Anda di halaman 1dari 23

TITIK LELEH DAN TITIK DIDIH I.

TUJUAN PERCOBAAN
1.
Menentukan titik leleh beberapa zat 2.
Menentukan titik didih beberapa zat
II.
DASAR TEORI 1.
Titik Leleh
Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah wujud menjadi zat cair pada tekanan
satu atmosfer . Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik leleh tidak begitu besar karena pada
wujud padat jarak antarmolekul cukup berdekatan dan yang paling berperan terhadap titik
leleh adalah berat molekul zat dan bentuk simetris molekul. Titik leleh senyawa organik
mudah untuk diamati sebab temperatur dimana pelelehan mulai terjadi hampir sama dengan
temperatur dimana zat telah habis meleleh semuanya. Jika zat padat yang diamati tidak murni
, maka akan terjadi penyimpangan dari titik leleh senyawa murninya yang berupa penurunan
titik leleh dan perluasan range titik leleh. Misal suatu asam murni diamati titik lelehnya pada
temperatur 122,1
o
C

122,4
o
C dari titik lelehnya 122,2
o
C. Penambahan 20% zat padat lain akan mengakibatkan perubahan titik lelehnya menjadi
115
o
C - 119
o
C dari 122,1
o
C

122,4
o
C . ( Rata-rata titik lelehnya lebih rendah 5
o
C dan range temperaturnya berubah menjadi 4
o
C dari 0,3 oC ) Unsur halogen terikat oleh gaya Van der Waals yang lemah, gaya ini
bertambah jika jari-jari bertambah besar , oleh sebab itu titik leleh bertambah besar dari atas
ke bawah dalam satu golongan. Kekuatan ikatan logam bertambah dari kiri ke kanan ,
sehingga titik leleh bertambah dari kiri ke kanan dalam satu periode. Gas mulia memliki
ikatan Van der Waals yang sangat lemah , sehingga titik lelehnya sangat kecil.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebanyakan senyawa organik yang berwujud kristal mempunyai titik
leleh cukup rendah sehingga mudah ditetapkan dengan alat sederhana.
Kimiawan organik secara rutin menggunakan titik leleh untuk membantu
menidentifikasikan senyawa kristal dan untuk mendapat keterangan
tentang kemurniannya. Misalnya jika senyawa x yang titik lelehnya tajam
dicurigai sama dengan senyawa a yang diketahui, maka kedua senyawa
tersebut harus mempunyai titik leleh yang sama. Jika a dilaporkan
didalam pustaka memiliki titik leleh yang nyata berbeda dengan hasil
pengamatan

terhadap

x,

dapat

dipastikan

bahwa

kedua

struktur

senayawa tadi tidak sama. Jika selisih titik leleh kedua hanya berbeda
beberapa derajat, dapat diperikarakan kedua senyawa sama.
Jika tersedia dalam contoh senyawa a, dengan anda menentukan
apakah x sama dengan a, yaitu dengan menentukan titik leleh campuran.
Campuran x dan a harus memiliki titik leleh senyawa murinya apabila
kedua senyawa tidak sama. Apabila x tidak sama dengan a maka
campuran zat akan mempunyai titik leleh lebih rendah dan kisaran leleh
yang lebih lebar.
Beberapa jenis radas yang dapat digunakan untuk penetapan titik
leleh digambarkan pada gambar 1.jika radas (a) yang digunakan, buatlah
gelas pengaduk yang melingkar. Lingkaran harus dibuat sedemikian rupa
sehingga mudah diangkat dan di turunkan dalam gelas piala 150 ml.
Buatlah pegangan pada salah satu ujungnya. Pengaduk ini berfungsi
untuk mempertahankan sebaran panas yang merata. Lubangi sebuah
gabus untuk menyisipkan termometer 3600C kemudian dengan pisau yang
tajam potong sebagian dari gabus untuk menyisipkan termometer 360 0c
kemudian dengan pisau yang tajam potong sebagian dari gabus agar
guratan pada batang termometer jelas terlihat. Gelas karet dapat
digunakan untuk mencegah jatuhnya termometer. Gelas piala perlu
diklem dibagian atas untuk mencegah tumpaknya minyak panas. Masukan
sekitar 80 ml minyak mineral kedalam gelas piala. Turunkan termometer

ke tengah penangas sampai bola berada sekitar 1 cm diatas gelas dan


tidak menganggu gerakan gelas pengaduk. Gelas karet pengikat tabung
kapiler harus berada diatas permukaan minyak. Kalau tidak, gelang akan
memuai dan tabung terlepas dari termometer.
B. Tujuan Percobaan
Menentukan titik leleh beberapa zat sampel senyawa organik.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu zat yang tampil sebagai zat padat, tetapi tidak mempunyai struktur kristal yang
berkembangbiak disebut amorf (tanpa bentuk). Ter dan kaca merupakan zat padat semacam
itu. Tak seperti zat padat kristal, zat amorf tidak mempunyai titik-titik leleh tertentu yang
tepat. Sebaliknya zat amorf melunak secara bertahap bila dipanasi dan meleleh dalam suatu
jangka temperatur .Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-permukaan datar.
Karena banyak zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam bentuk-bentuk yang jelas
simetris, telah lama para ilmuwan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat padat ini
juga tersusun secara simetris (Keenan, 1991).
Zat padat umumnya mempunyai titik lebur yang tajam (rentangan suhunya kecil),
sedangkan zat padat amorf akan melunak dan kemudian melebur dalam rentangan suhu yang
beasr. Partikel zat padat amorf sulit dipelajari karena tidak teratur. Oleh sebab itu,
pembahasan zat padat hanya membicarakan kristal. Suatu zat mempunyai bentuk kristal
tertentu.
Dalam laporan akhir praktikum kimia organik I ini, akan di bahas mengenai titik leleh
dari zat padat kristal yaitu naftalena.
1.2 Tujuan Percobaan
1. Menentukan kemurnian suatu zat
2. Mengetahui titik leleh suatu zat berdasarkan percobaan

