Anda di halaman 1dari 61

SYARAT SYARAT TEKNIS

PEKERJAAN
: Perbaikan Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
LOKASI
: Jl. Imam Bonjol, Kota Madiun
T.A
: 2013

1.1 PERSYARATAN UMUM


1.1.1 LINGKUP PEKERJAAN
Uraian dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini,
segi lingkup pekerjaan yang meliputi :
1. Pekerjaan Persiapan
2. Perbaikan Jalan STA. 0+000 s/d STA. 0+175 m
3. Perbaikan Jalan STA. 0+175 s/d STA. 0+700 m
4. Perbaikan Jalan STA. 0+700 s/d STA. 0+900 m
5. Perbaikan Jalan STA. 0+900 s/d STA. 1+270 m
6. Pembangunan Gerbang Masuk ( Bando )
7. Pekerjaan Jembatan
8. Pekerjaan Penyelesaian

menyangkut

1.1.2 JENIS DAN MUTU BAHAN

5.1.2.1 Jenis dan mutu bahan yang akan dilaksanakan harus


diutamakan bahan-bahan produksi Dalam Negeri, sesuai
dengan keputusan bersama Menteri Perdagangan dan Koperasi,
Menteri Perindustrian dan Menteri Penertiban Aparatur Negara
tanggal 23 Desember 1980 dan Keppres No. 80 tahun 2003.
5.1.2.2 Bahan-bahan bangunan / tenaga kerja setempat, sesuai
dengan lokasi yang ditunjuk, bila bahan-bahan bangunan dari
semua jenis memenuhi syarat teknis, sesuai dengan peraturan
yang
ada,
dianjurkan
untuk
dipergunakan
dengan
mendapatkan ijin dari Direksi (secara tetulis).
5.1.2.3 Bila bahan-bahan bangunan yang telah memenuhi spesifikasi
teknis terdapat beberapa / bermacam-macam jenis (merk)
diharuskan untuk memakai jenis dan mutu bahan satu jenis.
5.1.2.4 Bila rekanan telah menandatangani / melaksanakan jenis dan
mutu bahan untuk pekerjaan tidak sesuai dengan yang telah
ditetapkan , bahan-bahan tersebut harus ditolak dan
dikeluarkan dari lokasi pekerjaan paling lambat 24 jam setelah
ditolak dan biaya menjadi tanggung jawab rekanan.
5.1.3 URAIAN PEKERJAAN
5.1.3.1 Penyediaan
Pemborong harus menyediakan segala yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan secara sempurna, dan efisien dengan
urutan yang teratur, termasuk semua alat-alat pembantu yang
dipergunakan seperti andang-andang, alat-alat penarik, dan
sebagainya yang diperlukan oleh rekanan, dan semua alat-alat
tersebut pada waktu pekerjaan selesai, harus dibersihkan dari
lokasi pekerjaan, karena sudah tidak dipergunakan lagi .
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 1 -

5.1.3.2 Kuantitas dan Kualitas Pekerjaan


a. Kuantitas dan kualitas dari pekerjaan yang termasuk dalam
harga kontrak, harus dianggap seperti apa yang tertera dalam
gambar-gambar kontrak, atau uraian dan syarat-syarat. Kecuali
yang disebut di atas, apa yang tertera dalam uraian dan
syarat-syarat, atau gambar dalam kontrak itu harus sesuai
pula, bagaimanapun tidak boleh menolak, merubah, atau
mempengaruhi penetapan, atau interpretasi dari apa yang
tercantum dalam syarat-syarat ini.
b. Kekeliruan dalam uraian pekerjaan, atau kuantitas, atau
pengurangan bagian-bagian dari gambar, dan uraian dan
syarat-syarat teknis, tidak boleh membatalkan kontrak ini,
tetapi hendaknya diperbaiki, dan dianggap suatu perubahan
yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas.
5.1.4 GAMBAR GAMBAR PEKERJAAN
5.1.4.1 Gambar-gambar rencana pekerjaan yang terdiri dari gambar
Bestek, gambar detail konstruksi, gambar situasi dan
sebagainya yang telah dilaksanakan oleh Konsultan Perencana
telah disampaikan kepada rekanan beserta dokumen yang
lain.Rekanan tidak boleh mengubah dan menambah tanpa
mendapat persetujuan tertulis dari Pemimpin Kegiatan/Direksi
Teknis. Gambar-gambar tersebut tidak boleh diberikan kepada
pihak lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan
pemborong ini atau dipergunakan untuk maksud-maksud lain.
5.1.4.2 Gambar-Gambar Tambahan.
Bila Direksi menganggap perlu, maka Konsultan Perencana
harus membuat tambahan gambar detail (gambar penjelasan)
yang diperiksa dan disahkan oleh Direksi, gambar-gambar
tersebut menjadi milik Direksi.
5.1.4.3 As Built Drawing.(Gambar yang sesuai sebagaimana yang
dilaksanakan.)
Untuk semua pekerjaan yang belum terdapat gambar-gambar
baik penyimpanan atas perintah Pemberi Tugas atau tidak,
Pemborong harus membuat gambar-gambar yang sesuai
dengan apa yang telah dilaksanakan (As bult Drawing), yang
jelas memperhatikan perbedaan antara gambar-gambar
kontrak dari pekerjaan yang dilaksanakan. Gambar-gambar
tersebut harus dilaksanakan dalam rangkap 3 (tiga) dan semua
biaya pembuatannya ditanggung oleh rekanan.
5.1.4.4 Gambar-gambar di Tempat Pekerjaan.
Rekanan harus menyimpan ditempat pekerjaan atau rangkap
gambar kontrak lengkap termasuk Rencana Kerja dan Syaratsyarat.Berita acara Aanwijzing Time Schedule, dalam keadaan
baik (dapat dibaca dengan jelas) termasuk perubahanperubahan terakhir dalam masa pelaksanaan pekerjaan, agar
tersedia jika Pemberi Tugas atau wakilnya sewaktu-waktu
memerlukan.
5.1.5 PENJELASAN RKS dan GAMBAR
a. Bila terdapat perbedaan gambar antara gambar rencana dan
gambar detail, maka gambar detail yang dipakai / diikuti.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 2 -

b. Bila terdapat skala gambar dan ukuran tidak sesuai, maka


ukuran dengan angka dalam gambar diikuti.
c. Bila ukuran-ukuran jumlah yang diperlukan dan bahan-bahan
barang yang dipakai dalam RKS tidak sesuai dengan gambar,
maka RKS diikuti.
d. Rekanan berkewajiban untuk mengadakan penelitian tentang
hal-hal tersebut diatas. Setelah rekanan menerima dokumen dari
Pemimpin Kegiatan dan hal tersebut akan dibahas dalam rapat
penjelasan.
e. Sebelum melaksanakan pekerjaan rekanan diharuskan meneliti
kembali semua dokumen yang ada untuk disesuaikan dengan
Berita Acara rapat penjelasan.
5.1.6 PERSIAPAN DI LAPANGAN
5.1.6.1 Barak Kerja / Direksi Keet
a). Pemborong diwajibkan membuat los kerja untuk tempat
direksi keet untuk kantor pegawainya, dan gudang untuk
bahan-bahan yang perlu terhindar dari gangguan cuaca.
b). Pemborong diwajibkan membuat los kerja untuk tempat
pekerja, sehingga terhindar dari matahari, hujan dan angin.
c). Untuk Direksi Lapangan. suatu Ruang Kantor Sementara
beserta peralatannya sebagai berikut :
1. Ruang
: 3.00 4.00 m
2. Peralatan/Fasilitas :
I. Meja tulis
II. Kursi
III. Papan tulis 100 100 Cm
IV. Rak arsip Gambar, Buku tamu, Buku Direksi,
Gambar kerja, Time schedule. Dll.
V. Tempat Air Minum
Yang
masing-masing
banyaknya
disesuaikan
dengan keadaan / kebutuhan.
d). Kontraktor harus membersihkan dan menjaga keamanan
dari kantor tersebut peralatannya dengan catatan
pembuatan Direksi Keet tersebut diatas adalah dengan
Biaya Sendiri dari Kontraktor / Pemborong.
5.1.6.2 Ijin Kerja
a.
Sebelum rekanan pemborong mengadakan persiapan di
lokasi sebelumnya harus memenuhi prosedur tentang tata
cara perijinan / perkenan untuk memulai persiapanpersiapan pembangunan kepada Pemimpin Kegiatan
( Direksi Teknis ) terutama tentang di mana harus
membangun bangunan, jalan masuk dan sebagainya.
b.
Pada saat mengadakan persiapan dan pengukuran,
Direksi lapangan sudah harus mulai aktif untuk
melaksanakan pengawasan sesuai dengan tugasnya.
c.
Untuk menghindari keraguan konstruksi, maka bagi
pemborong sebelum melaksanakan pekerjaan sesuai
dengan pentahapan/ urutan pekerjaannya, secara berkala
diwajibkan meminta persetujuan terlebih dahulu kepada
Direksi. Apabila terjadi kesalahan yang diakibatkan tidak
adanya ijin pelaksanaan, dari Pemimpin Kegiatan / Direksi
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 3 -

Teknis, maka kesalahan tersebut


tanggung jawab pemborong.

sepenuhnya

menjadi

5.1.7 JADWAL PELAKSANAAN


Pada saat Rekanan akan memulai pelaksanaan di lapangan, atau
setelah rekanan menerima SPK dari Pemimpin Kegiatan, maka
rekanan harus segera mengadakan persiapan, antara lain
pembuatan jadwal pelaksanaan yang berupa Barchart secara
tertulis, berisi tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan, waktu yang
dicantumkan atau direncanakan dan disesuaikan dengan jangka
waktu yang ditetapkan dalam kontrak, dan harus disahkan oleh
Pimpinan Proyek. Barchart tersebut harus selalu berada di lokasi
tempat pekerjaan diikuti dengan perkembangan hasil pelaksanaan
pekerjaan di lapangan, dengan, diberi tanda garis tinta warna
merah. Bila terjadi adanya hambatan dalam pelaksanaan pekerjaan,
semua pihak harus segera mengadakan langkah-langkah untuk
menanggulangi hambatan tersebut.
5.1.8 KUASA PEMBORONG DI LAPANGAN.
5.1.8.1 Pengawas dan Prosedur Pelaksanaan.
Pemborong / rekanan harus mengawasi dan memimpin
pekerjaan
dengan
kecakapan
dan
perhatian
penuh.
Bertanggung jawab untuk semua alat-alat konstruksi, cara-cara
teknik, urutan dan prosedur, dan mengkoordinasikan bagian
bagian dari semua yang tertulis dalam kontrak.
5.1.8.2 Pegawai Pemborong yang melaksanakan.
a. Sebagai
pemimpin
sehari-hari
dalam
pelaksanaan
pekerjaan, pemborong harus menyerahkan kepada seorang
pelaksana yang ahli, sesuai dengan bidang keahliannya,
cakap, dan diberi kuasa secara penuh tanggung jawab,
selalu berada di tempat pekerjaan.
b. Sebagi penanggung jawab di lapangan pekerjaan, pelaksana
harus mempelajari dan mendalami semua isi gambar,
bestek dan berita Acara Aanwijzing, sehingga tidak terjadi
kesalahan-kesalahan baik konstruksi maupun kualitas
bahan-bahan yang harus dilaksanakan.
c. Perubahan konstruksi maupun perubahan bahan-bahan
bangunan dapat dilaksanakan apabila mendapat ijin tertulis
dari Pemimpin Kegiatan berdasarkan rapat Direksi.
Menyimpang dari hal tersebut menjadi tanggung jawab
pemborong, untuk melaksanakan sesuai gambar dan bestek
d. Pemimpin Kegiatan berhak menolak penunjukan seorang
pelaksana (Ultvoerder) dari pemborong berdasarkan
pendidikan, pengalaman, tingkah laku dan kecakapan dalam
hal ini pemborong harus segera menempatkan pengganti
lain dengan persetujuan Direksi.

5.1.9 PENJAGAAN KEAMANAN LAPANGAN PEKERJAAN.


5.1.9.1 Kamanan dan Kesejahteraan.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 4 -

Selama
pelaksanaan
pekerjaan
pemborong
diwajibkan
mengadakan segala hal yang diperlukan untuk keamanan para
pekerja dan tamu, seperti pertolongan pertama, sanitasi, air
minum, dan fasilitas-fasilitas kesejahteraan. Juga diwajibkan
memenuhi segala peraturan, tata tertib, ordonansi Pemerintah
atau Pemerintah Daerah Setempat.
5.1.9.2 Terhadap Wilayah Orang Lain.
Pemborong di haruskan membatasi daerah operasinya disekitar
tampak dan harus mencegah para pekerjanya melanggar
wilayah orang lain yang berdekatan.Pemborong harus menjaga
agar jalanan umum, jalan kecil dan hak pemakaian jalan, bersih
dari bahan-bahan bangunan dan sebagainya dan memelihara
kelancaran lalu lintas, baik bagi kendaraan bermotor maupun
pejalan kaki selama kontrak berlangsung. Pemborong juga
bertanggung jawab atas gangguan dan pemindahan yang
terjadi atas kelengkapan umum (vasilitas) seperti saluran air,
listrik dan sebagainya yang disebabkan oleh operasi-operasi
pemborong maka biaya pemasangan kembali dan segala
perbaikan-perbaikan kerusakan menjadi tanggung jawab
pemborong.
5.1.9.3 Keamanan Terhadap Pekerjaan.
Pemborong bertanggung jawab atas keamanan seluruh
pekerjaan termasuk bahan-bahan bangunan dan perlengkapan
instalasi di tapak, hingga kontrak selesai dan diterima baik oleh
Pengguna Jasa. Ia harus menjaga perlengkapan bahan-bahan
dari segala kemungkinan kerusakan, kehilangan dan
sebagainya untuk seluruh pekerjaan termasuk bagian-bagian
yang dilaksanakan oleh pekerja-pekerja dan menjaga agar
pekerjaan bebas dari air hujan dengan melindungi memakai
tutup yang layak, memompa atau menimba seperti apa yang
dikehendaki atau diinstruksikan.
5.1.10 Alat alat pelaksanaan / pengukuran.
a. Selama pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus menyediakan/
menyiapkan alat-alat, baik untuk sarana peralatan pekerjaan
maupun perlaratan-peralatan yang diperlukan untuk memenuhi
kualitas hasil pekerjaan antara lain pompa, beton molen dan
sebagainya.
b. Penentuan titik-titik juga letak bangunan, siku-siku bangunan
maupun datar (waterpas) dan tegak lurusnya bangunan harus
ditentukan dengan memakai alat ukur Theodolith/Waterpass
terkecuali mendapatkan persetujuan lain lain dari Direksi Teknis
penentuan dengan cara manual tidak diperkenankan.
5.1.11 Syarat syarat cara pemeriksaan bahan bangunan
a. Pemborong harus selalu memegang teguh disiplin keras dan
perintah yang baik antara pekerjanya dan tak akan mengerjakan
tenaga yang tidak sesuai atau tidak mempunyai keahlian dalam
tugas yang diserahkan kepadanya.
b. Pemborong menjamin bahwa semua bahan bangunan dan
perlengkapan yang disediakan menurut kontrak dalam keadaan
baru dan bahwa semua pekerjaan akan berkualitas baik bebas
dari cacat.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 5 -

c. Semua pekerjaan tidak sesuai dengan standart ini dapat


dianggap defektif.
d. Dalam
pengajuan
penawaran
pemborong
harus
memperhitungkan biaya-biaya pengujian / pemeriksaan berbagai
bahan pekerjaan.
5.1.12 Pekerjaan tidak baik
a. Pengguna Jasa berhak mengeluarkan instrusi agar pemborong
membongkar pekerjaan apa saja yang telah ditutup untuk
diperiksa, atau mengatur untuk mengadakan pengujian bahanbahan atau barang-barang, baik yang sudah dilaksanakan. Biaya
untuk pekerjaan dan sebagainya menjadi bahan Pemborong
untuk disempurnakan dengan kontrak.
b. Pengguna
Jasa
berhak
mengeluarkan
instruksi
untuk
menyingkirkan dari tempat pekerjaan, pekerjaan-pekerjaan,
bahan-bahan atau barang-barang apa saja yang tidak sesuai
dengan kontrak.
c. Kontraktor harus bertanggung jawab atas kesetabilan dan
keutuhan dari semua Pekerjaan yang telah diselesaikannya. Ia
harus mengganti dengan biayanya sendiri setiap Pekerjaan yang
rusak atau tidak baik, yang menurut pendapat Direksi Teknik,
disebabkan karena kelalaian kontraktor. Akan tetapi Kontraktor
tidak akan diminta pertanggung jawabannya terhadap kerusakan
yang timbul dari alam seperti angin topan atau akibat gempa
atau pergeseran tanah yang tidak dapat dihindarkan di tempat
Pekerjaan, asalkan Pekerjaan yang rusak tersebut telah diterima
dan dinyatakan secara tertulis telah Selesai oleh Direksi Teknik.
5. 2. PEKERJAAN PERSIAPAN
5.2.1 IJIN BANGUNAN DAN IKLAN
a. Biaya ijin bangunan dan pengurusan menjadi beban pemborong
dan dikalkulasikan dalam biaya pekerjaan persiapan dalam
penawaran.
b. Pemborong tidak diijinkan membuat iklan dalam bentuk apapun
dalam batas-batas lapangan pekerjaan atau ditanah yang
berdekatan tanpa ijin Direksi.
c. Pemborong harus melarang siapapun yang tidak berkepentingan
memasuki lapangan pekerjaan.
d. Pemborong harus memasang papan nama Proyek dilokasi
dengan ukuran 0.80 1.20 m warna dasar putih tulisan hitam.
5.2.2 PAPAN BOUWPLANK (BANGUNAN) dan 0.00 BANGUNAN
a. Tiang bouwplank menggunakan kayu tahun ukuran 5 7 cm
papan harus cukup kuat 2 20 cm dari kayu Kruing diketam
halus bagian atasnya harus dipasang datar dengan penggunaan
alat ukur sebagaimana tertera pada pasal 5.1.10 ( b ).
Penggunaan waterpas instrument hanya diperbolehkan dengan
ijin tertulis dari Direksi Teknis.
b. Pemasangan bouwplank harus sekeliling bangunan dengan jarak
minimum 2,00 m dari as bangunan.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 6 -

c. Bouwplank tidak boleh dilepas/dibongkar dan harus tetap berdiri


tegak pada tempatnya hingga selesai pemasangan trasram
tembok seleasai.
d. Pemasangan papan bouwplank bagian atasnya dipasang sama
dengan duga 0,00 bangunan, dimana 0.00 bangunan disesuaikan
dengan gambar rencana.
e. Bila tidak terjadi ketidak sesuaian antara batas-batas / letak
tanah yang tersedia dengan apa yang terlukis dalam gambar,
maka pemborong harus segera memberitahukan secara tertulis
kepada Pemimpin Kegiatan dan Konsultan Pengawas untuk
mendapatkan keputusan
5.2.3 Pembersihan Lokasi
Pembersihan Lokasi Meliputi pemotongan pohon, pembongkaran
trotoar atau bangunan yang berada pada area pekerjaan atau
sesuai petunjuk Direksi.
5. 3. PEKERJAAN TANAH
5.3.1 PEKERJAAN TANAH DAN URUGAN
5.3.1.1 Umum :
a. Bagian ini mencakup seluruh pekerjaan tanah yang diminta
oleh bagian-bagian pekerjaan dari paket kegiatan ini,
sebagaimana dituntut oleh gambar dan R.K.S .
b. Sebelum pekerjaan tanah dimulai Kontraktor berkewajiban
untuk meneliti semua Dokumen Kontrak yang berhubungan,
memeriksa kebenaran dari kondisi pekerjaan, meninjau
tempat pekerjaan dan kondisi-kondisi yang ada, melakukan
pengukuran dan mempertimbangkan seluruh lingkup
pekerjaan yang dibutuhkan untuk penyelesaian dan
kelengkapan proyek.
c. Pengukuran harus dilakukan dengan teliti bersama-sama
dengan Konsultan Pengawas dan Direksi Teknik.
5.3.1.2 Pelaksanaan pekerjaan galian:
a. Pekerjaan galian tanah baru, yang dikerjakan tidak boleh
dimulai sebelum papan dasar pelaksanaan / Bouwplank
serta tanda tinggi dasar + 0.00 yang dibuat dari patok
permanen dan sumbu-sumbu tiang disetujui Direksi Teknis.
b. Pekerjaan galian tanah yang terkait dengan Pekerjaan ini
adalah pembuatan lubang strouss pile, galian tanah pondasi
biasa, pekerjaan bouwplank, dimana Pekerjaan bouwpalnk
tidak boleh dibongkar / dilepas sebelum Pekerjaan Pasangan
Trasram selesai dilaksanakan.
c. Segala pekerjaan pengukuran persiapan / uitset menjadi
tanggungjawab
Pemborong,
dan
harus
mendapat
persetujuan dari Direksi Teknis.
d. Pekerjaan pekerjaan tersebut di atas harus dilaksanakan
berikut pengerjaan dan pengadaan segala macam bahan,
alat-alat, pengerahan tenaga kerja dan lain-lainnya,
meskipun hal tersebut tidak diuraikan secara terperinci
dalam Spesifikasi ini.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 7 -

