Anda di halaman 1dari 25

LANDASAN TEORI

III-1

LANDASAN TEORI
3.1 Diagram Langkah-Langkah (Flow Chart ) Perencanaan
START

Constrain

Spesifikasi
teknis
Varian pilihan terbaik

Informasi

Varian terpilih

Saran

Perhitungan daya motor


hidrolik
Perhitungan part-part yang lain

Perhitungan bearing
Perhitungan material
Perhitungan factor keamanan
Perhitungan gaya gesek

Gambar teknik

STOP

END

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

Data Life Gates

LANDASAN TEORI

3.2.

III-2

Konsep Mekanika
Suatu gaya menunjukan aksi dari suatu benda terhadap benda yang lain,

gaya ini dapat beraksi melalui suatu kontak langsung atau dari jarak tertentu,
seperti pada gaya gravitasi dan gaya magnetik. Gaya ditentukan oleh titik aksi,
besar dan arahnya suatu gaya dinyatakan sebagai vektor.
3.2.1. Hukum Jajaran Genjang Untuk Penjumlahan Gaya
Hukum ini menyatakan bahwa dua buah gaya yang beraksi pada suatu
partikel dapat diganti dengan sebuah gaya, disebut sebagai resultan yang diperoleh
dengan mengambarkan diagonal jajaran genjang dengan sisi kedua gaya tersebut.
F1
R

F2
Gambar.3.1 Penjumlahan vektor dua buah gaya
3.2.2

Prinsip Transmibilitas
Prinsip ini menyatakan bahwa kondisi keseimbangan atau gerak suatu

benda tegar tidak akan berubah apabila gaya yang beraksi pada suatu titik diganti
dengan gaya yang lain yang sama arah dan besarnya, tetapi beraksi pada suatu
titik yang berbeda asalkan gaya tersebut terletak pada suatu garis aksi yang sama.
F

Gambar.3.2. Prinsip transmibilitas

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

3.2.3

III-3

Kesetimbangan Benda Tegar


Sarat kesetimbangan suatu benda tegar dapat dinyatakan secara analitis
dengan menuliskan.

Persamaan tersebut menunjukan bahwa pada saat terjadi kesetimbangan


gaya luar yang beraksi pada benda tegar tidak menimbulkan gerak translasi
dan tidak menyebabkan rotasi pada titik manapun, aksi setiap gaya luar
individual
ditiadakan oleh aksi gaya lainya dari sistem itu dengan demikian dikatakan
bahwa gaya luar seimbang.
3.2.4

Gaya Karena Massa Benda


Sesuai dengan hukum kedua Newton yang menyatakan bila gaya resultan
yang beraksi pada suatu partikel tidak sama dengan nol, partikel tersebut
akan memperoleh kecepatan sebanding dengan besarnya gaya resultan dan
dalam arah yang sama dengan resultan tersebut, hukum ini dapat dinyatakan
sebagai berikut.

F m.a
Dimana F,m dan a adalah berturut turut gaya resultan yang beraksi pada
partikel dan percepatan, oleh karena itu suatu benda dengan massa m dan
dipengaruhi oleh percepatan gravitasi bumi akan memiliki gaya yang besar.
Tarikan gravitasi bumi pada sebuah benda disebut sebagai berat benda
tersebut. Gaya ini ada pada benda, baik dalam keadaan diam maupun

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-4

bergerak. Karena tarikan ini adalah sebuah gaya, maka berat sebuah benda
dalam satuan SI harus dinyatakan dalam Newton.
W=m.g
Berat W akan dinyatakan dalam Newton (N) apabila m dalam kilogram (kg)
dan g dalam meter per second kuadrat (m/s 2 ). Harga standar g = 9.81 (m/s
2

3.2.5

).
Tumpuan

Didalam bangunan gedung banyak dijumpai balok-balok. Tempat-tempat


dimana balok-balok tadi diletakan diatas tembok atau yang lainnya disebut
tumpuan.
Tumpuan terbagi 3 :
1. Tumpuan fix / jepit
Tumpuan fix ini dapat menerima gaya tegak Fy, gaya datar Fx, dan
momen
2. Tumpuan berengsel
Tumpuan berengsel mampu menerima sebuah gaya mendatar Fx dan
gaya tegak Fy.
3. Tumpuan roll
Bila bidang rollnya mendatar, tumpuan macam ini hanya dapat
menerima gaya tegak Fy.