BAB II
DASAR TEORI

Ketika suatu zat padat dipanaskan maka zat padat akan meleleh. Dengan kata lain
pada suhu tertentu zat padat mulai meleleh dan dengan kenaikan sedikit suhu semua zat padat
akan berubah fasa menjadi cair. Suatu zat padat mempunyai molekul-molekul dalam bentuk
kisi yang teratur dan diikat oleh gaya-gaya gravitasi dan elektrostatik. Bila zat tersebut
dipanaskan, energi kinetik dari molekul-molekul tersebut akan naik. Hal ini akan
mengakibatkan molekul bergetar yang akhirnya pada suatu suhu tertentu ikatan-ikatan
molekul tersebut akan terlepas, maka zat padat akan meleleh.
Titik leleh (sebenarnya trayek titik leleh) adalah suhu yang teramati ketika zat padat
mulai meleleh sampai semua partikel berubah menjadi cair. Titik leleh senyawa murni adalah
temperatur dimana zat padat berubah wujud menjadi zat cair pada tekanan satu atmosfer.
Dengan kata lain, titik leleh merupakan suhu ketika fase padat dan cair sama-sama berada
dalam kesetimbangan. Kalor diperlukan untuk transisi dari bentuk kristal, pemecahan kisi
kristal, sampai semua berbentuk cair. Proses pelelehan ini dalam kesetimbangan atau
reversible. Untuk melewati proses ini memerlukan waktu dan sedikit perubahan suhu.
Perubahan tekanan tidak mempengaruhi titik leleh suatu zat mengalami perubahan
yang berarti. Pengaruh ikatan hidrogen terhadap titik leleh tidak begitu besar karena pada
wujud padat jarak antar molekul cukup berdekatan dan yang paling berperan terhadap titik
leleh adalah berat molekul zat dan bentuk simetris molekul. Titik leleh senyawa organik
mudah untuk diamati sebab temperatur dimana pelelehan mulai terjadi hampir sama dengan
temperatur dimana zat telah habis meleleh semuanya.
Jika zat padat yang diamati tidak murni, maka akan terjadi penyimpangan dari titik
leleh senyawa murninya yang berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik leleh.
Misal suatu asam murni diamati titik lelehnya pada temperatur 122,1 o C-122,4 o C
dari

titik

lelehnya

122,2 o C.

Penambahan

20%

zat

padat

lain

akan

mengakibatkan perubahan titik lelehnya menjadi 115oC - 1 1 9 oC dari 122,1 oC


122,4 oC.

Rata-rata

titik

lelehnya

lebih

rendah

5 oC

dan

range

temperaturnya berubah menjadi 4oC dari 0,3oC .


Makin murni senyawa tersebut, trayek (range) suhu lelehnya makin sempit, biasanya
tidak lebih dari 1 derajat. Adanya zat asing di dalam suatu kisi akan mengganggu struktur
kristal keseluruhannya, dan akan memperlemah ikatan-ikatan di dalamnya. Akibatnya titik
leleh senyawa (tidak murni) ini akan lebih rendah dari senyawa murninya, dan yang paling
penting adalah trayek lelehnya yang makin lebar. Penentuan tititk leleh suatu senyawa murni
ditentukan dari pengamatan trayek titik lelehnya, dimulai saat terjadinya pelelehan (sedikit),
transisi padat-cair, sampai seluruh kristal mencair Hal ini dilakukan terhadap sedikit kristal

(yang sudah digerus halus) yang diletakan dalam ujung baawah pipa gelas kapiler, lalu
dipanaskan secara merata dan perlahan di sekitar kapiler ini. Pengukuran suhu harus tepat di
tempat zat tersebut meleleh.
Pada unsur alkali memiliki satu elektron ikatan dan bertambah lemah jika jari-jari
bertambah besar, hal ini menyebabkan titik leleh berkurang dari atas kebawah dalam satu
golongan. Unsur halogen terikat oleh gaya Van Der Waals yang lemah gaya ini bertambah
jika jari-jari bertambah besar , oleh sebab itu titik leleh bertambah besar dari
atas ke bawah dalam satu golongan. Kekuatan ikatan logam bertambah dari kirike kanan ,
sehingga titik leleh bertambah dari kiri ke kanan dalam satu periode. Gas
mulia memliki ikatan Van der Waals yang sangat lemah , sehingga titik lelehnya
sangat kecil. Titik leleh pada gas mulia ditentukan oleh besarnya nomor atom. Semakin besar
nomor atom maka titik lelehnya semakin tinggi. Sementara itu titik leleh dari karbon sangat
tinggi.
Dalam menentukan titik leleh suatu zat, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
cepat atau lambatnya zat tersebut meleleh adalah :
1. Ukuran Kristal
Ukuran kristal sangat berpengaruh dalam menentukan titik leleh suatu zat. Apabila
semakin besar ukuran partikel yang digunakan, maka semakin sulit terjadinya pelelehan.
2. Banyaknya sampel
Banyaknya sampel suatu zat juga dapat mempengaruhi cepat lambatnya proses pelelehan.
Hal ini dikarenakan apabila semakin sedikit sampel yang digunakan, maka semakin cepat
proses pelelehannya. Begitu pula sebaliknya jika semakin banyak sampel yang digunakan
maka semakin lama proses pelelehannya.
3. Pengemasan dalam kapiler.
Pemanasan dalam suatu pemanas harus menggunakan bara api atau panas yang
bertahan.
Adanya senyawa lain yang dapat mempengaruhi range titik leleh.

