Anda di halaman 1dari 14

Kopling

233

233

BAB VII
KOPLING
A. Kopling Poros
Ukuran terpanjang poros pada alat transportasi adalah 7 m agar didapatkan
poros yang lebih panjang maka poros dapat disambungkan dengan bantuan kopling.
Penggunaan kopling pada mesin adalah:
1. Untuk menyambungkan poros dari beberapa unit yang dibuat secara terpisah
seperti motor dan generator
2. Memberikan pleksibilitas mesin
3. Mengurangi beban kejutan pada transmisi antar poros
4. Melindungi mesin dari pembebanan berlebihan.
5. Merubah karakter getaran unit yang berputar.
Syarat-syarat Kopling :
1. Mudah memasang dan melepaskannya
2. Dapat mentransmisikan daya dengan penuh
3. Dapat menyanga poros dengan posisi yang tepat
4. Tidak ada bagian yang menonjol
B. Jenis-jenis Kopling
1. Kopling Kaku
Kopling kaku digunakan untuk menyambungkan dua poros yang sejajar,
beberapa tipe kopling kaku :
a. Kopling sleeve (lengan) atau kopling sarung
b. Kopling kompresi
c. Kopling flens
2. Kopling Fleksibel
Kopling fleksibel digunakan untuk menghubungkan sambungan angular dan
lateral. Beberapa macam kopling fleksibel:
a. Kopling tipe bushed pin
b. Kopling universal
c. Kopling oldham
C. Kopling Sleeve atau Kopling Muff
Kopling sleeve atau kopling muff adalah jenis kopling kaku yang paling
sederhana, dibuat dari baja cor. Pada kopling ini adalah silinder berlubang dengan
ukuran diameter dalam sama dengan ukuran poros. Kedua ujung poros
disambungkan kedalam kopling ini dengan bantuan pasak kepala gib, seperti pada
gambar dibawah. Gaya yang ditransmisikan oleh kopling ini dilakukan oleh sleeve
dan pasak. Oleh karena itu seluruh bagian harus kuat menahan beban puntiran.
Ukuran proposional kopling sleeve baja cor adalah
diameter terluar adalah D 2d 13mm
panjang sleeve adalah L = 3,5 d , d adalah diameter poros

Elemen Mesin

Kopling

234

234

Gambar 7.1
Prosedur yang harus ditaati dalam perancangan kopling sleeve
(1) Kopling didesain berdasarkan ukuran ujung poros
T = Torsi yang ditransmisikan
Fs1 = Tegangan geser ijin bahan besi cor. Angka yang aman untuk tegangan
geser besi cor adalah 140 Kg/cm2
Torsi yang ditransmisikan poros adalah
T

D4 d 4

f s1
16
D

f s1 D 3 (1 k 4 )
16

(2) Desain untuk pasak kopling sama dengan pada artike13.8 pada (kurmi dan
gupta). Keterbalan dan lebar pasak kopling disediakan oleh persamaan. Panjang
kopling setidaknya sama dengan panjang sleeve. Pasak kopling biasa dibuat
dalam dua bagian, panjang setiap pasak pada setiap poros
l

L 3,5d

2
2

Pemeriksaan dengan perhitungan tegangan geser


T lxwxf s x

d
2

Contoh 7.1 Desainlah sebuah muff


poros yang mentransmisiskan daya 50 hp
mild steel 300kg/cm2 dengan teganagan
dengan tegangan geser ijin 150 kg/mm 2.
torsi utama.

kopling untuk menghubungkan dua buah


pada 120 rpm. Tegangan geser ijin bahan
tarik 800kg/cm 2. Muff terbuat dari bahan
Asumsi torsi maksimum adalah 25% dari

Diketahui:
P = 50 hp
N = 120 rpm
Fs = 300 kg/cm2
Fc = 800 kg/cm2
Fsl = 150 kg/cm2
Jawab :
Px 4500
500 x 4500

