim yang dikenal di Barat dengan nama Razes itu juga ikut andil dalam

membesarkan bidang farmasi. Al-Razi memperkenalkan penggunaaan bahan kimia dalam


pembuatan obat-obatan seperti pada obat-obatan kimia sekarang.
2.5.5 Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia (farmakope).
Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmasi
dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin. dalam kitabnya beliau memberikan resep
kedokteran tentang kaedah dan teknik meracik obat, tindakan farmakologisnya dan dosisnya
untuk setiap penggunaan. formula ini ditulis untuk ahli-ahli farmasi selama hampir 200
tahun.
2.5.6 Ibnu Sina
Dalam kitabnya yang fenomenal, Canon of Medicine, Ibnu Sina juga mengupas
tentang farmasi. Ia menjelaskan lebih kurang 700 cara pembuatan obat dengan kegunaannya.
Ibnu Sina menguraikan tentang obat-obatan yang sederhana.
2.5.7 Al-Zahrawi
Bapak ilmu bedah modern ini juga ikut andil dalam membesarkan farmasi. Dia adalah
perintis pembuatan obat dengan cara sublimasi dan destilasi.
2.5.8 Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M 857 M)
Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker.
Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi. Dalam kitab yang
ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik. Salah satu karya Ibnu
Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam
ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.
2.5.9 Abu Hasan Ali bin Sahl Rabban at-Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah
Al-Mutasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari
dalam bidang farmasi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal
adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan
binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara
pembuatannya. 2.5.10 Zayd Hunayn b. Ishaq al-Ibadi (809-873)

Beliau adalah anak dari seorang apoteker. Hunayn diantar ke Baghdad, yang pada
masa itu merupakan pusat pendidikan Islam terpenting untuk mengikuti pendidikan dalam
perawatan. Hunayn memainkan peranan yang penting dalam

penterjemahan atau penentuan ketepatan terjemahan yang dilakukan (termasuk penulis


Hippocrate, Gelen dan penulis Yunani lain) di samping menulis buku-bukunya sendiri. Antara
buku dan tulisan Hunayn adalah tentang aspek kebersihan mulut, pecuci dan penggunaan
bahan-bahan pergigian.
mereka adalah para tokoh Islam yang sangat berjasa pada dunia kesehatan khususnya
Ilmu kefarmasian dan kedokteran, hasil penemuan dan buku-buku yang ditulis merupakan
cikal bakal penelitian bidang farmasi setelah zaman mereka sampai sekarang. Semoga
bermanfaat
MOMENTUM PERKEMBANGAN KEFARMASIAN
Pada tahun 1240, Kaisar Frederick II mengeluarkan maklumat (Magna Carta) untuk
memisahkan ilmu farmasi dan kedokteran, sehingga masing-masing ahli mempunyai
kesadaan, standar etik, pengetahuan dan keterampilan sendiri.
Pd thn 1453 Konstantinopel (Istambul) jatuh ke tangan Turki akademisi Yunani kuno ke
Barat dgn membawa buku2 & pengetahuannya
Obat2 baru dari dunia baru (Columbus & Vasco da Gama) mulai masuk
Mesin cetak Johann Gutenberg meningkatnya studi ttg tanaman obat
Valerius Cordus (1515-1544) menulis Dispensatorium standar yg resmi u/ pembuatan
obat-obatan di Nuremberg farmakope (pharmacopoeia) yg pertama
TREN DUNIA FARMASI KE DEPAN
Pengembangan obat baru
Pengembangan bahan obat diawali dengan sintesis atau isolasi dari berbagai sumber
yaitu dari tanaman (glikosida jantung untuk mengobati lemah jantung), jaringan hewan
(heparin untuk mencegah pembekuan darah), kultur mikroba (penisilin G sebagai antibiotik
pertama), urin manusia (choriogonadotropin) dan dengan teknik bioteknologi dihasilkan
human insulin untuk menangani penyakit diabetes.
Dengan mempelajari hubungan struktur obat dan aktivitasnya maka pencarian zat
baru lebih terarah dan memunculkan ilmu baru yaitu kimia medisinal dan farmakologi
molekular.
Setelah diperoleh bahan calon obat, maka selanjutnya calon obat tersebut akan
melalui serangkaian uji yang memakan waktu yang panjang dan biaya yang tidak sedikit
sebelum diresmikan sebagai obat oleh Badan pemberi izin. Biaya yang diperlukan dari mulai

