Anda di halaman 1dari 17

Ada tiga tahap perjuangan dalam dakwah yang ditempuh Rasulullah saw.

bersama para
sahabatnya. Pertama, tahap pembinaan dan pengkaderan (marhalah tatsqif); kedua, tahap
interaksi dan perjuangan (marhalah tafaul wal kifah); ketiga, tahap penerimaan kekuasaan
(marhalah istilamul hukm) untuk menerapkan Islam secara praktis dan menyeluruh, sekaligus
menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Pertama, tahap pembinaan dan pengkaderan (tatsqif).
Tahap ini dimulai sejak beliau saw diutus menjadi rasul. Pada tahap ini Rasulullah saw. melakukan
pembinaan para kader dan membuat kerangka tubuh gerakan. Ketika turun firman Allah SWT
dalam surat Al Muddatsir (surat yang turun setelah surat Iqra/al Qalam, lihat Manna Khalil
Qatthan, Mabahits fi Ulumil Quran, terj. Hal 92):.Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu
berilah peringatan! [QS al-Muddatstsir: 1-2], beliau saw. mulai mengajak masyarakat untuk
memeluk Islam. Dimulai dari istrinya Khadijah r.a., sepupunya Ali bin Abi Thalib r.a., mantan
budaknya Zaid, dan sahabatnya Abu Bakar As Shiddiq r.a., lalu beliau menyeru seluruh
masyarakat. Beliau keliling mendatangi rumah-rumah mereka. Beliau saw. menyampaikan :
Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembah-Nya dan janganlah kalian
menserikatkan-Nya dengan sesuatu apapun. Beliau menyeru manusia, mengikuti ayat di atas,
secara terang-terangan.
Setelah rasulullah saw. mengajak penduduk Mekkah untuk masuk Islam, sebagian orang
menerima dan beriman kepadanya lalu masuk Islam dan sebagian yang lain menolaknya. Rasul
mengumpulkan orang-orang yang beriman di sekeliling beliau dalam suatu kelompok atas dasar
agama baru itu secara rahasia. Para sahabat beliau apabila shalat mereka pergi ke padangpadang rumput dan menyembunyikan sholat mereka dari kaum mereka. Kepada orang-orang
yang baru masuk Islam, Rasulullah saw mengutus orang yang sudah masuk Islam sebelumnya
(para senior) dan faqih dalam dinul Islam untuk mengajarkan Al Quran. Beliau saw. pernah
mengirim Khubbab bin al-Arats untuk mengajarkan al-Quran kepada Zaenab binti al-Khaththab
dan suaminya, Said dirumahnya. Ketika Umar bin Khaththab (kakak Zainab) memergoki mereka
yang sedang belajar di rumah Said, dimana Khabab membacakan Al Quran kepada mereka, Umar
pun masuk islam.
Beliau saw. menjadikan rumah Al Arqam bin Abil Arqam (Daar al-Arqam) sebagai markas kutlah
(kelompok dakwah) dan madrasah bagi dakwah baru ini. Di rumah Arqam itulah Rasulullah saw.
mengumpulkan para shahabat, mengajar Islam kepada mereka, membacakan Al Quran kepada
mereka, menjelaskannya, memerintahkan mereka untuk menghafal dan memahami al-Quran.
Dan setiap kali ada yang masuk Islam, langsung digabungkan ke Darul Arqam. Beliau saw. tinggal
di markas pengkaderan itu selama 3 tahun membina (yutsaqqif) kaum muslimin generasi pertama
itu, sholat bersama mereka, tahajud di malam hari yang lalu diikuti oleh para sahabat, beliau saw.
membangkitkan keruhanian dengan sholat, membaca al Quran, membina pemikiran mereka
dengan memperhatikan ayat-ayat Allah dan meneliti ciptaan-ciptaan-Nya, dan membina akal
fikiran mereka dengan makna-makna dan lafazh-lafazh Al Quran serta mafahim dan pemikiran
islam, dan melatih mereka untuk bersabar terhadap berbagai halangan dan hambatan dakwah,
dan mewasiatkan kepada mereka untuk senantiasa taat dan patuh sehingga mereka benar-benar
ikhas lillahi taala (lihat Taqiyuddin An Nabhani, Ad Daulah Al Islamiyah, hal 11-12) . Rasul tetap
merahasiakan aktivitas dakwahnya, dan terus melakukan upaya-upaya pengkaderan dan
pembinaan (tatsqiif)

hingga turun firman Allah swt:

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan
berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. [QS al-Hijr :94]

Tahap kedua, tahap interaksi dan perjuangan (marhalah tafaul wal kifah).
Meskipun aktivitas pada tahap pertama dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, akan tetapi
masyarakat Mekah mengetahui bahwa Muhammad Rosulullah Saw telah membawa agama baru.
Mereka juga mengetahui banyak orang masuk Islam. Kafir Mekah pun tahu bahwa Rasulullah dan
kutlahnya merahasiakan kutlah dan pemelukan agama mereka. Ini menunjukkan bahwa
masyarakat Makkah telah tahu adanya agama dan dakwah baru serta kutlah baru, sekalipun
mereka tidak tahu, di mana mereka berkumpul, dan siapa saja di antara orang-orang mukmin
yang berkumpul. (lihat An Nabhani, idem). Setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib
dan Umar bin Khaththab (3 hari setelah masuk islamnya Hamzah), turun firman Allah SWT:


! !

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan
berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada
(kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap
adanya tuhan yang lain disamping Allah, maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)
[QS al-Hijr :94-96].

Beliau saw. pun menerangkan perintah Allah SWT secara terang-terangan. Beliau saw. pun
menampilkan kutlahnya secara terang-terang kepada seluruh masyarakat, sekalipun masih ada
sebagian kaum muslimin yang menyembunyikan ke-Islamannya bahkan sampai penaklukan kota
Makkah. Setelah aksi menampilkan kutlah secara terang-terangan di Kabah, terjadilah

pergesekan dakwah dan kelompok dakwah dengan masyarakat Makkah dengan para
pemimpinnya yang sangat cinta kepada kepemimpinan dengan sistem jahiliyyah. Perjuangan
kelompok dakwah Nabi dan para sahabat pun berubah dari fase rahasia (daur al istikhfa) ke fase
terang-terangan (daur al Ilan). Berpindah dari fase mengkontak orang-orang yang memiliki
kesediaan menerima Islam ke fase berbicara kepada masyarakat secara menyeluruh (lihat An
Nabhani, idem., hal 16).
Mulailah terjadi benturan (ishthidam/clash) antara iman dengan kekufuran di masyarakat, dan
mulailah terjadi pergesekan (ihtikak) antara ide-ide yang benar dengan ide-ide yang rusak, dan
mulailah tahap kedua, yaitu tahap interaksi dan perjuangan (marhalah tafaul wal kifah). Pada
tahap ini mulailah orang-orang Kafir Quraisy melawan dakwah dan menyakiti Rasulullah saw. dan
kaum muslimin dengan berbagai macam cara.
Periode inilah yang paling berat yang dihadapi Rasul dan para sahabat sepanjang perjuangan
mereka. Rumah Rasulullah saw. dilempari. Ummu Jamil, istri paman beliau saw. Abu Lahab,
senantiasa melempar kotoran di depan rumah beliau saw. Rasulullah saw. merespon perbuatan itu
cukup dengan menyingkirkannya. Gembong kekufuran Abu Jahal pernah melempar beliau saw.
dengan bagian dalam isi perut kambing sembelihan untuk berhala mereka. Beliau pun minta
putrinya Fatimah untuk membersihkan tubuhnya kembali.
Semua itu justru hanya menambah kesabaran dan kesungguhan beliau saw. dalam dakwah. Kaum
muslimin pun menghadapi berbagai ancaman dan gangguan. Setiap kabilah menyiksa dan
memfitnah anggota sukunya yang masuk Islam. Sampai-sampai salah seorang budak Habsyi, Bilal
bin Rabbah.r.a., mereka lempar di atas padang pasir, di bawah terik matahari, mereka tindih
dadanya dengan batu, dan mereka biarkan di situ agar mati, tidak lain karena dia tetap
mempertahankan kalimat tauhid: ahad-ahad! Summayyah istri Yasir r.a., mereka siksa hingga
mati karena tidak mau kembali (murtad) dari agama Islam kepada agama nenek moyang mereka.
Kaum muslimin secara umum dihinakan dan disiksa. Namun mereka bersabar menerima cobaan
itu dalam rangka menggapai ridlo Allah SWT.
Rasulullah saw. dan para sahabat menghadapi berbagai perlawanan dakwah yang dilancarkan oleh
orang-orang Kafir Quraisy, baik itu penyiksaan fisik (at tadziib) , propaganda busuk (ad
daaawah/ad diayah) untuk menyudutkan Islam dan kaum muslimin di dalam negeri dan luar
negeri, maupun blokade total (al muqathaah), dengan sikap sabar dan terus berdakwah
menegakkan agama Allah SWT tanpa kekerasan. Tatkala Rasul melihat Yasir dan istrinya dibantai
disiksa oleh orang-orang Quraisy, beliau saw. tidak menggerakkan kaum muslimin untuk
melakukan perlawanan fisik terhadap mereka. Beliau saw.bersabda:



Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji Allah untuk kalian adalah surga.
Sesungguhnya akau tidak memiliki sesuatu apapun dari Allah.
Ketika mendengar janji surga itu, Sumayyah, istri Yasir yang sedang disiksa oleh kafir Quraisy,
mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihatnya secara nyata! (lihat An Nabhani,
idem, hal 18).
Pertanyaan kita, kenapa Rasulullah saw. yang terkenal sempurna akhlaqnya, bahkan sudah
mendapatkan gelar Al Amin (Yang Terpecaya), kok dimusuhi begitu rupa oleh orang-orang
Quraisy? An Nabhani (idem, hal 24) menganalisis bahwa benturan yang dilakukan oleh Kafir
Quraisy terhadap dakwah Islam adalah hal yang wajar. Sebab, rasulullah saw. mengemban
dakwah dan menampilkan kelompok yang mengemban dakwah bersama beliau saw. dalam
bentuk yang menantang. Lebih dari itu, substansi dakwah itu sendiri adalah perjuangan dan
perlawanan terhadap Quraisy dan masyarakat Makkah.
Sebab substansi dakwah adalah menyeru kepada mentauhidkan Allah dan seruan ibadah hanya
kepadanya serta seruan untuk meninggalkan penyembahan kepada berhala dan seruan untuk
melepaskan diri dari sistem kehidupan jahiliyah mereka yang rusak. Maka terjadilah benturan
dengan Quraisy secara total. Bagaimana mungkin tidak terjadi benturan, padahal Rasulullah saw.
membodohkan impian mereka, merendahkan tuhan-tuhan mereka, dan mencela kehidupan
murahan mereka, dan mengkritik sarana-sarana kehidupan mereka yang zalim. Dan Al Quran pun
turun menyerang mereka dengan jelas. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya kalian dan apa (berhala) yang kalian sembah adalah umpan neraka jahannam (QS.
Al Anbiyaa [21]: 98).