298kgm
2N
2x120
1,25Tmean 1,25 x 298 372,5kgm

Tmean
Tmax

a. Desain poros

fsd 3
16
16Tmax
16 x37250
3
8,58 cm 9 cm
f s
x300

Tmax
d

b. Desain sleeve

D 2 d 1.3 cm 2 x9 1,3 19,5 cm


L 3,5d 3,5 x9 31,5 cm

Pengecekan tegangan geser pada muff


D4 d 4

f sl
16
D

16Td
16 x37250 x19,5

26,8kg / cm 2
4
4
4
4
D d
19,5 9

T
f sl

c. Desain pasak

Elemen Mesin

Kopling

235

235

Dari tabel 13.1 (Machine Design, Khurmi & Gupta), lebar dan ketebalan pasak
untuk poros dengan diameter 90 mm, w = 28 mm, t = 16 mm
Panjang pasak pada setiap poros
l

L 31,3

15,75cm
2
2

Pengujian tegangan geser pada pasak


Tmak l.w. f s
fs

d
2

2Tmax
2 x37250

187,7 kg / cm 2
l.w.d
15,75 x 2,8 x9

Pengujian berdasarkan patahan pada pasak


t
d
xf c x
2
2
4Tmak
4 x37250
fs

657kg / cm 2
l.t.d
15,75 x1,6 x9

Tmax l

D. Kopling Kompresi atau Clamp


Kopling ini diketahui sebagai bagian dari muff kopling, muff dibuat yang terdiri
dari dua bagian seperti pada gambar. Setengah bagaian muff terbuat dari besi cor.
Ujung poros dibuat terbatasi oleh masing-masing pasak. setengah bagian muff
dipasang secara tepat dari bawah dan setengah bagian yang lainnya ditempatkan
diatas.

Gambar 7.2
Kedua bagian dipasangkan bersamaan dengan pin mild steel atau baut. Jumlah
baut yang dipasangkan dua empat atau enam buah. Baut yang dipasangkan
mencapai muff yang dicetak. kopling jenis ini adalah dapat digunakan pada
pembebanan yang kerat pada kecepatan putaran yang moderat. Keunggulan dari
jenis kopling ini adalah penempatan posisi poros tidak perlu diubah pada perakitan
mesin. Perhitungan secara proposional kopling ini adalah
D = 2d+13mm, diamana L = 3,5 d
Pada clamp atau kopling kompresi, daya yang ditransmisikan poros dihasilkan
oleh pasak dan gesekan antara muff dan poros.
1. Desain muff dan pasak
Muff dan pasak didesain seperti pada kopling muff
2. Desain baut clamping
T = torsi yang ditransmisikan
d = diameter poros
db = diameter efektif baut
n = jumlah baut
ft = tegangan geser ijin bahan baut
= koefisien gesek antara muff dengan poros
Elemen Mesin

Kopling

236

L = panjang muff
Gaya yang dipikul untuk setiap baut =
Gaya setiap baut pada kedua sisi =

236

2
d b xf t
4

2
n
d b xf t
4
2

Tekanan pada poros dan permukaan muff selama pembebanan


2
n
d b xf t x
gaya
2
P
4
1
luas
L.d
2
Gaya gesek diantara poros dan muff
F xtekananxluas

2 n
db ft
2
1
2 1 dL d f n
F P dL 4
b t
1
2
2
8
Ld
2

Puntiran yang dapat ditransmisikan oleh kopling


T F

d 2

db 2 ft n d
2 16

Contoh 7.2 Desainlah sebuah kopling clamp yang mentransmisiskan daya 40


HP pada 100 rpm. Tegangan geser ijin untuk bahan pors dan pasak adalah 400
kg/cm2 jumlah baut yang menghubungkan kedua bagian adalah 6 buah. Tegangan
tarik ijin untuk bahan baut adalah 700 kg/cm 2. Koefisien gesek antara muff dan
permukaan poros adalah 0,3
Diketahui:
P = 40 HP
N = 100 rpm
fs = 400 kg/cm2
n=6
ft = 700 kg/cm2
= 0,3
Jawab:
Px 4500 40 x 4500