5.3.1.3 Pekerjaan pengurugan lokasi dan pengurugan kembali eks


galian.
a. Sebelum Pekerjaan Pengurugan dilaksanakan, tanah di mana
bangunan akan didirikan harus dibersihkan dari segala
kotoran, seperti sisa-sisa tumbuhan, akar-akaran dan
sebagainya.
b. Sebelum pengurugan dilaksanakan kontraktor harus
mengajukan contoh tanah urugan Kepada Pemimpin
Kegiatan dan Direksi Lapangan.
c. Tanpa persetujuan Direksi Teknis, Kontraktor tidak
dibenarkan mendatangkan material di lokasi Pekerjaan.
d. Dalam
pelaksanaan
pengurugan,
pemborong
harus
menyiapkan alat pemadat
sesuai petunjuk Pemimpin
Kegiatan atau Konsultan Supervisi. Pelaksanaan pengurugan
harus dilaksanakan lapis demi lapis maksimal 20 cm,
sehingga akan mendapatkan kepadatan yang disyaratkan.
e. Kedalaman parit pondasi harus disesuaikan dengan gambar
detail, hal-hal yang meyimpang akan diperhitungkan
sebagai pekerjaan lebih atau kurang, galian harus cukup
lebar untuk dapatnya bekerja dengan baik, serta sisi-sisinya
tidak mudah gugur. Galian tanah pondasi harus dibuang di
luar bouwplank dan diratakan di luar gedung sedemikian
rupa hingga tidak mudah gugur kembali ke dalam lubang
parit pondasi.
f. Jika Direksi menganggap pondasi sudah cukup mengeras,
urugan dilakukan selapis demi selapis dengan pasir urug
yang sudah dipilih (bersih), dan ditumbuk hingga padat.
g. Urugan samping pondasi, seluruhnya dilaksanakan dengan
urugan tanah galian hingga mencapai tanah asli, baik
bagian luar maupun bagian dalam dipadatkan dan disiram
air hingga padat betul.
h. Urugan pasir dilaksanakan di bawah pondasi, di bawah
lantai, di bawah paving stone, di bawah lantai kerja, di
bawah rabat dan ditempat lainnya sesuai dengan gambar
dan rencana pengurugan.
i. Tebal masing-masing urugan dilaksanakan sesuai gambar.
j. Urugan bekas galian pondasi diurug dengan menggunakan
tanah bekas galian, termasuk pengurugan bagian luar
pondasi,
dilaksanakan selapis demi selapis (20 cm),
dipadatkan sampai mencapai kepadatan yang cukup
sempurna, dan disetujui oleh Direksi Teknis.
k. Semua bahan urugan (pasir dan tanah bekas galian) yang
dipergunakan harus bebas dari bahan bongkaran, batubatuan dan benda yang dapat merugikan.

II. 2 LAPIS PONDASI BATU BELAH ( TELFORD )


5.5.1 UMUM
(1) Uraian
Pekerjaan ini meliputi pemasokan, pengangkutan, penyusunan,
penghamparan dan pemadatan material untuk konstruksi pondasi
(base) sistem telford diatas permukaan yang telah disiapkan dan telah
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 8 -

diterima sesuai dengan perincian yang ditunjukkan dalam Gambar


Rencana atau sesuai dengan perintah Direksi Teknik, dan memelihara
lapis pondasi yang telah selesai sesuai dengan yang disyaratkan.
Pemasokan harus meliputi, bila perlu pemecahan, pengayakan,
pemisahan, pencampuran dan operasi lain yang perlu untuk
menghasilkan suatu bahan yang memenuhi persyaratan dari Seksi ini.
(2) Toleransi Dimensi
(a) Permukaan lapis akhir harus sesuai dengan Gambar Rencana
dengan toleransi tinggi permukaan + 1 cm terhadap tebal
yang disyaratkan.
(b) Tidak boleh ada ketidak rataan pada permukaan sehingga
dapat menahan air dan semua punggung permukaan harus
sesuai dengan yang tercantum pada Gambar Rencana.
(3) Standar Rujukan
British Standard BS 812
Metode Pengambilan Contoh dan
Pengujian Agregat Mineral Pasir dan Filler.
SNI 03 2417 1991
SII 0457 1881

Pengujian keausan agregat


dengan mesin Los Angeles.

Pengujian butiran ringan dalam


agregat

SNI 1774 1989 F CBR


AASHTO T 112 1981
Bongkahan lempung dan
partikel yang dapat hancur dalam
agregat.
(4) Pelaporan
Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) tidak boleh dipasang atau
disusun dan dipadatkan sebelum formasi pekerjaan tersebut
mendapat persetujuan dari Direksi Teknik.
(5) Pembatasan oleh Cuaca
Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) tidak boleh dipasang, dihampar atau
dipadatkan pada waktu hujan, atau setelah hujan dimana kandungan
kadar air
dari material tidak memenuhi syarat.
(6) Perbaikan Lapis
Memuaskan

Pondasi

Batu

Belah

(Telford)

yang

Tidak

(a) Bagian-bagian dengan tebal dan keseragaman permukaan


yang tidak memenuhi syarat atau kesalahan yang terjadi
pada material, maka bagian tersebut harus diperbaiki dan bila
perlu dengan mengganti material sehingga memenuhi
ketentuan yang disyaratkan.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 9 -

(b) Perbaikan Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) yang tidak


memenuhi persyaratan kepadatan, kesalahan pekerjaan
pelaksanaan yaitu pada cara pemasangan batu utama (induk)
yang tidak betul, tidak vertikal, sehingga timbul tidak ada
kerja sama antara batuan induk, sehingga pemasangan yang
tidak beraturan ini dianggap gagal menurut Direksi Teknik,
maka Kontraktor harus membongkar dan memasang kembali
dengan posisi yang betul dan mencakup pekerjaan
pemadatan.
(7) Pemeliharaan Pekerjaan yang Telah Diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan
terhadap pekerjaan yang tidak memuaskan atau gagal sebagaimana
tercantum dalam Paragraf 5.5.1 (6) diatas, Kontraktor harus juga
bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dari semua Lapis Pondasi
Batu Belah (Telford) yang telah selesai dan diterima selama Periode
Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan.
5.5.2 MATERIAL
(1) Sumber Material
Material Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) harus dipilih dari sumber yang
disetujui sesuai persyaratan dan hasil pengujian material yang tersedia.
(2) Persyaratan Sifat Material
Material yang dipilih untuk Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) harus terdiri dari
batu kali atau batu gunung yang dibelah atau dipecah dengan dimensi
yang memadai dan harus bebas dari material organik, gumpalan
lempung atau benda lain yang tidak dikehendaki dan harus mempunyai
kualitas sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan lapis pondasi
yang kuat dan stabil.
(3) Jenis dan Dimensi Material
(a) Pasir urug dengan ketebalan lapisan 10-15 cm
(b) Batu belah ukuran 15-20 cm
(c) Batu tepi ukuran 25-30 cm
(d) Batu pengisi ukuran 5-7 cm
5.5.3 PEMASANGAN DAN PEMADATAN LAPIS PONDASI BATU BELAH
(TELFORD)
(1) Penyiapan Formasi
Penyiapan badan jalan harus memenuhi Seksi 3.4 - Penyiapan
Badan Jalan dan diberi drainase secukupnya sehingga tidak
akan terjadi genangan air pada badan jalan.
(2) Penyiapan Alat
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 10 -

(a) Tandem Roller 4-8 ton


(b)Three Wheel Roller 6-8 ton
(c) Pneumatic Tire Roller 10-12 ton
(d)Truk, Sekop, Kereta dorong
(e) Sapu, Sikat, Karung
(f) Pengki, Emrat dan alat bantu lainnya.
(3) Cara Pelaksanaan
Metode pelaksanaan Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) dilakukan secara
manual dengan menggunakan tenaga manusia.
Diatas tanah dasar yang sudah disiapkan, dihampar pasir urug setebal
10-20 cm dan diratakan kemudian disusun batu kali atau batu gunung
ukuran 15-20 cm secara berdiri dengan bidang memanjang arah
vertikal, rapi dan berurutan. Untuk susunan batu kali terlebih dahulu
dipasang batu samping (tepi luar) yang difungsikan sebagai batu
pengikat.
Langkah selanjutnya ditaburkan batu pecah 5/7 sebagai batu
pengunci, kemudian dipadatkan sehingga rata, kuat dan padat.
Pelaksanaan terakhir, pada lapisan tersebut ditabur pasir kasar
dan dipadatkan dengan mesin gilas jenis Tandem Roller 6-8 ton
dengan kecepatan kurang lebih 3 km/jam sampai permukaan
mencapai bidang rata dan susunan konstruksi menjadi kuat dan
kokoh.
(4) Pengujian
(a) Pengujian pengendalian mutu rutin harus dilakukan untuk
mencapai hasil pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan
dan Gambar Rencana untuk memeriksa variabilitas material
yang dikirim ke tempat pekerjaan.
(b) Jumlah dan jenis pengujian harus sesuai dengan petunjuk
Direksi Teknik.

5.5.4 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


(1) Metode Pengukuran
Lapis Pondasi Batu Belah (Telford) harus diukur sebagai jumlah meter persegi
material yang dipasang langsung diatas permukaan tanah dasar,
yang sesuai dengan Gambar Rencana dan diterima oleh Direksi
Teknik.
Pembayaran tambahan tidak akan diberikan untuk pekerjaan yang dianggap
gagal termasuk penggantian material yang tidak memenuhi syarat
dan juga untuk pekerjaan perbaikan seperti yang diuraikan dalam
paragraph 5.5.1 (6).
(2) Dasar Pembayaran
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 11 -

Kuantitas yang ditentukan, sebagaimana diuraikan diatas, harus dibayar


menurut Harga Satuan per satuan pengukuran untuk Mata
Pembayaran yang terdaftar dibawah dan tercantum dalam Jadwal
Penawaran. Harga dan pembayaran ini harus merupakan
kompensasi penuh untuk pemasokan, pemasangan, pemadatan,
perlengkapan dan perkakas lainnya, penyelesaian akhir dan
pengujian material yang diperlukan untuk menyelesaikan dan
memelihara pekerjaan dan biaya-biaya lain yang perlu atau lazim
untuk penyelesaian pekerjaan yang benar dari pekerjaan yang
diuraikan dalam Seksi ini.
Nomor Mata
Pembayar
an
5.5

II.3

Satuan
Pengukura
n

Uraian

Lapis Pondasi
Batu Belah
( Telford )

Meter persegi

LAPIS PENETRASI MACADAM ( LAPEN )

6.10.1

UMUM
(1) Uraian
Pekerjaan ini mencakup pelaksanan pekerjaan lapisan aus atau
lapisan perata terbuat dari agregat yang distabilisasi dengan aspal
untuk penutup permukaan. Lapis penutup permukaan bisa
ditempatkan diatas suatu lapis Pondasi Agregat Kelas A yang baru
dikerjakan dan sudah diberikan lapis peresap, atau pada suatu
lapisan aspal yang sudah ada.
(2) Standar Rujukan
SNI 03-2457-1991Daya tahan terhadap abrasi ( gerusan ) dari
agregat
kasar
berukuran
kecil
dengan
menggunakan mesin Los Angeles.
SNI 0088-75

Penentuan mutu agregat dengan menggunakan


Sodium Sulfat.

SNI 06-2440-1991 Efek dari panas dan udara pada material aspal
(pengujian lapis tipis dalam tungku).
SNI 03-2439-1991 Pelapisan dan pengelupasan dari campuran
agregat dengan aspal.
AASHTO T112-78 Gumpalan lempung dan partikel yang mudah
pecah didalam agregat.
AASHTO M226 - 80

Kekentalan dari gradasi aspal semen

(3) Pembatasan oleh Cuaca dan Musim

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 12 -

Tidak boleh ada pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang


dilakukan diatas perkerasan basah, selama hujan, bila hujan
tampaknya akan turun atau sewaktu angin kencang. Pekerjaan
Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) hanya dapat dilaksanakan
selama musim kemarau, dan bila cuaca kemungkinan tetap baik
paling tidak dalam waktu 24 jam setelah pengerjaan.
(4) Standar Penerimaan dan Perbaikan dari Pekerjaan yang Tidak
Memuaskan
Suatu inspeksi resmi pada permukaan jalan lama, akan
dilakukan oleh Direksi Teknik atau oleh wakilnya sebelum
pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) dimulai, untuk
menentukan apakah permukaan jalan yang ada telah benar-benar
dipersiapkan dan telah dibersihkan sesuai ketentuan-ketentuan
dalam Paragraf 6.10.4 (2). Pihak Kontraktor tidak diperkenankan
memulai pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) sebelum
mendapat izin tertulis dari Direksi Teknik.
Standar penerimaan pekerjaan lapisan agregat pokok dari Lapis
Penetrasi Macadam (Lapen), bahwa tidak ada satu bagianpun
diatas permukaan yang tidak tertutup oleh lapisan agregat pokok
dan permukaan harus bebas dari material lepas dan kotor.
Lapisan agregat pengunci/penutup dari Lapis Penetrasi
Macadam (Lapen) harus dihamparkan hanya setelah lapisan
agregat pokok diselesaikan dengan standar diatas. Standar
penerimaan dari lapisan agregat pengunci/penutup adalah bahwa
tidak kurang dari 98% dari luas rongga-rongga permukaan dalam
lapisan agregat pokok/pengunci dalam setiap tempat yang lebih
besar dari 0,1 m2 harus terisi dengan agregat pengunci/penutup.
Lapisan agregat pengunci/penutup tidak boleh lebih dalam dari
satu batu diatas tiap lapisan batu dan permukaan harus bebas
dari material lepas.
Pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang telah selesai
harus dapat memuaskan Direksi Teknik dan permukaan harus
terlihat seragam dan bentuknya menerus, terkunci dengan rapat,
harus kedap air tanpa ada lubang-lubang atau tanpa
memperlihatkan adanya bagian yang kelebihan aspal.
Pekerjaan perbaikan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang
tidak memuaskan harus sesuai petunjuk Direksi Teknik dan
termasuk pula bagian pekerjaan penyingkiran atau penambahan
material,
penyingkiran
seluruh
material
dan
pekerjaan
penggantian, pekerjaan pelapisan ulang seluruh pekerjaan dengan
Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang baru sesuai keperluan
sampai didapatkannya suatu hasil pekerjaan yang memuaskan.
(5) Pemeliharaan Pekerjaan yang telah Diterima
Tanpa
mengabaikan
tanggung
jawab
Kontraktor
untuk
melaksanakan pekerjaan perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak
memuaskan atau gagal seperti dipersyaratkan dalam Paragraf
6.10.1 (4) diatas, pihak Kontraktor harus pula bertanggung jawab
terhadap pekerjaan pemeliharaan rutin atas semua pekerjaan
yang telah diselesaikan dan telah diterima dari perkerjaan Lapis
Penetrasi Macadam (Lapen) selama periode kontrak, termasuk
Periode Jaminan. Pekerjaan Pemeliharaan Rutin tersebut harus
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 13 -

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 10.1 Pemeliharaan Rutin Perkerasan Bahu Jalan, Drainase, Perlengkapan
Jalan dan Jembatan dan harus dibayar secara terpisah dibawah
Paragraf Pengukuran dan Pembayaran.
(6) Pelaporan
Pihak Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik hal
berikut ini:
(a) Contoh aspal sejumlah 5 liter yang diusulkan oleh Kontraktor
untuk dipakai dalam pekerjaan dilampiri dengan Sertifikat dari
Pabrik Pembuat, dan harus telah diserahkan sebelum
pelaksanaan pekerjaan dimulai. Sertifikat tersebut harus
menyatakan bahwa material pengikat tersebut sesuai dengan
Spesifikasi dan tingkat yang dipersyaratkan untuk Aspal,
seperti diberikan dalam Paragraf 6.10.2 (2).
(b) Suatu catatan yang memuaskan dari sertifikat Kalibrasi dari
semua perlengkapan/peralatan dan meteran dan tongkat
celup dari Alat Distribusi Aspal, seperti diuraikan dalam
Paragraf 6.10.3 (2) dan (3) harus diserahkan tidak boleh
kurang dari 30 hari sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.
Tongkat celup, instrumen dan meteran harus dikalibrasi
sampai toleransi ketelitian dan ketentuan-ketetuan seperti
diuraikan dalam Paragraf 6.10.3 (3) dan tanggal pelaksanaan
kalibrasi harus tidak boleh lebih dari dua tahun terhitung
sebelum saat dimulainya konstruksi.
(c) Diagram semprot harus memperlihatkan tinggi batang antara
kecepatan dan jumlah kuantitas pemakaian aspal distributor
yang digunakan juga harus menunjukkan hubungan antara
kecepatan pompa dan jumlah nozel yang digunakan, yang
berdasar pada keluaran aspal yang tetap pada nozel. Keluaran
aspal pada nozel (liter/menit) dalam keadaan konstan harus
dicatat pada diagram semprotan, demikian pula untuk
tekanan
semprotan.
Diagram
semprot
juga
harus
memperlihatkan tinggi batang semprot dari permukaan jalan
dan kedudukan sudut horizontal dari nozel semprot, hal ini
untuk maksud menjamin adanya tumpang tindih semprotan
sebanyak 3 lapis yang keluar dari nozel (yaitu lebar
permukaan yang tertutup aspal oleh setiap nozel adalah tepat
3 kali jarak antara nozel-nozel).
Grafik semprotan harus diserahkan sebelum pekerjaan
konstruksi dimulai, dengan demikian pemeriksaan dari pada
peralatan yang dipakai dapat dilaksanakan.
(d) Contoh-contoh agregat yang diusulkan untuk dipakai pada
pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen), disertai lampiran
daftar hasil pengujian seperti ditunjukkan pada Paragraf
6.10.2 (1) (b), dan harus telah diserahkan tidak boleh kurang
dari 30 hari sebelum produksi pelaburan agregat dimulai.
(e) Harus diserahkan pula laporan produksi, lokasi timbunan
material dan lokasi dari material yang diusulkan untuk dipakai
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 14 -

dalam pekerjaan. Hasil pengujian atas agregat laburan harus


sesuai persyaratan Paragraf 6.10.2 (1) dan Artikel 6.10.5 dan
harus dilaporkan paling kurang 5 hari sebelum timbunan
agregat laburan akan digunakan dalam pekerjaan.
(f)

Contoh-contoh material yang telah digunakan pada setiap


hari kerja, menurut Artikel 6.10.5. Catatan harian pekerjaan
Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang telah dilaksanakan
dan kuantitas penggunaan mateial menurut Artikel 6.10.5.

