Anda di halaman 1dari 13

A.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perubahan iklim global sebagai implikasi dari pemanasan global telah
mengakibatkan ketidakstabilan atmosfer di lapisan bawah terutama yang dekat
dengan

permukaan

bumi.

Pemanasan

global

ini

disebabkan

oleh

meningkatnya GRK (Gas Rumah Kaca) yang dominan ditimbulkan oleh


kegiatan industri dan pertanian. GRK yang meningkat dapat menimbulkan
efek pemantulan dan penyerapan terhadap gelombang panjang yang bersifat
panas (inframerah) yang diemisikan oleh permukaan bumi kembali ke
permukaan bumi (Susandi et al, 2008).
Menurut IPCC (Intergovenrmental Panel on Climate Change) (2007),
pengamatan temperatur global sejak abad 19 menunjukkan adanya perubahan
rata-rata temperatur yang menjadi indikator adanya perubahan iklim.
Perubahan temperatur global ini ditunjukkan dengan naiknya rata-rata
temperatur hingga 0,74o C antara tahun 1906 hingga tahun 2005. Temperatur
rata-rata global ini diproyeksikan akan terus meningkat sekitar 1,8-4,0 o C di
abad sekarang ini dan bahkan diproyeksikan berkisar antara 1,1-6,4o C.
Isu lingkungan pertanian yang menjadi masalah dunia adalah emisi
GRK dari lahan pertanian karena ditengarai berkontribusi terhadap pemanasan
global. Total emisi GRK dari penggundulan hutan dan kebakaran hutan adalah
lima kali lipat emisi dari sektor non-kehutanan. Emisi GRK dari sektor
kehutanan, khususnya penggundulan hutan, menyumbang 83% dari emisi
tahunan GRK Indonesia. Emisi GRK dari kegiatan pertanian dan sampah
sangat kecil dan tidak signifikan secara global. Emisi GRK dari kegiatan
pertanian sebagian besar (70%) berasal dari produksi padi, terutama gas
metana (CH4) dan nitrogen dioksida (N2O).
Hasil penelitian selama 1996-2000 yang dilakukan di Balai Penelitian
Lingkungan Pertanian menunjukkan bahwa beberapa varietas padi unggul
berdaya hasil tinggi mempunyai keragaman dalam mengemisi gas metana.
Keragaman tersebut akibat perbedaan kondisi air di lahan sawah. Varietas
IR64 cenderung menghasilkan emisi gas CH4 rendah dibandingkan varietas
lainnya yang umum digunakan petani (Wihardjaka, 2006).

Berdasarkan dari data-data tersebut, dapat dikatakan bahwa penghasil


GRK metana terbesar berasal dari kegiatan pertanian, khususnya budidaya
tanaman padi. Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran masyarakat
khususnya petani tentang dampak dari GRK metana terhadap perubahan iklim
di sektor pertanian Indonesia. Karya tulis ini akan membahas dampak dari
GRK metana pada sektor pertanian dan cara mengatasinya.
2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dari Mitigasi Emisi Metana dengan Aplikasi SRI
(System of Rice Intensification) dan Inokulum Bakteri Methanotroph adalah
mengurangi sumbangan metana di atmosfer sehingga berdampak positif
terhadap perubahan iklim dan meningkatkan produksi padi.

