Anda di halaman 1dari 18

TUGAS BAHASA INDONESIA

Tugas ini dibuat untuk melengkapi tugas Bahasa Indonesia

Oleh

: Hansel Edbert

NIS

: 23576.13

Kelas : XI IS 3

SEKOLAH MENENGAH ATAS XAVERIUS 1


PALEMBANG
2014

W.S. RENDRA

W.S. Rendra yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir
di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 meninggal di Depok, Jawa Barat, 6
Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda,
dia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa [1]. Pernah
mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada, dan dari perguruan tinggi itu pulalah dia
menerima gelar Doktor Honoris Causa[2][3]. Penyair yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak"[4],
ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater itu, Rendra
melahirkan banyak seniman antara lain Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan
lain-lain. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, ia memindahkan Bengkel
Teater di Depok, Oktober 1985
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai
menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan dramauntuk berbagai
kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia
mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat
berbakat.
Ia pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah
Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu,
seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat
dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun '60-an dan tahun '70an.
Kaki Palsu adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan Orang-orang di
Tikungan Jalan adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama
dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia
sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A.
Teeuw, di dalam bukunya, Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah

kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau
kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan '60-an, atau Angkatan '70-an. Dari karya-karyanya
terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri [6].
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak
karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya
bahasaInggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International
Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985),
Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto
Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal(1989), World Poetry Festival, Kuala
Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika Serikat, ia mendirikan Bengkel Teater yang sangat
terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun
sejak 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mempertunjukkan
karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternya pun tak pelak sukar
bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok.
Pada 1985, Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri sampai sekarang
dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya..Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3
hektar yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga, serta bangunan sanggar
untuk latihan drama dan tari. Di lahan tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman yang dirawat
secara asri, sebagian besar berupa tanaman keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan
tersebut dibeli, juga ditanami baru oleh Rendra sendiri serta pemberian teman-temannya.
Puluhan jenis pohon antara lain, jati, mahoni, eboni, bambu, turi, mangga, rambutan, jengkol,
tanjung, singkong, dan lain-lain.
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap
kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi
Rendra dalam tulisannya yang berjudul A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974.
Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer
Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (19571972): Ein
Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in
Berlin: Hamburg 1977.
Noorca m masardi

Noorca M. Massardi (lahir di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954; umur 61 tahun) adalah
anak kelima dari 12 bersaudara dan dikenal
sebagai penyair, pengarang, penyunting, penulis lakon sandiwara, pemeran pria, sutradara, pen
ulis skenario, juri festival film atausinetron, penerima Anugrah Kebudayaan, juri lomba iklan,
pewarta, serta pembawa acara televisi, kolumnis, dan budayawan.
Lakon-lakon sandiwaranya yang memenangi Sayembara Penulisan Lakon Dewan Kesenian
Jakarta (DKJ) antara lain adalah:

Perjalanan Kehilangan (1974), dan Terbit Bulan Tenggelam Bulan (1976)

Sayembara Penulisan Lakon Anak-anak Direktorat Kesenian Depdikbud: Tinton (1976),


dan Mencari Taman (1978)

Sayembara Penulisan Lakon Pemerintah Daerah Jawa Barat Kuda-Kuda (1975).

Lakon lainnya adalah Growong (1982), Kertanegara (1973), dan Bhagawad Gita (1972).
Dua novelnya yang dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas telah diterbitkan
PT Gramedia antara lain adalah Sekuntum Duri (1978) dan Mereka Berdua (1981), dan
skenarionya Sekuntum Duri telah difilmkan oleh PT Cipta Permai Indah Film (1979). Novelnya
yang ketiga September, dengan latar cerita tragedi September 1965 diterbitkan PT Tiga
Serangkai, Solo (2006), setelah sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di harian Media
Indonesia, Jakarta, (2 Juni - 30 September 2002) dengan judul Perjalanan Darius. Novelnya
yang keempat, d.I.a masih dimuat sebagai cerita bersambung di koran Seputar Indonesia sejak
10 Januari 2007 sampai sekarang.
Penerima General Award in the Arts dari The Society for American Indonesian Friendship, Inc
(1975), yang mengikuti South-East Asian Young Writer Seminar di Baguio City, Filipina, atas

