Anda di halaman 1dari 10

Microcystis aeruginosa

Klasifikasi Taksonomi
Kingdom: Bacteria
Phylum : Cyanobacteria
Class
: Cyanophyceae
Order
: Chroococcales
Family : Microcystaceae
Genus : Microcystis
Species : Microcystis aeruginosa

Morfologi
Cyanobacteria adalah kelompok
phytoplankton yang mendominasi
perairan air tawar yang
mengalami eutrofikasi (Davidson,
1959; Negri et al.,1995).
Cyanobacteria termasuk
prokariota yang memiliki dinding
sel yang terbentuk dari lapisan
peptidoglycon dan
lipopolysaccharide, tidak seperti
alga hijau yang terbentuk dari
cellulose (Skulberg et al., 1993).
Semua Cyanobacteria adalah
photosynthetic dan memiliki chla
(Chlorophyll-a). Keanekaragaman
morfologi cyanobacteria dari
uniseluler; hingga koloni koloni
kecil dari beberapa sel hingga
yang berfilamen sederhana dan
bercabang (Weier et al., 1982).

Nama Toksin
Toksin microcystin yang paling umum
adalah microcystinLR, dimana
variabel Lamino acids adalah
leucine (L) dan argenine (R) (An and
Carmichael, 1994). Bagian adda and
D-glutamic acid dari molekul
microcystin-LR berperan penting
pada hepatoxicity pada microcystins.

Struktur Toksin

Struktur kimia dari microcystin-LR (An and Carmichael, 1994).

Gejala
(Hawkins et al., 1985; Turner et al., 1990) Menimbulkan penyakit
seperti:
Hepatoenteritis
a symptomatic pneumonia (gejala radang paru paru)
Dermatitis
Disebabkan oleh konsumsi atau terkena kontak dengan air yang
terkontaminasi toksin yang diproduksi cyanobacteria.
(Bell and Codd, 1994) Penyakit yang disebabkan oleh toksin dari
cyanobacteria terhadap manusia dibagi dalam 3 kategori;
Gastroenteritis and related diseases
Allergic and irritation reaction
Liver diseases (Bell and Codd, 1994)
Selain itu microcystins juga diduga sebagai zat yang memicu tumor
(An and Carmichael, 1994; Bell and Codd, 1994; RudolphBhner et
al., 1994; Trogen et al., 1996; Zegura et al., 2003).

Kontrol dan Degradasi dari


CYANOBACTERIAL BLOOMS
Cousins and coworkers (1996) pada percobaan dengan
air waduk menggunakan level rendah dari microcystinLR [10mg/L], bahwa degradasi toksin terjadi kurang dari
satu minggu. Toksin stabil selama lebih dari 27 hari di
dalam air deionisasi dan lebih dari 12 hari dalam air
waduk yang telah disterilkan. (Biodegradasi)
Microcystin-LR dan RR mengalami deradasi lebih cepat
ketika toksin terkena sinar UV pada panjang gelombang
sekitar absorbsi maksimumnya [238-254nm] (Tsuji et
al., 1995).
Untuk mengontrol cyanobacteria blooms, sel biasanya
akan mengalami lisis apabila diberi bahan kimia seperti
Reglone A, NaOCl, KMnO4, Simazine dan CuSO4 yang
dapat menghambat sintesis pembuatan dinding sel
baru, reaksi enzymatic atau photosynthesis (Kenefick et
al., 1993, Lam et al., 1995).

Lanjutan
Chemical control
Verhoeven and Eloff (1979) menyatakan
bahwa tembaga (copper) adalah algicide
yang efektif pada air alami untuk kontrol
cyanobacteria. Pada konsentrasi sel M.
aeruginosa yang diisolasi dari Hartbeesport
Dam [UV-006] dan M. aeruginosa Berkeley
strain 7005 [UV-007] 1.8x10 cells/ml [148
Klett units] ditambahkan copper sulphate,
dan hasilnya 0.3 dan 0.4 ppm Cu2+
menurunkan tingkat pertumbuhan untuk
sementara, sedangkan 0.5 ppm Cu2+
mengakibatkan kematian sel.
Hoeger and coworkers (2002)

Lanjutan
Biological control

Cylindrospermopsis
raciborskii

Daftar Pustaka
Oberholster PJ, Botha A-M and Grobbelaar JU. 2004.
Microcystis aeruginosa: source of toxic microcystins
in drinking water. African Journal of Biotechnology
Vol. 3 (3), pp.
159-168
Jones, William W., Sarah Sauter. 2005. Distribution
and Abundance of Cylindrospermopsis raciborskii
in Indiana Lakes and Reservoirs. School of Public
and Environmental
Affairs Indiana University
Bloomington, IN