B. ISI
1. Kondisi Terkini

Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk dengan


rumus kimia CH4. Metana murni tidak berbau, tapi jika digunakan untuk
keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit bau belerang untuk
mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi. Sebagai komponen utama gas
alam, metana adalah sumber bahan bakar utama. Pembakaran satu molekul
metana dengan oksigen akan melepaskan satu molekul CO2 ( karbondioksida )
dan dua molekul H2O ( air ):
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
Metana yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah
kaca. Metana merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20
kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan
selama produksi dan transportasi batu bara, gas alam, dan minyak bumi
(Anonim, 2011).
Metana dianggap lebih berbahaya daripada karbon dioksida karena
metana sulit dikurangi konsentrasinya jika dibandingkan dengan karbon
dioksida. Karbon dioksida dapat dikurangi konsentrasinya karena dapat
ditambat dan digunakan oleh tanaman dan mikrobia. Tapi metana sulit
dikurangi konsentrasinya karena organisme yang dapat menambat metana
hanya dari golongan mikrobia (methanotroph). Tetapi populasi mikrobia ini
tidak begitu banyak, khusunya di lahan sawah karena penggunaan pestisida
kimia.
Sumber emisi metana berasal dari alam maupun aktivitas manusia.
Berdasarkan penelitian pada tahun 1995, sumber emisi metana sebesar 60%
berasal dari aktivitas manusia yang meliputi pertanian, pertambangan mineral,
pengolahan lahan, Pembusukan limbah organik di tempat pembuangan
sampah (landfill) dan sistem minyak dan gas bumi. Sebanyak 40% sisanya
berasal dari emisi sumber-sumber alam, terutama lahan basah dan hidrat gas.
Kegiatan pertanian yang menyebabkan emisi metana adalah sebagai berikut:

a. Produk samping dari pencernaan sapi


b. Penggenangan pada lahan sawah irigasi
c. Pemakaian pupuk kimia berlebih
(Bylin, 2010).
Secara teoritis, GRK di atmosfir bumi sangat penting karena gas
tersebut membuat iklim bumi menjadi hangat dan stabil. Tanpa GRK di
atmosfir, suhu permukaan bumi diperkirakan mencapai -18 o C. Namun,
konsentrasi GRK yang berlebihan di atmosfir berdampak buruk, karena panas
yang dipantulkan kembali ke muka bumi akan lebih banyak sehingga suhu
bumi makin panas (Sutrisno et al, 2009).
Volume metana yang melingkupi permukaan bumi mungkin belum
seberapa. Di perut bumi dan dasar laut kutub utara terkubur 400 miliar ton gas
metana atau 3.000 kali volume yang ada di atmosfer. Selain itu, pencairan es
juga terjadi di kutub karena pemanasan global.
Kondisi ini jelas memperburuk efek GRK karena potensi gas metana
25 kali lipat dibandingkan CO2. Kalkulasi tersebut berdasar pada dampak yang
ditimbulkannya selama seabad terakhir. Namun, penghitungan jumlah ratarata metana dalam 20 tahun terakhir meningkat 72 kali lebih besar
dibandingkan dengan CO2.
Kandungan metana yang tinggi akan mengurangi konsentrasi oksigen
di atmosfer. Jika kandungan oksigen di udara hingga di bawah 19,5%, akan
mengakibatkan aspiksi atau hilangnya kesadaran makhluk hidup karena
kekurangan asupan oksigen dalam tubuh. Meningkatnya metana juga
meningkatkan risiko mudah terbakar dan meledak di udara. Reaksi metana dan
oksigen akan menimbulkan CO2 dan air (Ikawati, 2010).

Adanya konsentrasi GRK yang berlebihan menyebabkan peningkatan


suhu atmosfer bumi sehingga berdampak terhadap perubahan iklim.
Perubahan iklim ini akan mengakibatkan penurunan produksi pangan,
fluktuasi dan distribusi ketersediaan air terganggu, peningkatan serangan hama
dan penyakit tanaman (Andi, 2010).