(7) Kondisi Tempat Kerja


(a) Permukaan pohon atau struktur atau hak milik lainnya didekat
daerah yang sedang dilapisi harus dilindungi sehingga tidak
tercemar dan tersemprot.
(b) Tidak boleh ada material aspal yang terbuang kedalam
selokan samping atau saluran.
(c)

Kontraktor harus menyediakan dan menjaga tempat


pemanasan aspal dengan suatu pencegah kebakaran yang
cukup serta tindakan-tindakan lainnya, dan juga fasilitas
untuk P3K.

(8) Pengendalian Lalu Lintas dan Periode Pengamanan


Pengendalian lalu lintas harus sesuai dengan persyaratan Seksi
1.7 Pemeliharaan Terhadap Arus Lalu Lintas, dengan tambahan
catatan yang harus diperhatikan berikut ini :
(a) Lalu lintas tidak diperbolehkan melintas tempat kerja sewaktu
penempatan material aspal, juga tidak boleh diijinkan untuk
melintas ke tepi dari meterial aspal sampai tempat tersebut
telah terlapisi agregat.
(b) Lalu lintas tidak diijinkan lewat diatas pekerjaan baru sebelum
paling tidak 3 lintasan mesin gilas diatas seluruh tempat yang
dilapisi untuk memperkecil resiko agregat terganggu. Jika
kendaraan diijinkan lewat diatas pekerjaan baru, rambu lalu
lintas yang diijinkan dengan tulisan
ASPAL CAIR dan 20
km/jam harus disediakan. Kerucut-kerucut, rambu lalu lintas
dan
penghalang-penghalang
harus
digunakan
untuk
mendapatkan suatu rintangan positif antara lalu lintas dan
agregat yang belum padat atau permukaan aspal yang masih
terbuka.
(c)

Pengawasan dan pengendalian penuh pada posisi, arah dan


kecepatan lalu lintas, menurut Seksi 1.7 - Pemeliharaan
Terhadap Arus Lalu Lintas, harus berlanjut selama 24 jam per
hari, dari saat dimulainya pekerjaan pelaburan dalam tiap
bagisn sampai paling tidak 48 jam setelah pekerjaan
pelaburan selesai, pengendalian penuh atas lalu lintas
dilanjutkan sampai suatu periode tanpa gangguan selama 48

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 15 -

jam pada cuaca bagus berlalu, keculi karena diperintahkan


oleh Direksi Teknik.
(d) Selama periode penyelesaian yang ditentukan dalam (c)
diatas, permukaan jalan harus disapu bersih seluruhnya dari
agregat-agregat yang lepas dan diawasi oleh Direksi Teknik.
Jika Direksi teknik mendapatkan bahwa permukaan tampak
kokoh, seluruh rambu dan penghalang lalu lintas harus
disingkirkan. Sebagai pilihan lain, Direksi Teknik dapat
memerintahkan kelanjutan pengendalian lalu lintas sampai
permukaan jalan menjadi kokoh dan seluruh perbaikanperbaikan yang diperlukan dikerjakan.
6.10.2

MATERIAL
(1) Agregat
(a) Agregat harus terdiri dari butiran yang bersih, kuat dari
kerikil pecah
atau batu pecah, bebas dari kotoran, lempung, debu atau
benda yang dapat mencegah pelapisan yang menyeluruh dari
aspal.
(b) Sumber agregat yang digunakan untuk memproduksi agregat
harus memenuhi persyaratan berikut ini:
(i)

Kehilangan akibat abrasi (SNI-03-2417-1991)


...................................................maks. 40%

..

(ii)

Aspal yang tertinggal setelah pengujian


pengelupasan (SNI-03-2439-1991) ............. min. 95%

(iii) Bagian-bagian yang lunak (AASHTO T 112) maks. 5%.


(c) Agregat harus dijaga supaya tetap dalam keadaan kering dan
bebas dari debu dan kotoran, dan harus memenuhi
persyaratan berikut :

Persentase berat dari kerikil pecah yang tertahan saringan


4,75 mm yang mempunyai paling tidak dua bidang pecah
minimum 90 %.

(d) Agregat yang digunakan terdiri dari agregat pokok, agregat


pengunci dan agregat penutup. Gradasi masing-masing
agregat harus memenuhi ketentuan dalam Tabel 6.10.2 (1)
dibawah ini.
Tabel 6.10.2 (1)

Gradasi Agregat
Persen Berat Lolos

Jenis Agregat

Tebal Lapisan (cm)


7 10

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 16 -

58

45

Agregat Pokok
Lolos :

75 mm
60 mm
50 mm
40 mm
25 mm
18 mm

100
90 100
35 75
0 15
05
-

100
95 100
35 70
0 15
05

100
95 100
05

100
90 100
05

100
95 100
05

100
95 100
05

100
85 100
10 30
0 10

100
85 100
10 30
0 10

100
85 100
10 30
0 10

Agregat Pengunci
Lolos : 25 mm
18 mm
9 mm
Agregat Penutup
Lolos : 12 mm
9 mm
4 mm
2 mm

(e) Agregat pengunci atau agregat penutup juga harus sanggup


saling mengunci kedalam rongga-rongga permukaan dalam
agregat pokok atau agregat pengunci yang telah dipadatkan.
(2) Bahan Aspal
(a) Bahan aspal pengikat yang dipakai harus dari jenis aspal
semen AC-10 (yang kurang lebih ekivalen dengan Aspal Pen.
80/100), atau dari AC-20 (yang kurang lebih ekivalen dengan
Aspal Pen. 60/70), memenuhi persyaratan AASHTO M 226-80,
diencerkan memakai minyak tanah sesuai ketentuan Tabel
6.10.2 (2).
Tabel 6.10.2 (2) Rencana Bahan Pengikat
Suhu
Ruang
Udara 0 C
17,5
20,0
22,5
25,0
27,5
30,0
32,5
34,0
> 36

Perbandingan Minyak Tanah terhadap :


Aspal Pen. 80/100
13
11
9
7
5
3
1
0
0

Aspal Pen. 60/70


15
13
11
9
7
5
3
2
0

Suhu
Semprota
n 0C
151
157
162
167
172
177
182
185
187

PPH = Bagian minyak tanah per 100 bagian volume aspal


Suhu semprotan yang sebenarnya harus berada antara harga
+ 10 % dari nilai-nilai yang telah ditentukan dalam Tabel
6.10.2 (2).

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 17 -

Setiap material aspal yang dipanaskan untuk temperatur


penyemprotan selama lebih dari 10 jam, atau telah
dipanaskan melewati 200 C diatas suhu semprot seperti
ditentukan pada Tabel 6.10.2 (2), harus ditolak, pengecualian
dapat diberikan kalau ternyata hasil pengujian kekentalan
(viskositas) menunjukkan bahwa material aspal tersebut
masih memenuhi persyaratan.
(b) Bilamana pelaksanaan pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam
(Lapen) terpaksa harus dilaksanakan dibawah kondisi cuaca
tanggung, atau daya tahan pengelupasan agregat ada dalam
batas batas akhir ( AASHTO T 182 ), maka Direksi Teknik
dapat memerintahkan Kontraktor untuk menambah bahan
adhesi-additive ( anti stripping ) kedalam bahan pengikat.
Additive yang dipakai harus dari jenis yang telah disetujui
oleh Direksi Teknik dan perbandingan campuran ( pph ) dari
bahan tersebut dengan material aspal harus menurut
ketentuan yang dipersyaratkan oleh pabrik pembuatnya.
Bahan adhesi tidak boleh disimpan lebih dari 10 jam didalam
bahan pengikat yang panas atau dapat disimpan kalau diberi
tambahan bahan adhesi.
(c) Dimana minyak tanah atau bahan adhesi yang ditambahkan
pada material aspal pencampurannya harus merata, caranya
dengan mensirkulasikan bahan tersebut pada seluruh tangki.
Variasi hasil adukan tersebut boleh melebihi + 2 pph minyak
tanah
dari
persyaratan
campuran
bahan
pengikat
berdasarkan pada hasil pada dua liter contoh dan setiap
campuran bahan pengikat. Jika pencampuran hendak dibuat
didalam distributor aspal, maka syaratnya semua bahan aspal
didalam distributor harus disirkulasikan paling kurang 30
menit pada kecepatan penuh pompa (pada sirkulasi mode
intern) atau menurut waktu yang lebih lama diperlukan
sehingga dicapai campuran yang rata pada suhu yang
merata.
6.10.3PERALATAN
(1) Kebutuhan Umum
Peralatan yang akan digunakan harus termasuk Distributor
Aspal yang dapat
menyemprot sendiri, dua mesin giling (roda karet dan roda baja),
alat penebar agregat paling kurang 2 (dua) dump truk tongkang
belakang, sapu lidi dan sikat dan peralatan untuk menuang drum
dan untuk memanaskan bahan aspal.
(2) Alat Distributor Aspal
(a) Distributor harus dipasang pada kendaraan beroda karet dan
harus mematuhi semua peraturan keselamatan jalan. Beban
pada roda bila dibebani penuh harus tidak boleh melampaui
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 18 -

ketentuan yang dipersyaratkan pabrik pembuat ban pada saat


operasi dengan kecepatan penuh.
(b)Sistim tangki bahan pengikat, pemanasan, pemompaan dan
penyemprotan harus sesuai dengan rekomendasi keamanan
dari peraturan yang ada.
(c) Alat penyemprot, harus didesain, diperlengkapi, dipelihara dan
dioperasikan sedemikian rupa sehingga bahan aspal dengan
panas yang merata dapat disemprotkan secara merata pada
berbagai variasi lebar permukaan, pada kuantitas yang
terkendali dalam batas 0,15 sampai
2,4 liter/m2.
(d)Distributor harus dilengkapi dengan batang semprot yang
mengsirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke
arah horisontal dan vertikal. Batang semprot harus terpasang
dengan jumlah minimum 24 nozel, dipasang pada jarak yang
sama 10 + 1 cm. Pipa semprot tangan juga harus dipasang.
(e) Tangki distributor harus benar-benar sempurna tersekat dalam
menahan aliran panas, dengan demikian apabila diisi penuh
oleh bahan pengikat pada temperatur 150 C, turunnya panas
tidak boleh melampaui 2,50 C per jam, aspal pengikat dan
distributor dalam keadaan diam.
(3) Toleransi Peralatan Aspal Distributor
Toleransi ketelitian dan ketentuan-ketentuan jarum baca yang
dipasang pada Aspal Distributor dengan batang semprot harus
sebagai berikut :
Tachometer Pengukur
Kecepatan kendaraan

+ 1,5 persen dari skala putaran


penuh
sesuai
ketentuanketentuan BS 3403

Tachometer Pengukur
Kecepatan putaran
pompa

+ 1,5 persen dari skala putaran


penuh
sesuai
ketentuanketentuan BS 3403

Pengukur suhu

+ 5 C, skala antara 0-2500 C


minimum garis tengah skala 70
mm.

Pengukur Volume atau


Tongkat Celup

+ 2 persen dari total volume


tangki, nilai maksimum garis
skala Tongkat Celup 50 liter.

(4) Mesin Giling


Mesin giling roda karet harus mempunyai lebar pemadatan total
tak boleh kurang dari 1,5 meter, dan harus mempunyai mesin
penggerak sendiri. Mesin giling roda baja dapat berupa Tandem
Roller 6 8 ton atau Three Wheel Roller 6 8 ton.
(5) Alat Penghampar Agregat
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 19 -

Peralatan penghampar agregat harus mampu menghampar


agregat secara merata pada kuantitas kendali, diatas bidang
permukaan dengan lebar paling kurang 2,4 meter dan suatu
peralatan khusus harus sedemikian rupa pada sisi badan truk
sehingga lebar hamparan dapat diatur. Desain dari alat
penghampar agregat dan kecepatan penghamparan harus
sedemikian rupa sehingga terjamin bahwa agregat yang dihampar
tak akan bertumpuk pada permukaan yang telah disemprot aspal.
Paling kurang harus disiapkan 2 truk penghampar agregat atau
paling tidak disiapkan satu alat penghampar agregat yang
diperasikan secara otomatis memakai Belt (Four wheel drive belt
spreader). Penghamparan/penebaran agregat memakai tangan
hanya dapat dilakukan dalam hubungannya dengan pemakaian
sikat baja ( garpu baja ).
(6) Sikat
Sapu ijuk kasar untuk re-distribusi agregat dan sikat mekanis
untuk menyingkirkan kelebihan agregat harus disiapkan.
(7) Peralatan lain
Peralatan tambahan lain yang boleh dipakai oleh Kontraktor demi
untuk meningkatkan kinerja hasil pekerjaan dapat ditambahkan
hanya kalau telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Direksi Teknik.
6.10.4

PELAKSANAAN PEKERJAAN
(1) Kuantitas dari Material yang akan Dipakai
(a) Kuantitas material agregat dan aspal yang akan digunakan
untuk pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) harus
ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam Tabel 6.10.4.
Tabel 6.10.4

Kuantitas Material Agregat dan Aspal

Agregat Ppkok
kg/m2

Tebal
Lapis
an
cm

Tebal Lapisan (cm)

II

10
9
8
8
7
7
6
5
5

710

200
180
160
140
-

5-8

152
133
114
105
-

Aspal
kg/m2

Agreg
at
Penut
up
kg/m2

III

IV

VI

8,5
7,5
6,5
6,0
5,5
5,2
4,4
3,7
3,5

25
25
25
25
25
25
25
25
25

1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5

14
14
14
14
14
14
14
14
14

4-5

80

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 20 -

Aspal
kg/m2

Agrega
t
Pengu
nci
kg/m2

(b) Dalam hal Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) digunakan


sebagai Lapisan Perata atau Lapen Levelling, maka material
aspal dalam kolom V dan material agregat (agregat penutup)
dalam kolom VI dari Tabel 6.10.4 tidak berlaku / tidak dipakai,
dan untuk tebal lapisan dalam kolom I dari Tabel 6.10.4 harus
dikoreksi dengan mengurangi dengan 1,5 cm sebagai tebal
rencana dari Lapen Levelling.
(2) Pekerjaan Persiapan Permukaan Jalan Lama
(a) Sebelum permukaan jalan lama diberi lapis resap pengikat
atau lapis perekat, maka pemukaan tersebut harus benarbenar bersih dari kotoran dan bahan-bahan yang tidak
dikehendaki
lainnya.
Pekerjaan
pembersihan
harus
dilaksanakan memakai alat penyapu debu atau peniup debu.
Jika hasil pekerjaan pembersihan tidak merata, maka bagianbagian yang belum besih dapat dibersihkan memakai sapu
kawat baja.
(b) Pembersihan daerah permukaan harus dilebihkan paling
kurang 20 cm dari tiap-tiap tepi yang akan disemprot.
(c) Lubang-lubang atau tonjolan-tonjolan dari bahan-bahan yang
tidak dikehendaki yang terlihat harus dikeluarkan dari
pemukaan memakai alat penggaru baja atau cara lain yang
disetujui dan bila atas perintah Direksi Teknik, bahwa daerah
yang telah digaru harus dicuci dengan air dan disikat
memakai
sikat
tangan,
maka
Kontraktor
harus
melaksanakannya.
(d) Sama sekali tidak diperkenankan melaksanakan pekerjaan
Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) sebelum pekerjaan
pembersihan telah memuaskan Direksi Teknik.
(e) Permukaan lama yang belum beraspal, sebelum diberi Lapis
Penetrasi Macadam (Lapen) harus terlebih dahulu diberi lapis
resap pengikat, dan permukaan lama yang sudah beraspal,
sebelum diberi Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) harus
terlebih dahulu diberi lapis perekat, yang sesuai ketentuanketentuan dalam Seksi 6.1 - Lapis Resap Pengikat dan Lapis
Perekat. Bagian permukaan jalan yang sudah diberi lapis
resap pengikat atau lapis perekat harus diperiksa kembali
kesempurnaannya.
Apabila ditemui adanya daerah-daerah / bagian-bagian yang
belum tertutup lapis resap pengikat atau lapis perekat, maka
harus diadakan pelaburan ulang lapis resap pengikat atau
lapis perekat sesuai petunjuk Direksi Teknik. Laburan lapis
resap pengikat atau lapis perekat harus dibiarkan kering,
paling kurang 48 jam, atau menurut periode waktu yang lebih
lama sesuai petunjuk Direksi Teknik. Lapis resap pengikat
atau lapis perekat harus dibiarkan sampai benar-benar kering,
sebelum pekerjaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) dimulai.
(f)

Semua lubang-lubang harus ditutup / diperbaiki terlebih


dahulu oleh pihak Kontraktor, sebelum pekerjaan Lapis

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 21 -

Penetrasi Macadam (Lapen) dimulai dan harus memuaskan


Direksi Teknik.
(3) Pemakaian Bahan Aspal
(a) Pemakaian aspal harus dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga hasil penanganan yang diperoleh merata pada
semua titik. Pemakaian bahan aspal yang merata sesuai
kuantitas yang ditentukan dalam Tabel 6.10.4, harus dibuat
dengan menggunakan peralatan batang semprotan distributor
aspal dengan pengecualian apabila penggunaan Distributor
tidak praktis pada daerah yang kecil, maka Direksi Teknik
kemungkinan dapat menyetujui penggunaan terbatas
peralatan semprot aspal tangan.
Distributor aspal harus dioperasikan menurut grafik
penyemprotan yang telah mendapat persetujuan. Kecepatan
pompa, kecepatan kendaraan, tinggi batang semprot dan
kedudukan nozel harus dipasang sesuai dengan grafik yang
telah disetujui sebelumnya demikian pula selama setiap
operasi penyemprotan.
(b) Suhu pada saat penyemprotan tidak boleh bervariasi melebihi
10 C dari harga-harga yang telah diberikan dalam Tabel
6.10.2 (2).
(c)

Apabila diperintahkan oleh Direksi Teknik bahwa pemakaian


bahan aspal setiap lintasan semprotan hanyalah dilaksanakan
setengah lebar atau lebih kecil dari lebar rencana dan bila hal
tersebut dilaksanakan maka harus ada satu jalur tumpang
tindih selebar 20 cm sepanjang jalur yang berdekatan. Lebar
jalur sambungan longitudinal yang 20 cm ini, harus tetap
dibiarkan tidak diberi agregat penutup sampai penyemprotan
di daerah sampingnya tumpang tindih diatas sambungan 20
cm. Hal yang sama dilakukan pada lebar penyemprotan, yang
harus lebih besar dari pada lebar yang akan dilaburi pada tepi
permukaan perkerasan atau dari tepi bahu jalan, hal ini
dimaksudkan untuk memberi tempat kuantitas pemakaian
aspal yang kurang pada bagian tepi.