Tumpuan fix

Tumpuan engsel

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

Tumpuan roll

LANDASAN TEORI

III-5

M
Fx

Fx
Fy

Fy

Fy

Gambar. 3.3. Jenis-jenis tumpuan


3.2.6

Tegangan (Stress)
Tegangan adalah gaya yang diberikan terhadap suatu benda berbanding
dengan luas penampang dari benda tersebut.
Gaya ( F )

Tegangan = Luas penampang ( A)


Jenis tegangan terdiri dari :
1.

Tegangan Normal (Normal stress)


Arah gaya yang bekerja adalah tegak lurus terhadap irisan/penampang.
Dilambangkan dengan

(sigma)

Secara matematis dedifinisikan sebagai :

lim it F
A 0 A

Besarnya tegangan normal atau tegangan yang berlaku tegak lurus pada
potongan adalah :

F
Gaya
atau
A
Luas

Tegangan normal ini didistribusikan dengan merata pada luas penampang A.


Pada umumnya F adalah resultan sejumlah gaya pada suatu sisi pada suatu
potongan. Persamaan diatas berlaku dengan mengidealisasikan sifat dari
bahan yaitu setiap partikel bahan dianggap menyokong gaya sama besar.

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-6

Tegangan maksimum merupakan besaran yang paling penting karena


cenderung akan menyebabkan kegagalan bahan.
dimana
F = gaya yang bekerja (Kg)
A = luas penampang ( m 2 )
Jenis tegangan normal
1.

Tegangan tarik (tensile Stress), adalah tegangan normal yang


menghasilkan tarikan (Traction atau Tension).

2.

Tegangan tekan (compressive stress), adalah tegangan normal


yang mendorong potongan tersebut.

3. Tegangan Geser (SHEARING STRESS)

Arah yang bekerja adalah sejajar dengan bidang irisan.

Dilambangkan dengan (tau)


V gaya

A luas

dimana v adalah komponen gaya yang sejajar dengan potongan.

Tegangan Geser Rata Rata


Adalah dimana gaya gaya yang diantarkan dari sebuah bagian benda

kepada benda yang lain adalah dengan menimbulkan tegangan-tegangan


dalam bidang sejajar dengan gaya terpakai. Jadi dengan mengangap bahwa
tegangan yang bekerja dalam bidang potongan-potongan ini akan
didistribusikan secara merata, maka kita akan memperoleh hubungan
tegangan sebagai berikut

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-7

V gaya

A luas

Dari pernyataan diatas diketahui bahwa tegangan geser berbeda dengan


tegangan tarik, tegangan akibat tegangan geser adalah disebabkan oleh gaya
yang bekerja sejajar dengan luas penahan gaya, sedangkan tegangan tarik
dan tekan disebabkan oleh gaya tegak lurus terhadap luas bidang gaya. Oleh
sebab itu tegangan tarik dan tekan disebut Tegangan Normal, sedangkan
tegangan geser bisa disebut Tegangan Tangensial .
2.

Faktor Keamanan
Didalam suatu perancangan mesin faktor keamanan merupakan bagian yang
terpenting dalam memilih bahan untuk dipergunakan dimesin, faktor
keamanan mempunyai ketetapan yaitu jika faktor keamanan dibawah angka
satu maka perancangan dianggap gagal, jika faktor keamanan mempunyai
nilai satu maka perancangan sangat kritis, dan angka yang terbaik untuk
faktor keamanan adalah diatas angka 2.
Rumus yang dipergunakan untuk menentukan faktor keamanan adalah :
SF =

izin
beban

3.3. Teori Dasar Hidraulik


3.3.1. Pengertian Hidraulik
Kata hidraulik berasal dari hudor (bahasa Yunani), berarti air. Ini bisa
diartikan bahwa suatu penggerak cara hidraulik adalah suatu proses mekanis yang
dilakukan dengan cara pemindahan dan pengendalian gaya - gaya atau gerakan gerakan dengan bantuan zat cair (fluida). Apabila kita berbicara tentang hidraulik

