Anda di halaman 1dari 7

MATERI PELATIHAN

KADER SEBAGAI PELOPOR, PELANGSUNG DAN


PENYEMPURNA AMANAH ORGANISASI
Johan Irawan, S.E.
KADERISASI ORGANISASI
Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena
merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa
kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat
bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan
dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur
kerja yang mandiri dan berkelanjutan.
Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang
siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu
organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai
keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di
atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi
dalam kerangka kebangsaan, Bahwa kaderisasi sama artinya dengan
menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan,
pemimpin pada masanya harus menanam.
Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu organisasi dapat
dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi
(subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama,
subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau
sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan
kebijakan-kebijakannya
yang
melakukan
fungsi
regenerasi
dan
kesinambungan tugas-tugas organisasi.
Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian
lain adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan
visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses
kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam
pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas
dan matang secara intelektualdanpsikologis.
Sebagai subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah
seorang pemimpin. Bagi Bung Hatta, kaderisasi sama artinya dengan
edukasi, pendidikan! Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan
formal, atau dalam istilah Hatta sekolah-sekolahan, melainkan dalam
pengertian luas. Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik.
Jadi, seorang pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa dan etos
seorang pendidik. Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang
yang dipimpinnya serta memberi inspirasi dan membangun keberanian hati
orang yang dipimpinnya agar mampu berkarya secara maksimal dalam
lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek dari proses kaderisasi,
sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk
melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-bangunnya
organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan mereka
secara intens dalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk
melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh
para pendahulu-pendahulunya.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam hal kaderisasi adalah
potensi dasar sang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat
dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya
terhadap problema-problema sosial lingkungannya.
Jadi, di sana ada semacam landasan berfikir atau filosofi kaderisasi yang
harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi/pergerakan. Yaitu:
harus ditemukan upaya mencari bibit-bibit unggul dalam kaderisasi. Subyek
harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas dan memikat,

Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25

MATERI PELATIHAN

serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang bagi para


kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat
mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi. Untuk dapat
menjalankan peran tersebut, maka organisasi atau sebuah pergerakan harus
terlebih dahulu mematangkan visi-misi mereka; dan termasuk sikap mereka
terhadap persoalan mendesak dan aktual kemasyarakatan; serta pada saat
yang sama tersedianya para pengkader yang handal, untuk menggarap
bibit-bibit potensial tadi.
Kader-kader potensial, setelah mereka memahami dan meyakini
pandangan dan sistem yang telah diinternalisasikan, maka jiwanya akan
terpacu untuk bekerja, berkarya dan berkreasi seoptimal mungkin. Maka, di
sini, organisasi/pergerakan dituntut untuk dapat mengantisipasi dan
menyalurkannya
secara
positif.
Dan
memang
sepatutnya
organisasi/pergerakan mampu melakukannya, karena bukankah yang
namanya organsiasi/pergerakan berarti terobsesi progresif bergerak maju
dengan satu organisasi yang efisien dan efektif, bukan sebaliknya?
Belakangan ini, sudah dimulai upaya ke arah kaderisasi yang
berorientasi pada karya dan aksi sosial dalam level general, berupa
penumbuhan dan stimulasi etos intelektual dan sosial. Jadi, bagaimana
menggabungkan atau menemukan konvergensi yang ideal antara aktifitas
berpikir (belajar) sebagaientitas mahasiswadan aktifitas aksi sosial
sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif. Dengan kata lain,
harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai tekstual-normatif tadi
dengan realitas-kontekstualnya.
Al kulli hl, tampaknya perlu dicermati kembali urgensi dari kaderisasi
berkala yang dilakukan oleh organisasi apapun. Kaderisasi merupakan
kebutuhan internal organisasi yang tidak boleh tidak dilakukan. Layaknya
sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan pergantian disana. Namun
satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang
komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya
mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih
penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala
dimensinya.
Sukses atau tidaknya sebuah institusi organisasi dapat diukur dari
kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya.
Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader
yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk
masa depan. Wallh-u Alam Bi al-Shawb
KENAPA HARUS ADA KADERISASI?
Peran kaderisasi:
1) Pewarisan nilai-nilai organisasi yang baik
Proses transfer nilai adalah suatu proses untuk memindahkan
sesuatu (nilai) dari satu orang ke orang lain (definisi Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Nilai-nilai ini bisa berupa hal-hal yang tertulis atau yang sudah
tercantum dalam aturan-aturan organisasi (seperti Konsepsi, AD ART, dan
aturan-aturan lainnya) maupun nilai yang tidak tertulis atau budayabudaya baik yang terdapat dalam organisasi (misalnya budaya diskusi)
maupun kondisi-kondisi terbaru yang menjadi kebutuhan dan keharusan
untuk ditransfer.
2) Penjamin keberlangsungan organisasi
Organisasi yang baik adalah organisasi yang mengalir, yang berarti
dalam setiap keberjalanan waktu ada generasi yang pergi dan ada
generasi yang datang (ga itu-itu aja, ga ngandelin figuritas). Nah,
keberlangsungan organisasi dapat dijamin dengan adanya sumber daya
manusia yang menggerakan, jika sumber daya manusia tersebut hilang
maka dapat dipastikan bahwa organisasinya pun akan mati. Regenerasi
Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25