BAB II
DASAR TEORI
Titik leleh didefinisikan sebagai temperatur dimana zat padat
berubah menjadi cairan pada tekanannya satu atmosfer. Titik leleh suatu
zat padat tidak mengalami perubahan yang berarti dengan adanya
perubahan tekanan. Oleh karena itu tekanan biasanya tidak dilaporkan
pada penentuan titik leleh , kecuali kalau perbedaan dengan tekanan
normal terlalu besar. Pada umumnya titik leleh senyawa organic mudah
diamati sebab temperatur dimana pelelehan mulai terjadi hampir sama
dengan temperatur dimana zat telah meleleh semuanya. Contohnya :
suatuzat dituliskan dengan range titik leleh 122,1- 122,4C dari pada titik
lelehnya 122,2C.
Jika zat padat yang diamati tidak murni , maka akan terjadi
penyimpangan dari titik leleh senyawa murninya. Penyimpangan itu
berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik leleh. Misalnya :
suatu asam murni diamati titik lelehnya pada temperatur 122,1C
122,4C penambahan 20% zat padat lain akan mengakibatkan perubahan
titik lelehnya dari temperatur 122,1C 122,4C menjadi 115C - 119C.
Rata rata titik lelehnya lebih rendah 5C dan range temperatur akan
berubah dari 0,3C jadi 4C.
Atom-atom unsur alkali terikat dalam struktur terjenjal oleh ikatan
logam yang lemah, karena setiap atom hanya mempunyai satu elektron
ikatan dan bertambah lemah jika jari jari bertambah besar. Oleh sebab
itu titik leleh berkurang dari atas ke bawah dalam satu golongan.
Sedangkan pada unsur halogen yang berada dalam keadaan padat berupa
kristal terikat oleh Gaya Van der Waals yang lemah. Gaya ini bertambah
jika jari -jari bertambah besar. Oleh sebab itu titik leleh bertambah dari
atas ke bawah dalam satu golongan. Titik leleh bargant ung pada
kekuatan relatif dari ikatan. Dalam satu golongan unsur transisi dari atas
ke bawah kekuatan ikatan bartambah, jadi titik leleh bertambah. Unsur C
dan Si yang mempunyai struktur kovalen yang sangat besar mempunyai
titik leleh tinggi.
Titik leleh dari gas mulia ditentukan oleh besarnya nomor atom.
Semakin besar nomor atom maka titik lelehnya makin tinggi. Itu berarti
ikatan Van der Waals sangat lemah. Jadi secara umum titik leleh adalah
suhu dimana fase cair dan fase padat dalam keadaan setimbang dimana
tekanan luar sama dengan 1 atm. idealnya titik leleh ini berada dalam 1
titik, namun kenyataannya berada dalam suatu rentang tertentu, biasanya
antara 0,3 0,5 derajat. Hal ini dikarenakan pada zat padat yang akan

dilelehkan tersebut, terdapat zat pengotor, atau pada saat terjadi


pelelehan zat padat mengurai karena tidak stabil.
Titik leleh ini sangat penting karena merupakan standar untuk:
1. Identifikasi senyawa yang tidak diketahui. suatu senyawa yang tidak
diketahui dapat diidentifikasi dengan menentukan titik lelehnya. titik leleh
yamg didapat dari percobaan kemudian dicocokkan dengan literatur yang
ada.
2. Uji kemurnian. senyawa yang telah diketahui namanya untuk lebih
meyakinkan bahwa senyawa yang kita miliki benar merupakan senyawa
yang dimaksud, bisa dilkukan uji kemurnian dengan uji titik leleh.
3. Menentukan berat molekul dari suatu senyawa. senyawa yang belum
diketahui berat molekulnya namun kita mengetahui titik lelehnya, maka
untuk mencari berat molekulnya bisa dilakukan dengan metode rsat.

1.

2.
3.

4.

Dewasa ini telah banyak alat penguji titik leleh yang berkembang
dari mulai yang sederhana sampai yang paling modern. diantaranya
adalah:
Labu kjeldahl, labu yang berisi cairan tangas bersuhu didih tinggi
kemudian dipanaskan diatas pembakar bunsen sambil di aduk-aduk.
prinsip utama dari labu kjeldahl ini adalah dengan menggunakan aliran
konveksi diharapkan terjadi proses distribus i panas dari sumber ke
padatan yang telah dimasukkan ke dalam pipa kapiler sebelumnya.
Alat thiele, memilki prinsip yang sama dengan labu kjeldahl, namun
pemanasan dilakukan di atas penangas listrik. sehingga tidak diperlukan
pengadukan.
Melting block, prinsip utama dari alat ini adalah menggunakan proses
konduksi dari logam untuk penghantaran panas. pada alat ini terdapat
dua luabang di bagian atas yang digunakan untuk menaruh pipa kapiler
dan termometer, sementar dua lubang disamping digunakan untuk
mengamati keadaan padatan yang akan berubah menjadi cairan.
Elektrothermal, merupakan alat yang lebih modern karena pengamatan
sangat mudah dilakukan. ketika mulai dan berakhirnya semua padatan
mencair maka akan terdengar bunyi alarm. sehingga suhunya dapat di
atur, dan pengamatan dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar
untuk lebih meyakinkan bahwa semua padatan telah menjadi cair.
Indonesia, ensiklopedia bebas

Etanol

Nama IUPAC[sembunyikan]
Etanol
Nama lain[sembunyikan]

Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol


absolut
Identifikasi
Nomor CAS
PubChem
Nomor RTECS
SMILES
InChI

[64-17-5]
702
KQ6300000
CCO
1/C2H6O/c1-2-3/h3H,2H2,1H3

Sifat
Rumus molekul
Massa molar
Penampilan
Densitas
Titik lebur
Titik didih
Kelarutan dalam air
Keasaman (pKa)
Viskositas
Momen dipol
Klasifikasi EU

C2H5OH
46,07 g/mol
cairan tak berwarna
0,789 g/cm3
114,3
78,4
tercampur penuh
15,9
1,200 cP (20 C)
1,69 D (gas)
Bahaya
Mudah terbakar (F)

3
1
0

NFPA 704

Frasa-R
Frasa-S
Titik nyala

R11
S2 S7 S16
13 C (55.4 F)
Senyawa terkait

Senyawa terkait

metanol, propanol

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku


pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)
Sangkalan dan referensi

Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah
sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol
yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat
psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol
adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua.
Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus
empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat
menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).