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-8

maka akan berhubungan dengan suatu zat cair dari macam apa pun (air, minyak,
gliserin).
Adapun hidraulika adalah ilmu yang menyangkut berbagai gerak dan
keadaan keseimbangan zat cair. Dimana hidraulika merupakan sebuah cabang dari
ilmu perihal arus yang meneliti arus zat cair melalui pipa pipa dan pembuluh
pembuluh yang tertutup, maupun dalam kanal kanal terbuka dan sungai
sungai.
Dari pernyataan diatas maka memberlakukan hidromekanika yaitu ilmu
yang mempelajari tentang kondisi keseimbangan zat cair dibawah pengaruh
berbagai gaya luar (hidrostatika) dan dibawah hukum hukum arusnya sendiri
(hidrodinamika).
3.3.2. Pemindahan Gaya secara Hidraulik
Suatu peralatan ataupun instalasi dimana sebuah gaya tertentu dikenakan
suatu pengubahan, dalam arti lain diperbesar. Apabila kita mempunyai bejana
seperti yang tertera pada gambar 3.4, maka kita dapat memindahkan gaya (gambar
3.5), karena tekanan bejana meneruskan juga pada bidang torak yang lebih besar
sehingga gaya yang ditimbulkan menjadi lebih besar. Perbandingan pemindahan
gaya dari F1 ke F2 :

p1

F1
A1

p2

F2
A2

p1 = p2 = p

Karena tekanan dalam bejana sama besarnya, maka :

F1 A1

.................................... Pers 1
F2 A2
Besarnya gaya gaya sebanding dengan luas penampang penampang
torak. Apabila luas A2 4 kali A1 (hal ini terjadi pada diameter torak 2 kali lebih

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-9

besar), maka gayanya menjadi 4 kalinya. Ini adalah prinsip dari dongkrak
hidraulik, dengan gaya yang kecil pada torak penekan kita dapat memperoleh
gaya yang besar pada torak kerja yang lebih luas. Secara umum kita dapat
memperoleh gaya yang lebih besar yaitu dengan cara memperbesar luas
penampang torak kerjanya.
F

F1

F2

Gambar. 3.4. Sebuah Torak

Gambar 3.5. Dua Buah Torak

3.3.3. Pemindahan Tekanan secara Hidraulik


Pada pengalihan tekanan hidraulik yang dipersoalkan adalah suatu
peralatan yang mana tekanannya ditingkatkan (gambar 3.6). Bagian yang
terpenting pada pengalihan tekanan hidraulik ini adalah sepasang torak diferensial
yang terdiri dari torak datar dengan diameter berukuran besar (d 1) dan torak yang
sangat panjang dan berdiameter kecil (d2). Dalam silinder 1 yang berdiameter
besar (d1) dipompa suatu zat cair pada tekanan p1, dengan demikian pada torak ini
bekerja gayaF1: A1 p1 d1 2 p1
4

................................. pers 2
Dengan gaya F1 ini, torak kecil yang berdiameter d2 ditekan ke dalam
silinder 2, dalam silinder
2 timbul suatu tekanan oleh gaya pada torak d2 :
2
d
p2 1 p1
...............................
pers 3
d2
2
d
p 2 1 p1
d2

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-10

A1

F2

A2

Gambar 3.6. Dongkrak Hidraulik Pemindah Gaya


3.3.4. Pompa Hidrolik, Hidromotor Dan Elektromotor
3.3.4.1. Pompa Hidrolik
Pompa hidrolik berfungsi pada sistem hidrolik, pompa berkerja untuk
menciptakan aliran fluida (untuk memindahkan volume fluida) dan memberikan
gaya yang dibutuhkan.
Pada dasarnya terdapat 3 jenis pompa perpindahan positip yang
digunakan dalam sistem hidrolik yaitu pompa roda gigi, pompa baling-baling
(sirip) dan pompa piston torak.