268,4kgm
2n
2x100

a. Desain untuk poros

3
T
d

16
3

fsd

16T

f s

16 x 286400
7,5cm
400

b. Desain untuk muff


D = 2d +1,3 cm = 16,3 16,5 cm
Panjang total muff
L = 3,5 d = 3,5 x 7,5 = 26,25 cm
c. Desain untuk baut

Elemen Mesin

Kopling

2
d b 2 f t nd
16
16T
db

2 f t nd

237

237

16 x 28640
2,215 2,5cm
0,3 x 2 x 700 x 6 x7,5

E. Kopling Flens
Kopling flens adalah kopling yang terbuat dari dua buah flens yang terbuat dari
baja cor secara terpisah. Setiap flens diikatkan pada ujung poros. Flens yang
pertama berfungsi sebagai projek flens dan flens yang lainnya sebagai korespoding
flens. Hal ini membantu pemeliharaan kesejajaran diantara flens. Poros kedua flens
dihubungkan oleh baut dan mur. Kopling flens digunakan pada pembebanan berat
dengan poros yang panjang. Jenis-jenis kopling flens adalah:
1. Kopling flens tanpa perlindungan
2. Kopling flens dengan pelindung
3. Kopling flens kapal laut
Kopling flens tanpa perlindungan diperlihatkan pada gambar 7.3, setiap poros
dikuncikan pada boss dengan pasak counter shung dan flens dipasangkan oleh baut,
pada umumnya digunakan tiga atau enam baut. Penghunci dimiringkan pada sudut
yang tepat sepanjang dan mengelilingi poros untuk membagi pelemahan jalur pasak

Gambar 7.3
Untuk kopling flens dengan pelindung, seperti pada gambar baut yang menonjol
terlindungi flens pada kedua bagian kopling, untuk menghindari bahaya pada
pekerja.

Gambar 7.4
Ukuran kopling flens baja cor
diameter poros atau diameter dalam hub = d
Diameter luar hub D = 2d
Panjang hub = 1,5 d
Diameter pitch baut = 3 d
Ketebalan flens = 0,5 d
Ketebalan lingkaran pelindung flens = 0,25 d
Jumlah baut = 3 untuk d sampai dengan 40 mm
Elemen Mesin

Kopling

238

238

= 4 untuk d sampai dengan 100 mm


= 6 untuk d sampai dengan180 mm
Pada jenis kopling flens kapal laut ditempa dengan poros seperti pada gambar.
flens dipasangkan dengan baut yang ditab.

Gambar 7.5
Tabel 7.1 Pemilihan Jumlah Baut (IS : 3653 1996)
Diameter
35
56 151
poros
55
150
230
Jumlah baut
4
6
8
Ketebalan flens =

231 390
10

390

12

d
3

Baut yang diruncingkan = 1 in 20 sampai dengan 1 in 40


Diameter pitch baut = 1,6 d
Desain Kopling Flens
Berdasarkan pada gambar
d = diameter poros atau diameter dalam hub
D = diameter luar hub
d1 = diameter nominal atau diameter luar baut
D1 = diameter lingkaran baut
n = jumlah baut
tf = tebal flens
fs = tegangan geser ijin bahan baut, poros dan pasak
fsl = tegangan geser ijin bahan flens
fc = tekanan ijin pada bahan baut dan bahan pasak
(1) Desain Hub
Desain hub berdasarkan pada lengkungan poros
T

D4 d 4

f s
16
D

Diameter terluar hub biasa diambil dua kali diameter poros. Oleh karena kedua
hubungan itu pemeriksaan tegangan geser pada hub dapat di periksa.
(2) Desain pasak
Pasak didesain dengan proposional dan dilakukan pemeriksaan tegangan geser
dan gaya penekanan. Bahannya disamakan dengan bahan poros. Panjang pasak
sama dengna panjang hub.