Fermentasi gula menjadi etanol merupakan salah satu reaksi organik paling awal yang pernah
dilakukan manusia. Efek dari konsumsi etanol yang memabukkan juga telah diketahui sejak
dulu. Pada zaman modern, etanol yang ditujukan untuk kegunaan industri dihasilkan dari
produk sampingan pengilangan minyak bumi.[1]
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan untuk
konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan,
dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok
umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan
sebagai bahan bakar.

Daftar isi

1 Sejarah

2 Sifat-sifat fisika

3 Sifat-sifat kimia
o 3.1 Reaksi asam-basa
o 3.2 Halogenasi
o 3.3 Pembentukan ester
o 3.4 Dehidrasi
o 3.5 Oksidasi
o 3.6 Pembakaran

4 Pembuatan
o 4.1 Hidrasi etilena
o 4.2 Fermentasi

5 Sifat Medis

6 Penggunaan

7 Referensi

8 Bacaan lanjutan

9 Pranala luar

Sejarah

Etanol sering digunakan sebagai bahan bakar


Etanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan pemabuk dalam
minuman beralkohol. Residu yang ditemukan pada peninggalan keramik yang berumur 9000
tahun dari Cina bagian utara menunjukkan bahwa minuman beralkohol telah digunakan oleh
manusia prasejarah dari masa Neolitik.[2]
Etanol dan alkohol membentuk larutan azeotrop. Karena itu pemurnian etanol yang
mengandung air dengan cara penyulingan biasa hanya mampu menghasilkan etanol dengan
kemurnian 96%. Etanol murni (absolut) dihasilkan pertama kali pada tahun 1796 oleh Johan
Tobias Lowitz yaitu dengan cara menyaring alkohol hasil distilasi melalui arang.
Lavoisier menggambarkan bahwa etanol adalah senyawa yang terbentuk dari karbon,
hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808 Saussure berhasil menentukan rumus kimia etanol.
Lima puluh tahun kemudian (1858), Couper mempublikasikan rumus kimia etanol. Dengan
demikian etanol adalah salah satu senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus
kimianya.[3]
Etanol pertama kali dibuat secara sintetik pada tahun 1826 secara terpisah oleh Henry Hennel
dari Britania Raya dan S.G. Srullas dari Perancis. Pada tahun 1828, Michael Faraday
berhasil membuat etanol dari hidrasi etilena yang dikatalisis oleh asam. Proses ini mirip
dengan proses sintesis etanol industri modern.[4]
Etanol telah digunakan sebagai bahan bakar lampu di Amerika Serikat sejak tahun 1840,
namun pajak yang dikenakan pada alkohol industri semasa Perang Saudara Amerika
membuat penggunaannya tidak ekonomis. Pajak ini dihapuskan pada tahun 1906,[5] dan sejak
tahun 1908 otomobil Ford Model T telah dapat dijalankan menggunakan etanol.[6] Namun,
dengan adanya pelarangan minuman beralkohol pada tahun 1920, para penjual bahan bakar e
tanol dituduh berkomplot dengan penghasil minuman alkohol ilegal, dan bahan bakar etanol
kemudian ditinggalkan penggunaannya sampai dengan akhir abad ke-20.

Sifat-sifat fisika
Sifat-sifat termofisika dari campuran antara etanol dengan air dan dodekana

Volume berlebih campuran


Kesetimbangan uap-cair
Kalor pencampuran campuran
etanol dengan air (kontraksi
campuran etanol dengan air
etanol dengan air
volume)
(termasuk pula azeotrop)

Kesetimbangan padat-cair dari


campuran etanol dan air
(termasuk eutektikum)

Celah ketercampuran
(miscibility gap) pada
campuran dodekana dan
etanol]]

Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma yang khas. Ia
terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang kadang-kadang tidak dapat terlihat
pada cahaya biasa.
Sifat-sifat fisika etanol utamanya dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil dan
pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat berpartisipasi ke dalam ikatan
hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik
lainnya dengan massa molekul yang sama.

Etanol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut organik lainnya, meliputi
asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dietil eter, etilena glikol,
gliserol, nitrometana, piridina, dan toluena.[7][8] Ia juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang
ringan, seperti pentana dan heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik seperti
trikloroetana dan tetrakloroetilena.[8]
Campuran etanol-air memiliki volume yang lebih kecil daripada jumlah kedua cairan tersebut
secara terpisah. Campuran etanal dan air dengan volume yang sama akan menghasilkan
campuran yang volumenya hanya 1,92 kali jumlah volume awal.[7][9] Pencampuran etanol dan
air bersifat eksotermik dengan energi sekitar 777 J/mol dibebaskan pada 298 K[10].
Campuran etanol dan air akan membentuk azeotrop dengan perbandingkan kira-kira 89 mol%
etanol dan 11 mol% air[11]. Perbandingan ini juga dapat dinyatakan sebagai 96% volume
etanol dan 4% volume air pada tekanan normal dan T = 351 K. Komposisi azeotropik ini
sangat tergantung pada suhu dan tekanan. Ia akan menghilang pada temperatur di bawah 303
K[12].

Ikatan hidrogen pada etanol padat pada 186 C


Ikatan hidrogen menyebabkan etanol murni sangat higroskopis, sedemikiannya ia akan
menyerap air dari udara. Sifat gugus hidroksil yang polar menyebabkannya dapat larut dalam
banyak senyawa ion, utamanya natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium klorida,
kalsium klorida, amonium klorida, amonium bromida, dan natrium bromida.[8] Natrium
klorida dan kalium klorida sedikit larut dalam etanol.[8] Oleh karena etanol juga memiliki
rantai karbon nonpolar, ia juga larut dalam senyawa nonpolar, meliput kebanyakan minyak
atsiri[13] dan banyak perasa, pewarna, dan obat.
Penambahan beberapa persen etanol dalam air akan menurunkan tegangan permukaan air
secara drastis. Campuran etanol dengan air yang lebih dari 50% etanol bersifat mudah
terbakar dan mudah menyala. Campuran yang kurang dari 50% etanol juga dapat menyala
apabila larutan tersebut dipanaskan terlebih dahulu.
Indeks refraksi etanol adalah 1,36242 (pada =589,3 nm dan 18,35 C).[7]

Sifat-sifat kimia
Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Alkohol.

Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan dengan
gugus hidroksil paling tidak memiliki dua hidrogen atom yang terikat dengannya juga. Reaksi
kimia yang dijalankan oleh etanol kebanyakan berkutat pada gugus hidroksilnya.

Reaksi asam-basa
Gugus hidroksil etanol membuat molekul ini sedikit basa. Ia hampir netral dalam air, dengan
pH 100% etanol adalah 7,33, berbanding dengan pH air murni yang sebesar 7,00. Etanol
dapat diubah menjadi konjugat basanya, ion etoksida (CH3CH2O), dengan mereaksikannya
dengan logam alkali seperti natrium:
2CH3CH2OH + 2Na 2CH3CH2ONa + H2
ataupun dengan basa kuat seperti natrium hidrida:
CH3CH2OH + NaH CH3CH2ONa + H2.
Reaksi seperti ini tidak dapat dilakukan dalam larutan akuatik, karena air lebih asam daripada
etanol, sehingga pembentukan hidroksida lebih difavoritkan daripada pembentuk etoksida.

Halogenasi
Etanol bereaksi dengan hidrogen halida dan menghasilkan etil halida seperti etil klorida dan
etil bromida:
CH3CH2OH + HCl CH3CH2Cl + H2O
Reaksi dengan HCl memerlukan katalis seperti seng klorida.[14] Hidrogen klorida dengan
keberadaan seng klorida dikenal sebagai reagen Lucas.[14][15]
CH3CH2OH + HBr CH3CH2Br + H2O
Reaksi dengan HBr memerlukan proses refluks dengan katalis asam sulfat.[14]
Etil halida juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan alkohol dengan agen halogenasi yang
khusus, seperti tionil klorida untuk pembuatan etil klorida, ataupun fosforus tribromida untuk
pembuatan etil bromida.[14][15]
CH3CH2OH + SOCl2 CH3CH2Cl + SO2 + HCl

Pembentukan ester
Kondisi di bawah katalis asam, etanol bereaksi dengan asam karboksilat dan menghasilkan
senyawa etil eter dan air:
RCOOH + HOCH2CH3 RCOOCH2CH3 + H2O.
Agar reaksi ini menghasilkan rendemen yang cukup tinggi, air perlu dipisahkan dari
campuran reaksi seketika ia terbentuk.

Etanol juga dapat membentuk senyawa ester dengan asam anorganik. Dietil sulfat dan trietil
fosfat dihasilkan dengan mereaksikan etanol dengan asam sulfat dan asam fosfat. Senyawa
yang dihasilkan oleh reaksi ini sangat berguna sebagai agen etilasi dalam sintesis organik.

Dehidrasi
Asam kuat yang sangat higroskopis seperti asam sulfat akan menyebabkan dehidrasi etanol
dan menghasilkan etilena maupun dietil eter:
2 CH3CH2OH CH3CH2OCH2CH3 + H2O (pada 120'C)
CH3CH2OH H2C=CH2 + H2O (pada 180'C)

Oksidasi
Etanol dapat dioksidasi menjadi asetaldehida, yang kemudian dapat dioksidasi lebih lanjut
menjadi asam asetat. Dalam tubuh manusia, reaksi oksidasi ini dikatalisis oleh enzim tubuh.
Pada laboratorium, larutan akuatik oksidator seperti asam kromat ataupun kalium
permanganat digunakan untuk mengoksidasi etanol menjadi asam asetat. Proses ini akan
sangat sulit menghasilkan asetaldehida oleh karena terjadinya overoksidasi. Etanol dapat
dioksidasi menjadi asetaldehida tanpa oksidasi lebih lanjut menjadi asam asetat menggunakan
piridinium kloro kromat (Pyridinium chloro chromate, PCC).[14]
C2H5OH + 2[O] CH3COOH + H2O
Produk oksidasi etanol, asam asetat, digunakan sebagai nutrien oleh tubuh manusia sebagai
asetil-koA.

Pembakaran
Pembakaran etanol akan menghasilkan karbon dioksida dan air:
C2H5OH(g) + 3 O2(g) 2 CO2(g) + 3 H2O(l);(Hr = 1409 kJ/mol[16])
9. Sifat fisik kimia
Bentuk fisik : air
Bau : khas alkohol
Warna : tak berwarna
Titik didih : > 760C (168,80F)
Titik baku : -113,840C (-172,90F)
Masa jenis : 0,789 0,806
Tekanan uap :