undangan Ford Foundation (1983), ini menerbitkan puisi Mata Pelajaran dan Syair Kebangkitan
sebagai penanda ulang tahun ke-40 Noorca & Yudhistira ANM Massardi (1994). Menyunting
buku Mega Simarmata: Anak Bangsa (1999), Mega Simarmata: Kebebasan Bersuara di Radio
(1998), dan Udin: Darah Wartawan (1997), Rayni N. Massardi: 1.655 Tak Ada Rahasia dalam
Hidup Saya (2005), serta menulis Sejarah Teater Modern Indonesia dalam Antologi Seni 2003,
karya-karya terjemahannya antara lain, Misteri Piramid Besar (Le Mystere des Grands Pyramids)
- 2 volume (1985), Sejarah Golongan Kiri di Indonesia (lHistoire de la Gauche en Indonesie Jacques Leclerc) (1983), dan Biografi Mr. Amir Syarifuddin - Jacques Leclerc (1984).
Lulusan Ecole Superieure de Journalisme (ESJ), Paris, Perancis (1976-1981) ini pernah menjadi
koresponden Majalah Berita Tempo di Paris, Perancis (1978-1981), pewarta Harian Kompas
(1982-1985), Pemimpin Redaksi Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta (1985-1989),
Redaktur Eksekutif Majalah Vista FMTV (1990-1992), Redaktur Eksekutif/Pemred Majalah Berita
Forum Keadilan (1992-2003), Pemred Majalah telset (2002-2003), dan Pemred Majalah
Hongshui Living Harmony (2004-2006).
Mantan anggota dan Ketua Komite Teater dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1992-1993), ini
pernah menjabat Ketua Bidang Humas/Luar Negeri Organisasi Karyawan Film dan Televisi
(KFT) (1996-1999), dan kini menjadi Ketua Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia
GPBSI (2005-2008). Sejak 1990, suami dari Rayni N. Massardi, ayah dari dua putri (Cassandra
Massardi dan Nakita Massardi) serta kakek seorang cucu (Bondi) ini, pernah tampil sebagai
pemandu pelbagai acara talk-show di televisi tentang film, politik, dan kebudayaan, antara lain di
RCTI, ANTV, TVRI, SCTV, dan MetroTV.

Norbertus Riantiarno

Norbertus Riantiarno (lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949; umur 65 tahun),
atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan
dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma (1977). Dia adalah suami dari
aktris Ratna Riantiarno.
Nano telah berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya dari
SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater Nasional Indonesia,
ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
di Jakarta. Ia bergabung dengan Teguh Karya, salah seorang dramawan
terkemuka Indonesia dan ikut mendirikan Teater populer pada 1968. Pada 1
Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok teater yang paling
produktif di Indonesia saat ini. Hingga 2006, kelompok ini telah menggelar
sekitar 111 produksi panggung dan televisi.

Film layar lebar perdana karyanya, CEMENG 2005 (The Last Primadona), 1995,
diproduksi oleh Dewan Film Nasional Indonesia
Nano sendiri menulis sebagian besar karya panggungnya, antara lain:

''Rumah Kertas''
J.J Atawa Jian Juhro
''Maaf. Maaf. Maaf''
''Kontes'' 1980
Trilogi ''Opera Kecoa'' (''Bom Waktu'', ''Opera Kecoa''
Opera Julini)
Konglomerat Burisrawa
Pialang Segitiga Emas
Suksesi
Opera Primadona
Sampek Engtay
Banci Gugat
Opera Ular Putih
RSJ atau Rumah Sakit Jiwa
Cinta Yang Serakah
Semar Gugat
Opera Sembelit
Presiden Burung-Burung
Republik Bagong
Tanda Cinta

Selain drama-drama di atas, Teater Koma di bawah pimpinan Nano juga pernah
memanggungkan karya-karya penulis kelas dunia, antara lain;

Woyzeck karya Georg Buchner


The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht
The Good Person of Shechzwan karya Bertolt Brecht
The Comedy of Errors karya William Shakespeare
Romeo Juliet karya William Shakespeare
Women in Parliament karya Aristophanes

Animal Farm karya George Orwell


The Crucible karya Arthur Miller
Orang Kaya Baru dan Tartuffe atau Republik Togog karya Moliere
The Marriage of Figaro karya Beaumarchaise

Wisran Hadi
Wisran Hadi (lahir di Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945 meninggal di
Padang, Sumatera Barat, 28 Juni 2011 pada umur 65 tahun) adalah salah satu
seniman/budayawan yang memenangkan penghargaan dari Kementerian
Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan beberapa penghargaan dari luar
negeri, seperti dari Thailand. Penulis prosa berdarah Minang ini adalah salah satu
seniman yang konsisten berkarya hingga hari tuanya.

Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu
berisi empat naskah drama: Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading
Cempaka, dan Cindua Mato (yang membuatnya mendapat penghargaan
South East Asia (SEA) Write Award 2000.

Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Imam, Empat
Sandiwara Orang Melayu, dan Simpang. Cerpen-cerpennya kerap dipublikasikan
di media cetak dan dibukukan penerbit Malaysia berjudul Daun-daun Mahoni
Gugur Lagi.

Tamatan Akademi Seni Rupa Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) Yogyakarta,
12 naskah dramanya pernah memenangkan Sayembara Penulisan Naskah
Sandiwara Indonesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dari 1976
hingga 1998, ikut International Writing Program di Iowa University, Iowa, Amerika
Serikat pada tahun 1977 dan pernah mengikuti observasi teater modern Amerika
pada tahun 1978 dan teater Jepang pada tahun 1987. Dia juga pernah mendapat
Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya
buku dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat
Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada
Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997.
Asrul Sani

Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 meninggal di Jakarta, 11
Januari 2004 pada umur 77 tahun) adalah seorang sastrawan dan sutradara film
ternama asal Indonesia.[1] Tahun 2000 Asrul menerima penghargaan Bintang
Mahaputra dari Pemerintah RI.
Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan 45.
Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika bersama Chairil Anwar dan
Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir.
Kumpulan puisi itu sangat banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya yang
mendatangkan beberapa tafsir. Setelah itu, mereka juga menggebrak dunia
sastra dengan memproklamirkan Surat Kepercayaan Gelanggang sebagai
manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu benar-benar mempopulerkan
mereka.

Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi
juga penulis cerpen, dan drama. Cerpennya yang berjudul Sahabat Saya Cordiaz
dimasukkan oleh Teeuw ke dalam Moderne Indonesische Verhalen dan dramanya
Mahkamah mendapat pujian dari para kritikus. Di samping itu, ia juga dikenal
sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun 50-an. Salah satu karya
esainya yang terkenal adalah Surat atas Kertas Merah Jambu (sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan
langkahnya ke dunia film. Ia mementaskan Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre
dan Burung Camar karya Anton P, dua dari banyak karya yang lain. Skenario
yang di tulisnya untuk Lewat Jam Malam (mendapat penghargaan dari FFI, 1955),
Apa yang Kau Cari Palupi? (mendapat Golden Harvest pada Festival Film Asia,
1971), dan Kemelut Hidup (mendapat Piala Citra 1979) memasukkan namanya
pada jajaran sineas hebat Indonesia. Ia juga menyutradarai film Salah Asuhan
(1972), Jembatan Merah (1973), Bulan di atas Kuburan (1973), dan sederet judul
film lainnya. Salah satu film karya Asrul Sani yang kembali populer pada tahun
2000-an adalah Nagabonar yang dibuat sekuelnya, Nagabonar Jadi 2 oleh sineas
kenamaan Deddy Mizwar.

Sementara bergiat di film, pada masa-masa kalangan komunis aktif untuk


menguasai bidang kebudayaan, Asrul, mendampingi Usmar Ismail, ikut menjadi
arsitek lahirnya LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia)
dalam tubuh partai politik NU, yang mulai berdiri tahun 1962, untuk menghadapi
aksi seluruh front kalangan "kiri". Usmar Ismail menjadi Ketua Umum, Asrul
sebagai wakilnya. Pada saat itu ia juga menjadi Ketua Redaksi penerbitan
LESBUMI, Abad Muslimin.

Memasuki Orde Baru, sejak tahun 1966 Asrul menjadi angota DPR mewakili NU,
terpilih lagi pada periode 1971-1976 mewakili PPP. Sementara itu sejak tahun
1968 terpilih sebagai anggota DKJ (Dewan Kesenian Jakarta). Pada tahun 197679 menjadi Ketua DKJ. Sejak tahun 1970 diangkat menjadi salah satu dari 10
anggota Akademi Jakarta. Pernah menjadi Rektor LPKJ (Lembaga Pendidikan
Kesenian Jakarta), kini bernama IKJ. Pernah beberapa kali duduk sebagai anggota
Badan Sensor Film, tahun 1979 terpilih sebagai anggota dan Ketua Dewan Film
Nasional, Sejak tahun 1995 menjadi anggota BP2N (Badan Pengembangan
Perfilman Nasional). Akibat sederet karya pada bidang seni dan pengabdian pada
negara, pada tahun 2000 lalu, ia dianugerahi Bintang Mahaputra oleh
pemerintah Republik Indonesia.
Karya Sastra :