Apa yang kalian berikan berupa riba untuk tujuan menambah harta-kekayaan manusia tidaklah
menambah apa pun di sisi Allah. (QS ar-Rm [30]: 39).

!
!

Celakalah orang-orang yang gemar mengurangi timbangan. Mereka itu, apabila menerima takaran
dari orang lain, ingin dilebihkan. Sebaliknya, apabila menakar atau menimbang untuk orang lain,
mereka menguranginya. (QS al-Muthafifn [83]: 1-3).

Oleh karena itu, orang-orang Quraisy pun menghadang dakwah. Mereka menyakiti Rasulullah saw.
dan para sahabat. Mereka menyiksa, mengembargo, dan membuat propaganda untuk melawan
beliau saw. dan agama yang dibawanya. Namun itu semua tidak menyurutkan langkah dakwah

rasulullah saw. Beliau saw. tetap menyerang mereka, terus melawan pandangan-pandangan yang
salah, dan menghancurkan aqidah-aqidah yang rusak, dan bersungguh-sungguh menempuh jalan
penyebaran dakwah. Beliau saw. mendakwahkan Islam dengan jelas, tanpa tedeng aling-aling,
tanpa merendahkan diri, tanpa cenderung kepada kekufuran, dan tanpa menjilat gembonggembong kekufuran.
Hal itu beliau lakukan sekalipun menghadapi berbagai gangguan dari Quraisy, meskipun
menghadapi berbagai kesulitan. Dan dakwah yang beliau lakukan di tengah berbagai kesulitan itu
justru membuat Islam dari ke hari menyebar ke seluruh masyarakat Arab, sehingga banyak para
penyembah berhala dan orang-orang Nasrani masuk Islam, bahkan para pembesar Quraisy pun
mendengarkan Al Quran dan hati mereka berdebar-debar. Sejarah mencatat bahwa tiga orang
gembong kafir Quraisy, yaitu Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal Amru bin Hisyam, dan Al Akhnas bin
Syariq secara terpisah selama tiga malam berturut-turut mendengar Rasulullah saw. membaca Al
Quran di rumahnya. Rasulullah saw. biasanya menghabiskan sebagian besar malamnya dengan
qiyamul lail dan membaca Al Quran secara tartil.
Perjuangan dakwah Rasulullah saw. dan para sahabat pada tahap kedua ini dilakukan dengan cara
tanpa kekerasan. Beliau saw. melakukan pergulatan pemikiran (shiraul fikri) dan perlawanan
politik (kifah siyasi) tanpa menggunakan kekuatan fisik, tanpa mengangkat senjata, meskipun
setiap lelaki Arab pada waktu itu sudah terbiasa menunggang kuda dan memainkan senjata.
Pergulatan pemikiran yang beliau lakukan melawan kekufuran itu tergambar pada ayat-ayat yang
turun di tahap kedua ini yang banyak menengahkan celaan-celaan terhadap aqidah, sistem, serta
adat-istiadat kafir Mekah yang bejat. Selain ayat-ayat sudah dipaparkan di atas, juga ada ayatayat yang menyerang kemusyrikan mereka, seperti firman Allah swt :

Mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sebagai sekutu bagi Allah, padahal Allah Yang
menciptakan jin-jin itu. Mereka berbohongdengan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak lakilaki dan perempuantanpa mendasarkannya pada ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi
dari sifat-sifat yang mereka nisbatkan. (QS al-Anm [6]: 100).

Katakanlah, Siapakah Tuhan langit dan bumi.Katakanlah, Allah.Katakanlah, Patutkah kalian


menjadikan pelindung-pelindung kalian dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai
kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaharatan bagi diri mereka sendiri?Katakanlah, Adakah sama
orang yang buta dan yang dapat melihat atau samakah antara keadaan gelap-gulita dan terangbenderang? Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan sesuatu
seperti ciptaannya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah,
Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dialah Allah, Zat Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. (QS arRad [13]: 16).
Dalam bidang sosial, Allah Swt. antara lain berfirman:
!

Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, merah-padamlah
mukanya dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan diri dari orang banyak karena buruknya berita
yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburnya dalam tanah. Ketahuilah, alangkah buruknya yang mereka tetapkan itu.
(QS an-Nahl [16]: 58-59).

Janganlah kalian memaksa budak-budak wanita kalian untuk melakukan pelacuransedangkan


mereka sendiri menginginkan kesuciandengan tujuan untuk meraih keuntungan duniawi. (QS anNr [24]:33).

Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian hanya karena takut miskin. Kami-lah yang akan
memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka. Janganlah kalian mendekati perbuatan yang
keji, baik secara nyata maupun secara sembunyi-sembunyi. Jangan pula kalian membunuh jiwa yang
telah diharamkan oleh Allah, melainkan karena suatu sebab yang dibenarkan. Yang demikian itu
diperintahkan oleh Tuhan kalia kepada kalian agar kalian berfikir. (QS al-Anm [6]: 151).

Sementara itu, dalam kaitannya dengan masalah ekonomi, Allah Swt. antara lain berfirman:



Apa yang kalian berikan berupa riba untuk tujuan menambah harta-kekayaan manusia tidaklah
menambah apa pun di sisi Allah. Sedangkan apa yang kalian berikan berupa zakat yang kalian
kehendaki semata-mata karena Allah, maka yang seperti itulah yang dilipatgandakan (pahalanya).
(QS ar-Rm [30]: 39).

!
!

Celakalah orang-orang yang gemar mengurangi timbangan. Mereka itu, apabila menerima takaran
dari orang lain, ingin dilebihkan. Sebaliknya, apabila menakar atau menimbang untuk orang lain,
mereka menguranginya. (QS al-Muthafifn [83]: 1-3).
Al-Quran juga telah menyerang habis adat-istiadat yang rusak. Dalam hal ini, Allah Swt. antara
lain berfirman:


!

Mereka mengatakan, Binatang dan tanaman yang terlarang ini tidak boleh dimakan, kecuali bagi
oang yang kami kehendakimenurut anggapan mereka.Ada binatang ternak yang terlarang untuk
ditunggangi dan binatang yang tidak mereka sebut nama Allah sewaktu menyembelihnya, semata-mata
untuk membuat kedustaan. Kelak, Allah akan membalas mereka karena apa yang mereka dustakan itu.
Mereka juga mengatakan, Apa yang ada dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria
kami dan diharamkan atas wanita kami. Akan tetapi, jika yang ada di dalam perut itu dilahirkan
dalam keadaan mati, pria dan wanita itu sama-sama tidak memakannya. Kelak, Allah akan membalas
mereka. Sesungguhnya Allah Mahabijak dan Mahatahu. (QS al-Anm [6]: 138-139).

Dalam perlawanan politik (kifah siyasi) dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat karena
para pemimpin Quraisy yang tersinggung dengan dakwah islam dan yang sangat khawatir
kedudukan mereka tergeser dengan berkembangnya dakwah Islam dan terus bertambah
banyaknya orang-orang Quraisy yang masuk Islam telah melakukan berbagai makar untuk
menyudutkan rasulullah saw., menghentikan langkah beliau saw., dan menjegal dakwah islam.
Ab Jahal, Ab Sufyn, Umayyah ibn Khalaf, Wlid ibn Mughrah, dan yang lainnya berkumpul di
Dr an-Nadwah untuk merundingkan perilaku Muhammad saw dan dakwahnya yang baru itu,
sebelum orang-orang Arab datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Pada saat itu, dakwah Muhammad saw telah menyusahkan mereka, membuat mereka susah tidur,
serta mengguncang kepemimpinan mereka atas kaum Quraisy. Oleh karena itu, mereka ingin
mengambil satu pendapat yang bisa mendustakan dakwah baru itu dan mendistorsikan
pemikiran-pemikirannya.
Setelah melakukan dialog dan diskusi, mereka pun sepakat untuk mendatangi orang-orang Arab
yang datang dan memperingatkan mereka agar tidak mendengarkan ocehan Muhammad saw.
Sebab, Muhammad saw. dianggap memiliki kata-kata yang menyihir; sering mengatakan katakata yang dapat memisahkan seseorang dari istrinya, dari keluarganya, dan bahkan dari
kaumnya.
Allah SWT menyingkapkan persekongkolan ini kepada Rasulullah saw. dalam firman-Nya:
! ! ! !
! ! ! !

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Celakalah dia, bagaimana dia menetapkan?
Celakalah dia, bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, lalu dia bermuka masam
dan merengut. Dia lantas berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Selanjutnya dia
berkata, (Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak
lain hanyalah perkataan manusia.Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. (QS alMudatstsir [74]: 18-26).

