Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa kodrat manusia di muka bumi ini adalah sebagai individu dan makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan hubungannya dengan sesama. Kata individu sendiri berasal dari bahasa Latin individuum seperti yang dikutip dari Setiadi (2009:63) yang berarti tidak dapat terbagi, yaitu maksudnya manusia memiliki unsur jasmani dan rohani yang merupakan satu kesatuan yang ridak dapat diceraiberaikan. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial dikarenakan adanya kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan sesamanya yang mungkin saja didasari atas kesamaan sifat, ciri, dan kepentingan.

Menurut Mead dalam Setiadi (2009:70), ada tiga tahap pengembangan diri manusia.

Tahap pertama ialah tahap play stage, tahap di mana seorang anak kecil mengambil dan meniru perilaku orang di sekitarnya tanpa adanya pemahaman yang penuh terhadap apa yang ditiru olehnya. Tahap kedua, tahap game stage, tahap di mana seorang anak mengerti peranan yang harus dijalankannya dan peranan orang lain. Dalam tahap ini dapat dikatakan seorang anak telah mampu mengambil peranan orang lain dan layak untuk memasuki tahap yang terakhir yakni tahap generalized others. Setelah melewati tiga tahap ini maka diri seseorang terbentuk melalui interaksi dengan sesama.”

Kebudayaan atau budaya berasal dari bahasa Sanskerta, budhayah, yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Belanda, kata budaya diistilahkan dengan kata cultuur (Setiadi, 2009:27). Kebudayaan merupakan hasil interaksi antara manusia dan lingkungan hidupnya.

Taylor dalam Setiadi (2009:27) mengungkapkan,” Budaya sebagai suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan,hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Isi

utama kebudayaan dapat berupa sistem pengetahuan, pandangan hidup, nilai, kepercayaan, dan etos kebudayaan.”

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam buku Setiadi (2009:28) mengatakan”kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.”

Selain istilah kebudayaan terdapat pula istilah peradaban. Peradaban menurut Fairchild (Setiadi , 2009 : 46) adalah sebagai berikut :

Civilization is cultural development; distinctly human attributes and attainment of particular society. In ordinary usage, the term implies a fairly high stage on the cultural evolutionary scale. Reference is made to “civilized peoples”. More accurate usage world refer to more higly civilized peoples, the determinative characteristics being intellectual, aesthetic, technological, and spiritual attainments.

Dalam bahasa Inggris, peradaban diartikan dengan kata civilization dalam buku Nursyid (1996:67) yang dipakai untuk menyatakan kebudayaan yang halus, maju, dan indah yang telah memiliki sistem kehidupan berupa sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan, dan mayarakat kota yang maju dan kompleks.

Peradaban dunia secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar yakni peradaban barat dan peradaban timur yang memiliki para pemikir besar yang pemikirannya mempengaruhi perkembangan dunia. Yunani kuno, satu dari sekian peradaban barat, disebut sebagai peradaban yang tertinggi di masa lalu yang telah mampu memberikan sumbangan pengetahuan, arsitektur, dan sistem pemerintahan bagi kemajuan dunia. Adapun para pemikir yang ada pada masa peradaban Yunani kuno adalah Socrates dengan ajarannya tentang filsafat etika atau kesusilaan dengan logika sebagai dasar untuk membahasnya. Plato dikenal dengan filsafat idenya. Aristoteles adalah seorang yang ahli di bidang biologi dan ketatanegaraan. Yang terakhir, Pythagoras sebagai ahli di bidang matematika dan Archimedes di bidang teori gravitasi dan benda mengapung. Negara Republik Rakyat Cina, selanjutnya disingkat dengan RRC, merupakan negara perwakilan dari peradaban timur. Peradaban Lembah Sungai Hwang Ho merupakan peradaban bangsa Cina yang muncul di lembah Sungai Kuning (Hwang Ho atau yang sekarang disebut Huang He). Sungai Hwang Ho disebut sebagai Sungai

Kuning karena membawa lumpur kuning sepanjang alirannya yang menyuburkan tanah di sekitar. Dilihat dari adanya banyak dinasti yang pernah memerintah, Negara Cina memiliki catatan sejarah yang panjang dari waktu ke waktu. Sama halnya dengan Yunani, RRC di dalam catatan sejarahnya juga memiliki

para pemikir besar yang dikenal oleh masyarakat dunia seperti : Lao Zi (老子),

Zhuang Zi(庄子), Kong Zi (孔子), Meng Zi(孟子), dan Sun Zi(孙子).

