Anda di halaman 1dari 13

BRONKIEKTASIS

Theopilus Obed Lay


Prijambodo
I.

Pendahuluan
Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya dilatasi

( ektasis) dan distorsi bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik,
persisten atau irreversibel. Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahanperubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen elastis, otot polos
bronkus, tulang rawan dan pembuluh-pembuluh darah. Bronkus yang terkena
umumnya adalah bronkus ukuran sedang ( medium size ), sedangkan bronkus
besar umumnya jarang. Bronkiektasis pertama kali dijelaskan oleh Leannec pada
tahun 1819, adalah suatu keadaan dilatasi abnormal dari bronkus dan bronkiolus
yang berkaitan dengan infksi dan inflamasi saluran napas berulang. Dengan
adanya dilatasi tersebut menyebabkan berkurangnya aliran udara dari dan ke paruparu.1,2,3,4
Bronkiektasis sendiri

digolongkan dalam penyakit paru obstruktif kronis,

yang bermanifestasi sebagai peradangan saluran napas, lalu menyebabkan


obstruksi aliran udara dan menimbulkan sesak, serta gangguan pembersihan
mukus yang biasanya disertai dengan batuk dan kadang hemoptisis. Bronkiektasis
paling banyak bermanifestasi sebagai proses fokal yang melibatkan satu lobus,
segmen, atau sub-segmen paru. Sedangkan proses difus dan melibatkan kedua
paru biasanya berkaitan dengan penyakit sistemik.1,2
Diagnosa penyakit didasarkan atas riwayat klinis dan gejala respirasi yang
bersifat kronik, seperti batuk setiap hari, produksi sputum yang kental dan
penemuan radiografi berupa penebalan dinding bronkus dan dilatasi lumen yang
terlihat jelas pada CT Scan.1
II.

Epidemiologi
Angka insiden dari bronkiektasis yang sebenarnya tidak diketahui dengan

pasti. Di negara-negara barat, insiden bronkiektasis diperkirakan sebanyak 1,3%


di antara populasi. Insiden bronkiektasis cenderung menurun dengan adanya
kemajuan pengobatan antibiotik. Akan tetapi bahwa insiden ini juga dipengaruhi
oleh kebiasaan merokok, polusi udara, dan kelainan kongenital.4,5,6

Di Indonesia sendiri belum ada laporan tentang angka-angka yang pasti


mengenai penyakit ini. Kenyataannya penyakit ini cukup sering ditemukan di
klinik dan diderita oleh pria maupun wanita, bahkan dapat diderita sejak masa
kanak-kanak yang dapat berupa kelainan kongenital. Data terakhir yang diperoleh
di RSUD Dr.Soetomo pada periode tahun 1979-1985, bronkiektasis menempati
urutan ke-7 terbanyak pasien paru yang menjalani rawat inap, dan nomor 6 pada
thun 1987 serta menurun kembali di nomor 7 pada tahun 1990. bronkiektasis
didapatkan pada 221 dari 11.081 ( 1,01 % ) penderita rawat inap.6
III.

Etiologi
Etiologi yang pasti dari bronkiektasis sampai sekarang masih belum jelas.

Namun diduga bronkiektasis dapat timbul secara kongenital maupun didapat.


Kelainan kongenital
Dalam hal ini, bronkiektasis terjadi sejak individu masih dalam kandungan. Faktor
genetik serta faktorpertumbuhan dan perkembangan memegang peranan penting.
Bronkiektasis yangtimbul kongenital biasanya mengenai hampir seluruh cabang
bronkus, selain itu bronkiektasis kongenital biasanya menyertai penyakit-penyakit
kongenital seperti kistik fibrosis, sindroma Kartagener, William Champbell
syndrome, Mounier-Kuhn syndrome, dll.1-6
Kelainan didapat
Bronkiektasis sering merupakan kelainan didapat dan merupakan proses
berikut:1,2,3
a. Infeksi : campak, pertusis, infeksi adenovirus, infeksi bakteri ( Klebsiela
Pneumonia, Staphylococus, Pseudomonas ), Tuberkulosa, Mikoplasma
b. Penyumbatan bronkus: benda asing yang terisap, pembesaran kelenjar getah
bening, tumor paru, sumbatan oleh mukus.
c. Cedera inhalasi: cedera karena asap,gas, atau partikel beracun, aspirasi isi
lambung dan partikel makanan.
d. Kelainan imunologi: Sindroma defisiensi imunoglobulin, disfungsi sel darah
darah putih, difisiensi komplemen, infeksi HIV, kelainan autoimun seperti
rheumatoid artritis, kolitis ulsratif.
e. Keadaan lain: penyalahgunaan obat ( narkotik )