Gambar 3.7 Simbol Pompa Hidraulik


3.3.4.2. Hidromotor
Hidromotor berfungsi pada sistem hidrolik, hidromotor berkeja untuk
menciptakan energi mekanik, hidromotor dapat dinyatakan sebagai pengguna
(pemakai) miyak tekan dan pompa hidraulik sebagai pembangkit miyak tekan,
pada prinsipnya hidromotor digunakan untuk mengatur proses gerak dalam
sistem-sistem pengendali hidraulik. Kecepatan gerak pada umumdipengaruhi oleh

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-11

besarnya aliran zat cair. Pada dasarnya terdapat 3 jenis hidromotor, yaitu motor
roda gigi, motor baling-baling (sirip), dan motor piston torak

Gambar 3.8 Simbol Hidromotor Yang Dapat Disetel

3.3.4.3. Elektromotor
Elektromotor adalah alat untuk menggerakan pompa hidro dengan
kecepatan mendekati konstan

Gambar 3.9 Simbol Electromotor


3.3.5. Katup-katup
Sistem pheumatik dan hidraulik membutuhkan katup control untuk
mengarahkan dan mengatur aliran fluida dari kompresor atau pompa keberbagai
peralatan beban, walaupun terdapat perbedaan paraktis yang singnifikan antara
peralatan pheumatik dan hidraulik (yang muncul dari perbedaan dalam
pengoperasian tekanan dan jenis seal yang dibutuhkan untuk gas atau cairan),
prinsip operasinya dan gambarnya adalah serupa, adapun katup-katup yang
digunakan dalam perencanaan sistem hidraulik untuk pengangkat breaker block
3.3.5.1. Katup pengontrol arah (directional control valve) 4/2
Katup ini digunakan untuk mengatur arah aliran fluida dengan menutup
atau membuka saluran yang daksudkan adalah membolehkan aliran fluida pada
satu arah saja,aliran tertutup pada arah berlawanan. Disamping itu mencegah

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-12

tekanan lebih dari sistem hidraulik ke pompa, pengoperasian alat ini bisa
dilakukan dengan manual atau dengan cara otomatis yaitu dengan menggunakan
selenoid valve ini semua tergantung dari kebutuhan.

Gambar 3.10 Katup Jalan 4/2


3.3.5.2. Katup Balik
Katup ini digunakan untuk mengalirkan fluida pada satu arah saja, katup
ini dapat dipasang pada aliran tekan maupun aliran balik

Gambar 3.11 Katup Balik


3.3.5.3. Katup Pembatas Tekanan
Katup ini digunakan untuk mengontrol aliran fluida tekan, yaitu
membatasi tekanan kerja pada harga yang dikehendaki dengan cara mengeset
tekanan maksimum didalam sistem dan melindungi sistem dari tekanan berlebih.

Gambar 3.12 Katup Pembatas Tekanan

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-13

3.3.5.4. Katup Balik/Searah Dengan Hambatan Yang Dapat Disetel


Katup ini digunakan untuk membatasi aliran fluida tekan pada satu arah
serta menjamin persilangan aliran pads arah diperkirakan konstan dan aliran yang
tak terbatas pada arah yang berlawanan

Gambar 3.13 Katup Balik Yang Dapat Disetel


3.3.5.5. Katup Buka/Tutup (Open Closed Valve)
Alat ini digunakan untuk membuka atau menutup aliran

Gambar 3.14 Open-Close Valve


3.3.6. Aksesoris Hidraulik
3.3.6.1. Reservoir
Sebuah sistem hidraulik adalah sistem tertutup, dimana minyak yang
digunakan disimpan dalam sebuah tangki atau reservoir kemana minyak itu
kembalikan setelah digunakan. Walaupun mukin merupakan bagian yang paling
biasa dari sistem, desain dan perawatan reservoir sangatlah penting untuk operasi
yang dapat diandalkan. Tangki juga berfunsi sebagai penukar panas yang
memukinkan panas fluida dipindahkan, untuk mencapai pendiginan maksimum
maka fluida dipaksa mengikuti dinding- dinding tangki dari jaringan balik ke inlet
pengisapan pompa dengan sebuah pelat pelindung turun ke jaringan pusat tangki,