Tiga Menguak Takdir (kumpulan sajak bersama Chairil Anwar dan Rivai
Avin, 1950)
Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (kumpulan cerpen, 1972)
Mantera (kumpulan sajak, 1975)
Mahkamah (drama, 1988)
Jenderal Nagabonar (skenario film, 1988)
Surat-Surat Kepercayaan (kumpulan esai, 1997)

Karya Film :

Titian Serambut Dibelah Tudjuh, 1959


Pagar Kawat Berduri (1963)
Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1970)
Salah Asuhan (1974)
Bulan di Atas Kuburan (1976)

Kemelut Hidup (1978)


Di Bawah Lindungan Ka'bah (1981)

Nasjah Djamin adalah seorang pengarang sastra Indonesia


modern. Nasjah Djamin lahir tanggal 24
September 1924 di Perbaungan, Sumatera Utara. Ia
mempunyai nama asliNoeralamsyah. Orang tuanya berasal
dari Minangkabau, ayahnya bernama Haji Djamin dan ibunya
bernama Siti Sini. Ayahnya bekerja sebagai
mantri candu dan garam di Deli. Haji Djamin terus menetap di
tanah Deli itu sehingga anak-anaknya disebut anak Deli yang
sudah terlepas dari susunan adat dan kehidupan Minangkabau.
Nasjah Djamin dan orang tuanya tinggal di
daerah perkebunan di daerah Deli. Orang tuanya tidak memiliki
darah seni, begitu juga saudara-saudaranya. Nasjah Djamin satu-satunya di antara saudarasaudaranya yang mempunyai bakat seni. Dia menyenangi kehidupan yang bebas dalam arti
tidak ada tekanan dari lingkungan setempat.
Bakat seninya yang pertama kali tumbuh adalah melukis. Ia senang sekali melukis
pemandangan sekitar perkebunan serta pedati dan kusirnya. Setelah menikah pada tahun1967,
Nasjah Djamin bertempat tinggal di Yogyakarta bersama istrinya, Umi Naftiah dan anakanaknya. Dia meninggal dunia pada tanggal 4 September 1997, tepatnya pada hari Kamis pukul
12.30 pada usia 73 tahun. Dia dimakamkan di Bukit Saptorenggo, Imogiri, Yogyakarta.

Latar Belakang Kesasteraan


Nasjah Djamin ikut berperan dalam kehidupan kesasteraan Indonesia. Karya-karya yang
ditulisnya merupakan sumbangan yang berharga untuk perkembangan kesusasteraan
Indonesia. Ajip Rosidi menggolongkannya sebagai sastrawan periode 1953-1961. Kegiatan
menulisnya setelah dia pensiun dari Jawatan Kebudayaan masih terus dilakukan.
Puisi-puisinya banyak bermunculan ketika ia bekerja sebagai anggota redaksi dari majalah
Budaya. Dia tidak sekadar menulis satu jenis sastra saja tetapi beberapa jenis sastra
seperti puisi, prosa, dan drama. Salah satu karya dramanya pernah memenangkan juara kedua
penulisan naskah drama yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1956.
Nasjah Djamin terdorong oleh batinnya untuk selalu menulis. Dia pernah berpendapat bahwa
bagi pengarang, mencipta itu merupakan keharusan meskipun untuk sementara ciptaannya itu
disimpan dalam lemari. Kendati karya-karyanya pernah ditolak oleh HB Jassin, hal itu tidak
membuatnya tidak putus asa untuk menulis. Ini dibuktikannya dengan sering terbitnya tulisannya
di majalah Minggu Pagi dan surat kabar Kedaulatan Rakyat