Anatomi
Gambar dibawah ini menunjukan anatomi dari sistem respirasi:

Gabar 1. Anatomi Bronkus


Dari gambar tersebut dapat kita lihat bahwa cabang utama bronkus kanan dan
kiri akan bercabang menjadi bronkus lobaris dan bronkus segementalis.
Percabangan ini berjalan terus hingga menjadi bronkus yang ukurannya semakin
kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis. Bronkiolus terminalis
mempunyai diameter kurang lebih 1 mm. Bronkiolus tidak diperkuat oleh
kartilago tetapi disekelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah.
Seluruh saluran udara sampai pada tingkat ini disebut saluran penghantar udara
karena fungsinya menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas terjadi.8
Setelah bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional dari paruparu. Asinus terdiri atas bronkiolus respitorius, duktus alveolaris, dan sakkus
alveolaris terminalis. Asinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki
diameter 0,5-1 cm. Terdapat sekitar 23 percabangan mulai dari trakea sampai
sakkus alveolaris terminalis. Alveolus dipisahkan dari alveolus di dekatnya oleh
septum, dan lubang antar alveolus ini dinamakan pori-pori Kohn yang
memungkinkan komunikasi antara sakkus. Alveolus walaupun unit terkecil dari
paru-paru jika dibentangkan akan seluas satu lapangan tenis karena jumlahnya
sekitar 300 juta.8
Alveolus pada hakikatnya merupakan gelembung-gelembung yang dikelilingi
oleh kapiler-kapiler darah. Batas antara cairan dengan gas yang akan membentuk
suatu tegangan permukaan yang mencegah ekspansi saat inspirasi dan cenderung
kolaps saat ekspirasi. Di sinilah letak peranan surfaktan sebagai lipoprotein yang

mengurangi tegangan permukaan dan resistensi saat inspirasi sekaligus mencegah


kolaps saat ekspirasi.6,8
Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas alveolus dipengaruhi oleh
kematangan sel-sel alveolus, enzim biosintetik utamanya alfa anti tripsin,
kecepatan regenerasi, ventilasi yang adekuat serta perfusi ke dinding alveolus.
Defisiensi surfaktan, enzim biosintesis serta mekanisme inflamasi yang berujung
pada pelepasan produk yang mempengaruhi elastisitas paru yang menjadi dasar
pathogenesis emfisema dan penyakit paru lainnya.8
Bronkus merupakan percabangan dari trakea, yang terdiri atas bronkus dekstra
dan bronkus sinistra.
Bronkus dekstra
Bronkus dekstra mempunyai bentuk yang lebh besar, lebih pendek dan
letaknya lebih vertikal daripada bronkus sinistra. Hal ini disebabkan oleh desakan
dari arkus aorta pada ujung kaudal trakea ke arah kanan, sehingga benda-benda
asing mudah masuk ke dalam bronkus dekstra. Panjangnya kira-kira 2,5 cm dan
masuk ke dalam hilus pulmonalis setinggi vertebra torakalis VI. Vena azygos
melengkung di sebelah kranialnya, Arteri pulmonalis pada mulanya berada di
sebelah inferior,kemudian berada di sebelah ventralnya. 9
Bronkus dekstra membentuk 3 cabang ( bronkus sekunder ), masing-masing
menuju ke lobus superior, medius, dan inferior. Bronkus sekunder yang menuju ke
lobus superior di sebelah cranial dari a.pulmonalis dan disebut juga bronkus
eparterialis. Cabang bronkus yang menuju ke lobus medius dan lobus inferior di
sebelah kaudal arteri pulmonalis dan disebut juga bronkus hypaterialis.
Selanjutnya bronkus-bronkus sekender ini mempercabangkan bronkus tertier yang
menuju segmen pulmo.
Bronkus Sinistra
Bronkus sinistra mempunyai diameter yang lebih kecil, tapi bentuknya lebih
panjang dari bronkus dekstra. Berada di sebelah kaudal arkus aorta, menyilang di
sebelah ventral esophagus, duktus torasikus, dan aorta torakalis. Pada mulanya
berada di sebelah superior arteri pulmonalis, lalu di sebelah dorsalnya dan
akhirnya berada di sebelah inferiornya sebelum bronkus bercabang menuju ke
lobus superior dan lobus inferior, maka disebut letak bronkus hyparterialis.