Di antara kelima pemikir Cina ini hanya Lao Zi dan Kong Zi yang mempunyai pengaruh terbesar, baik di RRC sendiri ataupun di dunia. Filsafat Cina kuno yang dihasilkan oleh para pemikir merupakan warisan budaya dan sejarah yang berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat Cina bahkan masyarakat dunia. Filsafat Cina sendiri terdiri dari beberapa periodisasi yang terbagi dalam zaman klasik (600 –200 SM), zaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 SM–1000 M), zaman Neo-Konfusianisme (1000-1900) dan zaman modern (1900-sekarang).

Ajaran Konfusius berada pada periodisasi zaman klasik yang lahir pada masa Dinasti Zhou yang dikenal sebagai zaman klasik kebudayaan Cina yang kemudian dijadikan sebagai panutan kebudayaan bangsa Cina. Hal ini sama kaitannya dengan zaman emas kebudayaan klasik Yunani yang dijadikan sebagai dasar norma kebudayaan barat.

Konfusius lahir dan dibesarkan pada zaman yang kacau sehingga latar belakang kehidupannya banyak diwarnai kekacauan yang kemudian membentuk pola pemikirannya yang bebas dari kekacauan. Oleh karena itu, Konfusius lebih memperhatikan masalah-masalah sosial yang terjadi pada masa tersebut. Konfusius banyak mengajarkan ajaran moral tentang perilaku yang baik kepada murid-muridnya.

Penulis memilih untuk meneliti tentang ajaran Konfusius karena pemikirannya yang banyak mengajarkan kearifan dan kebijakan. Selain itu, Konfusius juga banyak menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan seni kepemimpinan, politik, dan kemasyarakatan yang patut menjadi bahan pelajaran guna menjadikan masyarakat yang berkualitas, tidak hanya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga pada akhlak dan budinya yang memiliki prinsip etika, nilai moral, tata cara dan prosedur, jalan hidup, kebiasaan dan adat, seni budaya yang baik. Semua prinsip tersebut terdapat dalam buku Confucius Says, karya klasik ini merupakan karya yang diwariskan secara estafet dari satu generasi ke generasi berikutnya agar keberadaannya dapat dipertahankan dan dapat dipelajari oleh generasi di masa yang akan datang.

Wellek dan Warren (1997:134) sastra sering dianggap sebagai salah satu bentuk filsafat atau pemikiran yang terdapat dalam bentuk tertentu misalnya banyak puisi yang terkenal karena filsafatnya. Hal ini dikarenakan pengarang karya sastra memiliki aliran pemahaman filsafat tertentu yang berpengaruh pada saat menciptakan karyanya.

Berdasarkan beberapa jurnal yang telah dikumpulkan seperti Virtue Ethics and Confucian Ethics yang ditulis oleh Chen Lai di Tsinghua University, Beijing, China dan The Ethics of Confucius and Aristotle yang ditulis oleh May Sim di Philosophy Department, College of the Holy Cross, Worcester, MA 01610, USA, belum ditemukan adanya penelitian yang membahas ajaran Konfusius berdasarkan etika normatif khusus yang membahas tentang etika individu dan etika sosial. Dengan demikian penulis memilih judul “ANALISIS NILAI ETIKA NORMATIF DALAM BUKU CONFUCIUS SAYS” sebagai topik dalam penulisan skripsi ini.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Pemahaman filsafat yang diajarkan oleh Konfusius tentu akan memberikan pengaruh yang besar dalam hal berpikir dan bertindak ketika kita berada di masyarakat. Melalui buku yang berjudul Confucius Says, peneliti akan mengkaji beberapa hal seperti :

1. Nilai etika normatif apa sajakah yang terdapat dalam buku Confucius Says?

2. Nilai etika normatif apakah yang dominan dalam buku Confucius Says?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk

mengetahui

nilai

etika

normatif

yang

terdapat

dalam

buku

Confucius Says.

