Anda di halaman 1dari 26

1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan angka harapan hidup pada lansia menunjukkan adanya
peningkatan pada kualitas pelayanan kesehatan yang ada saat ini. Adanya
peningkatan harapan hidup lansia tidak terlepas dari berbagai permasalahan
kesehatan yang umumnya sering dijumpai pada lansia akibat adanya penurunan
fisiologis tubuh terkait usia. Hal tersebut dapat memicu masalah, salah satunya
yaitu masalah perkemihan.
Masalah pada perkemihan terkadang dipicu oleh masalah pada organ
sekitarnya,

khususnya

prostat.

Kelenjar

prostat

pada

pria

mengalami

perkembangan sejak masa anak-anak dan akan membesar seiring dengan


pertambahan usia. Penyakit infeksi organ dapat menyerang prostat dan
menyebabkan berbagai masalah lain. Infeksi yang terjadi berhubungan dengan
faktor kebersihan atau personal hygiene. Oleh karena itu perlu adanya kebiasaan
menjaga kebersiha area perkemihan dan reproduksi untuk pencegahan kejadian
infeksi.
Dengan meningkatnya angka harapan hidup lansia, insidensi BPH juga
mengalami peningkatan. Kejadin infeksi prostat banyak mengenai lansia, maka
diperlukan upaya perawat untuk memfokuska perawatan terhadap lansia. Upaya
yang dilakukan dapat dimulai dengan memenuhi kebutuhan dasar manusia pasien
melalui pengembalian fungsi fisiologis pada sistem eliminasi miksi dan hal-hal
lain yang berkaitan. Adanya asuhan keperawatan pada pasien dengan prostat
diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan pasien, baik secara
biopsikososio-spiritualnya.

1.2 Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penulisan makalah ini adalah untuk memberikan
gambaran patologis penyakit dan asuhan keperawatan pada pasien dengan
prostatitis.

1.2.2

Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui definisi prostatitis.
b. Untuk mengetahui epidemiologi prostatitis.
c. Untuk mengetahui etiologi prostatitis.
d. Untuk mengetahui tanda dan gejala prostatitis.Untuk mengetahui
patofisiologi prostatitis.
e. Untuk mengetahui komplikasi dan prognosis prostatitis.
f. Untuk mengetahui penatalaksanaan dan pemeriksaan penunjang pada
pasien dengan prostatitis.
g. Untuk mengetahui pencegahan pada prostatitis.
h. Untuk mengetahui pathways prostatitis.
i. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan prostatitis.

1.3 Implikasi Keperawatan


Dalam menangani pasien dengan prostatitis, umumnya

peran perawat

diperlukan pada saat post-ops yaitu:


a. Monitoring HR (Heart Rate atau frekuensi jantung), BP (Blood Pressure
atau tekanan darah), dan RR (Respiration Rate atau frekuensi nafas)
sebelum dan selama terapi secara periodik
b. Pada pasien dengan pasca pembedahan, perawat perlu memonitoring
kemungkinan terjadinya hemoragi, syok, dan kebocoran urinari sekitar
luka setelah aff kateter serta tanda-tanda adanya striktur uretra (disuria,
aliran urin lemah, dan mengejan)
c. Perawat perlu menghindari penggunaan peralatan alkes yang memerlukan
area perineal/anal seperti penggunaan selang rektal, enema, dan

termometer anal untuk menghindari terjadinya luka terbuka pasca


pembedahan
d. Perawat perlu menggunakan bantalan drainase untuk menyerap drainase
urin dan pemberian cincin karet busa untuk kenyamanan duduk pasien.

BAB 2. TINJAUAN TEORI


2.1 Anatomi Fisiologi
Kelenjar prostat terletak tepat di bawah leher kandung kemih. Kelenjar ini
mengelilingi uretra dan dipotong melintang oleh duktus ejakulatorius, yang
merupakan kelanjutan dari vas deferen. Kelenjar ini berbentuk seperti buah
kenari. Normal beratnya 20 gram, di dalamnya berjalan uretra posterior 2,5
cm. Kelenjar prostat menyelubungi uretra saat keluar dari kandung kemih (Sloane,
2004:351).
Pada bagian anterior difiksasi oleh ligamentum pubroprostatikum dan
sebelah inferior oleh diafragma urogenital. Pada prostat bagian posterior
berumuara duktus ejakulatoris yang berjalan miring dan berakhir pada
verumontarum pada dasar uretra prostatika tepat proksimal dan sfingter uretra
eksterna.
Secara embriologi, prostat berasal dari lima evaginasi epitel urethra
posterior. Suplai darah prostat diperdarahi oleh arteri vesikalis inferior dan masuk
pada sisi postero lateralis leher vesika. Drainase venprostat bersifat difus dan
bermuara ke dalam pleksus santorini. Persarafan prostat terutama berasal dari
simpatis pleksus hipogastrikus dan serabut yang berasal dari nervus sakralis ketiga
dan keempat melalui pleksus sakralis. Drainase limfe prostat ke nodi limfatisi
obturatoria, iliaka eksterna dan presakralis serta sangat penting dalam
mengevaluasi luas penyebaran penyakit dari prostat.
Fungsi prostat adalah mengeluarkan cairan alkalis/basa menyerupai susu
pada cairan seminalis yang berguna untuk melindungi dan menetralisir
spermatozoa terhadap sifat asam yang terdapat pada uretra dan vagina selama
senggama

(Ethel,

2004:351).