Pada

tepi

lateral

batas

trakea

dan

bronkus

terdapat

limponodus

trakeobronkialis superior dan pada bifurkatio trakea ( sebelah kaudal ) terdapat


limponodus trakeobronkialis inferior.9
IV. Patofisiologi
Berdasarkan definisinya, bronkiektasis menggambarkan suatu keadaan dimana
terjadi dilatasi bronkus yang irreversibel ( > 2 mm dalam diameter ) yang
merupakan akibat dari destruksi komponen muskuler dan jaringan elastis pada
dinding bronkus. Rusaknya kedua komponen tersebut adalah akibat dari suatu
proses infeksi dimana pada keadaan inflamasi dilepaskan sitokin-sitokin
inflamasi, nitrit oksida, dan neutrofilik protease sebagai respon terhadap antigen.5
Bronkiektasis dapat terjadi pada kerusakan secara langsung dari dinding
bronkus atau secara tidak langsung dari intervensi pada pertahanan normal jalan
napas. Pertahanan jalan napas terdiri dari silia yang berukuran kecil pada jalan
napas. Silia tersebut bergerak berulang-ulang, memindahkan cairn berupa mukus
yang normal melapisi jalan napas. Partikel yang berbahaya dan bakteri yang
terperangkap pada lapisan mukus tersebut akan dibawa ke tenggorokan dan
kemudian dibatukkan keluar atau tertelan.3
Selain itu terlepas dari apakah kerusakan tersebut diakibatkan secara langsung
atau tidak langsung, daerah dinding bronkus yang mengalami kerusakan akan
mengalami inflamasi kronik. Bronkus yang mengalami inflamasi akan kehilangan
keelastisannya sehingga bronkus akan menjadi lebar dan lembek serta membentuk
kantung atau saccus yang menyerupai balon kecil. Inflamasi juga menigkatkan
sekresi mukus, karena sel yang bersilia mengalami kerusakan maka sekret yang
dihasilkan akan menumpuk dan memenuhi jalan napas dan menjadi tempat
berkembangnya bakteri. Bakteri-bakteri yang berkembang tersebut akan merusak
dinding bronkus dan menjadi lingkaran setan antara infeksi dan kerusakan jalan
napas.3

Gbr 2 Bronkus Normal dan Bronkus yang mengalami ektasis.


V.

Diagnosis

1. Gambaran Klinis
Manifestasi klasik dari bronkiektasis adalah batuk dan produksi sputum harian
yang mukopurulen sering berlangsung bulanan sampai tahunan. Sputum yang
bercampur darah atau hemoptisis dapat menjadi akibat dari kerusakan jalan nafas
dan infeksi akut.1,2
Variasi yang jarang dari bronkiektasis kering yakni hemoptisis episodik
dengan sedikit