Densitas : 1,59 1,62


Tingkat penguapan : 1,7
Solubilitas / kelarutan : larut dalam air dingin

3. Identifikasi Bahaya
Bentuk Fisik : Cairan
Warna : Tak berwarna
Tinjauan keadaan darurat :
- Mudah terbakar
Kegunaan Etanol
Etanol digunakan untuk bahan baku industri atau pelarut (kadang-kadang disebut sebagai
etanol sintetis) yang terbuat dari petrokimia saham pakan, terutama oleh asam
katalis hidrasi etilena, diwakili oleh persamaan kimia
C 2 H 4 + H 2 O CH 3 CH 2 OH
Etanol terbentuk dari 3 senyawa yaitu karbon, hidrogen dan oksigen, etanol juga
merupakan cairan yang mudah menguap dengan aroma yang khas dan tak berwarna. Dapat
juga terbakar tanpa adanya asap dengan timbulnya lidah api berwarna biru yang kadangkadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa.
Etanol di artikan sebagai cairan yang sangat mudah terbakar, mudah menguap, alkohol yang
sering di gunakan dalam kehidupan sehari-hari, etanol juga tidak berwarna .
Sifat gugus hidroksil yang polar menyebabkannya dapat larut dalam banyak senyawa ion,
utamanya natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium klorida,kalsium
klorida, amonium klorida, amonium bromida, dan natrium bromida. Natrium
klorida dan kalium klorida sedikit larut dalam etanol. Oleh karena etanol juga memiliki rantai
karbon nonpolar, ia juga larut dalam senyawa nonpolar, meliput kebanyakan minyak
atsiri dan banyak perasa, pewarna, dan obat.
Ikatan hidrogen menyebabkan etanol murni sangat higroskopis, sedemikiannya ia akan
menyerap air dari udara.
Selain etanol orang mengenalnya dengan alkohol atau minuman yang beralkohol. ini di
sebabkan karena adanya etanol sebagai bahan utama atau zat utama dari etanol tersebut
bukan metanol ataupun yang lainnya.
Dalam segala apapun yang terikat pada atom karbon, dan yang memiliki gugus hidroksil (OH) di dalam kimia alkohol juga dikenal dengan senyawa organik .
Etanol yang berarti alkohol ini sering banyak di gunakkan dalam ilmu farmasi dan ilmu
kimai, sehingga jika di hubungkan dengan ilmu farmasi akam memiliki arti tersendiri yang
lebih luas.
Dalam kimia etanol adalah pelarut penting dan di gunakan untuk stok senyawa sintetis
lainnya dan etanol juga dapat digunakkan sebagai baham bakar.

Etanol digunakkan sebagai pelarut karena untuk konsumsi dan penggunaan pada manusia
contohnya penggunaan pada pemakain pewarna makanan, perasa, obat-obatan serta dapat di
gunakkan juga sebagai parfum.
Etanol adalah salah satu pelarut yang sangat serbaguna, dia dapat larut dalam air dan pelarut
organik lainnya, meliputi asam asetat, aseton, benzena, karbon tetraklorida, kloroform, dietil
eter, etilena glikol, gliserol,nitrometana, piridina, dan toluena. Selain dapat larut dalam
pelarut organic dan dalam air aetanol juga larut dalam hidrokarbon alifatik yang ringan,
seperti pentana dan heksana, dan juga larut dalam senyawa klorida alifatik
seperti trikloroetana dan tetrakloroetilena.
Sifat-Sifat Etanol
dibagi menjadi 2 yaitu
1. Berdasarkan sifat kima

Reaksi asam basa

Halogenasi

Pembuatan ester

Dehidrasi

Oksidasi

pembakaran

2. Berdasarkan sifat fisika


Sifat-sifat fisika etanol dipengaruhi oleh

keberadaan gugus hidroksil

pendeknya rantai karbon etanol.

Gugus hidroksildapat berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya


cair dan lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa
molekul yang sama.

Sumber Etanol
Etanol adalah energi terbarukan sumber karena energi yang dihasilkan dengan menggunakan
sumber daya, sinar matahari, yang tidak dapat habis. Pembuatan etanol dimulai dengan
fototsintesis menyebabkan bahan baku, seperti tebu atau gandum seperti jagung (jagung),
untuk tumbuh. Ini bahan baku diproses menjadi etanol.
Saat ini, proses generasi pertama untuk produksi etanol dari jagung menggunakan hanya
sebagian kecil dari tanaman jagung: kernel jagung yang diambil dari tanaman jagung dan
hanya pati, yang mewakili sekitar 50% dari massa kernel kering, berubah menjadi
etanol. Dua jenis proses generasi kedua sedang dalam pengembangan. Jenis pertama
menggunakan enzim dan ragi fermentasi untuk mengkonversi selulosa tanaman menjadi
etanol sedangkan tipe kedua menggunakan pirolisis untuk mengkonversi seluruh pabrik baik

cair bio-minyak atau syngas . Proses generasi kedua juga dapat digunakan dengan tanaman
seperti rumput, kayu atau bahan limbah pertanian seperti jerami.
Etanol Mudah Terbakar
Sebuah solusi etanol-air yang mengandung 40% ABV akan terbakar jika dipanaskan sampai
sekitar 79 F (26 C)dan jika sumber pengapian diterapkan untuk itu. Para titik nyala etanol
murni adalah61,88 F (16,60 C), kurang dari suhu ruangan rata-rata.
Poin Lampu kilat konsentrasi etanol dari ABV 10% sampai 96% ABV adalah sebagai berikut:

10% 120 F (49 C)

12,5% sekitar 125 F (52 C)

20% 97 F (36 C)

30% 84 F (29 C)

40% 79 F (26 C)

50% 75 F (24 C)

60% 72 F (22 C)

70% 70 F (21 C)

80% 68 F (20 C)

90% 63 F (17 C)

96% 63 F (17 C)

Minuman beralkohol yang memiliki konsentrasi rendah etanol akan terbakar jika cukup
dipanaskan dan sumber pengapian (seperti percikan lisrtik atau pertandingan) yang
diterapkan kepada mereka. Misalnya, titik nyala anggur biasa yang mengandung etanol
12,5% adalah sekitar 125 F (52 C).
Bentuk pembakaran karbon dioksida dengan uap air adalah
C 2 H 5 OH (l) + 3 O 2 (g) 2 CO 2 (g) + 3 H 2 O (g) (H c = -1371 kJ / mol ) = panas
spesifik 2,44 kJ / (kg K)
Etanol Meleleh
Etanol meleleh pada -114,1 C, mendidih pada 78,5 C, dan memiliki densitas 0,789 g / mL
pada 20 C. Titik beku yang rendah memiliki
membuatnya berguna sebagai cairan dalam termometer untuk suhu di bawah -40 C, titik
beku air raksa, dan untuk lainnya
suhu rendah keperluan, seperti untuk antibeku dalam radiator molekul

Sifat fisik dan kimia benzena


Sifat Fisik

a. Benzena merupakan senyawa yang tidak berwarna.


b. Benzena berwujud cair pada suhu ruang (270C).
c. Titik didih benzena : 80,10C, Titik leleh benzena : -5,50C
d. Benzena tidak dapat larut air tetapi larut dalam pelarut nonpolar
e. Benzena merupakan cairan yang mudah terbakar
Sifat Kimia

a. Benzena merupakan cairan yang mudah terbakar


b. Benzena lebih mudah mengalami reaksi substitusi daripadaadisi
c. Halogenasi
Benzena dapat bereaksi dengan halogen dengan katalis besi(III) klorida membentuk halida
benzena dan hydrogen klorida.