Para pemimpin Quraisy itu pun satu persatu dilucuti jati diri mereka oleh Al Quran (lihat Ahmad
Mahmud, Dakwah Islam, hal 119-120). Tentang Abu Lahab, Allah SWT berfirman:

Binasalah kedua tangan Abi Lahab (QS. Al Lahab [111]: 1).

Tentang penguasa Bani Makhzum, Walid bin Al Mughirah, Allah SWT berfirman:
!

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku
jadikan baginya harta benda yang banyak. (QS Al Muddattsir [74]: 11-12).
Terhadap Abu Jahal, Allah SWT berfirman:

!

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun-ubun yang
mendustakan lagi durhaka (QS Al Alaq [96]: 15-16).

Menghadapi tindakan keras orang-orang Quraisy, sempat muncul keinginan para sahabat untuk
menggunakan kekerasan/senjata. Mereka memohon kepada rasulullah saw. agar mengizinkan hal
itu. Tapi Rasulullah saw. mencegah keinginan mereka seraya bersabda (lihat Ahmad Mahmud,
Dakwah Islam, terj. 121):

Aku diperintahkan untuk menjadi seorang pemaaf. Oleh karena itu, jangan memerangi kaum itu
(HR. Ibnu Abi Hatim, An Nasai, dan Al Hakim).

Bahkan ketika Rasulullah saw. telah mendapatkan baiat dari orang-orang Anshar di Aqobah dan
mereka meminta izin kepada rasul untuk memerangi orang-orang Quraisy di Mina, beliau saw.
menjawab: Kami belum diperintahkan untuk (aktivitas) itu, maka kembalilah kalian ke hewan-

hewan tunggangan kalian. Dikatakan, Maka, kamipun kembali ke peraduan kami, lalu tidur
hingga tiba waktu subuh. (Sirah Ibnu Hisyam bi Syarhi al-Wazir al-Maghribi, jilid I/305)
Bahkan dalam pergulatan politik antara kelompok kafirin dengan kelompok mukminin, mereka
menggunakan peristiwa politik internasional untuk melemahkan lawan. Ini terjadi ketika terjadi
perang antara Persia dan rumawi di Palestina dimana tentara Rumawi dikalahkan oleh tentara
Persia. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Syihab, berkata, Kami mendapatkan kaum
musyrikin tengah berdebat dengan kamu muslimin. Saat itu mereka masih berada di Mekah dan
sebelum Rasulullah melakukan hijrah. Orang-orang musyrik berkata, Rumawi telah menyatakan
dirinya sebagai ahlu kitab, dan sungguh mereka telah dikalahkan oleh Majuzi (Persia). Sedangkan
kalian yakin bahwa kalian akan mengalahkan keduanya dengan kitab yang diturunkan kepada
Nabi kalian. Bagaimana kalian dapat mengalahkan Rowawi dan Majuzi. Kami pasti mengalahkan
kalian. Maka turunlah firman Allah SWT :

!
!
! !

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah
dikalahkan itu akan menang dalam beberapa t.ahun lagi. Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah
(mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang
beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. [QS Al Ruum [30]: 1-5].

Namun demikian orang-orang Quraisy yang berhati beku itu tak bisa menerima kebenaran Islam
yang dibawakan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Lebih-lebih setelah wafatnya paman
beliau saw., Abu Thalib, pemuka Quraisy yang selama ini mendukung dakwah nabi, melindungi
beliau saw., dan menjadi mediator antara para pemimpin Quraisy dengan keponanakannya, wafat.
Mereka melakukan tindakan yang lebih keras, tanpa sungkan-sungkan lagi.
Rasulullah saw. pun mengontak para pemimpin Qabilah di sekitar Makkah untuk mengajak
mereka masuk Islam dan melindungi beliau saw. dan melindaungi dakwah Islam serta siap
menanggung resiko melawan kebengisan orang-orang Quraisy. Rasul juga menyeru para pemuka
kabilah-kabilah Arab. Beliau berkata kepada mereka, Ya Bani fulan! Saya adalah utusan Allah
bagi kalian, dan menyeru kepada kalian untuk beribadah kepada Allah dan tidak
menyekutukanNya, dan agar kalian meninggalkan apa yang kalian sembah, beriman kepadaku
dan percaya kepadaku, dan janganlah kalian mencegah aku, sampai aku menjelaskan apa yang
telah disampaikan Allah kepadaku. Akan tetapi paman beliau saw, Abu Lahab, berdiri di belakang
beliau, membantah dan mendustakan perkataan beliau saw. Tak satupun kabilah menerima
beliau.
Dalam Sirah Ibnu Hisyam diriwayatkan, Zuhri menceritakan, bahwa Rasulullah saw mendatangi
secara pribadi Bani Kindah, akan tetapi mereka menolak beliau. Beliau juga mendatangi Bani
Kalban akan tetapi mereka menolak. Beliau juga mendatangi Bani Hanifah, dan meminta kepada
mereka nushrah dan kekuatan, namun tidak ada orang Arab yang lebih keji penolakannya
terhadap beliau kecuali Bani Hanifah. Beliau juga mendatangi Bani Aamir bin Shashaah,
mendoakan mereka kepada Allah, dan meminta kepada mereka secara pribadi. Kemudian
berkatalah seorang laki-laki dari mereka yang bernama Baiharah bin Firas, Demi Allah,
seandainya aku mengabulkan pemuda Quraisy ini, sungguh orang Arab akan murka. Kemudian ia
berkata, Apa pendapatmu, jika kami membaiatmu atas urusan kamu, kemudian Allah
memenangkanmu atas orang yang menyelisihimu, apakah kami akan diberi kekuasaan setelah
engkau? Rasulullah saw berkata kepadanya, Urusan itu hanyalah milik Allah, yang Ia berikan
kepada siapa yang dikehendaki. Bahirah berkata, Apakah kami hendak menyerahkan leher-leher
kami kepada orang Arab, sedang engkau tidak. Sedangkan jika Allah memenangkan kamu, urusan
bukan untuk kami. Kami tidak butuh urusanmu.
Adapun nama-nama kabilah yang pernah didatangi Rasulullah saw dan menolak adalah, (1) Banu
Aamir bin Shashaah, (2) Bani Muharib bin Khashfah, (3) Bani Fazaarah, (4) Ghassan, (5) Bani
Marah, (6) Bani Hanifah, (7) Bani Sulaim, (8) Bani Abas, (9) Bani Nadlar, (10) Bani Baka, (11)
Bani Kindah, (12) Kalab, (13) Bani Harits bin Kaab, (14) Bani Adzrah, (15) Bani Hadlaaramah.
Beliau saw selain aktif mendakwahi kabilah-kabilah di Mekah, beliau juga mendakwahi kabilahkabilah di luar Mekah yang datang tiap tahun ke Mekah, baik untuk berdagang maupun untuk
mengunjungi Kabah, di jalan-jalan, pasar Ukadz, dan Mina. Diantara orang-orang yang diseru
Rasul tersebut ada sekelompok orang-orang Anshor. Kemudian mereka menyatakan beriman
kepada Allah dan Rasul Nya.
Setelah mereka kembali ke Medinah mereka menyebarkan Islam di Medinah. Momentum penting
lain sebagai petanda dimulainya babak baru dakwah Rasul adalah Baiat Aqabah I dan II. Dua
peristiwa ini, terutama Baiat Aqabah II telah mengakhiri tahap kedua dari dakwah Rasul, yakni
tahap interkasi dan perjuangan (marhalah Tafaul wal Kifah) menuju Tahap ketiga, yaitu tahap
Penerimaan Kekuasaan (Istilaam al-Hukmi). Dalam tahap ketiga ini Rasul hijrah ke Madinah,
negeri yang para pemimpin dan mayoritas masyarakatnya telah siap menerima Islam sebagai
metode kehidupan mereka, yaitu kehidupan yang (1) asas peradabannya adalah kalimat tauhid
Lailahaillallah Muhammadurrasulullah; (2) standar perbuatan (miqyasul amal) dalam interaksi
kehidupan mereka adalah halal-haram; dan (3) makna kebahagiaan (manas saaadah) mereka

adalah mendapatkan ridlo Allah. Masyarakat yang kokoh inilah yang siap membawa risalah Islam
ke seluruh dunia.
Oleh karena itu, dengan bukti kesuksesan yang jelas dicapai oleh Rasulullah saw. dalam
perjuangan beliau saw., disamping tuntunan dan tuntutan agar kita meneladani perjuangan beliau
saw., maka tidak ada jalan lain untuk mengembalikan kedaulatan Islam di muka bumi ini selain
jalan yang telah ditempuh Rasulullah saw. Untuk menyegarkan kembali gambaran kita tentang
perjalanan dakwah rasulullah saw. tersebut perlu kita perhatikan bagan di bawah ini:
Bagan Perjalananan Dakwah Rosulullah SAW
Tahapan metode
Pembinaan
dan
Pengkaderan

Aksi
melakukan
rekrutmen
secara
individual dan mengumpulkan mereka
dalam kelompok terorganisir
melakukan
pembinaan
intensif
terhadap sahabat-sahabat sahabat
sebagai keder awal

2. Interaksi dan
Perjuangan Politik

1.
2.

3.
4.