 

2. Untuk

mengetahui

nilai

etika

normatif

yang

dominant

dalam

buku

Confucius Says.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang didapat dari pengkajian tentang Buku Confucius Says adalah :

a. Manfaat teoritis

Dari hasil penelitian ini, dapat dilihat bahwa ajaran Konfusius adalah ajaran yang telah banyak mempengaruhi cara berpikir dan bertindak orang-orang keturunan etnis Tionghoa dan banyak memberikan pengaruh yang positif dalam hubungan antar sesama khusunya, sehingga kajian dari buku Confucius Says dapat dijadikan referensi untuk pengaplikasian filsafat Konfusius secara tepat dan akurat dalam kehidupan kemasyarakatan.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini kiranya juga dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa yang hendak melakukan penelitian pemikir besar lainnya yang berasal dari para pemikir terkemuka lainnya seperti: Meng Zi dan Sun Zi.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ajaran Konfusius merupakan topik yang sangat unik untuk dikaji karena pengaruhnya yang telah mendunia, terlebih lagi dengan kemajuan negara RRC, maka sangat penting untuk mengenal budaya negara tirai bambu yang sedang berkembang ini. Untuk membatasi ruang lingkup penelitian yang luas, maka penulis membatasi penelitiannya pada buku pegangan utama yang digunakan yakni buku Confucius Says yang ditulis oleh Cai Xi Qin dan diterbitkan oleh penerbit Sinolingua. Fokus kajian penelitian ini ditujukan pada nilai etika berdasarkan ajaran Konfusius yang dikhususkan pada kajian etika normatif, yaitu etika individu dan etika sosial.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

Dalam bab dua ini penulis akan memaparkan tiga jenis penguraian yang berisi tentang hasil penelitian terdahulu, konsep terkait variabel yang digunakan pada judul skripsi, dan landasan teori sebagai acuan penelitian skripsi penulis.

2.1 Hasil Penelitian Terdahulu

Jurnal

Tsinghua

University

Virtue

Ethics

and

Confucian

Ethics

dari

Department

of

Philosophy,

Beijing,

China

yang

ditulis

oleh

Chen

Lai

dan

dipublikasikan secara online pada 21 Juli 2010 membahas tentang hubungan antara

karakter dan tindakan kebajikan yang dikaitkan dengan ajaran Konfusius.

Jurnal YiYang Teachers College 孔子思想:中心到中心 yang

ditulis oleh Wang Yue Chuan dan dipublikasikan secara online pada Juli 2007 merupakan penelitian yang membahas pemikiran Konfusius mengenai kebaikan.

Ma Yong di dalam tulisannya yang berjudul 从《论语》中析孔子的教育理

dari Jurnal Yan Bei Normal University yang dipublikasikan secara online pada Juli

Agustus 2008 menuliskan bahwa Konfusius, di dalam catatan sejarah RRC, merupakan seorang guru besar yang memberikan pengaruh yang besar, terutama di dalam bidang pendidikan dan memiliki jumlah murid yang banyak.

2.2 Konsep

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 569) mengatakan bahwa konsep adalah

rancangan; pemikiran dasar ; pemahaman.

Dalam skripsi ini, penulis akan berbicara mengenai konsep sesuai dengan

variabel seperti yang tertera pada judul yaitu sebagai berikut :

2.1.1

Nilai

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru (2007:605) kata nilai diartikan dengan kadar mutu. Menurut Bertens (1993:139) nilai merupakan sesuatu yang baik yang kita cari. Maka, dari kedua pengertian di atas, nilai dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang baik dan bermutu yang dicari oleh manusia.

Dari sudut etimologi (Bertens, 1993:4), kata etika dan moral memiliki arti yang sama. Kata etika berasal dari bahasa Yunani, ethos, dalam bentuk jamak ta etha dengan pemahaman sebagai adat kebiasaan. Kata moral berasal dari bahasa Latin, mos, yang juga berarti kebiasaan, adat.

Sehingga melalui persamaan secara etimologi antara kata etika dan moral, maka nilai etika dapat juga disebut sebagai nilai moral. Adapun ciri-ciri nilai moral atau etika dalam buku Etika Seri Filsafat Atma Jaya (1993:143) adalah:

1. Berkaitan dengan tanggung jawab sebagai manusia

Nilai moral atau

etika

mengakibatkan seseorang

bersalah, karena tanggung jawabnya.

2. Berkaitan dengan hati nurani

bersalah atau tidak

Nilai moral atau etika merupakan suara hati kita yang akan mengingatkan

kita apabila kita meremehkan atau menentang nilai moral tersebut.

3. Bersifat mewajibkan

Nilai moral atau etika mewajibkan manusia secara absolute dan tidak

dapat ditawar-tawar.

