Anda di halaman 1dari 9

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia

berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.[1]


Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan.[1] Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.[1]
Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa.[2]
Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masingmasing komponen akan menguap pada titik didihnya.[2] Model ideal distilasi
didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.[2]

Bagan

Bagan perlengkapan distilasi di laboratorium


Berikut adalah susunan rangkaian alat ditilasi sederhana:

1. wadah air

2. labu distilasi

3. sambungan

4. termometer

5. kondensor

6. aliran masuk air dingin

7. aliran keluar air dingin

8. labu distilat

9. lubang udara

10. tempat keluarnya distilat

13. penangas

14. air penangas

15. larutan zat

16. wadah labu distilat

Sejarah
Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama
masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya
permintaan akan spritus.[3] Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan
rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil
menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4.[3]
Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada
masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol
menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini
menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro,
The Hickman Stillhead dapat terwujud.[3] Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721815) yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang
dapat terbakar.[3] Ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia
yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini.[3] Kemudian teknik
penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873).[3]
Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah pemisahan minyak
mentah menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti untuk
transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll[1]. Udara didistilasi menjadi
komponen-komponen seperti oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk
pengisi balon.[4] Distilasi juga telah digunakan sejak lama untuk pemekatan
alkohol dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk
menghasilkan minuman suling[5].

Jenis
Ada 4 jenis distilasi yang akan dibahas disini, yaitu distilasi sederhana, distilasi
fraksionasi, distilasi uap, dan distilasi vakum.[1] Selain itu ada pula distilasi
ekstraktif dan distilasi azeotropic homogenous, distilasi dengan menggunakan
garam berion, distilasi pressure-swing, serta distilasi reaktif.[1]

Distilasi Sederhana
Pada distilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang
jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil[6]. Jika campuran
dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih
dulu.[5] Selain perbedaan titik didih, juga perbedaan kevolatilan, yaitu
kecenderungan sebuah substansi untuk menjadi gas[4]. Distilasi ini dilakukan pada
tekanan atmosfer.[6] Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan
campuran air dan alkohol.[5]

Distilasi Fraksionisasi
Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua
atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya.[5] Distilasi ini
juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari
20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah.[6] Aplikasi
dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan
komponen-komponen dalam minyak mentah[7]
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom
fraksionasi.[5] Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang
berbeda-beda pada setiap platnya[8]. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan
untuk pemurnian distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya.[8] Semakin ke atas,
semakin tidak volatil cairannya.[8]

Distilasi Uap
Distilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik
didih mencapai 200 C atau lebih[9]. Distilasi uap dapat menguapkan senyawasenyawa ini dengan suhu mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan
menggunakan uap atau air mendidih.[9] Sifat yang fundamental dari distilasi uap
adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masingmasing senyawa campurannya.[10] Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk
campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi
dengan air.[6] Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa
produk alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon
atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.[9]
Campuran dipanaskan melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran dan
mungkin ditambah juga dengan pemanasan.[8] Uap dari campuran akan naik ke
atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu distilat.[8]

Distilasi Vakum
Distilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin didistilasi tidak
stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik
didihnya atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150 C.[6] Metode
distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan titik didih yang rendah jika

kondensornya menggunakan air dingin, karena komponen yang menguap tidak


dapat dikondensasi oleh air.[6] Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa
vakum atau aspirator.[6] Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada sistem
distilasi ini.[6]

