Anda di halaman 1dari 4

Aplikasi dan potensi geologi daerah Kalimantan

Pembentukkan basement dari Cekungan- cekungan di Pulau Kalimantan


ini berupa bagian continental dari Lempeng Eurasia. Lempeng ini bersifat
granitik, sehingga mampu berkembang menjadi cekungan yang potensial. Potensi
hidrokarbon yang ada akan sangat membantu dalam melakukan kegiatan
eksplorasi ke depannya dan menentukan sistem minyak dan gas bumi yang akan
terbentuk. Batuan dasar cekungan ini terbentuk pada Pra Tersier, namun batuan
pengisi tertuanya berumur Eosen tengah. Batuan sumber terbentuk pada saat fase
pemekaran. Cekungan pada daerah Kalimantan Geologinya memiliki aspek
potensi adanya akumulasi Hidrokarbon, potensi Batubara dan terdapat juga
potensi mineral ekonomis.
Kalimantan merupakan pulau yang memiliki kekayaan alam yang sangat
melimpah, salah satunya adalah kaya akan endapan mineral berat yang hampir
tersebar di keseluruhan daerah Kalimantan. Salah satu daerah di Kalimantan yang
berpotensi menghasilkan endapan mineral berat ekonomis adalah Propinsi
Kalimantan Barat. Endapan letakan adalah suatu endapan mineral-mineral berat
yang terkonsentrasi bersama-sama dengan material endapan sedimen (Roob,
2005). Mineral berat adalah mineral yang dikelompokkan berdasarkan dari berat
jenisnya yang lebih dari 2,89 gr/cm3 (Carver, 1971 dalam Panggabean., 2011).
Endapan mineral berat sering juga disebut endapan mineral ekonomis karena
memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Mineral berat pada umumnya merupakan
mineral silikat dan oksida yang resisten terhadap pelapukan.
Endapan mineral ekonomis dapat dihasilkan melalui berbagai macam tipe
endapan, salah satu tipe endapan yang dapat menghasilkan endapan mineral
ekonomis adalah endapan tipe letakan. Endapan letakan secara fisik umumnya
terakumulasi oleh proses sungai dan laut (Setiadi dan Aryanto, 2009). Menurut
Suwarna dkk. (1993) daerah Singkawang merupakan daerah yang memiliki
endapan mineral ekonomis seperti emas, tembaga, timbal, seng, molibdenit,
mangan, sinabar, bauksit, kaolin dan kasiterit.

Pada potensi selain emas potensi uranium yang diperkirakan berasosiasi


bersama bijih emas yang terdapat pada batuan beku asam seperti granit pada
daerah Pegunungan Schwanner. Selain itu Bauksit, Mangan, Nikel juga terdapat
pada Provinsi Kalimantan Barat yang juga merupakan bagian dari pegunungan
Schwanner. Kromit pada Provinsi Kalimantan Selatan, dan Perak yang telah
diekspolarasi pada daerah

Kutai Timur, Kalimantan Timur . Sumber data

(http://webmap.psdg.bgl.esdm.go.id/).
Selain emas dan logam dasar, zirkon merupakan salah satu jenis mineral
berat yang keberadaannya sangat penting dalam berbagai industri, khususnya
industri di bidang energi nuklir. Mineral zirkon ini dapat dimanfaatkan sebagai
salah satu bahan dalam pembuatan selongsong nuklir dikarenakan mineral ini
memiliki titik lebur yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 2000 C. Kalimantan
Barat terdapat indikasi keberadaan mineral zirkon yang berasosisasi dengan emas
atau intan yang terkandung dalam endapan letakan di Kalimantan. Endapan
letakan merupakan endapan letakan hasil proses fluviatil. Mineral-mineral zirkon
yang terkandung pada endapan letakan dimungkinkan berasal dari pelapukan
batuan beku dari seri kalk-alkali hingga alkali (granit, granodiorit, tonalit dan
monzonit.
Pembentukan mineral-mineral ekonomis tersebut dikontrol oleh Struktur
geologi contohnya berupa gawir sesar terdapat di hulu Sungai Jenaham dengan
kedudukan N 250E/80 pada batuan granodiorit , Kekar-kekar berarah N 350EN 20E kemiringan 70 80 , umumnya berkembang pada batuan granodiorit
yang tersingkap di Sungai Jenaham dan Sungai Bulu. Selain itu di daerah Sungai
Riam berkembang kekar-kekar berarah N 140 E, N 260 E, N 215 E, N 220
E, kemiringan 70 85 . Dan juga proses alterasi yaitu ubahan yang dijumpai
adalah: argilitisasi, filik-argilik dan limonitik-argilik. Ubahan argilitisasi terjadi
pada batuan granodiorit yang dijumpai pada saprolit paritan di hulu S. Jenaham.
Selain itu juga dijumpai ubahan sekunder yang dipengaruhi oleh proses
pelapukan, oksidasi membentuk zona limonitik-oksidasi (kaolinitisasi-argilik) dari
batuan granodiorit. Batuan granodiorit dan diorit diindetifikasikan sebagai heat
source atau sumber panas yang mengakibatkan terjadinya proses hidrotermal,

dimana magma menerobos batuan melalui celah-celah patahan pada kondisi


temperatur dan tekanan tertentu mengakibatkan terbentuknya zona ubahan yang
luas

pada

batuan

samping.