Iwan Simatupang
Iwan Martua Dongan Simatupang, lebih umum dikenal sebagai
""Iwan Simatupang"" (lahir di Sibolga, 18 Januari 1928 meninggal
di Jakarta, 4 Agustus 1970 pada umur 42 tahun) adalah
seorang novelis, penyair, dan esais Indonesia[1]. Ia belajar
diHBS di Medan, lalu melanjutkan ke sekolah kedokteran (NIAS)
di Surabaya tapi tidak selesai. Kemudian belajar antropologi di
Universitas Leiden (1954-56), drama di Amsterdam, dan filsafat di
Universitas Sorbonne, Paris, Perancis pada Prof. Jean Wahl pada
1958. Ia pernah menjadi Komandan Pasukan TRIP dan ditangkap pada penyerangan kedua
polisi Belanda di Sumatera Utara (1949)[2]; setelah bebas, ia melanjutkan sekolahnya sehingga
lulus SMA di Medan. Ia pernah menjadi guru SMA di Surabaya, redaktur Siasat, dan terakhir
redaktur Warta Harian (1966-1970). Tulisan-tulisannya dimuat di majalah Siasat dan Mimbar
Indonesia mulai tahun 1952.
Pada mulanya ia menulis sajak, tapi kemudian terutama menulis esai, cerita
pendek, drama dan roman. Sebagai pengarang prosaia menampilkan gaya baru, baik dalam
esainya, maupun dalam drama, cerita pendek dan terutama dalam romannya; dengan
meninggalkan cara-cara konvensional dan alam pikiran lama. Jalan cerita dan
penampilan watak dalam semua karangannya tidak lagi terikat oleh logika untuk sampai kepada
nilai-nilai baru yang lebih mendasar.
Karya novel yang terkenal Merahnya Merah (1968) mendapat hadiah sastra Nasional
1970, dan Ziarah (1970) mendapat hadiah roman ASEAN terbaik 1977. "Ziarah" merupakan
novelnya yang pertama, ditulis dalam sebulan pada tahun 1960; diterbitkan di Indonesia pada
1969. Pada 1972, "Kering", novelnya yang ketiga diterbitkan. "Kooong" (1975) mendapatkan
Hadiah Yayasan Buku Utama Department P Dan K 1975. Pada tahun 1963, ia mendapat hadiah
kedua dari majalah Sastra untuk esainya "Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah
Air". Menurut Benedict Richard O'Gorman Anderson, Iwan Simatupang dan Putu
Wijaya merupakan dua orang penulis fiksi yang berpengaruh dari Indonesia sejak kemerdekaan
dan keduanya memiliki kelekatan yang kuat dengan realisme gaib

Daftar Karya
Berikut adalah karya-karya Iwan Simatupang:

[1]

Bulan Bujur Sangkar - drama (1960)

Petang di Taman - drama sebabak (1966, judul asli Taman, diubah penerbit menjadi
Petang di Taman)

RT Nol /RW Nol - drama sebabak (1966)

Merahnja merah - novel (1968)

Ziarah - novel (1969)

The Pilgrim - terjemahan bahasa Inggris oleh Harry Aveling (1975)


Kering - novel (1972)

Drought - terjemahan bahasa Inggris oleh Harry Aveling (1978)

Kooong: kisah tentang seekor perkutut (1975)

Tegak lurus dengan langit: lima belas cerita pendek (1982, penyunting: Dami N. Toda)

Surat-surat politik Iwan Simatupang, 1964-1966 (1986, penyunting: Frans M. Parera)

Sejumlah Masalah Sastra - kumpulan esai (1982, penyunting: Satyagraha Hoerip)

Ziarah - novel (1983)

Ziarah - terjemahan bahasa Perancis (1989)

Poems - selections (1993)

Square moon, and three other short plays - terj. John H. McGlynn (1997)

Ziarah malam: sajak-sajak 1952-1967 - penyunting: Oyon Sofyan, S. Samsoerizal Dar,


catatan penutup, Dami N. Toda (1993)

Kebebasan pengarang dan masalah tanah air: esai-esai Iwan Simatupang, editor, Oyon
Sofyan, Frans M. Parera (2004)

Iwan Simatupang Pembaharu Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, ed), Yayasan
Arus, 1985

Utuy Tatang Sontani


Utuy Tatang Sontani (Cianjur, 1 Mei 1920 - Moskwa, 17 September 1979)

adalah

seorang sastrawan Angkatan 45 terkemuka.


Karyanya yang pertama adalah Tambera (versi bahasa Sunda 1937)
sebuah novel sejarah yang berlangsung di
Kepulauan Malukupada abad ke-17. Novel ini pertama kali dimuat
dalam koran daerah berbahasa
Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama.
Setelah itu Utuy menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Orangorang Sial (1951), yang diikuti oleh cerita-cerita lakonnya yang membuatnya terkenal. Lakon
pertamanya (Suling dan Bunga Rumahmakan, 1948) ditulis sebagaimana lakon ditulis, tetapi
selanjutnya ia menemukan cara menulis lakon yang unik, yang bentuknya seperti cerita yang
enak dibaca.
Di antara lakon-lakonnya yang terkenal adalah Awal dan Mira (1952), Sajang Ada Orang
Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Sang Kuriang (1955), Selamat Djalan Anak
Kufur (1956), Si Kabajan (1959), dan Tak Pernah Mendjadi Tua (1963).

