Anda di halaman 1dari 13

Audit Produksi dan Operasi

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Audit Manajemen

Oleh:
Ikhsan Bahtiar S.

(125020300111016)

Arli Kusuma B.A

(125020300111083)

Ardhini Galuh Ika W.

(125020301111090)

Siska Nurmayasari

(125020300111112)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

AUDIT PRODUKSI DAN OPERASI


A. PENGERTIAN AUDIT PRODUKSI DAN OPERASI
Audit operasional terhadap fungsi produksi atau sering disebut dengan audit
produksi merupakan suatu bentuk audit yang dilaksanakan perusahaan dengan tujuan
untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan dibidang produksi.
Selain itu, produksi juga berfungsi untuk mengukur seberapa baik manajemen
menjalankan fungsi perencanaan, organisasi, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan
produksi dan seberapa efektifkah manajemen dalam membuat keputusan yang tepat
untuk mencapai tujuan produksi yang telah ditetapkan.
Audit produksi dan operasi melakukan penilaian secara komprehensif terhadap
keseluruhan fungsi produksi dan operasi untuk menentukan apakah fungsi ini telah
berjalan dengan memuaskan (ekonomis, efektif dan efisien). Audit ini dilakukan tidak
hanya terbatas pada unit produksi tetapi juga berperan melengkapi fungsi
pengendalian kualitas.
Alasan yang mendasari perlu dilakukannya audit produksi dan operasi:
1.
Proses produksi dan operasi harus berjalan sesuai dengan prosedur yang telah
2.

ditetapkan.
Kekurangan/kelemahan yang terjadi harus ditemukan sehingga segera dapat

3.
4.
5.

diperbaiki.
Konsistensi berjalannya proses harus diungkapkan.
Pendekatan proaktif harus menjadi dasar dalam peningkatan proses.
Berjalanya tindakan korektif harus mendapat dorongan dan dukungan dari
berbagai pihak yang terkait.

B. PRINSIP PRINSIP UMUM AUDIT :


1. Tujuan utama audit adalah untuk menentukan apakah proses produksi dan operasi
yang berjalan saat ini sudah sesuai dengan criteria (peraturan,kebijakan, tujuan,
rencana, standar) yang telah ditetapkan untuk memastikan bahwa produk yang
dihasilkan konsisten dengan standar kualitas yang telah ditetapkan serta
2.

mengidentifikasikan wilayah (bagian) yang masih memerlukan perbaikan.


Auditor harus secara objektif dan sistematis mengumpulkan dan menganalisis
data yang cukup dan relevan sebagai dasar penilaian terhadap ketaatan

3.

perusahaan dalam menerapkan criteria yang telah ditetapkan.


Auditor harus mengklarifikasikan ketidaksesuaian yang terjadi antara aktifitas
produksi dan operasi dengan kebutuhan criteria (standar) yang telah ditetapkan
dan membuat rekomendasi untuk peningkatan.

