Anda di halaman 1dari 2

Relevansi Nyepi Dalam Pelestarian Lingkungan

Bagi umat Hindu, makna hari besar keagamaan ini sangat relevan dengan aktivitas manusia
dengan alam sekitarnya. Pasalnya, selama hari Nyepi itu, umat Hindu di Bali melakukan
pengendalian diri tanpa ada kegiatan sebagaimana dilakukan seperti setiap hari. Bagi umat
Hindu, ber-Nyepi merupakan upaya menahan dan mengendalikan hawa nafsu secara total.
Sehubungan dengan itu maka pada hari raya Nyepi semua jalanan betul-betul sepi dari lalu
lalang kendaraan, atau manusia. Kejadian itu dipertahankan 24 jam. Di Bali unsur toleransi
agama berjalan baik sehingga semua orang menghormati kejadian itu. Transportasi darat, laut
dan udara saat itu terhenti. Hanya ada beberapa kendaraan petugas dan hanya mereka dalam
keadaan darurat yang diijinkan keluar, seperti misalnya orang sakit yang memerlukan
pertolongan ke rumah sakit.Tersirat bahwa pelaksanaan nyepi pasti berdampak secara fisik
kepada cemaran udara. Dapat dibayangkan, setiap harinya berapa jumlah bahan bakar minyak
yang dipergunakan dan berapa jumlah produknya dibuang ke udara. Sehingga beralasan
untuk mengangkatnya menjadi suatu artikel; sejauh manakah makna Hari Raya Nyepi
berdampak bagi kualitas lingkungan hidup manusia? Asumsinya dengan melakukan
kewajiban berupa mengendalikan keinginan untuk tidak bepergian selama 24 jam maka
penggunaan bahan bakar minyak berkurang sehingga cemaran udara berkurang. Kalau hal itu
terbukti maka tentunya data tersebut akan sangat bermanfaat bahwa pelaksanaan upacara
agama berdampak positif terhadap kualitas lingkungan hidup.
Dengan adanya pelaksanaan Hari Raya Nyepi merupakan kesempatan baik bagi setiap orang
untuk merenungkan diri, akan adanya hubungan antara aktivitas manusia dengan
lingkungan/alam. Data di atas membuktikan, bahwa dengan melaksanakan pantanganpantangan (berata panyepian) selama 24 jam memberikan kontribusi yang nyata terhadap
perbaikan kualitas udara. Jadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi mengandung dimensi konservasi
lingkungan di samping adanya dimensi spiritualitas. Setiap setahun sekali manusia wajib
merenungi dirinya sendiri dengan berkontemplasi sehari yaitu saat Hari Raya Nyepi (Pendit,
2001). Dimaksudkan untuk lebih meyakini akan adanya hubungan antara mikrokosmik
dengan makrokosmik. Bukankah hal itu sebagai bukti dari kearifan budaya (cultural wisdom)
atau good local practices dalam menjaga lingkungan hidup? Memang keberadaan manusia
dijamin hakhaknya untuk hidup dan berkreasi, serta mempertahankan kehidupannya.
Alangkah baik dan arifnya kalau semua manusia dalam menjalankan kehidupannya, selalu
ingat akan pelestarian lingkungannya. Bentuk-bentuk upacara/kredo yang bertujuan menjaga
kelestarian lingkungan perlu diangkat dan dilestarikan. Beberapa bentuk upacara lainnya atau

adat kebiasaan lainnya perlu diutarakan, yang berdampak positif terhadap lingkungan.
Dengan pelaksanaan berata panyepian, bukan saja manusia mawas diri (Sudarta, 2002; Nala,
2002; Sura, 2002), tetapi sekaligus lingkungan hidup dimana kita berada diperbaharui.
Penurunan kadar polutan tentunya akan memberi dampak positif terhadap mahluk hidup,
manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan (Moller, 2000; Suzuki, 1990). Dengan hasil seperti
diutarakan di atas semestinya manusia penghuni bumi ini perlu merenungkan betapa
signifikannya acara berata panyepian itu untuk kelestarian lingkungan hidup. Di sela-sela
kegiatan manusia masih perlu diupayakan suatu kesempatan untuk memberikan alam
beristirahat untuk menanggulangi kerusakan agar tidak bertambah parah. Demikian pula
bhuwana alit, tubuh kita diberi kesempatan untuk istirahat sehari dari kegiatan rutinnya (Nala,
2002). Hal itu akan memperbaiki kinerja sistem tubuh seperti sistem pencernaan makanan,
pernafasan, sistem susunan syaraf dan sistem kekebalan tubuh dan kerja organ tubuh
lainnya.Akhirnya dengan hasil dan pembahasan di atas dapat ditarik simpulan sebagai
berikut: 1) dengan melaksanakan berata panyepian sehari, ternyata menurunkan polutan di
udara; 2) jenis polutan yang terpengaruh konsentrasinya oleh berata panyepian adalah: SO2,
CO, O3, NO2, dan NO; 3) contoh kualitas udara saat Nyepi dapat dipakai sebagai petunjuk
dari kearifan budaya masyarakat Hindu di Bali.