(d) Lembaran pelindung alur dari kertas bangunan atau material


yang sama yang tidak berpori, dan lentur, dihamparkan
diatas permukaan pada titik mula dan bagian akhir setiap
lintasan semprotan. Aliran yang melalui nozel harus mulai
dibuka dan ditutup ( dihentikan ) seluruhnya pada alur
lembaran, dengan demikian semua nozel bekerja dengan
benar pada seluruh panjang jalan yang dilabur. Lebar dari
pada lembaran alur harus cukup sehingga menjamin hal-hal
diatas tercapai.
Distributor aspal harus mulai bergerak tidak boleh kurang 5
meter dimuka daerah yang akan disemprot, sehingga
kecepatan jelajah harus tepat bila batang semprot mencapai
kertas alur dan kecepatan ini harus dipertahankan sampai
melewati titik akhir dari pemakaian bahan pengikat.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 22 -

Lembaran kertas alur harus segera disingkirkan dan dibuang,


dan harus memuaskan Direksi Teknik.
(e) Setiap distributor aspal selesai menyemprot, diharuskan
dalam tangkinya tetap ada cadangan aspal sebesar 10 % dari
volume terpasang tangki, atau sejumlah persentase lainnya
seperti ditetapkan oleh Direksi Teknik, sedemikian rupa untuk
mencegah masuknya udara pada sistem penyemprotan aspal
dan sebagai cadangan untuk pemakaian kuantitas yang
sedikit berlebih.
(f)

Jumlah dari aspal pengikat yang telah digunakan dalam setiap


lintasan semprot, atau daerah yang disemprot tangan harus
diukur dengan cara mencelup tangki aspal distributor segera
sebelum dan sesudah setiap lintasan semprot, demikian pula
pada pemakaian semprot tangan.

(g) Daerah
yang
telah
tertutupi
aspal
untuk
setiap
lintasan semprot
dimaksudkan sebagai hasil kali panjang dari lintasan semprot
antara alur yang terlindung lembaran dan lebar efektif dari
semprotan yang didefinisikan sebagai hasil kali dari jumlah
nosel yang bekerja dan jarak antara nozel yang berdekatan.
(h) Ukuran-ukuran dari daeran jalan yang telah tertutup disetiap
daerah yang
disemprot tangan harus diukur dan luasnya dihitung segera
setelah penyemprotan daerah tersebut selesai.
(i)

Kuantitas rata-rata pemakaian bahan aspal pengikat pada


setiap lintasan semprot atau daerah yang disemprot tangan,
didefinisikan dari bahan pengikat aspal yang digunakan dibagi
luas daerah yang tertutup aspal, dan jumlahnya harus sesuai
dengan Tabel 6.10.4 dengan toleransi sebagai berikut:
Toleransi
(4% dari kuantitas yang diperintahkan + 1%
dari volume tangki)
Kuantitas
=
Pemakaian
luas yang disemprot

(j)

Kuantitas pemakaian yang dicapai harus dihitung sebelum


lintasan semprotan berikutnya atau daerah semprotan
tangan dimulai dan setiap
penyesuaian yang perlu harus dibuat untuk menjamin bahwa
kuantitas pemakaian yang ditentukan telah dicapai pada
semprotan berikutnya.
Penyemprotan harus segera dihentikan jika ditemui adanya
kerusakan pada peralatan penyemprot dan pekerjaan tidak
boleh dimulai lagi sebelum kerusakan diperbaiki.

(4) Penghamparan Agregat


(a) Sebelum
material
aspal
digunakan,
agregat
yang
kuantitasnya cukup sudah tersedia dalam bak truk di
lapangan. Jumlahnya harus cukup untuk menutup seluruh
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 23 -

daerah yang akan dilaburi agregat. Agregat tersebut harus


bersih dan dalam kondisi sedemikian rupa sehingga dapat
dijamin ia akan melekat ke bahan pengikat dalam waktu 5
menit setelah penyemprotan. Penghamparan agregat
tersebut harus dilaksanakan segera setelah penyemprotan
aspal dimulai dan harus diselesaikan dalam jangka waktu 5
menit terhitung sejak selesainya penyemprotan atau selesai
dalam jangka waktu yang lebih singkat sesuai perintah Direksi
Teknik.
(b) Agregat harus dihampar merata diatas permukaan yang telah
disemprot aspal, menggunakan alat penghampar agregat
yang telah disetujui Direksi Teknik. Setiap bagian yang tidak
tertutup hamparan agregat atau tidak tertutup dengan cukup,
harus segera ditutup kembali menggunakan peralatan
penghampar atau memakai tangan seperlunya sampai
memberikan suatu permukaan yang tertutup seluruhnya dan
seragam. Setiap kelebihan agregat hamparan dari jumlah
kuantitas yang dipersyaratkan harus dihamparkan kembali
dan didistribusikan secara merata diatas permukaan jalan
memakai garpu baja atau singkirkan bahan tersebut dan
tumpuk sesuai petunjuk-petunjuk Direksi Teknik.
(5) Penyapuan dan Penggilasaan
(a) Segera
setelah
penghamparan
agregat, dan telah
memuaskan Direksi Teknik, maka agregat tersebut harus
digilas dengan mesin gilas roda baja atau roda karet.
Pemakaian agregat yang berlebihan atau tidak rata harus
disingkirkan/didistribusikan dengan garpu baja ke tempat
sekitarnya sebelum penyelesaian penggilasan.
(b) Penggilasan harus segera dimulai setelah agregat disebarkan
dan redistribusi memakai sapu dan harus dilanjutkan sampai
seluruh daerah tersebut telah mengalami penggilasan penuh
sebanyak 6 (enam) kali.
(c) Jalan kemudian harus dibersihkan dari material agregat yang
berkelebihan sesuai dengan ketentuan dari Paragraf 6.10.1
(8)(d).
(6) Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan
Secara singkat prosedur pelaksanaan Lapis Penetrasi Macadam
(Lapen) dapat diuraikan sebagai berikut :
(a)
(b)
(c)
(d)

Pembersihan
dan penyempurnaan
permukaan
sesuai
ketentuan
Paragraf 6.10.4 (2)
Pemberian lapis resap pengikat atau lapis perekat pada
permukaan lama sesuai ketentuan Paragraf 6.10.4 (2)
Penghamparan agregat pokok sesuai ketentuan Paragraf
6.10.4 (4)
Penggilasan agregat pokok sesuai ketentuan Paragraf 6.10.4
(5)

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 24 -

(e)
(f)
(g)
(h)
(i)
(j)

Penyemprotan aspal sesuai ketentuan Paragraf 6.10.4 (3)


dengan kuantitas aspal sesuai Tabel 6.10.4 kolom III.
Penghamparan agregat pengunci sesuai ketentuan Paragraf
6.10.4 (4)
Penggilasan agregat pengunci sesuai ketentuan Paragraf
6.10.4 (5)
Penyemprotan aspal sesuai ketentuan Paragraf 6.10.4 (3)
dengan kuantitas aspal sesuai Tabel 6.10.4 kolom V.
Penghamparan agregat penutup sesuai ketentuan Paragraf
6.10.4 (4)
Penggilasan agregat pengunci sesuai ketentuan Paragraf
6.10.4 (5).

Dalam hal Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) digunakan sebagai


Lapisan Perata atau Lapen Levelling, maka butir (h) sampai
dengan (j) tidak berlaku / tidak dipakai.

(7) Pelaksanaan Pekerjaan Secara Manual


Pelaksanaan Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) secara manual
hanya diperbolehkan dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu
dari Direksi Teknik dan terbatas hanya untuk pekerjaan minor saja.
6.10.5

PENGENDALIAN MUTU DAN PENGUJIAN LAPANGAN


(1) Contoh aspal dan sertifikatnya, sesuai dengan ketentuan Paragraf
6.10.1 (6)(a), harus disediakan untuk penyerahan aspal di
lapangan.
(2) Contoh aspal sejumlah dua liter dari setiap laburan yang telah
dicampur harus diambil dari distributor dekat tempat dimulainya
pekerjaan dan bagian akhir pekerjaan setiap hari kerja.
(3) Jumlah data uji pendukung yang diperlukan untuk persetujuan awal
dari mutu sumber bahan agregat penutup harus sesuai petunjuk
Direksi Teknik tapi harus termasuk semua pengujian seperti
dipersyaratkan dalam Paragraf 6.10.2 (1) (b) dengan paling kurang
tiga wakil contoh dari sumber bahan yang diusulkan akan dipakai,
dipilih untuk mewakili batas-batas mutu bahan yang kira-kira
sama untuk didapatkan dari sumber bahan.
Menyusul persetujuan mengenai mutu material bahan agregat
penutup, pengujian ini harus diulang lagi selanjutnya, sesuai
petunjuk Direksi Teknik, dalam hal menurut hasil pengamatan ada
perubahan pada material atau sumbernya.
(4) Distributor aspal harus diinspeksi dan diuji sebagai berikut:
(a) Mendahului dimulainya pekerjaan semprotan pada Kontrak
(b) Setiap 6 bulan atau 150.000 liter aspal yang telah disemprot
oleh distributor diambil yang mana lebih sering, dan

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 25 -

(c)

Setelah terjadi kecelakaan atau diadakan modifikasi pada


distributor, atau ada kejadian lain yang menurut pendapat
Direksi Teknik perlu diadakan pemeriksaan ulang terhadap
distributor.

(5) Keseluruhan jenis pengujian dan analisa ukuran butir tercantum


dalam Tabel
dari Paragraf 6.10.2 (1) (c dan d) harus dilakukan pada setiap
tumpukan material sebelum setiap material tersebut dipakai. Tidak
boleh kurang dari satu contoh harus diambil dan diuji untuk setiap
75 m3 dari agregat didalam timbunan persediaan.
(6) Catatan terperinci dari setiap pekerjaan pelaburan harian, termasuk
pemakaian aspal pengikat pada setiap lintasan semprotan dan
kuantitas pemakaian yang dicapai, harus dibuat dalam formulir
standar seperti diperlihatkan pada Gambar Rencana.
6.10.6

PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


(1) Metode Pengukuran
(a) Pekerjaan Minor.
Kuantitas Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) untuk pekerjaan
minor yang diukur untuk pembayaran harus merupakan
volume padat yang dipasang yang ditentukan atas dasar luas
permukaan yang diukur dan tebal Lapis Penetrasi Macadam
(Lapen) yang disetujui untuk setiap kelas perbaikan
sebagaimana
diidentifikasikan
dalam
Seksi
8.1
Pengembalian Kondisi Perkerasan yang ada. Kontraktor harus
menyimpan catatan dari luas dan tebal material Lapis
Penetrasi Macadam (Lapen) dan Kuantitas lapis resap
pengikat atau lapis perekat yang dipasang pada pekerjaan
minor.
(b) Pekerjaan Pelapisan Ulang.
(i)

Kuantitas yang diukur untuk pembayaran dari Lapis


Penetrasi Macadam (Lapen) yang digunakan untuk
pelapisan ulang harus merupakan jumlah meter kubik
material yang dipasang dan diterima, yang dihitung
sebagai hasil kali luas yang diukur dan diterima dan tebal
nominal rancangan.

(ii)

Kuantitas yang diterima untuk pengukuran tidak boleh


mencakup tempat-tempat dimana Lapis Penetrasi
Macadam (Lapen) yang lebih tipis dari tebal minimum
yang diterima atau bagian-bagian yang terlepas,
terbelah, retak/abu menipis sepanjang tepi perkerasan
atau ditempat lain.

(iii) Lebar daerah Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang


akan dibayar harus seperti tercantum dalam Gambar
Rencana atau yang telah disetujui Direksi Teknik dan
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 26 -

harus ditentukan dengan survey pengukuran yang


dilakukan Kontraktor dibawah pengawasan Direksi Teknik.
Pengukuran harus dilakukan tegak lurus pada sumbu
jalan dan harus tidak boleh termasuk material yang tipis
dan dengan kata lain tidak memuaskan sepanjang tepi
Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) yang dipasang. Jarak
selang pengukuran memanjang harus seperti yang
diperintahkan Direksi Teknik, dan harus sama serta tidak
lebih dari 20 meter. Lebar yang digunakan untuk
menghitung luas untuk keperluan pembayaran untuk
setiap bagian perkerasan yang diukur harus merupakan
harga rata-rata dari pengukuran lebar yang diambil dan
disetujui.
(iv) Panjang Lapis Penetrasi Macadam (Lapen) harus diukur
sepanjang sumbu jalan, dengan menggunakan prosedur
teknik standar.
(c)

Pengukuran dari Pekerjaan yang diperbaiki.


Bila telah diadakan pekerjaan perbaikan Lapis Penetrasi
Macadam (Lapen) sesuai perintah Direksi Teknik pada
Paragraf 6.10.1 (4) diatas maka kuantitas yang diukur untuk
pembayaran haruslah merupakan pekerjaan yang seharusnya
telah dibayar jika pekerjaan yang semula telah diterima.
Tidak ada pembayaran tambahan untuk suatu pekerjaan
tambahan atau kuantitas tambahan atau pengujian ulang
karena pekerjaan perbaikan tersebut.

(2) Dasar Pembayaran


Kuantitas yang ditentukan, sebagaimana diuraikan diatas, harus
dibayar menurut Harga Satuan per satuan pengukuran untuk
masing-masing Mata Pembayaran yang terdaftar dibawah dan
tercantum dalam Jadwal Penawaran. Harga dan pembayaran ini
harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan dan
pemasangan seluruh material, termasuk agregat dan aspal, dan
juga termasuk seluruh buruh, perlengkapan dan perkakas, dan
pelengkap lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan dan
memelihara pekerjaan yang diuraikan dalam Seksi ini.
Nomor
Mata
Pembayar Uraian
an
6.10 (1)

Lapis Penetrasi
(Lapen)

6.10 (2)

Lapen Levelling

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 27 -

Satuan
Pengukuran

Macadam

Meter kubik
Meter kubik

II.3

PASANG BATU TEPI DENGAN UKURAN 15/20 CM


a) Bahan material batu yang di syaratkan adalah jenis batu kali yang
berkwalitas baik, bukan yang keropos / pories.
b) Cara pemasangan batu tepi harus dalam keadaan berdiri dan
tertanam pada dasar jalan dengan kondisi yang kokoh dan kuat
serta rapat antara batu yang satu dengan yang lainya.
c) Pada sisi dalamnya harus lurus, gunanya untuk menentukan lebar
jalan yang dikehendaki beradadiluar jalur batu tepi

5.4. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN


5.4.1 PEKERJAAN PASANGAN
5.4.1.1 Keterangan Umum
a. Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan batu yang berupa
pasangan pondasi batu kali, pasangan pondasi batu bata /
rollag. Pasangan kanstin, paving stone, pasangan dinding
batu bata, serta pekerjaan pasangan batu / bata lainnya
seperti tertera dalam Gambar Rencana.
b. Pasangan batu kali harus memenuhi syarat-syarat PUBB `70
NI-3 dan pasangan batu bata memenuhi syarat-syarat PUBB
`73 NI 10.
5.4.1.2 Bahan- bahan
a. Batu kali :
Batu kali yang dipakai merupakan batu yang keras, bebas
dari kotoran akibat tanah liat atau bahan lain, yang
merugikan dan memenuhi persyaratan PUBB `70 NI 3.
b. Batu bata :
Batu bata liat produksi lokal kwalitas baik, pembakarannya
harus baik / dengan kayu bakar, ukuran tiap unit harus sama
bersudut runcing, rata, tidak cacat /retak atau mengandung
kotoran dan memenuhi persyaratan PUBB `73 NI 10.
c. Pasir pasang :
Pasir yang digunakan harus pasir yang berbutir tajam dan
keras / kasar, bersih dan tidak berdebu atau sesuai dengan
petunjuk Direksi.
d. Air :
Yang dimaksud dengan air kerja adalah air untuk
pencampuran / dipergunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Air untuk adukan beton sebelumnya harus dimintakan
persetujuan Direksi / Konsultan Pengawas.
e. Semen Portland :
Semen dipakai produk dalam negeri dalam hal ini dipakai
Semen Kualitas Terbaik sesuai standart SII dan harus
memakai satu macam merek pabrik dengan jenis dan
kualitas yang sama.
5.4.1.3 Pelaksanaan Pekerjaan :
a. Pasangan Batu Kosong / Aanstamping :
Pasangan Batu Kosong / Aanstampeng dari batu kali harus
diatur dengan sisi panjang tegak, teratur dan bersilang
kemudian atasnya diberi pasir yang merata dan disiram
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 28 -

dengan air hingga pasir mengisi lubang-kubang disela-sela


batu.
b. Pasangan Batu Kali :
1. Bahan batu kali yang dipakai ukurannya sisi maksimum
20 cm pasangan harus bersilang diatas adukan yang
cukup
diantaranya
sela-selanya
untuk
mencapai
kekuatan dan kesatuan.
2. Permukaan atas pasangan batu kali harus sifat datar dan
sebelum diurug pondasi harus diplester siar dengan spesi
yang sama, pasangan pondasi batu kali dipakai spesi
1Psr : 6Psr
c. Pasangan Batu Bata :
1. Sebelum dipasang, Batu Bata harus direndam air sampai
jenuh dan batu bata yang pecah tidak boleh dari 10%,
kemudian pemasangannya dalam sehari tidak lebih dari
1,00 M tingginya dan pasangan harus lurus dengan
ketebalan sesuai gambar kecuali untuk perbaikan
pasangan disesuaikan dengan pasangan yang sudah ada.
Adukan pasangan dipakai 1 Pc : 6 Ps
Semua jenis adukan harus dicampur dengan mesin
pengaduk /mollen, tidak disarankan pengadukan secara
manual. Pengadukan secara manual hanya boleh
dilaksanakan atas persetujuan Direksi Teknik.
Pengadukan tidak boleh langsung di atas tanah, tetapi
harus dipakai alas papan / kayu atau sejenisnya.
2. Semua adukan yang berserakan pada saat pemasangan
harus segera dibersihkan dan dibuang pada tempat yang
telah ditentukan dan pada hari yang sama setelah
pasangan selesai semua Voeg / siar di atas pasangan
batu bata harus dikeruk sedalam 1 Cm pada pada bagian
luar dan dalam.
3.