C. TUJUAN AUDIT OPERASIONAL :


1. Untuk menilai kinerja dari manajemen dan berbagai fungsi dalam badan usaha.
2. Untuk menilai apakah sumber daya (manusia,mesin, dana, harta lainnya ) yang
dimiliki badan usaha telah dugunakan efisien dan ekonomis.
3. Untuk menilai efektifitas badan usaha dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
4. Memberikan rekomendasi kepada manajemen puncak untuk memperbaiki
kelemahan kelemahan terhadap penerapan struktur pengendalian internal, system
pengendalian manajemen dan produser operasional badan usaha, dalam rangka
meningkatkan efisien, keekonomisan, dan efektivitas kegiatan operasi badan usaha.
D. MANFAAT AUDIT OPERASIONAL :
1. Memberikan gambaran kepada pihak yang berkepentingan tentang ketaatan
dan kemampuan fungsi produksi dan operasi dalam menerapkan kebijakan
serta strategi yang ditetapkan.
2. Memberikan informasi tentang usaha-usaha perbaikan proses produksi dan
operasi yang telah dilakukan perusahaan.
3. Menentukan area permasalahan yang masih dihadapi dalam mencapai tujuan
produksi.
4. Menilai kekuatan dan kelemahan strategi produksi dan operasi serta kebutuhan
perbaikannya.
E. TAHAP TAHAP AUDIT PRODUKSI DAN OPERASI :
Audit Pendahuluan
Audit pendahuluan diawali dengan perkenalan antara pihak auditor
dengan organisasi auditee. Untuk mengonfirmasi scope audit, mendiskusikan
rencana audit dan penggalian informasi umum tentang organisasi auditee,
objek yang akan diaudit mengenal lebih lanjut kondisi perusahaan dan
prosedur yang diterapkan pada proses produksi dan operasi.
Setelah melakukan tahapan audit ini, auditor dapat memperkirakan
(menduga) kelemahan kelemahan yang mungkin terjadi pada fungsi
produksi dan operasi perusahaan auditee.
Review dan pengujian terhadap pengendalian manajemen
Berdasarkan data yang diperoleh pada audit pendahuluan, auditor
pendahuluan, auditor melakukan penilaian terhadap tujuan utama fungsi
produksi dan operasi serta variable-variabel yang mempengaruhinya. Veriabel
variable ini meliputi berbagai kebijakan dan peraturan yang telah ditetapkan

untuk setiap program/aktifitas, praktik yang sehat, dokumentasi yang memadai


dan ketersediaan sumber yang dibutuhkan dalam menunjang usaha pencapaian
tujuan tersebut.
Pada tahap ini auditor juga mengidentifikasi dan mengklasifikasikan
penyimpangan dan gangguan gangguan yang mungkin terjadi yang
mengakibatkan terhambatnya pencapaian tujuan produksi dan operasi.
Berdasarkan review dan pengujian yang dilakukan pada tahap ini,
auditor mendapatkan keyakinan tentang dapat diperolehnya data yang cukup
dan kompeten serta tidak terhambatnya akses untuk melakukan pengamatan
yang lebih dalam terhadap tujuan audit sementara yang telah ditetapkan pada
tahapan audit sebelumnya.
Auditor dapat menetapkan tujuan audit yang sesungguhnya (definitive
audit objective) yang akan didalami pada audit lanjutan.
Audit Lanjutan(terinci)
Auditor melakukan audit yang lebih dalam dan pengembangan temuan
terhadap fasilitas, prosedur, catatan-catatan (dokumen) yang berkaitan dengan
produksi dan operasi. Konfirmasi kepada pihak perusahaan selama audit
dilakukan untuk mendapatkan penjelasan dari pejabat yang berwenang tentang
adanya hal-hal yang merupakan kelemahan (nonconformances) yang
ditemukan auditor.
Untuk mendapatkan informasi yang lengkap, relevan dan dapat
dipercaya, auditor menggunakan daftar pertanyaan ( audit checklist) yang
ditunjukan kepada berbagai pihak yang berwenang dan berkompeten berkaitan
dengan masalah yang diaudit.
Pelaporan
Laporan audit disajikan dengan format sebagai berikut :
a. Informasi Latar Belakang
b. Kesimpulan Audit dan Ringkasan Temuan Audit
c. Rumusan Rekomendasi
d. Ruang lingkup audit
Tindak lanjut
Rekomendasi yang disajikan auditor dalam laporannya merupakan
alternatif perbaikan yang ditawarkan untuk meningkatkan berbagai kelemahan
(kekurangan) yang masih terjadi pada perusahaan.
F. RUANG LINGKUP AUDIT
Secara keseluruhan ruang lingkup audit produksi dan operasi meliputi :