atau tanpa produksi sputum. Bronkiektasis kering biasanya

merupakan sekuele ( gejala sisa ) dari tuberkulosis dan biasanya ditemukan pada
lobus atas.1
Gejala spesifik yang jarang ditemukan antara lain dyspnea, nyeri dada
pleuritik, wheezing, demam, mudah lelah dan penurunan berat badan. Pasien
relatif mengalami episode beulang dari bronkitis atau infeksi paru, yang
merupakan eksaserbasi dari bronkiektasis dan sering membutuhkan antibiotik.
Infeksi bakteri yang akut ini sering diperberat dengan onsetnya oleh peningkatan
produksi sputum yang berlebihan, peningkatan kekentalan sputum, dan kadangkadang disertai dengan sputum yang berbau.1,2,3
Batuk kronik yang produktif merupakan gejala yang menonjol yang terjadi
pada 90% pasien. Sputum yang dihasilkan dapat berbagai macam, tergantung
berat ringannya penyakit dan ada tidaknya infeksi sekunder. Sputum dapat berupa
mukoid, mukopurulen, dan purulen. Jika terjadi infeksi sekunder dan berulang,
sputum dapat menjadi purulen dan berbau tidak sedap. Jumlah total sputum harian
yang ditampung dapat digunakan untuk membagi karakteristik berat ringannya
bronkiektasis. Sputum yang kurang dari 10 ml digolongkan sebagai bronkiektasis

ringan, sputum dengan jumlah 10-150 ml perhari digolongkan sebagai


bronkiektasis moderat dan sputum lebih dari 150 ml digolongkan sebagai
bronkiektasis berat.1,2,5,7
Hemoptisis terjadi 56-92% pasien dengan bronkiektasis. Hemoptisis mungkin
terjadi masif dan berbahaya bila terjadi perdarahan pada artei bronkialis.
Hemoptisis biasanya terjadi pada bronkiektasis kering, walaupun angka kejadian
dari bronkiektasis tipe ini jarang ditemukan.1,2
Dyspnea terjadi pada kurang lebih 72% pasien bronkiektasis tapi bukan
merupakan temuan yang univesal. Biasanya terjadi pada pasien dengan
bronkiektasis luas yang terlihat pada gambaran radiologisnya. Wheezing sering
dilaporkan dan mungkin akibat obstruksi jalan napas yang diikuti oleh destruksi
cabang bronkus. Seperti dyspnea, ini juga mungkin kondisi yang mengiringi
seperi asma. 1,2
Nyeri dada pleuritik kadang-kadag ditemukan terjadi pada 46% pasien pada
sekali observasi. Paling sering ditemukan akibat sekunder dari batuk kronik, tetapi
juga terjadi pada eksaserbasi akut. Selain itu penurunan berat badan sering terjadi
pada pasien dengan bronkiektasis yang berat. Hal ini terjadi akibat peningkatan
kebutuhan kalori yang berkaitan dengan peningkatan kerja pada batuk dan
pembersihan sekret jalan napas dan juga peningkatan sitokin-sitokin pro inflamasi
yang menekan nafsu makan penderita bronkiektasis. Namu pada umumnya semua
penyakit kronik sering disertai dengan penurunan berat badan. 1,2
2. Gambaran Radiologis
-

Foto toraks

Dengan pemeriksaan foto toraks, maka pada bronkiektasis dapat ditemukan


gambaran seperti dibawah ini:10,11,12,13
a. Ring shadow
Terdapat bayangan seperti cincin dengan berbagai ukuran ( dapat mencapai
diameter 1 cm ), dengan jumlah yang satu atau lebih bayangan cincin sehingga
membentuk gambaran honey comb appearance atau bounches of grapes.
Bayangan cincin tersebut menunjukan kelainan yang terjadi pada bronkus.

Gbr.2 Tampak Honey comb apperance di


basal paru

Gbr.5 Tampak Ring Shadow yang


menandakan adanya dilatasi bronkus

Gbr.4 Tampak dilatasi bronkus yang


ditunjukan dengan anak panah.

Gbr.6 Tramline shadow di antara


bayangan jantung

b. Tramline shadow
Gambaran ini dapat terlihat pada bagian perifer paru-paru. Bayangan ini terlihat
terdiri atas 2 garis pararel yang putih dan tebal yang dipisahkan oleh daerah
berwarna hitam. Gambaran seperti ini normalnya ditemukan daerah parahilus.
c. Tubular shadow
Ini merupakan bayangan yang putih dan tebal dan lebarnya dapat mencapai 8 mm.
Gambaran ini sebenarnya menunjukan bronkus yang penuh sekret. Gambaran ini
jarang ditemukan, namun gambaran ini khas untuk bronkiektasis.
d. Glove finger shadow
Gambaran ini menunjukan bayangan sekelompok tubulus yang terlihat seperti
jari-jari pada sarung tangan.