MATERI PELATIHAN

berarti proses pergantian dari generasi lama ke generasi baru, yang


termasuk di dalamnya adanya pembaruan semangat.
3) Sarana belajar bagi anggota
Tempat di mana anggota mendapat pendidikan yang tidak didapat di
bangku pendidikan formal.
Pendidikan itu sendiri berarti proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau sekelompok orang dalam proses mendewasakan manusia
melalui proses pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan di sini mencakup dua hal yaitu pembentukan dan
pengembangan. Pembentukan karena dalam kaderisasi terdapat outputoutput yang ingin dicapai, sehingga setiap individu yang terlibat di dalam
dibentuk karakternya sesuai dengan output. Pengembangan karena setiap
individu yang terlibat di dalam tidak berangkat dari nol tetapi sudah
memiliki karakter dan skill sendiri-sendiri yang terbentuk sejak kecil,
kaderisasi memfasilitasi adanya proses pengembangan itu.
Pendidikan yang dimaksudkan di sini terbagi dua yaitu dengan
pengajaran (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada karakter)
dan pelatihan (yang dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada skill).
Dengan menggunakan kata pendidikan, kaderisasi mengandung
konsekuensi adanya pengubahan sikap dan tata laku serta proses
mendewasakan. Hal ini sangat terkait erat dengan proses yang akan
dijalankan di tataran lapangan, bagaimana menciptakan kaderisasi yang
intelek untuk mendekati kesempurnaan pengubahan sikap dan tata laku
serta pendewasaan.
POSISI KADERISASI:
1. Strategis
Definisi dalam KBBI, rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk
mencapai sasaran khusus. Perlu ada perencanaan yang matang dalam
organisasi agar tujuannya tercapai, salah satunya adalah kaderisasi yang
baik.
Bila kaderisasi baik, berarti internal organisasi tersebut baik. Bila
internal kaderisasinya sudah baik, semua tujuan organisasi bisa tercapai
dan bisa ekspansi ke wilayah eksternal.
2. Vital
Ini menunjukkan urgensi dari kaderisasi. Jika, kaderisasi mati, cepat
atau lambat organisasi pun akan mati karena organisasi tidak
berkembang dan tidak mampu mengaktualisasi dirinya.
FUNGSI KADERISASI:
1. Melakukan rekrutmen anggota baru
Penanaman awal nilai organisasi agar anggota baru bisa paham dan
bergerak menuju tujuan organisasi.
3. Menjalankan proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan anggota
Membina anggota dalam setiap pergerakkannya. Menjaga anggota
dalam nilai-nilai organisasi dan memastikan anggota tersebut masih
sepaham dan setujuan. Mengembangkan skill dan knowledge anggota
agar semakin kontributif.
4. Menyediakan sarana untuk pemberdayaan potensi anggota sekaligus
sebagai pembinaan dan pengembangan aktif
Kaderisasi akan gagal ketika potensi anggota mati dan anggota tidak
terberdayakan.
5. Mengevaluasi dan melakukan mekanisme kontrol organisasi
Kaderisasi bisa menjadi evaluator organisasi terhadap anggota.
Sejauh mana nilai-nilai itu terterima anggota, bagaimana dampaknya, dan
sebagainya. (untuk itu semua, diperlukan perencanaan sumber daya
anggota sebelumnya)
Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25