a. Rencana produksi dan operasi


Rencana ini menghubungkan kebutuhan pasar atas produk yang
dipersyaratkan, aktifitas pengembangan dan rekayasa, kapasitas produksi,
rencana persediaan, keungan, ketersediaan SDM, bahan baku, dan tingkat
timbal balik hasil investasi yang dipersyaratkan investor.
Rencana ini memuat tentang :
1. Jadwal induk produksi.
2. Penilaian atas penggunaan kapasitas produksi.
3. Tingkat persediaan.
4. Perencanaan keseimbangan lintas produksi.
b. Produktivitas dan peningkatan nilai tambah.
Lean production, suatu metode produksi ramping, yang dikembangkan
oleh produsen yang menggunakan focus berulang dalam rancangan prosesnya
mampu secara signifikan memberi keuntungan bagi perusahaan yang
menerapkannya.
Keunggulan lean production, didukung oleh kebijakan dan praktik
produksi yang secara maksimal mengoptimalkan penggunaan sumber daya
perusahaan untuk meningkatkan keunggulan bersaingnya, kebijakan dan
praktik tersebut meliputi:
1. Penghapusan Persediaan (Zero inventory)
Metode ini menggunakan Just in Time

dalam menurunkan

persediaan dan pemborosan yang disebabkan oleh persediaan


tersebut.
2. Tingkat cacat nol (zero defect).
Metode produk ini membangun suatu system produksi dan
operasi yang dapat membantu karyawan memproduksi unit yang
sempurna untuk setiap kalinya. Persiapan proses produksi dilakukan
dengan lebih matang untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam
menghasilkan produk sesuai dengan standar kualitas yang telah
ditetapkan.
3. Meminimalkan kebutuhan tempat (areal).
Upaya meminimalkan jarak tempuh unit produk dapat
mengurangi kebutuhan tempat dalam proses produksi. Penataan
fasilitas produksi yang terintegrasi dengan gudang penyimpanan
bahan baku dan/atau produk jadi, dapat menghemat kebutuhan
tempat tanpa mengganggu jalannya proses produksi.
4. Kemitraan dengan pemasok.
Melibatkan pemasok ke dalam rencana keberhasilan perusahaan
merupakan model yang banyak dikembangkan dalam praktik

produksi modern saat ini. Dengan membangun hubungan yang erat


(kemitraan) dengan pemasok dan menjalankan rencana dan standart
kebutuhan bahan kepadanya, pemasok menjadi memahami dengan
baik kebutuhan perusahaan dan bertanggung jawab untuk memenuhi
kebutuhan perusahaan terhadap pasokan bahan baku baik dalam
kualitas, kuantitas, dan waktu pasokan tersebut dibutuhkan harus
sudah tersedia di perusahaan.
5. Tanggung jawab pemasok.
6. Meminimalkan aktifitas yang tidak menambah nilai.
Melalui suatu analisis aktifitas dan komitmen untuk melakukan
perbaikan secara terus menerus, perusahaan yang menerapkan
metode ini, meminimalkan aktifitas aktifitas yang tidak berguna
(tidak menambah nilai) baik bagi pelanggan maupun bagi
perusahaan.
7. Pengembangan angkatan kerja.
Dengan secara terus menerus memperbaiki desain pekerjaan,
pelatihan, partisipasi, komitmen karyawan dan pemberdayaan
kelompok-kelompok

kerja,

metode

ini

secara

konsisten

mengembangkan angkatan kerja.


8. Menciptakan tantangan dalam bekerja.
Maksudnya disini mampu menciptakan hal hal baru dalam
pekerjaan atau ber eksperimen mencoba hal baru yang mampu
membuat kita untuk tambah maju dan tidak monoton.
Selanjutnya lean production, mengidentifikasi tujuh sumber
pemborosan yang mengakibatkan operasi perusahaan tidak efisien,
meliputi :
Produksi yang lebih besar dari kebutuhan (penumpukan

persediaan).
Waktu tunggu dan/atau waktu menganggur.
Penanganan material yang terlalu sering.
Persediaan (bahan baku/dan atau barang jadi).
Pergerakan peralatan dan operatornya yang tidak menambah

nilai bagi produk.


Proses produksi yang tidak penting (tidak dibutuhkan).
Pengolahan kembali produk cacat.