3.
Penerimaan
Kekuasaan
dan
Penerapan hukum
oleh Negara

Menyampaikan
dakwah
secara
terbuka dalam rangka pembinaan
umat
menyerang ide-ide (keyakinan,
teradisi,
hukum-hukum)
yang
rusak
di
tengah
masyarakat
Makkah
Membongkar
kepalsuan
para
penguasa Makkah
Mendatangi elit-elit politik yang
berpangaruh di masyarakat

1. Rosulullah mendirikan negara Islam


dan membangun masyarakat Islam
2. Menerapkan hukum-hukum Islam
secara kaffah
3. Menyebarkan dakwah Islam ke
seluruh penjuru alam
4. Konsolidasi dan pengembangan
daulah hingga menjadi adi-daya

Target
1. Membentuk kelompok
yang
terorganisir
(hizb-as- siyasi) yang
siap
mengemban
dakwah yang politis
dan ideologis
2. Membentuk kader yang
memiliki pola pikir
dan pola tindak Islam
1. Membentuk kesadaran
umum
dan
opini
umum
di
tengah
masyarakat tentang
Islam dan kerusakan
sistem jahiliyah
2.
Penerimaan
masyarakat terhadap
ide-ide
Islam
dan
penolakan
mereka
terhadap
ide-ide
jahiliyah.
3. Gerakan massal berupa
dukungan
dan
tuntutan
penerapan
Islam.
4.
Mengambil
alih
kekuasaan
dari
penguasa status quo
(jahiliyah)
Berdirinya Daulah Islam
yang
didasarkan
pada
aqidah
Islam
dan
menerapkan
hukumhukum Islam yang kuat

Tantangan
1.
proses
kaderisasi
yang masih awal dan
bergerak agak lambat

1.

Perlawanan
dan
penindasan
dari
dari
penguasapenguasa Makkah:
penganiyaan,
propaganda
di
dalam dan di luar
Mekkah,
pemboikotan total
2. Masyarakat Mekkah
yang masih belum
bisa menerima ideide
perubahan
Rosulullah
dan
masih mendukung
rezim
penguasa
jahiliyah

1. Daulah yang masih


awal
sehingga
mendapat
ganggunan
stabilitas baik dari
dalam ataupun dari
luar
2. Koalisi musuh-musuh
daulah baik dalam
opini
maupun
perang fisik

Refleksi Metode Perjuangan Rasul Dewasa Ini


Dalam upaya meneladani rasulullah saw. pada perjuangan menegakkan khilafah di masa modern
ini, maka langkah pertama yang harus ditempuh adalah membentuk kelompok atau partai politik
Ideologis yang memiliki pemahaman yang jelas terhadap ide-ide Islam secara menyeluruh dan
memahami metode perjuangan Rasulullah saw. secara detail. Mau tidak mau parpol tersebut
harus melakukan kajian mendalam terhadap tsaqofah islam, baik itu Al Quran, Tafsir, Sunnah,
Fiqh, maupun Sirah Nabi SAW. Kelompok itu juga harus memiliki pengurus dan kader-kader yang
memiliki keahlian dalam menggerakkan partai tersebut serta memiliki kesadaran yang cukup
terhadap metode yang benar bagaimana mengikat para anggotanya dengan ide dan metode
dakwahnya. Parpol tersebut juga harus memiliki kesadaran politik terhadap dunia internasional.
Parpol ideologis yang komit dengan Islam itu harus melakukan proses penyadaran kepada umat
secara keseluruhan, khsusnya kepada para ulama, intelektual, tokoh-tokoh gerakan islam,
pimpinan parpol dan ormas Islam, para hartawan muslim, para pemuda dan mahasiswa islam,
dan kelompok-kelompok potensial lainnya dalam diri umat ini. Parpol itu harus membina umat
dengan Islam sebagai agama dan ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan, memberi
kesadaran politik sebagai pengaturan urusan umat yang harus dilakukan oleh negara dan
dikontrol oleh umat melalui proses amar makmur nahi mungkar, dan memberikan persepsi
tentang perjuangan partai politik ideologis yang berjuang menegakkan Islam secara damai melalui
pergulatan pemikiran dan perjuangan politik.
Apabila terdapat kesadaran politik umat, partai tersebut bisa menguatkan tubuhnya dengan
berbagai aktivitas pemikiran dan politik dan berusaha melebur umat dengan ide-ide, hokumhukum, dan pendapat-pendapat islami yang diadopsinya. Lalu berusaha menggapai
kepemimpinan umat dan setiap anggotanya menjadi rujukan umat dalam masalah Islam dan
perkembangan politik dunia.
Ringkasnya, hal yang harus dilakukan untuk menegakkan khilafah adalah : Melalui jalan dakwah
yang ditempuh dengan mengikuti thariqah dakwah Rasulullah, yaitu:

Dimulai dengan pembentukan kader yang bersyakhshiyyah Islamiyyah, melalui pembinaan


intensif (halqah murakkazah) dengan materi dan metode tertentu
Pembinaan umat (tatsqif jamaiy) untuk terbentuknya pendapat masyarakat (al-wayu alamy) tentang Islam
Pembentukan kekuatan politik melalui pembesaran tubuh jamaah (tanmiyatu jizmi al-hizb)
agar kegiatan pengkaderan dan pembinaan umum dapat dilakukan dengan lebih intensif,
hingga terbentuk kekuatan politik (al-quwwatu al-siyasiya)
Penegakan syariah dan khilafah memerlukan kekuatan politik. Kekuatan politik adalah
kekuatan umat yang memilliki kesadaran politik Islam (al-wayu al-siyasiy al-islamy)),
yakni kesadaran bahwa kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus diatur dengan
syariah Islam. Maka harus ada upaya penyadaran politik islamy masyarakat terus menerus,
yang dilakukan oleh kader. Makin banyak kader, makin cepat kesadaran terbentuk sehingga
kekuatan politik juga makin cepat terwujud
Massa umat yang memiliki kesadaran politik menuntut perubahan ke arah Islam

Di dukung oleh ahl-quwwah (polisi, militer, politisi, orang kaya, tokoh masyarakat dan
sebagainya) yang melalui pendekatan intensif, setuju mendukung perjuangan syariat dan
khilafah. Kekuatan politik yang didukung oleh berbagai pihak semacam ini tidak akan
terbendung.
Rakyat menuntut tegaknya sistem (syariah) dan kekuasaan khilafah atau penyatuan ke
dalam khilafah Islam.
Khatimah
Namun demikian, siapapun yang menghendaki dan merindukan hidup dengan islam secara kaffah,
maka keberadaan negara Khilafah Islamiyyah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab Khilafah-lah,
institusi yang sanggup menerapkan syariah secara total (kaffah). Tinggal maukah kita berjuang.
Karena metodenya telah jelas yaitu metode perjuangan pemikiran dan politik yang dicontohkan
oleh Rasulullah saw., bukan dengan cara-cara demokrasi maupun revolusi sosialis yang tidak ada
asal-usulnya dari Islam. Wallahu muwaffiq ila aqwamit thariiq. Wahuwa khairun haafizho wahuwa
arhamur raahimin!
Walhamdulillahirabbil alamin!
(KH Muhammad al Khoththoth)

Oleh: Harits Abu Ulya

Pemerhati Kontra Terorisme, Direktur CIIA & Pelayan Majlis Al Bayan


Catatan singkat saya (al faqir dan dhaif) berikut ini sebagai respon parsial terkait berita
pendeklarasian Khilafah oleh ISIS (ISIL) dan dibaiatnya Syaikh Abu Bakar al Baghdady sebagai
Khalifah. Berita pendeklarasian Khilafah di bumi Syam (Suriah) oleh ISIS menghampiri sebagian besar
umat Islam yang melek informasi. Baik yang menjadi bagian dari sebuah
kelompok/jamaah/partai/hizb/ormas Islam atau diluar itu semua termasuk bangsa Barat. Apakah berita
tersebut melahirkan kontraksi bagi mereka? Dalam tataran global, media-media Barat cukup
memberikan porsi pemberitaan perihal deklarasi Khilafah. Ini indikasi minimal tentang kegelisahan
Barat terhadap dinamika politik dikawasan Timur Tengah khususnya wilayah Iraq-Suriah. Apalagi jauh
hari sebelumnya, para pengamat dan penasehat keamanan negara-negara Barat sudah memprediksi
kemungkinan lahirnya imperium baru yaitu Khilafah Islamiyah. Begitupun di dunia Islam, hampir
seluruh media Islam memberitakan dan tidak ketinggalan juga media sekulernya.
Catatan ini tidak mengkaji secara khusus dan detil tentang konstelasi politik yang akan atau sedang
dimainkan Barat. Juga tidak tentang konstelasi politik luar negeri negara-negara di kawasan Timur
Tengah dan relasi antar keduanya terkait dinamika deklarasi Khilafah oleh ISIS.Tetapi khusus terkait
dinamika lokal Indonesia wabil khusus menyangkut para aktifis gerakan Islam dengan beragam
kelompoknya. Sebuah fakta, komponen gerakan-gerakan Islam yang tersentuh kabar tersebut
memberikan reaksi balik yang beragam.
Kenapa kabar deklarasi Khilafah menjadi isu yang sangat menarik dan sensitif bagi kalangan gerakan
Islam? Dan bagaimana menyikapinya? Saya (al faqir dan dhaif) ini tidak bermaksud menggurui
siapapun, dengan semangat ukhuwah saya ingin sedikit berbagi perspektif;