4. Bersifat formal

Manusia merealisasikan nilai moral atau etika dengan mengikutsertakan

nilai-nilai lain dalam suatu tingkah laku moral.

Kata etika dan etiket (Sugiarto, 1999:29) sering diartikan sama dan digunakan

secara

bergantian.

Kata

etika

berasal

dari

bahasa

Yunani,

ethos,

yang

berarti

kebiasaan masyarakat. Kata etika berasal dari bahasa Prancis, etiquette, yang berarti

kartu undangan. Tetapi dalam perkembangannya, kata etiket tidak lagi berarti kartu

undangan, tetapi lebih kepada aturan sopan santun dalam pergaulan seperti: cara

berbicara, cara berpakaian, dan cara duduk. Jadi etiket lebih mengarah kepada

penerapan dari etika.

Adapun persamaan antara etika dan etiket menurut Bertens (1993:9) adalah

pertama, baik etika dan etiket sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia.

Kedua, etika dan etiket mengatur perilaku manusia dan menyatakan apa yang harus

dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Ditinjau dari adanya persamaan antara etika dan etiket, maka nilai etiket juga

merupakan nilai etika. Nilai-nilai yang mendukung etiket (Sugiarto, 1999:31) atau

etika adalah :

1. Nilai-nilai kepentingan umum

2. Nilai-nilai kejujuran, kebaikan, keterbukaan

3. Nilai-nilai kesejahteraan

4. Nilai-nilai kesopanan, saling menghargai

5. Nilai kebijaksanaan, penuh pertimbangan, mampu membedakan hal yang

patut

dirahasiakan atau

tidak.

menggunakan akal pikiran

Dikatakan

bijaksana apabila adil atau

2.1.2

Etika

Abdullah

dalam

buku

yang

berjudul

Pengantar

Studi

Etika

(2006:4)

menjelaskan arti kata etika berdasarkan etimologinya yang berasal dari bahasa

Yunani, ethos, yang bermakna kebiasaan atau adat-istiadat.

Bertens dalam Etika seri Filsafat Atma Jaya (1993:4) memaparkan pengertian etika dalam dalam bentuk jamak ta etha yang juga berarti adat kebiasaan.

Riady dalam Filsafat Kuno dan Manajemen Modern (2008:189) menjelaskan bahwa etika dalam bahasa Latin diartikan sebagai Moralis yang berasal dari kata Mores dengan makna adat-istiadat yang realistis bukan teoritis.

Jadi etika dapat dinyatakan sebagai suatu pembelajaran tentang tingkah laku manusia yang baik dan juga untuk mengenal tingkah laku yang buruk. Etika menyelidiki perbuatan manusia dan menetapkan hukum, memberikan arahan yang khusus, tegas, dan tetap untuk mewujudkan masyarakat yang utama dan baik.

Abdullah

dalam

buku

yang

berjudul

Pengantar

Studi

Etika

(2006:12)

mengatakan bahwa secara umum, ruang lingkup etika meliputi :

1. Menyelidiki sejarah tentang tingkah laku manusia

2. Membahas cara menghukum dan menilai baik buruknya suatu tindakan

3. Menyelidiki faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia

4. Untuk menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk

5. Untuk meningkatkan budi pekerti

6. Untuk menegaskan arti dan tujuan hidup sebenarnya

Selain kata etika, juga terdapat kata seperti etos, etis, etistika, dan etiket yang memiliki perbedaan makna dari kata etika. Etos merupakan kegiatan yang mengatur hubungan seseorang dengan Khaliknya. Etis adalah kegiatan mengatur kedisiplinan seseorang terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan mengatur hal-hal yang akan dikerjakan dalam keseharian. Etistika adalah kegiatan untuk mendorong diri sendiri dan lingkungan untuk enak dipandang mata. Sedangkan untuk kata etiket memiliki perbedaan yang sangat penting dengan kata etika, sebagai berikut:

1. Etiket berbicara mengenai bagaimana sesuatu itu dilakukan. Etika berbicara boleh

tidaknya sesuatu itu dilakukan.

2. Etiket berlaku dalam pergaulan apabila ada orang yang melihat. Etika berlaku tidak

bergantung pada ada atau tidaknya orang yang melihat.

3. Etiket, bersifat relatif dapat diterima oleh kebudayaan tertentu tapi belum dapat

dipastikan juga dapat diterima oleh kebudayaan lain. Etika bersifat absolute, diterima secara menyeluruh.