Sewaktu

perangsangan

seksual,

prostat

mengeluarkan cairan encer seperti susu yang mengandung berbagai enzim dan ion
ke dalam duktus ejakulatorius. Cairan ini menambah volume cairan vesikula
seminalis dan sperma. Cairan prostat bersifat basa (alkalis). Sewaktu mengendap
di cairan vagina wanita, bersama dengan ejakulat yang lain, cairan ini dibutuhkan

karena motilitas sperma akan berkurang dalam lingkungan dengan pH rendah


karena sperma akan optimum pada pH 6,0 sampai 6,5.

Gambar 1. Kelenjar prostat


Sumber: www.medicastore.com

2.2 Pengertian
Prostatitis adalah peradangan kelenjar prostat. Prostatitis sering terjadi pada
pria yang sudah lanjut usia. Penyakit ini sering disebabkan oleh infeksi akut atau
kronis, biasanya naik dari uretra. Prostatitis dapat bersifat noninfeksius atau
idiopatik (Corwin, 2009).
Prostatitis adalah inflamasi kelenjar prostat yang disebabkan oleh agen
infeksius (bakteri, fungi, mikoplasma) atau oleh berbagai masalah lain, misal
striktur uretra atau hiperplasia prstatik (Smeltzer dan Bare, 2002: 1624).

Gambar: 2
Sumber: www.google .co.id

2.3 Epidemiologi
Prostatitis adalah salah satu penyakit yang paling sering ditemui di praktek
urologi USA, terhitung hampir 2 juta pasien yang didapatkan tiap tahunnya,
dengan chronic bacterial prostatitis dan chronic pelvic pain sindrom yang paling
sering didiagnosis. Studi autopsy menemukan prevalensi prostatitis secara
histologik sekitar 64-86%. Umur penderita yang paling sering menderita
prostatitis adalah kurang dari 50 tahun.
Sekitar 8,2% laki-laki mengalami prostatitis dalam kehidupannya. Dari 4
kategori prostatitis, insidensi yang paling terjadi ialah chronic prostatitis, chronic
pelvic pain syndrome, terhitung 90-95% dari seluruh kasus prostatitis. Sedangkan
acute bacterial prostatitis dan chronic bacterial prostatitis sekitar 2-5% kasus.
Insidensi prostatitis miobakterial meningkat di beberapa negara berkembang.
Prostatitis dapat menyerang pria segala usia, dan diperkirakan 50% pria
mengalami penyakit itu selama hidupnya. Prostatitis merupakan gangguan yang
paling umum ditemukan pada pria usia 50 tahun ka atas dan penyakit ketiga yang
paling umum dialami pria di bawah usia 50 tahun.

2.4 Etiologi
Prostatitis yaitu peradangan prostat, dapat bersifat akut atau kronik, dan
penyebabnya mungkin bakteri atau nonbakteri. Sebagian besar infeksi baktei pada
prostat disebabkan oleh organisme negatif gram terutama E. Coli. Organisme
penyebab lainnya adalah enterokokus, stafilokokus, streptolokus, C. Trachomatis,
U. Uralyticum, dan N. Gonorrhoeae. Infeksi prostat oleh bakteri dapat disebabkan
oleh adanya atua riwayat infeksi di uretra dengan pejalaran asenden bakteri dari
uretra melalui meatus duktus prostatikus di prostat, refluks urin dari kandung
kemih yang terinfeksi, atau penyebaran hematogen (Smetzer dan Bare, 2002:
1350).