Pertama; kewajiban berdirinya Khilafah dan mengangkat seorang Khalifah tidak ada perselisihan
dikalangan umat Islam begitu juga dikalangan ulama, kecuali apa yang di riwayatkan dari Al Asham
(seperti penjelasan Imam Al Qurthubi dalam Al Jami Li Ahkamil Quran, 1/264-265). Dan kewajiban
ini di tolak oleh kaum sekuler-liberal pengekor Ali Abdur Raziq dengan kitab sucinya Al Islam Wa
Ushul Al Hukm. Dalam kontek kekinian, fakta opini tentang Khilafah dalam 10 tahun terakhir semakin
memenuhi ruang publik Barat dan Timur.Menjadi kerinduan bagi umat Islam disatu pihak, disisi lain
telah menjadi kekawatiran teror teror bagi Barat dan para umala (antek-antek)-nya.
Kedua; hingga kini, 90 tahun berlalu umat Islam tanpa Khilafah dan seorang Khalifah.Tentu bagi
komponen umat yang terlibat dalam perjuangan untuk mengembalikan Khilafah, 90 tahun bukan waktu
yang singkat. Wajar, dengan datangnya kabar deklarasi Khilafah membuat mereka terhenyak dari
tempat duduk dan berdirinya. Ada ekspresi bahagia hingga cemas membayangkan nasib Khilafah di
hari-hari berikutnya. Ada yang langsung meyakini, mengakui dan mendukung eksistensi Khilafah dan
Khalifah yang baru di deklarasikan dan di baiat tersebut. Ada juga sikap sangsi atau ragu atas
kebenaran Khilafah dan Khalifahnya. Diluar itu masih ada juga sikap ambigu bahkan apatis. Kalau
kaum kafir sikapnya sudah jelas, seperti halnya sikap kaum munafiqin.Orang munafiq mendengar
terma Khilafah saja sudah alergi. Demikian juga, Khilafah adalah hantu menakutkan disaat jaga dan
tidurnya bagi Kafir Barat.Diluar orang kafir dan kaum munafiqin, beragam sikap diatas yang pasti ada
sebab dan latar belakang serta argumentasinya masing-masing.
Ketiga; sesungguhnya pertolongan Allah (nasrullah) itu dekat, dan menjadi hak prerogatif Allah
dimana pertolonganNya akan diturunkan. Karena itu, dalam kontek kausalitas (sababiyah) tiap wilayah
yang ada didunia Islam punya peluang dibaiatnya Khalifah dan dengan begitu Khilafah akan tegak.
Namun demikian, bagi yang teliti dalam masalah ini dan mau obyektif harus mengakui bahwa ada
bisyarah Nubuwah yang membicarakan tentang Syam dan turunnya kemenangan di wilayah Syam.
Dimensi inilah yang menjadi energi kerinduan dan keyakinan tersendiri bagi para pejuang Khilafah
yang terhimpun dalam berbagai gerakan Islam dan non gerakan alias tanpa tandzim (organisasi).Oleh
karena itu, kabar deklarasi Khilafah oleh ISIS yang beroperasi di sebagian wilayah Iraq-Suriah menjadi
hal yang sangat sesuatu bagi mereka semua. Bumi Syam punya magnitude lebih dibanding wilayah
gerakan lain di dunia Islam.
Keempat; dengan motif masing-masing, perdebatan (khususnya di dunia maya) akhirnya tidak bisa
dihindari bagi para aktifis yang merindukan tegaknya Daulah Islam Khilafah Islamiyah. Bagi saya, jika
para aktifis dewasa dengan kabar ini maka sangat mengerti dengan sebuah pesan yang pernah saya
publish; Bismillaahirrahmaanirrahiim..menurut hemat saya (yang bodoh ini), siapapun diantara
umat Islam yang berjuang menginginkan tegaknya Khilafah kembali, baik dari
kelompok/ormas/partai/jamaah/hizb JI,JAT,MMI,HTI dll..dengan datangnya kabar pendeklarasian
Khilafah oleh ISIS maka perlu memverifikasi melalui jalur masing-masing yang dianggap tsiqoh dan
kemudian meminta hasil kajian terhadap realitas kabar tersebut.Ini langkah kecil untuk bersikap bijak
dengan fenomena yang sangat dinamis dilapangan jihad dan dakwah di negeri-negeri kaum
muslimin. Harapan saya, dengan begitu kemudian tidak mudah terjebak untuk mengumbar komentar
tidak berkualitas dan emosional bahkan terjerumus dalam masalah yang ia betul-betul buta
terhadapnya.
Kelima; menurut saya, fokus pada perdebatan di tataran konsep tentang Khilafah dan Khalifah dengan
beragam point masalahnya tidak sepenuhnya menjawab tentang persoalan Khilafah yang di
deklarasikan ISIS.Justru yang lebih dibutuhkan adalah fokus kajian tentang visibilitas Khilafah
(manath al hukm) yang dideklarasikan dalam perspektif syari seperti apa. Karena harus diakui
sebagai realitas yang tidak terbantahkan, ketika bicara ditataran konsep perihal syarat keabsahan
sebuah kekhilafahan diantara gerakan-gerakan Islam tidak ada kesepakatan 100%.

Artinya ada sedikit zona ijtihad yang berpeluang melahirkan perbedaan pendapat, dari yang sangat
ketat sampai yang longgar dalam penetapan sarat sahnya sebuah kekhilafahan dan sahnya seorang
menjadi Khalifah. Saya jadi ingat kasus perbedaan penetapan awal dan akhir bulan Ramadlan pada
masalah berapa derajat ketinggian rembulan yang imkanur rukyat (memungkinkan untuk di lihat).
Di Indonesia muncul perdebatan, Khilafah yang dideklarasikan oleh ISIS apakah seperti Khilafah versi
kelompok Khilafatul Muslim atau seperti masa lalu dengan deklarasi DII/TII Karto Suwiryo, atau
seperti Imarah Islamiyah yang dirikan oleh Thaliban-Afghanistan, atau hanya sebuah opini dan
propaganda yang tidak sesuai dengan realitasnya?.Saya husnudzan bahwa perdebatan itu tidak lebih
sebagai bentuk sikap butuhnya umat pada bimbingan ulama yang faqih dalam masalah ini. Para ulama
terkemuka termasuk para pimpinan (Qiyadah) gerakan-gerakan Islam perlu membangun komunikasi
untuk melahirkan tuntunan sikap yang jelas bagi umat dan khususnya bagi anggota gerakan mereka
agar bisa mensikapi realitas kabar deklarasi Khilafah tersebut.
Keenam; sebuah keniscayaan kelompok atau gerakan berpegang teguh pada konsep masing-masing
tentang sarat keabsahan sebuah kekhilafahan. Atau akan meninggalkan pendapatnya dan mengadopsi
pendapat yang dipandang paling sahih dengan dasar kekuatan dalil (istidzlal). Untuk menjawab
kegelisahan sebagian umat Islam, yang sangat urgen saat ini adalah langkah kajian terhadap realitas
Khilafah yang dideklarasikan ISIS. Langkah tahqiqul manath secara integral (holistik komprehensif)
dan kemudian menghukumi realitas berdasarkan pokok-pokok konsep/pemikiran/hukum syara yang
diadopsi oleh masing-masing kelompok/gerakan menjadi hajat mendasar. Karena ini menjadi hulu dari
sebuah sikap yang akan di ambil dan dibangun. Karena Khilafah menyangkut persoalan nasib hidup
dan matinya umat Islam. Bukan persoalan remeh temeh. Maka sikap tergesa-gesa dan sebaliknya sikap
yang menunda-nunda untuk mengambil kesimpulan dan sikap dalam masalah ini juga tidak makruf.
Kajian yang obyektif, jujur dan syari kemudian hasilnya dikomunikasikan secara terbuka untuk umat
adalah krusial.Karena umat butuh panduan.
Ketujuh; pengakuan atau penolakan terhadap eksistensi Khilafah yang di deklarasikan ISIS samasama membawa konsekuensi (derivat) hukum di dalamnya. Dan sekali lagi, ini menunjukkan betapa
pentingnya kejelasan soal Khilafah. Misalkan, diluar soal teknis jika seseorang mengakui dan meyakini
(ghalabatudz dzan) maka ada kewajiban baiat taath bagi Khalifah. Begitu pula kewajiban turunan
berikutnya, apakah dirinya harus hijrah ke negara Khilafah atau akan tetap bertahan di negeri asal
(wilayah negeri kaum muslimin) dengan asumsi ia harus berjuang menggabungkan negeri tersebut
menjadi bagian dari kekhilafahan. Atau hanya akan menunggu datangnya seruan dan pasukan Khilafah
untuk mensublimasi negeri yang kita tinggali menjadi bagian wilayah Khilafah. Masih banyak soal
yang lain, dan point ini belum membicarakan bagaimana gelombang tantangan yang akan dihadapi
dinegeri dimana ia berpijak. Berbeda halnya jika seseorang atau kelompok itu menolak eksistensi
Khilafah yang dideklarasikan tersebut.Namun perlu saya tegaskan, bahwa penolakan atau pengakuan
terhadap Khilafah yang dideklrasikan ISIS harus dengan pertimbangan atau parameter syari bukan
yang lain.
Realitas Khilafah yang dideklarasikan ISIS seperti apa ? apakah Khilafah tersebut memenuhi kreteria
secara syari dan kreteria realitas strategis lainya? Visibilitas Khilafah ini seperti apa? Apakah gerakan
jihad dengan capaiannya betul-betul mampu mengartikulasikan kekuatan politiknya dalam wujud
negara Khilafah yang dirindukan umat? Sehingga ISIS dibubarkan dan yang ada adalah negara Islam
(Daulah Islamiyah). Ini adalah tugas orang-orang yang faqih dibidangnya dan ia berdiri dekat dengan
realitas tersebut untuk melakukan tahqiq. Meminjam istilah ahlu Makkah alam bi syiabih, tentu
mereka jauh lebih paham dibanding orang-orang yang mukim di Indonesia karena beberapa sebab.
Lepas dari pro dan kontra terhadap eksitensi Khilafah yang dideklarasikan ISIS, maka peran ulama
yang mukhlis dan para pemimpin (Qiyadah) gerakan-gerakan diseluruh dunia Islam hari ini ditunggu