Karya tulis

Tambera (1948)

Orang-orang Sial: sekumpulan tjerita tahun 1948-1950 (1951)

Selamat Djalan Anak Kufur (1956)

Si Kampeng (1964)

Si Sapar: sebuah novelette tentang kehidupan penarik betjak di Djakarta (1964)

Kolot Kolotok

Di bawah langit tak berbintang (2001)

Menuju Kamar Durhaka - kumpulan cerpen (2002)

Drama

Suling (1948)

Bunga Rumah Makan: pertundjukan watak dalam satu babak (1948)

Awal dan Mira: drama satu babak (1952)

Sajang Ada Orang Lain (1954)

Motinggo Boesje
Motinggo Boesje (ER, EYD: Motinggo Busye, nama
lahir: Bustami Djalid) (lahir di Kupang Kota, 21
November 1937 meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999 pada
umur 61 tahun) adalah seorang sastrawan, sutradara, dan
seniman Indonesia.

Daftar karya

Novel

Malam Jahanam (1962)

Tidak Menyerah (1963)

Hari Ini Tak Ada Cinta (1963)

Perempuan Itu Bernama Barabah (1963)

Dosa Kita Semua (1963)

Tiada Belas Kasihan (1963)

Sejuta Matahari (1963)

Penerobosan di Bawah Laut (1964)

Titian Dosa di Atasnya (1964)

Cross Mama (1966)

Tante Maryati (1967)

Sri Ayati (1968)

Retno Lestari (1968)

Dia Musuh Keluarga (1968)

Sanu, Infita Kembar (1985)

Madu Prahara (1985)

Dosa Kita Semua (1986)

Tujuh Manusia Harimau (1987)

Dua Tengkorak Kepala (1999)

Fatimah Chen Chen (1999)

Cerpen

Nasehat Buat Anakku (1963)

Drama

Badai Sampai Sore (1962)

Nyonya dan Nyonya (1963)

Malam Pengantin di Bukit Kera (1963)

Legenda

Buang Tonjam (1963)

Ahim-Ha (1963)

Batu Serampok (1963)

Kuntowijoyo
Prof. Dr. Kuntowijoyo (juga dieja Kuntowidjojo; lahir
di Sanden, Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943 meninggal 22
Februari2005 pada umur 61 tahun) adalah
seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia

Kuntowijoyo mendapatkan pendidikan formal keagamaan di


Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten. Ia
lulus SMP di Klaten danSMA di Solo, sebelum lulus sarjana
Sejarah Universitas Gadjah Mada pada tahun 1969. Gelar
MA American History diperoleh dariUniversitas
Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974, dan Ph.D Ilmu
Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980. Ia mengajar di Fakultas Sastra Universitas
Gadjah Mada dan terakhir menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, dan menjadi peneliti
senior di Pusat Studi dan Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Ia meninggal dunia akibat komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal yang diderita
setelah untuk beberapa tahun mengalami serangan virus meningoencephalitis. Ia meninggalkan
seorang istri dan dua anak.

Hasil Karya

Kereta yang Berangkat Pagi Hari novel (1966)

Rumput Danau Bento drama (1969) mendapat Hadiah Harapan Sayembara Penulisan
Lakon Badan Pembina Teater Nasional Indonesia tahun 1976

Tidak Ada Waktu Bagi Nyonya Fatma drama (1972)

Barda dan Cartas drama (1972)

Topeng Kayu drama (1973)

Khotbah di Atas Bukit novel (1976)

Impian Amerika novel (1998)

Hampir Sebuah Subversi kumpulan cerpen (1999)

Sebagai seorang sejarawan, analisis dan pemikirannya ditulis dengan pendekatan disiplin ilmu
sejarah dan bersifat kesejarahan telah banyak diterbitkan menjadi buku, diantaranya yakni

Dinamika Umat Islam Indonesia (1985)

Budaya dan Masyarakat (1987)

Radikalisasi Petani (1993)

Pengantar Ilmu Sejarah (1995)

[5]