Semua Pekerjaan tembok harus dipasang tegak lurus,


siku, rata, dan tidak boleh rengat-rengat dan cacat-cacat
lainnya, maksimum pasangannya seluas 12 m2.

5.4.2 PEKERJAAN PLESTERAN DINDING, PLESTERAN BETON DAN


BENANGAN
5.4.2.1 Plesteran dinding dan benangan :
a). Dinding yang akan diplester harus bersih dari kotoran dan
disiram dengan air, sebelumnya harus dibuatkan kepala
plesteran dengan tebal sama dengan ketebalan plesteran
yang direncanakan (kurang lebih 1,5 cm). Ornamen dan
plesteran ornamen lainnya dibuat dengan bentuk, motif,
ukuran dan letak pemasangan sesuai dengan gambar
rencana / detail.
b). Pelaksanaan plesteran baru dilaksanakan setelah kepala
plesteran benar- benar mengering.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 29 -

c). Untuk menjamin kerataan hasil plesteran disarankan


memakai perata ( Jidar ) dari alumunium, kecuali
disyaratkan lain atas petunjuk Direksi Teknik.
d). Adukan untuk plesteran harus dicampur dengan mesin
pengaduk / mollen, tidak disarankan pengadukan secara
manual.
Pengadukan
secara
manual
hanya
boleh
dilaksanakan atas petunjuk dan persetujuan Direksi Teknik.
Pengadukan tidak boleh langsung diatas tanah, tetapi harus
dipakai alas papan/kayu atau sejenisnya.
e). Plesteran dinding biasa memakai adukan 1Pc : 6Psr,
plesteran trasram,
dan sudut-sudut / sponing / ornamen
memakai adukan 1 Pc : 3 Ps, dan plesteran siar memakai
adukan 1 Pc : 2 Psr.
f). Setelah plesteran selesai dilaksanakan / dikerjakan tidak
boleh langsung diselesaikan dengan ondrongan semen ( di
aci ) tetapi harus menunggu minimal 2 ( dua ) hari untuk
memastikan tidak ada keretakan pada plesteran.
g). Plesteran dinding yang akan dicat tembok, penyelesaiannya
terakhir harus diondrong dengan semen ( diaci ) dan digosok
dengan amplas bekas atau kertas sak semen sedangkan
untuk sponingan / benangan susut harus rata, siku dan
tajam pada sudutnya.
5.4.2.2 Plesteran beton :
a). Permukaan beton yang akan diplester harus dibuat kasar
dahulu dengan cara dibeteli agar plesteran dapat melekat,
tebal plestera beton minimal rata-rata 1 Cm, sedangkan
untuk plesteran ini digunakan perbandingan campuran 1
Pc : 3 Ps.
b). Sebelum pelaksanaan plesteran dilaksanakan jalur-jalur
instalasi air / listrik yang masuk dalam beton / dinding
tembok terlebih dahulu harus dipasang dan untuk pasangan
tembok diatas plafon harus diplester kasar dengan perekat
yang sama.
5.5 PEKERJAAN STRUKTUR
5.5.1 PEKERJAAN BETON
5.5.1.1 Umum :
1 Uraian
a). Pekerjaan yang disyaratkan dalam Seksi ini harus
mencakup pembuatan seluruh struktur beton termasuk
tulangan dan sesuai dengan garis, elevasi, ketinggian dan
dimensi
yang
ditunjukkan
dalam
Gambar,
dan
sebagaimana diperlukan oleh Pemimpin Kegiatan / Direksi
Teknik.
b). Pekerjaan ini harus meliputi pula tempat kerja dimana
Pekerjaan beton akan dilaksanakan, termasuk galian
untuk pondasi, pemompaan dan tindakan lain untuk
mempertahankan agar pelaksanaan pondasi tetap kering.
c). Kelas dari beton yang akan digunakan pada masingmasing bagian dari Pekerjaan dalam kontrak haruslah
seperti yang diminta dalam gambar atau pasal lain yang
berhubungan dengan Persyaratan ini atau sebagaimana
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 30 -

diperintahkan oleh direksi Teknik. Seluruh beton yang


digunakan haruslah kelas K 225,Kecuali Rabat Dan
Lantai Kerja.:
K 225 : untuk digunakan pada struktur beton bertulang
sebagaimana
dijelaskan
dalam
gambar
rencana.
d). Syarat dari PBI NI 2-1971 harus diterapkan sepenuhnya
pada semua Pekerjaan beton yang dilaksanakan dalam
kontrak ini, kecuali bila terjadi pertentangan dengan
syarat dalam Spesifikasi ini, dalam hal ini syarat dari
Spesifikasi ini harus dipakai.
2.

Pekerjaan di Bagian Lain yang berkaitan dengan Seksi


ini :
Dalam garis besarnya Pekerjaan Beton yang harus dibuat
dari beton bertulang antara lain :

a). Plat Penutup saluran,


b). Beton Rabat, Beton Strouss pondasi, beton Poor,
c). Beton Foot Plat, Beton Sloof, Beton Ring Balk,
d). Beton Kolom Struktur, dan Beton Kolom Praktis,
e). Beton Balok Gantung, Beton Plat,
f). Dan bagian-bagian lain yang tertera dalam gambar
rencana.
3. Jaminan Mutu
Mutu bahan yang dipasok dari campuran yang dihasilkan
dan cara kerja atau hasil akhir harus dipantau dan
dikendalikan seperti yang disyaratkan dalam standar rujukan
dalam Pasal 5.1.1 ( 5 ) dibawah ini.
4. Nara Sumber Standar
PBI 1971
Peraturan Beton Bertulang Indonesia
NI-2
AASHTO M 85-75
Semen Portland
AASHTO M 173-60 Pengedap sambungan beton, tipe
elastis yang dituang panas.
AASHTO M 213-74 Pengisi sambungan yang dibentuk
untuk lapisan beton dan kontruksi
struktur.
AASHTO T 11-90
Jumlah material yang lebih halus dari
ayakan 0.075 mm dalam agregat
(SK.SNI M-02-1994-03).
AASHTO T 21-87
Ketidak murnian organis dalam pasir
untuk beton (SNI 03-2816-1992)
AASHTO T 22-90
Kuat tekan dari contoh untuk beton
silindris (SNI 03-1974-1990).
AASHTO T 23-90
Pembuatan dan perawatan contoh
untuk pengujian kuat tekan dan kuat
lentur dilapangan (Pd M-16-1993-03).
AASHTO T 26-79
Mutu air yang akan digunakan dalam
beton.
AASHTO T 96-87
Abrasi dari agregat kasar dengan
menggunakan mesin Los Angeles (SNI
03-3407-1994).

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 31 -

AASHTO T 104-86
AASHTO T 112-87
AASHTO T 126-90
AASHTO T 141-84

Penentuan
mutu
agregat
dengan
menggunakan sodium sulfat (SNI 032417-1991).
Gumpalan lempung dan partikel yang
dapat pecah dalam agregat (SK.SNI M01-1994-03).
Pembuatan dan perawatan contoh
untuk pengujian beton di laboratorium
(SNI 03-2493-1991).
Pengambilan contoh beton segar (SNI
03-2458-1991).

5. Pelaporan
a).
Kontraktor harus mengirimkan contoh
dari seluruh material yang hendak digunakan dengan
data pengujian yang memenuhi seluiruh sifat material
yang disyaratkan dalam pasal 5.1.2 dari spesifikasi ini.
b).
Kontraktor
harus
mengirimkan
rancangan campurannya untuk masing-masing tipe beton
yang diusulkan untuk digunakan 28 hari sebelum awal
pekerjaan pengecoran beton.
c).
Kontraktor harus mengirim secara
tertulis hasil dari seluruh pengujian pengendalian mutu
yang disyaratkan segera setelah siap atau bila diminta
oleh Direksi teknik.Dalam hal pengujian kuat tekan, hal
ini akan meliputi pengiriman hasil pengujian kuat tekan 3hari, 7-hari dan 28-hari yang masing-masing 3 hari, 7 hari
dan 28 hari setelah pencampuran.
d).
Kontaktor harus mengirim gambar
terperinci dari seluruh perancah yang akan digunakan,
dan harus memperoleh persetujuan Direksi Teknik
sebelum memulai setiap Pekerjaan perancah.
e).
Kontraktor harus memberitahu Direksi
Teknik secara tertulis paling sedikit 24 jam sebelum
bermaksud memulai melakukan pencampuran atau
pengecoran beton, seperti yang disyaratkan dalam pasal
5.1.4.() di bawah.
7. Penyimpanan dan Perlindungan Material
Untuk penyimpanan semen, Kontraktor harus menyediakan
tempat yang tahan cuaca yang kedap udara dan
mempunyai lantai kayu yang dinaikkan yang ditutup dengan
lembar polyethylene (plastic). Sepanjang waktu, tumpukan
kantung semen harus ditutup dengan lapis selubung plastik.
8. Kondisi Tempat Kerja
Kontraktor harus menjaga temperature dari seluruh
material, khususnya agregat kasar, pada tingkat yang
serendah mungkin dan harus menjaga temperatur dari
beton dibawah 30oC sepanjang waktu pengecoran. Sebagai
tambahan, kontraktor tidak boleh melakukan pengecoran
bila :
a). Tingkat penguapan melampaui 1,0 Kg/m2/jam.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 32 -

b). Lengas nisbi dari udara kurang dari 40%.


c). Diperintahkan untuk tidak melakukannya oleh Direksi
Teknik, selama periode hujan atau bila udara penuh debu
atau tercemar.
9. Perbaikan dari Pekerjaan Beton yang Tak Memuaskan
a). Perbaikan dari Pekerjaan beton yang tidak memenuhi
kriteria toleransi yang disyaratkan dalam pasal 5.1.1.(4),
atau yang tidak memiliki hasil akhir permukaan yang
memuaskan, atau yang tidak memenuhi kebutuhan
syarat campuran yang dipersyaratkan dalam pasal
5.1.3(3). Harus mengikuti petunjuk yang diperintahkan
oleh Direksi Teknik dan dapat meliputi :
i.) Perubahan dalam proporsi campuran untuk sisa
Pekerjaan;
ii.) Tambahan perawatan pada bagian dari struktur yang
dari hasil pengujian ternyata gagal;
iii.) Perkuatan atau pembongkaran menyeluruh dan
penggantian bagian Pekerjaan yang dipandang tidak
memuaskan;
iv.) Penambalan dari cacat-cacat kecil.
b). Dalam hal adanya perselisiahan dalam kualitas Pekerjaan
beton atau adanya keraguan dari data pengujian yang
ada, Direksi Teknik dapat meminta Kontraktor melakukan
pengujian tambahan yang diperlukan untuk menjamin
penilaian yang wajar pada mata pelaksanaan yang telah
dilaksanakan. Pengujian tambahan tersebut haruslah atas
biaya kontraktor.
5.5.1.2 Bahan- bahan.
1. Semen :
a). Semen yang digunakan untuk Pekerjaan Beton haruslah
Type Semen Portland yang memenuhi AASHTO M 85
kecuali Type I A, IIA, IIIA, dan IV. Terkecuali di ijinkan lain
oleh Direksi Teknik, campuran beton yang mengandung
gelembung udara tidak dapat digunakan.]
b). Terkecuali diijinkan lain oleh Direksi Teknik, hanya satu
merk semen yang boleh dipakai di dalam satu Proyek.
2. Air :
Air yang digunakan dalam campuran, dalam perawatan,
atau pemakaian lainnya harus bersih dan bebas dari benda
yang mengganggu seperti minyak, garam, asam, basa, gula
atau organis. Air akan diuji sesuai dengan ; dan harus
memenuhi criteria dari AASHTO T 26. Air yang diketahui
dapat diminum dapat digunakan tanpa pengujian.
3. Syarat- syarat Gradasi Aggregat
a). Gradasi Agregat kasar dan halus harus memenuhi syaratsyarat yang diberikan dalam Tabel 5.1.2 (3 ) tetapi
material yang tidak memenuhi syarat- syarat gradasi
tersebut tidak perlu ditolak bila Kontraktor bisa
menunjukkan dengan pengujian bahwa beton tersebut
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 33 -

dapat memenuhi sifat campuran yang dibutuhkan seperti


yang disyaratkan dalam pasal 5.1.3 (3)
b). Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran
partikel terbesar tidak lebih dari dari jarak minimum
antara tulangan baja atau antara tulangan baja dengan
acuan, atau antara perbatasan lainnya.
Tabel 5.1.2 ( 3 ) Syarat- Syarat Gradasi Agregat
Ukuran Ayakan
Standar Inchi ( in

Agrega

Presentase Berat Yang Lolos

( mm )
50

)
2

t Halus
-

100

37

1 1/2

95

100

25

-100
-

95 -

100

19

3/4

35 -

100
-

90 -

100

13

1/2

70
-

25 - 60

100
-

90 -

Agregat Kasar

100

3/8

100

10 -30

20 - 55

100
10 70

4.75

#4

95 -

0-5

0 - 10

0 - 10

0 15

2.36

#8

100
-

0-5

0-5

05

1.18

#16

45 - 80

0.3

#50

10 - 30

0.15

#100

2-5

4. Sifat Agregat.
a). Agregat untuk adukan beton harus terdiri dari partikel
yang bersih, keras, kuat yang diperoleh dari pemecahan
padas atau batu, atau dari pengayaan dari pencucian
( jika perlu ) dari kerikil atau pasir sungai.
b). Aggregat harus bebas dari material organis seperti yang
ditunjukkan oleh pengujian AASHTO T 21 dan harus
memenuhi sifat lainnya yang diberikan dalam Tabel
5.1.2(4) bila diambil contohnya dan diuji sesuai dengan
prosedur AASHTO yang berhubungan.
Sifat

AASHTO

Batas Maksimum

Test

Yang diijinkan

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 34 -

Kehilangan

akibat

abrasi

pada 500 putaran dengan

T 96
2417-

Kehilangan akibat penentuan

1991)
T 104

mutu dengan sodium sulfat

(SNI 03-

setelah 5 siklus.

3407-

Presentase

1994)
T 112

gumpalan

lempung dan partikel yang

(SK SNI M

dapat pecah.

01-1994-

Halus
-

Kasar
40%

10%

12%

0.5%

0.25%

3%

1%

03)
T 11

Material yang lolos saringan


# 200.

Aggregat

(SNI 03-

Mesin Los Angles.

dari

Aggregat

(SK SNI M
02-199403)

5.5.1.3 Pencampuran dan penakaran


1. Rancangan Campuran
Proposal material dan berat penakaran harus ditentukan
dengan menggunakan metode yang diisyaratkan dalam PBI
dan sesuai dengan batas yang diberikan dalam Tabel
5.1.3(1)

Tabel 5.1.3(1) Batasan Proporsi Takaran Campuran


Mutu
Beton
K275

K225

Rasio Air / Semen

Aggregat

Maks.

Maks. (mm)

(terhadap berat)

37

0,45

campuran)
300

25

0,45

320

19
37

0,45
0,50

350
290

25

0,50

310

19

0,50

340

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 35 -

Kadar Semen

Ukuran

Min.
(Kg/m3 dari

K175
K125

0,57
0,60

300
250

2. Campuran Percobaan
Kontraktor harus menentukan proporsi campuran serta
material yang diusulkan dengan membuat dan menguji
campuran percobaan, dengan disaksikan oleh Direksi Teknis,
yang menggunakan peralatan dan perlengkapan tipe yang
sama seperti yang digunakan untuk Pekerjaan.
Campuran percobaan tersebut dapat diterima asalkan
memenuhi seluruh sifat campuran yang dibutuhkan seperti
yang diisyaratkan dalam Pasal 5.1.3(2) di bawah.
3. Persyaratan Sifat campuran
a). Seluruh beton yang digunakan dalam Pekerjaan harus
memenuhi kuat tekan dan slump yang dibutuhkan
seperti yang dipersyaratkan dalam Tabel 5.1.3(2) atau
yang disetujui oleh Direksi Teknis, bila pengambilan
contoh, perawatan dan pengujian sesuai dengan AASHTO
T 141, T23, T126 dan T22.