2.5 Tanda dan Gejala


Tanda gejala yang munculn dapat dibedakan berdasarkan kondisi akut dan
kronik, yaitu sebagai berikut.
a. Prostatitis akut, timbul gejala dari prostatitis akut demam, kedinginan, disuria
dan nyeri, pasien bisa menderita iritabilitas vesika urinaria, hematuria
obstruksi saluran keluar vesika urinaria atau pembentukan abses prostat.
b. Prostatitis Kronik, timbul pegal di perineum dan nyeri punggung bawah atau
demam ringan, rasa terbakar bersama ejakulasi, iritabilitas vesika urinaria.
2.6 Patofisiologi
2.6.1 Prostatitis oleh Agen Infeksius
Prostatitis umumnya digambarkan sebagai proses fokal, baik secara
akut maupun kronis. Inflamasi akibat prostatitis yang areanya sangat
berdekatan dengan zona peripheral dapat meluas ke zona periuretral. Hal
ini diakibatkan zona peripheral prostal memiliki drainase duktus yang
kurang baik sehingga dapat terjadi obstruksi uretra oleh inflamasi prostat.
Akibatnya terjadi refluks urin ke dalam duktus prostatikus. Jika urin
mengandung mikroorganisme, maka dapat mengakibatkan infeksi
ascending dan terjadi inflamasi.
2.6.2 Prostatitis Non Bakterial
Pada prostatitis non bacterial umumnya belum diketahui secara pasti
patofisiologinya.

Namun

beberapa

dugaan

menyebutkabn

bahwa

mekanisme patofisiologinya hampir sama dengan prostatitis bacterial


kronis. Untuk PNB, umumnya proses infeksi diakibatkan oleh adanya
striktur uretra atau adanya gangguan dalam proses pengosongan kandung
kemih sehingga menyebabkan refluks urin. Adanya refluks urin
menyebabkan iritasi dan inflamasi akibat kontak bahan kimiawi dalam
urin sehingga memicu terjadinya fibrosis tubulus, yaitu terbentuknya batu
prostat

yang

mengakibatkan

obstruksi

duktus

prostaticus

dan

terhambatnya seresi prostat. Obtruksi dan stagnasi mencetuskan proses


inflamasi dan gejala sindrom prostatitis (Chenderawasi & Astrawinata,
2008).

2.7 Komplikasi dan Prognosis


2.7.1 Komplikasi
Prostatitis dapat menyebabkan beberapa komplikasi berikut, yaitu:
a. retensi urin akibat pembengkakan prostat;
b. epididimitis;
c. bekteremia;
d. pielonefritis (Baughman dan Hackley, 2000:470).
2.7.2 Prognosis
Prognosis akan baik dengan terapi antimikrobial yang sesuai ( :121).
Sepsis dari prostatitis sangat jarang, tetapi mungkin terjadi pada pasien
immunocompromised. Pijat prostat tidak boleh dilakukan pada pasien yang
dicurigai prostatitis akut karena dapat menyebabkan sepsis. Sejak bakteri
penyebab prostatitis dengan mudah dapat ditemukan pada air seni, pijat prostat
tidak diwajibkan untuk membuat diagnosis.

2.8 Pencegahan
Cara pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagau berikut:
a. Mengurangi atau menghindari makanan berkolesterol dan kaya lemak
hewani.
b. Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam
makanan laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai).
c. Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari.
d. Berolah raga secara rutin.
e. Mempertahankan berat badan ideal.
f. Minum air putih dan beristirahat yang cukup.
g. Mengurangi konsumsi minuman beralkohol dan makanan pedas.

h. Berhubungan seksual yang aman (tidak bergonta-ganti pasangan) dengan


waktu yang teratur.
i. Jika ingin bersepeda, gunakan celana khusus bersepeda untuk mengurangi
tekanan pada prostat.
j. Berendam air hangat. Air hangat dapat mengurangi rasa nyeri dan
menenangkan otot perut bagian bawah.
k. Konsumsi banyak makanan yang berserat seperti sayuran, buah-buahan,
dan gandum. Jangan lupa banyak minum air untuk mencegah konstipasi
atau susah buang air besar.
l. Menghindari makanan berkadar gula tinggi, makanan olahan, gorengan,
junk food, dan kafein (terkandung dalam kopi, minuman berkarbonasi,
minuman energi).
m. Mengonsumsi makanan segar dan bukan olahan seperti frozen food atau
makanan kalengan.
n. Seringlah mengonsumsi kubis-kubisan (kol, kembang kol, brokoli, dll).
Beberapa hasil penelitian menyebutkan, pria yang sering mengonsumsi
kubis-kubisan berisiko rendah menderita gangguan prostat.
o. Mencukupi kebutuhan lemak esensial. Asam lemak omega3 dan mineral
seng dapat mengurangi gejala gangguan prostat.
p. Mengasup suplemen yang mengandung zinc. Zinc merupakan zat yang
berperan penting bagi kesehatan prostat. Selain itu, zinc juga dapat
mencegah infeksi.

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis
prostatitis adalah sebagai berikut.