Elemen Mesin

Kopling

239

239

(3) Desain Flens


Tegangan pada hub dengan pembebanan geseran dari torsi (T)
T = keliling hub x ketebalan flens x radius hub
T D.t f . f sl

D D

t f f sl
2
4

Ketebalan flens bisa diambil setengah diameter poros. Sehingga hubungan


tegangan geser pada flens dapat diperiksa.
(4) Desain Baut
Baut mengalami tegangan geser ketika transmisi puntir terjadi. Jumlah baut
tergantung pada diameter poros dan diameter pitch baut (D 1) 3d.
2
Beban setiap baut d 1 xf s
4

Total beban setiap baut

2
d 1 xf s xn
4

D
2
d1 xf s x 1
4
2
Dari persamaan ini, diameter baut (d1) dapat dihitung selama penekanan
Luas penekanan baut adalah nd1t f
Daya penekanan baut nd1t f f s
D
T = (nd1t f f s ) 1
2
Dengan persamaan ini gaya tekan pada baut dapat diperiksa
Diameter luar flens D1 D1 D 2 D1 D
Ketebalan lingkaran flens = o,25 d

Torsi yang ditransmisikan

Contoh 7.3 Desain sebuah kopling baja cor (jenis protektif) untuk
menghubungkan dua buah poros 8 cm. Poros berputar pada 250 rpm, torsi yang
ditrasmisikan 430 kgm. Tegangan yang diijinkan:
Tegangan geser ijin untuk bahan baut, poros dan pasak = 500 kg/cm 2
Tekanan ijin bahan baut dan pasak = 1500 kg/cm 2
Tegangan geser ijin untuk baja cor = 80 kg/cm 2
Diketahui:
Diameter poros d = 8 cm
Kecepatan poros N = 250 rpm
Torsi yang ditranmisiskan = 430 kgm =43000 kgcm
Tegangan geser ijin bahan poros, baut dan pasak = f s = 500 kg/cm2
Tegangan geser ijin baja cor = 80 kg/cm 2
Jawab:
a. Desain hub
Diameter luar hub
D 2d 2(8) 16cm

mengingat lubang hub sama dengan diameter poros, kita harus memeriksa
bahan hub yaitu besi cor
D4 d 4

f sl

16
D

4
4
16 8

43000
f sl
16
16
T

f sl

Elemen Mesin

43000 x16 x16


57 kg / cm 2
4
4
16 8

Kopling

240

240

karena tegangan kurang dari 80kg/cm 2 maka bahan aman


b. Desain pasak
dari tabel 13.1 pasak proporsional untuk poros 8 cm adalah
Diameter pasak w = 22 mm = 2,2 cm
Ketebalan pasak t = 14 mm = 1,4 cm
Panjang pasak didasarkan pada tegangan geser dan besar penekanan
T l.W . f s

d
2

43000 lx 2,2 x500 x


l

8
2

43000 x 2
9,8cm
2,2 x500 x8

Diketahui juga bahwa


t
d
xf s x
2
2
1,4
8
43000 lx
x1500 x
2
2
43000 x 2 x 2
l
10,24 11cm
1,4 x1500 x8

T lx

c. Desain Flens
Ketebalan flens diambil setengah dari diameter poros
tf = 0,5d = 0,5(8) = 4 cm
Mengingat sambungan flens terhadap hub mengalami beban puntir kita harus
memeriksa tegangan geser pada flens
D 2
f sl x 4t f
2
x16 2
43000
f sl x 4
2
43000 x 2
f sl
26,7kg / cm 2
2
x16 x 4
T