G. TUJUAN PENGENDALIAN PRODUKSI DAN OPERASI :


1. Maksimumkan tingkat pelayanan pelanggan.

Proses harus memahami bahwa pelanggan yang harus dilayani dengan tepat
bukan saja pelanggan ekstranal tetapi yang harus dilayani dengan tepat bukan saja
pelanggan eksternal tetapi yamg tidak kalah pentingnya adalah pelanggan internal.
2. Minimumkan investasi pada persediaan .
Aktivitas pemesanan dan penerimaan bahan harus terintegrasi dengan
jadwal produksi demikian juga jadwal produksi harus terintegrasi dengan rencana
(jadwal) penyerahan kepada pelanggan. Pengendalian yang baik akan mencapai
arus produksi yang mulus (smooth product Ion flow) dengan persediaan yang
minimum dan waktu tunggu yang pendek.
3. Efisiensi produksi dan operasi.
Efisiensi produksi dan operasi adalah sesuatu yang mutlak dan harus
menjadi budaya kerja pada setiap bagian yang terlibat dalam proses produksi dan
operasi. Dalam hal ini pengendalian harus semaksimal mungkin mampu menekan
pemborosan (aktifitas tidak bernilai tambah) yang terjadi.
Secara rinci pengendalian tersebut meliputi hal hal berikut :
1. Pengendalian bahan baku.
2. Pengendalian peralatan dan fasilitas produksi.
3. Pengendalian transformasi.
4. Pengendalian kualitas.
5. Pengendalian barang jadi

Keterlambatan Produksi di Pabrik Tekstil


PT. SERAT SUTRA
Medan, 1 Juni 2013-04-07
No
Lampiran
Perihal

: 013/KAP/IV/2013
: 4 eksemplar
: Laporan Hasil Audit Manajemen

Kepada
Yth, Direktur PT. Serat Sutra
Di Medan
Kami telah melakukan audit atas Keterlambatan Produksi di Pabrik Tekstil PT. Serat
Sutra untuk periode 20011/2012. Audit kami tidak dimaksudkan untuk memberikan pendapat
atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan oleh karenanya kami tidak memberikan
pendapat atas laporan keuangan tersebut. Audit kami hanya mencakup bidang Keterlambatan
Produksi yang terjadi dalam perusahaan. Audit tersebut dimaksudkan untuk menilai
ekonomisasi (kehematan), efisiensi (daya guna), dan efektivitas (hasil guna). Audit atas
Keterlambatan Produksi yang dilakukan diharapkan dapat memberikan saran perbaikan
atas keterlambatan sistem produksi yang mengakibatkan keterlambatan pengiriman barang
pada pelanggan sehingga diharapkan dimasa yang akan datang dapat dicapai perbaikan atas
kekurangan tersebut dan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih ekonomis, efisien dan
efektif dalam mencapai tujuannya.
Hasil audit kami sajikan dalam bentuk laporan audit yang meliputi:
Bab I
: Informasi Latar Belakang
Bab II
: Kesimpulan Audit yang Didukung dengan Temuan Audit
Bab III
: Rekomendasi
Bab IV
: Ruang Lingkup Audit
Dalam melakukan audit kami telah memperoleh banyak bantuan,dukungan, dan
kerjasama dari berbagai pihak baik jajaran direksi maupun staf yang berhubungan dengan
pelaksanaan audit ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang telah
terjalin dengan baik ini.

Management

Kantor Akuntan Publik &


Consultant Rawiatmaja
Tn. Pram Sanjaya dan Rekan

Dr. Pram Sanjaya, S.E., M.M., Ak., BAP.

Bab I
Informasi Latar Belakang
PT. Serat Sutra (selanjutnya disebut perusahaan) berlokasi di Jl. CR No. 7 Medan, didirikan
tanggal 13 April 1995 oleh para pendiri yang terdiri atas:
1.
2.
3.