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-14

pelat ini juga mendorong kontaminan apapun untuk jatuh kedasar tangki sebelum
mencapai inlet pompa dan memukinkan udara yang terjebak untuk mehilang
kepermukaan.
3.3.6.2. Akumulator
Akumulator adalah sebuah bejana yang bertekanan dimana fungsi secara
umum ialah menerima volume fluida dengan tekanan dan kembali melepaskanya
sesuai kebutuhan dan juga menyimpan tekanan, mengurangi kejutan hidraulik
(Hidraulik Schock) dan juga sebagai pelindung (Buffer) pada sistem.
3.3.6.3. Filter
Filter hidraulik digunakan untuk memisahkan benda-benda asing dari
minyak hidraulik yang melewatinya. Dengan memakai filter secara tepat dan baik
maka effisiensi peralatan hidraulik akan naik bersama naiknya umur hidup
peralatan maupun turunya biaya perawatan filter diklasifikasikan menjadi 2:
1. Tank filter yang dipasang pada sisi isap.
2. Line filter yang digunakan pada saluran bertekanan
3.3.6.4. Alat Pengukur Tekanan (Pressure Gauge)
Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan aliran fluida yang timbul dari
pemompaan

Gambar 3.15:a. Akumulator, b. Filter, c. Pressure Gage

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-15

3.3.7. Rumus - rumus Hitungan


3.3.7.1. Ukuran Geometris
Luas piston ABore

d 12
cm 2
4 100

Luas batang piston ARod

d 22 0,785

cm 2
100

Luas ring piston = luas piston luasa batang piston

AR

2
1

d 22 0,785
cm 2
100

Dimana : d1= diameter bore (piston) (mm)


d2= diameter rod (torak) (mm)
Diameter batang piston menggunakan
rumus kolom Euler :
dp=( 64. I/ ) (10).
I: momen inersia penampang batang
I= (PCr . Le2/ E2) (10)
PCr : Beban kritis batang ( maksimum)
= Fm x SF
Le : Panjang batang yang telah dikoreksi
E= 21.103
Setelah didapat diameter batang piston, dari
tabel BS 5785 tahun 1980 (9) dipilih:
Tebal silinder
t = (Di /2) x (s + P)/(s P) (4)

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-16

s : tegangan perencanaan (B/SF)

3.3.7.2. kecepatan Langkah


v

Q cm
h cm

, v th

t 10 s
A s

Dimana : v = kecepatan langkah (cm/s)


Qth = debit aliran (cm3/mnt)
A = luas efektif (cm2)
h = langkah (stroke) (cm)
t = waktu (s)
3.3.7.3. Waktu Langkah
t

h
s
v

3.3.7.4. Volume Langkah


V A h ,

Dimana : V = volume langkah (cm3)

3.3.7.5. Kebutuhan Fluida


Q

Qth
vol

Dimana : Q = kebutuhan fluida (cm3/mnt)


Qth = debit aliran (cm3/mnt)
vol efisiensi volumemetric (0,8-0,96) dengan

mempertimbangkan
Kehilangan akibat kebocoran.........Hidraulika, Thomas Krist Hal 130

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-17

3.3.7.6. Kebutuhan Pompa


Q pompa Qbore total 10 %

Maka : Qbore total = 5 Qbore


3.3.7.7. Kerugian Kerugian

Rugi tekanan
Plosses tot g H tot

Dimana :
H loss tot H loss pipa H loss

pipa samb

Q pipa Qbore

v pipa

3 d 2
4 1

Qbore
A pipa

Bilangan reynolds
Re

Qbore

v d1

Faktor gesekan
f

64
Re

Faktor gesekan pada pipa untuk aliran turbulen


f

0,316
4 Re

Kerugian pada pipa (Hloss selang)