10

a. Pemeriksaan biakan urin dan cairan prostat untuk bakteri aerobik dan
anaerobik, basilus tuberkel, dan mikoplasma.
b. Urografi ekskresi.
c. Sistouretrografi berkemih.
d. Sistoskopi, uretroskopi dan biopsi darikelainan yang tampak serta
pemeriksaan dinamika saluran kemih juga dilakukan jika pada
pemeriksaan yang lain tidak ditemukan diagnosis tetapi gejalanya
menimubulkan masalah (Isselbacher, dkk. 2000 :278).
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan, yaitu kultur cairan atau
jaringan prostat, pemeriksaan hiostologis jaringan dan kultur urine segmental
(Baughman dan Hackley, 2000: 469).
Pada prostatitis non bakteri, pemeriksaan sekret prostat menunjukkan sel-sel
peradangan tetapi tidak terdapat bakteri, dan tidak pernah membuktikan adnaya
infeksi saluran kemih atas. (Graber dkk,2006: :524).

2.10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atau terapi yang diberikan prostatis akut adalah sebagai
berikut.
a. Preparat berspektrum luas (antibiotik sensitif untuk mikroorganisme
penyebab) diberika selama 10-14 hari.
b. Pemberian preparat intravena diperlukan untuk mencapai kadar serum
dan jaringan yang tinggi.
c. Tirah baring untuk menghindari gejala yang cepat.
d. Pemberian analgesik untuk menghilangkan nyeri.
e. Pemberian

antispasmodik

dan

sedatif

kandung

kemih

untuk

menghilangkan iritabilitas kandung kemih.


f. Terapi mandi rendam untuk menghilang nyeri dan spasme.
g. Pemberian pelunak feses untuk menguranig nyeri ketika mengejan saat
defekasi (Smetzer dan Bare, 2002:1625).
Pada prostatitis kronik sulit diobati karena kebanyakan antibiotik berdifusi
dengan buruk dari plasma ke dalam cairan prostat. Namun dimungkinkan

11

pemberian antibiotik trimetroprim-sulfametoxazol, tetrasiklin, minisiklin, dan


dosisiklin (Smetzer dan Bare, 2002:1625).
Terapi farmakologis yang dapat diberikan, yaitu antimikrobial, misalnya
trimetroprim-sulfametoxazole, tetrasiklin, minosiklin, dosisiklin (Baughman dan
Hackley, 2000:470).

12

13

14

a.
b.
c. BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN
d.
e. 4.1 Pengkajian
f. 1. Anamnesis
g. a. Identitas klien
h.
Biodata klien meliputi:
1) Nama
2) Umur
i. Pasien dengan prostatitis lebih mendominasi usia dewasa muda (usia <35
tahun)
3) Jenis kelamin
j. Pasien dengan prostatitis adalah laki-laki
4) Agama
5) Suku bangsa/ras
6) Pendidikan
k. b. Keluhan utama
l. Keluhan utama yang paling umum dirasakan klien yaitu nyeri pada
area suprapubis dan nyeri pada perineal prostat.
m. c. Riwayat penyakit sekarang
n.
Untuk riwayat penyakit sekarang, hal-hal yang perlu dikaji
meliputi gejala prostatitis yaitu obstruksi traktuss urinarius, antara lain :
hesistensi (lama menunggu keluarnya urin), pancaran urin lemah (poor
stream), intermitensi (berkemih terputus), terminal dribbling (menetes
pada akhir miksi), rasa belum puas setelah miksi (sensation of incomplete
bladder emptying), urgensi (miksi sulit ditahan), frekuensi (frekuensi
miksi meningkat), dan disuria (nyeri saat miksi) (Hardjowidjoto, 1999).
Selain itu juga terkadang nyeri pada saat ejakulasi / hematospermi.
o. d. Riwayat penyakit dahulu
p.
Riwayat penyakit terdahulu yang berhubungan dengan
penyakit sekarang, meliputi diabetes mellitus (DM), hipertensi, penyakit
paru obstruktif menahun (PPOM), penyakit jantung koroner (PJK),
dekompensasi kordis, HIV, Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan gangguan
hematologi perlu dikaji. Hal ini disebabkan dapat mempengaruhi kondisi
pasca bedah (Hardjowidjoto, 1999). Selain itu, perlu dikaji adanya riwayat
pembedahan dan penyakit urinary lainnya, seperti hemorrhoid.
q. e. Riwayat penyakit keluarga