MATERI PELATIHAN

ASPEK KADERISASI:
Kaderisasi haruslah holistik. Banyak aspek yang harus tersentuh oleh
kaderisasi untuk menghasilkan kader yang ideal. Aspek tersebut adalah
1. Fisikal (kesehatan)
2. Spiritual (keyakinan, agama, nilai)
3. Mental (moral dan etika, softskill, kepedulian)
4. Intelektual (wawasan, keilmuan, keprofesian)
5. Manajerial (keorganisasian, kepemimpinan)
Dari setiap aspek, harus ada sinergi dan keseimbangan agar tiap aspek
bisa menunjang aspek yang lainnya sehingga potensi si kader
teroptimalisasi.
BENTUK KADERISASI:
1. Kaderisasi pasif
Kaderisasi pasif dilakukan secara insidental dan merupakan masa untuk
kenaikan jenjang anggota. Pada momen ini, anggota mendapatkan
pembinaan learning to know dan sedikit learning to be. Pembinaan
pasif sangat penting dan efektif dalam pembinaan dan penjagaan.
2. Kaderisasi aktif
Yaitu kaderisasi yang bersifat rutin dan sedikit abstrak, karena pada
kaderisasi ini, anggotalah yang mencari sendiri materi-nya. Pada momen
ini, anggota mendapatkan pembinaan learning to know, learning to do,
dan learning to be sekaligus. Maka dalam hal ini sangat penting untuk
dipahami, bahwa setiap rutinitas kegiatan, haruslah memberdayakan
potensi
anggota
sekaligus
menjadi
bentuk
pembinaan
dan
pengembangan aktif bagi anggota. Kaderisasi ini sangat baik dalam
proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan secara sistematis.
PROFIL KADER:
Terkadang, orang-orang yang subjek kaderisasi (panitia) tidak memberi
tahu kepada objek kaderisasi (peserta), kader yang seperti apa yang ingin
dibentuk atau dicapai. Hal tersebut menyebabkan terjadi distorsi
keberterimaan. Bisa jadi hal-hal penting yang diberikan tidak diterima oleh
objek kaderisasi Tetapi itu masih lebih baik, dibanding tidak ada output kader
yang ingin dicapai. Yang penting tujuan organisasi tercapai, atau yang lebih
parah, yang penting ada kaderisasi.
Profil kader termasuk ke dalam hal-hal yang harus disiapkan atau
ditargetkan prakaderisasi. Profil ini bisa terkait dalam 4 hal (contoh saja):
1) Berhubungan dengan diri si kader (pengembangan diri kader: wawasan,
kemampuan)
2) Berhubungan dengan organisasi (kader yang mau berkontribusi untuk
organisasi)
3) Berhubungan dengan masyarakat (kader yang bisa menjadi solusi bagi
permasalahan bangsa)
4) Berhubungan dengan basis organisasi (kader harus sesuai dengan basis
organisasi, misal: keilmuan, keprofesian, minat, bakat)
Profil kader ini tidak hanya digunakan ketika kaderisasi yang bersifat
insidental saja (event), tetapi juga kaderisasi berkelanjutan yang beriringan
dengan aktivitas organisasi.
Selain itu, tidak cukup hanya menjadikan calon kader menjadi objek
kaderisasi. Sebaiknya kita juga melakukan sesuatu kepada lingkungan atau
suasana di sekitar calon kader agar lebih kondusif untuk mencapai profilprofil ini. Misal, pengkader harus telah mencapai profil si calon kader.
Sehingga calon kader memiliki role model langsung (bisa terjadi percepatan
pembelajaran).

Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25

MATERI PELATIHAN

PERAN PENTING KADERISASI DALAM MEMPERKOKOH ORGANISASI


Saya ingin mengawali tulisan ini dengan perkataan aristoteles di dalam
bukunya yang berjudul La Politic bahwa setiap imperium yang tidak mampu
memberikan pendidikan bagi generasi berikutnya maka tunggu saja
waktunya imperium itu akan mengalami masa kehancuran. Begitu
pentingnya pendidikan sehingga apabila kita berbicara pendidikan maka
sama pentingnya dengan membicarakan keberlangsungan organisasi,
imperium atau bentuk kumpulan manusia apa pun.
Sebuah negara hanya akan besar apabila negara tersebut memiliki
sumber daya manusia yang berkualitas untuk berpartisipasi dalam jalannya
roda kenegaraan. Tentu sumber daya manusia barulah mengalami kualifikasi
ketika manusia-manusia-nya diberikan pendidikan yang baik pula. Pendidikan
merupakan satu-satunya instrument untuk mencetak sumber daya manusia
yang berkualitas, terlepas apa pun bentuk dan metodenya. Anggap saja kita
diberikan hak untuk mengkategorikan mana saja negara-negara di dunia ini
yang bisa diklasifikasikan sebagai negara maju, maka apa yang akan kita
jadikan tolak ukur untuk menilainya? Kalau pembaca menanyakan kepada
saya hal tersebut, tentu dengan segera saya menjawab bahwa pendidikan
adalah tolak ukur utama apakah negara dapat dikatakan maju atau tidak.
Indonesia di dalam preamble UUD 1945 tegas diguratkan bahwa negara
dibangun yakni salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Juga dikatakan agar pemerintah mengalokasikan minimal 20%
anggaran di dalam APBN sebagai bentuk realisasi pembangunan sumber
daya manusia lewat pendidikan yang baik walau penganggaran saja tidaklah
cukup tanpa disertai dengan pembenahan di sisi lainnya seperti
infrastruktur, kualitas pengajar, kurikulum yang baik serta suasana hidup di
lingkungan pendidikan tersebut. Mari kita sejenak bercermin kepada negara
kecil yang kemajuannya sangat pesat di wilayah asia tenggara. Singapuara
misalnya, negara ini seperti yang pernah dikatakan oleh Prof Goh Chor Boon
Wakil Direktur NIE (National Institute of Education), salah satu lembaga
pendidikan pemerintah terbesar di Singapura, yang mengatakan. Kami tidak
punya sumber daya alam, kami tidak punya tambang, kami hanya punya
human resourses. Kalau kami tidak punya pendidikan yang baik maka kami
tidak akan bertahan. Penegasan ini, tampaknya bisa dilihat dari anggaran
pendidikan Singapura kedua tertinggi setelah anggaran pertahanan. Data
tahun 2003: anggaran pendidikan Singapura mencapai 27%, Malaysia 22%
dan 2008 mencapai 26%, sementara Thailand 21%. Malaysia yang dulu
mengimpor guru Indonesia, telah jauh melesat. Dengan komposisi anggaran
yang besar, pemerintahnya sukses menanggung beasiswa pelajar dan
mahasiswa di luar negeri. Dan Singapura Si Negara Kota, mengaku telah
melewati fase Pembangunan Landasan Riset dan Pengembangan sejak lama,
yang ditandai salah satunya dengan pendirian Dewan Teknologi dan Sains
Nasional tahun 1991.
Dalam konteks partai, kita juga bisa melihat pola pendidikan atau
kaderisasi yang diterapkan untuk membangun kader-kader yang diharapkan
menjalankan visi-misi partai. Lemahnya kaderisasi di dalam partai akan
berdampak langsung terhadap melemahnya partai. Tanpa kader yang kuat
tidak ada organisasi kokoh bisa terbentuk, begitu juga sebaliknya tanpa
organisasi yang kokoh sulitlah melakukan kaderisasi yang baik. Sudah
barang tentu kedua hal tersebut harus berjalan seiring layaknya mobil dan
bensin dimana tanpa salah satu maka keduanya tidak akan bermakna apaapa.
Saya ingin mengajak pembaca untuk sedikit bersantai ria bercerita
tentang film three hundreds (300) yang mengisahkan tentang perjuangan
300 pejuang spartan yang mempertahankan tanah air dari serangan bangsa
luar. Kita tidaklah perlu mempersoalkan apakah hal tersebut benar-benar
pernah terjadi atau tidak, karena saya hanya bermaksud untuk menstimulir
Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25