Benda Uji Kubus


15 X 15 X 15 cm3

Benda Uji

Digetar

Silinder

15cm X 30 cm

kan

Tidak
Digetar
kan

K275

7 hari
215

28 hari
300

7 hari
180

28 hari
250

20 50

50

K250

180

250

150

210

20 50

100

K225

150

225

125

190

20 50

50

K175

115

175

95

145

30 60

100

K125

80

125

70

105

20 - 50

50
100
50
100
50
100

b). Beton yang tidak memiliki persyaratan slump


umumnya tidak boleh ditempatkan pada Pekerjaan.
Terkecuali Direksi Teknis dalam beberapa hal menyutujui
penggunaanya secara terbatas dari sedikit jumlah beton
tersebut pada bagian tertentu yang sedikit dibebani.
Sifat mudah dikerjakan serta tekstur dari campuran harus
sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada
Pekerjaan tanpa membentuk rongga atau menahan udara
atau buih air dan sedemikian rupa sehingga pada
pembongkaran acuan menghasilkan permukaan yang
merata, halus dan padat.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 36 -

c). Bila hasil dari pengujian 7 hari menghasilkan kuat beton


dibawah nilai yang diisyaratkan dalam Tabel 5.1.3(2)
Kontraktor tidak diperbolehkan mencor beton lebih lanjut
sampai penyebab dari hasil yang rendah tersebut. Dapat
dipastikan dan sampai telah diambil tindakan-tindakan
yang akan menjamin produksi beton memenuhi
persyaratan secara memuaskan. Beton yang tidak
memiliki kuat tekan 28 hari yang disyaratkan harus
dipandang tidak memuaskan dan Pekerjaan harus
diperbaiki sebagaimana disyaratkan dalam Pasal
5.1.1(10) di atas.
Kekuatan beton akan cenderung lebih kecil dari
persyaratan kekuatan bilamana setiap contoh benda uji
dari bagian Pekerjaan yang dipertanyakan adalah lebih
kecil dari keperluan yang diberikan dalam Tabel 5.1.3(2)
atau selain disetujui lain oleh Direksi Teknik yang karena
kebijaksanaannya
hasil
perhitungan
statistic
dipertimbangkan
atau
karena
adanya
kesalahan
pengambilan contoh ataupersiapan benda uji yang
kurang baik atau karena factor-faktor lainnya.
d). Direksi Teknik dapat pula menghentikan Pekerjaan
dan/atau memerintahkan Kontraktor mengambil tindakan
perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran atas
dasar hasil uji kuat tekan 3 hari. Dalam keadaan
Demikian, Kontraktor harus segera menghentikan
pengecoran beton yang dipertanyakan tetapi dapat
memilih menunggu sampai hasil pengujian 7 hari
diperoleh. Sebelum menerapkan tindakan perbaikan.
Pada waktu tersebut Direksi Teknik akan menilai kedua
hasil pengujian 3 hari dan 7 hari. Dan dapat segera
memerintahkan penerapan dari tindakan perbaikan
apapun yang dipandang perlu.
e). Perbaikan dari Pekerjaan beton yang tak memuaskan
yang melibatkan pembongkaran menyeluruh dan
penggantian beton tidak boleh didasarkan pada hasil
pengujian kuat tekan 3 hari saja, terkecuali Kontraktor
dan Direksi Teknik keduanya sepakat pada perbaikan
tersebut.
4. Penyesuaian campuran
a). Penyesuaian Sifat Mudah Dikerjakan
Bila dijumpai tak mungkin memperoleh beton dengan
sifat mudah dikerjakan dan dicor pada proporsi yang
semula direncanakan oleh Direksi Teknik, maka akan
dibuat perubahan-perubahan pada berat agregat
sebagaimana diperlukan, asal dalam hal apapun kadar
semen yang semula direncanakan tidak diubah, juga
tidak menambah besarnya faktor air/semen yang telah
ditetapkan berdasarkan pengujian kuat tekan yang telah
menghasilkan kuat tekan yang memadai.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 37 -

Pengadukan kembali beton yang telah dicampur dengan


cara penambahan air atau oleh cara lain yang tidak akan
diperkenankan. Zat tambahan untuk meningkatkan sifat
mudah dikerjakan hanya diijinkan bila secara khusus
telah disetujui oleh Direksi Teknik.
b). Penyesuaian Kekuatan
Bila beton tidak mencapai kekuatan yang dipersyratkan
atau disetujui, kadar semen harus ditingkatkan
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.
c). Penyesuaian Untuk Material Baru
Tidak boleh ada perubahan dalam sumber atau sifat dari
material yang disyaratkan tanpa pemberitahuan tertulis
Kepada Direksi teknis dan tidak boleh ada material baru
yang boleh digunakan sampai Direksi Teknis menerima
material tersebut secara tertulis dan menetapkan
proporsi baru yang didasarkan atas hasil pengujian
campuran percobaan baru yang dilakukan oleh
Kontraktor.
5. Penakaran Agregat
a). Seluruh beton harus ditakar menurut beratnya. Bila
digunakan semen kantongan, kuantitas penakaran harus
sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan
adalah sama dengan satu atau kebulatan dari jumlah
kantung semen. Agregat harus diukur secara terpisah
beratnya. Ukuran masing-masing takaran tidak boleh
melebihi kapasitas terpasang dari pengaduk.
b). Sebelum penakaran, agregat harus dibuat jenuh air dan
dipertahankan dalam kondisi lembab, pada kadar yang
mendekati keadaan jenuh-kering permukaan, dengan
secara berkala menyiram timbunan agregat dengan air.
Pada saat-saat penakaran, penyiraman terakhir dari
agregat haruslah paling sedikit 12 jam sebelumnya untuk
menjamin pengaliran yang memadai dari timbunan
agregat.
6. Pencampuran
a). Beton harus dicampur dalam mesin yang dioperasikan
secara mekanikal dari tipe dan ukuran yang disetujui dan
yang akan menjalin distribusi yang merata dari material.
b). Pencampuran harus dilengkapi dengan penampung air
yang cukup dan peralatan untuk mengukur dan
mengendalikan jumlah air yang digunakan secara teliti
dalam masing-masing penakaran.
c). Alat pencampur pertama-tama harus diisi dengan
agregat dan semen yamg telah ditakar, dan selanjutnya
pencampuran dimulai sebelum air ditambahkan.
d). Waktu pencampuran harus diukur pada saat air mulai
dimasukkan ke dalam campuran material kering. Seluruh
air pencampur harus dimasukkan sebelum seperempat
waktu pencampuran untuk mesin dengan kapasitas m3
atau kurang haruslah 1.5 menit; untuk mesin yang lebih
besar waktu harus lebih ditingkatkan 15 detik untuk
setipa tamnahan 0,5 m3 dalam ukuran.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 38 -

e). Penggunaan pencampuran dengan tenaga manusia harus


dibatasi pada beton non-struktural.
5.5.1.4 Pengecoran
1. Penyiapan Tempat Kerja
a). Kontraktor harus membongkar stuktur yang ada yang
akan digantikan dengan Pekerjaan beton yang baru atau
yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan
pelaksanaan Pekerjaan beton yang baru. Pembongkaran
tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan syarat yang
dipersyaratkan dalam seksi 5.1.5 dari spesifikasi ini.
b). Kontraktor harus menggali atau mengurug pondasi atau
formasi untuk Pekerjaan beton hingga garis yang
ditunjukkan dalam gambar atau sepeti yang ditetapkan
oleh Direksi teknik sesuai dengan syarat-syarat dalam
Pasal 3.2 dan 3.3 dari spesifikasi ini, dan harus
membersihkan dan menggaru tempat yang cukup di
sekeliling dari Pekerjaan beton tersebut untuk menjamin
dapat dicapainya seluruh sudut Pekerjaan. Jalan kerja
yang kokoh juga harus disediakan jika perlu untuk
menjamin bahwa seluruh sudut Pekerjaan dapat diamati
dengan mudah dan aman.
c). Seluruh landasan pondasi dan galian untuk Pekerjaan
beton harus dipertahankan kering dan beton tidak boleh
dicor diatas tanah yang berlumpur atau bersampah atau
dalam air.
d). Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan,
tulangan dan benda lain yang harus dimasukkan ke
dalam beton (seperti pipa atau saluran) harus sudah
ditempatkan dan diikat kuat sehingga tidak bergeser
sewaktu pengecoran.
e). Bila disyaratkan atau diperlukan oleh Direksi Teknik,
material landasan untuk Pekerjaan beton harus dihampar
sesuai dengan syarat dari seksi 2.4 dari spesifikasi ini.
f).
Direksi Teknik akan memeriksa seluruh galian dari
pondasi yang disiapkan sebelum menyetujui pemasangan
acuan atau baja tulangan atau beton dan dapat meminta
Kontraktor untuk melaksanakan pemantekan dalam,
pengujian kepadatan atau penyelidikan lainnya untuk
memastikan cukupnya daya dukung dari tanah dibawah
pondasi. Dalam hal dijumpai kondisi tidak memuaskan,
Kontraktor dapat diperntahkan untuk mengubah dimensi
atau kedalaman dari pondasi dan/atau menggali dan
mengganti daerah yang lunak, memadatkan tanah
pondasi atau melakukan tindakan stabilitas lainnya
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.
2. Cetakan
a). Cetakan dalam tanah, bila disetujui oleh Direksi Teknik,
harus dibentuk dengan galian, dan sisa serta dasarnya
harus dipotong dengan tangan sesuai ukuran yang
diperlukan. Seluruh kotoran tanah lepas harus dibuang
sebelum pengecoran beton.
b). Cetakan yang dibuat dapat dari kayu atau baja dengan
sambungan yang kerap terhadap aduk dan cukup kokoh
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 39 -

untuk mempertahankan posisi yang diperlukan selama


pengecoran, pemadatan dan perawatan.
c). Kayu yang tidak dihaluskan dapat digunakan untuk
permukaan yang tidak akan tampak pada struktur akhir,
tetapi kayu yang dihaluskan dengan tebal yang merata
harus digunakan untuk permukaan beton yang tampak.
Cetakan harus menyediakan pembulatan pada seluruh
sudut-sudut tajam.
d). Cetakan harus dibangun sedemikian sehingga dapat
dibongkar tanpa merusak beton.
3. Pengecoran
a). Kontraktor harus memberitahukan Direksi Teknik secar
tertilis paling sedikit 24 jam sebelum memulai
pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran beton
bila operasi telah ditunda untuk lebih dari 24 jam.
Pemberitahuan harus meliputi lokasi dari Pekerjaan,
macam Pekerjaan, kelas dari beton dan tanggal serta
waktu pencampuran beton.
Direksi Teknik akan memberi tanda terima dari
pemberitahuan tersebut dan akan memeriksa cetakan
dan tulangan dan dapat mengeluarkan atau tidak
mengeluarkan
persetujuan
secara
tertulis
untuk
pelaksaaan Pekerjaan seperti yang direncanakan.
Kontraktor tidak boleh melaksanakan pengecoran beton
tanpa persetujuan dari Direksi Teknik untuk memulai.
b). Tidak
bertentangan
dengan
pengeluaran
suatu
persetujuan untuk memulai, tidak ada beton yang boleh
dicor bila Direksi Teknik atau wakilnya tidak hadir untuk
menyaksikan operasi pencampuran dan pengecoran
secara keseluruhan.
c). Sesaat sebelum beton dicor, cetakan harus dibasahi
dengan air atau disebelah dalamnya dilapisi dengan
minyak mineral yang tak akan membekas.
d). Tidak ada beton yang boleh digunakan bila tidak dicor
dalam posisi akhirnya dalam cetakan dalam waktu 1 jam
setelah pencampuran, atau dalam waktu secepatnya
sesuai petunjuk Direksi Teknik atas dasar pengamatan
sifat-sifat mengerasnya semen yang digunakan.
e). Pengecoran boleh dilanjutkan tanpa berhenti sampai
dengan sambungan kontruksi yang telah disetujui
sebelum atau sampai Pekerjaan Selesai.
f). Beton harus dicor sedemikian rupa agar terhindar dari
segregasi (pemisahan) partikel kasar dan halus dari
campuran. Beton harus dicor dalam cetakan sedekat
mungkin ke tempat akhirnya untuk mencegah pengaliran
dan harus tidak boleh mengalir lebih dari satu meter dari
tempat awal pengecoran.
g). Bila dicor kedalam struktur yang memiliki cetakan yang
sulit dan tulangan yang rapat, beton harus dicor dalam
lapis-lapis horizontal yang tak lebih dari 15 cm tebalnya.
h). Beton tidak boleh jatuh bebas kedalam cetakan dari
ketinggian lebih dari 150 cm. Beton tidak boleh dicor
langsung dalam air.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 40 -

Bilamana beton dicor di dalam air dan pemompaanya


tidak dapat dilakukan dalam waktu 48 jam setelah
pengecoran. Maka beton harus dicor dengan metode
tremi atau metode drop-bottom-bucket, dimana bentuk
dan jenis yang khusus digunakan untuk tujuan ini harus
disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan.
i). Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian
rupa sehingga beton yang telah berada ditempat yang
masih plastis sehingga dapat menyatu dengan beton
segar.
j). Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan
beton yang akan dicor, harus terlebih dahulu dikasarkan,
dibersihkan dari bahan-bahan yang lepas dan rapuh dan
telah disiram dengan air hingga jenuh.
5.5.1.5 Pekerjaan akhir
1) Pembongkaran Kerangka Cetakan
a) Cetakan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal
dinding atau kolom yang langsung dan struktur yang
serupa lebih awal dari 30 jam dari pengecoran beton.
Cetakan yang ditopang dibawah pelat lantai, balok lantai
dan konstruksi sejenis tidak dibongkar sehingga hasil
pengujian beton minimal 60% dari kekuatan rancangan
dari beton telah dicapai.
b) Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, cetakan untuk
pekerjaan yang diberi hiasan, lisplang beton, kanopi dan
tampak vertikal yang harus dibongkar dalam waktu
paling sedikit 9 jam setelah pengecoran dan tidak lebih
dari 30 jam keadaan cuaca yang menentukan.
2) Perawatan
a) Sejak permulaan segera setelah pengecoran, beton harus
dilindungi dari pengeringan dini, temperatur yang terlalu
panas dan gangguan mekanis.Beton harus dipertahankan
dari kehilangan kelembaman yang minimal dengan
temperatur yang relatif tetap untuk suatu periode waktu
yang disyaratkan untuk menjamin hidrasi yang baik dari
semen dan pengerasan betonnya.
b) Beton harus dirawat setelah mengeras secukupnya,
dengan menyelimutinya dengan menggunakan lembaran
yang menyerap air yang selalu harus basah minimal 3
hari.
c) Beton yang dibuat dengan semen yang mempunyai sifat
kekuatan awal yang tinggi atau beton yang dibuat
dengan semen biasa yang ditambah bahan tambah
( aditif ), harus dibasahi sampai kekuatan mencapai 70 %
dari kekuatan rancangan atau umur beton 28 hari.
5.5.1.6 Pengendalian mutu dilapangan
1) Pengujian untuk sifat mudah dikerjakan
Satu pengujian Slump atau lebih sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi Teknis, harus dilaksanakan dari setiap takaran
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 41 -

beton yang dihasilkan, dan pengujian harus tidak dipandang


telah dikerjakan terkecuali disaksikan oleh Direksi Teknik.
2) Pengujian Kuat Tekan
a) Kontraktor harus mengadakan pengujian kuat tekan
beton untuk setiap 20 m3 beton yang dicor dan dalam
segala hal tidak kurang dari satu pengujian untuk setiap
kelas beton dan atau setiap type struktur yang dicor
terpisah tiap satu hari pegerjaan. Setiap pengujian harus
meliputi paling sedikit 3 ( tiga ) buah contoh yang sama.
Yang pertama untuk pengujian kuat tekan 3 ( tiga ) hari,
yang kedua untuk 7 ( tujuh ) hari dan yang ketiga setelah
28 ( dua puluh delapan ) hari.
b) Bila seluruh volume kontrak dari suatu kelas beton
melebihi 40 m3 dan frekwensi pengujian yang ditetapkan
pada butir ( a ) diatas hanya menyediakan kurang dari 5
pengujian untuk suatu kelas beton tertentu, maka
pengujian akan dilaksanakan paling sedikit lima buah dari
takaran yang dipilih secara acak.
c) Kuat Tekan Karakteristik Beton ( bk) diperoleh dengan
rumus berikut :
bk av K
n

av

i 1

adalah kuat tekan rata- rata

n
n

(
i 1

av ) 2

adalah standart deviasi

n 1

1 = hasil pengujian masing- masing benda uji


n = Jumlah benda uji
K = 1.64 ( sesuai ketentuan PBI- 1971 )
5.5.1.7 Pengukuran dan pembayaran
1) Cara pengukuran
a) Beton yang telah digunakan akan diukur dengan jumlah
meter kubik dan atau bila ditentukan lain oleh direksi
teknis dan telah diterima dalam pekerjaan sesuai dengan
dimensi yang telah ditunjukkan dalam gambar atau yang
telah diperintahkan oleh Direksi Teknik. Tidak ada yang
dikurangkan untuk volume yang diisi oleh pipa dengan
garis tengah kurang dari 20 cm atau oleh benda lainnya
yang tertanam seperti water stop, baja tulangan, pipa
instalasi air atau kabel listrik.
b) Tidak ada pengukuran tambahan atau yang lainnya yang
akan dilakukan untuk galian atau persiapan lainnya
ditempat
pekerjaan,
pemompaan,
penyelesaian
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 42 -

pekerjaan permukaan lantai, urugan kembali terhadap


struktur yang telah selesai, atau pekerjaan pelengkap
lainnya untuk penyempurnaan pekerjaan beton.
c) Kuantitas material untuk landasan, baja tulangan, dan
mata pembayaran lainnya yang berhubungan dengan
pekerjaan struktur yang telah selesai dan diterima akan
diukur untuk dibayarkan seperti ditetapkan sebagai
persiapan ditempat lain dari spesifikasi ini.
d) Beton yang telah ditempatkan dan diterima harus diukur
dan dibayar sebagai beton struktur atau beton tidak
bertulang.
2) Dasar pembayaran
a) Kuantitas yang diterima dari bermacam- macam kelas
beton dan perancah sebagaimana dijelaskan diatas akan
dibayar sesuai dengan harga kontrak untuk mata
pembayaran dan menggunakan satuan pengukuran yang
ditunjukkan dalan daftar Penawaran.
b) Harga dan pembayaran merupakan kompensasi penuh
untuk

seluruh

penyiapan

tempat,

pemompaan

air,

cetakan, perancah, pencampuran, pengecoran, pengujian


dan perawatan beton.
Nomo

Satuan

Uraian

r
1.

Beton Pondasi Poor

2.

Beton

3.

tertentu
Beton

Sloof
Kolom

dengan

Pengukuran
Meter kubik
dimensi

Meter kubik
Meter kubik

dengan

dimensi

tertentu

5.5.2. BAJA TULANGAN


5.5.2.1.
Umum
Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan
baja tulangan sesuai dengan Spesifikasi dan Gambar, atau
sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Teknik.
1)

Penerbitan Detail-detail Konstruksi


Detail Konstruksi untuk baja tulangan yang tidak disertakan
dalam dokumen lelang akan diserahkan Direksi Teknik
setelah peninjauan kembali semua rancangan awal telah
Selesai.