Tegangan geser pada flens kurang dari 80kg/cm 2 maka flens aman
d. Desain Baut
Diameter poros 8 cm maka jumlah baut 4
Diameter pitch baut adalah
D1 = 3 d = 3( 8) = 24
D
2
d1 f s n 1
4
2
2
24
43000 d1 x500 x 4 x
4
2
43000 x 4 x 2
d1
1.506
x500 x 4 x 24
T

Standard terdekat dari baut adalah


d1 = M 16
Pemeriksaan gaya tekan baut

Elemen Mesin

Kopling

241

T n.d 1t f f s

D1
2

43000 4 x1,6 x 4 xf c
fc

241

24
4

43000 x 2
140kg / cm 2
4 x1,6 x 4 x 24

Gaya tekan terhadap baut kurang dari 1500 kg/cm 2 maka baut aman
Diameter luar flens = 2D1 D = 2(24) 16 = 32 cm
Ketebalan pelindung flens = 0,25 d = 1,25 (8) = 2 cm
Contoh 7.4 Sebuah kopling kapal lau digunakan untuk mentrasmisikan daya
3,75 MW pada 150 rpm. Tegangan geser ijin poros dan baut 50 N/mm 2. Tentukanlah
diameter poros dan diameter baut.
Diketahui:
P = 3,75 MW = 3,75 x 106
N = 150 rpm
Fs = 50 N/mm2
Jawab:
a. Diameter poros
Px60 3,75 x60

0,24 x10 6
2N
2x50

3
T
fsd
16
T

0,24 x10 6 x16


290.2 300mm
x50

b. Diameter baut
Dari tabel 7.1 jumlah baut untuk poros 300 mm adalah 10 buah
Diameter pitch baut D1 = 1,6 d = 1,6 x 300 = 480 mm
D
2
d 1 xf s xnx 1
4
2

480
2
0,24 x10 6 d1 x50 x10 x
4
2
T

d1

0,24 x10 6
50,46mm
94,26 x10 3

F. Kopling Fleksibel
Kopling fleksibel digunakan pada ujung poros yang tidak tepat sejajar, yang
dapat ditemukan pada penggerak utama pada genarator listrik. Disana digunakan
empat pasang bantalan untuk menahan posisi poros utama. Kopling ini juga dapat
ditemukan dalam berbagai permesinan seperti penghubung antara motor listrik
dengan mesin tool. Berbagai jenis kopling fleksibel :
1. Kopling fleksibel dengan bush pin
2. Oldham kopling
3. Kopling universal
1. Kopling Fleksibel dengan Bush Pin
Kopling fleksibel dengan bush pin diperlihatkan pada gambar. kopling ini
merupakan kopling flens kaku baut kopling diketahui sebagai pin. Karet atau kulit
digunakan untuk menutup celah pin. Kedua bagian kopling mirif secara konstruksi.
Elemen Mesin

Kopling

242

242

Pada kedua permukaan kopling disiapkan clerenc 5 mm. Pada keduanya memiliki
sambungan yang tidak kaku, pengerak menempati celah karet atau kulit yang
kompresibel.

Gambar 7.6
Dalam merancang kopling fleksibel dengan bush pin, perhitungan jenis kopling
flens kaku mengalami modifikasi. Magsud dari modifikasi adalah mengurang tekanan
beareing khususnya pada bagian celah karet atau kulit yang tidak melebihi 5 kg/cm 2.
Agar tekanan bearing tetap kecil perlu memperhitungkan diameter pitch dan ukuran
pin.
l = panjang bush (celah) pada flens
d2 = diameter bush (celah)
pb = tekanan bearing pada bush atau pin
n = jumlah pin
D = diameter lingkaran pitch pin
Pembebanan pada setiap pin, F pb xd 2 xl
Pembebanan total pada bush atau pin Fxn pb xd 2 xlxn
Torsi yang ditransmisikan oleh kopling
T Fxnx