15

r. Perlu dikaji adanya penyakit degenerative yang berhubungan


seperti DM, asma, dan hipertensi.
s. f. Riwayat psikososial
t. Perawat perlu mengkaji adanya kecemasan, persepsi klien,dan
hubungan interaksi klien, terutama untuk pemberian tindakan pengobatan.
u. g. Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan manajemen kesehatan
v.
Perlu dikaji perubahan pemeliharaan kesehatan akibat tirah baring
pasca bedah dan keluhan nyeri akibat spasme kandung kemih (Doenges,
2000).
2) Pola nutrisi dan metabolik
w.
Pasien dengan prostatitis akan mengalami gangguan input
makanan dan cairan berupa anoreksia, mual, dan muntah serta penurunan
berat badan berhubungan dengan nyeri.
3) Pola eliminasi
x.
Dampak dari peradangan prostat pada pasien berupa keluhan
nokturia, frekuensi, hesistensi, disuria, inkontinensia, dan rasa kurang puas
setelah miksi. Selain itu perlu dikaji mengenai keraguan klien untuk
berkemih, melemahnya aliran urin, dan adanya hematuria serta adanya
obstruksi pada selang kateter akibat bekuan darah yang dapat menyebabkan
retensi urin dan edema. Selain itu, adanya resiko inkontinensia saat kateter
dilepas perlu juga dikaji ulang (Hardjowidjoto, 1999). Untuk eliminasi
defekasi perlu dikaji adanya resiko konstipasi akibat perubahan pola makan
dan nutrisi.
4) Pola aktivitas dan latihan
y.
Umumnya klien merasa lemah akibat kurang beraktivitas. Hal ini
dikarenakan adanya nyeri menyebabkan klien akan lebih memilih
mengurangi aktivitas agar nyeri tidak bertambah berat. Nyeri pada prostat
dan pinggang akan menyebabkan pemenuhan aktivitas klien cenderung
dibantu keluarga..
5) Pola tidur dan istirahat
z.
Adanya gangguan tidur pada pasien dengan prostatitis akibat
terjadinya nokturia dan frekuensi yang berasal dari pengosongan kandung
kemih kurang efektif yang menyebabkan interval miksi menjadi pendek dan
miksi akan terus berulang sehingga dapat mengganggu tidur klien. Selain

16

itu, perubahan lingkungan akibat hospitalisasi juga dapat mempengaruhi


kualitas tidur klien
6) Pola kognitif perseptual
aa.
Umumnya tidak ada gangguan pada sistem pancaindra.
7) Pola persepsi dan konsep diri
ab.
Klien yang diberikan pengobatan penyakit ini akan merasa cemas
akibat kurang informasi mengenai proses pengobatan yang berlanjut. Selain
itu, gangguan intergritas ego dapat mengakibatkan perubahan perilaku dan
status mental klien akibat ketidaksiapan menjalani pengobatan.
8) Pola hubungan dan peran
ac.
Akibat adanya hospitalisasi dapat muncul perubahan dalam
hubungan dan peran klien, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, dan
hubungan bermasyarakat klien.
9) Pola reproduksi seksual
ad.
Perubahan pola reproduksi dan seksual dapat terjadi. Umumnya
pasien akan mengalami perubahan fungsi seksualnya setelah menjalani
pengobatan. Disfungsi seksual yang terjadi yaitu impotensi dan ejakulasi
retrograde. Adanya kehawatiran mengenai inkontinensia (urin yang menetes
tanpa disadari) saat berhubungan intim, penurunan kontraksi ejakulasi dan
nyeri tekan prostat dapat mengganggu hubungan seksualnya.
10) Pola pertahanan diri dan toleransi stress
ae.
Kurang pengetahuan mengenai perawatan dapat meningkatkan
stress klien. Selain itu, adanya keterbatasan aktivitas, perubahan peran dan
pola seksual akan mempengaruhi konsep diri klien Untuk itu perlu dikaji
adanya stress dan mekanisme koping klien terhadap stress tersebut.
11) Pola keyakinan nilai
af.
Pasien cenderung akan mengalami gangguan dalam menjalankan
ibadah akibat inkontinensia yang dialaminya. Hal ini akan membuat klien
mengalami krisis keyakinan. Selain itu, beberapa keyakinan yang menjadi
pantangan pengobatan perlu dikaji ulang.
ag. 2. Pemeriksaan fisik
a.
b.
c.

Kepala dan leher


ah.Dalam batas normal
Toraks
ai. Dalam batas normal
Abdomen
1) Inspeksi

17

aj. Edema, pruritus, dan ekimosis menunjukkan insufisiensi renal dan


obstruksi yang cukup lama. Tampak penonjolan area suprapubik
menunjukkan adanya retensi urin.
2) Palpasi
ak. Pada area suprapubik akan teraba bulging (penonjolan) kandung kemih
akibat adanya retensi urin (distensi kandung kemih). Palpasi kandung
kemih dapat menyebabkan keinginan berkemih. Pada area CVA terdapat
ballottement.
3) Perkusi
al. Perkusi redup akan tampak pada area suprapubik (area hipogaster) yang
menandakan adanya residual urin.
Genitalia dan rektal
1) Genitalia
2) Rektal
a) Inspeksi
am.
Pada handscoen (setelah rectal toucher), kaji adanya darah,

d.

lendir, dan feses.


b) Palpasi
i.
Pole atas umumnya tidak teraba
ii. Konsistensi keras menandakan keganasan prostat
iii.
Fluktuasi tidak ada (mengindikasikan adanya infeksi)
iv. Nodul (massa) terkadang tampak mengindikasikan keganasan
prostat
v. Pembesaran prostat menunjukkan keganasan prostat
vi.
Nyeri tekan bisa tampak
vii. Reflek bulbocarvenous umumnya baik
Ekstremitas
an.Dalam batas normal

e.

ao.
ap. 4.2 Diagnosa
a.
b.
c.