2. Solusi yang Ditawarkan


Solusi yang dapat ditawarkan dalam mitigasi emisi metana yang
dihasilkan pada budidaya padi adalah dengan metode pertanian SRI (System of
Rice Intensification) dan penambahan inokulum bakteri methanotroph. SRI
merupakan suatu sistem pertanian yang berdasarkan pada prinsip PI (Process
Intensification) dan POD (Production on Demand). SRI mengandalkan
optimasi untuk mencapai delapan tujuan PI, yaitu cheaper process (proses
lebih murah), smaller equipment (bahan lebih sedikit), safer process (proses
yang lebih aman), less energy consumption (konsumsi energi/tenaga yang
lebih sedikit), shorter time to market (waktu antara produksi dan pemasaran
yang lebih singkat), less waste or byproduct (sisa produksi yang lebih sedikit),
more productivity (produktifitas lebih besar) and better image (memberi kesan
lebih baik) (Ullych, 2009).
Methanotroph adalah bakteri yang dapat memetabolisme metana
sebagai sumber karbon dan energy mereka. Methanotroph dapat tumbuh
secara aerob maupun anaerob dan membutuhkan senyawa karbon tunggal
untuk bertahan hidup. Methanotroph kebanyakan ditemukan di dalam tanah
dan khususnya di dekat lingkungan yang memproduksi metana. Habitatnya
termasuk laut, lumpur, rawa, lingkungan di bawah tanah, tanah, sawah dan
tempat pembuangan sampah. Bakteri yang termasuk dalam methanotroph
antara

lain

Methylococcaceae,

Methanosarcinales (Holmes et al, 1999).

Methylocystaceae,

Methylocella,

Metode SRI meningkatkan produksi beras secara signifikan dengan


mengurangi kebutuhan benih, air dan pemasukan bahan kimia. SRI merupakan
metode budidaya berdasarkan pada prinsip penggunaan bibit muda dengan
jarak tanam yang lebar, aplikasi kompos, kontrol gulma secara mekanis dan
pengurangan irigasi. Praktik SRI telah menginduksi pergantian persepsi dan
pemahaman secara dramatis untuk meraih sistem budidaya padi yang
berkelanjutan dan produktif (Styger et al, 2011).
Prinsip utama SRI :
- Penanaman bibit muda (8-12 hari setelah berkecambah)
- Jarak penanaman yang lebar (minimal 25cm x 25 cm, 1 bibit per titik)
- Menghindari trauma pada bibit saat penanaman (penanaman maks. 30 menit
setelah bibit di ambil dari penyemaian)
- Penanaman padi secara dangkal
- Manajemen Air (Tanah dijaga terairi dengan baik, tidak terus menerus direndam
dan penuh, hanya lembab)
- Meningkatkan aerasi tanah dengan pembajakan mekanis
- Menjaga keseimbangan biologi tanah dengan menggunakan Pupuk dan Pestisida
Organik
Perubahan ini mengurangi penggunaan air dan biaya produksi dan
menyebabkan peningkatan faktor produktivitas dan pendapatan petani.
Keuntungan ini hasil dari peningkatan pertumbuhan dari sistem akar, dan
meningkatkan berlimpahnya dan beragamnya organisme tanah, memberikan
kontribusi pada produktivitas tanaman (Dian, 2008).
3. Langkah-langkah Strategis Mengiplementasikan Gagasan

Melakukan langkah-langkah dalam mengimplementasikan gagasan ini


harus

memperhatikan

tiga

metode

pokok

dalam

SRI,

yaitu:

pertama, penanganan bibit padi secara seksama. Hal ini terdiri atas, pemilihan
bibit unggul, penanaman bibit dalam usia muda (kurang dari 10 hari setelah
penyemaian), penanaman satu bibit per titik tanam, penanaman dangkal (akar
tidak dibenamkan dan ditanam horizontal) dan dalam jarak tanam yang cukup
lebar. Metode pokok SRI yang kedua adalah penyiapan lahan tanam.
Penyiapan lahan tanam untuk metode SRI berbeda dari metode konvensional
terutama dalam hal penggunaan air dan pupuk sintetis. SRI hanya
menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air
(macak-macak) dan tidak adanya penggunaan pupuk sintesis karena SRI
menggunakan kompos. Sangat berbeda dengan metode konvensional yang
menggunakan air sampai pada tahap tanahnya menjadi tergenang oleh air serta
pemupukan minimal dua kali dalam satu periode tanam. Saat pengolahan
lahan ini ada penambahan inokulum bakteri methanotroph dalam tanah.
Prinsip ketiga dalam metode SRI adalah keterlibatan MOL
(mikroorganisme lokal) dan kompos sebagai tim sukses dalam pencapaian
produktivitas yang berlipat ganda. Dalam hal ini peran kompos sering
disalahartikan sebagai pengganti dari pupuk. Sebenarnya peran kompos lebih
kompleks daripada peran pupuk. Peran kompos, selain sebagai penyuplai
nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga
proses tumbuh padi secara optimal. Konsep bioreaktor adalah kunci sukses
dari SRI. Bioreaktor yang dibangun oleh kompos, mikrooganisme lokal,
struktur padi, dan tanah menjamin bahwa padi selama proses pertumbuhan
dari bibit sampai padi dewasa tidak mengalami hambatan. Fungsi dari
bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain
adalah penyuplai nutrisi sesuai POD melalui mekanisme eksudat, kontrol
mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju
kondisi yang ideal bagi pertumbuhan padi, bahkan kontrol terhadap penyakit
yang dapat menyerang padi (Ullych, 2009).

C. KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan untuk mitigasi emisi metana yaitu dengan aplikasi
SRI dan inokulum bakteri methanotroph. Metode pertanian SRI ini dipilih karena

metode ini menggunakan sumber daya seminimal mungkin untuk menghasilkan


produk yang maksimal tanpa menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
Teknik implementasi yang akan dilakukan dalam metode pertanian SRI yaitu
penanganan bibit padi secara seksama dengan menggunakan bibit unggul,

penanaman bibit dalam usia muda, penanaman satu bibit per titik tanam,
penanaman dangkal dan dalam jarak tanam yang cukup lebar; penyiapan lahan
tanam dengan penggenangan air minimal dan penggunaan kompos; dan
keterlibatan mikroorganisme lokal dan kompos sebagai tim sukses dalam
pencapaian produktivitas yang berlipat ganda dan penambahan bakteri
methanotroph dalam pengolahan lahan.
Metode pertanian SRI dan inokulum bakteri methanotroph ini diharapkan
dapat mengurangi emisi metana dari budidaya tamanan padi sehingga dapat
menekan konsentrasi metana di atmosfer. Berkurangnya metana di atmosfer akan
berdampak positif terhadap perubahan iklim dan tentunya dapat meningkatkan
produksi padi. Jadi metode pertanian SRI dan inokulasi bakteri methanotroph
efektif dilakukan dalam mengatasi pengaruh iklim dalam sektor pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
8
Andi.

2010.
Dampak
Pemanasan
Global
Terhadap
Pertanian.
http://industri16andi.blog.mercubuana.ac.id/2010/11/20/dampakpemnanasan-global-terhadap-pertanian/. Diakses 15 Maret 2011.

10

Anonim. 2011. Methane. http://en.wikipedia.org/methane. Diakses 15 Maret 2011.


Bylin, C. 2010. Introduction to Methane to Markets Activities in the Oil and
Natural Gas Sector. http://www.globalmethane.org/expo/docs/postexpo/
oil_bylin.pdf. Diakses 15 Maret 2011.
Dian, J. 2008. Pertanian Organik dan SRI. http://www.strada.or.id/index.php?
topic=692.0. Diakses 15 Maret 2011.
Holmes, AJ, P. Roslev, IR McDonald, N. Iversen, K. Henriksen. JC Murrell.
1999. Characterization of methanotrophic bacterial populations in soils
showing atmospheric methane uptake. Applied and environmental
microbiology 65 (8): 33123318.
Ikawati, Y. 2010. Jurus Baru Melumat Metana. http://kompas.com. Diakses 15
Maret 2011.
IPCC. 2007. Climate Change 2007 : The Physical Science Basis. Summary for
Policy Makers, Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment
Report of the Intergovenrmental Panel on Climate Change. Paris, February
2007. http://www.ipcc.ch/. Diakses 15 Maret 2011.
Susandi, A, I. Herlianti, M. Tamamadin dan I. Nurlela. 2008. Dampak Perubahan
Iklim Terhadap Ketinggian Muka Laut Di Wilayah Banjarmasin. J.
Ekonomi Lingkungan 12 (2).
Sutrisno, N, P. Setyanto dan U. Kurnia. 2009. Perspektif dan Urgensi Pengelolaan
Lingkungan Pertanian yang Tepat. Pengembangan Inovasi Pertanian 2
(4): 286-291.
Styger, E, G. Aboubacrine, M. Ag Attaher and N. Uphoff. 2011. The system of
rice intensification as a sustainable agricultural innovation: introducing,
adapting and scaling up a system of rice intensification practices in the
Timbuktu region of Mali. International Journal of Agricultural
Sustainability 9: 67-75.
Ullych. 2009. Mengenal SRI (System of Rice Intensification). http://sukatanibangun.blogspot.com. Diakses 15 Maret 2011.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP KETUA KELOMPOK