Sedangkan

rekahan-rekahan

dan

patahan

geser dextral dan sinistral berperan sebagai channel way dari sistem pembentukan
mineralisasi ubahan hidrotermal. Berdasarkan deskripsi bukaan paritan di hulu
Sungai Jenaham, pada paritan I zona limonitik granodiorit, saprolit terdapat pada
kedalaman 3,3 m. Pada paritan II, lapisan saprolit teroksidasi/limonitik
(kedalaman 1,2 1,7m), zona saprolit-argilik dari granodiorit sangat lapuk
(kedalaman 1,72,7 m), dapat dilihat pada Gambar.8. Hasil analisis kimia unsur
dari conto batuan di daerah paritan S. Jenaham dan S. Pitunuan adalah: Au 5 38
ppb, Cu = 34 838 ppm, Mo = 4 32 ppm.
Endapan Pb-Zn-Cu-Ag skarn ditemukan juga di Ruwai, Kabupaten Lamandau,
Kalimantan Tengah, kondisi fisika-kimia fluida yang berperan pada pembentukan
endapan tersebut serta aspek geologi dominan yang mengontrol pembentukan
endapan skarn di Ruwai adalah litologi berupa batugamping dan batulanau (dari
napal?), serta struktur geologi berupa sesar geser timur laut-barat daya dan sesar
naik arah N 70 E. Sesar naik tersebut juga menjadi kontak litologi antara batuan
sedimen dan batuan vulkanik. Secara mineralogis, skarn pada Ruwai dibagi ke
dalam dua kategori, yaitu mineral prograde yang dicirikan oleh garnet (andradit)
dan klino-piroksen (wollastonit), serta mineral retrograde dicirikan oleh epidot,
klorit, kalsit, dan serisit. Mineralisasi bijih dicirikan oleh sfalerit, galena, dan
kalkopirit yang terbentuk pada tahap awal retrograde. Galena terkayakan oleh
perak sampai 0,45 % berat dan bismuth sekitar 1% berat. Sulfida perak tidak
teridentifikasi dalam tubuh bijih. Sumber daya terukur endapan ini sekitar
2.297.185 ton pada kadar rata-rata 14,98 % Zn 6,44% Pb, 2,49 % Cu, dan 370,87
g/t Ag. Tubuh bijih skarn terbentuk pada temperatur sedang, yaitu sekitar 250 266 C dengan salinitas relatif rendah 0,3 - 0,5 wt.% NaCl ekuiv., yang terbentuk
pada tahap awal retrograde. Pada tahap akhir retrograde, endapan skarn berada
pada temperatur rendah (190 - 220 C) dengan salinitas rendah (0,35 % berat
NaCl ekuiv.). Temperatur dan salinitas rendah ini akibat adanya infiltrasi air
meteorik pada tahap akhir pembentukan endapan skarn tersebut (Idrus dkk, 2011)

Keberadaan laterit bauksit di Kalimantan

dipengaruhi oleh beberapa

faktor, yaitu berupa faktor geomorfologi, litologi dan struktur geologi.


Berdasarkan faktor geomorfologinya, endapan bauksit terbentuk pada daerah yang
berlereng sangat landai-sedang. Dilihat dari litologinya, bedrock yang dijumpai
yaitu berupa granodiorit, gabro, dan gneiss. Struktur geologi sudah tidak dijumpai
karena lokasi penelitian sudah mengalami pelapukan yang intensif. Berdasarkan
analisis geokimianya, penampang laterit yang terdapat di daerah penelitian dapat
dibedakan menjadi zona clay/kong dan zona bauksit.

Sumber tambahan.
Idrus, A, L.D. Setiadji. F.Thamba.2011. Geology and Characteristics of Pb-Zn-CuAg-Skaren Deposit at Ruwai, Lamandau Regency, Central Kalimantan.
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=41
http://webmap.psdg.bgl.esdm.go.id/geosain/neraca-mineral-strategis.php?
mode=administrasi
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=248:inventarisasi-dan-evaluasi-bahangalian-mineral-non-logam-di-daerah-kutai&catid=52:content-menuutama&Itemid=285