Bronkografi
Bronkografi merupakan pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras ke

dalam sistem saluran bronkus pada berbagai posisi ( AP, Lateral, Oblik ).
Pemeriksaan ini selain dapat menentukan adanya bronkiektasis, juga dapat
menentukan bentuk-bentuk bronkiektasis yang dibedakan dalam bentuk silindris
( tubulus, fusiformis ), sakuler ( kistik ), dan varikosis.11
Pemeriksaan bronkografi juga dilakukan pada penderita bronkiektasis yang
akan dilakukan pembedahan untuk menentukan luasnya paru yang mengalami
bronkiektasis yang akan diangkat. Pemeriksaan bronkografi saat ini mulai jarang
dilakukan oleh karena prosedurnya yang kurang menyenangkan terutama dengan
pasien dengan gangguan ventilasi, alergi dan rekasi tubuh terhadap kontras
media.12
- CT Scan Toraks
CT Scan dengan resolusi tinggi menjadi pemeriksaan penunjang terbaik untuk
mendiagnosa bronkiektasis, mengklarifikasi temuan dari foto toraks dan melihat
letak kelainan jalan napas yang tidak dapat terlihat pada foto polos toraks. CT
Scan dengn resolusi tinggi mempunyai sensitivitas sebesar 97% dan spesifisitas
sebesar 93%.7,13
CT Scan dengan resolusi tinggi akan memperlihatkan dilatasi bronkus dan
penebalan dinding bronkus. Modalitas ini juga mampu mengetahui lobus mana
yang

terkena,

terutama

penting

untuk

menentukan

apakah

diperlukan

pembedahan. 7,13
Perubahan morfologis bronkus yang terkena
a. Dinding bronkus
Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses
inflamasi yang sifatnya destruktif dan sifatnya ireversibel. Pada pemeriksaan
patologi anatomi sering ditemukan berbagai tingkatan keaktifan proses inflamasi
serta terdapat proses fibrosis. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain
otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elsatis.4
b. Mukosa bronkus
Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal, silia pada sel epitel menjadi
menghilang, terjadi perubahan metaplasi sel skuamosa, dan banyak dijumpai

infiltasi sel-sel inflamasi. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut, pada mukosa
akan terjadi penglupasan, ulserasi dan terbentuk pus.4
c. Jaringan paru peribronkial
Pada parenkim paru peribronkial dapat ditemukan kelainan antara lain berupa
pneumonia, fibrosis paru atau pleuritis apabila prosesnya dekat pleura. Pada
keadaan yang berat, jaringan paru distal bronkiektasis akan diganti jaringan
fibrotik dengan kista-kista berisi nanah/pus.4
Variasi kelainan anatomi bronkiektasis
Pada tahun 1950, Reid mengklasifikasi bronkiektasis sebagai berikut:1,4,5
a. Bentuk tabung ( tubular, cylindrical, fusiform bronchiectasis )
Variasi ini merupakan bronkiektasis yang paling ringan. Bentuk ini sering
ditemukan pada bronkiektasis yang menyertai bronkitis kronik.
b. Bentuk kantong ( saccular bronkiektasis )
Merupakan bentuk bronkiektasis yang paling klasik, ditandai dengan ada dilatasi
dan penyempitan bronkus yang bersihat ireguler. Bentuk ini kadang-kadang
berbentuk kista.
c. Bentuk varikosa
Bentuk ini merupakan bentuk peralihan antara bentuk tabung dan kantong. Istilah
ini digunakan karena perubahan bentuk bronkus yang menyerupai varises
pembuluh vena.