Ny. Shri Utami


Tn. Hendro Sukantja
Ny. Trini Ray

PT. Serat Sutra bergerak dibidang produksi industri tekstil. Tujuan produksi adalah untuk
memenuhi kebutuhan pasar dan hanya sebagian kecil memenuhi kebutuhan persediaan.
Perusahaan menetapkan kebijakan persediaan yang sangat minim untuk menjaga stabilitas
keuangannya.
Perusahaan menghasilkan beberapa jenis kain dengan bahan sadar dan merk yang berbeda.
Bahan baku sebagian masih merupakan bahan impor terutama yang tidak tersdia cukup dalam
negeri.
Sebanyak 60% dari produk yang dihasilkan terutama yang berbahan dasar sutra adalah untuk
tujuan ekspor yang merupakan produk pesanan dengan waktu pengiriman rata-rata 7 hari dari
pesanan diterima dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Perusahaan menggunakan mesin otomatis berteknologi tinggi dengan kapasitas produksi
300.000 meter per hari untuk kain dengan bahan dasar sutra dan 4.750 meter kain yang tidak
berbahan dasar sutra. Dari kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan beroperasi sebesar
85% dari kapasitas penuh.
Produksi disusun berdasarkan batch-batch yang lebih mengutamakan optimalisasi pengolahan
bahan yang tersedia.
Susunan direksi perusahaan adalah sebagai berikut:

1.
2.
3.

Direktur Utama: Ny. Shri Utami


Direktur Akuntansi dan Keuangan: Ny. Trini Ray
Direktur Pemasaran: Tn. Hendro Sukantja

Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk:


Menilai kinerja proses produksi dan operasi dalam menghasilkan barang pesanan
Menilai ekoniomisasi, efisiensi, dan efektivitas proses produksi dan operasi
Memberikan berbagai saran dan perbaikan atas kelemahan dalam keterlambatan pengiriman
barang pesanan kepada pelanggan

Bab II
Kesimpulan Audit
Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat
menyimpulkan sebagai berikut:

1.

2.

3.

4.

5.

1.
2.

3.

4.
5.

Kondisi:
Perencanaan kebutuhan bahan baku perusahaan (terutama untuk produk berbahan dasar sutra
yang masih diimpor) sering tidak tepat, sehinggan kedatangan bahan baku sering terlambat.
Dari catatan penerimaan bahan baku 2006 rata-rata terjadi kekurangan bahan baku sebanyak
15% dari kebutuhan produksi, sehingga proses produksi hanya mampu mencapai kuantitas
90% dari produk yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan pelanggan sesuai jadwal
pengiriman yang ditetapkan.
Karena proses produksi harus terus berjalan, supervisor memerintahkan untuk memproduksi
terlebih dahulu produk yang bahan bakunya tersedia di lokasi pabrik, walaupun belum
waktunya diproses, yang menyebabkan terjadinya penumpukan persediaan rata-rata sampai
15% untuk produk nonsutra.
Jadwal pemeliharaan mesin tidak selalu tepat dengan jadwal penggunaannya, sehingga pada
saat beberapa komponen mesin dibutuhkan sering belum siap karena masih diperbaiki, yang
berakibat terjadinya waktu tunggu rata-rata 1 jam setiap hari.
Jadwal produksi tidak disesuaikan dengan terjadinya pemesanan dari pelanggan yang sifatnya
mendadak, sehingga belum termasuk dalam jadwal produksi yang telah ditetapkan, yang
menyebabkan tertundanya pengiriman barang yang terjadwal rata-rata 2 hari untuk setiap
pesanan.
Jadwal penerimaan bahan baku dan perbaikan fasilitas produksi tidak disesuaikan dengan
terjadinya perubahan pesanan dari pelanggan, yang menyebabkan terhambatnya proses
produksi rata-rata 18 jam dalam seminggu.
Kriteria:
Jadwal produksi disusun berdasarkan rencana penjualan, yang secara ketat menghubungkan
rencana pengiriman barang dengan jadwal produksi setiap jenis produk.
Jadwal produksi harus mampu meminimumkan :
a) Biaya persediaan, dimana persediaan maksimum 5% dari produksi setiap bulan untuk
setiap jenis barang,
b) Biaya penyetelan (setup) mesin,
c) Upah lembur, dan
d) Pengangguran sumber daya.
Jadwal produksi harus terintegrasi dengan :
a) Jadwal penerimaan bahan baku; bahan baku sudah tersedia dan siap dilokasi pabrik 6 jam
sebelum proses produksi dimulai.
b) Pemeliharaan fasilitas produksi; mesin selalu dalam keadaan siap untuk dioperasikan.
c) Pengiriman barang; barang jadi dikirim paling lambat 7 hari kerja sejak pesanan diterima.
Jadwal produksi harus mampu mengoptimalkan tingkat penggunaan kapasitas produksi.
Jadwal produksi harus selaras dengan jadwal pada fungsi-fungsi yang lain.

