Anda di halaman 1dari 4

COVER

SKKD
Kata Pembuka (bu Muryani)
Apersepsi
NARASI BANJIR
Banjir aliran air di permukaan tanah (surface water) yang relatif tinggi dan tidak dapat
ditampung oleh saluran drainase atau sungai, sehingga melimpah ke kanan dan kiri
serta menimbulkan genangan/aliran dalam jumlah melebihi normal dan mengakibatkan
kerugian pada manusia dan lingkungan
Bencana banjir dapat dikatagorikan sebagai proses alamiah atau fenomena alam, yang
dipicu oleh beberapa faktor penyebab seperti curah hujan, iklim, geomorfologi wilayah,
dan aktivitas manusia yang tidak terkendali dalam mengeksploitasi alam, yang
mengakibatkan kondisi alam dan lingkungan menjadi rusak.
Definisi banjir menurut beberapa ahli adalah :
Chow (1956): Banjir adalah aliran yang relatif tinggi yang melampaui saluran alami yang
disebabkan oleh limpasan (run-off)
Rostvedt et al. (1968): Banjir terjadi apabila debit sungai tinggi yang melampaui bagian atas
tanggul sungai baik tanggul alami maupun tanggul buatan
Ward (1978): Banjir adalah badan air yang naik meluap dan menggenangi tanah yang tidak
biasanya terendam.
Faktor-faktor penyebab banjir adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Curah Hujan
Rusaknya retensi Daerah Aliran sungai
Kedangkalan sungai
Kesalahan perencanaan bangunan sungai,
Kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan prasarana,
Perilaku masyarakat.

Keterangan :
1. Curah hujan. Faktor curah hujan yang mempengaruhi terjadinya banjir adalah
intensitas hujan, durasi hujan dan sebaran hujan. Hujan deras yang lama dan terjadi di
wilayah yang luas berpotensi menyebabkan banjir
2. Rusaknya retensi daerah Aliran Sungai
Rusaknya hutan di daerah hulu, penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan
fungsinya, alih fungsi lahan dari lahan bervegetasi menjadi lahan terbangun akan
menurunkan besarnya infiltrasi dan meningkatkan besarnya aliran permukaan yang
selanjutnya akan memperbesar potensi terjadinya banjir
3. Kedangkalan Sungai.
Sungai yang dangkal lebih berpotensi menyebabkan banjir dibanding dengan sungai
yang dalam

4. Kegagalan fungsi bangunan pengendali banjir sungai


Tanggul atau bendungan jebol
Pintu air tak berfungsi
Pompa air macet
5. Kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan prasarana,
Mendirikan di bantaran sungai, padatnya bangunan di perkotaan, kurangnya saluran
drainase dan sebagainya dapat memicu terjadinya banjir di perkotaan
6. Perilaku masyarakat dalam membuang sampah di sungai, menebang pohon, mengolah
lahan berlereng terjal dan sebagainya dapat menjadi penyebab terjadinya banjir
Jenis-jenis banjir :
1. Banjir Luapan Sungai (River floods)
banjir yang disebabkan oleh meluapnya sungai akibat daya tampung sungai lebih
kecil dari debit aliran yang akan lewat. Jika aliranya berasal dari daerah hulu,
dinamakan hujan kiriman
2. Banjir Rob (Coastal floods)
Penggenangan oleh air laut akibat dinamika air laut (pasang, badai). Banjir karena
pasang harian terjadi setiap siang hari sekitar jam 13 14. Contoh : banjir Rob di
Semarang, Surabaya, dan kota-kota pesisir yang lain
3. Banjir Lokal (Local floods)
Banjir akibat curah hujan yang tinggi pada suatu daerah yang relatif sempit, curah
hujan yang jatuh lebih besar dari kecepatan drainase. Air meluap dari selokan-selokan
Contoh :banjir di perkotaan, wilayah perumahan
4. Banjir Bandang (Flash floods)
Banjir dengan intensitas tinggi dan berjalan cepat menghasilkan puncak debit yang
tinggi. biasanya terjadi pada aliran sungai yang kemiringan dasar sungainya curam.
Aliran banjir yang tinggi dan sangat cepat, dapat mencapai ketinggianlebih dari 12
meter (Banjir Bahorok, 2003; banjir Wasior) limpasannya dapat membawa batu besar/
bongkahan dan pepohonan serta dapat merusak/menghanyutkan apa saja yang
Dampak banjir
Dampak negatif
Pada umumnya banjir yang berupa genangan maupun banjir bandang bersifat merusak.
Aliran arus air yang cepat dan bergolak (turbulent) meskipun tidak terlalu dalam dapat
menghanyutkan manusia, hewan dan harta benda. Aliran air yang membawa material
tanah yang halus akan mampu menyeret material yang lebih berat sehingga daya rusaknya
akan semakin tinggi. Air banjir yang pekat ini akan mampu merusakan pondasi bangunan,
pondasi jembatan dan lainnya yang dilewati sehingga menyebabkan kerusakan yang
parah pada bangunanbangunan tersebut, bahkan mampu merobohkan bangunan dan
menghanyutkannya. Pada saat air banjir telah surut, material yang terbawa banjir akan
diendapkan dan dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman, perumahan serta
timbulnya wabah penyakit.
Banjir menyebabkan kerugian berupa :
- Kurban jiwa
- Rusaknya rumah dan perabotan
- Rusaknya lahan pertanian