Gbr.7 Variasi kelainan anatomi bronkiektasis

VI. Pengobatan
Pengobatan pasien bronkiektasis secara garis besar dibagi 2, yaitu:
a. Pengobatan Konservatif 4
-

Pengelolahan umum, meliputi:

Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat bagi pasien


Memperbaiki drainase sekret bronkus
Mengontrol infeksi saluran napas
Drainase sekret dengan bronkoskopi
-

Pengobatan simtomatik:

Pengobatan obstruksi bronkus, misalnya dengan obat bronkodilator


Pengobatan hipoksia, dengan pemberian oksigen
Pengobatan hemoptysis, dengan obat-obat antitusif dan hemostatik
Pengobatan demam, dengan antibiotika dan antipiretika
b. Pengobatan Pembedahan
Tujuan pembedahan adalah untuk mengangkat (reseksi ) segmen atau lobus yang
terkena. Indikasinya pada pasien bronkiektasis yang sering mengalami infeksi
berulang dan hemoptysis berulang yang sudah tidak respon dengan pengobatan
konservatif yang adekuat. Pada pasien dengan hemoptisis masif dan mengancam
jiwa maka mutlak dilakukan operasi cito untuk mengangkat segmen atau lobus
yang menjadi sumber perdarahan. 4
VII. Prognosis
Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada berat ringannya serta luasnya
penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Pemilihan pengobatan secara tepat
( konservatif ataupun pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit. Pada
kasus-kasus yang berat dan tidak diobati maka prognosisnya jelek dan ketahanan
hidupnya tidak akan lebi dari 5-15 tahun. Kematian pasien tersebut biasanya
karena pneumonia, empiema, kor pulmonale, hemoptisis masif, dan lain-lain.1,2,4
Daftar Pustaka
1. EE

Emmons

et

al.

Bronchiectasis.

Downloaded

http://emedicine.medscape.com/article/296961-overview

from

2. ORegan AW, Berman JS. Bronchiectasis in Baums Textbook of Pulmonary


Disease. Edisi 7. 2004, hal. 255-274.
3. Benditt JO. Lung and Airway Disorder;Bronchiectasis. Downloaded from:
www.merck.com last update Januari 2008
4. Rahmatullah P. Bronkiektasis, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi
Ketiga. Editor Slamet Suyono. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2001. hal 861871.
5. Hassan I. Bronchiectasis. www.emedicine.com. Last update December,8 2006
6. Alsagaff H, Mukty A. Bronkiektasis, Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru,
Airlangga University Press. Surabaya. 2006. hal 256-261
7. Barker AF. Bronkiektasis in The New England Journal of Medicine. 2002;
346:1383-1393.
8. Wilson LM. Patofisiologi (Proses-Proses Penyakit) Edisi enam. Editor
Hartanto Huriawati, dkk. EGC. Jakarta 2006. hal 737-740
9. Luhulima JW. Trachea dan Bronchus. Buku Ajar Anatomi Sistem Respirasi
Bagian Anatomi FKUH. Makassar. 2004. hal 13-14.
10. Meschan I. Obstructive Pulmonary Disease. Synopsis of Analysis of Roentgen
Signs in General Radiology. Philadelphia. 1975. hal 55-56
11. Kusumawidjaja K. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Editor Iwan Ekayuda.
Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2006. hal 108-115.
12. Sutton D. Textbook of Radiology and Imaging volume 1. Churchill
livingstone. Tottenham. 2003. hal 45, 163, 164 & 168.
13. Patel PR. Lecture Notes Radiologi Edisi Kedua. Erlangga. Jakarta. 2005. hal
40-41
14. Eng P, Cheah FK. Interpreting Chest X-rays. Cambridge Univesrsity Press.
New York. 2005. hal 67-68.
15. Greif

J.

Medical

Imaging

in

Patients

with

Cystic

Fibrosis.

www.eradimaging.com. Last update Februari 2008.


16. Ketai LH. Infectious Lung Disease. Fundamental of Chest Radiology, 2nd
Edition, Loren H. Ketai Richard Lofgren, Andrew J. Meholic, Elseiver Inc. hal
105-108
17. Wicaksono H. Anatomi Dasar Sistem Pernapasan,Downloaded from
www.ilmusehat.com