Azeotrop
Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih komponen yang memiliki titik
didih yang konstan.[8] Azeotrop dapat menjadi gangguan yang menyebabkan hasil
distilasi menjadi tidak maksimal.[8] Komposisi dari azeotrope tetap konstan dalam
pemberian atau penambahan tekanan.[8] Akan tetapi ketika tekanan total berubah,
kedua titik didih dan komposisi dari azeotrop berubah. Sebagai akibatnya,
azeotrop bukanlah komponen tetap, yang komposisinya harus selalu konstan
dalam interval suhu dan tekanan, tetapi lebih ke campuran yang dihasilkan dari
saling memengaruhi dalam kekuatan intramolekuler dalam larutan.[8]
Azeotrop dapat didistilasi dengan menggunakan tambahan pelarut tertentu,
misalnya penambahan benzena atau toluena untuk memisahkan air.[8] Air dan
pelarut akan ditangkap oleh penangkap Dean-Stark.[8] Air akan tetap tinggal di
dasar penangkap dan pelarut akan kembali ke campuran dan memisahkan air lagi.
[8]
Campuran azeotrop merupakan penyimpangan dari hukum Raoult.[6]

Efektifitas Distilasi
Secara teori, hasil distilasi dapat mencapai 100% dengan cara menurunkan
tekanan hingga 1/10 tekanan atmosfer.[2] Dapat pula dengan menggunakan
distilasi azeotrop yang menggunakan penambahan pelarut organik dan dua
distilasi tambahan, dan dengan menggunakan penggunaan cornmeal yang dapat
menyerap air baik dalam bentuk cair atau uap pada kolom terakhir.[2] Namun,
secara praktek tidak ada distilasi yang mencapai 100%.[1]

Distilasi Skala Industri


Umumnya proses distilasi dalam skala industri dilakukan dalam menara, oleh
karena itu unit proses dari distilasi ini sering disebut sebagai menara distilasi
(MD).[2] Menara distilasi biasanya berukuran 2-5 meter dalam diameter dan tinggi
berkisar antara 6-15 meter. Masukan dari menara distilasi biasanya berupa cair
jenuh, yaitu cairan yang dengan berkurang tekanan sedikit saja sudah akan
terbentuk uap dan memiliki dua arus keluaran, arus yang diatas adalah arus yang
lebih volatil (mudah menguap) dan arus bawah yang terdiri dari komponen berat.
Menara distilasi terbagi dalam 2 jenis kategori besar[2]:
1. Menara Distilasi tipe Stagewise, menara ini terdiri dari banyak piringan
yang memungkinkan kesetimbangan terbagi-bagi dalam setiap
piringannya, dan

2. Menara Distilasi tipe Continous, yang terdiri dari pengemasan dan


kesetimbangan cair-gasnya terjadi di sepanjangkolom menara.
3. Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu
campuran yang berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari
campuran tersebut adalah mampu-campur dan mudah menguap, selain itu
komponen-komponen tersebut mempunyai perbedaan tekanan uap dan
hasil dari pemisahannya menjadi komponen-komponennya atau
kelompokkelompok komponen. Karena adanya perbedaan tekanan uap,
maka dapat dikatakan pula proses penyulingan merupakan proses
pemisahan komponen-komponennya berdasarkan perbedaan titik didihnya.
4. Sebagai contoh, proses penyulingan dari larutan garam yang dilakukan di
laboratorium, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 4.60.Pada gambar
tersebut, terlihat, larutan garam (NaCl) dimasukkan pada labu, dimana
pada bagian atas dari labu tersebut dipasang alat pengukur suhu atau
thermometer. Larutan garam di dalam labu dipanasi dengan menggunakan
pembakar Bunsen. Setelah beberapa saat, larutan garam tersebut akan
mendidih dan sebagian akan menguap. Uap tersebut dilewatkan
kondensor, dan akan terkondensasi yang ditampung pada erlemeyer.Cairan
pada erlemeyer merupakan destilat sebagai air murni.