4. Etiket memandang manusia dari segi lahiriah. Etika berbicara mengenai batiniah

manusia.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa etiket adalah cara perilaku manusia sedangkan etika adalah batasan perilaku tindakan manusia dalam kehidupan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap sesama.

2.1.3

Ajaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru (2007:19) kata ajaran memiliki pengertian sebagai segala sesuatu yang diajarkan, nasehat, petuah.

Menurut Kamus Indonesia Inggris (1992:7) kata ajaran diterjemahkan sebagai teaching(s), dan kata nasehat atau nasihat diterjemahkan menjadi kata advice.

Kata teaching(s) di dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary (2003:443) memiliki pemahaman sebagai work of a teacher, yang diartikan penulis dengan menggunakan Kamus Inggris Indonesia (1992:652) menjadi hasil karya seorang guru dan tergolong ke dalam kata benda atau noun. Kata advice di dalam sumber Oxford Learner’s Pocket Dictionary (2003:7) memiliki penjelasan sebagai opinion given to somebody about what they should do, yang berarti pikiran atau pendapat yang diberikan kepada seseorang tentang apa yang seharusnya mereka lakukan.

Dalam pembahasan skripsi ini penulis akan mengkaji tentang pemikiran timur dari negara Cina dengan topik pembahasan Konfusius dan nasehat-nasehatnya. Pendidikan akan ajaran Konfusius di Cina sudah dimulai sejak anak berada di bangku pendididikan dasar hingga pendidikan tinggi sehingga ajaran tersebut hidup di dalam kebudayaan dan kehidupan masyarakat Cina. Salah satu akar sumber pemikiran rakyat Cina adalah ajaran Konfusius yang menitikberatkan perihal tanggung jawab manusia terhadap masyarakat.

Dinasti-dinasti yang pernah memerintah di Cina juga berperan penting dalam pembentukkan sejarah dan kebudayaan negara Cina, khususnya sebagai latar belakang muculnya ajaran Konfusius. Berikut ini penulis akan menguraikan dinasti Zhou yang pernah memerintah, dalam hubungannya dengan latar belakang yang mempengaruhui ajaran Konfusius.

Dinasti Zhou (周朝) 1122-256 SM (Kusumohamidjojo,2010:31) merupakan

dinasti

terpanjang

dalam

sejarah

Negara

Cina

dan

merupakan

masa

di

mana

kebudayaan

berupa

sastra

dan

pemikiran

sangat

berkembang,

terutama

ajaran

Konfusius.

Dinasti

Zhou

adalah

dinasti

terakhir

sebelum

sebelum

Cina

resmi

dipersatukan oleh dinasti Qin. Periode Musim Semi dan Musim Gugur(春秋)722-

481 SM merupakan masa di mana ajaran dari beberapa pemikir seperti Konfusius, sangat berkembang pesat.

Konfusius(孔仲尼) dilahirkan di negara Lu dan dibesarkan pada masa

yang sangat kacau (Budisutrisna,2009:8) karena banyak negara-negara di daratan Cina berperang satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan daerah kekuasaan.

Konfusius memiliki nama lain seperti 孔邱 Kong Qiu (Kusumohamidjojo,2010:81)

yang menjadi nama kehormatannya, ataupun 孔 子 Kong Zi sebagai nama

panggilannya. Konfusius sangat tertarik dengan naskah-naskah kuno dan dalam kurun waktu 50 tahun kemampuan Konfusius baru diakui oleh penguasa Negara Lu yang kemudian mengangkat Konfusius untuk bekerja di pemerintahan. Namun sayang Konfusius tidak memiliki pandangan yang sama tentang reformasi sosial dan politik dengan pejabat lainnya di dalam pemerintahan, sehingga Konfusius mundur dari jabatannya dan mengembara jauh untuk mengajarkan gagasannya tentang kehidupan sosial.