isolasi atau sintesis senyawa kimia sampai diperoleh obat baru lebih kurang US$ 500 juta per
obat. Uji yang harus ditempuh oleh calon obat adalah uji praklinik dan uji
klinik.

Uji praklinik merupakan persyaratan uji untuk calon obat, dari uji ini diperoleh
informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik dan toksisitas calon obat.
Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik adalah pengujian ikatan obat pada reseptor
dengan kultur sel terisolasi atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada
hewan utuh. Hewan yang baku digunakan adalah galur tertentu dari mencit, tikus, kelinci,
marmot, hamster, anjing atau beberapa uji menggunakan primata, hewan-hewan ini sangat
berjasa bagi pengembangan obat. Hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui
apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau aman.
Penelitian toksisitas merupakan cara potensial untuk mengevaluasi :
Toksisitas yang berhubungan dengan pemberian obat akut atau kronis
Kerusakan genetik (genotoksisitas, mutagenisitas)
Pertumbuhan tumor (onkogenisitas atau karsinogenisitas)
Kejadian cacat waktu lahir (teratogenisitas)
Selain toksisitasnya, uji pada hewan dapat mempelajari sifat farmakokinetik obat
meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat. Semua hasil pengamatan pada
hewan menentukan apakah dapat diteruskan dengan uji pada manusia. Ahli farmakologi
bekerja sama dengan ahli teknologi farmasi dalam pembuatan formula obat, menghasilkan
bentuk-bentuk sediaan obat yang akan diuji pada manusia. Di samping uji pada hewan, untuk
mengurangi penggunaan hewan percobaan telah dikembangkan pula berbagai uji in vitro
untuk menentukan khasiat obat contohnya uji aktivitas enzim, uji antikanker menggunakan
cell line, uji anti mikroba pada perbenihan mikroba, uji antioksidan, uji antiinflamasi dan
lain-lain untuk menggantikan uji khasiat pada hewan tetapi belum semua uji dapat dilakukan
secara in vitro.
Uji toksisitas sampai saat ini masih tetap dilakukan pada hewan percobaan, belum
ada metode lain yang menjamin hasil yang menggambarkan toksisitas pada manusia, untuk
masa yang akan datang perlu dikembangkan uji toksisitas secara in vitro.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Perkembangan ilmu farmasi dari zaman ke zaman berkambang sangat pesat sesuai dengan
perkembangan zaman.
2. Ada banyak tokoh yang berjasa dalam bidang farmasi diantaranya Abu Ar-Rayhan Al-Biruni,
Al-Razi, Ibu Sina, Yuhanna Ibnu Massawayh, Ibnu Al-Albaitar, Abu Ja far Al-ghafiqi, Sabur
Ibnu Sahl, Al-Zahrawi, Abu Hasan Ali bin Sahl Rabban at-Tabari, Zayd Hunayn b. Ishaq alIbadi
3. Perkembangan farmasi boleh dibilang dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada
tahun 1896. Kemudian, terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah
mengimpor produk farmasi jadi ke Indoneisa.
3.2. Saran
Saran yang dapat kami sampaikan adalah :
1) Seharusnya kita sebagai calon pendidik haruslah banyak mengetahui tentang sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan, dan siapa saja penemu yang berperan penting
dalam kehidupan ini.
2) Sebagai umat islam, kita harus tahu bahwa yang berperan penting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan saat ini tidak hanya orang Barat, namun orang dari
timur tengah pun banyak.

Daftar Pustaka
http://uwiiswold.wordpress.com
http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id
http://jamaludinassalam.wordpress.com