Nama lengkap

: Mirnawati Kristina Putri

NIM

: H 0708130

Jenis kelamin

: Perempuan

11

Tempat tanggal lahir : Karanganyar, 7 Februari 1991


Alamat rumah

: Dagen Suruh RT 04 RW 07, Tasikmadu, Karanganyar

Alamat Kos

:-

Riwayat pendidikan :

TK

: TK Pertiwi II

SD

: SD N 3 Suruh

SMP

: SMP N 1 Tasikmadu

SMA

: SMA N 1 Karanganyar

PT

: Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNS

Riwayat organisasi

Bendahara Persekutuan Siswa Kristen SMA N 1 Karanganyar

Anggota Persekutuan Siswa Kristen Karanganyar

Anggota Keluarga PMK Pertanian

Sekretaris Karangtaruna 2010/ 2012 Desa Dagen

Karya ilmiah yang pernah dibuat

:-

Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : Motto

: The Day is The Best Day

Surakarta, 15 Maret 2011

Mirnawati Kristina Putri

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ANGGOTA


Nama lengkap

: Pratiwi Noviayanti

NIM

: H 0708137

12

Jenis kelamin

: Perempuan

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 16 November 1990


Alamat rumah

: Jl. Bondol No. 15 blok C RT 03/04, Jaka Mulya, Bekasi


Selatan

Alamat kost

: Modern Kost, Jl. Ir. Sutami No. 79, Surakarta

Riwayat pendidikan :

TK

: TK Kasih Ananda

SD

: SD N Jaka Setia IV

SLTP

: SMP N 12 Bekasi

SMU

: SMA N 91 Jakarta

PT

: Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNS

Riwayat organisasi

:-

Karya ilmiah yang pernah dibuat

:-

Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : Motto

: Alls well that ends well

Surakarta, 15 Maret 2011

Pratiwi Noviayanti

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ANGGOTA


Nama Lengkap

: Puspita Wahyuningsih

13

NIM

: H 0708138

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat / Tanggal Lahir : Semarang, 30 Juli 1990


Alamat

: Musuk Timur Rt 03 Rw 04 Musuk Boyolali

No. Telp

: 085725005789

Riwayat Pendidikan

TK : TK BA Walisonggo

SD : SD N 1 Musuk

SMP

: SMP N 1 Boyolali

SMA

: SMA N 3 Boyolali

PT : Agroteknologi FP UNS

Riwayat Organisasi

Staff Humas FUSI Periode 2009

Staff Kesekretariatan KSI Periode 2009

Staff Kesekretariatan FORMAT Periode 2010

Kordept Pengembangan Aparat KSI Periode 2010

Staff Operasional LO PPWM KOPMA UNS periode 2010

Karya ilmiah yang pernah dibuat

: Manfaat Sumber Air Panas di Ciater


Subang Jawa Barat

Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : Motto

: Hidup adalah Perjuangan, jadi Tetaplah Berjuang!


Surakarta,15 Maret 2011

Puspita Wahyuningsih