hasil kajiannya oleh umat yang merindukan Khilafah. Serta rekomendasi langkah terbaiknya seperti
apa, agar ada akselerasi umat bisa meraih cita-cita yang diperintahkan Allah swt dan RasulNya.
Saudaraku sekalian, betapa keterpurukan umat Islam dan kemenangan-kemenangan umat Islam dalam
berbagai front dakwah dan jihad sama-sama menjadi ujian bagi umat Islam. Saya yakin, siapapun yang
hanif dalam perjuangan mengembalikan Khilafah maka ia akan lebih mengedepankan semangat
persatuan kesatuan dibanding perbedaan dan sikap ashobiyah yang terang maupun samar.
Menghindari sikap emosional apalagi lancang melabeli dengan julukan-julukan yang tidak makruf
kepada sesama para pejuang Islam. Siapapun rindu bagaimana perjuangan mencapai target yang di
inginkan. Dan disana ada tetesan dari kolaborasi semua komponen kekuatan umat Islam dengan peran
dan kontribusi masing-masing.
Karenanya, naif jika sebagian kelompok atau pejuang meremehkan dan merendahkan terhadap
sebagian yang lain. Ingat, karena masalah Khilafah bukanlah masalah Khilafah kelompok siapa dan
oleh siapa. Karena Khilafah adalah institusi managerial (negara) untuk umat Islam semua bahkan kaum
dzimmi termasuk didalamnya. Sekali lagi, Khilafah bukan Khilafiyah. Khilafah juga bukan negara
kelompok/jamaah/partai. Khilafah juga tidak hanya menjadi kerinduan dan kebutuhan sekelompok
orang muslim. Pengalaman harusnya telah mengajarkan banyak hal kepada kita semua, karenanya kita
harus hati-hati dengan fitnah perbedan dan sikap ashobiyah dalam menyikapi deklarasi Khilafah oleh
ISIS. Wallahu alam bis showab
Soal Jawab: Thariqah Syariy untuk Menegakkan al-Khilafah dan asSulthn al-Mutaghallib

Jawab Soal
Thariqah Syariy untuk Menegakkan al-Khilafah dan as-Sulthn alMutaghallib
Pertanyaan:
Ada beberapa komentar di beberapa situs yang isinya bahwa Hizbut Tahrir
menentukan thariqah thalab an-Nushrah untuk menegakkan al-Khilafah dan
berpegang teguh dengannya, dan Hizbut Tahrir tidak mengetahui thariqah syariy
lainnya padahal ada thariqah lainnya, yaitu thariqah as-sulthn al-mutaghallib
yakni orang yang menegakkan negara menggunakan kekuatan dan perang
Mereka juga mengatakan bahwa Hizbut Tahrir menolak proklamasi al-Baghdadi
karena dorongan ashabiyah hizbiyah, dimana Hizbut Tahrir tidak menilainya
sebagai khilafah yang syariy kecuali jika Hizb yang mendirikannya Apakah ada
jawaban yang memadai seputar ucapan-ucapan ini? Semoga Allah memberi Anda
balasan yang lebih baik.
Jawab:
1. Hizbut Tahrir tidak menentukan thariqah syariy untuk menegakkan alKhilafah, akan tetapi syara-lah yang menentukannya. Sirah Rasulullah saw
mengatakan hal itu sejak dimulai dakwah kepada Islam hingga tegaknya
daulah Sebelum tegaknya daulah, didahului dengan thalab an-nushrah
oleh Rasulullah saw dari para ashhbul quwwah wa al-manah, yang mereka
membentuk pilar-pilar negara sesuai fakta wilayah di seputar mereka.
Karena itu, Rasul saw menyengaja mendatangi kabilah-kabilah yang kuat,
menyeru mereka kepada Islam dan meminta nushrah (pertolongan) mereka
seperti yang beliau lakukan dengan meminta pertolongan Tsaqif, Bani Amir,
Bani Syaiban dan kaum Anshar di Madinah. Adapun kabilah-kabilah kecil,
maka beliau saw mencukupkan dengan menyerunya kepada Islam saja
Rasulullah saw terus melakukan hal itu meski berbagai kesulitan dan
kesusahan harus beliau saw hadapi. Pengulangan perkara yang di dalamnya

ada kesulitan menunjukkan secara syariy bahwa perkara itu adalah fardhu
sebagaimana yang ada dalam ketentuan ushul Begitulah, Rasulullah terus
dalam melakukan thalab an-nushrah dari ahlul quwwah wal manah. Satu
kabilah membuat kaki beliau berdarah-darah. Satu kabilah lainnya menolak
beliau. Kabilah lainnya memberikan syarat kepada beliau. Meski demikian,
beliau saw terus teguh di atas apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepada
beliau tanpa mengubah thariqah itu kepada thariqah lainnya. Misalnya
beliau menyuruh para sahabat untuk memerangi penduduk Mekah, atau
memerangi sebagian kabilah guna menegakkan daulah di tempat mereka.
Padahal para sahabat beliau saw adalah orang-orang gagah berani yang
tidak takut apa pun kecuali hanya kepada Allah. Akan tetapi, Rasul saw
tidak memerintahkan hal itu. Namun beliau terus melakukan thalab annushrah mencari pertolongan dari ahlul quwwah wal manah, hingga Allah
memudahkan kaum Anshar kepada beliau lalu mereka membaiat beliau
dengan baiat al-Aqabah kedua, setelah Mushab bin Umair ra. berhasil
dalam tugasnya di Madinah Munawarah atas perintah Rasulullah saw.
Disamping taufik dari Allah SWT kepadanya dengan dukungan tokoh-tokoh
dari ahlul quwwah yang menolongnya, Mushab bin Umair ra. dengan izin
Allah telah berhasil memasukkan Islam ke rumah-rumah Madinah dan
mewujudkan di sana opini umum untuk Islam sehingga opini umum
berangkulan dengan baiat kaum Anshar, dan berikutnya Rasul saw pun
menegakkan daulah di Madinah dengan baiat yang murni dan bersih dan
dengan penerimaan hangat kepada Rasul saw dari penduduk Madinah
Munawarah.
Inilah thariqah syariy untuk menegakkan daulah dan hukum asal yang harus
diikuti. Hukum asal dalam perbuatan adalah terikat dengan hukum syara.
Seorang muslim jika ia ingin mengetahui bagaimana ia shalat, maka ia
mempelajari dalil-dalil shalat. Dan jika ia ingin berjihad maka ia mempelajari dalildalil jihad. Dan jika ia ingin menegakkan daulah, maka ia harus mempelajari dalildalil penegakan daulah dari perbuatan Rasulullah saw. Tidak ada dinyatakan dari
Rasulullah saw thariqah untuk menegakkan daulah kecuali yang dijelaskan di
dalam sirah beliau saw. Di dalamnya ada dakwah (seruan) kepada ahlul quwwah
wal manah yang membentuk pilar-pilar negara menurut realita wilayah
sekitarnya. Jadi mendakwahi (menyeru) mereka kepada Islam, thalab an-nushrah
(meminta pertolongan) mereka dan baiat mereka dengan ridha dan ikhtiyar
setelah benar-benar ada opini umum yang terpancar dari kesadaran umum di
tengah mereka di wilayah mereka
Begitulah, thariqah syariy untuk menegakkan al-Khilafah telah ditentukan di
dalam Islam dengan jelas. Jelas dari hal itu bahwa para pemilik proklamasi itu
tidak mengikuti thariqah ini.
2. Adapun masalah as-sulthn al-mutaghallib (penguasa yang mengambil
kekuasaan dengan kekuatan) yang ada di dalam kitab-kitab fikih, maka
istilah itu wajib dipahami maknanya. Bukan sekadar mengulang-ulang
istilah as-sulthn al-mutaghallib tanpa memahami kapan dan bagaimana
mungkin secara syariy hal itu menjadi benar-benar tegak dan sebaliknya
bagaimana hal itu secara syariy tidak tegak, bahkan menjadi bencana bagi
pemiliknya!
Sesungguhnya, as-sulthn al-mutaghallib bisa menjadi berdosa atas tumpahnya
darah kaum Muslimin dan penindasan serta paksaan. Juga dengannya tidak tegak
khilafah secara syariy karena menyalahi thariqah yang syari. hanya saja,
diantara para fukaha ada yang berpandangan bahwa as-sulthn al-mutaghallib
ini pemerintahannya menjadi syariy jika terealisasi padanya syarat-syarat dan
yang paling menonjol adalah:
1. Mendominasi di negeri yang memiliki pilar-pilar negara sesuai wilayah
sekitarnya. Sehingga ia memiliki kekuasaan yang stabil di negeri itu
dan ia bisa menjaga keamanan negeri tersebut baik dalam dan luar
negeri terhadap wilayah sekitarnya.