MATERI PELATIHAN

kita dalam berimajinasi tentang kaderisasi. Lihatlah film tersebut, bangsa


spartan hanya menggunakan 300 pejuang dalam peperangan melawan
ribuan musuh-musuhnya dengan senjata yang lengkap. Apa yang membuat
pejuang-pejuang tersebut mampu mengimbangi musuh dalam peperangan
tersebut. Kita bisa melihat mereka memiliki strategi yang kuat, strategi yang
membaca dan memanfaatkan medan peperangan dengan baik demi
keuntungan barisannya. Mereka juga memiliki kedisiplinan gerakan dan
ketaatan komando serta koordinasi yang baik antar setiap personil sehingga
formasi-formasi barisan dengan mudah dibentuk dan memang benar-benar
kokoh. Kedisiplinan dan militansi benar-benar terlihat dan merasuki setiap
jiwa pejuang tersebut, terlebih film ini menggambarkan nyawa dari
keberanian pejuang-pejuang tersebut yakni rasa cinta mereka terhadap
tanah air dan bangsa yang kita kenal dengan nasionalisme. Itulah yang
menjadi nyawa dari keberanian para pejuang-pejuang sparta.
Baiklah kita tafikan sejenak persoalan fantasi film yang barusan kita
bicarakan, mari kita sejenak memperhatikan realita kehidupan yang terjadi
di dunia ini. Ketika kita terlahir ke dunia ini, kita langsung dihadapkan pada
alam dimana kita harus beradaptasi dan berinteraksi dengan segala sesuatu
di luar kita. Kita yang tadinya tidak bisa berbahasa kemudian perlahan
diberikan sentuhan linguistik oleh pertama-tama ibu, lalu oleh lingkungan
sekitar, sampai kita mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa,
tadinya yang kita hanya bisa terbaring kemudian mampu untuk berjalan
bahkan berlari, awalnya kita minum asi kemudian kita bisa memakan nasi.
Saya menceritakan ini agar pembaca melihat realitas terdekat bahwa
sesungguhnya kita dari sejak lahir hingga saat ini telah mengalami
perkembangan diri, sekali lagi saya katakan apapun cara dan media yang
membuat kita berkembang tidaklah begitu saya persoalkan, karena itu
relatif, namun hal terpenting yang mau sampaikan bahwa proses
perkembangan tersebut bisa kita katakan kaderisasi dalam konteks luas.
Atau lebih ekstrim lagi, seluruh proses kehidupan yang ada di dunia ini
apapun bentuknya, disadari atau tidak, bila kita pandang dari segala
perspektif merupakan bentuk kaderisasi. Pernyataan tersebut senada
dengan pernyataan yang pernah dilontarkan oleh bapak pendidikan nasional
KI HAJAR DEWANTARA bahwa semua adalah guru, dan setiap tempat adalah
perguruan.
Marilah sedikit kita persempit konteks pembicaraan kita dalam lingkup
organisasi. Tidak perlu saya jelaskan lebih panjang terkait apa itu organisasi?
Dan kenapa pembahasannya harus dibedakan dengan komunitas atau
kumpulan-kumpulan lain. Cukuplah kita mengetahui bahwa organisasi
merupakan sekumpulan orang yang memiliki tujuan (cita-cita) dan akan kita
capai dengan langkah-langkah tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut
manusia-manusia yang ada di dalamnya diberi aturan-aturan demi
pendisiplinan mencapai tujuan.
Kenapa begitu penting kita harus menata kaderisasi di tubuh organisasi?
Ini yang harus kita jawab dengan lantang dan tegas agar kita memiliki arah
dalam mengarungi samudra pemakanaan terhadap satu kata yakni
kaderisasi. Di atas telah kita ulas bahwa organisasi memiliki tujuan.
Bagaimana tujuan itu dapat tercapai apabila sekumpulan orang tersebut
tidak memahami secara utuh apa tujuannya dan bagaimana langkah-langkah
mencapai tujuan. Lalu apakah ketika mereka tahu secara utuh tentang
tujuan dan langkah-langkah mencapai tujuan dengan sendirinya kita akan
mau bergerak mewujudkan cita-cita organisasi? Kemauan mensyaratkan
adanya semangat, dan tentulah mereka yang ada di organisasi harus
dibangkitkan semangatnya untuk merealisasikan tujuan organisasi. Kita
andaikan saja semua orang di dalam tubuh organisasi telah memiliki
semangat dan kemauan untuk mengimplementasikan tujuan, saya kemudian
bertanya sekali lagi, apakah setelah mereka memiliki pengetahuan tentang
Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25

MATERI PELATIHAN

tujuan, semangat untuk mencapai tujuan, dan mau untuk mencapai tujuan
itu dengan sendirinya kita akan melakukan pergerakan? Saya tegaskan
belum tentu. Kita harus melihat variabel resiko di dalamnya. Setelah mereka
tahu, semangat dan mau dan kemudian mereka dihadapkan kepada resikoresiko tertentu, mungkin timbul kebimbangan untuk bergerak di jalan yang
sudah ditentukan. Oleh karena itu tahap mau haruslah dirubah menjadi
tahapan bertindak atau bergerak dan hal tersebut mensyaratkan adanya
pengorbanan.
Mungkin pembaca menganggap hal diatas adalah pembahasan yang
biasa-biasa saja dan dirasa kurang penting. Tapi saya ingin tegaskan
persoalan ini bukanlah persoalan yang sederhana namun membutuhkan
usaha yang super berat dalam membangunnya. Ucapan saya seirama
dengan apa yang telah diucapkan oleh bung karno ketika dia berbicara di
depan rakyat tentang tahapan-tahapan itu. Apa tahapan-tahapan itu?
Tahapan itu dalam konteks nasional dikumandangkan bung karno dengan
peristilahan national spirit meningkat menuju national will hingga mencapai
nasional daad. Berulang-ulang kali beliau menyampaikan itu kepada rakyat
bukan sekedar jargon tetapi hal tersebut mengindikasikan betapa besar
usaha yang diperlukan untuk membangunnya.

Latihan Kepemimpinan PC.Pemuda Muslim Kab.Banjarnegara ( Banjarnegara 24-25