6.

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Perusahaan harus memiliki pedoman tertulis tentang perubahan jadwal produksi yang
diakibatkan oleh adanya tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar tidak mengganggu
rencana produksi dan pengiriman yang telah terjadwal.
Penyebab:
Beberapa kali terjadi keterlambatan pemenuhan pesanan
Saat beberapa komponen mesin dibutuhkan dalam proses produksi sering belum siap karena
masih diperbaiki
Perusahaan tidak (belum) memiliki pedoman tertulis sebagai dasar untuk melakukan
perubahan jadwal produksi jika terjadi tambahan (perubahan) permintaan dari pelanggan.
Tidak ada mekanisme penyesuaian (cross check) program antara bagian produksi, pembelian
bahan baku dan pemeliharaan fasilitas produksi untuk mencegah terjadinya keterlambatan
produksi.
Akibat:
Laba menurun selama 2 tahun terakhir secara signifikan
Pengiriman barang yang terjadwal tertunda rata-rata 2 hari untuk setiap pesanan
Proses produksi terhambat rata-rata 18 jam dalam 1 minggu
Terjadi pembatalan pesanan dan beberapa pelanggan dikawasan Timur Tengah menunda
pembayaran sebagai jaminan bahwa perusahaan akan memenuhi pesanan berikutnya.
Proses produksi hanya mampu mencapai kuantitas 90% dari produk yang dibutuhkan untuk
memenuhi pesanan pelanggan sesuai dengan jadwal pesanan yang telah ditetapkan.
Pasar dalam negeri mengalami penurunan sebesar 7,5% dari volume penjualan tahun lalu
yang mencapai 525 miliar.
Pejabat yang bertanggung jawab:
Direktur Utama dan Manajer Produksi

Bab III
Rekomendasi
Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian
manajemen dimasa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu:
1. Kelemahan yang terjadi pada perubahan penjadwalan produksi yang tidak
memiliki pedoman tertulis sebagai dasar untuk melakukan perubahan jadwal jika
ada tambahan (perubahan) pesanan dari pelanggan
2. Kelemahan yang terjadi pada bagian produksi, pembelian bahan baku, dan
pemeliharaan fasilitas yang tidak melakukan mekanisme penyesuaian program
3. Kelemahan yang terjadi pada jadwal pemeliharaan mesin yang tidak selalu tepat
dengan jadwal penggunaannya
Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi
atau langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan
tersebut.

1.

2.

3.

4.

Rekomendasi:
Perusahaan harus memiliki pedoman tertulis tentang perubahan jadwal produksi yang
diakibatkan oleh adanya tambahan (perubahan) pesanan pelanggan, agar tidak mengganggu
rencana produksi dan pengiriman yang telah terjadwal.
Perusahaan harus membuat jadwal produksi yang disusun berdasarkan rencana penjualan,
yang secara ketat menghubungkan rencana pengiriman barang dengan jadwal produksi setiap
jenis produk.
Perusahaan harus membuat mekanisme penyesuaian (cross check)program antara bagian
produksi, pembelian bahan baku dan pemeliharaan fasilitas produksi untuk mencegah
terjadinya keterlambatan produksi.
Perusahaan harus membuat jadwal pemeliharaan mesin yang tepat dengan jadwal
penggunaannya
Keputusan untuk melakukan perbaikan atas kelemahan ini sepenuhnya ada pada
manajemen, tetapi jika kelemahan ini tidak segera diperbaiki kami mengkhawatirkan terjadi
akibat yang lebih buruk pada Keterlambatan Produksi.

Bab IV
Ruang Lingkup Audit
Sesuai dengan penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah
Keterlambatan Produksi PT. Serat Sutra untuk periode tahun 2011/2012. Audit kami
mencakup penilaian atas kecukupan sistem pengendalian manajemen proses produksi,
personalia yang bertugas dalam proses produksi, dan aktivitas proses produksi yang
dilaksanakan.