Nyeri akut berhubungan dengan distensi bladder


Retensi urin berhubungan dengan dekompensasi detrusor
Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan kompensasi otot detrusor

d.
e.
f.
g.

(hesitasi dan intermitensi) dan distensi bladder (disuria dan nokturia)


Disfungsi seksual berhubungan dengan obstruksi prostat
Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nokturia
Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, faktor fisiologis
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang

h.

penyakitnya
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

i.

muntah dan anoreksia


Risiko kekurangan volume cairan dengan faktor risiko mual dan muntah

18

j.

Hipertermi berhubungan dengan respon imun lokal akibat endotoksin


aq.

ar.
4.3 Perencanaan
as. 4.3.1 Diagnosa 1
at.
Nyeri akut berhubungan dengan distensi bladder
au. NOC :
a. Pain Level
b. Pain Control
c. Comfort Level
av.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
klien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik
b.
c.
d.
e.
f.

nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)


Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur
aw. Intervensi :
ax. INTERVENSI
az. Lakukan pengkajian

nyeri

ca.

ay. RASIONAL
- Membantu dalam

secara komprehensif termasuk

menentukan

lokasi,

manajemen

karakteristik,

durasi,

frekuensi, kualitas dan faktor


presipitasi
ba.
bb. Observasi

reaksi

nonverbal

bc.
bd.
be.
bf. Dorong

dan

skala

nyeri

yang dirasakan klien untuk


ditentukan manajemen nyeri
klien

untuk

mendiskusikan
sehubungan

masalah

dengan

cedera.

Bantu klien dan keluarga untuk


mencari

nyeri

keefektifan program.
cb.
cc.
cd. Membantu
dalam
mengetahui

dari ketidaknyamanan

kebutuhan

dan

menemukan

dukungan
bg.
bh. Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti

yang efektif
ce.
cf.
Membantu untuk
menghilangkan
klien

dapat

kebutuhan

ansietas,
merasakan
untuk

menghilangkan pengalaman
kecelakaan.
cg.

19

suhu

ruangan,

pencahayaan

dan kebisingan
bi.
bj. 5 Libatkan dalam aktifitas
hiburan yang sesuai untuk
situasi individu.
bk.
bl.
bm.
bn. Kurangi faktor presipitasi nyeri
bo.
bp.
bq.
6. Kolaborasi: Berikan
obat sesuai indikasi narkotik
dan analgesik non narkotik.
br.
bs. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
bt.
bu. Ajarkan tentang teknik non

ch. Membuat

klien

relaksasi

dengan keadaan lingkungan


yang adekuat
ci.
cj.
ck. Memfokuskan

kembali

perhatian,

memberikan

stimulasi,

dan

meningkatkan rasa percaya


diri dan perasaan sehat.
cl.
cm.Mengurangi

pemicu

timbulnya nyeri pada klien


cn.
co.

- Untuk

menurunkan nyeri dan atau


spasme.
cp.
cq.
cr. Mengetahui

keefektifan

dalam,

pengobatan

untuk

relaksasi, distraksi, kompres

menentukan

pengobatan

dingin

berikutnya

farmakologi:

napas

bv.
bw.Tingkatkan istirahat klien
bx.
by.
bz. Berikan informasi tentang
nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa

lama

berkurang

dan

nyeri

akan

antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur

cs.
ct. Membuat

klien

dengan

mandiri
dapat

menerapkannya nanti
cu.
cv.
cw. Membantu merelaksasikan
klien akan rasa nyerinya
cx.
cy. Membantu
kecemasan
keluarga

mengurangi
klien
akan

dan
kondisi

kesehatan klien
cz.
da. 4.3.2 Diagnosa 2
db.
Retensi urin berhubungan dengan dekompensasi detrusor

20

dc. NOC:
a. Urinary elimination
b. Urinary Contiunence
dd.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam

retensi urin pasien teratasi dengan kriteria hasil:


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kandung kemih kosong secara penuh