Contoh :
d. Sulfonasi
Benzena bereaksi dengan asam sulfat membentuk asam benzenasulfonat, dan air.

Contoh :
e. Nitrasi
Benzena bereaksi dengan asam nitrat menghasilkan nitrobenzena dan air.

Contoh :
f. Alkilasi
Benzena bereaksi dengan alkil halida menmbentuk alkil benzena dan hidrogen klorida.
Tabel 2.1. Sifat Fisik dan Sifat Kimia Benzena [11]
Sifat fisik
Zat cair tidak berwarna
Memiliki bau yang
khas
Mudah
menguap

Sifat kimia
Bersifat karsinogenik (racun)
Merupakan senyawa non polar
Tidak reaktif, tapi mudah terbakar
Lebih mudah mengalami reaksi substitusi
dari pada adisi

Tidak larut dalam pelarut polar- seperti


air, tetapi larut dalam- pelarut yang
kurang polar atau nonpolar, seperti
eter dan tetraklorometana
Rumus molekul
: C6H6
Massa molar
: 78,11 g/mol
Titik Leleh
: 5,5oC
Titik didih
: 80,1oC
Densitas
: 0,8786 g/cm3
Viskositas
: 0,652 cP pada20 oC
Berikut ini tabel manfaat atau kegunaan dari beberapa senyawa turunan benzena:
No.

Turunan Benzena

Manfaat

1.

Toluena
(metil benzena)

- bahan pembuatan asam benzoat


- bahan pembuat TNT (trinitro toluena)
- pelarut senyawa karbon

2.

Asam Benzoat
(karboksilatbenzena)

- pengawet makanan
- bahan baku pembuatan Fenol

3.

Fenol (hidroksibenzena / fenil


alkohol)

- Zat antiseptik
- zat disinfektan
- Pembuatan pewarna
- resin

4.

Trinitro Toluen (TNT)

-bahan peledak

5.

Trinitro benzena (TNB)

- bahan peledak

6.

Nitro benzena

- pewangi pada sabun


- pembuatan anilin

7.

Anilin (aminobenzena / fenil


amina)

- obat-obatan - bahan peledak


- bahan dasar zat warna diazo

9.

Stirena

- bahan pembuatan plastik dan karet sintetis

9.

Asam salisilat

- bahan obat / zat analgesik (aspirin)


- obat penyakit kulit

10.

Asam tereftalat

-bahan serat sintetik polyester

11.

Parasetamol (asetaminofen)

- obat penurun panas

12.

Benzal dehida

- zat aditif penambah aroma makanan

13.

Benzil alkohol

- bahan pelarut

14.

Halogen benzena

- digunakan pada pembuatan cat dan pembuatan


insektisida.

15.

Asam benzena sulfonat

- pembuatan obat
-pemanis buatan (sakarin termasuk turunan asam
benzena sulfonat)

sifat fisik dan kimia air


Sifat Fisik Air
Suhu air adalah derajat panas air yang dinyatakan dalam satuan derajat Celcius. Warna
adalah warna nyata dari air yang dapat disebabkan oleh adanya ion metal (besi dan
mangan) humus, plankton, tumbuhan air dan limbah industri, yang dimaksud dengan
warna adalah warna nyata yang kekeruhannya telah dihilangkan, sedangkan yang
dimaksud dengan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan zat-zat
terlarut dalam air akan tetapi juga zat tersuspensi, yang dinyatakan dalam satuan warna
skala PtCo.
Kekeruhan adalah sifat optik dari suatu larutan yang menyebabkan cahaya yang
melaluinya terabsorbsi dan terbias dan dihitung dalam satuan mg/L SiO2 atau Unit
Kekeruhan Nephelometri (UKN). Kekeruhan di dalam air disebabkan oleh adanya zat
tersuspensi seperti lempung, lumpur, zat organik, plankton dan zat-zat halus lainnya.
Kejernihan adalah dalamnya lapisan air yang dapat ditembus oleh sinar matahari yang
dinyatakan dalam satuan cm.
Residu Total adalah residu yang tersisa setelah penguapan contoh dan dilanjutkan
dengan pengeringan pada suhu tertentu secara merata dan dinyatakan dalam satuan
mg/L
Residu Tersuspensi adalah berat zat padat dalam air yang tertahan pada penyaring
dengan kertas saring yang berpori sebesar 0,45 mm dan dikeringkan pada suhu tertentu
secara merata dan dinyatakan dalam satuan mg/L.
Residu Terlarut adalah berat zat padat dalam air yang lolos pada penyaring dengan
kertas saring yang berpori sebesar 0,45 mm dan dikeringkan pada suhu tertentu secara
merata dan dinyatakan dalam satuan mg/L