2. Menerapkan Islam dengan adil dan baik di negeri tersebut. Berjalan


secara baik diantara masyarakat, sehingga masyarakat mencintai
mereka dan ridha terhadap mereka.
3. Masyarakat di negeri itu membaiatnya dalam bentuk baiat iniqad
dengan ridha dan ikhtiyar, bukan dengan paksaan dan keterpaksaan,
dengan syarat-syarat baiat yang diantaranya bahwa baiat itu pada
dasarnya berasal dari penduduk negeri itu, bukan dari sejumlah
sulthn mutaghallib. Sebab baiat yang syariy adalah seperti itu
dengan meneladani Rasul saw. Rasul saw pada asasnya memberi
perhatian atas mengambil baiat orang-orang Anshar penduduk
Madinah Munawarah dengan ridha dan ikhtiyar, bukan mengambil
baiat dari para sahabat beliau kaum Muhajirin. Baiat aqabah kedua
memenuhi hal itu.
Begitulah, as-sulthn al-mutaghallib terus berdosa, dan tidak tegak secara syariy
kecuali setelah terpenuhi ketiga syarat di atas. Pada saat itu, as-sulthn almutaghallib menjadi legal (masyr) sejak saat terjadinya baiat itu dengan ridha
dan ikhtiyar. Ini adalah realita as-sulthn al-mutaghallib. Mudah-mudahan Anda
memahaminya dengan sejelas-jelasnya dari situ jelas bahwa syarat-syarat tidak
terpenuhi untuk pemilik proklamasi itu, akan tetapi mereka memaksakan diri
mereka sendiri dan proklamasi mereka dilakukan secara tidak benar.
Dari penjelasan sebelumnya, jelaslah bahwa mereka tidak mengikuti thariqah
syariy yang shahih. Juga tidak mengikuti thariqah as-sulthn al-mutaghallib
sekalipun Mereka memproklamasikan khilafah tidak sesuai dengan
ketentuannya, dan sebelum terpenuhi syarat-syaratnya. Maka proklamasi itu tidak
ada bobot dan nilainya secara syariy. Bahkan itu merupakan laghwun seakanakan tidak ada, sehingga tidak mengubah realita mereka akan tetapi realita
mereka terus seperti sebelumnya sebagai tanzhim bersenjata.
3. Adapun bahwa Hizb tidak menilai sebagai khilafah yang syariy kecuali jika
didirikan oleh Hizb, maka itu merupakan ucapan yang lebih rapuh dari
sarang laba-laba! Sesungguhnya itu tidak lain adalah pengarahan setan
untuk sebagian orang yang berpikiran cekak dan pendek, serta orang yang
kehilangan mata dan penglihatan Sesungguhnya yang diinginkan Hizb
adalah ditegakkannya Khilafah yang murni dan bersih tidak terdistorsi. Kami
adalah ibunya anak-anak, agenda kami adalah agar anak-anak tidak
dibunuh atau didistorsi agar terealisasi untuk anak-anak itu kekuatan,
kesehatan, pemeliharaan yang baik dan perhatian yang tinggi, dan agenda
kami bukan siapa yang memeliharanya Sungguh kami ingin agar khilafah
ditegakkan dengan benar, sehingga menjadi khilafah yang agung bobotnya,
kuat kekuasaannya, menerapkan Islam di dalam negeri dan mengembannya
ke luar negeri dengan dakwah dan jihad. Sehingga dengan begitu benarbenar menjadi khilafah rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian yang
dijanjikan oleh Allah SWT dan disampaikan oleh Rasul-Nya saw kabar
gembira berdirinya setelah pemerintahan diktator Siapa saja yang
menegakkannya hal itu dengan benar, baik kami atau selain kami, maka ia
didengar dan ditaati, dan bumi pun dengan izin Allah akan mengeluarkan
simpanannya dan langit menurunkan kebaikannya. Islam dan penduduknya
menjadi mulia dan kekufuran dan penganutnya menjadi hina, dan Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Begitulah, kami menginginkan khilafah kembali dengan bersih dan diberkahi
seperti yang dibawa oleh Rasulullah saw dan diikuti oleh Khulafaur Rasyidin
ridhwanullah alayhim Khilafah yang dicintai oleh Allah SWT, Rasul-Nya saw dan
kaum mukminin. Khilafah yang memasukkan kebahagiaan di hati kaum Muslimin
dan memasukkan kemuliaan di negeri-negeri mereka Dan bukan proklamasi
nama khilafah yang terdistorsi, yang kotor dengan darah kaum muslimin tidak di
atas ketentuan yang benar.
Sungguh kami merasa sedih, khilafah yang semestinya mengguncang dunia dan
membuat kaum kafir imperialis gemetar, justru menjadi sesuatu yang diperolokolokkan dan disertai penghinaan bobotnya, bahkan tanpa bobot. Sehingga

Amerika Serikat mendeklarasikan komentar terhadap proklamasi itu bahwa itu


bukan apa-apa, bukannya menangis darah ketika khilafah itu diproklamasikan
Kami juga merasa sedih, bahwa orang-orang yang telah memiliki khilafah itu,
mereka memiliki bobot yang agung dan berharap demikian, namun akhirnya
diantara mereka ada yang memandang proklamasi ini sebagai kejadian yang
tidak punya bobot
Sesungguhnya Hizb merupakan penjaga yang terpercaya untuk Islam, tidak takut
di jalan Allah terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Hizb berkata
kepada orang yang berbuat baik Anda telah berbuat baik dan mengatakan
kepada orang yang melakukan keburukan Anda telah berbuat buruk. Hizb tidak
mengharapkan mashlahat kepartaian dan tidak pula kerakusan duniawi. Bahkan
Hizb memandang dunia seluruhnya seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah
saw dalam hadits yang telah dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dari Abdullah bin
Masud:

Tidak ada untukku dan untuk dunia, tiada aku di dunia melainkan seperti orang
yang sedang menempuh perjalanan berteduh di bawah pohon lalu ia beristirahat
sejenak dan meninggalkannya kembali
Dunia dalam pandangan Hizb adalah interval waktu di mana Hizb berteduh di
bawah pohon itu, sehingga Hizb konsern untuk menghabiskannya dalam
perjuangan (amal) shalih, jujur dan sungguh-sungguh untuk menerapkan hukumhukum syara dengan tegaknya al-Khilafah secara benar dengan izin Allah yang
Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
4. Sebagai penutup, Hizbut Tahrir menghabiskan lebih dari enam puluh tahun
berjuang untuk menegakkan al-Khilafah dengan thariqah yang ditempuh
oleh Rasulullah saw. Di jalan itu, Hizb menghabiskan tahun-tahun yang
panjang di penjara-penjara orang-orang zalim dan penindas, di bawah
penyiksaan dari para thaghut, sehingga syahidlah di antara syabab yang
mencari syahid dan orang yang disiksa mengalami siksaan dan dalam
perjalanannya Hizb tetap teguh di atas kebenaran meski terjadi penindasan
dan serangan Jadi Hizbut Tahrir yang keadaannya seperti ini, apakah Anda
lihat menolak suatu jamaah yang menegakkan khilafah secara benar, baik
yang mendirikan itu Hizb atau pihak lain? Sungguh Hizb tidak menolak,
bahkan bersyujud syukur kepada Allah Akan tetapi pada waktu yang
sama, Hizb berdiri mengawasi siapa saja yang melontarkan nama alKhilafah secara tidak benar, sebagai sebuah pendistorsian terhadap khilafah
dan penghinaan bobotnya. Hizb dengan izin Allah akan tetap menjadi batu
karang kokoh di depan setiap makar dan tipu daya pendistorsian khilafah
atau penghinaan bobotnya. Khilafah akan ditegakkan, dengan izin Allah,
melalui tangan-tangan kesatria yang perdagangan dan jual beli tidak bisa
melenakan mereka dari mengingat Allah, kesatria yang lebih berhak dan
lebih layak untuk menegakkan khilafah, sehingga fajar khilafah menyeruak
kembali bersinar.

*
Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena
pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha
Perkasa lagi Penyayang. (TQS ar-Rum [30]: 4-5)
Tanggapan Amir Hizbut Tahrir Terhadap Proklamasi Tegaknya al-Khilafah
oleh ISIS

Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-Alim Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir
Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Akun
Facebook
(https://www.facebook.com/Ata.abualrashtah) Beliau
Politik
Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Kepada semua saudara yang mengirimkan permintaan penjelasan tentang


proklamasi tegaknya al-Khilafah oleh ISIS dan mohon maaf tidak dituliskan
nama-nama Anda karena sangat banyak
Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Kami telah kirimkan sebelumnya jawaban pada waktu itu dan saya ingin ulangi
kepada Anda:
Saudara-saudara yang dimuliakan,
1. Sesungguhnya tanzhim (organisasi) apapun yang ingin memproklamirkan
al-Khilafah di suatu tempat, yang wajib baginya adalah mengikuti thariqah
Rasulullah Saw dalam hal itu. Diantaranya adalah, organisasi itu memiliki
kekuasaan yang menonjol di tempat tersebut, yang menjaga keamanannya
di dalam dan di luar negeri. Harus ada pilar-pilar negara di daerah yang di
situ diproklamirkan al-Khilafah Itulah yang dahulu ada pada Rasulullah
Saw ketika beliau mendirikan Daulah Islamiyah di al-Madinah al-Munawarah:
Kekuasaan di sana adalah milik Rasul Saw, keamanan dalam negeri dan luar
negerinya dijamin dengan keamanan (kekuasaan) Islam, dan negara itu
memiliki pilar-pilar negara di wilayah tersebut.
2. Sementara itu, organisasi yang memproklamirkan al-Khilafah tersebut, tidak
memiliki kekuasaan atas Suriah dan tidak pula atas Irak. Organisasi itu juga
tidak merealisasi keamanan dan rasa aman di dalam negeri dan tidak pula
di luar negeri, hingga orang yang dibaiat sebagai khalifah saja tidak bisa
muncul di sana secara terbuka, akan tetapi keadaannya tetap tersembunyi
seperti keadaannya sebelum proklamasi daulah! Ini menyalahi apa yang
dilakukan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, sebelum daulah tegak, boleh
saja bersembunyi di goa Tsur. Akan tetapi setelah berdiri daulah, beliau Saw
memelihara urusan-urusan masyarakat, memimpin pasukan, memutuskan
perkara di antara orang-orang yang bersengketa, mengirim para utusan,
dan menerima para utusan secara terbuka tanpa sembunyi. Jadi, sebelum
berdiri daulah berbeda dengan sesudahnya Begitulah, proklamasi
organisasi itu atas al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun) tanpa isi. Itu
sama saja dengan yang sebelumnya dalam hal proklamasi al-Khilafah,
tanpa realita riil di lapangan dan tidak memiliki pilar-pilar. Semua itu hanya
untuk memuaskan apa yang ada di dalam diri mereka. Yang ini
memproklamirkan diri sebagai khalifah. Yang itu memproklamirkan diri
sebagai al-Mahdi dan sebagainya, tanpa pilar-pilar, tanpa kekuasaan dan
tanpa menguasai keamanan dan rasan aman!
3. Sesungguhnya al-Khilafah adalah negara yang punya bobot. Syariah telah
menjelaskan thariqah pendiriannya dan tata cara menggali hukumhukumnya tentang pemerintahan, politik, ekonomi, hubungan-hubungan
internasional Bukan hanya proklamasi nama tanpa isi, yang dilontarkan di
situs-situs elektronik atau media massa-media massa audio visual.
Proklamasi al-Khilafah merupakan kejadian agung yang mengguncang
dunia. Akarnya menancap dalam di bumi. Kekuasaannya menjaga
keamanan dalam dan luar negeri atas wilayah tersebut, menerapkan Islam
di dalam negeri dan mengembannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan
jihad
4. Proklamasi yang terjadi adalah ucapan yang sia-sia (laghwun), tidak
memajukan dan tidak memundurkan dalam hal realita organisasi ISIS. ISIS
adalah gerakan bersenjata, baik sebelum proklamasi dan setelah
proklamasi. Posisinya seperti gerakan-gerakan bersenjata lainnya yang
saling memerangi satu sama lain dan juga berperang melawan rezim, tanpa
satu pun dari faksi-faksi itu bisa meluaskan kekuasaan atas Suria atau Irak
atau keduanya. Seandainya ada faksi dari faksi-faksi itu, termasuk ISIS,
yang mampu meluaskan kekuasaannya atas wilayah yang memiliki pilarpilar negara dan memproklamasikan al-Khilafah serta menerapkan Islam,
niscaya layak untuk dibahas guna dilihat jika al-Khilafah yang didirikannya
sesuai hukum-hukum syariah, sehingga pada saat itu diikuti. Hal itu karena
penegakan al-Khilafah merupakan kewajiban atas kaum Muslimin dan bukan