2)

Toleransi
a) Baja Tulangan harus dipasang sedemikian rupa sehingga
selimut beton yang menutup bagian luar dari baja
tulangan adalah sebagai brikut :

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 43 -

i) 3,5 cm untuk beton yang tidak terbuka langsung


terhadap udara atau terhadap air tanah atau terhadap
bahaya kebakaran.
ii) Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.2.1 ( 3 ) untuk
beton yang terendam/ tertanam atau yang terbuka
langsung terhadap cuaca atau urugan tanah tetapi
masih dapat diamati untuk pemeriksaan :
Tabel 5.2.1 (3 ) Selimut Beton Minimum dari Baja
Tulangan untuk Beton yang Tak Terlindungi Tetapi
Mudah di capai
Ukuran Batang

Tebal Selimut Beton

Tulangan yang akan

Minimum ( Cm )

Diselimuti
( mm )
Batang 16 mm dan

3.5

lebih kecil
Batang 19 mm dan 22

5.0

mm
b) Toleransi fabrikasi ( pembuatan ) harus seperti yang
disyaratkan dalam Buku Pegangan Standart praktis untuk
detail struktur beton bertulang, Institut Beton Amerika
( AC 1315 )
3) Pelaksanaan
a). Semua detail harus memenuhi persyaratan seperti yang
dicantumkan dalam gambar kerja dan syarat-syarat yang
harus diikuti menurut PBI 1971 NI-2 dan buku Pedoman
Perencanaan Untuk Struktur Beton Bertulang Biasa dan
Struktur Tembok Bertulang Untuk Gedung Tahun 1983.
b). Pemasangan tulangan harus sesuai dengan jumlah dan
jarak yang ditentukan dalam gambar.
c). Tulangan harus ditempatkan dengan teliti pada posisi
sesuai rencana dan harus dijaga jarak antara tulangan ,
jarak
antara
tulangan
dengan bekesting
untuk
mendapatkan tebal selimut beton /beton deking yang
cukup untuk itu Kontraktor itu harus mempergunakan
penyekat / spacer, dudukan / chairs dari balok beton atau
baja. Bila dipakai balok beton, maka mutu beton harus
sesuai
dengan
beton
yang
bersangkutan
yang
diperlihatkan dalam Gambar Rencana, semua tulangan
harus diikat dengan baik dan kokoh sehingga dijamin
tidak bergeser pada waktu pengecoran.
d). Sebelum melakukan pengecoran semua tulangan harus
diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan ketelitian
penempatannya, kebersihan dan untuk mendapatkan
perbaikan bila mana perlu.
e). Apabila menurut Direksi Teknik, tulangan yang berkarat
halus segera dibersihkan atau diganti bilamana dianggap
akan melemahkan konstruksi.
f). Pengecoran tidak diperkenankan bila belum diperiksa dan
disetujui oleh Direksi Teknik.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 44 -

5.5.2.2.
Material
1) Baja Tulangan
Baja Tulangan harus baja polos atau berulir kelas 40 yang
memenuhi persyaratan AASHTO M 31-77, atau yang lainnya
yang disetujui oleh Direksi Teknik.
Tegangan Leleh
Karakteristik atau
Mutu

Sebutan

Tegangan Karakteristik
yang memberikan
regangan tetap

BJTD 32

Baja Sedang

( kg/cm2 )
3.200

BJTD 40

Baja Keras

3.900

0.2

2) Tumpuan Untuk Tulangan


Tumpuan untuk tulangan harus dibentuk dari batang besi
ringan atau blok beton cetak dari kelas II/K 275 seperti yang
disyaratkan dalam pasal 5.1 dari Spesifikasi ini, terkecuali
disetujui lain oleh Direksi Teknik. Kayu, Bata, Batu atau
material lain tidak boleh diijinkan sebagai tumpuan.
3) Pengikat Untuk tulangan
Kawat pengikat untuk mengikat baja tulangan harus kawat
baja yang telah dilunakkan yang memenuhi AASHTO M 3290
5.5.2.3.

Pengukuran dan Pembayaran

1) Cara pengukuran
a). Baja Tulangan akan diukur dalam kilogram terpasang dan
diterima oleh Direksi Teknik. Jumlah kilogram yang
ditempatkan harus
dihitung
dari
panjang yang
sesungguhnya ditempatkan dan satuan berat perkilogram
panjang. Satuan berat yang disetuji oleh Direksi Teknik
akan didasarkan atas berat nominal yang disediakan oleh
produsen baja, atau bila Direksi Teknik memerintahkan,
atas dasar pengujian penimbangan yang dilakukan oleh
kontraktor pada contoh yang dipilih oleh Direksi Teknik.
b). Penjepit, pengikat, pemisah atau material lain ayng
digunakan untuk penempatan atau pengikatan baja
tulangan pada tempatnya tidak akan dimasukkan dalam
berat untuk pembayaran.
2) Dasar Pembayaran
Jumlah Baja Tulangan yang diterima, yang ditetapkan seperti
yang ditetapkan diatas, harus dibayar pada Harga
Penawaran Kontrak untuk Mata pembayaran yang
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 45 -

ditunjukkan dibawah ini, dan terdaftar dalam Jadwal


Penawaran, yang pembayarannya merupakan kompensasi
penuh untuk pengadaan, pembuatan dan penempatan
material, termasuk tenaga kerja, peralatan, pengujian dan
Pekerjaan lain untuk mendapatkan Pekerjaan yang
memuaskan.

No

5.6

Uraian

Satuan

1.

Baja Tulangan U 24 Polos

Pengukuran
Kilogram

2.

Baja Tulangan U 32 Polos

Kilogram

3.

Baja Tulangan U 48 Ulir

Kilogram

PEKERJAAN KUSEN, DAN DAUN PINTU DARI ALLUMINIUM


( Untuk Pekerjaan SANITASI )

5.6.1

UMUM
5.6.1.1. Umum
1) Pekerjaan ini meliputi pekerjaan yang tercakup dalam
pekerjaan kusen-kusen dengan menggunakan Alluminium 4
x 10 x 0,1 polos ex Indall, daun pintu dari Aluminium + acc
Alpha/ATT lengkap putih.
2) Bahan serta pelaksanaan pekerjaan Alluminium harus
memenuhi syarat dan ketentuan yang dikeluarkan dari
pabrik yang bersangkutan.
3) Seluruh pekerjaan harus dilaksanakan sesuai gambar, baik
perletakan, bentuk masing-masing type serta ukurannya
4) Pekerjaan pada bagian- bagian seksi ini adalah yang
tercantum dalam kontrak haruslah seperti yang diminta
dalam gambar atau pasal lain yang berhubungan dengan
Persyaratan ini atau sebagaimana diperintahkan oleh direksi
Teknik. Seluruh Pekerjaan Kusen Alluminium harus
menggunakan dari jenis dan kelas yang telah ditentukan dan
di tunjukkan dalam gambar rencana:
5.6.1.2. Material
Bahan -bahan yang dipasok dari pekerjaan yang dihasilkan
dan cara kerja atau hasil akhir harus dipantau dan
dikendalikan seperti yang disyaratkan dalam Gambar
Rencana dan arahan dari Direksi Teknik.

5.7 PEKERJAAN RANGKA ATAP


(untuk Pekerjaan Spot B)
5.7.1 RANGKA ATAP
5.7.1.1 Bahan
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 46 -

Untu Pekerjaan Rangka Atap Tribune dan Pedagang Kaki


Lima,
sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar Kerja,
bahan yang digunakan adalah Hollow 5x5 cm, dan 2x3 cm,
tebal 0,7 mm.
PENUTUP ATAP
5.7.1.2 Bahan :
a) Untuk Pekerjaan Penutup AtapTribune dan Pedagang Kaki
Lima bahan yang digunakan adalah Metaldeck tebal
0,7 mm.

5.8. PEKERJAAN PENUTUP LANTAI


5.8.1 PEKERJAAN LANTAI
1) Uraian Umum
a) Pekerjaan ini mencakup semua pekerjaan lantai dan
finishing lantai di dalam dan di luar bangunan mulai dari
pengadaan bahan, pemasangan sesuai elevasi yang
ditunjukkan dalam gambar rencana sampai finising.
b) Pelaksanaan pekerjaan ini harus memenuhi syarat dan
ketentuan ketentuan yang tertera dalam PUBB ` 70 NI
3 dan NI 10.
c) Mutu dan jenis material yang akan digunakan dari
masing- masing pekerjaan harus sesuai yang diminta
dalam gambar atau pasal lain yang berhubungan dengan
pekerjaan ini.
2) Pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan ini :
Pekerjaan yang harus disempurnakan sebelum pekerjaan
lantai keramik dilaksanakan antara lain :
a) Pekerjaan urugan pasir bawah lantai
b) Pekerjaan rabat beton
3) Jaminan Mutu
Mutu bahan yang akan digunakan, cara pemasangan, dan
hasil akhir dari pemasangan harus selalu dipantau dan
dikendalikan. Sebelum bahan dikirim ke tempat pekerjaan
kontraktor harus mengajukan contoh bahan sebagaimana
spesifikasi bahan yang ditentukan dalam pasal lain dalam
spesifiksi ini.
4) Bahan bahan
Kecuali ditentukan lain oleh Direksi Teknis bahan- bahan
penutup lantai yang digunakan adalah sebagai berikut :
a) Beton Sikat/ Batu Sikat sesuai dengan gambar rencana.
Bahan yang digunakan akan ditentukan kemudian oleh
Pemimpin Kegiatan atau Direksi Teknis.
b) Paving Blok abu-2, KW.1 (K.300), tebal 6 cm.
c) Beton Kanstin dengan ukuran sesuai gambar rencana.
d) Batu Refleksi dengan ukuran sesuai gambar rencana.
e) Keramik warna bermotif, permukaan kasar, ukuran 30x30
cm.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 47 -

5) Pelaporan
a) Kontraktor harus melaporkan dan mengirimkan contoh
material yang akan digunakan dan memperoleh
persetujuan dari Direksi Teknis / Pengguna Jasa.
b) Kontraktor harus memberitahukan secara tertulis kepada
Direksi sebelum bermaksud melakukan pemasangan
barang-2 tersebut.
6) Pelaksanaan Pemasangan
a) Sebagaimana diuraikan pada pasal sebelumya sebelum
material didatangkan ke lokasi pekerjaan, kontraktor
harus mengajukan contoh kepada Direksi Pekerjaan, atau
Pengguna Jasa. Demikian pula sebelum pemasangan
kontraktor pelaksana harus mengajukan ijin tertulis
kepada Direksi Teknis untuk memastikan bahwa material
yang akan dipasang sudah benar benar sesuai dengan
contoh yang disetujui sebelumnya.
b) Sebelum pemasangan
dilaksanakan, lapisan pasir
dibawahnya harus dipadatkan dan rabat beton telah
benar benar kering atau minimal telah berumur 7
( tujuh ) hari.

5.8.2 PEKERJAAN PELAPIS DINDING :


1). Keramik yang digunakan untuk pelapis dinding pada KM/WC,
dilaksanakan sesuai dengan yang ditunjuk dalam gambar
dipakai ukuran 20 25 Cm dengan motif sesuai persetujuan
Direksi / Konsultan Pengawas.
2). Pasangan ini harus dilaksanakan dengan rata dan dikerjakan
oleh tukang yang cakap, pemotongan harus dilakukan dengan
pisau khusus dan pada pertemuan sudut harus dibuat dengan
sambungan Verstek dan campuran spesi / adukan yang dipakai
1 Pc : 3 Ps.
3). Khusus pasangan lantai KM/WC dipasang dengan kemiringan
kearah lubang pembuangan / Floor drain / Saringan.
5.8.3 PERBAIKAN PEKERJAAN YANG TAK MEMUASKAN
a) Perbaikan pekerjaan pemasangan keramik dilaksanakan apabila,
tidak memenuhi kriteria toleransi yang disyaratkan dalam pasal
pasal diatas, atau tidak memiliki permukaan akhir yang tidak
memuaskan, maka harus mengikuti petunjuk dan arahan dari
Direksi Teknis.
b) Direksi Teknis berhak menolak atau memerintahkan untuk
mengganti atau membongkar atas bagian atau keseluruhan
pekerjaan yang menyimpang dari yang disyaratkan atau
pamasangan yang menurut Direksi tidak benar.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 48 -

5.9. PEKERJAAN PENGECATAN


5.9.1.
a.

KETERANGAN UMUM :
Pekerjaan ini meliputi pengadaan pengecatan dari bagianbagian yang ditunjuk dalam gambar maupun bagian-bagian
lainnya yang memerlukan perlindungan dengan cara
pengecatan.
Pekerjaan cat dilaksanakan sesuai yang ditunjuk dalam
gambar kerja, dan Rencana Anggaran Biaya, warna akan
ditentukan kemudian oleh Direksi.

b.

Penyempurnaan dan pengulangan pengecatan maupun


plamurnya , karena belum rata, berubah warna, atau sebabsebab kecacatan lainnya sampai pada saat serah terima
pekerjaan yang kedua kalinya, menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

5.9.2.
a.

CAT TEMBOK / BETON :


Bahan cat yang dipakai untuk finishing dinding dalam, dinding
luar dan beton adalah kwalitas nomor 1 dan bahan plamur
yang digunakan merk yang sama dengan merk cat Decolith
atau yang setara yang dipakai.
Sebelum dicat permukaan dinding tembok / beton harus
betul-betul rata dan dibersihkan dengan cara menggosok
memakai kain yang dibasahi / amplas basah. Dan setelah
kering baru diplamur sehingga permukaannya menjadi rata
dan licin. Sedangkan untuk dinding tembok yang rusak /
pecah harus diperbaiki terlebih dahulu.
Pengecatan dilakukan dengan kuas atau roller sampai
didapatkan hasil akhir yang merata warnanya minimal 3 (tiga)
kali pengecatan dan harus didapat warna putih yang merata,
dan semua pengecatan ulang harus menunggu minimal 12
jam setelah pengecatan seluruhnya selesai dilaksanakan.

b.

c.

5.9.3. CAT BESI


1. Pekerjaan pengecatan besi dilaksanakan pada tempat sesuai
dengan tersebut di gambar, dan bagian-bagian besi lainnya
yang memerlukan finishing dengan cat
besi, sedangkan
bahan cat besinya menggunakan kwalitas Nomor 1 merk
Emco atau setara, dan disetujui oleh Direksi.
2. Semua pekerjaan tersebut di atas harus dilaksanakan dengan
baik yaitu 1 menie, 2 cat dasar & 2 s/d 3 cat penutup
sampai baik.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 49 -

5.10. PEKERJAAN TANAMAN


Pengadaan dan Penanaman Tanaman :
3. Pohon palm ekor tupai besar, setinggi 4 m, termasuk steiger
dan pupuk

Pengadaan dan Penanaman tanaman perdu , dengan :


Pembuatan lubang tanaman sesuai dengan gambar kerja
Pembelian Pupuk Tanaman
Perawatan tanaman selama 3 bulan

5.11. PEKERJAAN SANITASI


Pengadaan dan Pemasangan :
Saluran Buis Beton 20 cm, 80 cm
5.11.1.
MACAM PEKERJAAN :
1. Memasang saluran pembuang buis beton dia. 20 cm.
2. Memasang saluran induk buis beton dia. 80 cm.
5.11.2.
SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN :
(1) Persiapan Tempat Kerja
(a) Penggalian dan persiapan galian serta pondasi untuk Goronggorong
dan Drainase beton harus dilaksanakan sesuai
dengan yang disyaratkan.
(b) Material untuk landasan harus dipasang sesuai dengan syarat
dari Seksi 2.4 - Drainase Porous dan yang khususnya dengan
Pemasangan Material Landasan.
(2) Penempatan Gorong-gorong Pipa (Beton)
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 50 -

(a) Pipa harus ditempatkan dengan hati-hati, bibir sambungan


harus terpasang baik kedalam kedudukannya dan sesuai
dengan arah serta kelandaiannya.
(b) Sebelum
melanjutkan
pemasangan
bagian pipa yang
berikutnya, bagian bawah bukaan yang sebelumnya harus
diberi adukan yang cukup pada sisi dalam sehingga bagian
dalam dari pipa berikutnya rapat dan rata.
Pada saat yang sama bagian atas juga harus diberi adukan
yang sama.
(c) Setelah pipa dipasang, sambungan selebihnya harus diisi
dengan adukan, dan adukan tambahan harus diberikan untuk
membentuk selimut di sekeliling sambungan. Bagian dalam
dari sambungan harus disapu dan diselesaikan hingga rata.
Adukan pada bagian luar harus dipertahankan tetap lembab
untuk dua hari sampai Direksi Teknik mengijinkan pengurugan
kembali.
(d) Pengurugan kembali dan pemadatan sekeliling dan diatas
gorong-gorong pipa harus dilaksanakan seperti yang
disyaratkan.
(e) Urugan harus dilakukan sampai tinggi minimum 30 cm diatas
puncak pipa dan, terkecuali dalam galian, untuk jarak
minimum 1,5 diameter dari sumbu pipa kemasing-masing sisi.
Perhatian khusus harus dilakukan untuk menjamin bahwa
pengurugan kembali dibawah selubung pipa harus betul-betul
terpadatkan.
(f) Alat berat dan mesin gilas harus tidak boleh beroperasi lebih
dekat dari 1,5 m hingga pipa telah dilapisi sampai ketebalan
paling sedikit 60 cm diatas puncak pipa. Perlengkapan ringan
dapat beroperasi dalam batas tersebut diatas asal
pengurugan kembali telah mencapai 30 cm diatas puncak
pipa. Meskipun demikian dan tidak bertentangan dengan
yang diatas, Kontraktor harus bertanggung jawab dan harus
memperbaiki kerusakan yang terjadi dari operasi tersebut.
(g) Pipa harus diselimuti dengan beton sesuai dengan perincian
yang diberikan dalam Gambar Rencana atau yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik, bila kedalaman lapis
penutup yang dipasang lebih dari maksimum atau kurang dari
minimum dari yang ditunjukkan dalam Gambar Rencana atau
dalam Spesifikasi dari pabrik pembuat untuk ukuran dan kelas
pipa tertentu.
2.3.1 PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
(1) Metode Pengukuran
(a) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran gorong-gorong
pipa / persegi beton haruslah jumlah meter panjang dari
gorong gorong pipa/ persegi baru atau perpanjangan yang di
pasang yang diukur dari tepi luar tembok kepala, atau dari
ujung ke ujung gorong-gorong pipa/ persegi yang dipasang
bila tidak ada tembok kepala.
(b) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran gorong-gorong pipa
baja gelombang (corrugated) haruslah jumlah ton struktur
pipa baru atau perpanjangan yang dipasang dan diterima oleh
Direksi Teknik.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 51 -

(c) Kuantitas yang diukur untuk stuktur lainnya yang diuraikan


dalam Seksi ini haruslah kuantitas dari bermacam-macam
pekerjaan dan material yang digunakan, yang dihitung dan
dibayar seperti yang dijelaskan dalam Seksi-seksi lain yang
bersangkutan.
(2) Dasar Pembayaran
Kuantitas Gorong-gorong pipa/ persegi yang diukur sebagaimana
yang dijelaskan diatas, harus dibayar menurut Harga Satuan per
satuan pengukuran untuk masing-masing Mata Pembayaran yang
didaftar dibawah ini dan terdaftar dalam Jadwal Penawaran. Hargaharga dan pembayaran tersebut haruslah merupakan kompensasi
penuh untuk pengadaan, penempatan seluruh material dan biayabiaya lainnya yang perlu atau lazim untuk penyelesaian pekerjaan
yang diuraikan dalam Seksi ini.
Nomor
Mata
Pembayar
an

Uraian

Satuan
Pengukuran

2.3 (1)

Gorong-gorong persegi beton


bertulang, 3.00 x 1.50 m

Meter panjang

2.3 (2)

Gorong-gorong persegi beton


bertulang, 5.00 x 1.50 m

Meter panjang

2.3 (3)

Gorong-gorong persegi beton


bertulang, 5.00 x 3.50 m

Meter panjang

2.3 (4)

Gorong-gorong pipa baja


gelombang

Ton

PEKERJAAN MARKA JALAN


JENIS DAN MUTU BAHAN

Jenis dan mutu bahan yang akan dilaksanakan harus diutamakan


bahan-bahan

produksi dalam negeri sesuai dengan keputusan

Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri


Penertiban Aparatur Negara tanggal 23 Desember 1980.