64 Lo vo
32 Lo vo
Ho

Re d o 2 g
Re d o g
2

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-18

H loss pipa

32 L pipa v pipa

Re d i g

Kerugian pada valve dan sambungan


H loss valve samb H loss valve H loss sambungan

H loss valve samb

v2
2 g

Dimana : Ploss tot = kerugian tekanan (pressure drop) (bar)


= massa jenis fluida (kg/cm2)
g = gaya gravitasi (9,81 m/s2 = 981 cm/s2)
= vikositas kinematik (cSt atau cm2/s)
di = diameter dalam pipa (cm)
Htot = total kerugian (cm)
f = faktor gesekan
Re = bikangan reynolds
k = koefisen kerugian
L = panjang pipa (cm)
3.3.7.8. Tekanan Pompa Operasi (Ppompa)
Ppompa tekanan max ker ugian tekanan

Ppompa Pmax Ploss tot (bar)

3.3.7.9. Tekanan Untuk Relief Valve Setting (Pv)


Pv Ppompa 10 %

3.3.7.10.

Daya Pompa

Daya Pompa

Q pompa Pv
600

kw ...............Hidraulika ,Thomas Krist Hal 112

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

(1)

LANDASAN TEORI

III-19

Gambar mekanisme
Slinder hidrolik

Tabung hidrolik

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-20

Rumus buckling

Persamaan yang mengatur perpindahan transversal untuk w

dimana M adalah dihilangkan dengan menggunakan teori Bernoulli Eulerbalok.Persamaan di atas berisi -Fe/EI istilah non-homogen dan solusi
umumnya adalah,

A dan B koefisien tergantung pada kondisi


batas. Untuk kolom hanya didukung kondisibatas
Solusi untuk perpindahan kolom Oleh karena itu,

Tegangan normal dalam hasil kolom dari kedua F beban aksial dan momen
lenturM dihasilkan dari e eksentrisitas dari aplikasi kekuatan,

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-21

di mana A adalah luas penampang, dan I adalah momen inersia penampang.


Tegangan maksimum terletak di serat ekstrim pada sisi cekung (y = c) dari titik
tengah (x =L / 2) kolom,

dimana,

(diperoleh denganmenerapkan hubungan trigonometri dasar rumus perpindahan pad


a bagian sebelumnya). Parameter c adalah jarak dari sumbu centroidal untuk
serat ekstrim pada sisi cekung kolom.
Memperluas rumus untuk tegangan maksimum, yang kita miliki,

Jari-jari rotasi r didefinisikan sebagai


. Bekerja r dalam
hasil persamaan stres di atas dalam rumus secan untuk tegangan maksimum,

Rumus secan menunjukkan bahwa selain F beban aksial dan lintas-bagian daerah
A,tegangan maksimum juga tergantung pada rasio eksentrisitas ec/r2 dan rasio
kerampingan L / r.
1. Rumus secan dapat digunakan untuk menghitung tegangan
normal diijinkan untuk desaintertentu,

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-22

where allow is the maximum allowable stress (e.g. yield stress).

2.
2.Jika eksentrisitas e adalah nol, rumus secan tidak lagi berlaku. Dalam hal
ini rumus Eulerharus digunakan untuk balok ramping.

Diagram Benda Bebas Untuk Platfrom

1
W = P/L (berat/satuan panjang)
1
DBB Jembatan :

L/2
L

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

III-23

Potongan 1-1
W

V1
M1
x/2
x

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

LANDASAN TEORI

x=0

x = L/2

Jadi momen maksimum yang terjadi pada jembatan tersebut adalah

Defeksi

Syarat batas X= 0 , Y = 0

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

III-24

LANDASAN TEORI

0 = 0 0 + 0 + C2

Syarat batas X= L, Y = 0

Buckling untuk rail lift

JURUSAN TEKNIK MESIN


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

III-25

C2 = 0