Residu Total terurai adalah bagian berat dari residu total yang terurai menjadi gas pada
pemanasan dengan suhu tertentu dan dinyatakan dalam satuan mg/L
Residu Tersuspensi Terurai adalah bagian berat dari residu tersuspensi yang terurai
menjadi gas pada pemanasan dengan suhu tertentu dan dinyatakan dalam satuan mg/L
Residu Terikat adalah bagian berat residu total atau residu tersuspensi yang tidak terurai
menjadi gas pada pemanasan dengan suhu tertentu dan dinyatakan dalam satuan mg/L
Residu Mengendap adalah zat padat yang dapat mengendap selama waktu tertentu dan
dinyatakan dalam satuan mg/L atau mL/L.
Derajat keasaman (pH) adalah logaritma negatif dan aktifitas ion hidrogen dalam suatu
larutan. Derajat keasaman (pH) air, penting untuk menentukan nilai daya guna perairan
baik untuk keperluan rumah tangga, irigasi, kehidupan organisme perairan dan
kepentingan lainnya. Nilai pH suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan
basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan.
Mengingat nilai pH ditentukan oleh interaksi berbagai zat dalam air termasuk zat-zat
yang secara kimia maupun biokimia tidak stabil maka penentuan pH harus dilakukan
setelah pengambilan contoh dan tidak dapat diawetkan. pH dapat diukur dengan metode
kolorimetri dan elektrometri. Metode elektrometri lebih banyak digunakan di
laboratorium dan lapangan karena lebih teliti dan praktis.
Daya Hantar Listrik (DHL) adalah kemampuan dari larutan untuk menghantarkan arus
listerik yang dinyatakan dalam mmhos/cm, kemampuan tersebut antara lain tergantung
pada kadar zat terlarut yang mengion di dalam air, pergerakan ion, valensi dan suhu.
Salinitas/Kegaraman adalah merupakan residu terlarut dalam air, apabila semua bromida
dan iodida dianggap sebagai klorida.
Klorositi adalah kadar klor dalam satuan g/L yang digunakan pada perhitungan salinitas.
SIfat Kimia Air
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu melekul air tersusun atas dua
atom hidrogen yang terkait secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak
berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100
KPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0C).
Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air
berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan
temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion
hidrogen ( H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-).
Air adalah pelarut yang kuat, melarutkan banyak jenis zat kimia. Zat-zat yang bercampur
dan larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat
"hidrofilik" (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air (misalnya
lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat "hidrofobik" (takut-air). Kelarutan suatu zat
dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarikmenarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air. Jika suatu zat
tidak mampu menandingi gaya tarik-menarik antar molekul air, molekul-molekul zat
tersebut tidak larut dan akan mengendap dalam air.

SIFAT FISIKA DAN KIMIA AIR


December 25, 2012 by Atini Wahyu Utami

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air
tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu
atom oksigen

Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi
standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0
C)

Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki
kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-

garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul
organik.

Nama alternatif Air adalah aqua, dihidrogen monoksida,


hidrogen hidroksida

Titik lebur 0 C (273.15 K) (32 F)

Titik didih 100 C (373.15 K) (212 F)

Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak
zat kimia

Molekul air dapat diuraikan menjadi unsur-unsur asalnya dengan


mengalirinya arus listrik

Zat-zat yang bercampur dan larut dengan baik dalam air (misalnya garamgaram) disebut sebagai zat-zat hidrofilik (pencinta air), dan zat-zat yang
tidak mudah tercampur dengan air (misalnya lemak dan minyak), disebut
sebagai zat-zat hidrofobik (takut-air)

Dalam sel-sel biologi dan organel-organel, air bersentuhan dengan


membran dan permukaan protein yang bersifat hi drofilik; yaitu,
permukaan-permukaan yang memiliki ketertarikan kuat terhadap air

Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk
adanya kehidupan

Air dapat memunculkan reaksi yang dapat membuat senyawa organic


untuk melakukan replikasi

Air juga dibutuhkan dalam fotosintesis dan respirasi

Hampir semua ikan hidup di dalam air, selain itu, mamalia seperi lumbalumba dan ikan paus juga hidup di dalam air.

Peradaban manusia berjaya mengikuti sumber air

Tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran
badan

Agar dapat berfungsi dengan baik, tubuh manusia membutuhkan antara


satu sampai tujuh liter air setiap hari untuk menghindari dehidrasi; jumlah
pastinya bergantung pada tingkat aktivitas, suhu, kelembaban, dan
beberapa faktor lainnya

Pelarut digunakan sehari-hari untuk mencuci, contohnya mencuci tubuh


manusia, pakaian, lantai, mobil, makanan, dan hewan. Selain itu, limbah
rumah tangga juga dibawa oleh air melalui saluran pembuangan.

Home Contoh Artikel Lingkungan Fungsi dan Peran Air Bagi Kehidupan Manusia

Categorized | Contoh Artikel Lingkungan, Lingkungan Hidup

Fungsi dan Peran Air Bagi Kehidupan Manusia


Posted on .
Salah satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak dapat
terpisahkan adalah Air. Tidak hanya penting bagi manusia Air merupakan bagian yang
penting bagi makhluk hidup baik hewan dan tubuhan. Tanpa air kemungkinan tidak ada
kehidupan di dunia inti karena semua makhluk hidup sangat memerlukan air untuk bertahan
hidup.
Manusia mungkin dapat hidup beberapa hari akan tetapi manusia tidak akan bertahan selama
beberapa hari jika tidak minum karena sudah mutlak bahwa sebagian besar zat pembentuk
tubuh manusia itu terdiri dari 73% adalah air.
Jadi bukan hal yang baru jika kehidupan yang ada di dunia ini dapat terus berlangsung karen
tersedianya Air yang cukup.
Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berupaya mengadakan air
yang cukup bagi dirinya sendiri.
Berikut ini air merupakan kebutuhan pokok bagi manusia dengan segala macam kegiatannya,
antara lain digunakan untuk:

keperluan rumah tangga, misalnya untuk minum, masak, mandi, cuci dan pekerjaan
lainnya,

keperluan umum, misalnya untuk kebersihan jalan dan pasar, pengangkutan air
limbah, hiasan kota, tempat rekreasi dan lain-lainnya.

keperluan industri, misalnya untuk pabrik dan bangunan pembangkit tenaga listrik.

keperluan perdagangan, misalnya untuk hotel, restoran, dll.

keperluan pertanian dan peternakan

keperluan pelayaran dan lain sebagainya

Oleh karena itulah air sangat berfungsi dan berperan bagi kehidupan makhluk hidup di bumi
ini. Penting bagi kita sebagai manusia untuk tetap selalu melestarikan dan menjaga agar air
yang kita gunakan tetap terjaga kelestariannya dengan melakukan pengelolaan air yang baik
seperti penghematan, tidak membuang sampah dan limbah yang dapat membuat pencemaran
air sehingga dapat menggangu ekosistem yang ada.