Bahan-bahan bangunan/tenaga kerja setempat, sesuai dengan


lokasi yang ditunjuk, bila bahan-bahan bangunan dari semua jenis
memenuhi syarat teknis, sesuai dengan peraturan yang
dianjurkan untuk mendapatkan ijin dari Direksi (secara tertulis).

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 52 -

ada,

Bila bahan-bahan telah memenuhi spesifikasi teknis terdapat


beberapa/bermacam - macam jenis diharuskan untuk memakai jenis
dan mutu satu jenis.

Bahan-bahan bangunan yang telah ditetapkan jenisnya dimana


bahan bangunan tersebut mempunyai beberapa mutu, maka harus
ditetapkan untuk

dilaksanakan dengan mutu 1 (satu) untuk

dipergunakan.

Bila Kontraktor Pelaksana telah mendatangkan/melaksanakan jenis


dan mutu bahan untuk pekerjaan dari bagian pekerjaan tidak sesuai
dengan yang telah ditetapkan bahan-bahan tersebut harus ditolak
dan dikeluarkan dari lokasi pekerjaan paling lambat 2 x 24 jam setelah
ditolak dan biaya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

Contoh-contoh yang dikehendaki oleh pemberi tugas akau wakilwakilnya harus segera disediakan tanpa keterlambatan atas biaya
Kontraktor Pelaksana dan sesuai dengan Standart. Contoh-contoh
tersebut diambil dengan cara begitu rupa hingga dapat dianggap
bahwa bahan-bahan tersebut akan dipakai dalam pelaksanaan
pekerjaan nanti. Contoh tersebut disimpan sebagai dasar penolakan,
bila ternyata bahan atau cara mengajukan yang dipakai tidak sesuai
dengan contoh baik kualitas maupun sitat-sifatnya.

Bila dalam uraian dan syarat-syarat disebutkan nama pabrik


pembuatan dari suatu bahan, maka ini hanya dimaksud untuk
menunjukkan kualitas dan tipe dari barang-barang yang memuaskan
Pemberi Tugas.

URAIAN PEKERJAAN

Penyediaan
1.

Kontraktor Pelaksana harus menyediakan segala yang diperlukan


untuk melaksanakan

pekerjaan secara sempurna dan efisien dengan

urutan yang teratur, termasuk

semua alat bantu yang dipergunakan

dan sebagainya yang diperlukan oleh dan untuk semua alat-alat


tersebut pada waktu pekerjaan selesai karena sudah tidak dipergunakan
lagi dan untuk memperbaiki kerusakannya yang diakibatkannya.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 53 -

Kuantitas dan Kualitas Pekerjaan.

1.

Kualitas dan Kuantitas dari pekerjaan yang termasuk dalam harga


kontrak harus dianggap seperti apa yang tertera dalam gambargambar kontrak atau diuraikan dalam uraian dan syarat-syarat. Tetapi
kecuali yang disebut di atas apa yang tertera dalam uraian dan
syarat-syarat atau gambar dalam kontrak itu bagaimanapun tidak
boleh

menolak,

merubah

atau

mempengaruhi

penerapan

atau

interprestasi dari apa yang tercantum dalam syarat-syarat ini.


2. Kekeliruan dalam uraian pekerjaan atau kuantitas atau pengurangan
bagian-bagian dari gambar dan uraian dan syarat-syarat tidak boleh
merusak (membatalkan) kontrak ini, tetapi hendaknya diperbaiki dan
dianggap suatu perubahan yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas.

'

3. Segala pernyataan mengenai kuantitas pekerjaan yang mungkin


sewaktu-waktu diberikan, tidak boleh merupakan bagian dari kontrak
ini dan harga-harga yang dimuat dalam harga tetap digunakan
meskipun ada ketidaksesuaian antara harga-harga itu dengan yang
tercantum dalam perkiraan manapun.
4. Harga

kontrak

tidak

boleh

disesuaikan

atau

dirubah

secara

bagaimanapun selain menurut ketentuan-ketentuan yang tepat dari


syarat-syarat ini, dan taat kepada pasal-pasal dari syarat-syarat ini,
semua kekeliruan baik mengenai hitungan atau bukan perhtungan
harga kontrak harus dianggap telah diterima oleh kedua pihak yang
bersangkutan.
GAMBAR-GAMBAR PEKERJAAN
Gambar-garnbar rencana pekerjaan yang terdiri dari gambar rencana
kerja, gambar detail kontruksi, gambar situasi dan sebagainya yang
telah dilaksanakan oleh Konsultan Perencana, telah disampaikan kepada
Pengguna/Pemberi

Tugas

beserta

dokumen

yang

lain.

Kontraktor

Pelaksana tidak boleh merubah dan menambah tanpa mendapatkan


persetujuan tertulis dari Pemberi Tugas /Direksi.

Gambar- gambar ditempat pekerjaan.


Kontraktor Pelaksana harus menyimpan 1 (satu) rangkap gambar
lengkap termasuk rencana dan syarat-syarat, Berita acara anwijzing,
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 54 -

time schedulle dalam keadaan baik (dapat dibaca dengan jelas)


termasuk perubahan-perubahan terakhir, jika pemberi tugas atau
wakilnya sewaktu-waktu memerlukan.
Contoh Barang / Bahan yang Ditawarkan.

1.

Dalam masa pelaksanaan pekerjaan pembangunan, bahanbahan / barang yang akan dilakukan harus sesuai dengan Spesifikasi
Teknis dan Berita Acara Anwijzing.

2.

Bahan / barang yang ditawarkan dalam harga satuan


pekerjaan dan harga satuan bahan dan upah adalah mengikat,
Kontraktor Pelaksana Teknis menawarkan harga-harga tersebut sesuai
Spesifikasi Teknis dan Berita Acara Anwijzing.

3.

Contoh

Barang/bahan

yang

ditawarkan

tidak

dapat

dipergunakan bila belum mendapatkan persetujuan dari Direksi


secara tertulis.
PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN
Berlaku dan mengikat didalam Spesifikasi Teknis ini :
PUBB (Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan-Bahan Bangunan

No.13/56).
Peraturan Perburuhan di Indonesia (tentang pengerahan

tenaga

kerja) antara lain tentang larangan mengerjakan anak-anak dibawah


umur.

Peraturan-peraturan lain yang mengatur dan masih berlaku.

Peraturan-peraturan Pemerintah Kabupaten Magetan mengenai


bangunan-bangunan.

PENJELASAN SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR


Bila terdapat perbedaan gambar-gambar rencana dan detail maka
gambar detail yang dipakai atau menyesuaikan bangunan lama.
Bila terdapat skala gambar dan ukuran dalam gambar tidak sesuai maka
ukuran dengan angka dalam gambar detail yang diikuti atau mengikuti
bangunan lama.
Bila Kontraktor Pelaksana meragukan tentang perbedaan antara gambargambar yang ada baik mengenai mutu bahan yang dipakai maupun
konstruksi

dengan

Spesifikasi

Teknis,

maka

Kontraktor

Pelaksana

berkewajiban untuk menanyakan kepada Direksi/Pemberi Tugas secara


tertulis.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 55 -

Kontraktor Pelaksana berkewajiban untuk mengadakan penelitian tentang


hal-hal tersebut diatas, setelah Kontraktor Pelaksana menerima Dokumen
dari Pemberi Tugas dan hal tersebut akan dibahas secara tertulis.
Sebelurn melaksanakan pekerjaan Kontraktor Pelaksana diharuskan
meneliti kembali semua Dokumen yang ada untuk disesuaikan dengan
Berita Acara Rapat Perjelasan.
PEKERJAAN TIDAK BAIK
Pemberi tugas berhak memberi instruksi agar Kontraktor Pelaksana
membongkar pekerjaan apa saja yang telah ditutup untuk diperiksa atau
mengatur untuk mengadakan pengujian bahan-bahan atau barangbarang baik yang sudah dilaksanakan. Ongkos untuk pengerjaan dan
sebagainya menjadi beban Kontraktor Pelaksana untuk disempurnakan
sesuai kontrak.
Pemberi

Tugas

berhak

mengeluarkan

instruksi

untuk

menyingkirkan dari tempat pekerjaan, bahan-bahan atau barang-barang


apa saja yang tidak sesuai dengan kontrak.
Pemberi Tugas boleh (tetapi tidak dengan cara tidak adil atau

menyusahkan) mengeluarkan perintah yang menghendaki pemecatan


siapa saja dari pekerjaan.

CARA- CARA DAN SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


Pekerjaan persiapan

1.

Sebelum

marka-marka

dipasang

atau

pelapisan

cat

dilaksanakan permukaan perkerasan yang akan dicat harus bersih,


kering dan harus bebas dari bekas-bekas gemuk dan debu. Cat
lama atau thermoplastis yang akan menghalangi pelekatan yang
memadai terhadap pelapisan yang baru harus dibuang dengan
semprotan pasir.
2.

Pemakaian Cat Marka Jalan


a.

Semua pemakaian cat secara dingin harus diaduk


dilapangan

menurut

ketentuan

pabrik

pembuat

sesaat

sebelum dipakai agar menjaga bahan pewarna tercampur


merata didalam suspensi.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 56 -

b.

Cat tidak boleh dipasang pada pemukaan yang


dilapis kurang dari 1 bulan setelah pemberian lapisan labur
atas atau pelapisan lataston.

c.

Ukuran yang tepat dan kedudukan semua marka


jalan harus ditempatkan dan diberi tanda pada perkerasan
sebelum cat dipakai.

d.

Cat harus dipakai untuk sumbu jalan, garis pemisah


jalur, garis batas perkerasan dan garis-garis zebra cros
dengan memakai alat mesin mekanis yang disetujui, bergerak
dengan mesin sendiri, jenis penyemprot otomatis dengan
pengaduk mekanis, yang mempunyai katup penutup yang
mampu membuat garis-garis putus secara otomatis. Mesin
tersebut harus menghasilkan lapisan yang lurus dan merata
dengan ketebalan 1,5 mm, diluar kristal gelas dan lebar yang
seragam dan tepat dengan sisi-sisi potongan yang tegas.

e.

Bilamana

pengecatan

dengan

mesin

tidak

memungkinkan, Direksi teknik dapat membolehkan marka


jalan dibuat dengan kuas tangan , disemprot atau dicetak
sesuai dengan bentuk konfigurasi dan jenis cat yang disetujui
untuk digunakan. Bila cat akan dipakai dengan salah satu
methoda diatas, maka harus menghasilkan lapisan yang lurus
dan merata dengan ketebalan 3 mm diluar kristal gelas.
f.

Kristal gelas harus diberikan pada permukaan cat


jalan segera setelah cat tersebut dioleskan, Semua kristal
gelas harus dipasang dengan tekanan atau dengan takaran
semprotan 450 gm/m2.

g.

Semua marka jalan harus dilindungi dari lalu lintas


hingga marka-marka tersebut cukup kering dengan demikian
tidak ada yang terkelupas atau adanya jejak roda.

h.

Semua

marka

yang

tidak

tarnpak

dengan

mem.uaskan dan merata pada siang dan malam hari harus


diperbaiki dengan biaya kontraktor.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 57 -

i.

Pemeliharaan arus lalulintas harus dilakukan sedemikian


rupa untuk menjamin keamanan terhadap masyarakat pemakai
jalan ketika operasi marka jalan sedang berjalan.

3.

Sebelum Kontraktor Pelaksana mengadakan persiapan di


lokasi, sebelumnya harus memenuhi prosedur tentang tata cara
perijinan/perkenan untuk memulai dengan persiapan-persiapan
pembangunan kepada Pemerintah Kabupaten Setempat, terutama
tentang penempatan bahan-bahan bangunan, jalan masuk dan lain
sebagainya.

4.

Pada

saat

mengadakan

persiapan

dan

pengukuran,

Direksi lapangan sudah harus mulai aktif untuk mengadakan


pengawasan sesuai dengan tugasnya.
Untuk menghindari kerugian konstruksi, maka sebelum pada tiap-tiap
bagian pekerjaan dilaksanakan, diharuskan mendapatkan ijin tertulis
dari Direksi Lapangan untuk dapat meneruskan bagian dari pekerjaan
tersebut secara berkala.
5.12. PEKERJAAN PENGADAAN DAN PEMASANGAN LAMPU
5.12.1.

PEMASANGAN LAMPU PENERANGAN UTAMA

5.12.1.1. Lingkup pekerjaan yang dilaksanakan :


Pengadaan dan pemasangan lampu HPIT 1000 Watt,
dilengkapi dengan casing SNI, accessories dari Pabrikan
eks. Belanda, Jerman
Pengadaan dan pemasangan Tiang Lampu fabrikasi,
tinggi dari muka tanah 20 m, bahan dari pipa 10 , 6
, tebal > 3 mm, dan 2 , standart SNI finishing cat,
sesuai dengan gambar kerja
Pengadaan dan pemasangan Kotak Panel MPD A UK.
( 20x40x60 cm), lengkap terpasang instrument exs.
Jerman, Perancis
Pengadaan dan pemasangan Panel tempat Accesoris
Lampu.
Pengadaan dan Pemasangan Kotak Panel 20x40x60 cm,
lengkap terpasang MCB 16 A, MCB 32 A
Pengadaan dan Pemasangan Kotak Panel 20x40x60 cm
lengkap terpasang.
Pengadaan dan pemasangan/ penanaman Kabel NYY 4X6
mm, (SNI, LMK, SPLN)
Pengadaan
dan
pemasangan/
penanaman
Kabel
NYY2X2,5 mm,(SNI, LMK, SPLN)
Pemasangan Tiang tempat Kotak Panel (terpasang)
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 58 -

Pengadaan dan pemasangan Arde Penangkal Petir (NYA


50 mm dan Ardyspy 1,5 x 6 meter.
Pengadaan dan Pemasangan Arde Ground Nol (NYA 10
mm dan Ardyspy 1x3 meter)
Kebutuhan Daya Listrik PLN 23.000 KVA
5.12.2.

PEKERJAAN PONDASI LAMPU

5.12.2.1. Lingkup pekerjaan yang dilaksanakan :


Galian tanah untuk pondasi Strous 30 cm, kedalaman 4
m, dan Pondasi Poor 120x120x40 cm, sesuai dengan
gambar rencana.
Urugan pasir dan Rabat Beton sebagai lantai kerja.
Pengecoran pondasi Strous dan Balok Poor, K . 225,
pembesian besi polos.
Pengadaan dan pemasangan Angkur dia. 19 mm.

5.13. PEKERJAAN LAIN LAIN


PEKERJAAN KONSTRUKSI PAPAN NAMA
Konstruksi papan nama yang dimaksud di sini terdiri atas :
a.
Dasar tulisan dari plat kuningan.
b.
Tulisan sesuai dengan Gambar Kerja, dari bahan plat
kuningan .
Bentuk tulisan agar di sesuaikan dengan lebar papan nama. Untuk
itu Kontraktor harus membuat "gambar pelaksanaan" terlebih dulu.
5.17 PEKERJAAN PENYELESAIAN
PEMERIKSAAN BAGIAN PEKERJAAN YANG TELAH SELESAI
a. Bagian-bagian yang telah selesai dikerjakan harus diperiksa
kembali oleh pelaksana bersama-sama dengan pengawas/
direksi sebelum diserahkan dan disahkan.
Syarat - Syarat Teknis
Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 59 -

b. Pelaksana harus menyempurnakan/ memperbaiki kekurangankekurangan/ kerusakan yang mungkin ada sehingga pekerjaan
akan baik dan sempurna serta memnuhi syarat sebelum
pekerjaan berikutnya dilanjutkan.
c. Hasil dari pemeriksaan harus dicatat dalam buku harian dan
apabila pekerjaan telah selesai dilaksanakan dengan baik dan
memenuhi syarat maka dinyatakan oleh pengawas bahwa
pekerjaan berikutnya dapat dilanjutkan.
d. Apabila hasil pekerjaan tidak memenuhi syarat maka pelaksana
harus menanggung resiko pembongkaran dan perbaikan
kembali, apabila hal ini perlu oleh pengawas.
e. Pelaksana harus membersihkan daerah kerja setelah pekerjaan
selesai.
f. Bekas material dan kotoran harus dibersihkan sehingga
pekerjaan kelihatan bersih dan rapi.
g. Pelaksana harus segera mengambil alat-alat miliknya yang tidak
dipakai sedangkan alat-alat milik dinas harus diurus dan
dikembalikan dalam keadaan baik dan dikirim ketempat yang
ditunjuk direksi/ pengawas lapangan.
h. Pelaksana wajib memeriksa kembali seluruh pekerjaan serta
mengadakan perbaikan yang mungkin masih perlu.
i. Sisa-sisa bahan yang dibeli dan dibiayai dari kegiatan menjadi
milik pengguna jasa dan bukan milik penyedia jasa.
j. Apabila pekerjaan dianggap selesai 100% maka pemborong
harus melaksanakan penyerahan yang pertama.
k. Dalam masa pemeliharaan penyedia jasa harus menjaga
keamanan, kondisi serta kebersihan bangunan sampai dengan
penyerahan yang kedua.

PENUTUP
1.

Apabila dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) ini untuk uraian
pekerjaan

tidak

disebutkan

dalam

perkataan

atau

kalimat

diselenggarakan oleh Kontraktor Pelaksana, maka hal ini harus dianggap


seperti disebutkan.
2.

Guna mendapat hasil yang baik, maka pada bagian-bagian yang nyata
nyata termasuk atau yang disebut kata demi kata dalam Rencana Kerja dan

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 60 -

Syarat-syarat ini haruslah diselenggarakan oleh Kontraktor Pelaksana, dan


diterima sebagaimana hal yang disebutkan .
3.

Hal-hal yang tidak tercantum dalam peraturan ini, akan ditentukan lebih
lanjut oleh pihak Pemberi Tugas, bilamana perlu diadakan perbaikan dalam
peraturan Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini.

Syarat - Syarat Teknis


Rehabilitasi Jalan Imam Bonjol Kota Madiun
ST- 61 -