5.
6. Pada operasi distilasi, terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bahwa
bila campuran cair ada dalam keadaan setimbang dengan
uapnya,komposisi uap dan cairan berbeda. Uap akan mengandung lebih
banyak komponen yang lebih mudah menguap, sedangkan cairan akan
mengandung lebih sedikit komponen yang mudah menguap. Bila uap
dipisahkan dari cairan, maka uap tersebut dikondensasikan, selanjutnya

akan didapatkan cairan yang berbeda dari cairan yang pertama, dengan
lebih banyak komponen yang mudah menguap dibandingkan dengan
cairan yang tidak teruapkan. Bila kemudian cairan dari kondensasi uap
tersebut diuapkan lagi sebagian,akan didapatkan uap dengan kadar
komponen yang lebih mudah menguap lebih tinggi. Untuk menunjukkan
lebih jelas uraian tersebut,berikut digambarkan secara skematis:
7. 1.Keadaan awal
Mula-mula, pada cairan terdapat campuran A dan B, dimana karakteristik
dari komponen-komponen tersebut adalah komponen A lebih mudah
menguap (volatil) dibanding komponen B.Komposisi dari kedua
komponen tersebut dinyatakan dengan fraksi mol.Untuk fase cair
komponen A dinyatakan dengan xA, sedangkan komponen B dinyatakan
dengan xB.

8.
9. 2. Campuran diuapkan sebagian, uap dan cairannya dibiarkan dalam
keadaan setimbang.
10. 3.Uap dipisahkan dari cairannya dan dikondensasi; maka didapat dua
cairan,cairan I dan cairan II. Cairan I mengandung lebih sedikit komponen
A (lebih mudah menguap) dibandingkan cairan II

11.

12. Pada kondisi diatas, dari campuran dua komponen cairan (campuran biner)
akan didapat dua cairan yang relatif murni.Hal ini dapat terlaksana,apabila
beda titik didih dari kedua komponen tersebu relatif besar.Apabila
perbedaan titik didih dari kedua komponen tersebut tidak terlalu jauh,maka
perlu dilakukan proses penyulingan sebagaimana ditunjukkan pada
gambar 4.62.
13. Pada gambar 4.62 merupakan contoh alat penyuling (distillation) kontinyu
(sinambung). Pada gambar tersebut terlihat pendidih ulang (reboiler) yang
mendapat umpan berupa zat cair secara kontinyu yang merupakan
komponen yang akan dipisahkan. Karena adanya panas yang masuk
(pemanasan) pada pendidih-ulang, maka zat cair masuk akan diubah
sebagian menjadi uap, dalam hal ini uap akan kaya dengan komponen
yang volatil (mudah menguap).
14. Apabila perbedaan titik didih dari komponen tersebut relatif tinggi, maka
uapnya hampir merupakan komponen murni.Akan tetapi apabila
perbedaan titik didih dari komponen tersebut,tidak terlalu besar,maka uap
merupakan campuran dari beberapa komponen.Kemudian uap campura
tersebut dikondensasikan, kemudian zat cair hasil kondensasi,sebagian
dikembalikan kedalam kolom, yang disebut dengan refluks.
15. Cairan yang dikembalikan tersebut (refluks) diusahakan agar dapat kontak
secara lawan arah dengan uap, sehingga diharapkan hasil atas (over head)
akan meningkat kemurniannya. Untuk mendapatkan kondisi tersebut
(kemurnian meningkat),diperlukan uap yang banyak agar dapat digunakan
sebagai refluks dan hasil atas. Kondisi tersebut harus diimbangi dengan
panas yang masuk pada reboiler harus besar (ditingkatkan). Hal ini perlu
dipertimbangkan, khususnya dalam rangka penghematan energi.

16.

17.
18. Dalam distilasi, fase uap yang terbentuk setelah larutan dipanasi, dibiarkan
kontak dengan fase cairannya sehingga transfer massa terjadi baik dari
fase uap ke fase cair maupun dari fase cair ke fase uap sampai terjadi
keseimbangan antara kedua fase. Setelah keseimbangan tercapai,kedua
fase kemudian dipisahkan. Fase uap setelah dikondensasikan dalam
kondensor disebut sebagai distilat sedangkan sisa cairannya disebut

residu.Distilat mengandung lebih banyak komponen yang volatil (mudah


menguap) dan residu mengandung lebih banyak komponen yang kurang
volatil.