D
D
= p b xd 2 xlxn
2
2

Pada pemasangan flens sebelah kanan harus ditab pada kopling untuk
menghindari pembebanan bending. Jarak pin harus sekecil mungkin, sehingga
tegangan geser terdapat pada leher sambungan. Tegangan geser yang terjadi
selama puntiran pada setengah bagian kopling,
F
2
d1
4
Pin dan bush pada kopling sebelah kiri tidak kaku, karenannya gaya tangensial F
terfokus pada bagian pin yang membesar pin bush yang panjang bertindak sebagai
batang cntilever. Asumsi pembebanan F merata sepanjang bush, bending maksimum
pada pin adalah
fs

0,5
2

M F

Tegangan lengkung adalah


f

Elemen Mesin

0,5
2

2
d1
32

Gambar 3.7

Kopling

243

243

Pin mengalami bending dan geseran, karena itu desain harus diperiksa untuk
pembebanan maksimum

1
f
2

2
f 2 4 fs

Tegangan geser maksimum pada pin

1
2

2
f 2 4 fs

Angka tegangan geser maksimum bervariasi antara 280-420 kg/cm 2


Contoh 7.5 Desainlah Kopling Fleksibel Dengan Bush Pin untuk
menghubungkan poros motor pada poros pompa untuk pelayanan pemeliharaan,
dengan kondisi
Daya yang ditransmisikan = 50 hp
Kecepatan poros motor = 1000 rpm
Diameter poros motor = 50 mm
Diameter poros pompa = 45 mm
Pembatasan beban pada bush karet 4,5 kg/cm 2 dan pada pin 250 kg/cm2
Diketahui:
Daya yang ditransmisikan P= 50 hp
Kecepatan poros motor N= 1000 rpm
Diameter poros motor d= 50 mm
Diameter poros pompa = 45 mm
Tekanan bush karet pb= 4,5 kg/cm2
Pembebanan pada pin fs = 250 kg/cm2
Jawab:
Torsi yang ditransmisikan adalah
T

Px 4500 50 x 4500

35,8 kgm 3580 kgcm


2N
2x100

Kita pernah diskusikan bahwa kopling jenis flens kaku dengan diameter 50 mm
menggunakan 4 buah baut. Dalam kopling fleksibel jumlah pin diambil enam
buah.
n=6
Diameter pin
d1

0,5d
n

0,5 x5
6

1,02 cm

Diameter pin diambil 2 cm, agar karet tetap dapat menahan bebannya.
Panjang pin diambil sekurang-kurangnya 2 cm pada kopling sebelah kanan
berdasarkan pada standar mur. Diameter pin pada kopling sebelah kanan 2,4 cm.
Pada batasan yang lebih besar ketebalan bush yang tertekan 0,2 cm. Asumsi
ketebalan karet bush adalah 0,6 cm, karenanya diameter karet bush seluruhnya
d 2 2,4 2 x0,2 2 x0,6 4cm

Diameter lingkaran pin pitch

D 2d d 2 2 x0,6 2 x5 4 1,2 15,2cm

Beban dukung pada setiap pin adalah


F p b xd 2 xl 4,5 x 4 xl 18l

Torsi yang ditransmisikan kopling adalah

Elemen Mesin

Kopling

244

244

D
2
15,2
3580 18lx6 x
2
3580 x 2
l
4,36 4,4cm
18 x 6 x15,2
T Fxnx

F = 18 l =18 x 4,4 =79,2 kg


Arah tegangan selama puntiran murni pada salah satu bagian kopling
F
79,2

25,2kg / cm 2
2 2
d1
2
4
4
Pin dan karet tidak terpasang kaku pada flens sebelah kiri, gaya tangensial F
akan memberikan moment bending pada pin. Dengan asumsi gaya F terbagi rata
sepanjang bush, moment bending maksimum pada pin adalah
fs