fardhu atas Hizbut Tahrir saja. Maka siapa saja yang berhasil
menegakkannya dengan benar, ia diikuti Fakta yang terjadi saat ini tidak
lah seperti itu. Semua faksi bersenjata (milisi), di antaranya ISIS, tidak
memiliki pilar-pilar negara, tidak memiliki kekuasaan atas wilayah, dan tidak
menguasai keamanan dan rasa aman. Karena itu, proklamasi ISIS atas
tegaknya al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun), tidak layak
diperhatikan untuk dibahas pada realitanya sebab sudah tampak jelas
5. Yang layak untuk diperhatikan dan dikaji adalah kekhawatiran adanya
dampak negatif atas proklamasi ini, terkait ide al-Khilafah pada orang-orang
yang berpikiran dangkal. Sehingga ide al-Khilafah pada diri mereka jatuh
dari posisi sentralnya yang agung dan urgensitasnya bagi kaum Muslimin.
Jatuh pada pemikiran yang rapuh, yang sekadar menjadi penyaluran
perasaan-perasaan gelisah pada sebagian person. Maka salah seorang dari
mereka berdiri di lapangan atau di medan atau di kampung, lalu
memproklamirkan diri bahwa dia adalah khalifah, kemudian dia
mengundurkan diri dan menyangka telah berbuat sebaik-baiknya! Maka alKhilafah akan kehilangan urgensitas dan keagungannya pada hati orangorang yang berpikiran dangkal dan menjadi tidak lebih dari nama bagus
yang dijadikan sebutan bagi orang yang menginginkan tetapi tanpa isi
Inilah yang layak diperhatikan, khususnya saat di mana al-Khilafah telah
makin dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, dan kaum Muslimin
telah menunggu pendiriannya dengan tidak sabar. Mereka melihat Hizbut
Tahrir meniti jalan dalam urusannya, dengan berpegang teguh kepada
thariqah Rasulullah Saw tentang tata cara pendirian al-Khilafah di alMadinah al-Munawarah Kemudian mereka melihat adanya interaksi
dinamis dan ekspresif yang berpengaruh antara Hizbut Tahrir dengan umat
yang mengasuhnya. Dari interaksi ini kaum Muslimin paham makna
ukhuwah Islam. Mereka mencari kabar gembira akan kesuksesan Hizb
dalam menegakkan al-Khilafah dan baiknya riayah asy-syuun dan menjadi
benar-benar Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian Pada saat yang
demikian, justru datang proklamasi ini. Maka proklamasi itu mendatangkan
potret kabur, jika bukan malah palsu, tentang realita al-Khilafah di benak
orang-orang yang berpikiran dangkal di antara masyarakat
6. Semua itu memunculkan tanda tanya, bahkan banyak tanda tanya
seputar timing proklamasi ini tanpa kekuasaan yang nyata dan stabil bagi
pemilik proklamasi; yaitu kekuasaan yang menjaga keamanan negara ini di
dalam dan luar negeri. Begitulah yang terjadi di Facebook atau media
massa Timing ini mencurigakan, khususnya bahwa gerakan-gerakan
bersenjata yang tegak bukan atas asas takatuliyun fikriyun (kelompok yang
bersifat intelektual), membuat infiltrasi menjadi mudah. Masuknya orangorang jahat dari Timur dan Barat di barisannya adalah mudah. Sudah
diketahui bersama bahwa Barat dan Timur terus melakukan tipu daya
terhadap Islam dan al-Khilafah. Kepentingan mereka adalah memalsukan
potretnya. Jika mereka tidak bisa memadamkan namanya, maka mereka
sangat mementingkan agar al-Khilafah tidak lain hanyalah nama yang
digunakan oleh orang yang menginginkan tanpa isi sama sekali. Sehingga
kejadian agung yang menampar kaum kafir menjadi sekadar nama yang
dijadikan ejekan oleh musuh-musuh itu siang malam!
7. Atas semua yang diperbuat musuh-musuh jahat itu, kita tegaskan kepada
musuh-musuh Islam dari Timur dan Barat, antek-antek dan para
pengikutnya, serta orang-orang bodoh mereka, bahwa al-Khilafah yang
telah memimpin dunia berabad-abad adalah sudah diketahui dan tidak
majhul, kuat menghadapi distorsi bagaimanapun tipu daya dan konspirasi
dilakukan.



Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah
sebaik-baik Pembalas tipu daya. (TQS al-Anfal [8]: 30)

Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa telah mendatangkan untuk khilafah satu
partai yang menghimpun orang-orang, yang perdagangan dan jual beli tidak
melalaikan mereka dari mengingat Allah. Mereka melingkupi khilafah dengan
pikiran, pendengaran, dan penglihatannya. Mereka telah menyiapkan segala
persiapan yang dibutuhkan untuk khilafah. Mereka istinbath hukum-hukum dan
konstitusinya, serta struktur pemerintahan dan administrasinya. Mereka berjalan
dalam upaya menegakkannya dengan meneladani sirah Rasulullah Saw tanpa
menyimpang sehelai rambut pun Mereka, dengan izin Allah, merupakan pagar
yang menghalangi kekaburan tentang khilafah. Mereka layaknya batu cadas, yang
dengan pertolongan Allah, dapat menghancurkan konspirasi-konspirasi kaum
kafir, antek-antek, dan para pengikutnya. Mereka adalah para politisi yang
memiliki kesadaran, yang dengan kekuatan Allah, dapat membalikkan segala tipu
daya musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin menjadi kebinasaan bagi musuhmusuh itu.

Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang
merencanakannya sendiri. (TQS Fathir [35]: 43)
Saudara-saudara yang dimuliakan,
Sesungguhnya perkara al-Khilafah al-Islamiyah amatlah agung dan posisinya
sungguh sangat signifikan. Berdirinya tidak akan sekadar berita yang menjadi
bahan ejekan media massa menyesatkan. Akan tetapi dengan izin Allah,
berdirinya Khilafah akan menjadi gempa menggema, yang membalikkan neraca
internasional dan mengubah wajah dan arah sejarah Sesungguhnya Khilafah
akan kembali berupa Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian,
sebagaimana yang disampaikan kabar gembiranya oleh Rasul saw. Maka orangorang yang menegakkannya, mereka seperti orang-orang yang menegakkan
Khilafah Rasyidah pertama, orang-orang yang bertakwa lagi bersih, mencintai
umat dan umat mencintai mereka, mereka mendoakan umat dan umat pun
mendoakan mereka. Umat merasakan kebahagiaan bertemu dengan mereka dan
mereka merasakan kebahagiaan bertemu dengan umat; bukannya keberadaan
mereka di tengah umat justru dibenci Begitulah, mereka adalah ashhbul
khilfah mendatang yang mengikuti manhaj kenabian. Allah akan memberikannya
kepada orang yang memang layak untuknya. Dan sungguh kita memohon kepada
Allah agar kita termasuk orang-orang yang layak itu dan termasuk orang-orang
yang mengaturnya. Kita memohon kepada Allah SWT agar memberi karunia
kepada kita dengan tegaknya al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj
kenabian.

Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu (TQS altTawbah [9]: 111)
Janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah, sehingga Allah tidak menyianyiakan untuk Anda wahai saudara-saudara yang dimuliakan, kelelahan yang
telah Anda persembahkan. Allah tidak menolak permohonan yang Anda pinta
dari-Nya, Allah tidak menggagalkan harapan yang Anda ajukan kepada-Nya. Maka
tolonglah kita dengan meningkatkan kesungguhan dan pemberian. Perlihatkan
kepada Allah dari diri Anda kebaikan, niscaya Allah menambah kebaikan untuk
Anda. Jangan sampai ucapan main-main bisa memalingkan Anda dari perjuangan
Anda yang penuh kesungguhan lagi jujur.
Wassalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
3 Ramadhan 1435 H
1 Juli 2014 M
Selesai jabawan yang telah saya kirimkan sebelumnya.
Saya berharap jawaban ini mencukupi. Semoga Allah memberikan taufik kepada
Anda dan menolong Anda. Dan semoga Allah memberi menunjuki kami dan Anda
kepada perkara yang paling lurus.

Saudaramu
Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah
04 Ramadhan 1435 H
02 Juli 2014 M