Lun Yu (论语) merupakan catatan tentang pengajaran Konfusius yang

dikumpulkan oleh para murid Konfusius setelah Konfusius meninggal dunia (Kusumohamidjojo,2010:84). Melalui buku yang berjudul Lun Yu inilah terdapat 5 inti pengajaran Konfusius yang meliputi hal:

1. ren

Aksara terdiri dari dua aksara yakni ren (orang) dan er (dua) yang

berarti tidak bisa berdiri sendiri. ren biasanya diartikan sebagai hubungan antar

manusia, kemanusiaan yang benar dan sempurna, yang merupakan dasar etika dan

politik dalam ajaran Konfusius. Konsep ren ini sebenarnya merupakan dasar

keseluruhan pengajaran Konfusius dalam mendidik moral individu yang dimulai dari keluarga, negara, dan yang terakhir, penertiban dunia.

2. li

Ajaran ini mengarahkan masyarakat untuk tahu bertindak dengan aturan sopan

santun agar tidak mengganggu ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat. Konfusius

beranggapan apabila setiap orang mampu melaksanakan li dengan baik maka akan

tercipta keseimbangan dan keteraturan.

3. 教育 jiao yu

教育 jiao yu memiliki pengertian sebagai pendidikan. Konfusius yang juga

merupakan

seorang

guru

mempunyai

peranan

penting

dalam

perkembangan

kebudayaan. Bagi Konfusius, menjadi seorang pendidik bukanlah hal yang mudah

dilaksanakan.

Program

pendidikan

yang

diajarkan

tidak

hanya

meningkatkan

kecerdasan tetapi harus diiringi dengan keseimbangan emosi. Prinsip Konfusius

dalam hal belajar adalah dengan upaya yang terus-menerus secara tekun dan tidak

henti-hentinya untuk belajar.

4. 中庸 Zhong Yong

Dikenal dengan sebutan Ajaran Jalan Tengah. Mengambil titik tengah agar tidak terjadi kekacauan dalam kehidupan.

5. 天命 Tian Ming

Diartikan sebagai perintah langit. Konfusius menyatakan bahwa manusia

tidak dapat mengubah nasib yang sudah ditentukan oleh tian (langit), namun

manusia dapat menentukan sendiri apa yang mau dihasilkan dalam hidup ini.

Dengan cara yang demikian Konfusius akhirnya berhasil menjadi guru pertama yang memiliki jumlah murid yang banyak. Konfusius merupakan seorang guru besar bagi masyarakat Cina yang telah memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan berpikir dalam menjalani kehidupan.

2.3 Landasan Teori

Wellek dan Warren (1997:134) menyatakan hubungan antara karya sastra dan pemikiran. Karya sastra dianggap sebagai dokumen sejarah pemikiran dan filsafat. Sejarah karya sastra mempunyai kedudukan yang sejajar dengan sejarah pemikiran yang disebabkan adanya kesamaan latar sosial dan kurun waktu tertentu. Ajaran Konfusius dapat digolongkan ke dalam karya sastra Cina kuno yang merupakan hasil buah pemikiran Konfusius sebagai pemikir besar yang memiliki pengaruh luas terhadap masyarakat dunia. Ajaran Konfusius yang terdapat dalam buku Confucius Says merupakan hasil karya pemikiran Konfusius tentang kehidupan yang dituangkan ke dalam bentuk ajaran berupa ucapan atau sayings.

Dalam penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Nilai Etika Normatif dalam Buku Confucius Says” penulis menggunakan landasan teori etika untuk membahas lebih dalam lagi ajaran Konfusius yang terdapat pada buku Confucius Says.

Etika (Bertens, 1993:25) termasuk filsafat dan juga dikenal sebagai cabang filsafat tertua. Etika sebagai cabang filsafat membahas tentang nilai etika bagaimana seharusnya perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian etika berdasarkan bidang-bidangnya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu etika deskriptif yang bersifat empiris dan berhubungan erat dengan sosiologi, dan etika normatif yang mengarahkan secara jelas bagaimana manusia seharusnya bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat.

Etika normatif dalam Abdullah (2006:594) dapat juga disebut sebagai philosophical ethics atau etika filsafat yang berarti petunjuk atau sebuah aturan yang mengatur bagaiman seharusnya manusia bersikap dan bertingkah laku dan terhindar dari pelanggaran norma yang berlaku di masyarakat. Etika normatif terbagi dua yakni etika normatif umum dan etika normatif khusus. Etika normatif khusus sendiri dibagi lagi menjadi dua bagian pembahasan yaitu etika individu yang berkaitan dengan kewajiban dan sikap manusia terhadap diri sendiri serta etika sosial membahas tentang tanggung jawab manusia sebagai manusia dalam antar sesama baik itu di dalam keluarga, masyarakat maupun bernegara .