Anda di halaman 1dari 2

Gambaran Klinis

1. Inkontinensia stres: keluarnya urin selama bautk, mengedan, dans sebagainya, gejala
ini sangat spesifik untuk inkontinensia stres.
2. Inkontinensia urgensi: ketidakmampuan menahan keluarnya urin dengan gambaran
seringnya terburu-buru untuk berkemih.
3. Enuresis nokturnal: 10% anak usia 5 tahun dan 5% anak usia 10 tahun mengompol
selama tidur. Mengompol pada anak usia tua merupakan sesuatu yang abnormal dan
menunjukkan adanya kandung kemih yang tidak stabil.
a. Gejala infeksi urin (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi (pancaran lemah,
menetes), truma (termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdomennoperitoneal),
fistula (menetes terus-menerus), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau usus
besar) atau penyakit sistmeik (misalnya diabetes) dapat menunjukkan penyakit
yang mendarari (Grace, dan Borley, 2006:181).

Penatalaksanaan inkotinensia urin


1. Metode Marshall-Marchetti-Kranz merupakan tindakan bedah standar untuk
inkontinensia urin, dan terdiri dari suspensi uretrovesika.

Modifikasi Burch

menggabungkan kolposuspensi, yang memberikan sokongan luas ke uretra dan basis


vesikula urinaria dengan fiksasi jahitan pada forniks lateralis vagina ke ligamentum
Cooper. Dalam tindakan yang digambarkan Stamey dan Peyera, suspensi uretra
retropubik dilakukan dengan menjalankan jarum khusus dan benang melalui insisi
suprapubik yang kecil turun melalui jaringan periuretra yang terpapar dari vagina. Hal
ini memungkinkan relokasi uretra proksimal dan serviks ke posisi anatomi normalnya
tanpa diseksi retropubik yang luas. Keberhasilan dicapai dalam 85-95% pasien
dengan tindakan ini. Kegagalan bisa terjadi karena ketidakstabilan vesika urinaria
yang tak diduga atau uretropeksi retropubik yang tidak berhas (Sabiston, 1994:477).
2. Ada barbagai macam tindakan bedah yang dapat dilakukan, yaitu perbaikan vagina,
suspensi kandung kemih pada abdomen, dan elevasi kolum vesika uurinaria
(Smeltzer, 2002:1394).
3. Metode lain untuk mengontrol inkontinensia stres adalah aplikasi stimulasi elektronik
pada dasar panggul dengan bantuan pulsa generator miniatur yang dilengkapi
elektrode yang dipasang pada sumbat intra-anal (Smeltzer, 2002:1394).
Penatalaksaan penting berdasar jenis inkontinensia urin, yaitu:

1. Inkontinensia urgensi
a. Terapi medikamentosa: modifikasi asupan cairan, hindari kafein, obati setiap
penyebab (infeksi, tumor, batu), latiha berkemih, antikolinergik/relaksan otot
polos (oksibutinnin, tolterdin);
b. Terapi pembedahan: sistoskopi dan distensi kandung kemih, sistoplasti
augmentasi.
2. Inkontinensia stres
a. Terapi medikamentosa: latiha otot-otot dasarpanggul, estrogen untuk vaginitis
atrofik.
b. Terapi pembedahan: uretropeksi retropubik atau endoskopik, perbaikan vagina,
sfingter buatan.
3. Inkontinensia overflow
b. Jika terdapat obstruksi: obati penyebab obstruksi, misal TURP
c. Jika tidak terdapat obstruksi: drainase jangka pendek dengan kateter untuk
memungkinkan otot detrusor pulih dari peregangan berlebihan, kemudian
penggunaan syimulan otot detrusor jangka pendek (bethanekol: distigmin), jika
semua gagal, kateterisasi intermiten yang dilakukan sendiri atau inkontinensia
overflow neurogenik (Grace, dan Borley, 2006:181).

Grace, Pierce A., dan Borley, Neil R. 2006. At A Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga. Surabaya:
Erlangga.
Sabiston, David C. 1994. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C., dan Bare, Brenda G. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan
Suddarth. Jakarta: EGC.