Rusaknya sarana dan prasarana (jembatan, jalan, pasar, dll)


Kesehatan karena buruknya sanitasi lingkungan sesudah banjir

Dampak positif banjir


Meskipun pada umumnya membawa kerugian, namun banjir mempunyai dampak positif
juga, yaitu dapat menyebabkan tanah di sekitar sungai menjadi lebih subur (kasus banjir
sungai Nil)

Analisis Kerawanan Banjir


Daerah rawan bencana banjir adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis,
hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada
suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah,
meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak
buruk banjir (UU no 24 th 2007)
Parameter kerawanan banjir meliputi :
(1) Topografi: Daerah-daerah dataran rendah atau cekungan, merupakan salah satu karakteristik
wilayah banjir atau genangan;

(2) Tingkat permeabilitas tanah; Daerah-daerah yang mempunyai tingkat permeabilitas


tanah rendah, mempunyai tingkat infiltrasi tanah yang kecil dan runoff yang tinggi.
Daerah Sempadan Sungai umumnya mempunyai tingkat permeabilitas tanah yang rendah,
merupakan daerah potensial banjir;
(3) Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS); DAS yang berbentuk membulat, mempunyai
tingkat kemungkinan banjir yang tinggi. Hal ini terjadi karena waktu tiba banjir dari anakanak sungai (orde yang lebih kecil) yang hampir sama, sehingga bila hujan jatuh merata
di seluruh DAS, air akan datang secara bersamaan dan pada akhirnya bila kapasitas
sungai induk tidak dapat menampung debit air yang datang, menyebabkan banjir di
daerah sekitarnya;
(4) Wilayah Meander; Pada daerah Meander (belokan) sungai yang debit alirannya
cenderung lambat, biasanya merupakan dataran rendah, sehingga termasuk dalam
klasifikasi daerah yang potensial atau rawan banjir;
(5) Curah hujan; Curah hujan yang tinggi dan lamanya hujan;
(6) Air laut; Airlaut pada saat pasang dapat mengakibatkan pembendungan di muara
sungai sehingga menyebabkan aliran sungai meluap;
(7) Penggunaan lahan; Perambahan hutan pada daerah hulu dapat menyebabkan
koefisien runoff semakin meningkat dan mengurangi tingkat infiltrasi.
Contoh peta kerawanan banjir
Parameter atau tolak ukur ancaman/bahaya banjir dapat ditentukan berdasarkan :
1) Luas genangan (km, hektar)
2) Kedalaman atau ketinggian air banjir (meter)
3) Kecepatan aliran (meter/detik, km/jam)
4) Material yang dihanyutkan aliran banjir (batu, bongkahan, pohon, dan benda keras

lainnya)
5) Tingkat kepekatan air atau tebal endapan lumpur (meter, centimeter)
6) Lamanya waktu genangan (jam, hari, bulan)

Mitigasi Banjir
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana. (UU no 24 th 2007)
Jenis-jenis mitigasi bencana banjir
Mitigasi Struktural :
Contoh-contoh mitigasi struktural bencana banjir :

Mencegah meluapnya air sungai dengan pembangunan tanggul


Menurunkan ketinggian muka air sungai dengan normalisasi sungai,
pembangunan sudetan, pembangunan saluran interkoneksi
Memperkecil debit aliran sungai dengan pembangunan waduk, bendung, banjir
kanal
Mengurangi genangan dengan polder, pompa dan sistem drainase

Mitigasi non strutural


Contoh-contoh mitigasi bencana banjir non struktural adalah :

Pelibatan masyarakat dalam prakiraan banjir dan sistem peringatan dini


Relokasi penduduk yang tinggal di daerah rawan banjir tinggi
Pengelolaan daerah dataran banjir
Penataan ruang, reboisasi dan pengenadalian erosi di DAS
Penetapan sempadan sungai
Manajemen sampah
Penegakan hukum
Informasi publik dan penyuluhan

Penutup (bu Muryani)


Banjir memang bencana yang sangat sering kita lihat dan kita alami sehingga kita
menganggapnya sebagai hal yang sudah biasa. Jika tidak ada upaya penanggulangan,
bencana banjir akan semakin sering terjadi dengan intensitas yang semakin tinggi. Kita
secara bersama-sama ataupun secara individu dapat berperan aktif dalam upaya
pencegahan banjir, misalnya dengan menanam pohon, tidak membuang sampah di badan
sungai, membuat biopori, membuat sumur resapan dan upaya-upaya lain yang pada
prinsipnya memperbesar infiltrasi dan memperkecil aliran permukaan. Mulailah dari diri
sendiri dan sekarang. Semoga bermanfaat.