Tidak ada residu urine >100-200 cc
Intake cairan dalam rentang normal
Bebas dari ISK
Tidak ada spasme bladder
Balance cairan seimbang
g.
Intervensi :
de. INTERVENSI
dg. Monitor intake dan output urin
dh.
di.
dj. Monitor penggunaan obat
antikolinergik
dk.
dl. Monitor derajat distensi bladder
dm.
dn.
do.
dp. Instruksikan pada klien dan
keluarga untuk mencatat output urine
dq.
dr.
ds.
dt. Sediakan privasi untuk eliminasi
du.
dv.
dw. Kateterisasi jika perlu
dx.
dy. Monitor tanda dan gejala ISK
(panas, hematuria, perubahan bau dan
konsistensi urine)

df. RASIONAL
dz. Retensi dapat terjadi karena
spasme kandung kemih
ea.
eb. Menentukan

kebutuhan

manajemen

medikasi,

mengetahui respon klien


ec.
ed. Membantu
menentukan
seberapa retensi yang terjadi
akibat distensi bladder
ee.
ef. Membantu keluarga
klien

mandiri

mengetahui

dan
serta

pentingnya

pencatatan untuk memonitor


kondisi klien
eg.
eh.

Memberi ruang pribadi

bagi klien untuk eliminasi


ei.
ej. Membantu eliminasi (miksi)
klien
ek.
el. Membantu

mencegah

terjadinya ISK pada klien


em.
en.

21

eo. 4.4 Implementasi


ep.
Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan.
eq.
er. 4.5 Evaluasi
es. Format evaluasi menggunakan format SOAP.
et. S : merupakan respon subjektif dari klien mengenai hasil yang telah
diperoleh selama tindakan dilakukan.
eu. O : merupakan pengamatan objektif dari perawat mengenai respon klien
terhadap tindakan yang telah dilakukan.
ev. A : merupakan analisa perawat mengenai masalah klien setelah dilakukan
tindakan.
ew. P : merupakan planning atau rencana tindakan selanjutnya kepada klien
setelah dilakukan tindakan.
ex.
ey. DISCHARGE PLANNING
ez. 1. Pengertian
fa.
Hiperplasia prostat benigna adalah suatu keadaan dimana
kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam
kandung kencing dan menyumbat aliran air kencing dengan menutup
lubang berkemih/buang air kecil. BPH merupakan kondisi penyakit yang
paling umum pada pria lansia.
fb.
fc. 2. Tanda dan Gejala
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Sering berkemih (buang air kecil)


Sering terbangun malam hari untuk buang air kecil
Perasaan ingin buang air kecil yang mendesak/tidak dapat ditunda
Nyeri saat buang air kecil
Pancaran air kencing melemah
Rasa tidak puas sehabis buang air kecil,
Kalau mau buang air kecil harus menunggu lama
Jumlah air kencing menurun dan harus mengedan saat buang air kecil
Aliran air kencing tidak lancar/terputus-putus
Air kencing terus menetes setelah berkemih
Gejala umum seperti keletihan, tidak nafsu makan, mual muntah, dan rasa
tidak nyaman pada lambung
fd.
fe. 3. Penatalaksanaan

a.

Observasi

22

ff.

Pada

pasien

dengan

keluhan

ringan.

Mencakup

nasehat

mengurangi minum setelah makan malam, mengurangi minum kopi dan


b.

tidak diperbolehkan minum alkohol. Setiap 3 bulan kontrol


Terapi obat
fg.
Dapat menurunkan gangguan aliran air seni dan mengurangi
gejala.
fh.
fi. 4. Hal- Hal yang Harus Diperhatikan di Rumah

a. Menjaga masukan nutrisi yang seimbang dan adekuat (cukup)


b. Jus buah dan sayuran tinggi serat dapat digunakan untuk memudahkan buang
air besar dan mencegah mengejan yang berlebihan.
c. Latihan otot-perineal dilakukan dengan menekan bokong bersamaan, tahan
posisi ini, rileks. Latihan ini dapat dilakukan 10 sampai 20 kali setiap jam
ketika duduk atau berdiri.
d. Coba untuk memutuskan aliran air kencing setelah mulai buang air kecil,
tunggu beberapa detik dan kemudian lanjutkan.
e. Dianjurkan untuk berkemih secepatnya ketika merasakan keinginan untuk
berkemih
f. Kembalinya Kemampuan mengontrol buang air kecil adalah proses yang
bertahap, pasien dapat terus merasa berkemih tidak tuntas setelah
dipulangkan dan rasa tersebut harus secara bertahap hilang (hingga 1 tahun)
g. Air kencing mungkin tampak keruh selama beberapa minggu setelah
pembedahan dan kembali jernih ketika area prostat menyembuh
h. Dalam masa penyembuhan (6 - 8 minggu) pasien tidak boleh melakukan
aktivitas seperti mengejan ketika buamg air besari, mengangkat barang berat.
Hal ini dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah balik dan
menyebabkan keluarnya darah
i. Pasien harus menghindari perjalanan jarak jauh dengan motor dan latihan
berat yang dapat meningkatkan perdarahan.
j. Makanan pedas, alkohol dan kopi dapat menyebabkan ketidaknyamanan.
k. Minum cukup cairan (paling sedikit 3000-4000 ml) untuk mencegah
dehidrasi, yang dapat meningkatkan terbentuknya jendalan darah dan
menyumbat aliran air kencing
l. Tanda-tanda seperti perdarahan, keluarnya jendalan darah, penurunan aliran
air kencing, atau gejala infeksi saluran kemih harus dilaporkan ke dokter.
m. Minum obat sesuai dengan yang diresepkan
fj.
fk.