4,4

0,5 79,2
0,5 214kgcm
2

M F

Moment lengkung
f

0,5
2
214 273 kg/cm 2
2

d1
x2 2
32
32

Tegangan maksimum adalah


1
2
f f 2 4 fs

2
1
273 273 2 4 x 25,2 2

2
2
275,3 kg/cm

Tegangan geser maksimum pada pin


1
2
f 2 4 fs

2
1
273 2 4 x 25,2 2

2
2
138,8 kg/cm

Rancangan aman selama tegangan maksimum utama dan


maksimum geser dibawah batas kekuatan bahan.

tegangan

2. Kopling Oldham
Digunakan untuk mengabungkan dua buah poros yang tidak sejajar. Kopling ini
terdiri dari dua buah flens dengan slot dengan bagian tengah yang mengambang
dengan dua buah puntiran T1dan T2 sudut kanan, bagian tengah yang mengembang
yaitu pin yang melewati flens dan bagian yang mengambang.

Gambar 7.8
Torsi T1 terpasang pada slot flens A dan memberikan ruang agar dapat bergerak
secara lelatif terhadap poros, T2 terpasang pada slot flens B agar dapat bergerak
Elemen Mesin

Kopling

245

245

secara vertikal. Hasil dari kedua komponen gerak akan memfasilitasi gerakan yang
tidak sejajar.
3. Kopling Universal

Gambar 7.9
Sebuah Kopling universal atau pengait digunakan untuk menghubungkan dua
buah poros yang membentuk sudut kecil. Inklinasi kedua poros konstan tetapi pada
perkteknya bervariasi ketika terjadi transmisi dari poros pertama ke poros kedua.
Pengunaan kopling universal dapat ditemukan pada transmisi dari kotak roda gigi ke
differensial pada mobil. Pada beberapa kasus kita gunakan dua buah kopling
pengait, ujung pertama ditempatkan pada ujung poros propeler dan ujung yang
lainnya pada ujung differensial. Kopling pengait universal digunakan untuk
mentransmisikan daya pada mesin multi bor. Kopling ini juga digunakan sebagai
sambungan menyudut pada miling mesin.
Dalam merancang kopling universal diameter poros dan diameter pin
diperhitungkan seperti pada pembahasan kopling dibawah.
T = torsi yang ditransmisikan poros
d = diameter poros
dp = diameter pin
fs & fsl = teganagan geser ijin pada bahan poros dan pin
T

fsd 3
16

16T
f s

Pada penggunaan kopling single hook, perhitungan perbandingan putarannya


adalah
N
1 Cos 2 .Sin 2
N .Cos

N1
N1
Cos
1 Cos 2 .Sin

dimana,
N = Kecepatan poros pengerak rpm
N1 = Kecepatan poros yang digerakan rpm
= Sudut inklinasi poros
= Sudut poros penggerak terhadap posisi pin poros penggerak pada plane
kedua poros
Kecepatan maksimum poros penggerak
N 1 maksimum

N
Cos

Kecepatan minimum poros

N 1 min imum N .Cos

Dari kedua persamaan diatas dapat diketahui kecepatan putaran poros


penggerak bervariasi dari kecepatan minimum sampai dengan kecepatan
maksimum.

Elemen Mesin

Kopling

246

246

Contoh 7.6 Kopling universal digunakan untuk menghubungkan dua poros mild
steel, yang mentransmisikan daya sebesar 500 kgm. Dengan asumsi poros
hanya mentransmisikan torsi, tentukan diameter poros dan diameter pin.
Tegangan geser ijin bahan poros dan pin adalah 600 kg/cm 2 dan 280 kg/cm2
Diketahui:
T = 500 kgm = 50000 kgcm
Tegangan geser ijin bahan poros fs = 600 kg/cm2
Tegangan geser ijin bahan pin fsl = 280 kg/cm2
Jawab:
T

fsd 3
16

16 x50.000
7,5 cm
600

Diameter pin menggunakan persamaan

2
d p xf s xd
4

2
50.000 2 x d p x 280 x 7,5
4
50.000 x 4
dp
3,92 4 cm
2x 280 x7,5
T 2x

Elemen Mesin