23

fl.
fm.
fn.
fo.
fp.
fq.
fr.
fs.
ft.
fu.
fv.
fw.
fx.
fy.
fz.
ga.
gb.
gc.
gd.
ge.
gf.
gg. BAB 5. PENUTUP
gh.
5.1 Kesimpulan
gi. Prostatitis adalah peradangan kelenjar prostat. Prostatitis sering terjadi
pada pria yang sudah lanjut usia. Penyakit ini sering disebabkan oleh infeksi akut
atau kronis, biasanya naik dari uretra. Prostatitis dapat bersifat noninfeksius atau
idiopatik. Sebagian besar infeksi baktei pada prostat disebabkan oleh organisme
negatif gram terutama E. Coli. Organisme penyebab lainnya adalah enterokokus,
stafilokokus, streptolokus, C. Trachomatis, U. Uralyticum, dan N. Gonorrhoeae.
Secara umum tanda dan gejala yang timbul gejala dari prostatitis adalah akut
demam, kedinginan, disuria dan nyeri, iritabilitas vesika urinaria, hematuria,
pembentukan abses prostat, timbul pegal di perineum dan nyeri punggung bawah
atau demam ringan, rasa terbakar bersama ejakulasi.
gj.
gk.
gl. 5.2 Saran
gm. 5.2.1
Diharapkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan
agar dapat mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tentang penyakit
prostatitis baik dari pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinis
maupun pencegahan serta penerapan asuhan keperawatannya.

24

gn.

5.2.2

Mahasiswa diharapkan lebih banyak menggali kembali tentang

proses penyakit prostatitis. Ilmu yang didapatkan dapat diterapkan dalam


go.

kehidupan masyarakat.
5.2.3 Diharapkan kepada tim kesehatan maupun mahasiswa keperawatan
untuk lebih meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat
mengenai pencegahan prostatitis.
gp.

25

gt.

gq.
DAFTAR PUSTAKA
gs.
Baughman, Diane C., dan Hackley, Joann C. 2000. Keperawatan Medikal

gu.

Bedah Buku Saku dari Brunner dan Suddarth. Jakarta: EGC.


Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard Karl dan Dochterman, Joanne

gr.

McCloskey. 2008. Nursing Interventions Classifications (NIC). Michigan


University: Mosby elsevier.
gv. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku: Patofisiologi. Jakarta: EGC.
gw.Graber, dkk. 2006. Dokter Keluarga Univesitu of Iowa. Jakarta: EGC.
gx. Isselbacher, dkk. 2000. Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: EGC.
gy.

Long, B.C. 1996. Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses

gz.

Keperawatan. Jakarta: EGC.


Moorhead, Sue., Maas, Meridean L. dan Johnson, Marion. 2008. Nursing

ha.

Outcome Classification (NOC). Mosby Elsevier.


NANDA. 2009. Nursing Diagnosis NANDA: Definition and Classification

hb.

2009-2011.
Price, Sylvia A., dan Wilson, Lorraine M. 1995. Patofisiologi: Konsep

hc.
hd.

Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC.


Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C., dan Bare, Brenda G. 2002. Keperawatan Medikal

he.
hf.

Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi 8. Volume 2. Jakarta: EGC.


Tucker,S. M, dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Sabiston, david C.1994. Buku ajar bedah: Sabistons Essentials Surgery).

hg.

Jakarta: EGC
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

hh.

Suriyandi, Kiromi. 2011. Tugas Makalah PJBL Urinary Sistem. Malang:


Ilmu

Keperawatan

UB.

http://www.scribd.com/doc/84636757/Tugas-

Makalah-Pjbl-Urinary-Sistem
hi.

Chenderawasi, Stephanie Settrin & Astrawinata, Dalima AW. 2008.


Prostatitis Nonbakterial: Penyebab Dan Diagnosis. Jakarta: FIK UI.
Majalah kedoikteran Indonesia, Vol. 58 No.8, Agustus 2008.
hj. http://www.scribd.com/doc/52168360/Prostatitis-Infeksi-Gonokkokus
hk.

26

hl.